• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaran Kerja Kegiatan

Dalam dokumen MODUL KESPRO LUAR SEKOLAH 260122 (Halaman 164-171)

Panduan Fasilitator:

LEMBAR MITOS DAN FAKTA 1. Ketika menstruasi tidak boleh mencuci rambut. Mitos

2. Rambut dan kulit lebih berminyak ketika menstruasi, mandi dan mencuci rambut justru sangat dianjurkan untuk dilakukan. Fakta

3. Olahraga ringan dan peregangan dapat membantu mengurangi rasa nyeri yang dialami karena kram perut ketika menstruasi. Fakta

4. Jika tidak mengalami gangguan selama menstruasi seperti nyeri perut, lemas dan lain-lain, tidak ada alasan bagi remaja perempuan untuk mengurangi aktivitasnya. Fakta

5. Darah menstruasi keluar karena adanya kontraksi pada rahim. Makanan tidak akan berpengaruh pada kontraksi tersebut. Fakta

6. Ketika menstruasi sebaiknya tidak olahraga. Mitos

7. Makan nanas atau minuman bersoda dapat memperlancar menstruasi.

Mitos

8. Ketika menstruasi sebaiknya mengurangi aktivitas. Mitos

9. Istirahat yang cukup akan membantu tubuh untuk lebih segar dan mengurangi rasa lemas karena menstruasi. Fakta

10. Darah menstruasi adalah bagian yang normal dari tubuh perempuan.

Remaja perempuan yang sedang menstruasi tidak kotor dan tidak perlu dijauhi. Fakta

11. Ketika menstruasi sebaiknya tidak tidur di siang hari. Mitos 12. Mimpi basah memalukan dan menakutkan. Mitos

13. Mimpi basah adalah hal normal yang dapat terjadi tanpa atau dengan adanya mimpi erotis. Fakta

14. Mimpi basah adalah hal yang normal terjadi pada remaja laki-laki. Tidak perlu merasa malu dan takut. Dorong remaja laki-laki untuk berkonsultasi pada guru/petugas kesehatan jika mengalami hal-hal tersebut. Fakta 15. Mimpi basah akan terus dialami laki-laki sepanjang hidupnya. Mitos 16. Darah merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri

dan mikroorganisme lainnya. Menggunakan darah menstruasi sebagai masker justru akan membuat wajah lebih mudah terkena bakteri yang dapat menyebabkan jerawat. Fakta

17. Makan daging dan ikan baik bagi tubuh karena mengandung protein dan zat besi yang dibutuhkan untuk mengganti sel darah merah. Fakta

18. Mimpi basah akan semakin jarang dialami dengan bertambahnya usia.

Fakta

19. Penggunaan darah menstruasi sebagai masker dapat mengobati jerawat.

Mitos

20. Menstruasi adalah darah kotor. Mitos

21. Dilarang makan daging karena membuat darah menstruasi menjadi amis.

Mitos

22. Mimpi basah terjadi karena terlalu banyak melihat tontonan pornografi.

Mitos

SESI 4. MENGELOLA DORONGAN SEKSUAL

Pendahuluan

Dalam masa pubertas, remaja mengalami pematangan organ reproduksi yang disebabkan oleh hormon. Salah satu hal yang juga berkembang adalah mulai munculnya dorongan seksual, yang dapat muncul dalam bentuk perilaku seksual.

Memiliki dorongan seksual adalah hal yang wajar dan normal terjadi pada manusia.

Remaja perlu diberikan pemahaman mengenai hal ini. Yang terpenting adalah bagaimana mengelola dorongan tersebut secara sehat sehingga muncul perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab.

Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan remaja memahami mengenai dorongan seksual dan perilaku seksual yang sehat.

