BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
5. Keadaan Guru dan Pegawai MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan
penting dalam lembaga pendidikan. Keberadaan guru dalam
59Dokumentasi, 17 Maret 2017.
49
pelaksanaan proses pembelajaran dan kepegawaian dalam administrasi sangat diperlukan.Hal ini mengingat peran mereka dalam proses pembelajaran secara khususnya dan seluruh kegiatan di sekolah secara umumnya.
Adapun keadaan guru dan pegawai MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 3
Data Guru MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan tahun 2016/2017 Sumber Data: Profil MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan60
No Nama Guru L/P Jabatan Mata Pelajaran 1 Sayadi, S.E L Kepala Sekolah TIK
Suharto, S.Pd.I L WAKAMAD Fiqih
3 Sudirman, S.E L Waka Kurikulum IPS Terpadu 4 L. Didik S.W., S.H L Waka Kesiswaan IPS Terpadu 5 Sunaenah, S.Ag P WakaHumas SKI
6 Muh. Wildan, S.Pd.I L
Waka Sarana Prasarana
Mulok Kaligrafi
7 Emi Rohayati, S.E P Bendahara IPS Terpadu
8
Uswatun Khasanah, S.Ag
P Guru Aqidah Akhlak
9
Nining Suharni, S.Pd
P Guru IPA Terpadu
60Dokumentasi, , 17 Maret 2017.
50
10
Yuni Hikmarini, SIP., S.Pd
P Guru Bahasa Inggris
11 Hadijah, S.Pd P Guru IPA Terpadu 12 Suhaili, S.Pd.I L Guru Bahasa Arab 13 Muliani, S.Pd P Guru Bahasa Indonesia
14 Aswah, S.Pd P Guru Matematika
15 M. Ramli, S.Pd L Guru Bahasa Indonesia 16 Marwani, S.Pd.I P Guru Qur’an Hadits
17
Bq. Nikmatul Hayati, S.Pd
P Guru PKWN
18 Nurmiatun, S.Pd P Guru Matematika 19 Saparwadi, S.Pd L Guru PENJASKES 20 Damayanti, A.Ma P Guru Seni Budaya
21 Masnun L Guru Pengembangan Diri
22 Zulhairiyah, S.Pd P Guru Mulok B. Sasak 23 Mirnawatun, S.Sos P Guru PKWN
24 Rusdan, S.Pd.I L Guru Fiqih
25 Supriani, S.Pd.I P Guru Qur’an Hadist
26 Farhan L Guru Seni Budaya
27 Bahkani L Guru Ekstra Bela Diri
28 Saepul Bahri L Guru Mulok Kaligrafi
29 Bukri L Guru Ekstra Rohis
51
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa secara kuantitas keadaan guru di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan cukup memadai sesuai dengan kebutuhan Madrasah dan secara kualitasdapat dikatakan bahwa guru di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan cukup berkompeten untuk dapat menciptakan proses pembelajaran yang baik dan sesuai dengan tujuan yang dinginkan. Jika kita perhatikan data keadaan guru di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan yang rata-rata pernah mengemban dunia pendidikan di bangku kuliah jurusan keguruan. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa keadaan guru di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan sesuai dengan jurusan yang mereka emban di bangku kuliah, sehingga kemampuan mereka dalam menciptakan proses belajar mengajar yang terarah dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
6. Visi dan Misi Madrasah
Adapun visi dan misi MTs Al-Ikhlashiyah Perampuandalam melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran adalah:
Visi : Unggul, Cerdas, dan Seni dalam Imtaq Misi :
1). Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan akhlak mulia yang berdasarkan Iman dan Taqwa.
2). Meningkatkan kemampuan siswa dalam meraih prestasi bidang akademik.
52
3). Memupuk semangat siswa dalam berkompetisi di bidang seni kaligrafi dan dekorasi serta olahraga.
