• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rendahnya budaya literasi, inovasi, dan kreativitas

Dalam dokumen Cover RA RPJMN 2020-2024 fix B preview.cdr (Halaman 188-194)

Literasi merupakan faktor esensial dalam upaya membangun fondasi yang kukuh bagi terwujudnya masyarakat berpengetahuan, inovatif, kreatif, dan berkarakter. Pada era revolusi industri 4.0, masyarakat dengan budaya literasi tinggi mutlak diperlukan untuk menghadapi tantangan zaman. Pada era ini wajah dunia akan banyak berubah dengan adanya proses otomatisasi yang memungkinkan terjadinya pembagian tugas antara manusia dan piranti lunak. Akibatnya akan banyak pekerjaan yang hilang dan digantikan oleh mesin, meskipun di sisi lain muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang berbasiskan pada inovasi dan kreativitas yang didasarkan pada akal budi dan karya budaya manusia.

Sementara itu literasi sebagai bentuk cognitive skills memampukan manusia untuk mengidentifikasi, memahami, dan menginterpretasi informasi yang diperoleh untuk ditransformasikan ke dalam kegiatan-kegiatan produktif yang memberi manfaat sosial, ekonomi, dan kesejahteraan. Literasi memiliki kontribusi positif dalam rangka membantu menumbuhkan kreativitas dan inovasi, serta meningkatkan keterampilan dan kecakapan sosial seperti komunikasi, negosiasi, kerja kelompok, dan relasi sosial yang sangat dibutuhkan pada era revolusi industri 4.0.

Mewujudkan masyarakat yang memiliki kemampuan literasi merupakan kebutuhan mendesak untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang dan berubah. Salah satu tolok ukur untuk menilai tingkat literasi suatu bangsa antara lain melalui budaya kegemaran membaca yang mencerminkan minat dan kemudahan akses

masyarakat untuk memperoleh informasi. Tingkat literasi bangsa Indonesia memang masih perlu terus ditingkatkan. Berdasarkan data Susenas MSBP tahun 2018, penduduk usia 10 tahun ke atas yang membaca selain kitab suci baik cetak maupun elektronik baru mencapai 45,72 persen, sementara penduduk yang mengakses internet masih sebesar 43,47 persen. Hal ini tentu menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat dengan memperluas akses informasi dan pengetahuan ke seluruh pelosok negeri.

Semakin mantapnya daya rekat sosial serta ketahanan dan pemajuan kebudayaan untuk membangun karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang ditandai Indeks Pembangunan Masyarakat pada tahun 2016 sebesar 0,59 dan terus meningkat pada tahun 2024, serta Indeks Pembangunan Kebudayaan pada tahun 2018 sebesar 53,74 dan terus meningkat pada tahun 2024.

Sasaran, Target, dan Indikator

Menguatnya moderasi beragama untuk mewujudkan

kerukunan umat dan membangun harmoni sosial dalam kehidupan masyarakat, yang ditandai dengan Indeks Kerukunan Umat Beragama pada tahun 2019 sebesar 73,83 dan terus meningkat pada tahun 2024.

Meningkatnya ketahanan dan kualitas keluarga, yang ditandai oleh Indeks Pembangunan Keluarga dari 53,57 berdasarkan baseline 2018 menjadi 57,57 pada 2024, dan Median Usia Kawin Pertama Perempuan dari 21,8 (SDKI 2017) menjadi 22,1 pada 2024.

1 2

3

Arah Kebijakan dan Strategi

1. Revolusi mental dan pembinaan ideologi Pancasila untuk memperkukuh ketahanan budaya bangsa dan membentuk mentalitas bangsa yang maju, modern, dan berkarakter, melalui:

a. Revolusi mental dalam sistem pendidikan untuk pemantapan pendidikan agama, karakter dan budi pekerti untuk memperkuat nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong, mencakup: (a) pengembangan budaya belajar dan lingkungan sekolah yang menyenangkan dan bebas dari kekerasan (bullying free school environment); (b) penguatan pendidikan agama dan etika; dan (c) peningkatan kepeloporan dan kesukarelawanan pemuda, dan pengembangan pendidikan kepramukaan.

