BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Deskripsi Data
2. Latar Belakang Penggunaan Model Pembelajaran STIFIn
STIFIn sebenarnya sudah mulai diadakan sejak pertama kali Sekolah Islam Ibnu Hajar didirikan sekitar 9 tahun yang lalu, namun hanya sebatas pada identifikasi mesin kecerdasan anak didik saja.
Namun mulai dijalankan secara menyeluruh mulai dari 4 tahun terkahir di tahun 2015. Sedangkan 2 tahun terakhir proses penerapan STIFIn sudah mulai menyeluruh dan pencanangan untuk para SDM di Sekolah Islam Ibnu Hajar tentang STIFIn sudah mulai banyak dijalannya.2
Latar belakang penggunaan STIFIn di Sekolah Islam Ibnu Hajar anak didik banyak memiliki potensi besar namun seringkali tidak disadari bahkan potensi tersebut tidak diketahui dan tidak terwadahi. Dari semua kategori yang ada di STIFIn menyatakan bahwa setiap anak adalah cerdas, memiliki kecerdasannya masing- masing sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya. Seperti potensi dasar pada mesin kecerdasan STIFIn yaitu Sensing memiliki potensinya memori dan fisik, Thinking potensinya analisa tajam, Intuiting kreasi, ide dan konsep, Feeling potensinya di komunikasi dan Insting potensinya adalah serba bisa meskipun sering terlihat
1 Hasil wawancara dengan kepala sekolah SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bapak
Yusuf Kusumawardana pada tanggal 15 Agustu 2019.
2 Hasil wawancara dengan kepala sekolah SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bapak
Yusuf Kusumawardana pada tanggal 15 Agustus 2019.
setengah-setengah dalam menjalani pekerjaan namun disitulah kecerdasan unggul yang dimiliki setiap mk dan tidak dimiliki mk lainnya. Latar belakangnya adalah untuk mewadahi pengembangan potensi anak didik sesuai dengan potensi genetik yang mereka miliki, karena di dalam konsep STIFIn dijelaskan bahwa di dunia ini tidak ada orang yang tidak pintar semua orang pintar dan cerdas sesuai dengan mesin kecerdasannya dan potensi yang dimilikinya.3
Gambar 4.7 Proses wawancara
3. Penerapan Konsep STIFIn di Sekolah Islam Ibnu Hajar (SIIHA) Penerapan konsep STIFIn di Sekolah Islam Ibnu Hajar sangat banyak sekali hampir di semua ranah yang ada di sekolah sudah mulai menerapkan konsep STIFIn, karena pada dasarnya konsep STIFIn sebenarnya adalah multi angle field concept, konsep yang dapat diterapkan dalam semua bidang. Pada awalnya hanya menerapkan STIFIn dalam dunia pendidikan seperti STIFIn learning, STIFIn teaching dsb. Namun seiring berjalannya waktu STIFIn ternyata dapat
3 Hasil wawancara dengan kepala bagian STIFIn (Litbang) di Sekolah Islam Ibnu
Hajar Ibu Ratna pada tanggal 16 Agustus 2019.
di terapkan di ranah yang lain seperti menangani anak yang bermasalah mulai dari mencari akar masalahnya dapat dijelaskan STIFIn dan solusinya pun dapat diambil dalam konsep STIFIn juga.
Beberapa kegiatan sekolah juga berdasarkan pada STIFIn, bahkan di kantin pun sudah dianjurkan juga menggunakan STIFIn health.
Bahkan sampai kepada orangtua muridpun diterapkan metode STIFIn hingga diadakan parent class untuk para orang tua yang berbasis pada STIFIn.4
Di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar juga diadakan kelas untuk pembelajaran dan pemahaman konsep STIFIn, dan pada pembelajaran tersebut memiliki silabus khusus untuk setiap kelas. Kurang lebih yang ada di dalam silabus tersebut adalah pemahaman soal gender, pemahaman dimensi otak dan penjelasan mesin kecerdasan untuk memahami karakter masing-masing sampai pada pemahaman cara belajar sesuai dengan potensi dan kecerdasan yang dimiliki dan pada akhirnya mereka berani menentukan profesi yang ingin mereka kejar istilah dalam STIFIn adalah menemukan bintang terangnya.5
Dengan kata lain penerapan konsep STIFIn di dalam keseluruhan sistem di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar sudah mulai berjalan dan sedang dalam tahap proses penyempurnaan sistem.
