(i) Pemenuhan kebutuhan energi dengan mengutamakan peningkatan energi baru terbarukan (EBT) yang akan dilaksanakan dengan strategi (1) mengakselerasi pengembangan pembangkit energi baru dan terbarukan; (2) meningkatkan pasokan bahan bakar nabati; (3) meningkatkan pelaksanaan konservasi dan efisiensi energi; (4) meningkatkan pemenuhan energi bagi industri;
(5) mengembangkan industri pendukung EBT.
Pemanfaatan sumber daya gas bumi dan batubara untuk industri dan kelistrikan ke depan akan difokuskan pada (1) pemanfaatan gas dari ladang Blok A Aceh, Natuna Timur, Jambaran Tiung Bumi (Jawa Timur), Tangguh Train 3 dan Asap-Kido-Merah (Papua Barat), dan Abadi (Maluku); dan (2) pemanfaatan batubara dari Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Pengembangan bahan bakar nabati akan dilaksanakan secara bertahap untuk mencapai
kapasitas produksi B100 yang memadai.
Kapasitas produksi B100 dipenuhi melalui pemberdayaan perkebunan sawit rakyat.
Penyediaan energi bagi industri dan kelistrikan juga akan dipenuhi melalui pengembangan potensi energi terbarukan di Kawasan Industri yang dikombinasikan dengan energi yang telah tersedia. Pola penyediaan ini akan difokuskan pada Kawasan Industri di Sumatera bagian utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan bagian timur, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku Utara dan Papua Barat.
Peningkatan penyediaan energi listrik juga diupayakan dengan dimulainya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan.
Pengembangan potensi energi terbarukan dapat didukung dengan pemberian insentif fiskal terhadap industri energi baru terbarukan (ii) Peningkatan kuantitas/ketersediaan air
untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang dilaksanakan dengan strategi (1) memantapkan kawasan hutan dengan indeks jasa lingkungan tinggi sebagai kawasan lindung air; (2) mengelola hutan berkelanjutan;
(3) menyediakan air untuk pertanian, (4) menyediakan air baku untuk kawasan prioritas;
(5) meningkatkan potensi pemanfaatan waduk untuk listrik, (6) memelihara, memulihkan, dan konservasi sumber daya air dan ekosistemnya termasuk revitalisasi danau dan infrastruktur hijau; (7) mengembangkan waduk multiguna dan modernisasi irigasi.
Pemeliharaan, pemulihan dan konservasi melalui revitalisasi danau difokuskan pada 30 danau prioritas nasional yaitu:
(1) Danau Prioritas Nasional I
Danau Toba, Danau Maninjau, Danau Singkarak,
Danau Kerinci, Danau Rawadanau, Danau Rawapening, Danau Batur, Danau Sentarum, Danau Kascade Mahakam (Semayang- Melintang-Jeumpang), Danao Tondano, Danau Limboto, Danau Poso, Danau Tempe, Danau Matano, dan Danau Sentani.
(2) Danau Prioritas Nasional II
Danau Laut Tawar, Danau Aneuk Laut, Danau Di Atas, Danau Di Bawah, Danau Tasik Zamrud, Danau Dendam Tak Sudah, Danau Ranau, Danau Bratan, Danau Segara Anak, Danau Taliwang, Danau Kelimutu, Danau Lindu, Danau Mahalona, Danau Towuti, dan Danau Paniai.
(iii) Peningkatan ketersediaan, akses dan kualitas konsumsi pangan yang akan dilaksanakan dengan strategi (1) meningkatkan kualitas konsumsi, keamanan, fortifikasi dan biofortifikasi pangan; (2) meningkatkan ketersediaan pangan hasil pertanian dan pangan hasil laut terutama melalui peningkatan produktivitas dan teknik produksi secara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok;
(3) meningkatkan produktivitas, kesejahteraan sumber daya manusia (SDM) pertanian dan kepastian pasar; (4) menjaga keberlanjutan produktivitas sumber daya pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim, digitalisasi pertanian, pengelolaan lahan dan air irigasi;
(5) meningkatkan tata kelola sistem pangan nasional.
Pelaksanaan dari strategi pertama mencakup pengembangan benih padi biofortifikasi, fortifikasi beras, pengembangan nanoteknologi pangan, pengembangan pangan lokal, dan diversifikasi bahan pangan di tingkat masyarakat.
