• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Pendidikan Agama Islam

Dalam dokumen IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN STIFIN (Halaman 76-79)

BAB II KAJIAN TEORI

D. Pendidikan Agama Islam

5. Materi Pendidikan Agama Islam

Setiap mata pelajaran memiliki materi pokok. Adapun materi Pendidikan Agama Islam mencakup lima unsur pokok, yaitu:

52 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm. 134

a. Al- Qur’an

Lingkup kajiannya tentang membaca Al- Qur’an dan mengerti arti kandungan yang terdapat di setiap ayat-ayat al-Qur’an akan tetapi dalam prateknya danya ayat-ayat tertentu yang dimasukkan dalam materi pendidikan agama Islam yang disesuaikan dengan tingkat pendidikannya dan beberapa hadist terkait.

b. Aqidah

Lingkup kajiannya tentang aspek kepercayaan menurut ajaran Islam dan inti dari pengajaran ini adalah tentang rukun iman.

c. Akhlak

Lingkup kajiannya mengaruh kepada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya dalam mencapai akhlak yang baik.

d. Fiqih/Ibadah

Linkup kajian tentang segala bentuk ibadah dan tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran ini agar peserta didik mampu melaksaaakna ibadah dengan baik dan benar. Mengerti segala bentuk ibadah dan memahami arti dan tujuan pelaksaan ibadah. Juga materi tentang segala bentuk-bentuk hukum Islam yang bersumber pada al-Qur’an, Sunnah dan dalil dalil syar’i yang lain.

e. Sejarah Kebudayaan Islam

Lingkup kajiannya tetang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga peserta didik dapat mengenal dan mendalami tokoh-tokoh Islam serta mencintai agama Islam.

57

METODE PENELITIAN

A. Metode dan Pendekatan Penelitian

Metode merupakan cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki dan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporan.1 Metode penelitian sangat diperlukan dalam sebuah penelitian. Suatu metode dalam memecahkan masalah sebagai dasar untuk berpijak merumuskan permasalahan, maka dalam penelitian ini penulis juga perlu menetapkan metode penelitian yang akan digunakan. Penelitian kualitatif ialah proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.2

Dalam penelitian ini , penulis menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan nyata yang terjadi. Adapun tujuan utama dalam menggunakan pendektan ini adalah untuk menggambarkan suatu keadaan yang sedang terjadi pada saat penelitian dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi model pembelajaran STIFIn Learning pada mata pealajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar. Menurut Syofian Siregar

“Metode penelitian adalah cara-cara menerapkan prinsip logis terhadap

1 Cholid Nurbako & Abu Achmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara.

2009), hlm. 2

2 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kulitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 3

penemuan, pengesahan dan pejelasan kebenaran atau cara yang ilmiah untuk mencapai kebenaran ilmu.”3

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Data yang didapat harus bersifat empiris dengan valid, reliabel dan objektif sebagai kriterianya. Dalam penelitian ini penulis menetapkan metode penelitian kualitatif sebagai metode yang digunakan. Penelitian kualitatif adalah sebuah proses penelitian yang menghasilkan data yang bersifat deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati sebagai objek yang diteliti.4

Selain itu penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan kata lain, penelitian kualitatif ialah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondiri objek alamiah dimana peneliti merupakan instrument kunci penelitian tersebut.5

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar yang bertempat di Jalan Raya Katulampa RT.01/RW.01 Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat 16143. Adapun waktu penelitian ini terhitung dari bulan Juni- Agustus 2019.

3 Syofian Siregar, Metode Kuantitatif. (Jakarta: Kencana. 2017), hlm. 8

4 Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methode), (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 13

5 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta. 2005), hlm. 1

C. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

Dalam penelitian, banyak variasi teknik pengumpulan data untuk mendukung dan menjawab masalah yang ada. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis pakai dalam penelitian ini adalah:

1. Pengumpulan Data a) Interview (wawancara)

Wawancara menurut Syofian Siregar adalah “proses memperoleh keterangan/data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka anatara pewawancara dengan responden.”6 Sedangkan menurut Sugiyono wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalah yang diteliti danapabila peniliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya.7

