• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan SPM yang masih perlu ditingkatkan;

Dalam dokumen Cover RA RPJMN 2020-2024 fix B preview.cdr (Halaman 119-123)

Arahan Pembangunan Wilayah

6. Penerapan SPM yang masih perlu ditingkatkan;

Kepulauan Nusa Tenggara yang memiliki basis sumber daya alam perkebunan dan pertanian secara umum masih belum menunjukkan perkembangan ekonomi yang optimal. Oleh sebab itu, pengembangan sektor pertumbuhan alternatif, dalam hal ini pariwisata, perlu dipacu. Dalam lima tahun ke depan, pengembangan kawasan pariwisata tersebut akan menjadi fokus pembangunan.

Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara merupakan zona tektonik kompleks pertemuan tiga lempeng aktif (lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik) sehingga menyebabkan aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi.

Beberapa gempa besar pernah terjadi di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara dan diantaranya diikuti dengan terjadinya tsunami, salah satunya yaitu kejadian gempa bumi dan tsunami Pulau Lombok dan Sekitarnya dengan magnitudo M7.0 pada tahun 2018 akibat aktivitas “megathrust” Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust) yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda cukup besar. Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara juga memiliki potensi bahaya bencana hidrometeorologis yang tinggi seperti banjir dan kekeringan. Selain itu, guncangan akibat gempa bumi dan kondisi curah hujan rata-rata yang tinggi juga dapat menimbulkan potensi bahaya bencana longsor.

Isu strategis pengembangan Wilayah Nusa Tenggara secara umum adalah berikut:

1. Pengembangan industri berbasis sumber

4. Meningkatkan pendidikan vokasional pariwisata, perikanan, dan perkebunan;

5. Menguatkan konektivitas antarwilayah untuk mendukung industri perikanan, peternakan, dan pariwisata;

6. Meningkatkan peran dan efisiensi pelayanan kota besar, menengah, dan kecil untuk meningkatkan sinergi pembangunan perkotaan dan perdesaan;

7. Mengarusutamakan penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim yang diarahkan kepada peningkatan investasi mitigasi struktural dan non struktural serta adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di daerah rawan bencana berbasis kearifan lokal masyarakat khususnya kawasan utara dan selatan Kepulauan Nusa Tenggara dengan tetap memperhatikan pemulihan pascabencana Pulau Lombok dan Sekitarnya.

8. Mempercepat penerapan SPM;

9. Menguatkan kemampuan pertahanan dan keamanan di kawasan perbatasan negara; dan 10. Pembangunan desa terpadu yang mencakup

pengembangan desa wisata, desa dijital dan produk unggulan desa; transformasi ekonomi desa dan peningkatan peran badan usaha milik desa; perbaikan pelayanan dasar air minum, sanitasi dan listrik desa; peningkatan kapasitas aparatur desa dalam hal pemanfaatan dana desa dan tata kelola asset desa; penguatan pendamping desa dan peran serta masyarakat desa yang inklusif; serta penetapan batas desa.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Kepulauan Nusa Tenggara yang ditargetkan sebesar 5,9%

(2020) – 7,9% (2024), maka diidentifikasi komoditas unggulan Kepulauan Nusa Tenggara yang meliputi jambu mete, kakao, kopi, kelapa, tebu, garam, tembaga, emas, perikanan budidaya, dan perikanan tangkap dengan sentra produksi yang tersebar di provinsi sebagai berikut:

1. Provinsi Nusa Tenggara Barat: jambu mete, kopi, tebu, garam, tembaga, emas, perikanan

budidaya, dan perikanan tangkap; dan

2. Provinsi Nusa Tenggara Timur: jambu mete, kakao, kopi, kelapa, tebu, garam, dan perikanan budidaya.

Adapun Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang ada di wilayah Nusa Tenggara adalah sebagai berikut:

1. WPP 573, yang meliputi di WPP 573, meliputi Samudera Hindia Selatan Jawa – Laut Timor Barat dengan potensi produksi 1.267,5 ribu ton dan produksi eksisting mencapai 559,7 ribu ton (44,1%);

2. WPP 713, yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali dengan potensi 1.177,9 ribu ton dan produksi perikanan eksisting 598,6 ribu ton (50,8%); dan

3. WPP 714, yang meliputi Teluk Tolo dan Laut Banda dengan potensi 788,9 ribu ton dan produksi perikanan eksisting 812,0 ribu ton (102,9%).