Kegiatan

Alokasi waktu: 60 menit

1. Pengantar 5 menit

2. Kegiatan: 15 menit

Pilihan 1: Wajarkah versi Duduk dan Berdiri (batas bawah usia 7 tahun) Pilihan 2: Wajarkah versi Kepal Tangan (batas bawah usia 13 tahun) Pilihan 3: Wajarkah versi Kursi Panas (batas bawah usia 16 tahun)

3. Materi mengelola dorongan seksual 10 menit

4. Tanya Jawab 10 menit

5. Kesimpulan dan Refleksi 10 menit

6. Evaluasi Kegiatan 10 menit

Media dan Alat Bantu

1. Bahan tayang 2. Laptop

3. Proyektor (bila memungkinkan) apabila tidak, dapat menggunakan bahan bacaan yang di fotocopy.

Langkah Kegiatan

Pilihan 1. “Wajarkah” versi duduk berdiri

Langkah:

1. Fasilitator menyapa para peserta, tanyakan kabar, perkenalkan diri dan menjelaskan tujuan sesi.

2. Fasilitator menyampaikan bahwa kita akan berdiskusi mengenai mengelola dorongan seksual.

3. Fasilitator menanamkan kepada peserta bahwa di tempat ini adalah tempat yang aman bagi semua peserta untuk berpendapat dan berdiskusi.

4. Fasilitator meminta para peserta untuk berani menyampaikan pendapatnya masing-masing dan menghargai pendapat peserta lain, meskipun pendapat tersebut berbeda.

5. Fasilitator mengajak peserta untuk mengikuti permainan “Wajarkah”, fasilitator akan membacakan pernyataan-pernyataan berikut, dan akan menanyakan apakah hal tersebut wajar terjadi pada remaja atau tidak beserta alasannya.

6. Peserta yang menjawab wajar dipersilahkan untuk berdiri, untuk peserta yang menjawab tidak wajar dipersilahkan duduk.

7. Pernyataan-pernyataan adalah:

o Wajarkah anak usia SD mulai menyukai temannya yang berlawanan jenis?

o Wajarkah remaja perempuan suka berdandan?

o Wajarkah bila remaja laki-laki menyampaikan rasa sukanya kepada teman perempuannya?

o Wajarkah remaja berpegangan tangan romantis dengan orang yang Batas

bawah usia:

7 tahun

WAJAR TIDAK WAJAR

Berdiri Duduk

8. Beri tanggapan kepada jawaban-jawaban yang diberikan.

9. Sampaikan materi mengenai dorongan seksual.

10. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab.

11. Fasilitator membuat kesimpulan dan melakukan refleksi bahwa:

• Sampaikan bahwa dorongan seksual tidak harus tersalurkan dalam bentuk perilaku seksual dan sentuhan fisik, perasaan dan emosi juga bagian dari dorongan seksual. Hal yang paling penting adalah bagaimana mengelola dorongan tersebut secara sehat sehingga muncul perilaku seksual yang sehat.

• Hal yang wajar dan normal ketika remaja mulai memiliki dorongan seksual yang dimunculkan menjadi perilaku seksual, namun remaja perlu memahami dan dapat memilih perilaku seksual yang tidak berisiko.

• Dorongan seksual tidak harus tersalurkan dalam bentuk perilaku seksual dan sentuhan fisik, perasaan dan emosi juga bagian dari dorongan seksual.

• Perilaku seksual sangat beragam dan tidak semuanya negatif.

12. Fasilitator melakukan evaluasi.

Pilihan 2. “Wajarkah” versi kepal tangan

Langkah:

1. Fasilitator menyapa para peserta, tanyakan kabar, perkenalkan diri dan menjelaskan tujuan sesi.

2. Fasilitator menyampaikan bahwa kita akan berdiskusi mengenai mengelola dorongan seksual.

3. Fasilitator menanamkan kepada peserta bahwa di tempat ini adalah tempat yang aman bagi semua peserta untuk berpendapat dan berdiskusi.

4. Fasilitator meminta para peserta untuk berani menyampaikan pendapatnya masing-masing dan menghargai pendapat peserta lain, meskipun pendapat tersebut berbeda.

5. Fasilitator mengajak peserta untuk mengikuti permainan “Wajarkah”, fasilitator akan membacakan pernyataan-pernyataan berikut, dan akan menanyakan apakah hal tersebut wajar terjadi pada remaja atau tidak beserta alasannya.

