Munculnya media-media baru di bidang teknologi komunikasi tidak serta merta menyingkirkan media tradisional. Konvergensi media tidak serta merta mengganti media-media lama. Karena media tradisional masih menyisakan segmen tersendiri di luar pengguna media modern. Surat, koran, brochure, serta leaflet, masih tetap eksis digunakan oleh masyarakat luas untuk memperoleh dan menyebarkan informasi. Karena media-media tradisional ini memiliki kelebihan yang tidak mudah digantikan oleh media
199Scott M. Cutlip, Allen H. Center, dan Glen M. Bromm, Effective Public Relations, terj. Tri Wibowo, Jakarta, Prenada Media Group, 2006, hal. 287-288.
modern. Oleh karena itu, justru media tradisional digunakan dengan pola atau model baru.
1. Koran. Usianya yang sudah sangat tua secara naluriah dijadikan oleh masyarakat sebagai media utama dalam sistem informasi. Koran dengan berbagai jenisnya justru dibaca oleh sebagian masyarakat dari berbagai lapisan.
Para intelektual, pimpinan politik dan tokoh opini, warga kota, desa, banyak yang membaca koran. Kuatnya pengaruh Koran menjadikan digitalisasi informasi tidak bisa meninggalkannya. Di negara-negara majupun koran tetap eksis sebagai alat penyebaran informasi. Sebagai contoh, New York Times, Los Angeles Times, Washington Post, masih tetap menjadi media utama.200 Di Indonesia, koran-koran juga masih bertahan seperti Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakjat, Kompas, bahkan muncul koran-koran lokal yang menambah banyak daftar koran di negeri ini. Koran-koran ini bertahan dengan model cetak maupun model digital yang di-publish melalui internet. Di antara kelebihan koran cetak adalah dapat dibaca tunda. Jika pagi hari belum sempat membaca, maka seseorang dapat membacanya di siang hari, sore hari, bahkan besok dan lusa, tanpa tergantung faktor lain seperti listrik. Sementara koran versi digital dapat dibaca ulang tetapi tergantung pada ketersediaan listrik. Jika listrik tidak nyala dan gadget tidak dapat hidup maka koranpun tidak dapat dibaca.
2. Majalah. Majalah menyediakan beragam informasi dan variasi tampilan untuk dapat menjangkau pembaca dan menahan pembaca agar tidak beralih media. Ada
200Scott M. Cutlip, dkk, Ibid, hal. 290-291.
banyak majalah beken di dunia ini, seperti Modern Maturity, Reader’s Digest, Times, Newsweek, dan sebagainya. Di Indonesia ada majalah Gatra, Tempo, Detik, dan sebagainya. Karakternyapun beraneka ragam.
Ada majalah berita politik, ada majalah kebudayaan, ada majalah pengetahuan, dan sebagainya. Majalah menyajikan informasi-informasi secara lebih mendalam dan tahan lama ketimbang koran. Beragamnya penulis dalam majalah juga memungkinkan media ini dapat diterima di berbagai kalangan, sehingga pesan-pesan yang bersifat membangun publisitaspun akan efektif untuk disampaikan melalui media ini.201
3. Radio. Media ini di awal era globalisasi begitu strategis, bahkan hingga saat ini, meski dari sisi jumlah pengguna sudah menurun. Kelebihan media ini adalah biayanya yang relatif murah, jangkauannya dapat luas dan mudah diakses, dapat bersifat person to person, dapat mengatur berbagai program acara dengan cepat dan mudah dan murah. Dapat pula dikemas secara interaktif. Dengan demikian, lebih mudah untuk dapat menyampaikan pesan kepada khalayak luas dan beragam.202
4. Televisi. Menjelang abad ke-21 televisi menjadi media yang sangat berpengaruh. Dari sisi pesan, televisi dapat menampilkan pesan yang jauh lebih sempurna dibandingkan koran, majalah, dan radio. Tak heran jika televisi menjadi media yang paling berpengaruh bagi para pengguna. Berbagai program dapat disuguhkan di dalamnya. Program yang ditayangkan dapat dinikmati
201Scott M. Cutlip, dkk, Ibid, hal. 298.