Dalam rangka mendukung hilirisasi komoditas pengembangan kawasan berbasis sumber daya alam pada koridor pertumbuhan dan pemerataan, maka dikembangkan kawasan strategis prioritas yang terdiri dari:

1. Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Rote Ndao dan Sumba Timur;

2. Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Ngada, Manggarai Barat, Sumba Timur, Sumbawa, Dompu, Lombok Timur, dan Lombok Tengah.

3. Kawasan Transmigrasi Tambora di Kabupaten Bima, Kawasan Transmigrasi Labangka di Kabupaten Sumbawa, Kawasan Transmigrasi Kobalima Timur di Kabupaten Malaka, Kawasan Transmigrasi Ponu di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kawasan Transmigrasi Melolo di Kabupaten Sumba Timur.

4. Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) Atambua dan PKSN Kefamenanu

Sedangkan untuk mendorong pengembangan kawasan berbasis non-sumber daya alam, kawasan strategis prioritas yang dikembangkan:

1. Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP)/Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika; dan

2. Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) Labuan Bajo.

Pengembangan kawasan strategis prioritas tersebut didukung dengan outlet pelabuhan feeder di Pelabuhan Tenau Kupang. Disamping itu, dukungan infrastruktur transportasi; energi, telekomunikasi dan informatika; pengairan dan irigasi; serta perumahan dan permukiman juga dibangun untuk mendukung kawasan strategis prioritas tersebut. Uraian rinci pembangunan infrastruktur tersebut terdapat pada lampiran matriks pembangunan kewilayahan dan lampiran peta arah pembangunan per pulau.

Selain infrastruktur, pengembangan kawasan sebagai hilir dari pengolahan komoditas juga sangat bergantung pada kemampuan SDM. Peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui pengembangan sekolah vokasi, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pelatihan vokasi dalam bentuk Balai Latihan Kerja (BLK).

Pengembangan SMK di wilayah Nusa Tenggara secara keseluruhan berjumlah 81 SMK yang mendukung sektor energi, industri, industri kreatif, kemaritiman, dan pariwisata. Adapun pengembangan BLK ditargetkan sebanyak 15 unit yang tersebar dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor prioritas yang meliputi: tenaga presisi tekstil, buruh petani, buruh konstruksi gedung, dan manajer umum perdagangan.

Di samping memacu pertumbuhan, maka pembangunan wilayah Nusa Tenggara juga mengakomodir pemerataan pelayanan dasar, yang meliputi:

1. Percepatan pembangunan daerah tertinggal dengan fokus pada pemenuhan pelayanan dasar, pengembangan ekonomi lokal berbasis

komoditas unggulan dengan memanfaatkan teknologi digital, dan pengembangan infrastruktur di 13 kabupaten tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan 1 kabupaten tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dari 13 kabupaten tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Timur, terdapat 9 kabupaten yang termasuk dalam koridor kewilayahan, yaitu: a) koridor pertumbuhan: Manggarai Timur dan Kupang; dan b) koridor pemerataan, antara lain: Belu, Sumba Barat, Sumba Timur, Malaka, Sumba Barat Daya, Timor Tengah Selatan, dan Sumba Tengah. Adapun Kabupaten Lombok Utara sebagai satu-satunya daerah tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Barat berada pada koridor pemerataan;

2. Pembinaan dan keberpihakan dari K/L serta pelaku pembangunan lainnya terhadap 62 daerah tertinggal yang telah terentaskan tahun 2019, selama maksimal 3 tahun (2020 – 2022), yang mana untuk Pulau Nusa Tenggara berlokasi di 12 kabupaten berikut, antara lain:

a) Provinsi Nusa Tenggara Barat: Bima, Dompu, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, dan Sumbawa Barat; b) Provinsi Nusa Tenggara Timur: Ende, Manggarai, Manggarai Barat, Nagekeo, dan Timor Tengah Utara.

3. Percepatan pembangunan kawasan perbatasan dengan lokus prioritas yaitu 20 kecamatan lokasi prioritas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT);

4. Mengembangkan desa wisata sebagai destinasi pendukung di sekitar kawasan KSPN dan KEK untuk menggerakan ekonomi lokal;

5. Mempercepat pemenuhan SPM melalui peningkatan akses terhadap pelayanan dasar, Pendidikan, dan kesehatan di daerah tertinggal dan Kawasan perbatasan;

6. Penanganan stunting dengan lokus prioritas mencakup 21 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan 8 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB);

7. Penanganan anak tidak sekolah di seluruh provinsi wilayah Nusa Tenggara;

8. Pemberian bantuan sosial dan subsidi tepat sasaran melalui Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Indonesia Sehat untuk mencapai target kemiskinan tahun 2024 yaitu 11,87% di NTB, dan 15,69% di NTT;

9. Perluasan cakupan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan target prioritas mencakup Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kab. Manggarai, Kab.