6. Peserta yang menjawab wajar dipersilahkan untuk mengepalkan tangannya, untuk peserta yang menjawab tidak wajar dipersilahkan angkat tangan.

7. Pernyataan-pernyataan adalah:

o Wajarkah remaja mulai suka kepada temannya yang menarik?

o Wajarkah remaja perempuan suka berdandan?

o Wajarkah remaja laki-laki senang melihat wanita yang cantik?

o Wajarkah bila remaja memberikan perhatian lebih kepada orang yang disukainya?

o Wajarkah remaja mulai suka melihat tontonan pornografi?

Batas bawah usia:

13 tahun

Kepalkan

Tangan Angkat

Tangan

WAJAR TIDAK WAJAR

o Wajarkah remaja memegang-megang kelaminnya sendiri untuk merasakan kenikmatan? (masturbasi/onani)

o Wajarkah remaja berpegangan tangan romantis dengan orang yang disukainya?

o Wajarkah remaja sudah ada yang pernah berciuman?

o Wajarkah remaja sudah pernah melakukan hubungan seksual?

8. Beri tanggapan kepada jawaban-jawaban yang diberikan.

9. Sampaikan materi mengenai dorongan seksual.

10. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab.

13. Fasilitator membuat kesimpulan dan melakukan refleksi bahwa:

• Sampaikan bahwa dorongan seksual tidak harus tersalurkan dalam bentuk perilaku seksual dan sentuhan fisik, perasaan dan emosi juga bagian dari dorongan seksual. Hal yang paling penting adalah bagaimana mengelola dorongan tersebut secara sehat sehingga muncul perilaku seksual yang sehat.

• Hal yang wajar dan normal ketika remaja mulai memiliki dorongan seksual yang dimunculkan menjadi perilaku seksual, namun remaja perlu memahami dan dapat memilih perilaku seksual yang tidak berisiko.

• Dorongan seksual tidak harus tersalurkan dalam bentuk perilaku seksual dan sentuhan fisik, perasaan dan emosi juga bagian dari dorongan seksual.

• Perilaku seksual sangat beragam dan tidak semuanya negatif.

11. Fasilitator melakukan evaluasi.

Pilihan 3. “Wajarkah Versi Kursi Panas”

Langkah:

1. Fasilitator menyapa para peserta, tanyakan kabar, perkenalkan diri dan menjelaskan tujuan sesi.

2. Fasilitator menyampaikan bahwa kita akan berdiskusi mengenai mengelola dorongan seksual.

3. Fasilitator menanamkan kepada peserta bahwa di tempat ini adalah tempat yang aman bagi semua peserta untuk berpendapat dan berdiskusi.

4. Fasilitator meminta para peserta untuk berani menyampaikan pendapatnya masing-masing dan menghargai pendapat peserta lain, meskipun pendapat tersebut berbeda.

5. Fasilitator mengajak peserta untuk mengikuti permainan “kursi panas”, fasilitator akan membacakan pernyataan-pernyataan, dan akan menanyakan apakah hal tersebut wajar terjadi pada remaja atau tidak beserta alasannya.

6. Fasilitator membagi peserta menjadi 2 kelompok.

7. Fasilitator menyiapkan kursi panas didepan kelas.

8. Fasilitator membacakan pernyataan-pernyataan “Wajarkah”.

9. Peserta perwakilan dari tiap kelompok menjawab wajar/tidak wajar beserta alasannya di kursi panas.

10. Kelompok dengan peserta terbanyak yang menjawab/menduduki kursi panas, dinyatakan sebagai pemenang.

11. Pernyataan-pernyataan adalah:

a. Wajarkah remaja mulai suka kepada temannya yang menarik?

b. Wajarkah remaja perempuan suka berdandan?

Batas bawah usia:

16 tahun

Dalam dokumen MODUL KESPRO LUAR SEKOLAH 260122 (Halaman 164-171)