Adapun pihak yang diwawancarai ialah guru kelas dan kepala Sekolah SMP Islam Ibnu Hajar untuk mengetahui lebih jelas tentang penerapan konsep STIFIn di sekolah khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar.

b) Kuesioner (Angket)

Kuesioner/angket adalah alat pengumpulan data yang pada umumnya merupakan serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis yang digunakan untuk mengumpulkan informasi penelitian yang dikehendaki.8 Sedangkan menurut Syofian Siregar kuesioner adalah suatu tejnuj oengumpulan informasi yang memungkinkan

6 Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif, hlm. 18

7 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, hlm. 137

8 Prasetyo Irawan, Metode Penelitian, (Jakarta: Universitas Terbuka. 2009) modul 6, hlm.6

peneliti mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku dan karakterisktik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau sistem yang sudah ada.9 Adapun angket atau kuesioner akan diberikan kepada responden yaitu siswa SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar, Bogor.

c) Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.10. Menurut Sugiyono observasi juga merupakan suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses bilogis dan psikologis dan yang paling penting diantaranya adalah pengamatan dan ingatan.11

Menurut Syofian Siregar observasi atau pengamatan langsung adalah kegiatan pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsung terhadap kondisi lingkungan objek penelitian yang mendukung kegiatan penelitian, sehingga didapat gambaran secara jelas tentang kondisi objek penelitian tersebut.12 Adapun teknik observasi dilakukan pada saat kunjungan ke sekolah dan pada saat berlangsungnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

d) Dokumentasi

Dokumentasi berfungsi untuk melengkapi data yang ada dalam bentuk gambar pelaksanaan kegiatan atau data seputar responden dan merupakan salah satu pendukung dan bukti pelaksanaan penelitian.

9 Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif, hlm. 21

10 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2014), hlm. 198

11 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, hlm.145

12 Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif, hlm. 19

2. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasikan informasi yang diperoleh dari para responden yang dilakukan dengan menggunakan pola ukur yang sama. Instrument penelitian juga merupakan alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulan data agar pekerjaannya lebi mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah dalam pengelolaannya.13

Tabel 3.1 Indikator Kuesioner

Variabel Konsep Analisis Indikator Model

Belajar dengan STIFIn

Model belajar yang diaplikasikan oleh siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang sesuai dengan potensi genetiknya, yaitu:

1. Model belajar Sensing 2. Model belajar Thinking 3. Model belajar Intuiting 4. Model belajar Feeling 5. Model belajar Instinc

Model belajar Sensing 1. Suka melihat buku dan

gambar (lebih suka membaca daripada dibacakan)

2. Senang melihat segala sesuatu yang teratur (menuntut lingkungan yang rapi)

3. Dapat menemukan apa yang sudah dihilangkan orang lain (mengingat segala sesuatu yang terlihat)

13 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Bandung:

