• Tidak ada hasil yang ditemukan

YANG BERKEMBANG

Dalam dokumen MODUL KESPRO LUAR SEKOLAH 260122 (Halaman 30-35)

Ceramah Memberikan informasi

kepada peserta. Pengetahuan.

Diskusi Kelompok • Mendorong peserta untuk menyampaikan pendapatnya.

• Belajar menghargai perbedaan pendapat.

• Tanya jawab antar peserta atau antar peserta dan fasilitator.

Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan.

Debat • Belajar berpikir kritis dan kreatif.

• Belajar menyampaikan pendapat dan argumen.

• Belajar menghargai perbedaan pendapat.

Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan.

Brainstorming (curah

pendapat) Mendorong peserta untuk

memunculkan ide-ide baru. Pengetahuan dan Sikap.

Bermain peran, simulasi,

demonstrasi Mendorong peserta untuk belajar dari pengalaman dan mengembangkan kreatifitas.

Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan.

Studi kasus Mendorong peserta untuk berpikir kritis, membuat analisa dan membuat pemecahan masalah.

Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan.

Games (permainan) dan kuis Mengembangkan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Pengetahuan.

Pemutaran film Mendorong peserta untuk

belajar dari situasi nyata. Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan.

Refleksi Proses internalisasi dalam meningkatkan pemahaman dari materi yang telah dipelajari.

Sikap.

E. PRINSIP-PRINSIP PENDEKATAN FASILITATOR

Fasilitator sangat perlu untuk memperhatikan pendekatan yang digunakan/dilakukan dalam proses pembelajaran pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja. Pendekatan yang digunakan hendaknya dapat menciptakan situasi yang nyaman, aman, terbuka dan menyenangkan, baik bagi remaja maupun fasilitatornya itu sendiri. Proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung interaktif, saling menghargai, merasa nyaman untuk mengeluarkan pendapat serta mendorong remaja untuk dapat mengembangkan sikap positif dan keterampilannya.

Berikut adalah pendekatan-pendekatan yang perlu dilakukan oleh fasilitator dalam proses memfasilitasi pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja:

1. Inklusif: Membangun situasi yang menghargai dan melibatkan remaja dari berbagai latar belakang dan kondisi dalam proses pembelajaran. Pelibatan dapat diciptakan dengan membuat contoh kasus, bahan diskusi, cerita, bermain peran atau nara sumber yang beragam. Ajarkan langsung mengenai pentingnya menghargai perbedaaan dan perlunya menghilangkan bias, stigma dan diskriminasi.

2. Menetapkan Aturan Dasar: Sebelum memulai sesi sebaiknya dibuatkan kesepakatan antar peserta dan fasilitator mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam proses pembelajaran (kesepakatan belajar). Aturan tersebut sebaiknya didiskusikan dan diputuskan secara bersama. Contoh aturan yang dapat diterapkan misalnya, saling menghargai pendapat, setiap orang berhak bertanya dan tidak ada pertanyaan yang bodoh, saling menjaga kerahasiaan, dan lain-lain. Kesepakatan mengenai aturan yang dibuat juga bertujuan untuk menciptakan suasana aman dan nyaman baik bagi remaja maupun fasilitator.

3. Menetapkan Suasana Aman: Aman dalam artian fisik dan psikologis. Aman secara fisik misalnya ruangan yang memiliki cukup sirkulasi udaranya, pencahayaan memadai, serta memperhatikan keamanan dan keselamatan ketika sedang melakukan aktivitas. Aman secara psikologis misalnya peserta tidak merasa dihakimi, dicela atau dicemooh ketika menceritakan pengalaman yang mungkin tidak sesuai dengan norma masyarakat, peserta merasa setara dan tidak ada yang dominan atau diprioritas, dan lain-lain. Komitmen untuk menjaga privasi dan kerahasiaan adalah bagian dari suasana aman yang diharapkan.

4. Kreatif dan Fleksibel: Fasilitator perlu menggunakan berbagai macam metode dan cara dalam proses penyampaian dan pembelajaran. Metode yang digunakan perlu bervariasi seperti permainan, diskusi, menganalisis kasus, bermain peran, bekerja secara pribadi maupun berkelompok, dan lain-lain. Cara-cara pembelajaran ini juga perlu menyesuaikan dengan kemampuan, latar belakang serta kondisi remaja yang menjadi peserta.

5. Pemberdayaan (empowerment): Fasilitator perlu menyadari bahwa remaja juga adalah individu yang telah mempunyai pengalaman, pengetahuan dan nilai-nilai yang membuat mereka juga memiliki kemampuan. Melibatkan mereka secara aktif serta saling belajar antar fasilitator dan remaja dalam posisi yang setara akan sangat membantu dalam proses pembelajaran. Fasilitator dapat memberikan kesempatan bagi remaja untuk belajar mengidentifikasi hal-hal yang dapat membantu dirinya meminimalkan risiko dari perilaku dan membuat keputusan terkait hal tersebut. Hal ini akan lebih baik daripada mereka hanya diberitahu apa yang harus dilakukan secara satu arah oleh fasilitator. Beri kesempatan bagi remaja untuk saling belajar dari keberhasilan dan pengalaman baik diantara mereka sendiri misalnya dengan menjadi role model atau peer educator.

6. Focus pada Kekuatan: Daripada mencari-cari masalah atau kesalahan yang dilakukan remaja, akan lebih baik jika proses pembelajaran fokus pada kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh remaja. Fasilitator perlu membantu remaja mengidentifikasi kekuatan, hal-hal positif yang mereka miliki serta faktor-faktor pendukung bagi mereka untuk berubah kemudian menjadikan hal tersebut dasar untuk melakukan perubahan, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.

