Arahan Pembangunan Wilayah
7. Pelayanan SPM yang masih perlu ditingkatkan
Kepulauan Maluku terkenal dengan sumber daya alam perkebunan dan perikanan. Dalam upaya untuk lebih memacu pertumbuhan ekonomi wilayah, maka untuk lima tahun ke depan direncanakan pengembangan kawasan pariwisata dan kawasan industri guna optimalisasi potensi keindahan alam dan sumber daya alam pertambangan yang ada di Kepulauan Maluku.
Wilayah Maluku merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau kecil dan dikelilingi lautan luas menyebabkan pengaruh iklim terhadap kondisi wilayah sangat tinggi sehingga memiliki ancaman bencana banjir, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, kekeringan, letusan gunung api, puting beliung (cuaca ekstrim), dan tanah longsor. Sekitar 86,7% kejadian bencana di wilayah Kepulauan Maluku merupakan bencana hidrometeorologi dan bencana geologi sekitar 13,3%. Bencana gempa bumi, banjir, dan tanah longsor mengakibatkan dampak korban jiwa dan kerugian ekonomi yang paling besar dibandingkan bencana lainnya.
Isu strategis pembangunan wilayah Kepulauan Maluku secara umum adalah berikut:
1. Pengembangan industri skala kecil menengah
5. Menguatkan konektivitas antar pulau untuk mendukung industri perikanan dan pariwisata;
6. Percepatan penerapan SPM;
7. Mengarusutamakan penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim yang diarahkan kepada peningkatan investasi mitigasi struktural dan non struktural serta adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di daerah rawan bencana berbasis kearifan lokal masyarakat; dan 8. Pembangunan desa terpadu yang mencakup
pengembangan desa wisata, desa digital dan produk unggulan desa; transformasi ekonomi desa dan peningkatan peran badan usaha milik desa; perbaikan pelayanan dasar air minum, sanitasi dan listrik desa; peningkatan kapasitas aparatur desa dalam hal pemanfaatan dana desa dan tata kelola aset desa; penguatan pendamping desa dan peran serta masyarakat desa yang inklusif; serta penetapan batas desa.
Dalam rangka mendukung keberlanjutan lingkungan, maka beberapa kaidah pembangunan rendah karbon yang dilaksanakan di wilayah Kepulauan Maluku adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai;
2. Mengupayakan konservasi dan perlindungan habitat spesies kunci;
3. Mengembangkan energi baru terbarukan;
4. Mengoptimalkan pengelolaan sampah dan limbah bahan berbahaya beracun secara terpadu;
5. Mengembangkan sarana dan prasarana transportasi massal;
6. Mengoptimalkan upaya reklamasi lahan bekas tambang;
7. Menerapkan kaidah ekowisata berkelanjutan dalam pengembangan kawasan wisata; dan 8. Memodernisasi kapal dan peralatan penangkap
ikan.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi wilayah Kepulauan Maluku yang ditargetkan sebesar 6,1%
(2020) – 7,0% (2024), maka diidentifikasi komoditas
unggulan wilayah Kepulauan Maluku yang meliputi pala, cengkeh, kelapa, dan perikanan tangkap dengan sentra produksi yang tersebar di provinsi sebagai berikut:
1. Provinsi Maluku: pala, cengkeh, kelapa, batubara, emas, minyak dan gas bumi, serta perikanan tangkap; dan
2. Provinsi Maluku Utara: pala, cengkeh, kelapa, kakao, batubara, dan perikanan tangkap.
Adapun Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang ada di wilayah Kepulauan Maluku adalah sebagai berikut:
1. WPP 714, yang meliputi Teluk Tolo dan Laut Banda dengan potensi produksi 788,9 ribu ton dan produksi eksisting mencapai 812,0 ribu ton (102,9%); dan
2. WPP 715, yang meliputi Perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau dengan potensi produksi 1.242,5 ribu ton dan produksi eksisting mencapai 870,2 ribu ton (70,0%).