4). Meningkatkan kemampuan siswa di bidang tahfiz.61
7. Struktur Organisasi Kepengurusan MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan
Stuktur organisasi merupakan sebuah bagan untuk menggambarkan garis koordinasi dan garis komando yang ada pada madrasah tersebut, yaitu dimulai dari Komite Madrasah, Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah, Guru, BP, Staf Tata Usaha, hingga kepada siswa-siswi. Adapun struktur organisasi yang terdapat di madrasah ini, yaitu sebagai berikut :
61Dokumentasi, 17 Maret 2017
53
Bagan I
Struktur Organisasi MTs Al-Ikhlashiyah Perampuan Sumber Data: Profil MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan62
Keterangan garis
--- : Kordinasi : Komando
62 Dokumentasi, 17 Maret 2017.
Komite Madrasah Kepala Madrasah
Wakil Kepala Madrasah
Tata Usaha Pengelola
Perpustakaan
Pengelola LAB Media Belajar
UR Kurikulum UR Kesiswaan UR Sarana dan Prasarana
UR Hubungan Masyarakat
Wali Kelas VII Wali Kelas VIII Wali Kelas IX
Guru Mata Pelajaran
SISWA
54
B. Peran Guru Akidah Akhlak dalam membina Kedisiplinan siswa kelas VIII di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan Tahun Pelajaran 2016/2017
Berbagai macam bentuk peran guru Akidah Akhlak yang telahdilakukan dalam kegiatan belajar mengajar dan di luar proses belajar mengajar. Berbagai macam peran guru Akidah Akhlak telah disusun sebagai upaya untuk memperjelas dan mempermudah dalam pencapaian tujuan yang telah menjadi keputusan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang berdaya disiplin di Madrasah.
Dalam proses pendidikan dan pembelajaran guru dan orang tua selalu berharap agar anak didiknya berubah kearah yang lebih baik, sebab dengan adanya perubahan yang baik itu berarti guru dan orang tua telah berhasil mendidik, membimbing dan mengarahkan anak didiknya.Akan tetapi kenyataannya tidak semua anak didik mampu menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik sebagaimana yang diharapkan, bahkan beberapa anak didik menunjukkan sedikit mengalami perubahan meskipun sudah dididik dan diajarkan dengan berbagai metode atau strategi yang dimilikinya. Dimana guru sebagai pengajar yang memiliki tugas mentransfer ilmu yang dimilikinya, sedangkan guru sebagai pendidik memiliki tugas mendidik dan menanamkan sikap disiplin pada siswanya.63
Uswatun Khasanah (guru Akidah Akhlak) MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan mengartikan bahwa peran guru Akidah Akhlak dalam membina kedisiplinan siswa di MTs. Al-Ikhlashiyah dapat di lihat dari beberapa
63Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
55
peran yang dilakukan oleh guru Akidah Akhlak di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Sebagai pendidik
Peran guru sebagai pendidik dilakukan dengan menanamkan nilai- nilai moral dan sikap disiplin kepada siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga memiliki moral dan sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan Madrasah maupun di luar lingkungan Madrasah. Contohnya apabila siswa melakukan sikap tidak baik seperti telat datang, tidak memasukan baju, menyontek, berpakaian tidak seragam, tidak memakai kaos kaki, di sini guru memberi contoh yang baik kepada peserta didik seperti guru datang lebih awal dan memberitahu siswa sikap disiplin dalam proses belajar mengajar. Olehkarena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Suherman mengatakan bahwa:
“kalau kami melanggar aturan seperti telat datang, ribut dalam kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung maka kami di hukum dengan berdiri di depan kelas sambil bu Uswatun menasehati dan memperlihatkan kami contoh sikap disiplin”. Jadi peran guru sebagai pendidik di sini guru menunjukkan berbagai perilaku yang tertib, baik di kelas, di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
Dari perilaku tersebut guru dapat menjadi model bagi kami dalam melaksanakan perilaku disiplin.64
Zaenuddin mengatakan:
Disekolah ataupun di ruang kelas bu Uswatun selalu mengajarkan dan memperlihatkan kami perilaku disiplin, misalnya ketika masuk ruangan kelas selalu tepat waktu, ketika ada teman-teman yang masih