b. Revolusi mental dalam tata kelola pemerintahan untuk penguatan budaya birokrasi yang bersih, melayani, dan responsif terhadap perubahan dan perkembangan jaman, mencakup: (a) Peningkatan budaya kerja pelayanan publik yang ramah, cepat, efektif, dan efisien; dan (b) penerapan disiplin, reward dan punishment dalam birokrasi.

c. Revolusi mental dalam sistem sosial untuk penguatan kualitas dan peran keluarga serta masyarakat dalam pembentukan karakter sejak usia dini berdasarkan karakteristik wilayah dan target sasaran yang responsif gender, mencakup: (a) penyiapan kehidupan berkeluarga dan kecakapan hidup;

(b) peningkatan ketahanan keluarga berdasarkan siklus hidup dengan memperhatikan kesinambungan antar

generasi, sebagai upaya penguatan fungsi dan nilai keluarga; dan (c) pewujudan lingkungan yang kondusif melalui penguatan masyarakat, kelembagaan, regulasi, penyediaan sarana dan prasarana, serta partisipasi dunia usaha.

d. Penguatan pusat-pusat perubahan gerakan revolusi mental, mencakup: (a) pemantapan pelaksanaan Inpres No.12/2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental;

dan (b) penguatan pusat-pusat perubahan gerakan revolusi mental di daerah.

e. Pembangunan dan pembudayaan sistem ekonomi kerakyatan berlandaskan Pancasila, mencakup: (a) revitalisasi spirit koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia; (b) peningkatan etos kerja dan kewirausahaan berlandaskan semangat gotong royong; dan (c) penumbuhan budaya konsumen cerdas dan cinta produk dalam negeri.

f. Pembinaan ideologi Pancasila, pendidikan kewargaan, wawasan kebangsaan, dan bela negara untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme, mencakup: (a) pembinaan ideologi Pancasila, penguatan pendidikan kewargaan, nilai-nilai kebangsaan, dan bela negara; (b) peningkatan peran dan fungsi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai perumus kebijakan umum pembinaan ideologi Pancasila; (c) harmonisasi dan evaluasi peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan ideologi Pancasila;

dan (d) membersihkan unsur-unsur yang anti ideologi negara.

2. Meningkatkan pemajuan dan pelestarian kebudayaan untuk memperkuat karakter dan memperteguh jati diri bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia, melalui:

a. Revitalisasi dan aktualisasi nilai budaya dan kearifan lokal, mencakup:

(a) pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan nilai budaya, tradisi, sejarah dan kearifan lokal untuk memperkuat kohesi sosial, kerukunan, toleransi, gotong- royong, dan kerja sama antarwarga; (b) peningkatan akses dan kualitas pelayanan museum, arsip, dan perpustakaan; dan (c) Pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan manuskrip dan arsip sebagai sumber nilai budaya, sejarah, dan memori kolektif bangsa.

b. Pengembangan dan pemanfaatan kekayaan budaya untuk memperkuat karakter bangsa dan kesejahteraan rakyat, mencakup: (a) pengembangan produk seni, budaya, dan film; (b) penyelenggaraan festival budaya dan membangun opera berkelas internasional;

(c) pelestarian cagar budaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan (d) pengembangan budaya bahari dan sumber daya maritim.

c. Pelindungan hak kebudayaan dan ekspresi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif, mencakup: (a) pengembangan wilayah adat sebagai pusat pelestarian budaya dan lingkungan hidup;

(b) pemberdayaan masyarakat adat dan komunitas budaya; dan (c) pelindungan kekayaan budaya komunal dan hak cipta.

d. Pengembangan diplomasi budaya untuk memperkuat pengaruh Indonesia dalam perkembangan peradaban dunia,

mencakup: (a) pengembangan diplomasi budaya melalui pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, muhibah seni budaya, dan kuliner nusantara; dan (b) penguatan pusat studi dan rumah budaya Indonesia di luar negeri.

e. Pengembangan tata kelola

pembangunan kebudayaan, mencakup:

(a) pengelolaan dana perwalian kebudayaan; (b) peningkatan kualitas sumber daya manusia kebudayaan;

(c) peningkatan sarana dan prasarana kebudayaan; (d) pengembangan sistem pendataan kebudayaan terpadu; dan (e) pengembangan kerja sama dan kemitraan dalam pemajuan kebudayaan.