Alfabeta. 2016), hlm. 131

4. Melihat detail

5. Bisa memperhatikan wajah guru dengan intens

6. Membutuhkan objek yang konkret sebagai bantuan belajar

7. Terkadang malu untuk tampil

8. Menikmati kegembiraan

9. Bersedia tekun belajar

Model belajar Thinking 1. Tidak dapat

mendapatkan petunjuk secara lisan, harus tertulis

2. Suka mengerjakan teka-teki

3. Kemungkinan bermasalah dalam bicara

4. Membutuhkan

keseluruhan pandangan dan tujuan

5. Menganalisa dengan tenang

6. Tenang menghadapi kegentingan

7. Pemikir yang percaya diri

8. Selalu skeptis

9. Mudah berkonsentrasi

Model belajar Intuiting 1. Berbicara dengan pola

yang ritmis

2. Bisa mengatasi kesulitan mengeja jika diajarkan metode Kata- Eja-Kata (Say-Spell- Say)

3. Tulisan tangannya bisa jelek atau membalik huruf

4. Mengenal syair pada beberapa lagu

5. Suka mempreteli peralatan dan memasangnya kembali 6. Bisa jadi mereka

termasuk anak-anak yang membuar pesawat dari kertas

7. Mengeksplorasi

lingkungan baru secara intens

8. Memiliki semangat tersembunyi

9. Seorang pelajar yang cepat mengakpat gambaran besar

Model belajar Feeling 1. Mudah terganggu 2. Belajar dengan

mendengar, menggerakkan

bibir/mengucapkan kata sambal membaca 3. Dialog baik secara

internal maupun eksternal

4. Banyak bicara

5. Bercerita lucu dan mencoba untuk melucu 6. Pencerita yang baik 7. Memiliki persepsi

ruang dan waktu yang jelek

8. Mengalami kesulitan untuk mendengar dan

mengambil catatan pada saat yang sama 9. Lebih berorientasi

belajar mengajar melalui orang

Model belajar Instinct 1. Selalu mengalir

bergerak

2. Ingin menyentuh dan merasakan segala sesuatu

3. Menempatkan

tangannya di kusen pintu dan menyentuh meja sambil berjalan 4. Sering menggerakkan

tangan untuk hal yang tidak perlu

5. Punya banyak hal untuk dimainkan

6. Tidak gampang kagok 7. Berdiri dekat dengan

orang

8. Mengingat dengan berjalan dan melihat 9. Selalu ingin terlibat

Tabel 3.2

Instrumen Wawancara

No Subject Pertanyaan

1. Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum

1. Sejak kapan bapak menjadi kepala sekolah di SMP SIIHA, dan sebelum menjabat kepala sekolah SMP SIIHA sebagai apa di SIIHA?

2. Apa perbedaan SIIHA dengan lembaga lain?

3. Kurikulum apa yang diterapkan di SIIHA?

4. Apa yang menjadi keunggulan SIIHA?

5. Bagaimana saran dan prasarana yang ada di SIIHA?

6. Sejak kapan konsep STIFIn diterapkan di SIIHA?

7. Apa yang menjadi latar belakang SIIHA dalam menerapkan konsep STIFIn?

8. Bagaimana pendapat bapak tentang konsep STIFIn Learning?

9. Apa syarat dan ketentuan yang harus dimiliki atau dilakukan sebelum menerapkan konsep STIFIn dalam pembelajaran di SIIHA?

10. Bagaimana penerapan konsep STIFIn Learning dalam pembelajaran di SIIHA?

11. Apakah STIFIn Learning dapat dijadikan sebagai model pembelajaran di SIIHA?

12. Bagaimana implementasi model pembelajaran STIFIn Learning dalam mata pelajaran PAI?

13. Kegiatan apa saja yang diterapkan

menggunakan konsep STIFIn Learning dapam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

14. Persiapan apa saja yang dilakukan dalam menerapkan model pembelajara STIFIn Learning di SMP SIIHA?

15. Faktor apa saja yang mendukung berjalannya model pembelajaran STIFIn di SMP SIIHA?

16. Apakadh ada kendala/hambatan dalam impementasi model pembelajaran STIFIn dalam pembelajaran PAI?

17. Bagaimana upaya bapak dalam mengatasi kendala/hambatan tersebut?

18. Bagaimana pendapat bapak tentang konsep STIFIn sebagai model pembelajaran di SIIHA khususnya pada mata pelajaran PAI?

19. Apakah disemua mata pelajaran SMP SIIHA menerapkan model pebelajaran STIFIn?

20. Bagaimana penerapan model pembelajaran STIFIn dalam mata pelajaran Pendidikam Agama Islam?

2. Guru 1. Sudah berapa lama bapak mengajar di SIIHA?

2. Bapak mengajar di bidang/mata pelajaran apa di SIIHA?

3. Apakah ada kesamaan atau perbedaan pembelajaran di SIIHA dengan sekolah lain?

4. Bagaimana proses pembelajaran di SIIHA?

5. Apakah ada metode atau model pembelajaran khusus yang diterapkan di SIIHA?

6. Sejak kapan bapak menerapkan model pembelajaran STIFIn dalam pembelajaran?

7. Apakah bapak mengetahui kriteria MK dari masing-masing anak didik?

8. Apa saja yang bapak siapkan dalam penerapan model pengajaran STIFIn dalam pembelajaran di SIIHA?

9. Bagaimana pendapat bapak tentang konsep STIFIn Learning?

10. Apa syarat dan ketentuan yang harus dimiliki atau dilakukan sebelum menerapkan konsep STIFIn dalam pembelajaran di SIIHA?