Dalam rangka mendukung hilirisasi komoditas pengembangan kawasan berbasis sumber daya alam pada koridor pertumbuhan dan pemerataan, maka dikembangkan kawasan strategis prioritas yang terdiri dari:
1. Kawasan Industri (KI) Teluk Weda;
2. Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Morotai, Moa, Saumlaki, dan Tual;
3. Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Maluku Tengah dan Morotai; dan
4. Kawasan Transmigrasi Kobisonta di Kabupaten Maluku Tengah, Kawasan Transmigrasi Pulau Mangoli di Kabupaten Kepulauan Sula dan Kawasan Transmigrasi Pulau Morotai di Kabupaten Pulau Morotai.
Sedangkan untuk mendorong pengembangan kawasan berbasis non-sumber daya alam, kawasan strategis prioritas yang dikembangkan:
1. Kota Baru Sofifi; dan
2. Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP)/ Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai.
Pengembangan kawasan strategis prioritas tersebut didukung dengan outlet pelabuhan feeder di Pelabuhan Ambon dan Pelabuhan Ternate.
Disamping itu, dukungan infrastruktur transportasi;
energi, telekomunikasi dan informatika; pengairan dan irigasi; serta perumahan dan permukiman juga dibangun untuk mendukung kawasan strategis prioritas tersebut. Uraian rinci pembangunan infrastruktur tersebut terdapat pada lampiran matriks pembangunan kewilayahan dan lampiran peta arah pembangunan per pulau.
Selain infrastruktur, pengembangan kawasan sebagai hilir dari pengolahan komoditas juga sangat bergantung pada kemampuan SDM. Peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui pengembangan sekolah vokasi, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pelatihan vokasi dalam bentuk Balai Latihan Kerja (BLK).
Pengembangan SMK di wilayah Kepulauan Maluku secara keseluruhan berjumlah 32 SMK yang mendukung sektor energi, industri, kemaritiman, dan pariwisata. Adapun pengembangan BLK ditargetkan sebanyak 6 unit yang tersebar dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor prioritas yang meliputi: tenaga presisi tekstil, petani subsisten, buruh konstruksi gedung, serta manajer umum perdagangan.
Disamping memacu pertumbuhan, pembangunan wilayah Kepulauan Maluku juga harus memperhatikan aspek pemerataan pelayanan dasar, yang meliputi:
1. Percepatan pembangunan kawasan perbatasan dengan lokus prioritas yaitu 12 kecamatan lokasi prioritas di Provinsi Maluku dan 6 kecamatan lokasi prioritas di Provinsi Maluku Utara.
2. Penanganan stunting dengan lokasi fokus prioritas mencakup 6 kabupaten di Provinsi Maluku dan 4 kabupaten di Provinsi Maluku Utara;
3. Penanganan anak tidak sekolah di seluruh provinsi wilayah Kepulauan Maluku;
4. Pemberian bantuan sosial dan subsidi tepat sasaran melalui Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Indonesia Sehat untuk mencapai target kemiskinan tahun 2024, yaitu 15,19% di Maluku dan 4,38% di Provinsi Maluku Utara;
5. Perluasan cakupan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan target prioritas meliputi Provinsi Maluku (Kab. Seram Bagian Timur, Kab. Maluku Barat Daya, Kab. Maluku Tenggara Barat, Kab.
Seram Bagian Barat, Kab. Buru, Kab. Maluku Tengah, Kab. Kepulauan Aru, dan Kab. Buru Selatan) dan Provinsi Maluku Utara (Kab.
Halmahera Selatan, Kab. Halmahera Utara, Kab.
Pulau Mortai, dan Kab. Pulau Taliabu);
6. Perluasan kepemilikan akta kelahiran dengan target prioritas meliputi Provinsi Maluku (Kab.
Seram Bagian Timur, Kab. Maluku Barat Daya, Kab. Maluku Tenggara Barat, Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Maluku Tenggara, Kab. Maluku Tengah, Kab. Kepulauan Aru, Kab. Buru Selatan, dan Kota Tual) dan Provinsi Maluku Utara (Kab.
Halmahera Selatan, Kab. Halmahera Utara, Kab.