3. Memperkuat moderasi beragama untuk mengukuhkan toleransi, kerukunan dan harmoni sosial, melalui:

a. Penguatan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam perspektif jalan tengah untuk memantapkan persaudaraan dan kebersamaan di kalangan umat beragama, mencakup: (a) pengembangan penyiaran agama untuk perdamaian dan kemaslahatan umat; (b) penguatan sistem pendidikan yang berperspektif moderat mencakup pengembangan kurikulum, materi dan proses pengajaran, pendidikan guru dan tenaga kependidikan, dan rekrutmen guru; (c) penguatan peran pesantren dalam mengembangkan moderasi beragama melalui peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama untuk kemaslahatan; (d) pengelolaan rumah ibadah sebagai pusat syiar agama yang toleran; dan (e) pemanfaatan ruang publik untuk pertukaran ide dan gagasan di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda lintas budaya, lintas agama, dan lintas suku bangsa.

b. Penguatan harmoni dan kerukunan umat beragama, mencakup: (a) pelindungan umat beragama untuk menjamin hak- hak sipil dan beragama; (b) penguatan peran lembaga agama, organisasi sosial keagamaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, ASN, TNI, dan Polri sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa;

dan (c) penguatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk membangun solidaritas sosial, toleransi, dan gotong royong.

c. Penyelarasan relasi agama dan budaya, mencakup: (a) penghargaan atas ekspresi budaya berbasis nilai-nilai agama; (b) pengembangan literasi khazanah budaya bernafas agama; (c) pelestarian situs keagamaan dan pemanfaatan perayaan keagamaan dan budaya untuk memperkuat toleransi.

d. Peningkatan kualitas pelayanan kehidupan beragama, mencakup:

(a) peningkatan fasilitasi pelayanan keagamaan; (b) peningkatan pelayanan bimbingan perkawinan dan keluarga; (c) Penguatan penyelenggaraan jaminan produk halal; dan (d) peningkatan kualitas penyelenggaran haji dan umrah.

e. Pengembangan ekonomi umat dan sumber daya keagamaan, mencakup: (a) pemberdayaan dana sosial keagamaan;

(b) pengembangan kelembagaan ekonomi umat; dan (c) pengelolaan dana haji secara profesional, transparan, dan akuntabel.

4. Meningkatkan literasi, inovasi, dan kreativitas bagi terwujudnya masyarakat berpengetahuan, dan berkarakter, melalui:

a. Peningkatan budaya literasi, mencakup:

(a) pengembangan budaya kegemaran

membaca; (b) pengembangan perbukuan dan penguatan konten literasi; (c) peningkatan akses dan kualitas layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial.

b. Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan Bahasa Indonesia, bahasa dan aksara daerah, serta sastra mencakup: (a) penggunaan Bahasa Indonesia dalam forum-forum kenegaraan di tingkat nasional dan internasional; (b) pengembangan pendidikan sastra di satuan pendidikan dan komunitas; (c) pengajaran bahasa daerah di kelas awal di sekolah; (d) revitalisasi bahasa dan aksara daerah sebagai khazanah budaya bangsa.

c. Pengembangan budaya Iptek, inovasi, kreativitas, dan daya cipta, mencakup:

(a) peningkatan budaya riset dan model pembelajaran discovery and inquiry learning; (b) pengembangan budaya produksi dan kreativitas berbasis inovasi;

dan (c) pengembangan ekperimentasi ilmiah sejak usia dini di lembaga pendidikan d. Penguatan institusi sosial penggerak

literasi dan inovasi, mencakup: (a) pengembangan mitra perpustakaan (library supporter); (b) pengembangan inovasi sosial dan filantropi untuk penguatan literasi dan inovasi masyarakat.

6

Dalam dokumen Cover RA RPJMN 2020-2024 fix B preview.cdr (Halaman 188-194)