Manggarai Timur, Kab. Ende, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Sumba Timur, Kab. Timor Tengah Utara, Kab. Alor, Kab. Belu, Kab. Kupang, Kab.

Timor Tengah Selatan, dan Kab. Malaka);

10. Perluasan kepemilikan akta kelahiran dengan target prioritas mencakup Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kab. Lombok Tengah) dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kab. Sikka, Kab.

Rote Ndao, Kab. Manggarai Barat, Kab. Sumba Barat, Kab. Manggarai, Kota Kupang, Kab.

Ngada, dan Kab. Sabu Raijua);

11. Penyediaan akses air minum dan sanitasi untuk mencapai target 2024 berupa: sanitasi layak dan aman sebesar 84% di Provinsi NTB dan 80%

di Provinsi NTT; akses penanganan sampah sebesar 59% di Provinsi NTB dan 55% di Provinsi NTT; serta akses air minum layak sebesar 100%

di Provinsi NTB dan di Provinsi NTT;

12. Penyediaan akses perumahan untuk mencapai target rumah layak huni 2024 sebesar 77,5% di Provinsi NTB dan 59,2% di Provinsi NTT; dan 13. Pemenuhan standar pelayanan minimal

kebencanaan melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah, masyarakat, dan logistik kebencanaan sesuai karakter ancaman bencana di wilayah masing-masing, terutama di kawasan strategis nasional yang memiliki risiko bencana tinggi.

Untuk memacu pertumbuhan wilayah sesuai strategi pengembangan koridor pertumbuhan dan pemerataan, maka dirancang empat Major Project di wilayah Nusa Tenggara adalah sebagai berikut (Gambar 3.6):

1. Penyelesaian Pembangunan Kawasan Pariwisata: (a) Lombok dan (b) Labuan Bajo;

2. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Daerah Terdampak Bencana: (a) Pulau Lombok, (b) Pulau Sumbawa, dan (c) Kota Bima;

3. Pengembangan Ekonomi Kawasan Perbatasan:

(a) PKSN Atambua dan (b) PKSN Kafemenanu;

dan

4. Pembangunan Jalan Trans/Lingkar pulau terluar/

tertinggal Pulau Sumba.

Gambar 3.6. Sebaran Major Project RPJMN 2020-2024 di Wilayah Nusa Tenggara

1a 2a 1b

2b 2c

3a 4 3b

Selama kurun waktu tahun 2008-2017, sebanyak 1.605 kejadian bencana terjadi di wilayah Sulawesi.

Sebagian besar didominasi oleh bencana hidrometeorologi sebanyak 98,1% dan bencana geologi sebanyak 1,9%. Dampak kerugian yang diakibatkan oleh bencana terkait hidrometerologi sebesar 97,4% dan bencana gempabumi geologi 2,6%. Ancaman bencana yang perlu mendapatkan perhatian penanganan adalah bencana banjir, kekeringan, puting beliung (cuaca ekstrim), dan tanah longsor. Wilayah Sulawesi juga memiliki ancaman bencana geologi yang perlu diperhatikan yaitu gempa bumi dan tsunami karena berada di jalur besar gempa bumi, yaitu di zona sesar Palu Koro.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten tinggi, Pulau Sulawesi berpeluang menjadi alternatif pendorong pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa- Bali. Namun demikian, mengingat Pulau Sulawesi memiliki potensi bencana alam yang beragam dan tinggi, maka pembangunan Pulau Sulawesi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan pendekatan mitigasi dan adaptasi bencana.

Isu strategis pengembangan wilayah Sulawesi secara umum adalah berikut:

1. Pengembangan industri berbasis sumber daya alam dan pusat-pusat pertumbuhan, termasuk kawasan pariwisata berbasis alam, belum optimal dalam mendukung pengembangan ekonomi wilayah;

2. Konektivitas antar wilayah yang memadai dan

Dalam dokumen Cover RA RPJMN 2020-2024 fix B preview.cdr (Halaman 119-123)