BAB III GAMBARAN UMUM KATA ṢADR
B. Analisis Sinkronik dan Diakronik
2. Periode Qur‟anik
Sejarah penyebaran Islam tidak akan bisa lepas dari kota yang agung, yakni Mekah dan Madinah. Dua kota tersebut menjadi saksi perjalanan hidup Nabi Muhammad semasa hidupnya dalam mengajarkan Islam kepada umatnya. Al-Qur‟an turun kepada Nabi Muhammad SAW. Selama rentang waktu sekitar 23 tahun di dua tempat bersejarah itu. Oleh karena itu, kedua kota tersebut telah disepakati para ulama ilmu Al-Qur‟an dan tafsir menjadi pengkategorian ayat Al-Qur‟an, yaitu Makkiyyah dan Madaniyah. Pengkategorian tersebut bertujuan untuk memudahkan umat Islam dalam memahami Al-Qur‟an.
27 Abi al-Fadhl Jamal ad-Din Muhammad bin Mukarram ibn Manzur al-Faeiqi al- Mishri, Lisān al-„Arāb, (Beirut: ), h. 2411.
Penggunaan kata ṣadr sudah dimulai pada periode Mekah.
Hali ini dapat diketahui dari identifikasi ayat yang disusun sesuai urutan turunnya (tartib nuzuly) sebagaimana yang telah dibahas pada poin sebelumnya. Penggunaan kata ṣadr dan derivasinya pada periode Makkah lebih banyak ditekankan pada orang-orang yang dilapngkan dadanya untuk masuk Islam serta dibersihkan hatinya agar bisa masuk surga.
Dalam periode Qur‟anik, kata ṣadr berbicara tentang orang- orang yang dibukakan hatinya oleh Allah swt untuk menerima agama Islam. seperti yang terdapat dalam Q.S Az-Zumar: 22 yang berbunyi :
ٰۗ لْ
لّلۗ ٌ لْي َيَ
فۗۗ هّ ة َّرۗ ْن ّ مۗ ٍرْيِنۗىٰلَمَۗيِىَفّۗما َل ْس ّاْلّلۗٗه َر ْد َصِۗ هللّٰاۗ َحَر َشۗ ْنَمَفَ
ۗ ْن ّ مۗ ْم ِهِب ْيِ ا لِ
كۗ ّثَي ّس
ۗ ٍنْحّت ُّمۗ ٍلٰ
ل َضۗ ْيّفَۗكِٕىٰۤلوِاّۗۗۗ هللّٰاّۗر
ْكّذ ٢٢
“Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar [39]: 22)
Maksudnya adalah, apakah seseorang yang Allah SWT lapangkan dadanya untuk menerima Islam, lalu menerima Islam dan mendapat petunjukNya, yang karena hidayah tersebut, ia berada di atas nur dan basirah dari Tuhannya, yaitu petunjuk kepada kebenaran serta nur makrifat, apakah orang yang seperti itu sama seperti seorang yang berhati keras karena pilihan
buruknya, kelalaiannya juga kebodohannya. Maka ia berada pada malapetaka kebodohan dan gelapnya kesesatan.28
Maknanya tidak sama antara orang yang mendapat petunjuk, diberi taufik, dan dibimbing, dengan seorang yang jauh dari kebenaran dan keras membatu hatinya. Kata ṣadrahu pada konteks ini ialah hatinya yang dilapang sehingga memperoleh hidayah, sebab dada ialah sumber spirit yang berhubungan dengan jiwa menerima Islam.
Kata ṣadr dalam Al-Qur‟an berbicara tentang kondisi kejiwaan dan hubungan timbal-balik di antara orang-orang yang bertakwa di surga. Seperti pada QS. Al-Ḥijr ayat 47 yang berbunyi :
ۗ ٍر ِر ِسۗىٰلَمۗاًناَي ْخّاۗ ٍل ّغۗ ْن ّ مْۗم ّو ّر ْوِد ِصۗ ْيّفۗاَمۗاَن ْغَزَنَو
ۗ َنْح ّلّتلٰخ ُّمَ ٤٧
“Kami mencabut segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka. Mereka bersaudara (dan) duduk berhadap-hadapan di atas dipan”. (QS. Al-Ḥijr [15]: 47)
Maksudnya pada ayat di atas Allah membersihkan hati mereka atas segala bentuk kepelikan dunia. Tidak ada saling hasud, saling bermusuhan, saling berselisih, saling dengki, namimah, ghibah, dan pertengkaran. Semuanya diganti pada semangat saling menyayangi, mengasihi, juga mencintai dengan tulus. Kata ṣudurihim berarti Allah SWT memusnahkan setiap permusuhan, perasaan dengki, hasud dan kemarahan pada hati mereka saat di dunia.
28 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al Munir, Jilid 12, penerjemah: Abdul Hayyie Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2014), h. 243.
Kata ṣadr pada Al-Qur‟an yang mejelaskan tentang keadaan seorang yang mengaku beriman kepada Allah serta mengikrarkan dengan lidah atas keesaanNya. Firman Allah QS.