Sekolah Islam Ibnu Hajar juga mengeluarkan rapot STIFIn sesuai dengan potensial genetic yang dimiliki anak didik di sekolah Sekolah Islam Ibnu Hajar dengan acuan tujuan per level di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar. (Terlampir)
4 Hasil wawancara dengan wali kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Ibu Ria
Ariesta pada tanggal 15 Agustus 2019.
5 Hasil wawancara dengan kepala bagian STIFIn (Litbang) di Sekolah Islam Ibnu
Hajar Ibu Ratna pada tanggal 16 Agustus 2019.
4. Kegiatan SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar dengan pendekatan konsep STIFIn
Adapun kegiatan SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar dengan pendekatan konsep STIFIn adalah sebagai berikut:
a. Materi STIFIn sudah 2 tahun berjalan di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar. Kelas 7 dan 8 satu kali dalam satu bulan.
b. Konseling, ketika ada masalah didiskusikan sesuai dengan mesin kecerdasan anak didik tersebut.
c. Dalam kegiatan diberlakukan target sesuai dengan mesin kecerdasan yang diobservasi tersebut.
d. Projek STIFIn, dilakukan per pekan oleh anak didik yaitu pencapaian atau target yang dimiliki dari setiap Personality Genetic yang dimiliki peserta didik.6
5. Hasil Tes STIFIn Pada Siswa dan Siswi Kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bogor
Tabel 4.2
Hasil Tes STIFIn Siswa Kelas 9
6 Hasil wawancara dengan wali kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Ibu Ria
Ariesta pada tanggal 15 Agustus 2019.
No Nama Siswa Hasil
1 Aurellio Khairul Ibrahim In
2 Halim Anas Abyan Si
3 Hikma Hijrianita Putri Lesmana P.S. Te
4 Ixora Myiesha Al-Qashash Se
5 Mochammad Alfin Zsyaghaf As Shidqi Te
Dari hasil tes STIFIn di kelas 9 dapat diketahui bahwa jumlah masing-masing Mesin Kecerdasan siswa kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar adalah:
Sensing : 4 orang Thinking : 5 orang Intuiting : 5 orang Feeling : 3 orang Instinct : 3 orang
Dari hasil tes di atas juga di ketahui PG/Potensial Genetik pada siswa kelas 9 adalah sebagai berikut:
6 Muhammad Ariq Fadhali Fe
7 Muhammad Assuura B. Ii
8 Muhammad Mahran Munief In
9 Muhammad Nur Ariz Siregar Ii
10 Muhamad Rafi Rizqullah Te
11 Muhammad Taqi Fathi Athallah In
12 Muhammad Yordan Al Banani Ti
13 Nashwa Nafisha Alfa Ii
14 Novia Hildayati Fe
15 Rayia Izza Aqeela Hasian Ti
16 Rr. Syafirly Noorazhra Saecha Gariadjie Ii
17 Sabyan Naqatama Magenta Si
18 Setiyo Kumara Ra'if Anargya Si
19 Hafiz Athallah Pragata Fi
20 Davinka Shazabilla Putri Kunarto Ie
Sensing Introvert (Si) : 3 orang Sensing Extrovert (Se) : 1 orang Thinking Introvert (Ti) : 2 orang Thinking Extrovert (Te) : 3 orang Intuiting Introvert (Ii) : 4 orang Intuiting Extrovert (Ie) : 1 orang Feeling Introvert (Fi) : 1 orang Feeling Extrovert (Fe) : 2 orang Instinct (In) : 3 orang
Dengan kata lain dari semua mesin kecerdasan dan potensial genetik yang telah kita ketahui bahwa siswa dan siswi di kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar memiliki semua mesin kecerdasan dan potensial genetik dengan jumlah yang berbeda-beda.
