• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM KATA ṢADR

A. Makna Dasar dan Makna Relasional

2. Makna Relasional

Setelah mengetahui makna dasar ṣadr, langkah berikutnya ialah menggali makna relasional ṣadr. Adapun makna relasional ialah

4 Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Maqayisul Lugoh, (Beirut: Dar al-Fikr al- Ilmiyyah, 1994), h. 337.

5 Syauqi Dhaif dkk.., Mu‟jam Al-Wasiṭ, (Mesr: Maktabah Shurouq ad-Dauliyya, 2004), h. 525

6 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya:

Pustaka Progressif, 1997), h. 768.

sebuah makna baru yang ditetapkan pada kata tersebut, bergantung atas kalimat di mana kata tersebut diletakkan.7 Dalam menemukan makna relasional, menurut Izutsu perlu dilakukan dua macam analisa, yakni analisisa sintagmatik dan paradigmatik.

a. Analisis Sintagmatik

Analisis ini, berusaha menetukan makna atau kata dalam sebuah kalimat dengan cara memperhatikan kata-kata di depan dan di belakang kaya yang sedang dibahas dalam suatu bagian tertentu pada suatu tuturan. Analisis ini dapat dikatan sebagai analisis terhadap integrasi antar konsep.

Kata ṣadr memiliki hubungan dengan kata lain yang berada di depan atau di belakang kata tersebut dalam satu tuturan ayat Al-Qur‟an. hubungan ini dapat memberikan makna yang berbeda antara satu ayat dengan ayat lain. Untuk itu dapat melihat persamaan dan perbedaan makna yang dihasilkan ini perlu dilakukan pengelompokan ayat, mengingat ayat-ayat yang dimaksud memiliki bebrapa karakteristik yang dapat disamakan dan dibedakan. Di dalam Mu‟jam Mufahras lima‟āni Al-Qur‟an al-„Aẓīm karya Muhammad „Adnan Sālim terbagi menjadi tiga8, yaitu:

1). حارشنا

Kata Insyaraḥ artinya bahagia. Bahagia bersifat psikologi-spiritual dan bersifat abadi. Jadi, secara harfiah bahagia atau kebahagiaan merupakan suatu keadaan. Orang

7Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al- Qur‟an, terj. Aminudin,dkk., h. 14.

8 Muhammad „Adnan Sālim, Mu‟jam Mufahras lima‟āni Al-Qur‟an al-„Aẓīm, (Beirut: Dār al Fikr,1995), h.669-670.

yang berbahagia adalah orang yang kondisi sesudah kematiannya berada dalam kebaikan. Banyak sekali Allah SWT memberikan perumpamaan tentang kehidupan dunia ini dengan air yang diturunkan dari langit dan dengannya ditumbuhkan tanam-tanaman dan buah-buahan, kemudian setelah hancur berderai-derai.9 Kata ṣadr jika disandingkan dengan kata isyraḥ memiliki makna melapangkan dada. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat Az-Zumar ayat 22 yang berbunyi :

ْۗم ِهِب ْيِ لِ

كۗ ّثَي ّسلٰ ْ لّلۗ ٌ

لْي َيَ

فۗۗ هّ ة َّرۗ ْن ّ مۗ ٍرْيِنۗىٰلَمَۗيِىَفّۗما َل ْس ّاْلّلۗٗه َر ْد َصِۗ هللّٰاۗ َحَر َشۗ ْنَمَف

ۗ

ۗ ٍنْحّت ُّمۗ ٍلٰ

ل َضۗ ْيّفَۗكِٕىٰۤلوِاّۗۗۗ هللّٰاّۗرْ كّذۗ ْن ّ م ٢

“Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.(QS. Az-Zumar [39]: 22) Manusia yang percaya bahwasuatu aktivitas mempunyai manfaat dan nilai tambah yang banyak, maka hatinya akan cenderung kepada penambahan manfaat dan nilai tersrbut. Sehingga ia memerlukan tempat yang luas, dari sini diilustrasikan keadaannya dengan dilapangkan dadanya.