64 Suherman, Siswa Kelas VIII A MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 17 Maret,2017.
56
diluar kelas diminta untuk masuk kelas dan diruanganpun kami diminta untuk berpenampilan rapi dengan memasukkan baju bagi yang laki-laki”.65
Berdasarkan hasil observasi, bahwa memang ibu Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak kelas VIII sudah melaksanakan tugasnya dengan baik dengan cara menjelaskan materi yang diajarkan dan memberi contoh sikap disiplin seperti masuk dan keluar kelas tepat waktu sesuai dengan jam pelajaran yaitu dari jam 8.30-9.20,tidak ribut dan berbicara sendiri ketika gurumenjelaskan materi yang disampaikan hingga selesaiserta guru memberikan kesempatan untukbertanya kepada peserta didik tentang materi yang belum dipahami.66
Berdasarkan wawancara dan observasi diatas yang dapat peneliti gambarkan disini bahwa kesadaran diri dari siswa sangat mempengaruhi tingkat kedisiplinannya. Terlebih lagi dengan siswa yang dalam dirinya sudah tertanam sifat yang tidak baik dan sikap malas-malasan, tentu akan sulit untuk mewujudkan sikap disiplin dalam berperilaku seperti salah satu siswa tidak memasukkan bajunya. Akan tetapi dengan guru Akidah Akhlak yang selalu memberikan contoh sikap disiplin dengan datang tepat waktu, berpakaian rapi maka ada sedikit perubahan dan di harapkan siswa dapat menirunya.
2. Sebagai Pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing adalah memberi bantuan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun di luar
65Zainuddin, Siswa Kelas VIII B MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 17 Maret,2017.
66Observasi, 16 Maret 2017.
57
kelas. Menurut Ibu Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak mengatakan guru memberi bimbingan atau bantuan kepada peserta didik yang tidak mengerjakan PR,malas belajar, ribut di dalam kelas ketika proses pembelajaran berlangsung, berbicara sendiri. Contohnya di sini guru memberikan bimbingan didalam maupun di luar kelas mengenai apa yang dilakukan ketika peserta didik berada di sekolah baik mengenai materi yang diajarkan ataupun mengenai sikap dan tingkah laku peserta didik yang tidak sesuai dengan aturan dan tata tertib sekolah.67
Nurul Hijjah dkk mengatakan:
“Kalau di kelas cowok-cowok itu sering menggangu temannya, sering ribut-ribut. Kalau kelas VIII kan dekat dengan ruang guru jadi kalau terlalu ribut kadang kepala sekolah, guru Akidah Akhlak, guru BK dan guru-guru lainnya suka ngintip dan menegur kita dikelas. Apalagi guru Akidah Akhlak dan guru BK, maka langsung dipanggil ke ruang guru, kadang kalau yang cewek di suruh siram bunga, sapu halaman sekolah.Kadang kepala sekolah maupun guru Akidah Akhlak, meminta salah satu siswa kepercayaannya untuk mencatat nama teman-teman yang ribut, terus dikumpulin di kepala sekolah atau guru Akidah Akhlak”.68
Kemudian peneliti mendekati siswa yang bernama Hilman mengatakan, “saya termasuk siswa yang tidak bisa diatur dikelas.Saya tidak mendengarkan guru mengajar, ribut sendiri, suka jahilin teman dan tugaspun jarang saya kerjakan.Karena melihat perilaku yang tidak disiplin membuat bu Uswatun kewalahan menghadapi tingkah laku saya.Tetapi tetap saja bu Uswatun tetap membimbing saya dengan sabar yaitu dengan membantu mengerjakan tugas sekolah, membimbing dan menasehati saya untuk tidak nakal dan membimbng untuk sealu belajar di rumah.69
67Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
68Nurul Hijjah dkk, Siswa Kelas VIII B MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 17 Maret,2017.
69Hilman, Siswa Kelas VIII A MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 17 Maret,2017.
58
Berdasarkan observasi lanjutan, peneliti melihat bahwa ibu Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan,ketika ibu Uswatun Khasanah berada di dalam kelas VIII dalam pembelajaran Akidah Akhlak, dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, ketika ada siswanya yang melakukan pelanggaran kedisiplinan seperti ketika itu ada 3 orang siswanya (2 laki-laki dan 1 perempuan) yang tidak mengerjakan tugas rumah ibu Uswatun meminta ketiga siswanya untuk menghadapnya kedepan meja guru untuk memberinya bimbingan.Adapun bentuk bimbinganya seperti “sayang kenapa tidak mengerjakan tugas, ibu sengaja memberikan tugas rumah ini supaya kalian mau belajar di rumah. Ibu ingin kalian bisa rajin belajar agar nanti ketika kalian keluar dari sekolah ini bisa jadi anak pintar dan membanggakan sekolah ini”.70
3. Sebagai Motivator
Peran guru sebagai motivator, guru berperan secara aktif dalam memberikan motivasi kepada siswanya agar memperoleh pembelajaran yang optimal dan bisa mencapai tujuan pembelajaran. Contoh guru memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berperilaku baik dengan berupa pujian maupun pengakuan lainnya baik di kelas maupun di luar kelas dan pada saat IMTAK berlangsung. Guru yang berperan secara aktif sebagai motivator maka akan mampu membangkitkan semangat serta potensi yang luar biasa pada diri siswa.