6. Model Pembelajaran STIFIn Learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar (SIIHA)
Penerapan konsep STIFIn Learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, pada awalnya pembelajaran menyajikan STIFIn alpha zone yaitu penyamaan kondisi anak didik dalam kondisi alpha karena ketika gelombangnya sudah sama, maka materi akan lebih mudah masuk, lebih mudah bagi anak didik untuk menerima materi yang diajarkan. Pada pembelajaran diprioritaskan untuk adanya media pembelajaran yang mendukung pembelajaran seperti gambar, slide dan lain sebagainya. Penyediaan media pembelajaran ini juga untuk mendukung pembelajaran khususnya anak didik dengan tipe Thinking dan Sensing yang memiliki tipe tidak bisa membayangkan dan harus ada contoh nyata berupa data atau gambar,
karena Sekolah Islam Ibnu Hajar berbasis sekolah alam, maka lebih banyak untuk terjun ke lapangan langsung untuk memudahkan pembelajaran. Selain media yang dipakai untuk tipe Thinking dan Sensing metode STIFIn juga digunakan untuk tipe Feeling, Intuiting dan Insting. Feeling dapat digunakan metode ceramah namun lebih baik two way communication sedangkan Intuiting dibangun hasratnya diawal, dan untuk Instinct juga demikian.7
Pada dasarnya pemanasan dalam sebuah kegiatan adalah hal yang sangat penting. Begitu pula dalam hal pembelajaran seperti bagaimana memulai sebuah pembelajaran, bagaimana menarik minat anak, bagaimana menumbuhkan sisi keingintahuan anak untuk mempersiapkan diri anak didik memasuki suatu hal yang baru seperti materi baru atau suatu hal yang sulit karena untuk menerima hal tersebut akan lebih mudah disampaikan ketika anak didik dalam keadaan bahagia atau dalam keadaan alpha. Dalam hal ini triggered yang digunakan adalah dengan memakai konsep STIFIn pada pemanasan tersebut, yang disebut dengan STIFIn alpha zone. Pada STIFIn alpha zone juga dapat dikaitkan dengan materi yang akan dibahas.8
STIFIn alpha zone wajib diadakan setiap sebelum masuk kelas atau setiap dimulainya pembelajaran di kelas dan STIFIn Alpha zone juga masuk ke dalam perencanaan pembelajaran kelas (RPP). Dalam setiap mata pelajaran apabila dapat dikaitkan dengan STIFIn guru tersebut akan mengaitkan dengan STIFIn, termasuk pada mata pelajaran pendidikan agama islam. Jika materi yang diajarkan dapat
7 Hasil wawancara dengan kepala bagian STIFIn (Litbang) di Sekolah Islam Ibnu
Hajar Ibu Ratna pada tanggal 16 Agustus 2019.
8 Hasil wawancara dengan kepala sekolah SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bapak
Yusuf Kusumawardana pada tanggal 15 Agustus 2019.
diterapkan dengan model pembelajaran STIFIn maka materi tersebut bisa dibawakan dengan menerapkan STIFIn.9
Dengan kata lain pembelajaran berbasis STIFIn lebih kepada bagaimana menerapkan konsep STIFIn dalam pembelajaran agar penyampaian materinya lebih maksimal, anak tidak mudah jenuh dalam belajar, dan lebih efektif dalam menangkan pembelajaran.
Penerapan STIFIn dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bogor sudah mulai diterapkan, meskipun pada hakikarnya guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas 9 belum sepenuhnya mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang konsep STIFIn maupun cara belajar anak sesuai dengan mesin kecerdasannya.10
Penerapan konsep STIFIn dalam pembelajaran PAI belum dapat diterapkan secara maksimal di dalam semua materi PAI tetapi ada beberapa materi yang sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran PAI menggunakan model pembelajaran STIFIn Learning seperti pada materi kurban dan haji. Pada materi kurban untuk mengetahui tata cara berkurban guru PAI menerapkan sebuah permainan dalam belajar dengan konsep STIFIn agar pembelajaran tersebut berjalan dengan menyenangkan. Dan dalam materi haji jug demikian. Diberlakukan konsep STIFIn dalam pembelajaran. Selain menggunakan metode dan model pembelajaran konsep STIFIn juga dapat digunakan seorang guru sebagai pendekatan dalam pembelajaran itu sendiri.
9 Hasil wawancara dengan wali kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Ibu Ria
Ariesta pada tanggal 15 Agustus 2019.