202Scott M. Cutlip, dkk, Ibid, hal. 298-300.
atau diterima dengan indra pendengaran maupun penglihatan sekaligus. Pesan yang berupa audio visual praktis dapat lebih sempurna diterima oleh audience ketimbang pesan yang hanya bersifat visual atau audio saja.203
5. Gedget dan Konvergensi Media
Konvergensi adalah kata yang dipakai dalam perkembangan teknologi digital dalam bentuk integrasi teks, angka, bayangan, dan suara serta unsur-unsur yang berbeda dalam media. Perkawinan berbagai media komunikasi tersebut diistilahkan dengan ‘compunications’
yakni penggabungan computer dan media komunikasi lain seperti telepon, radio, televisi, koran, serta majalah, dalam sebuah media yang serba bisa. Teknologi ini berkembang di era masyarakat informasi, yakni saat masyarakat menjadikan informasi sebagai bagian dan sarana utama dalam bekerja. Pada masyarakat ini digambarkan dalam Annual Report oleh American Markle Foundation;
“konvergensi media telah mengubah komunikasi… pada saat layanan baru yang semakin luas dapat dicapai, maka semuanya itu telah mengubah cara kita hidup dan bekerja, mengambil persepsi, keyakinan, dan lembaga-lembaga kita. Penting sekali kita memahami semua dampak ini untuk mengembangkan sumber daya elektronika kita untuk kepentingan masyarakat.”204
203Scott M. Cutlip, dkk, Ibid, hal. 300-302.
204Asa Briggs & Peter Burke, Sejarah Sosial Media; Dari Gutenberg Sampai Internet, terj. A. Rahman Zainuddin, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2006, hal.
326-331.
Kutipan di atas menggambarkan betapa konvergensi media telah menjadikan pola kerja, persepsi, keyakinan, pola hidup serta lembaga-lembaga sosial yang ada mengalami perubahan, yang perubahan itu dapat mengarah pada dimensi positif maupun negatif. Pola komunikasi masyarakat berubah dengan adanya konvergensi media. Perubahan pola komunikasi ini secara perlahan dan pasti memunculkan perkembangan nilai, norma, dan tata sosial yang baru.
Dengan konvergensi media, orang mudah, cepat, dan banyak memperoleh informasi dengan berbagai ragamnya.
Konsekuensi selanjutnya adalah pola hidup dan pola kerja menjadi berubah, bisa lebih mudah, lebih cepat, bahkan lebih radikal.
Setidaknya ada dua pola perkembangan dari konvergensi media. Pertama, konvergensi media dalam arti penggunaan beberapa media secara institusional. Pada konteks ini perusahaan atau seseorang memanfaatkan berbagai institusi media, tentu juga kontennya, secara bersamaan untuk dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber ataupun untuk menyebarkan informasi melalui berbagai media agar informasi yang disampaikan dapat tersebar lebih cepat dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Pola ini lebih terkontrol, karena media sebagai institusi, bagaimanapun, terikat oleh regulasi dan peraturan yang berkembang.
Kedua, konvergensi media dalam arti penggunaan berbagai fitur media informasi untuk memperoleh dan menyebarluaskan gagasan. Misalnya, munculnya media sosial karena penggunaan berbagai fitur yang tersedia dalam teknologi komunikasi. Dengan berbagai fitur ini orang dapat mengakses informasi melalui blog, streaming, website, face book, twitter, dan sebagainya. Sebaliknya orang juga dapat
menyebarkan informasi secara bebas kepada khalayak luas melalui media tersebut tanpa ada kontrol dari pihak manapun, termasuk pihak pemerintah yang bertugas mengatur regulasi itu.
Pada pola pertama efeknya yang berupa nilai, norma dan budaya yang ada dalam pesan yang disebarkan masih dapat dikontrol. Sementara pada pola kedua lebih bebas karena bersifat personal. Di Indonesia, regulasi menyangkut media sosial belum diatur secara rapi, sehingga pesan dan informasi yang tersebar terkadang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan sering menggunakan bahasa yang sarkastik, tidak sopan, dan tidak menunjukkan bahasa orang yang berpendidikan. Sehingga etika dan norma dalam berkomunikasi tdak diperhatikan.