Penggunaan kata ردص (dada) dalam ayat ini karena dada ialah anggota badan yang menjadi tempat menarik dan

9 Abdillah bin Muhammad bin „Abdurrahman, Lubāb al-Tafsīr min Ibn Kaṡīr, terj.

Tafsir Ibn Katsir, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, Jilid 7 (Jakarta Timur: Pustaka Imam Syafi‟I, 2004), h. 101-102.

menghembuskan nafas. Seseorang yang bingung, sedih atau marah dan kesal akan menarik dan menghembuskan anfasnya dengan sulit, karena itu kesempitan dada dijadikan istilah bagi kebingungan dan kesedihan. Sebaliknya, dada yang lapang akan menampung berbagai pengetahuan dan mampu menerima cobaan tanpa merasa sempit.

2). ءافش

Kata syifāu mempunyai arti menyembuhkan atau obat.10 Kata syifā‟ berasal dari kata ءافشۗ–ۗىػشيۗ–ۗىػش . kata ṣadr pada mulanya berarti dada, namun ketika disandingkan dengan kata syifa berarti mengobati atau melegakan hati.

Sebagaimana firmal Allah swt didalam QS. At-Taubah ayat 14 yang berbunyi :

ِۗم ِهْب ّذ َػِيْۗم ِو ْيِ لّحاكَ

ٍۗم ْيَ ۗ

ك َر ْو ِد ِصۗ ّف ْشَيَوْۗم ّىْيَ ل َمْۗمِ

كْر ِصْنَي َوْۗم ّو ّزْخ ِيَوْۗمِكْي ّدْيَاّةِۗ هللّٰا

ۗۙ َنْحّن ّم ْؤ ُّم ١٤

“Perangilah mereka! Niscaya Allah akan mengazab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu, menghinakan mereka, dan memenangkan kamu atas mereka, serta melegakan hati kaum mukmin”.(QS. At- Taubah[9]: 14)

Didalam tafsir Ibnu Kaṣir ayat ini menjelaskan bahwasanya Allah Swt memberikan tekad dan semangat

10 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmus Yunus Wadzurriyyah, 1971), h. 202.

kepada orang-orang mukmin seraya menjelaskan hikmah yang terkandung di dalam perintah-Nya yang mensyariatkan mereka untuk berjihad, padahal Allah swt sendiri mampu menghancurkan musuh-musuh-Nya.11

Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh dari Qatadah bahwasannya ia berkata, “Diceritakan kepada kami bahwa ayat ini turun bercerita tentang suku Khuza‟ah ketika mereka membunuhi orang-orang dari Bani Bakr di kota Mkkah.” Ia meriwayatkan dari Ikrimah bahwasannya ia berkata, “Ayat ini turun pada suku Khuza‟ah.” Dan ia meriwayatkan dari As- Suddi bahwa ayat, yasyfi shuduura qaumim muminiin (serta melegakan hati orang-orang yang beriman) adalah suku Khuza‟ah, para sekutu Nabi SAW. Allah memuaskan hati mereka dengan membalaskan dendam terhadap Bani Bakr.12

Makna ayat ini umum berkenaan dengan semua orang mukmin. Mujahid, Ikrimah, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: ...serta melegakan hati orang-orang yang beriman Yakni orang-orang Bani Khuza'ah.13

3). قيض

11 Imad ad-Din Abu al-Fida Ibn Amar Ibn Katsir, Tafsir Ibnu Katsir 2:Tahdzib wa Tartib, terj. Lubābut Tafsīr Min Ibni Katsir oleh Engkos Kosasih, Agus Suryadi dkk, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2017), h. 236.

12 Imam As-Suyuthi, Asbabun An-Nuzul, terj. Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, Asbabun Nuzul Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Qur‟an, (Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2014), h. 262-263.

