Materi “Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu Pengetahuan” pada bab ini memfokuskan kajian mengenai Nilai-nilai Pancasila yang tidak hanya menjadi pedoman dalam bertindak di masyarakat, namun juga harus menjadi dasar dalam bidang keilmuan dan profesi. Mahasiswa dapat dikatakan menguasai materi pada bab IX tercermin pada terpenuhinya capaian pembelajaran sebagaimana berikut ini:
Ilmu pengetahuan merupakan salah satu pilar penting dalam membangun peradaban manusia. Tidak ada kemajuan suatu peradaban tanpa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai terapannya. Padahal kemampuan literasi pelajar Indonesia (mencakup kemampuan membaca, kemampuan penguasaan
Menjelaskan konsep ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan
1.
2.
Mengaitkan Pancasila dengan3.
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Merancang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan Pancasila
matematika dan sains), sebagai salah satu prasyarat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada pada peringkat 70 hasil tes PISA (Program for International Student Assesment) dari 78 negara yang dilakukan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) pada 2018 (Schleicher, 2019). Melihat realita ini, mahasiswa diharapat dapat terpacu untuk lebih giat lagi untuk membaca sebagai syarat penguasaan ilmu serta mampu menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku perkuliahan dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
120
STIMULAN
Andre adalah seorang tenaga medis yang baru saja lulus. Andre kemudian mendaftarkan diri pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit sebagai tenaga medis yang bertugas menangani karyawan serta masyarakat sekitar tempat bertugas. Setelah lulus tes dan diterima, pihak perusahaan akhirnya menempatkan Andrea di daerah luar Jawa untuk menjadi tenaga medis pada salah satu anak perusahaan. Hanya saja setelah mengetahui akan ditempatkan di luar Jawa, Andre justru mengundurkan diri. Andre beralasan jika daerah yang akan menjadi tempat tugasnya masih terpencil, sekaligus sangat berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya di kota. Padahal perusahaan yang akan ditempati Andre sangat membutuhkan tenaga medis, termasuk masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Pihak perusahaan padahal siap untuk memberikan berbagai fasilitas mulai dari tempat tinggal, kendaraan, hingga gaji yang sesuai.
Kasus Pertama
Pertanyaan untuk mahasiswa:
Apa pendapat Saudara terkait munculnya persoalan tersebut?
Apakah keputusan Andre yang menolak untuk ditempatkan di daerah terpencil bertentangan dengan semangat nilai-nilai Pancasila?
Apakah keputusan perusahaan yang bersedia memberikan berbagai fasilitas dan gaji yang sesuai pada Andre sudah tepat?
Apakah nilai-nilai Pancasila diperlukan bagi setiap profesi, tidak terkecuali tenaga medis?
1.
2.
3.
4.
1.
2. Pada bagian ini, berisi contoh kasus yang terjadi dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara di Indonesia. Mahasiswa diminta untuk memahami kasus yang dipaparkan kemudian memberikan tanggapan. Salin itu, mahasiswa juga diminta untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan dari kasus-kasus tersebut.
Kasus Kedua
121
1.
1)
2)
3)
Ekploitasi kekayaan alam yang merusak lingkungan masih kerap muncul di masyarakat Indonesia. Seperti yang dilansir liputan6.com (2019), Walhi beranggapan bahwa aktivitas tambang menjadi salah satu faktor kerusakan lingkungan di Jawa Barat. Aktivitas pertambangan yang dilakukan tanpa adanya kesadaran sosial, memang bisa menimbulkan dampak negatif. Kalangan profesionalisme selain mencari keuntungan dari segi bisnis, seharusnya juga memperhatikan dampak negatif dari lingkungan masyarakat tempatnya beraktivitas.
Kasus Kedua
Pertanyaan untuk mahasiswa:
Apa pendapat Saudara terkait munculnya persoalan tersebut?
Apakah aktivitas pertambangan yang dilakukan kalangan profesional yang tidak mengindahkan dampak lingkungan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila?
Bagaimana sikap yang seharusnya ditunjukkan masyarakat, aparat penegak hukum, dan pemerintah dalam menghadapi problematika di atas?
Apakah di daerahmu juga muncul kasus serupa?
1.
2.
3.
4.
Freeport sumber gambar:
https://tajukonline.com/
122
4
Metode perkuliahan adalah bagian dari strategi pembelajaran yang berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada mahasiswa untuk mencapai tujuan tertentu. Penyajian materi pada bab ini berupa:
BAHASAN
Metode pembelajaran
Ceramah, brainstorming, focus group discussion
dan tanya jawab
Alokasi waktu
100 menit
Alat, bahan dan sumber belajar
alat tulis, papan tulis, LCD, lembar kerja individu, dan lembar kerja kelompok.
ASUPAN
Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai terapannya telah merambah berbagai bidang kehidupan manusia secara ekstensif dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia secara intensif, termasuk mengubah pola pikir dan budaya manusia (Iriyanto, 2005). Dampak dari perubahan yang terjadi, terutama yang negatif seperti manipulasi kemajuan teknologi pada tumbuh dan kembang dimensi psikologis anak yang menjadikan mereka lebih individualis di tengah kebutuhan mengenali lingkungan sosialnya, telah menjadikan reorientasi pengembangan ilmu pengetahuan menjadi penting. Dalam konteks reorientasi inilah Pancasila sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan diwacanakan.
