• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menegakkan hukum atas kejahatan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup; dan

Dalam dokumen Cover RA RPJMN 2020-2024 fix B preview.cdr (Halaman 110-115)

Arahan Pembangunan Wilayah

6. Menegakkan hukum atas kejahatan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup; dan

7. Menerapkan kaidah ekowisata berkelanjutan

dalam pengembangan kawasan wisata.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Pulau Papua yang ditargetkan sebesar 6,0% (2020) – 8,1%

(2024), maka diidentifikasi komoditas unggulan Pulau Papua yang meliputi pala, kakao, sagu, kopi, kelapa, karet, emas, tembaga, batubara, minyak dan gas bumi, serta perikanan tangkap, dengan sentra produksi yang tersebar di setiap provinsi sebagai berikut:

1. Provinsi Papua: kakao, sagu, kopi, kelapa, karet, emas, tembaga, dan perikanan tangkap; dan 2. Provinsi Papua Barat: pala, kelapa, sagu,

batubara, minyak dan gas bumi, serta perikanan tangkap.

Adapun Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang ada di wilayah Pulau Papua adalah sebagai berikut:

1. WPP 717, yang meliputi Perairan Teluk Cenderawasih dan Samudera Pasifik dengan potensi produksi 1.054,7 ribu ton dan produksi eksisting mencapai 86,5 ribu ton (8,2%); dan

2. WPP 718, yang meliputi Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor bagian Timur dengan potensi produksi 2.637,6 ribu ton dan produksi eksisting mencapai 153,9 ribu ton (5,8%).

Dalam rangka mendukung hilirisasi komoditas pengembangan kawasan berbasis sumber daya alam pada koridor pertumbuhan dan pemerataan, maka dikembangkan kawasan strategis prioritas yang terdiri dari:

1. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong;

2. Kawasan Industri (KI) Teluk Bintuni;

3. Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Biak, Timika, Sarmi, dan Merauke;

4. Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Jayapura, Manokwari, Raja Ampat, dan Merauke;

5. Kawasan Transmigrasi Werianggi Werabur di Kabupaten Teluk Wondama, Kawasan Transmigrasi Bomberay-Tomage di Kabupaten Fak-Fak, Kawasan Transmigrasi Senggi di Kabupaten Keerom, Kawasan Transmigrasi Salor

dan Kawasan Transmigrasi Muting di Kabupaten Merauke; dan

6. Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) Tanah Merah, PKSN Jayapura, dan PKSN Merauke.

Sedangkan untuk mendorong pengembangan kawasan berbasis non-sumber daya alam, kawasan strategis prioritas yang dikembangkan adalah:

1. Kota Baru Sorong; dan

2. Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) Baru Raja Ampat

3. Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) Baru Biak – Teluk Cenderawasih.

Selain itu, dalam rangka meningkatkan perekonomian lokal, terdapat strategi pengembangan masing-masing wilayah adat untuk mendorong pengembangan komoditas unggulan. Adapun lingkup wilayah adat dan strategi pengembangannya tercantum pada tabel berikut:

Tabel . Lingkup Wilayah Adat dan Strategi Pengembangannya

Wilayah Adat Kabupaten/Kota Strategi Pengembangan

Laa Pago

Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Tolikara, Mamberamo Tengah, Lanny Jaya, Nduga, Jayawijaya, Yalimo, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang

Strategi pengembangan ekonomi menjadi bagian dari Major Project Wilayah Adat Laa Pago.

Saireri Kabupaten Supiori, Biak Numfor, Kepulauan Yapen, dan Waropen

Hilirisasi industri perikanan, industri pengalengan ikan dan industri pariwisata budaya dan bahari Kepulauan Padaido dan Kepulauan Ambai

Tabi Kota Jayapura, Kabupaten Mamberamo Raya, Sarmi, Jayapura, dan Keerom

Hilirisasi industri sagu, kelapa, kakao dan pengembangan pariwisata Danau Sentani dan wisata bahari

Mee Pago Kabupaten Nabire, Intan Jaya, Paniai, Dogiyai, Deiyai, dan Mimika

Hilirisasi industri pertambangan, sagu, perkebunan kelapa sawit, kopi dan pariwisata Danau Paniai

Anim Ha Kabupaten Asmat, Merauke, Mappi, dan

Boven Digoel Hilirisasi industri tebu, sagu, perikanan, industri pangan dan industri peternakan

Wilayah Adat Kabupaten/Kota Strategi Pengembangan

Bomberay Kabupaten Fak-Fak dan Kaimana Hilirisasi industri pala, peternakan dan pariwisata budaya dan bahari Teluk Triton

Domberay

Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Tambrauw, Maybrat, Sorong Selatan, Pegunungan Arfak, Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama

Strategi pengembangan ekonomi menjadi bagian dari Major Project Wilayah Adat Domberay.