70Observasi, 16 Maret 2017.
59
Nazia Misni mengatakan:
“Ia kak, saya pernah di kasih pulpen dan buku oleh bu Uswatun karena saya dapat nilai ulangan paling tinggi dari teman-teman saya dan saya juga mendapat pujian dari teman-teman kelas sehingga saya merasa senang dan termotivasi untuk terus belajar. Dan hal ini mengajarkan siswa bagaimana mengatur waktu untuk belajar di sekolah maupun belajar di rumah sehingga mendapatkan prestasi.71
Selanjutnya peneliti mewawancarai siswa yang bernama Dewi Ayu Anjani dkk mengatakan: “ Ia kak, kami juga kemarin dikasih coklat oleh Bu Uswatun karena kami bisa menjawab pertanyaan yang berikan olehnya. Dsan pernah sekali kami di kasih permen di kelas gara-gara kami kompak membersihkan dan merapikan ruang kelas”.72
Berdasarkan observasi lanjutan,peneliti melihat ibu Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan ketika berada di dalam kelas VIII sebagai motivator, ibu Uswatun memberikan nilai 80 kepada siswa yang bernama Suherman karena mampu menjawab soal yang diberikan oleh bu Uswatun dan mengatakan kepada siswanya “sayang, tingkatkan lagi belajarnya ya supaya dapat nilai yang lebih bagus lagi.73
4. Sebagai Pengajar
Menurut Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak mengenai peran guru sebagai pengajar mengatakan:”sebagai pengajar guru bertugas mentransfer atau menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik dengan baik dan peserta didikpun menghayati dan memahami semua materi yang telah di sampaikan oleh guru tersebut.74
71 Nazia Misni, Siswa Kelas VIII B di MTs. AL-ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017
72Dewi Ayu Anjani, Siswa Kelas VIII A MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 17 Maret,2017.
73Observasi,17 Maret 2017.
74Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
60
Berdasarkan hasil observasi lanjutan. Peneliti melihat bahwa Uswatun Khasanah selaku guru Akidah ketika dalam proses belajar mengajar, beliau hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Dalam hal ini peneliti melihat bu Uswatun ketika mengajar di kelas VIII A terlihat bu Uswatun sedangmenyampaikan materi pembelajaran tentang akhlak terpuji kepada diri sendiridengan cara menjelaskan isi materi di depan dan dalam menyampaikan materi tersebut, setelah selesai menjelaskan dan meminta siswa untuk menayakan hal yang belum dipahami, silahkan anak-anakku,apa yang belum jelas dan belum dipahami silahkan ditanyakan, nanti bu guru jelaskan ulang. Hasilnya terdapat 6 orang siswa (4 orang perempuan dan 2 orang laki-laki) yang mengacungkan tangan untuk bertanya.Adapun media yang bu Uswatun gunakan pada saat itu menggunakan media gambar. Hal ini terlihat ketika ibuUswatun sedang memberikan contoh tentang akhlak terpuji kepada diri sendiri beliau memperlihatkan salah satu contoh gambar akhlak terpuji kepada siswanya dan menjelaskannya. Siswa terlihat serius dan berebut mengamati gambar yang pegang bu Uswatun di depan kelas. terlihat suasana belajar menjadi hidup dan siswa-siswanya terlihat paham akan materi yang disampaikan. Selanjutnya setelah siswa menyatakan diri telah paham bu Uswatun memberikan tes berupa soal tanya jawab kepada siswaterdapat 9 orang dari 15 orang yang ada di kelas VIII A yang mengangkat tangan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh bu
61
Uswatun. Dan walaupun jawaban yang disampaikan siswa-siswinya belum sempurna tetapi sudah benar dan tepat. Hal ini menandakan bahwa siswa-siswinya sudah paham akan materi yang disampaikan oleh bu Uswatun Khasanah.75 Selanjutnya untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan, bu Uswatun melakukan tanya jawab dengan mengajukan pertanyaan kepada siswanya. Hasilnya ada 10 orang dari 30 siswa yang mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan tersebut. Ini berarti bahwa respon tingkat pemahaman siswa akan materi yang disampaikan cukup baik.