Wacana Pancasila sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menggambarkan Pancasila sebagai suatu sumber orientasi dan arah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimulai dari 1) ilmu pengetahuan dalam perspektif historis, 2) komponen-komponen dalam sistem ilmu pengetahuan, 3) pilar-pilar penyangga eksistensi ilmu pengetahuan, 4) prinsip-prinsip berpikir ilmiah, dan 5) Pancasila sebagai dasar bagi pilar-pilar penyangga eksistensi ilmu pengetahuan.
Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Historis
Problematika keilmuan dalam era millenium ketiga ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan ilmu pada masa-masa sebelumnya. Karena itu, untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, perlu dikaji aspek kesejarahan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari sini problematika keilmuan dapat diantisipasi dengan merumuskan kembali kerangka dasar nilai bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Kerangka dasar nilai ini harus menggambarkan suatu sistem filosofi kehidupan yang dijadikan prinsip kehidupan masyarakat, yang sudah mengakar dan membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu nilai-nilai Pancasila.
Ilmu pengetahuan berkembang melangkah secara bertahap menurut dekade waktu dan menciptakan jamannya. Dimulai dari jaman Yunani Kuno, Abad Tengah, Abad Modern, sampai Abad Kontemporer. Pada masa Yunani Kuno (abad ke-6 SM - 6M)—saat ilmu pengetahuan lahir, kedudukan ilmu pengetahuan identik dengan filsafat yang memiliki corak mitologis. Alam dengan berbagai aturannya diterangkan secara theogoni bahwa ada peranan para dewa yang merupakan unsur penentu segala sesuatu yang ada. Bagaimana pun corak mitologis ini telah mendorong upaya manusia terus menerobos lebih jauh dunia pergejalaan untuk mengetahui adanya sesuatu yang eka, tetap, dan abadi, di balik yang bineka, berubah, dan sementara.
1.
Setelah itu timbul gerakan demitologisasi yang dipelopori filsuf pra-Sokrates dengan kemampuan rasionalitasnya, sehingga filsafat mencapai puncak perkembangannya, seperti yang ditunjukkan oleh trio filsuf besar Socrates, Plato dan Aristoteles.
Filsafat yang semula bersifat mitologis berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai macam bidang. Aristoteles membagi pembidangan ilmu menjadi ilmu pengetahuan poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis (etika, politik), dan ilmu pengetahuan teoretik (ilmu alam, ilmu pasti, dan filsafat pertama atau kemudian disebut metafisika).
Namun, perlu dicatat bahwa ilmu pengetahuan yang dibangun filsuf Yunani bersifat spekulatif, karena murni hasil olah pikir (dikenal dengan pola berpikir deduktif) dan belum diuji secara empiris ( Kartanegara, 2002: 66).
Socrates sumber gambar:
https://www.lampost.co/
124
Memasuki Abad Tengah (abad ke-5 M) pasca Aristoteles filsafat Yunani Kuno menjadi ajaran praksis yaitu sebagaimana diajarkan oleh Stoa, Epicuri, dan Plotinus. Semua hal tersebut bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Romawi yang mengisyaratkan akan datangnya tahapan baru, yaitu filsafat yang harus mengabdi kepada agama (Ancilla Theologiae). Filsuf besar yang berpengaruh saat itu, yaitu Augustinus dan Thomas Aquinas, pemikiran mereka memberi ciri khas pada filsafat Abad Tengah. Filsafat Yunani Kuno yang sekuler kini dicairkan dari antinominya dengan doktrin gerejani, sehingga filsafat menjadi bercorak teologis. Biara tidak hanya menjadi pusat kegiatan agama, tetapi juga menjadi pusat kegiatan intelektual—walau masih berfokus pada pola berpikir deduktif (Santoso, 2016).
Bersamaan dengan itu kehadiran para filsuf Muslim tidak kalah penting seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, hingga Al-Gazali yang telah menyebarkan fi l s a f a t A r i s t o t e l e s d e n g a n merevitalisasinya di Bagdad (Irak) dan membawanya ke Cordova (Spanyol) untuk kemudian diwarisi oleh dunia Barat melalui kaum Patristik dan kaum Skolastik.
Revitalisasi filsafat warisan Yunani di dunia Muslim lebih jauh melahirkan ilmu pengetahuan yang berbasis empiri.
Termotivasi oleh nilai-nilai Islam, para ilmuwan Muslim mengenalkan sumber
pengetahuan baru, tidak saja empirik (alam dan manusia), namun juga wahyu (teks ajaran) yang ketika digunakan sebagai sumber pengetahuan untuk memahami Islam sebagai system of religion (hubungan manusia dengan Tuhannya—aqidah dan ibadah) telah melahirkan, misalnya, Ilmu Kalam dan Ilmu Fikih. Sementara itu, empirik (alam dan manusia) telah digunakan ilmuwan Muslim waktu itu untuk memahami Islam sebagai system of life sehingga mereka melanjutkan pengembangan ilmu-ilmu matematika dan alam, bahkan merintis ilmu sosial, melalui penerapan metode baru, yaitu observasi dan eksperimentasi.