Pengembangan kawasan strategis prioritas tersebut, selain didukung dengan pengembangan outlet pelabuhan hub Pelabuhan Sorong, sebagaimana disebutkan sebelumnya, juga didukung infrastruktur transportasi; energi, telekomunikasi dan informatika; pengairan dan irigasi; serta perumahan dan permukiman. Uraian rinci pembangunan infrastruktur tersebut terdapat pada lampiran matriks pembangunan kewilayahan dan lampiran peta arah pembangunan per pulau.

Selain infrastruktur, pengembangan kawasan sebagai hilir dari pengolahan komoditas juga sangat bergantung pada kemampuan SDM. Peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui pengembangan sekolah vokasi, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pelatihan vokasi dalam bentuk Balai Latihan Kerja (BLK).

Pengembangan SMK di wilayah Papua secara keseluruhan berjumlah 35 SMK yang mendukung sektor energi, industri, industri kreatif, kemaritiman, dan pariwisata. Adapun pengembangan BLK di wilayah ditargetkan sebanyak 15 unit yang tersebar dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor prioritas yang meliputi: tenaga presisi tekstil, petani subsisten, buruh konstruksi gedung, dan manajer umum perdagangan.

Di samping memacu pertumbuhan, pembangunan wilayah Pulau Papua juga harus memperhatikan

aspek pemerataan pelayanan dasar, yang meliputi:

1. Percepatan pembangunan kawasan perbatasan dengan lokus prioritas yaitu 26 kecamatan lokasi prioritas di Provinsi Papua dan 3 kecamatan lokasi prioritas di Provinsi Papua Barat

2. Penanganan stunting dengan lokasi fokus prioritas mencakup seluruh kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Papua Barat;

3. Penanganan anak tidak sekolah di seluruh provinsi wilayah Papua;

4. Peningkatan alokasi untuk percepatan pemberantasan buta aksara bagi penduduk usia produktif (15-59 tahun) di Provinsi Papua sejumlah 178.500 orang;

5. Pemberian bantuan sosial dan subsidi tepat sasaran melalui Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Indonesia Sehat untuk mencapai target kemiskinan tahun 2024 yaitu 19,98% di Provinsi Papua, dan 16,05%

di Provinsi Papua Barat;

6. Perluasan cakupan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan target prioritas yang meliputi Provinsi Papua (Kab. Puncak, Kab. Tolikara, Kab. Deiyai, Kab. Nduga, Kab. Yahukimo, Kab.

Puncak Jaya, Kab. Yalimo, Kab. Intan Jaya, Kab. Dogiyai, Kab. Paniai, Kab. Asmat, Kab.

Mamberamo Jaya, Kab. Pegunungan Bintang, Kab. Mappi, Kab. Jayawijaya, Kab. Waropen, Kab. Biak Numfor, Kab. Sarmi, Kab. Mimika, Kab. Jayapura, Kab. Kepulauan Yapen, Kab.

Supiori, Kab. Nabire, Kab. Boven Digoel, dan

Kab. Merauke) dan Provinsi Papua Barat (Kab.

Pegunungan Arfak, Kab. Kaimana, Kab. Raja Ampat, Kab. Manokwari Selatan, Kab. Maybrat, Kab. Sorong Selatan, Kab. Manokwari, dan Kab.

Teluk Bintuni);

7. Perluasan kepemilikan akta kelahiran dengan target prioritas meliputi Provinsi Papua (Kab.

Lanny Jaya, Kab. Mamberamo Tengah, Kab.

Nduga, Kab. Deiyai, Kab. Intan Jaya, Kab.

Tolikara, Kab. Dogiyai, Kab. Asmat, Kab.

Mappi, Kab. Puncak, Kab. Mamberamo Raya, Kab. Jayawijaya, Kab. Pegunungan Bintang, Kab. Biak Numfor, Kab. Yahukimo, Kab.

Puncak Jaya, Kab. Paniai, Kab. Supiori, Kab.

Boven Digoel, Kab. Yahlimo, Kab. Sarmi, Kab.

Kepulauan Yapen, Kab. Jayapura, Kab. Nabire, dan Kab. Waropen) dan Provinsi Papua Barat (Kab. Pegunungan Arfak, Kab. Maybrat, Kab.

Manokwari Selatan, Kab. Sorong Selatan, Kab.

Tambrauw, Kab. Manokwari, Kab. Raja Ampat, Kab. Teluk Wondama, Kab. Kaimana, dan Kab.