C. Kendala-kendala yang dihadapi Guru Akidah Akhlak dalam membina kedisiplinan siswa kelas VIII di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan
Dalam melakukan segala tindakan pasti ada masalah yang dihadapi, begitu pula dalam pembinaan kedisiplinan siswa kelas VIII di MTs Al- Ikhlashiyah Perampuan tidak terlepas dari permasalahan atau hambatan yang terjadi baik di dalam maupun dari luar madrasah.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru Akidah Akhlak beberapa kendala yang menjadi faktor penghambat guru Akidah Akhlak dalam memerankan diri untuk memberikan pelayanan siswa yang menjadi masalah dalam pembinaan kedisiplinan di sekolah. Adapun beberapa kendala yang dihadapi guru Akidah Akhlak dalam membina kedisiplinan siswa adalah sebagai berikut:
75Observasi, 16 Maret 2017.
62
a. Sebagai pendidik dan Pengajar 1. Sarana dan prasarana yang kurang
Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlah di MTs. Al- Ikhlashiyah Perampuan mengatakan bahwa:”ketika saya masuk ke dalam kelas khususnya kelas VIII untuk mengajar, saya menemukan kekurangan prasarana kelas seperti penghapus dan spidol hal ini terjadi karena sering hilang”.76
Kemudian peneliti mewawancarai Roni kelas VIII di MTs. Al- Ikhlashiyah Perampuan mengatakan bahwa saya dan teman-teman mengeluarkan iuran untuk membeli penghapus dan spidol karena tidak disediakan oleh pihak Madrasah dan itupun sering hilang.77
Berdasarkan observasi lanjutan yang penelit temukan sarana dan prasarana yang ada di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, semuanya baik hanya saja perlengkapan kelas yang mendukung proses pembelajaran masih kurang seperti kekurangan penghapus dan spidol,kurangnya kebersihan dan tempat pembuangan sampah dilingkungan madrasah, hal ini terlihat saat peneliti melakukan observasi, peneliti menemukan ada beberapa sampah yang berserakan di dalam kelas dan halaman madrasah seperti kertas- kertas dan plastik makanan.78
2. Jumlah peserta didik yang banyak
Di kelas VIII MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan memiliki jumlah peserta didik yang terbanyak diantara kelas-kelas yang lain,
76Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
77 Roni, Siswa Kelas VIII B MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret 2017
78 Observasi, 16 Maret 2017
63
yang dimana di kelas VIII jumlah peserta didiknya sebanyak 30 orang siswa sedangkan di kelas lain jumlah peserta didiknya hanya berjumlah sekitar 15-20 saja. Karena jumlah peserta didik yang lebih banyak maka guru kesusahan dalam mengelola kelas sehingga kegiatan pembelajaran susah untuk dioptimalkan.79
Berdasarkan observasi diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa memang jumlah peserta didik di kelas VIII di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan berjumlah 30 orang.perbedaan jumlah peserta didiknya yang idealnya antara 15-20 orang adalah peserta didiknya yang berjumlah 30 orangsusah untuk diatur dari pada jumlah siswa yang lebih sedikit, karena peserta didiknya yang sedikit lebih fokus untuk menerima pelajaran.80
b. Sebagai Pembimbing
Adapun kendala yang dihadapi guru dalam memerankan dirinya sebagai pembimbing adalahsebagai berikut:
1. Kurangnya komunikasi Guru Akidah Akhlak dengan siswa.
Kurangnya komunikasi yang dilakukan oleh guru Akidah Akhlak dengan peseta didik akan mempengaruhi tingkah laku peserta didik di kelas maupun di luar kelas, karena jika komunikasi langsung jarang dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya, maka
79Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
80Observasi, 16 Maret 2017
64
akan membuat peserta didik berbuat semaunya, tidak mendengarkan perintah dan nasehat gurunya.81
Berdasarkan observasi lanjutan, peneliti melihat bahwa ibu Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak di kelas VIII di MTs.