Al-„Ankabūt ayat 10 yang berbunyi :
ۗ َنْح ّمَ ل ٰػْ
لاۗ ّر ْوِد ِصۗ ْيّفۗاَمّةَۗمَ ل ْمَ
اّةِۗ ه للّٰاۗ َسْيَ
ل َوَ ا
١٠ …...
“……Bukankah Allah paling mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia?”. (QS. Al-„Ankabūt [29]: 10)
Dunia memang luas, namun luasnya tidak membuat sempit, bingung dada orang-orang beriman. Hati seorang mukmin adalah yang paling luas dari wujud dunia itu sendiri. Seorang mukmin sanggup mencengkram luasnya dunia. Artinya, dengan keimanan hati menjadi luas dan terbuka, sanggup menerima apa saja yang berat sekalipun.29
Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah, ayat Al-Qur‟an yang mengandung kata ṣadr menunjukan arti hati dan dada.
….
ۗناَ َ كۗ ْيَ
ل َوْۗم ّى ّسفْنِ َ
اۗىٰٓل َمۗن ْو ِرّذ ْؤِي َوۗا ْيِح ْوَ ِ
اٖۗٓاَّّدًۗث َجا َحْۗم ّو ّر ْوِد ِصۗ ْيّفۗ َنْو ِد ّج َيۗاَ ل َو
ۗ ْم ّهّب
َِۗۚ ن ْي ِد ّلف ِمْ ْ
لاِۗم ِوۗ َكِٕىٰۤلوِ اَ
فۗ ه ّسفَنۗ َّْ ح ِشۗ َق ْيُّيۗ ْن َم َوٌۗۗث َصا ُص َخ ٩
“……Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al- Ḥasyr [59]:9)
29 M. Dhuha Abdul Jabbar dan N. Burhanudin, Ensiklopedia Makna Al-Qur‟an, (Bandung: Fitrah Rabbani, 2012), h. 370.
Maksud ayat di atas, mereka sama sekali tidak menaruh rasa dengki terhadap kaum Muhajirin atas keutamaan yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa kedudukan, kemuliaan dan penyebutan lebih awal, serta urutan. Firman-Nya ۗ ْيّفۗن ْو ِد ّجَ يۗاَ ل َوَ
ًۗث َجا َحۗ ْم ّو ّر ْوِد ِص, Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: „Yakni
kedengkian.‟ Atas apa yang telah diberikan kepada saudara- saudara mereka. Demikian pula dikemukakan oleh Ibnu Zaid.
Dan di antara hadist yang dijadikan dasar pengertian tersebut ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Anas, ia berkata: „Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda:‟Akan muncul kepada kalian sekarang ini seorang dari penghuni Surga. Kemudian, munculah seseorang dari kaum Anshar, sedang jenggotnya masih basah dari bekas wudhunya seraya menjinjing sandalnya dengan tangan kirinya.
Dan pada keesokan harinya Rasulullah SAW mengucapkan hal yang sama, lalu orang tersebut muncul kembali seperti pada kali yang pertama. Dan pada hari ketiga, Rasulullah SAW mengucapkan hal yang sama juga, lalu orang itupun muncul dalam keadaan seperti penampilannya yang pertama. Setelah Rasulullah SAW berdiri, „Abdullah bin „Amr bin al-„Ash mengikuti orang itu, dan berkata: Sesungguhnya aku marah kepada ayahku dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Kalau saja engkau berkenan memberikan tempat tinggal kepadaku sampai berlalu selama tiga hari itu.
Beliau menjawab: Baiklah.30
30 Abdillah bin Muhammad bin „Abdurrahman, Lubāb al-Tafsīr min Ibn Kaṡīr, terj.
Anas mengatakan: Abdullah bin „Amr memberitahu bahwa ia menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Selama itu ia tidak pernah melihat orang tersebut bangun malam sedikit pun, namun jika terbangun pada malam hari dan tidur bisa ia senantiasa berdzikir kepada Allah dan bertakbir sehingga ia bangun untuk shalat subuh. „Abdullah bin „Amr berkata: Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.
Setelah tiga malam itu berlalu dan hamper saja aku akan menganggap remeh perbuatannya, ku katakana: Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara diriku dan ayahku tidak ada rasa marah maupun putus hubungan, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah bersabda untukmu tiga kali, „Akan muncul kepada kalian sekarang ini salah satu dari penghuni surga. Tetapi yang muncul adalah engkau selama tiga kali itu. Dan aku ingin tinggal di tempatmu agar aku dapat melihat amal perbuatanmu sehingga aku dapat menirunya. Tetapi aku tidak melihatmu mengerjakan amal perbuatan yang besar. Lalu apa yang mengantarkanmu sampai pada apa yang dikatakan oleh Rasulullah‟ Ia menjawab:
„Tidak ada, selain apa yang telah engkau saksikan.‟ Ketika aku pergi, ia pun memanggilku dan berkata: „Tidak ada kecuali apa yang telah engkau saksikan, hanya saja aku tidak pernah mendapatkan di dalam diriku rasa ingin menipu terhadap kaum muslimin, dan aku tidak merasa dengki kepada seorang pun atas kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya.‟‟Abdullah bin
Tafsir Ibn Katsir, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, h. 113.
„Amr berkata: Inilah yang telah mengantarkan dirimu pada tingkat puncak, dan itulah yang sulit dicapai.31