BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Model Penelitian Pengembangan
Model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) merupakan singkatan dari Define, Design, Development, and Dessimination.
Thiagarajan dalam Mulyatiningsih (2016) menjelaskan langkah-langkah model pengembangan 4D sebagai berikut.
a. Define (Pendefinisian)
Pada tahap ini secara umum dilakukan kegiatan analisis kebutuhan pengembangan, syarat-syarat pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta pemilihan model penelitian pengembangan yang sesuai digunakan untuk mengembangkan produk.
Thiagrajan dalam Mulyatiningsih (2016) menganalisis 5 kegiatan yang dilakukan pada tahap define yaitu:
1) Front and analysis, yaitu tahap di mana guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efesiensi efektivitas pembelajaran.
2) Learner analysis, yaitu mempelajari karakter peserta didik seperti motivasi belajar, kemampuan, latar belakang, dan sebagainya.
3) Task analysis, yaitu menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai peserta didik.
4) Concept analysis, yaitu menganalisis konsep yang akan diajarkan, dan menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional.
5) Specifying instructional objectives, yaitu menulis tujuan pembelajaran dan perubahan sikap yang diharapkan dengan kata kerja operasional.
b. Design (Perancangan)
Pada tahap ini peneliti sudah membuat rancangan produk awal (prototype). Ada beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahap perancangan yaitu:
1) Menyusun tes kriteria untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dan sebagai sebagai alat evaluasi setelah implementasi kegiatan.
2) Memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik.
3) Memilih bentuk penyajian pembelajaran yang disesuaikan dengan media pembelajaran yang digunakan.
4) Mensimulasikan penyajian materi dengan media dan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya.
Sebelum rancangan produk dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka rancangan produk tersebut perlu divalidasi terlebih dahulu oleh teman sejawat seperti dosen atau guru dari bidang yang sesuai.
c. Development (Pengembangan)
Thiagarajan dalam Mulyatiningsih (2016) membagi tahap pengembangan menjadi dua kegiatan yaitu expert appraisal dan developmental testing. Expert appraisal adalah kegiatan memvalidasi atau menilai kelayakan rancangan suatu produk oleh ahli. Sedangkan developmental testing adalah kegiatan uji coba rancangan produk pada
15
subjek sesungguhnya. Pada saat uji coba rancangan produk, peneliti harus mengumpulkan data berupa respon, reaksi, maupun komentar dari subjek sebagai bahan pertimbangan dalam merevisi produk untuk kemudian diuji cobakan kembali hingga memperoleh hasil yang efektif.
d. Dessimination (Penyebarluasan)
Thiagrajan dalam Mulyatiningsih (2016) membagi tahap dessimination atau penyebarluasan menjadi tiga kegiatan, yaitu validation testing, packaging, diffusion, dan adoption. Pada tahap validation testing, produk yang telah direvisi pada tahap pengembangan diimplementasikan kembali kepada subjek dan pada saat itu juga dilakukan pengukuran ketercapian tujuan untuk mengetahui efektivitas produk yang dikembangkan. Tujuan yang belum tercapai perlu dijelaskan solusinya sehingga tidak terjadi kesalahan yang sama pada saat penyebarluasan produk. Selanjutnya yaitu tahap packaging (pengemasan), diffusion, and adoption. Setelah produk direvisi,produk kemudian dikemas dan disebarluaskan (difusi) untuk dipahami dan digunakan (adopsi) di kelas mereka.
2. Model Pengembangan ADDIE
ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery and Evaluations yang dikembangkan oleh Dick and Carey (1996). Menurut Mulyatiningsih (2016) inti kegiatan pada model ADDIE ini hampir sama dengan model 4D namun model model ADDIE lebih rasional dan lebih lengkap sehingga dapat
digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk pendidikan seperti model, strategi, metode, dan media pembelajaran.
langkah-langkah model ADDIE oleh Dick and Carey (1996) dijelaskan sebagai berikut.