Pulau Morotai, dan Kab. Pulau Taliabu);
7. Penyediaan akes air minum dan sanitasi untuk mencapai target 2024 berupa: sanitasi layak dan aman sebesar 77% di Provinsi Maluku dan 75%
di Provinsi Maluku Utara; akses penanganan sampah sebesar 83% baik di Provinsi Maluku maupun Provinsi Maluku Utara; serta akses air minum layak sebesar 100% di Provinsi Maluku dan di Provinsi Maluku Utara;
8. Penyediaan akses perumahan untuk mencapai target rumah layak huni 2024 sebesar 63,5% di Provinsi Maluku dan 61,1% di Provinsi Maluku Utara;
9. Percepatan pembangunan daerah tertinggal dengan fokus pada pemenuhan pelayanan dasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengembangan ekonomi lokal berbasis komoditas unggulan dengan memanfaatkan
teknologi digital di 6 kabupaten tertinggal di Provinsi Maluku dan 2 kabupaten tertinggal di Provinsi Maluku Utara. Dari 6 kabupaten tertinggal di Provinsi Maluku, terdapat 4 kabupaten yang termasuk dalam koridor kewilayahan, khususnya koridor pemerataan, antara lain: Buru Selatan, Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, dan Maluku Tenggara Barat. Sementara itu, untuk Provinsi Maluku Utara, kabupaten tertinggal yang termasuk dalam koridor kewilayahan adalah Kepulauan Sula yang berada pada koridor pemerataan.
10. Pembinaan dan keberpihakan dari K/L serta pelaku pembangunan lainnya terhadap 62 daerah tertinggal yang telah terentaskan tahun 2019, selama maksimal 3 tahun (2020 – 2022), yang mana untuk Pulau Maluku berlokasi di 6 kabupaten berikut, antara lain: a) Provinsi Maluku: Buru dan Maluku Tengah; b) Provinsi Maluku Utara: Pulau Morotai, Halmahera Barat, Halmahera Selatan, dan Halmahera Timur.
11. Pemenuhan standar pelayanan minimal kebencanaan melalui peningkatan kapasitas pemerintah daerah, masyarakat, dan logistik kebencanaan terutama pada daerah Kota Ambon, Kota Ternate, Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Seram Bagian Timur, Kab. Maluku Tengah, Kab. Maluku Tenggara, Kab. Buru, Kab.
Halmahera Utara, Kab. Halmahera Timur, Kab.
Tidore, Kab. Pulau Morotai, dan Kab. Sula.
Untuk memacu pertumbuhan wilayah sesuai strategi pengembangan koridor pertumbuhan dan pemerataan, maka dirancang dua Major Project di wilayah Kepulauan Maluku adalah sebagai berikut (Gambar 3.5):
1. Pengembangan Kawasan Kota Baru Sofifi; dan 2. Pembangunan Jalan Trans/Lingkar pulau terluar/
tertinggal: (a) Morotai dan (b) Saumlaki.
Gambar 3.5. Sebaran Major Project RPJMN 2020-2024 di Wilayah Maluku
1 2a
2b
Kepulauan Nusa Tenggara yang memiliki basis sumber daya alam perkebunan dan pertanian secara umum masih belum menunjukkan perkembangan ekonomi yang optimal. Oleh sebab itu, pengembangan sektor pertumbuhan alternatif, dalam hal ini pariwisata, perlu dipacu. Dalam lima tahun ke depan, pengembangan kawasan pariwisata tersebut akan menjadi fokus pembangunan.
Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara merupakan zona tektonik kompleks pertemuan tiga lempeng aktif (lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik) sehingga menyebabkan aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi.
Beberapa gempa besar pernah terjadi di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara dan diantaranya diikuti dengan terjadinya tsunami, salah satunya yaitu kejadian gempa bumi dan tsunami Pulau Lombok dan Sekitarnya dengan magnitudo M7.0 pada tahun 2018 akibat aktivitas “megathrust” Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust) yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda cukup besar. Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara juga memiliki potensi bahaya bencana hidrometeorologis yang tinggi seperti banjir dan kekeringan. Selain itu, guncangan akibat gempa bumi dan kondisi curah hujan rata-rata yang tinggi juga dapat menimbulkan potensi bahaya bencana longsor.
Isu strategis pengembangan Wilayah Nusa Tenggara secara umum adalah berikut:
1. Pengembangan industri berbasis sumber