• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metodologi dalam Penelitian Pendidikan Matematika

51 | P a g e

Bab X. Metodologi dalam Penelitian Pendidikan

52 | P a g e

adanya kritik yang dibuat dengan alasan mereka (behavioristik) mempunyai kesalahan kategori.

Kategori 1: apakah lingkungan fisik tidak berbeda dengan aktivitas kita dalam membentuk lingkungan tersebut. Setiap upaya yang dilakukan oleh A untuk membentuk perlaku B menyatakan beberapa tingkat kehilangan kebebasan untuk B, apakah ini disadari atau tidak. Hal ini menyebabkan terjadinya kemungkinan bahwa secara sadar atau tidak, B akan berusaha mempertahankan kebebasannya dengan menolak pembentuk perilakunya. Apakah B bertahan atau tidak, dan berapa banyak, akan mungkin bervariasi antar individu dan akan bergantung sebagian pada bagaimana masing-masing menafsirkan keadaan. Ketika faktor ini ada, atau terdapat kemungkinan yang kuat akan keberadaannya, disarankan untuk mengabaikannya.

Kategori 2: ketika simbol disamakan dengan konsep: ketika sebuah tanda di atas kertas disamakan dengan maknanya. Untuk behavioristik, pernyataan a(x + y) = ax + ay dan perkalian bersifat distributif terhadap penjumlahan adalah dua hal yang berbeda. Tetapi bagi seorang matematikawan, hal tersebut merupakan dua cara di antara banyak cara berbeda menyatakan makna yang sama; dan bagi seorang pendidik matematika, yang penting adalah siswa memahami hal ini, memahami artinya dan bisa menunjukkan bahwa siswa mengaplikasikan skema terhadap contoh yang bervariasi. Jadi untuk para peneliti dalam pendidikan matematika, perbedaan antara simbol dan konsep hanya satu bahwa perbedaan tersebut sangat penting untuk diperhatikan.

Kategori 3: yang paling penting karena menjadi ciri-ciri model behavioristik yaitu gagal untuk membedakan antara teori tipe 1 dan tipe 2.

2. Interview Diagnostik dan Eksperimen Pengajaran

Berikut ini akan dijelaskan perbedaan paradigma dalam dunia pendidikan sesuai dengan apa yang dipahami oleh Piaget:

Paradigma Behavioristik. Apa yang kita minati adalah tingkah laku subjek yang dapat diamati secara umum, dan hal ini dibentuk oleh kondisi eksternal terhadap subjek. Kondisi ini bisa didefinisikan secara operasional, dan dikontrol dengan sebuah tingkatan ketepatan oleh seorang peneliti atau guru. Faktor-faktor internal pada subjek, dan khususnya faktor-faktor spesifik pada individu, munculnya secara acak dan bisa dihilangkan dengan teknik statistik yang sesuai/ tepat.

53 | P a g e

Paradigma Piaget. Apa yang kita minati adalah proses mental yang muncul pada tingkah laku subjek yang bisa diamati, dan hal ini merupakan hasil proses internal terhadap subjek. Proses mental bervariasi antara individu yang berbeda, dan di antara individu yang sama pada umur yang berbeda; dan perbedaan sama pentingnya dengan kemiripan. Untuk menyelidiki proses mental, kita butuh kerja sama individu dalam hubungan searah dengan peneliti, membuat hipotesis tentang proses mental dasar yang diuji terhadap berbagai tingkah laku yang dapat diamati.

B. Pengajaran Eksperimen

Teori klasik Piaget tidak terlalu berfokus pada fungsi pengajaran. Dalam konteks pendidikan, hubungan antara pengajaran dan belajar, bersama dengan sifat dasar dan kualitas belajar, merupakan salah satu fokus kajian. Jadi, sudah biasa jika peneliti mendasarkan penyelidikan pada metodologi eksperimen pengajaran. Diantaranya adalah penganut konstruktivis.

Berikut ini adalah enam prinsip konstruktivisme diberikan oleh Steffe, Richards, dan Von Glasserfeldt (1979). Diantara ciri utama adalah sebagai berikut:

“Pengetahuan dipandang sebagai pesinggungan terhadap invarians dalam pengalaman organisme hidup daripada kesatuan, struktur dan kejadian dalam sebuah keberadaan dunia yang independen.

Operasi mental merupakan bagian dari sebuah struktur total, dan struktur dipandang sebagai pengaturan operasi. Perilaku yang berbeda dari seorang anak bisa ditafsirkan sebagai bawaan dari struktur kognitif yang sama. Susunan lingkungan belajar harus dipertimbangkan dalam dua kerangka referensi. Pada satu sisi, terdapat sistem operasi yang mengatur pengalaman anak dan, pada sisi lain, terdapat isi yang bisa dipelajari. Konsep, struktur, keterampilan, atau apapun yang dipandang sebagai “pengetahuan” tidak dapat disampaikan dengan instan dari guru ke siswa atau dari pengirim ke penerima. Pengetahuan harus dibangun, bagian demi bagian, selain elemen yang harus ada pada subjek.”

Metodologi ini bisa dianggap sebagai perluasan wawancara diagnostik, dimana tujuannya adalah untuk membuat dan mengetes hipotesis tidak hanya tentang ciri dasar pemikiran anak pada waktu tertentu, tetapi tentang bagaimana pemikiran tersebut dibangun dari satu tahap ke tahap lain. Hal ini dirangkum oleh Steffe (1977) sebagai berikut:

1. Peneliti mengajar kelompok kecil anak sehari-hari.

2. Pengamatan intensif terhadap setiap anak sebagaimana meraka ikut serta dalam perilaku matematika.

3. Memperlama keterlibatan dengan anak yang sama selama enam minggu menuju tahun akademik baru.

4. Wawancara diagnostik dengan anak,

54 | P a g e

5. Catatan rinci observasi dengan tape recorder dan hasil kerja tertulis anak.

Pengalaman pribadi dalam bidang ini menyarankan bahwa dari sebuah pendekatan yang persis sama seperti yang dijelaskan Steffe, tetapi kurang intensif, banyaknya nilai masih bisa dipelajari. Situasi pengajaran termasuk dalam tiga kategori utama: diskusi yang dipimpin oleh peneliti, aktivitas siswa dalam kelompok kecil atau berpasangan, dan permainan matematika untuk 2-6 anak. Diskusi informasi anak dengan yang lain tentang apa yang dikerjakan, dan juga penjelasan yang mereka berikan kepada yang lain, keduanya sebagai bantuan dan pembenaran sangat dihargai.

Yang penting juga adalah penggunaan materi yang berstruktur matematika. Dari banyak hal yang dipelajari berasal dari jenis pengamatan tersebut, dan termasuk bagian diskusi dengan guru.

Refleksi Bab

Hal yang dapat saya pelajari dari presentasi bab X ini adalah bahwa menurut Piaget terdapat dua paradigma yang ada dalam dunia pendidikan, yaitu paradigma behavioristik dimana dalam paradigma ini mementingkan pada ketegasan sikap siswa yang ditinjau dari tingkah lakunya. Sedangkan paradigma yang kedua adalah paradigma Piaget dimana dalam paradigma ini yang diutamakan adalah pada proses mental yang muncul pada tingkah laku subjek yang bisa diamati dan hal ini merupakan hasil proses internal terhadap subjek.

55 | P a g e