10 Hasil wawancara dengan guru PAI kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Ibu Rahma Novianti pada tanggal 20 Agustus 2019
SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar sudah menerapkan kurikulum 2013 dalam setahun terakhir dan salah satu perbedaan SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar dengan SMP lainnya adalah pembelajaran di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar tematik yaitu sesuai tema yang telah ditentukan untuk setiap level atau jenjangnya. Berikut ini adalah contoh langkah-langkah penerapan konsep STIFIn dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bogor yang terdapat dalam rencana pembelajaran pada bagian main activity (contoh RPP lengkap terlampir) dan dalam pelaksanaan pembelajaran mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam penulis hadir dalam pembelajaran di kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar:
Gambar 4.8
Kegiatan Belajar di Kelas 9
Main Activities Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Materi Haji dan Umrah:
a. STIFIn Alpha Zone Tema Eco Design/Sub tema What: “TTS”
1) Siswa dibagi menjadi kelompok.
2) Setip kelompok diberikan kertas TTS (Teka Teki Silang) 3) Kelompok tercepat dan benar melengkapi TTS akan
mendapatkan poin
b. Guru memulai apersepsi dengan bertanya:
1) Apa isi dari TTS tadi?
2) Siapa yang pernah melaksanakan haji atau umrah?
c. Siswa menonton dan mengamati video tentang haji dan umrah.
d. Siswa bertanya jawab terkit isi video.
e. Siswa dibagi menjadi kelompok dengan cara berhitung.
f. Siswa dibagikan cards yang berisi jawaban atau pertanyaan terkait pokok bahasan materi kepada masing-masing kelompok. Tiap kelompok mendapatkan tema yang berbeda.
g. Masing-masing kelompok diberikan tugas 1 orang untuk menjadi penjual dan yang lainnya harus berkeliling untuk berbelanja informasi kepada kelompok lain.
h. Anggota kelompok yang bertugas sebagai penjual akan menunjukkan cards yang berisi jawaban dari pertanyaan yang dipegang kelompok lain.
i. Anggota yang mendapat tugas berbelanja ke “toko lain”
berkeliling mengunjungi kelompok untuk berbelanja informasi dengan membawa QC (question card) dan harus membeli AC (Answer card) dari penjual.
j. Setelah usai berbelanja, siswa kembali ke kelompok masing- masing untuk mencocokkan hasil berbelanja kepada penunggu
“toko” dan saling meneliti antar anggota kelompok.
k. Secara bergantian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.
l. Kelompok lainnya memperhatikan/menyimak dan memberikan tanggapan.
m. Kelompok dengan penjual, pembeli dan presenter terbaik akan mendapatkan reward.
Penerapan STIFIn dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bogor juga berpengaruh pada nilai ulangan harian siswa di kelas 9 yang meningkat.11 Berikut ini adalah nilai ulangan harian kelas 9:
11 Hasil wawancara dengan guru PAI kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Ibu
Rahma Novianti pada tanggal 20 Agustus 2019
Tabel 4.3
Nilai Ulangan Harian Pendidikan Agama Islam Kelas 9
No Nama MK 2 Agustus
2019
16 Agustus 2019
1 Aurellio Khairul Ibrahim In 100 94
2 Halim Anas Abyan SI 80 92
3
Hikma Hijrianita Putri Lesmana
P.S. Te
80 94
4 Ixora Myiesha Al-Qashash Se 97 98
5
Mochammad Alfin Zsyaghaf As
Shidqi Te
76 92
6 Muhammad Ariq Fadhali Fe 76 84
7 Muhammad Assuura B. Ii 76 80
8 Muhammad Mahran Munief In 78 84
9 Muhammad Nur Ariz Siregar Ii 76 86
10 Muhamad Rafi Rizqullah Te 76 98
11 Muhammad Taqi Fathi Athallah In 76 76
12 Muhammad Yordan Al Banani Ti 82 94
13 Nashwa Nafisha Alfa Ii 76 80
14 Novia Hildayati Fe 76 99
15 Rayia Izza Aqeela Hasian Ti 95 96
16
Rr. Syafirly Noorazhra Saecha
Gariadjie Ii
94 100
17 Sabyan Naqatama Magenta Si 78 88
18 Setiyo Kumara Ra'if Anargya In 78 86
19 Hafiz Athallah Pragata Fi 76 80
20
Davinka Shazabilla Putri
Kunarto Ie
76 92
Dari kedua nilai Ulangan Harian PAI di atas dapat diketahui bahwa model pembelajaran STIFIn Learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sangatlah efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran, dari kedua nilai ulangan harian tersebut juga dapat dilihat bahwa nilai siswa meningkatkan.