Ḍayqan mempunyai arti sempit. Jika disandingkan dengan kata ṣadr memiliki makna Allah menjadikan dadanya sempit. Sebagaimana dalam firman Allah QS. Hūd ayat 12 yang berbunyi :

ۗ َ

ل ّزْنِاٖۗٓاَلْيَلۗاْيِلْيِلَّيۗ ْنَاۗ َك ِر ْد َصۗ هّةْۗۢ ٌقِٕىۤا َضَوۗ َكْيَ

ل ّاٖۗٓى ٰح ْيِيۗا َمۗ َض ْػَةْۗۢ ٌكّراَحۗ َكَّلَػَلَف

َۗمۗ َءۤا َجۗ ْوَ اۗ ٌذْجَ

كۗ ّهْيَ ل َم

ٌۗۗۗ

ل ْي ّكَّوۗ ٍء ْي َ شۗ ّلِ

كۗىٰ ل َمِۗ ه

للّٰا َوٌۗۗۗرْي ّذَنۗ َجْنَ

اٖۗٓاَمَّنّاٌۗۗۗكَلَمۗٗه َػ ١٢

“Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu menjadi sempit karena (takut) mereka mengatakan,

“Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta (kekayaan) atau datang malaikat bersamanya?” Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah adalah pemelihara segala sesuatu”.(QS.

Hūd [11]: 12)

Ketika kaum musyrikin banyak meminta kepada Rasulullah, seperti; mengubah gunung-gunung menjadi emas, sebagian ide-ide bodoh mereka, “Mengapa tidak turun bersamanya malaikat memberi peringatan?” atau “Mengapa ia tidak diberi harta yang banyak atau ia memiliki kebun yang bisa ia makan isinya?” Engkau tidak membacanya di hadapan orang-orang musyrikin, tidak pula menyampaikannya karena meremehkan dan berpaling darinya (كردصۗهةۗقئاضۗو) (hatimu menjadi sempit) karena Al-Qur‟an, engkau enggan berhadapan dengan mereka agar mereka tidak mengatakan harta yang melimpah, sehingga engkau bisa hidup dengannya, sebagai tanda bahwa Allah benar-benar mengutusnya. Sama-

sama berdakwah serta membenarkan dan bersaksi atasnya, maka tidak seharusnya engkau merasa sedih, tapi sampaikanlah dan jangan berkecil hati pemberi peringatan akibat buruk dari kesyirikan, kekufuran dan maksiat. Allah lah yang mengawasi dan menjaga atas segala sesuatu, tugasmu adalah pemberi peringatan.14

b. Analisis Paradigmatik

Analisis paradigmatik merupakan analisis yang mengkomparasikan kata tertentu dengan kata lain dalam beberapa tuturan ayat, baik dalam hubungan kemiripan (sinonim) atau hubungan berlawanan (antonim). Salah satu tujuan dari analisis ini ialah untuk menemukan posisi kata tersebut di antara kata lain dalam kaitannya dengan semantic.

Beberapa kemungkinan yang dapat dihasilkan dari analisis ini di antaranya adalah mengukur keluasan makna sebuah kosakata dan posisi kosakata tersebut di antara lain.

1. Sinonim ṣadr a. Qalb

Kata بلك berasal dari kata اًتْ ۗ–ۗ ِب ّللَيْ ۗ–ۗ بلك لكَ

yang berarti menjadikan bagian tinggi dari suatu benda menjadikan bagian yang rendah atau membalikkan bagian pangkal suatu benda menjadi

14 Abdillah bin Muhammad bin „Abdurrahman, Lubāb al-Tafsīr min Ibn Kaṡīr, terj.

Tafsir Ibn Katsir, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, Jilid 4, (Jakarta Timur:

Pustaka Imam Syafi‟I, 2004), h. 329.

bagian ujungnya.15 Dinamakan qalb karena sifatnya yang taqallub taqallub (berubah-ubah). Dalam syair Arab disebutkan;

ّۗهّتُّ

لَ لَحۗ ْن ّمَّۗ

ال ّاۗ ِبْ للَ ْ

لاۗى َع ْم ِسۗا َم Tidaklah dinamakan qalbu kecuali karena berubah- ubahnya.