Fasilitasi budidaya padi, jagung, ternak dan komoditas pangan strategis serta penyediaan input produksi diantaranya sistem perbenihan nasional pupuk bersubsidi yang tepat sasaran menjadi fokus pelaksanaan dari strategi kedua.
Strategi ketiga mencakup penguatan basis data petani, pembentukan korporasi petani, asuransi pertanian, pelatihan dan penyuluhan.
Strategi keempat mencakup pengelolaan lahan, termasuk lahan suboptimal, low land, upland, dan lahan kering, efisiensi air, pertanian digital dan penggunaan teknologi pesawat nirawak.
Strategi kelima mencakup penguatan sistem logistik pangan nasional, integrasi sistem data produksi pangan nasional dan data ekspor impor produk pangan strategis, pengembangan resi gudang, pengelolaan sistem pangan berkelanjutan dan sistem pangan perkotaan (urban food) serta pengelolaan limbah pangan (food waste).
Pengelolaan sumber daya pangan akan difokuskan pada (1) daerah sentra produksi dan daerah dengan tingkat permintaan tinggi di Sumatera, Jawa dan Sulawesi; dan (2) daerah yang rentan kelaparan dan stunting, dan daerah miskin dan perbatasan di Maluku dan Papua.
(iv) Peningkatan pengelolaan kemaritiman dan kelautan yang dilaksanakan dengan menjadikan Wilayah Pengelolaan Perikanan sebagai basis spasial dalam pembangunan dan pemanfaatan kelautan dan perikanan, yang meliputi strategi:
(1) meningkatkan pengelolaan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dan penataan kelembagaan WPP sesuai dengan prinsip berkelanjutan; dan penataan ruang laut dan rencana zonasi pesisir; (2) mengelola ekosistem kelautan dan pemanfaatan jasa kelautan secara berkelanjutan, serta pengelolaan ruang laut;
(3) meningkatkan produksi, produktivitas, standardisasi, dan mutu produk kelautan dan perikanan termasuk ikan, rumput laut dan garam;
(4) meningkatkan fasilitasi usaha, pembiayaan, dan akses perlindungan usaha kelautan dan perikanan skala kecil serta akses terhadap pengelolaan sumber daya; (5) meningkatkan kompetensi SDM, inovasi teknologi dan riset
kemaritiman dan kelautan serta database kelautan dan perikanan.
Strategi pertama mencakup penguatan data stok perikanan dan kelembagaan WPP, pengelolaan Perairan Umum Daratan (PUD), penyelesaian rencana zonasi laut, serta pemanfaatan ruang laut dan pulau-pulau kecil, termasuk penyelarasan RZWP3K dan RTRW Provinsi dan penataan perizinan. Strategi kedua dilaksanakan melalui pemanfaatan konservasi perairan secara berkelanjutan, dan peningkatan pemanfaatan marine bioproduct. Strategi ketiga dapat mencakup restrukturisasi armada penangkapan ikan menuju armada yang lebih economic-scale, pengembangan perikanan budidaya modern berkelanjutan, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan garam, peningkatan kualitas garam, pengembangan sentra kelautan dan perikanan, dan peningkatan sistem karantina ikan. Fasilitasi usaha dan investasi pemberian asuransi nelayan dan pembudidaya ikan, serta pengembangan pembiayaan/bank mikro nelayan merupakan bagian dari pelaksanaan strategi keempat.
Strategi kelima dapat mencakup pelatihan dan penyuluhan, inovasi teknologi perikanan tangkap dan budidaya yang berkelanjutan dan produktif;
serta inovasi teknologi dan riset kelautan.
Pengelolaan perikanan akan difokuskan pada penguatan manajemen di 11 WPP, dan sentra-sentra produksi perikanan budidaya yang berdaya saing. Komoditas unggulan perikanan budidaya meliputi: udang, nila, lele/
patin, bandeng dan rumput laut. Komoditas udang akan dikembangkan di Sumatera, NTB, Jawa, dan Sulawesi. Komoditas Nila akan dikembangkan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Komoditas Rumput Laut akan dikembangkan di Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan. Selanjutnya, sentra garam berada di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Arah kebijakan dalam rangka peningkatan nilai