7. Cara belajar anak didik kelas 9 SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar dalam model pembelajaran STIFIn Learning
Cara belajar anak didik di identifikasi sesuai dengan mesin kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak didik seperti Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Instinct. STIFIn Learning memberikan gambaran yang sangat jelas tentang cara belajar sesuai dengan mesin kecerdasan masing-masing dengan beberapa indicator yang telah dijelaskan dalam tabel 3.1, cara mendapatkan data cara belajar anak apakah sesuai dengan mesin kecerdasan yang telah dijelaskan dalam STIFIn Learning, setiap anak maka penulis menggunakan angket untuk pengumpulan data tersebut.
Dikarenakan penulis menggunakan skala likert dalam pembuatan angket dan semua pernyataan bersifat positif dengan demikian ada 4 kriterium nilai yaitu Selalu (SL) bernilai 4, Sering (SR) bernilai 3, Jarang (JR) bernilai 2, dan Tidak pernah (TP) bernilai 1. Pada angket tersebut terdapat 15 penyataan dari setiap mesin kecerdasan. Dengan kata lain setiap anak didik memiliki angka 15-30 untuk menyatakan bahwa anak tersebut cara belajarnya belum sesuai dengan mesin kecerdasan yang dimiliknya dengan persentase 50%
dan kurang dari 50%. Sedangkan untuk pencapain angka 31-60 dinyatakan bahwa anak tersebut sudah memiliki cara belajar yang sesuai dengan mesin kecerdasannya dengan presentase 50% lebih sampai 100%. Data yang akan disajikan oleh penulis berikut merupakan data tambahan sebagai penguat penelitian tentang implementasi model pembelajaran STIFIn Learning pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar Bogor.
Adapun hasil data pendukung tersebut adalah sebagai berikut:
a. Model belajar Mesin Kecerdasan Sensing Tabel 4.4
Hasil Angket Model Belajar Sensing No Nama SL
x4 SR
x3 JR
x2 TP
x1
Jumlah Presentase
1 A 6 6 3 0 48 80%
2 B 6 6 2 1 47 78%
3 C 5 7 3 0 47 78%
4 D 7 4 3 1 47 78%
b. Model belajar Mesin Kecerdasan Thinking Tabel 4.5
Hasil Angket Model Belajar Thinking No Nama SL
x4 SR
x3 JR
x2 TP
x1
Jumlah Presentase
1 E 3 10 2 0 46 77%
2 F 7 5 3 0 49 82%
3 G 4 8 3 0 46 77%
4 H 5 6 4 0 46 77%
5 I 7 6 2 0 50 83%
c. Model belajar Mesin Kecerdasan Intuiting Tabel 4.6
Hasil Angket Model Belajar Intuiting No Nama SL
x4 SR
x3 JR
x2 TP
x1
Jumlah Presentase
1 J 7 6 2 0 50 83%
2 K 8 4 2 1 49 82%
3 L 2 8 4 1 41 68%
4 M 6 5 3 1 46 77%
5 N 5 6 3 1 45 75%
d. Model belajar Mesin Kecerdasan Feeling Tabel 4.7
Hasil Angket Model Belajar Feeling No Nama SL
x4 SR
x3 JR
x2 TP
x1
Jumlah Presentase
1 O 3 7 5 0 43 72%
2 P 6 6 2 1 47 78%
3 Q 7 4 3 1 47 78%
e. Model belajar Mesin Kecerdasan Intinct Tabel 4.8
Hasil Angket Model Belajar Instinct No Nama SL
x4 SR
x3 JR
x2 TP
x1
Jumlah Presentase
1 R 3 7 3 2 41 68%
2 S 6 5 3 1 46 77%
3 T 4 7 1 3 42 70%
Dari hasil angket yang telah di jumlahkan berikut dapat dilihat bahwa seluruh mesin kecerdasan yang dimiliki setiap anak didik memiliki kaitan dalam cara belajar anak tersebut. Dengan kata lain model pembelajaran STIFIn Learning sangat efektif digunakan dalam pembelajaran.