Firman Allah QS. Al-ḥajj ayat 46 yang berbunyi :

ۗنا َذٌ ٰ اۗ ْوَ

اٖۗٓا َىّةۗن ْيَ ِ

ل ّل ْػَّيۗ ٌب ْيِ لكْۗم ِىِ َ

لۗن ْيَ ِ كَخَ

فۗ ّض ْرَ اْ

لاۗىّفۗا ْو ِدْح ّسَيْۗمَلَفَا

ۗىّفْۗي ّتَّ

لاۗ ِب ْيِ للِ ْ

لاۗى َؽ ْػَحۗ ْن ّكٰ ل َوۗ ِرا ُصْةَ

اْ

لاۗى َؽ ْػَحۗاَ لۗا َىَّنّاَ

فِۗۚا َىّةۗن ْي ِػ َم ْسَّيَ

ۗ ّر ْوِد ُّصلا ٤٦

“Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada”. (QS. Al- ḥajj[22]: 46)

Ibnu Abid Dun-ya berkata: “Sebagai ahli hikmah berkata, „Hidupkanlah hatimu dengan berbagai nasehat, sinarilah dengan tafakkur, matikanlah dengan zuhud, kuatkanlah dengan keyakinan, hinakanlah dengan kematian, tetapkanlah dengan fana, pandangkanlah bencana-bencana dunia, waspadalah permainan masa, hati-hatilah dengan perubahan hari, tampilkanlah kepadanya kisah-kisah orang terdahulu,

15 Louis Ma‟luf, ak-Munjid al-Wasiṭ fi al-„Arabiyah al-Mu‟asyirah, (Beirut : Dar al-Masyriq, 2003), h. 865.

ingatkanlah apa yang menimpa orang terdahulu, berjalanlah pada negeri-negeri dan peninggalan- peninggalan mereka, serta lihatlah apa yang mereka lakukan, dimana mereka berada dank arena apa mereka berubah.” Yaitu telitilah apa yang menimpa umat-umat yang mendustakan, berupa bencana dan kehancuran. Mereka dapat mengambul pelajaran dari semua itu. Kebutaan itu bukanlah kebutaan mata. Akan tetapi, kebutaan itu hanyalah kebutaan mata hati, sekalipun daya penglihatannya cukup bagus, karena hal itu tidak dapat menembus pelajaran dan tidak dapat mengetahui apa yang tersimpan dalam sebuah berita.16 Kata qalb dan berbagai perubahannya di dalam Al- Qur‟an disebut sebanyak 166 kali.17

Term qalb juga dapat dilihat diantaranya dalam QS. Al-Baqarah [2]:97,143,144,204,260&283, QS. Āli

„Imrān [3]:159,174&196, QS. Al-Mā‟idah [5]:21, QS.

Al-An‟ām [6]:110, QS. Al-A‟rāf [7]:119&125, QS.

Al-Anfāl [8]:24, QS. At-Taubah [9]:48&95, QS. Yūsuf [12]:62, QS. An-Nḥl [16]:106, QS. Al-Khfi [18]:18,28,36&42, QS. An-Nūr [24]:37&44, QS. Al- Insyiqāq [84]:9.

16 Abdillah bin Muhammad bin „Abdurrahman, Lubāb al-Tafsīr min Ibn Kaṡīr, terj.

Tafsir Ibn Katsir, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, Jilid 5, (Jakarta Timur:

Pustaka Imam Syafi‟I, 2004), h. 563-564.