Teluk Bintuni);

8. Penyediaan akses air minum dan sanitasi untuk mencapai target 2024 berupa: sanitasi layak dan aman sebesar 43% di Provinsi Papua dan 88% di Provinsi Papua Barat; akses penanganan sampah sebesar 83% baik di Provinsi Papua maupun Papua Barat, serta akses air minum layak sebesar 100% di Provinsi Papua dan di Provinsi Papua Barat;

9. Penyediaan akses perumahan untuk mencapai target rumah layak huni 2024 sebesar 30,4%

di Provinsi Papua dan 86,1% di Provinsi Papua Barat; dan

10. Percepatan pembangunan daerah tertinggal dengan fokus pada pemenuhan pelayanan dasar, peningkatan konektivitas dan pengembangan infrastruktur di 22 kabupaten tertinggal di Provinsi Papua dan 8 kabupaten tertinggal di Provinsi Papua Barat. Dari 22 kabupaten tertinggal di Provinsi Papua, terdapat 20 kabupaten yang berada dalam koridor kewilayahan, antara lain:

a) koridor pertumbuhan: Keerom, Nabire, Boven Digoel, Deiyai, Jayawijaya, Paniai, Dogiyai, Intan

Gambar 3.4. Sebaran Major Project RPJMN 2020-2024 di Wilayah Papua Jaya, Puncak, Yalimo, Puncak Jaya, Pegunungan

Bintang, Tolikara; b) koridor pemerataan: Supiori, Mappi, Mamberamo Raya, Mamberamo Tengah, Lanny Jaya, Yahukimo, dan Nduga. Adapun 8 kabupaten tertinggal di Provinsi Papua Barat seluruhnya berada dalam koridor kewilayahan yang terdiri atas: a) koridor pertumbuhan: Teluk Wondama, Sorong, Tambrauw, Manokwari Selatan; b) koridor pemerataan: Teluk Bintuni, Maybrat, Sorong Selatan, dan Pegunungan Arfak; dan

11. Pembinaan dan keberpihakan dari K/L serta pelaku pembangunan lainnya terhadap 62 daerah tertinggal yang telah terentaskan tahun 2019, selama maksimal 3 tahun (2020 – 2022), yang mana untuk Pulau Papua berlokasi di 5 kabupaten berikut, antara lain: a) Provinsi Papua:

Merauke, Biak Numfor, Kepulauan Yapen, dan Sarmi; b) Provinsi Papua Barat: Raja Ampat.

12. Pemenuhan standar pelayanan minimal kebencanaan melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah, masyarakat, dan penyediaan penyiapan logistik kebencanaan sesuai karakter ancaman bencana di wilayah masing-masing terutama di kawasan strategis nasional yang memiliki risiko bencana tinggi.

Untuk memacu pertumbuhan wilayah sesuai strategi pengembangan koridor pertumbuhan dan pemerataan, maka dirancang lima Major Project di wilayah Papua sebagai berikut (Gambar 3.4):

1. Pengembangan Kawasan Kota Baru Sorong;

2. Pengembangan Wilayah Adat: (a) Domberay dan (b) Laa Pago;

3. Pengembangan Ekonomi Kawasan Perbatasan:

(a) PKSN Jayapura dan (b) PKSN Merauke:

4. Pembangunan Jalan Trans Papua; dan 5. Pembangunan Jembatan Udara Papua.

Pembangunan Jalan Trans Papua

Pembangunan Jembatan Udara Papua

1

2a

2b

3a

3b 4

5

Kepulauan Maluku terkenal dengan sumber daya alam perkebunan dan perikanan. Dalam upaya untuk lebih memacu pertumbuhan ekonomi wilayah, maka untuk lima tahun ke depan direncanakan pengembangan kawasan pariwisata dan kawasan industri guna optimalisasi potensi keindahan alam dan sumber daya alam pertambangan yang ada di Kepulauan Maluku.

Wilayah Maluku merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau kecil dan dikelilingi lautan luas menyebabkan pengaruh iklim terhadap kondisi wilayah sangat tinggi sehingga memiliki ancaman bencana banjir, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, kekeringan, letusan gunung api, puting beliung (cuaca ekstrim), dan tanah longsor. Sekitar 86,7% kejadian bencana di wilayah Kepulauan Maluku merupakan bencana hidrometeorologi dan bencana geologi sekitar 13,3%. Bencana gempa bumi, banjir, dan tanah longsor mengakibatkan dampak korban jiwa dan kerugian ekonomi yang paling besar dibandingkan bencana lainnya.

Isu strategis pembangunan wilayah Kepulauan Maluku secara umum adalah berikut:

1. Pengembangan industri skala kecil menengah

Dalam dokumen Cover RA RPJMN 2020-2024 fix B preview.cdr (Halaman 110-115)