7. Peka Terhadap Kemampuan Literasi: Fasilitator diharapkan dapat peka terhadap kemampuan literasi peserta misalnya pada kelompok tertentu mungkin perlu untuk meminimalkan kegiatan yang menuntut mereka untuk membaca atau menulis. Kegiatan dapat diganti dengan bercerita, bermain peran, diskusi, menggambar dan lain-lain. Informasi dapat disampaikan dengan video, gambar atau infografis.

8. Sediakan Kotak Bertanya: Hal-hal tertentu dapat saja sensitif dan memalukan bagi remaja. Sediakan kotak/tempat dimana mereka dapat menuliskan pertanyaan, bercerita atau mengungkapkan pendapatnya secara anonim (tanpa nama). Penting bagi fasilitator untuk merespon apapun yang sudah dimasukkan ke dalam kotak tersebut.

9. Gunakan Bahasa Sederhana: Sesuaikan bahasa atau istilah dengan latar belakang kelompok dan budaya remaja yang menjadi peserta. Upayakan untuk mengetahui bahasa atau istilah yang biasa mereka gunakan untuk hal-hal yang terkait kesehatan reproduksi.

10. Peka Terhadap Budaya Setempat: Program dan konten yang disampaikan sebaiknya disesuaikan dengan budaya setempat. Namun tetap memperhatikan dan membantu remaja mengkritisi budaya atau kebiasaan yang melanggar hak ataupun merugikan dan membahayakan bagi remaja.

F. TAHAP PERSIAPAN

Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan optimal, sesuai dengan tujuan dan dapat memberikan dampak, maka fasilitator perlu menggali informasi berikut:

- Karakteristik Kelompok Sasaran: informasi mengenai jumlah, usia, jenis kelamin, permasalahan yang banyak terjadi atau kebutuhan kelompok tersebut terkait isu kesehatan reproduksi. Informasi ini akan berguna dalam menentukan sesi-sesi yang sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran.

- Sumber Daya: ketersediaan waktu (kapan), berapa lama (durasi), berapa kali (frekuensi), fasilitator serta alat dan bahan yang dibutuhkan. Informasi ini akan membantu menentukan berapa banyak sesi yang dapat disampaikan kepada kelompok sasaran.

- Perubahan yang ingin dicapai disesuaikan dengan tujuan yang ada dalam sesi.

- Kontekstualisasi: melakukan modifikasi atau improvisasi terhadap isi modul, seperti memberikan contoh kasus atau konten yang disesuaikan dengan karakteristik kelompok sasaran. Misalnya contoh kasus di sesi Konsep Diri, Batasan Diri dan Persetujuan yang dilakukan di Lapas, fasilitator tidak menggunakan istilah orangtua tetapi menggunakan istilah pengasuh.

G. MONITORING DAN EVALUASI

Fasilitator perlu melakukan proses monitoring dan evaluasi untuk mendapatkan informasi mengenai hasil yang telah didapatkan dari melakukan kegiatan/pertemuan. Hasil monitoring dan evaluasi dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam melakukan perbaikan untuk kegiatan/pertemuan berikutnya.

Penilaian dan umpan balik dapat diperoleh dari peserta dengan meminta mereka untuk mengisi lembar evaluasi setelah selesai mengikuti kegiatan/pertemuan.

Contoh lembar evaluasi yang dapat digunakan:

Setelah peserta mengisi lembar evaluasi, fasilitator dapat mengolah data yang bermanfaat untuk:

• Mengetahui pengetahuan peserta mengenai sesi.

• Mengetahui sikap yang diharapkan setelah remaja mendapatkan sesi.

• Mengetahui isu atau topik yang ingin didapatkan untuk pertemuan selanjutnya.

Jika dengan menggunakan lembar evaluasi dari peserta tidak memungkinkan untuk dilakukan, fasilitator dapat memperoleh umpan balik dari peserta mengenai sesi yang diberikan dengan menggunakan mood meter (suka) (biasa saja) (tidak suka). Peserta dapat memilih emoticon mana yang mewakili pendapatnya mengenai sesi yang telah ia ikuti.

H. ADAPTASI MODUL

Dalam situasi atau kondisi tertentu, fasilitator perlu menyesuaikan dan beradaptasi untuk melakukan pemanfaatan modul ini. Salah satu contoh kondisi yang memerlukan penyesuaian adalah kondisi pandemi seperti pandemi Covid-19. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh fasilitator dalam melakukan adaptasi modul ini adalah:

- Melaksanakan kegiatan/pertemuan secara daring dengan memperhatikan kemampuan kelompok sasaran dalam mengakses perangkat dan koneksi internet.

- Menyampaikan informasi dalam bentuk digital dengan membuat video, infografis, gambar Ceramah

Diskusi Kelompok Debat

Brainstorming (curah pendapat) Bermain peran, simulasi, demonstrasi Studi kasus

Games (permainan) dan kuis pemutaran film

- Menyiapkan media KIE yang dapat dibagikan kepada remaja kelompok sasaran.

- Menyesuaikan isi materi dengan topik-topik yang relevan seperti perilaku hidup sehat, protokol kesehatan pencegahan penularan, pencegahan kekerasan, manajemen emosi dan stress, konseling, dan lain-lain.

- Tetap melakukan kegiatan/pertemuan secara tatap muka dengan memperhatikan penerapan protokol kesehatan, membatasi jumlah, menjaga jarak serta memastikan sirkulasi udara yang memadai.

- Memperluas kerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan kegiatan online/offline.

BAGIAN 1.

NILAI, KONSEP DIRI

Dalam dokumen MODUL KESPRO LUAR SEKOLAH 260122 (Halaman 30-35)