Al-Ikhlashiyah Perampuan memang kurangmelakukan komunikasi dengan peserta didiknya, hal ini peneliti dapatkan ketika di dalam kelas, bu Uswatun Khasanah ketika di dalam kelas hanya melakukan persensi, menayakan keadaan siswa, menayakan tugas yang telah diberikan sebelumnya dan setelah itu langsung memulai kegiatan pembelajaran.82
2. Guru kurang memahami keadaan individual peserta didik
Mengenal peserta didik merupakan keharusan bagi guru dalam melaksanakan tugas kependidikan.Keadaan individual peserta didik memang tidak sama karena mereka berasal dari latar belakang dan keluarga yang berbeda-beda. Saya terkadang kenal wajah-wajah siswa akan tetapi namanya mereka yang masih belum saya tanda.83
Setelah peneliti melakukan observasi lanjutan, peneliti melihat, bahwa memang ibu Uswatun Khasanah selaku guru Akidah Akhlak kelas VIII di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, bahwa memang ibu Uswatun tidak sepenuhnya mengenal siswanya secara baik, karena masih ada kesalahan penyebutan nama siswanya ketika ibu Uswatun
81Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
82Observasi, 16 Maret 2017
83Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
65
meminta siswanya untuk mengerjakan tugas di depan kelas dan hal ini juga terlihat ketika bu Uswatun memanggil salah satu siswanya dengan sebutan nama yang salah.84
3. Sebagai motivator
Sebagai seorang motivator guru berperan aktif untuk mendorong semangat belajar peserta didik dan mendorongnya untuk selalu mentaati peraturan Madrasah sehingga tujuan pendidikan yang dinginkan dapat tercapai.
Adapun kendala yang dihadapi guru Akidah Akhlak dalam memerankan dirinya sebagai motivator dalam pembelajaran yaitu:Guru kurang memahami perbedaan karakter peserta didik
Jumlah peserta didik yang banyak (30) orang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya diterapkan kedisiplinan.Karena masing-masing peserta didik memiliki karakter yang berbeda-bedadan guru tidak begitu mudah untuk melakukan pendekatan dan memberi motivasi kepada peserta didik karena mengingat guru dan peserta didik hanya bertemu satu kali dalam seminggu dalam kelas.
“Karena jam pelajaran Akidah Akhlak hanya sekali dalam seminggu dan tentu saja pertemuan dan komunikasi saya dengn peserta didik di kelas hanya sekali dalam seminggu ketika jam pelajaran. Inilah yang membuat saya sulit dalam melakukan pendekatan dan mendorong siswa dalam menerapkan kedisiplinan di kelas maupun di Madrasah.85
84 Observasi, 16 Maret 2017
85Uswatun Khasanah, Guru Akidah Akhlak MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan, Wawancara 16 Maret, 2017.
66
Berdasarkan observasi lanjutan yang peneliti lakukan, bahwa peneliti melihat sisa-siswi kelas VIII MTs. Al- Ikhlashiyah Perampuan memang memiliki perbedaan karakter, hal itu peneliti amati dari keadaan peserta didik ketika dalam proses pembelajaran berlangsung, ada 3 orang siswa yang sedang tidur di kelas, didapatkan juga 10 orang yang merasa jenuh dan bosan dalam belajar, ketika guru Akidah Akhlak menyampaikan materi dan memberikan nasehat ada 3 orang siswa yang tidak menghiraukan perkataan gurunya.86
D. Tingkat keberhasilan guru Akidah Akhlak dalam membina kedisiplinan siswa kelas VIII di MTs. Al-Ikhlashiyah Perampuan
Dalam membina kedisiplinan siswa tentu diperlukan suatu usaha yang dilakukan untuk mewujudkannya, karena sebuah rencana tidak akan bisa tercapai tanpa adanya suatu usaha yang dilakukan sehingga dengan usaha tersebut akan mendapat hasil yang yang diinginan.
Untuk melihat sejauh mana keberhasilan guru Akidah Akhlak dalam membina kedisiplinan siswa dapat dilihat dari nilai ulangan harian dan UTS siswa, yaitu:
86Observasi, 16 Maret 2017