a. Analysis (Analisis)
Pada tahap ini dilakukan analisis perlunya pengembangan model atau metode pembelajaran serta analisis kelayakan dan syarat-syarat pengembangan model atau metode pembelajaan baru. Analisis tersebut dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan yaitu: (1) apakah model atau metode baru dapat mengatasi masalah yang dihadapi, (2) apakah model atau metode baru mendapat dukungan fasilitas untuk dapat diterapkan, (2) apakah guru mampu menerapkan model atau metode baru tersebut. Analisis ini bertujuan untuk menghindari kasus rancangan yang bagus namun tidak dapat diterapkan karena beberapa keterbatasan.
b. Design (Desain)
Tahap ini memiki kesamaan dengan tahap merancang kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini merupakan kegiatan dengan proses yang sistematik yang dimulai dari menetapkan tujuan pembelajaran
,
merancang skenario, perangkat, hingga materi pembelajaran serta alat evaluasi hasil belajar. Rancangan model atau metode pembelajaran ini masih bersifat konseptual dan akan mendasari proses pengembangan yang akan dilakukan selanjutnya.17
c. Development (Pengembangan)
Tahap ini merupakan tahap realisasi produk yang telah dirancang sebelumnya. Dalam tahap ini, kerangka yang masih bersifat konseptual direalisasikan menjadi produk yang siap diimplementasikan. Sebagai contoh, apabila pada tahap desain telah dirancang penggunaan model atau metode baru yang masih konsep, maka pada tahap pengembangan disiapkan atau dibuat perangkat pembelajaran dengan seperti RPP, media dan materi pelajaran.
d. Implementation (Implementasi)
Pada tahap ini produk yang telah dikembangkan selanjutnya diimplementasikan pada situasi nyata di kelas. Materi yang disampikan sesuai dengan prosedur yang telah dirancang sebelumnya. Setelah implementasi dilakukan evaluasi awal untuk memberi umpan balik terkait penerapan model atau metode berikutnya.
e. Evaluation (Evaluasi)
Pada model ADDIE evaluasi dilakukan dalam dua tahap yaitu evaluasi formatif yang dilaksanakan pada setiap akhir tatap muka (mingguan) dan evaluasi sumatif yang dilakukan setelah kegiatan berakhir secara keseluruahan (semester). Revisi produk dibuat sesuai dengan hasil evaluasi.
3. Model Pengembangan Borg and Gall
Borg and Gall (1983: 775) mengembangkan langkah-langkah dalam penelitian pengembangan dengan sepulah langkah yaitu (1) penelitian dan
pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan format produk awal, (4) uji coba produk, (5) revisi produk, (6) uji coba lapangan, (7) revisi produk, (8) uji lapangan, (9) revisi produk akhir, (10) desiminasi dan implementasi. Sanjaya (2015: 135) menjelaskan bahwa kesepuluh langkah tersebut dapat disederhanakan tanpa mengurangi nilai penelitian dan pengembangan itu sendiri. Penyederhanaaan tersebut terdiri dari empat tahap dengan tujuh langkah penting dalam melaksanakan penelitian, yaitu:
1. Tahap pertama terdiri atas dua kegiatan yaitu memunculkan ide atau gagasan tentang produk yang akan dihasilkan diikuti dengan survey lapangan dan kepustakaan.
2. Tahap kedua adalah tahap pengembangan produk yakni mengimplementasikan produk awal dan menilainya dari sudut pandang proses, lokasi, dan subjek penelitian.
3. Tahap ketiga adalah tahap uji coba produk yang terdiri atas dua langkah yaitu uji coba produk terbatas dan jika memungkinkan dilanjutkan dengan uji coba yang lebih luas.
4. Tahap keempat adalah tahap validasi produk sebagai kegiatan pasca- pengembangan yang terdiri atas pengujian validasi produk untuk menilai keandalan produk hasil pengembangan. Selanjutnya adalah desiminasi dan pelaporan.
Berdasarkan ketiga model penelitian pengembangan di atas, peneliti memilih model ADDIE oleh Dick and Carey karena bersifat universal, cocok
19
digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk pendidikan seperti model, strategi, metode, dan media pembelajaran.dan dianggap lebih praktis.