11. Bagaimana penerapan konsep STIFIn Learning dalam pembelajaran di SIIHA?

12. Apakah STIFIn Learning dapat dijadikan sebagai model pembelajaran di SIIHA?

13. Bagaimana implementasi model pembelajaran STIFIn Learning dalam mata pelajaran PAI?

14. Kegiatan apa saja yang diterapkan

menggunakan konsep STIFIn Learning dapam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

15. Persiapan apa saja yang dilakukan dalam menerapkan model pembelajara STIFIn Learning di SMP SIIHA?

16. Apakadh ada kendala/hambatan dalam impementasi model pembelajaran STIFIn dalam pembelajaran PAI?

17. Bagaimana upaya bapak dalam mengatasi kendala/hambatan tersebut?

18. Bagaimana pendapat bapak tentang konsep STIFIn sebagai model pembelajaran di SIIHA khususnya pada mata pelajaran PAI?

19. Apakah bapak mengetahui cara belajar dari setiap tipe MK yang berbeda-beda dari setiap anak?

20. Bagaimana upaya untuk menangani perbedaan cara belajar dari setiap MK tersebut?

21. Apa yang harus dipersiapkan untuk

mendapatkan pembelajaran yang maksimal dengan menggunakan model pembelajaran STIFIn?

3. Kepala bagian STIFIn

1. Sejak kapan konsep STIFIn diterapkan di SIIHA?

2. Apa yang melatarbelakangi adanya metode STIFIn di SIIHA?

3. Bagaimana penerapan konsep STIFIn di SIIHA?

4. Apakah konsep STIFIn dapat menjadi model pembelajaran di SIIHA?

5. Bagaimana implementasi model pembelajaran yang sesuai dengan konsep STIFIn?

6. Apakah setiap guru di SIIHA mengikuti pelatihan tentang konsep STIFIn, khususnya pada pelatihan STIFIn Learning?

7. Apakah ada kendala/hambatan dalam menerapkan konsep STIFIn di SIIHA?

Bagaimana cara mengatasinya?

8. Apakah setiap anak didik dan guru mengetahui MKnya masing-masing?

9. Apakah ada arahan bagaimana peserta didik mengikuti pembelajaran dengan menggunakan konsep STIFIn?

10. Bagaimana dan kapan sistem evaluasi dan pencapaian STIFIn yang diterapkan di SIIHA?

11. Apakah ada raport khusus tentang metode STIFIn yang diterapkan di SIIHA? Seperti apa raport tersebut?

12. Bagaimana kerjasama antara guru dan peserta didik dalam implementasi model pembelajaran STIFIn pada mata pelajaran PAI?

13. Langkah apa yang dilakukan jika ada anak yang bermasalah dalam pembelajaran menggunakan konsep STIFIn?

14. Bagaimana pendapat bapak tentang penerapan model pembelajaran STIFIn dalam

pembelajaran di SMP SIIHA?

15. Apa saja kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pembelajaran model STIFIn Learning pada mata pelajarn PAI?

D. Pemeriksaan dan Pengecekan Keabsahan Data

Untuk memperoleh keabsahan data, penulis menggunakan teknik triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan.14 Teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber dan metode, yaitu:

1. Triangulasi sumber

Membandingkan dan mengecek derajat kepercayaan suatu informasi, baik yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua cara yakni membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen-dokumen yang berkaitan.

2. Triangulasi metode

Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data, dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan strategi pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama, peneliti membandingkan data hasil wawancara antara kepala sekolah dan guru.

E. Teknik Analisis Data

Menurut Lexy Moeleong, analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditentukan tema dan dapat

14 Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), Cet ke-27, hlm. 330

dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.15 Sugiyono mengemukakan bahwa “Aktivitas dalam analisis kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.” Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.16

1. Reduksi Data Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yang telah dikumpulkan. Setelah itu mengadakan reduksi data. Menurut Sugiyono dalam bukunya menyatakan reduksi data diartikan sebagai proses merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.17

2. Penyajian Data adalah berupa pendeskripsian sekumpulan informasi yang telah disusun sehingga memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, kemudian merencanakan tindakan selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut. Dalam penelitian ini penyajian data disajikan dalam bentuk teks naratif.