17 Muhammad Fuad „Abd al-Baqi, Mu‟jam al-Mufahras li Alfaẓ Al-Qur‟an Al- Karim, (Beirut: Dar al-Kutub al-Mishriyah, 1364), h. 549-551.

b. Fuad

Kata داؤف adalah bentuk mufrad, jamaknya

ةدئفأ yang menunukan arti للغ (aql) dan بلك (qalb).18

Fu‟ād sering juga disebut dengan بلق هطسو (bagian tengah hati).19 Kata fuād berasal dari kata faada yang berarti penyakit panas, secara leksikal kata tersebut juga berarti aṣaba fuada al da‟wa al khauf (penyakit dan rasa takut menima dada/hatinya). Firman Allah QS. An-Naḥl ayat 78 yang berbunyi :

اَ لْۗمِ

كّخ ٰى َّمِ

اۗ ّن ْي ِطِةْۗۢ ْن ّ مْۗمِ ك َج َر ْخَ

اِۗ ه للّٰا َو

ۗ

ِۗمِ كَ

لۗ َ

ل َػ َج َّوۗۙا ًٔػ ْي َشۗن ْي ِمَ َ ل ْػَح

ۗن ْو ِرَ ِ ك ْشَ

ةْۗمِ كَّ

ل َػَ لَۗۙۗة َدِٕػْ

فَ اْ

لا َوۗ َرا ُصْةَ اْ

لا َوۗ َع ْم َّسلا ٧٨

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur”. (QS. An-Naḥl[16]:

78)

Dalam ayat diatas kata fuad di dahului oleh kata al-asma‟ serta kata al-baṣar. Hal ini menunjukan betapa penting keberadaan fuad untuk memahami dan menyerap informasi yang dihasilkan oleh telingan dan mata. Ayat ini juga juga menjelaskan betapa penting adanya fuad dalam diri manusia, karenanya ia harus

18 Ibnu Mandzur, Lisān al-„Arab, h. 3334.

19 Ibnu Manżur, Lisān al-„Arab, h. 3334.

difungsikan dengan baik dan benar. Al-Sya‟rawi sebagaimana yang terdapat dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa fu‟ad merupakan wadah keyakinan. Ulama Mesir ini melukiskan bahwa akal menerima aneka informasi melalui panca indera yang dirangkai sebagai satu masalah aqliyah. Informasi yang diterima diolah oleh akal sampai pada tahap tidak terbantahkan lagi kemudian dimasukkan ke dalam fu‟ad, dan jadilah ia akidah (sesuatu yang terikat), tidak terombang-ambing dan tidak pula dimunculkan lagi ke permukaan karena sudah menjadi keputusan yang mantap.20

Quraish Shihab mengemukakan pendapat Ṭabaṭaba‟i bahwa dengan fuad manusia dapat memikirkan hal yang berada di luar alam indrawi. Hal tersebut terus berlanjut pada level di mana mnanusia dapat berpikir yang berkenaan dengan berbagai pengetahuan yang bersifat teoritis dan ma‟rifat yang hakiki.21 Dalam istilah sufi fuad disebut dengan hati nurani atau hati bagian dalam. Kata fuad dan berbagai bentuk perubahannya dalam Al-Qur‟an terulang sebanyak 16 kali.22 Semua ayat yang menyebutkan

20 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al- Qur‟an,(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 381.

21 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an, h. 381.

22 Muhammad Fuad „Abd al-Baqi, Mu‟jam al-Mufahras li Alfaẓ Al-Qur‟an Al- Karim, h. 509.

kata ini menunjukkan bahwa fuad sebagai tempat perasaan dan akidah.

Term fu‟ad juga dapat dilihat diantaranya dalam QS. Hūd [11]:120, QS. Al-Isrā‟ [17]:36, QS.