(Santoso, 2016).
Metode empiris, baik eksperimentasi maupun observasi, dengan demikian, lahir dari peradaban Islam. Sebagai konsekuensi, peradaban Islam mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sehingga era itu disebut dengan golden era. (Ahmed, 2013). Beberapa nama ilmuwan yang namanya relatif abadi sampai sekarang karena kontribusi ilmunya adalah Jabir ibn Hayyan (721-815 M), bapak Ilmu Kimia; Al-Khawârijmî (780-850 M), bapak Aljabar dan logaritma diambil dari namanya Algorithm (versi bahasa Latin); Ibn Al-Haytsâm (965-1040), matematikawan dan ahli astronomi yang lebih dikenal dengan bapak Ilmu Optik dan perintis metode ilmiah dengan delapan langkah yang dikenal sekarang; Ibn Sînâ (980-1037), bapak Ilmu Kedokteran dan Ilmu Farmasi; dan Abu Al-Qâsim al-Zahrâwî (936-1013), bapak pembedahan modern;
dan Ibn Khaldun (1332-1406), bapak Filsafat Sejarah dan bapak Ilmu al-`Umrân (Sosiologi dan Antropologi).
Prestasi ilmuwan Muslim di abad pertengahan telah menginspirasi dan menjadi landasan bagi lahirnya Abad Modern (abad ke-18-19 M) di Barat yang dipelopori oleh gerakan Renaissance di abad ke-15 dan dimatangkan oleh gerakan Aufklaerung di abad ke-18, dan melalui langkah-langkah revolusionernya filsafat dan ilmu pengetahuan memasuki tahap baru atau modern. Kepeloporan revolusioner yang telah dilakukan oleh anak-anak Renaissance dan Aufklaerung seperti Copernicus, Galileo Galilei, Kepler, Descartes dan Immanuel Kant, telah memberikan implikasi yang amat luas dan mendalam (Santoso, 2016).
Jabir ibn Hayyan Al-Khawârijmî Ibn Al-Haytsâm
Ibnu Sina Abu Al-Qâsim al-Zahrâwî Ibn Khaldun Jabir ibn Hayyan Al-Khawârijmî Ibn Al-Haytsâm
Ibnu Sina Abu Al-Qâsim al-Zahrâwî Ibn Khaldun
126
Ilmu pengetahuan berkembang melangkah secara bertahap menurut dekade waktu dan menciptakan zamannya. Dimulai dari zaman Yunani Kuno, Abad Tengah, Abad Modern, sampai Abad Kontemporer. Pada masa Yunani Kuno (abad ke-6 SM - 6M)—saat ilmu pengetahuan lahir, kedudukan ilmu pengetahuan identik dengan filsafat yang memiliki corak mitologis. Alam dengan berbagai aturannya diterangkan secara theogoni bahwa ada peranan para dewa yang merupakan unsur penentu segala sesuatu yang ada. Bagaimana pun corak mitologis ini telah mendorong upaya manusia terus menerobos lebih jauh dunia pergejalaan untuk mengetahui adanya sesuatu yang eka, tetap, dan abadi, di balik yang bineka, berubah, dan sementara (Yacob, 1993).
Beberapa Aspek Penting dalam Ilmu Pengetahuan
Melalui kajian sejarah kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan di atas, dapat dikonstatasikan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung dua aspek yaitu aspek fenomenal dan aspek struktural. Aspek fenomenal menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan mewujud dalam bentuk masyarakat, proses, dan produk. Aspek struktural menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan di dalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
2.
a.
b. d.
c.
Sasaran yang dijadikan objek untuk diketahui (Gegenstand).
Objek sasaran ini terus-menerus dipertanyakan dengan suatu cara (metode) tertentu tanpa mengenal titik henti.
Ada alasan dan motivasi mengapa gegenstand itu terus- menerus dipertanyakan.
Jawaban-jawaban yang diperoleh kemudian disusun dalam suatu kesatuan sistem
(Wibisono, 1985).
Socrates sumber gambar:
https://www.pexels.com/
Ciri khas yang terkandung dalam ilmu pengetahuan adalah rasional, antroposentris, dan cenderung sekuler, dengan suatu etos kebebasan (akademis dan mimbar akademis). Konsekuensi yang timbul adalah dampak positif dan negatif. Positif dalam arti kemajuan ilmu pengetahuan telah mendorong kehidupan manusia ke suatu kemajuan (progress, improvement) dengan teknologi yang dikembangkan dan telah menghasilkan kemudahan- kemudahan yang semakin canggih bagi upaya manusia untuk meningkatkan kemakmuran hidupnya secara fisik-material. Negatif dalam arti ilmu pengetahuan telah mendorong berkembangnya arogansi ilmiah dengan menjauhi nilai-nilai agama, etika, yang akibatnya dapat menghancurkan.