96 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Implementasi model pembelajaran STIFIn dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, pada awal pembelajaran diberikan STIFIn alpha zone yaitu penyamaan kondisi anak didik dalam kondisi alpha karena ketika gelombangnya sudah sama, maka materi akan lebih mudah masuk, lebih mudah bagi anak didik untuk menerima materi yang diajarkan. Penyediaan media pembelajaran ini juga untuk mendukung pembelajaran khususnya anak didik dengan tipe Thinking dan Sensing yang memiliki tipe tidak bisa membayangkan dan harus ada contoh nyata berupa data atau gambar. Selain media yang dipakai untuk tipe Thinking dan Sensing metode STIFIn juga digunakan untuk tipe Feeling, Intuiting dan Insting. Feeling dapat digunakan metode ceramah namun lebih baik two way communication sedangkan Intuiting dibangun hasratnya diawal, dan untung Instinct juga demikian.
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STIFIn Learning di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sudah mulai diterapkan berawal dari ice breaking yang biasa disebut dengan STIFIn Alpha Zone kemudian pendekatan dalam pembelajaran khususnya juga menggunakan pendekatan sesuai dengan mesin kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Penerapan model pembelajaran tersebut memang belum sepenuhnya tersusun dengan sistematis, namun setiap guru yang memberikan materi sangat terbantu dengan adanya konsep STIFIn tersebut dalam penyampaian materi maupun mencari solusi dari kesulitan belajar peserta didik.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dalam skripsi ini, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Kepada Kepala Sekolah Kepala Sekolah diharapkan dapat lebih mewadahi pembelajaran dengan model pembelajaran STIFIn Learning, untuk para guru serta anak didik.
2. Bagi Guru Pendidikan Agama Islam guru harus lebih kreatif dalam mengembangkan model pembelajaran STIFIn Learning menyusunnya secara sistematis sehingga dapat dijadikan sebagai model pembelajaran seutuhnya.
3. Bagi Siswa Siswa agar lebih memahami potensi diri serta model dan cara belajar sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya agar tercapai bintang terang yang sudah dirumuskan dalam diri dan hidupnya.
Agung, Brili dan Dodi Rustandi. Ini Gue Banget, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2017.
Al-Abrasyi, Mohd. Athiyah. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. H.
Bustami A. Gani, Djohar Bahry, Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
Rineka Cipta, 2014.
Basri, Hasan. Landasan Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia. 2013.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Daradjat, Zakiyah. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Efendi, Agus. Revolusi Kecerdasan Abad 21, Bandung: Alfabeta, 2005.
Hiday, Miss. I Know You, Jakarta: STIFIn Institute. 2017.
Irawan, Prasetyo. Metode Penelitian, Jakarta: Universitas Terbuka. 2009.
Mahfud, Rois. Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Erlangga, 2011.
Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al Ma’arif, 1998.
Moeleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.
Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kulitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Nata, Abudin. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2016.
Nurbako, Cholid & Abu Achmadi. Metode Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara.
2009
Poniman, Farid. Konsep Palugada (Apa Lu Mau Gua Ada), Jakarta: STIFIn Institute, 2013.
Poniman, Farid. Penjelasan Hasil Tes STIFIn, Bekasi: Griya STIFIn, 2013.
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012.
Rusman. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana. 2017
Rusman. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: Rajawali Press. 2013.
Siregar, Syofian. Metode Kuantitatif. Jakarta: Kencana. 2017
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta. 2005.
Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methode), Bandung:
Alfabeta, 2011.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung:
Alfabeta, 2016.
Syah, Muhibin. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014.
Toyyibah, Ibay. Cara Belajar Gue Bangeeet, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2017.
Yanggo, Huzaemah T. Petunjuk Teknis Penulisan Proposal dan Skripsi, Tangerang: LPPI IIQ Jakarta, 2017.
Zainuddin, dkk. Seluk-Belek Pendidikan dari Al Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.