3. Penarikan Kesimpulan Langkah selanjutnya yaitu peneliti melakukan penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan.

Sugiyono dalam bukunya menyatakan bahwa kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.18

15 Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 103

16 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, hlm. 337

17 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, hlm. 338

18 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, hlm. 345

73

HASIL PENELITIAN A. Kondisi Tempat Penelitian

1. Latar belakang SMP Sekolah Islam Ibnu Hajar

Indonesia dengan jumlah ummat Islam terbesar di dunia dan sumber daya alam yang melimpah sangat potensial menentukan arah perekembangan dunia Islam ke depan. Kegagalan kita dalam mengelola SDM dan SDA yang berdampak pada ‘kegagalan’ kita menjadi bangsa yang besar dan berengaruh harus menjadi cambuk dalam menyiapkan generasi yang akan mengelola negeri ini di masa depan.

Menyadari itu semua, Sekolah Islam Ibnu Hajar hadir membangun Institusi yang berkontribusi dalam menyiapkan generasi yang mengelola negara ini dengan leih baik. Sebuah generasi yang memiliki kekokohan iman, ketaatan beribadah dan keteladanan dalam berakhlak dan berkarya. Generasi yang menjaga ke-Indonesia- an dengan segala kekayaan yang ada di dalamnya. Generasi yang terus berinovasi dan berkarya bagi negeri. Generasi yang mampu memfilter budaya asing yang tidak sesuai dengan akhlak Islam dan budaya bangsa, sebuah generasi yang rahmatan lil ‘alamin.

2. Profil Sekolah Islam Ibnu Hajar a. Visi Sekolah Islam Ibnu Hajar

Menjadi Model Sekolah Penggemblengan Profesi Berbasis Jenius Lokal Berakhlakul Karimah sesuai Personaliti Genetik Individu di Tahun 2020

b. Misi Sekolah Islam Ibnu Hajar

Membangun Generasi Rahmatan lil ‘Alamin c. Strategi Sekolah Islam Ibnu Hajar

1) Membimbing individu menemukan keuinikan profesinya dengan metodologi konsep STIFIn

2) Menjalin sinergi dengan para pelaku Jenius Lokak d. Landasan Al-Qur’an

1) Surat an nisa ayat 9

َ َشيخَ لَۡو ي

َٱ

ََنيِ ذ لَّ

َْاوُفاَخَ اًفَٰ َع ِضَ ٗةذيِ ر ُذَ يمِهِفيلَخَ ينِمَْاوُكَرَتَ يوَل َ

َْاوُقذتَييلَفَيمِهيي َلَع ٱ

ََ ذللّ

َاًديِدَسَ لٗيوَقَْاوُلوُقَ ٗ لَۡو ي َ ٩َ

َ

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Q. S. An-Nisa [4]:9)

2) Surat Al-Anbiya ayat 107

َ اَمَو

َ َينِمَلََٰعيلِ لَٗةَ يحَۡرَ ذلِٗإَ َكََٰنيلَسيرَأ َ ١٠٧

ََ

َ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. Al-Anbiya [21]:107)

3) Surat Az-Zumar ayat 23

ٱ

َُ ذللّ

َ

َ َن َسيح َ أَ َلذزَن

َِثيِدَ ي ٱ لۡ

َُّرِع َشيقَتَ َ ِنِاَثذمَاٗهِبَٰ َشَتُّمَاٗبَٰ َتِك َ

َُدوُلُجَُهينِم ٱ

ََنيِ لَّ ذ

َيمُهُبوُلُقَوَيمُهُدوُلُجَُينِلَتَذمُثَيمُهذبَرََنيو َشي َيَ َ

َِر كِذَ َٰ ي َ لَِإ

َهِ ذللّ ٱ

َ

َىَدُهَ َكِلََٰذ ٱ

َِ ذللّ

َِهِبَيِديهَي َ

َنَمَوَهُء اَشَيَنَم ۦَ

َِلِل يضُي ٱ

َُ ذللّ

َ

َُ َ لَاَمَف

ٍَداَهَ ينِم ۥَ

٢٣َ

َ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang- ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.

Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun” (Q.S. Az-Zumar [39]:23) 4) Surat Al-Baqarah 164

َذنِإ

َِق يلَخَ ِفِ َ

َِتََٰوَٰ َم ذسل َٱ

َََو ٱ

َ ِضرۡ َ ي لۡ

َََو

َ ِفََٰلِتيخ ٱ

َِلي لۡ ذ َٱ

َََو

َِراَهذلن ٱ

َ

َِكيلُفيل ََوٱ

َ ِت ذل َٱ

َ ِفَِيِري تَ َ َ

َِريحَ لۡ ي ٱ

َ ُعَفنَيَاَمِب َ ٱ

َ َساذلن

َََو

َ َلَزن َ أَ اَم

ٱ

َُ ذللّ

َ

ََنِم ٱ

َِء اَم ذسل

َِهِبَاَييح َ َ

أَفَٖء اذمَنِم ٱ

َ َضرۡ َ ي لۡ

َ

َ ذثَبَوَاَهِتيوَمََديعَب

َ ِفيِ يصَۡتَوَٖةذب اَدَ ِ ُكَنِمَاَهيِف

َِحَٰ َيِ رل ٱ

َََو

َِباَح ذسل ٱ

َِرذخ َسُم ي ل َٱ

َ

َ َ يينَب ٱ

َِء اَم ذسل

َََو ٱ

َ ِضرۡ َ ي لۡ

ََنوُلِقيعَيَٖميوَقِ لَ ٖتََٰيلَأٓ َ ١٦٤

َ

َ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh

(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 164)

e. Nilai-nilai

Nilai-nilai adalah karakter/kepribadian lembaga yang tercermin pada karakter SDM, siswa dan orang tua yang ada didalamnya dalam mencapai misi lembaga. Nilai-nilai tersebut adalah:

1) Semangat

Antusias dan totalitas kerja dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas. Dengan karakter utama visioner, proaktof, totalitas

2) Cerdas

Akal sehat menjadi panduan dalam bersikap dan pengambilan keputusan, dengan karakter utama logis, kritis, solutif

3) Inovatif

Bekerja dengan penuh kreativitas. Dengan karakter utama mencintai ilmu, terbuka, kreatif

4) Teladan

Akhlaqul Karimah sebagai panduan dalam berinteraksi dan beraktivitas. Dengan karakter utama amanah, memuliakan, mencontohkan.

5) Harmoni

Hidup selaras dan seimbang pada diri dan lingkungan sekitar dengan karakter utama peduli, kerjasama, satu tujuan.

f. 4 Pilar Pengembangan Jenius Lokal

Para siswa yang kelak berprofesi sebagai talenta local dibekali dengan ilmu-ilmu dasar sebagai pilar utama pengembangan profesinya, yaitu:

1) Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an dan Sunnah dipelajari sebagai mata air keimanan yang tercermin dalam ketaatan beribadah dan keluhuran akhlak

2) Logika dan Akademik

Kecintaan pada ilmu yang bersumber dari ragam khasanah keilmuan membuka keluasan dalam berkarya dan inovasi 3) Akhlaq dan Leadership

Kecintaannya pada alam dan lingkungan sekitar membimbingnya menjadi insan yang mampu memimpin diri dan lingkungannya

4) Kewirausahaan Jenius Lokal

Profesi berbasis jenius local yang ditekuninya kelak tidak hanya berhenti pada kesukaan dan kesenangan, tetapi juga berujung pada menghasilkan nilai (earn) yang mampu memberi kehidupan bagi diri, keluarga dan lingkungannya.

g. Sarana dan prasarana

Ruang-ruang belajar siswa yang berbahan bambu memberi kesan yang kuat akan bengunan asli Indonesia, suasana lingkungan yang asri bernuansa pedesaan membuat siswa nyaman, pengelolaan sampah berbasis 3R (reuse, reduce dan recycle), hemat energi dengan pemanfaatan solar cell dan menghindari penggunaan AC serta pengurangan limbah kertas dengan pemanfaatan teknologi informasi dan e-learning.

Dalam dokumen IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN STIFIN (Halaman 76-79)

Dokumen terkait