Al-Furqān [25]:32, QS. Al-Qaṣaṣ [28]:10, QS. An- Najm [53]:11.

c. Lubb

Kata lubb merupakan bentuk plural dari kata albab. Secara bahasa kata lubb diambil dari kata labba yang artinya bersih dari segala sesuatu, yakni akal yang bersih dari cela. Allah swt menciptakan menggunakan istilah ulul albab untuk merujuk hambaNya yang mampu menggunakan akalnya untuk memahami esensi dari segala kajadian. Oleh karena itu ulul albab merupakan kriteria manusia yang diberikan kemampuan untuk mengambil hikmah oelh Allah swt, Firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 269 yang berbunyi:

َۗ لَ

فَۗث َمْ ك ّحْ

لاۗ َت ْؤُّيۗ ْن َم َوِِۗۚۗءۤا َشَّيۗ ْن َمَۗث َمْ ك ّحْ

لاۗى ّتْؤُّي

ۗۗۗا ًدْحّرَ

كۗا ًدْح َخۗ َي ّت ْوِ اۗ ْد

ۗ ّباَبْ لَ

اْ لاۗايِ

لوِ اٖۗٓاَّ

ل ّاۗ ِرَّ

كَّ

ذَيۗا َم َو ٢٦٩

“Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.

Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab”.(QS. Al-Baqarah[2]: 269)

Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu Abbas: “Yaitu pengetahuan mengenai Al-Qur‟an, yang

meliputi ayat-ayat nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, yang digdahulukan dan yang diakhirkan, halal dan haram, dan semisalnya.” Ibnu Abi Najih menceritakan dari Mujahid: “Yang dimaksud dengan hikmah di sini adalah tepat dalam ucapan.” Sedangkan Abu an-Nakha‟I mengemukakan: “Hikmah berarti pemahaman.” Ibnu Wahab menceritakan dari Malik, Zaid bin Aslam mengatakan: Hikmah berarti akal. Dan Imam Malik mengatakan: “Sesungguhnya terbetik di hatiku bahwa hikmah itu adalah pemahaman tentang agama Allah dan sesuatu yang dimasukkan Allah ke dalam hati yang berasal dari rahmat dan karunia-Nya.

Yang dapat memperjelas hal itu adalah bahwa anda mungkin mendapatkan seseorang yang ahli dalam urusan dunianya, jika ia berbicara tentangnya. Dan anda mendapatkan orang lain yang lemah dalam urusan dunianya tetapi ia sangat ahli dan luas pandangannya dalam bidang agama, ini merupakan karunia yang diberikan kepadanya dan dihalangi dari orang yang pertama. Jadi, hikmah berarti pemahaman dalam agama Allah SWT. Sedangkan as-Suddi mengemukakan, Hikmah berarti kenabian.23

“Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Tidak ada yang mengambil pelajaran dari suatu nasihat

23 Abdillah bin Muhammad bin „Abdurrahman, Lubāb al-Tafsīr min Ibn Kaṡīr, terj.

Tafsir Ibn Katsir, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, Jilid 1, (Jakarta Timur:

Pustaka Imam Syafi‟I, 2004), h. 537.

dan peringatan kecuali orang-orang yang memiliki hati dan akal, yaitu ia memahami apa yang sedang dibicarakan dan makna yang terkandung dalam firman Allah SWT. ”Kata lubb dan berbagai bentuk perubahannya dalam Al-Qur‟an disebut sebanyak 16 kali.24

Term lubb juga dapat dilihat diantaranya dalam QS. Āli „Imrān [3]:7&190, QS. An-Nisā‟ [4]154, QS.

Al-Mā‟idah [5]:23&100, QS. Al-A‟rāf [7]:161, QS.

Yūsuf [12]:25&111, QS. Ar-Ra‟d [13]:19, QS. Ṣād [38]:29, QS. Gāfir [40]:54, QS. Aṭ-Ṭalāq [65]:10.

2. Antonim Kata ṣadr

Setelah penulis analisis pada Kamus dan literature lainnya tidak ditemukan lawan kata dari term ṣadr ini di dalam Al-Qur‟an.

Dokumen terkait