dan mengajak kaum perempuan untuk berjuang sebagai roda pasangan kereta perangnya, sayap kedua garuda nasional kita. Pergerakan perempuan yang sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang dibangun kembali dan beberapa organisasi membentuk federasi berorientasi nasional dalam sebuah Kongres. Kongres diadakan untuk menata kembali pergerakan perempuan yang sempat terhenti, usaha yang dilakukan perempuan pasca koloni jepang lebih berkembang dalam proses utuk memperoleh kemerdekaan hingga perempuan berperan aktif dalam politik di Indonesia.10
Kesejahteraan Keluarga, yaitu sebuah organisasi yang melibatkan partisipasi perempuan dan laki-laki dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera.11
PKK yang merekrut anggota sampai lapisan bawah masyarakat diharapkan mampu membawa pada kondisi keluarga yang sejahtera, yaitu keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia baik secara material, sosial, mental dan spiritual serta keluarga yang berdaya yaitu keluarga yang hidup sejahtera, maju dan mandiri. Selain itu, PKK diharapkan mampu membebaskan perempuan dari belenggu budaya patriarkhi, sehingga memiliki kemandirian. Melalui PKK diharapkan harkat dan martabat perempuan sebagai bagian dari keluarga dapat ditingkatkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya PKK adalah: politik, ekonomi, sosial dan budaya. Eksistensi PKK tidak dapat dilepaskan dari persaingan dua aliran politik dalam kekuasaan, yaitu golongan komunis dan non- komunis pada akhir pemerintahan Orde Lama, di samping faktor politik makro, yaitu berhubungan dengan politik gender yang mengarahkan perempuan berperan sebagai ibu dan istri, maupun faktor politik mikro yang mendefinisikan masalah perempuan dalam kerangka kebutuhan dasar keluarga.12
Dari aspek ekonomi, terjadinya kemiskinan yang melanda sebagian masyarakat Indonesia dan transformasi dari sistem agraris menjadi industrial mengakibatkan timbulnya pembagian kerja, laki-laki di sektor publik dan perempuan di sektor domestik, sehingga perempuan kembali dalam kehidupan rumah tangga dan menyebabkan terjadinya domestikasi yang tercermin pada
11Ramandita Shalfiah, "Peran Pemberdayaan Dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dalam Mendukung Program-Program Pemerintah Kota Bontang," Jurnal Universitas Mulawarman, Vol.
1. No. 3 (2017): 975-984.
12Ramandita Shalfiah, "Peran Pemberdayaan Dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dalam Mendukung Program-Program Pemerintah Kota Bontang," 979-980.
pembentukan organisasi perempuan pada masa Orde Baru, dalam bentuk PKK.
Secara sosial eksistensi PKK tidak dapat dilepaskan dari gerakan sosial yang bertujuan mengadakan perubahan dan tuntutan feminisme dalam mewujudkan emanspasi perempuan dan kesetaraan gender, meskipun tuntutan ini tidak ditonjolkan karena emansipasi perempuan dan kesetaraan gender dianggap akan tercapai bersamaan dengan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sementara itu, munculnya PKK didasarkan pada nilai-nilai budaya Jawa yang menekankan pada budaya patriarki yang tercermin dalam 10 program pokok PKK. Aspek ekonomi merupakan aspek yang berpengaruh dominan pada awal kemunculan PKK, karena adanya kemiskinan. Namun dalam perkembangannya aspek politik menjadi sangat berpengaruh karena terjadinya politisasi gerakan perempuan dengan mendirikan organisasi isteri termasuk PKK. Hegemoni kekuasaan berperan penting dalam pembentukan PKK, hal ini ditunjukkan dengan terbitnya Surat Kawat Mendagri Nomor: SUS/3/6/12 tertanggal 27 Desember 1972.13
Paradigma kelembagaan yang dikembangkan PKK adalah paradigma dari atas ke bawah (top down) dan berdasarkan struktur hirarki kedinasan dari tingkat pusat sampai daerah yang direpresentasikan dengan adanya dewan penyantun, sehingga narasi besar tetap berpeluang untuk mendominasi kebijakan dan melakukan kontrol terhadap program-program yang dilakukan PKK. Paradigma ini bergerak dari konsep pendidikan, pembinaan, dan pemberdayaan. Paradigma pendidikan mengarahkan PKK bertanggung jawab pada sektor domestik, sementara paradigma pembinaan menyebabkan beban PKK semakin besar karena
13Lilik Aslichati, "Organisasi Pemberdayaan Dan Kesejahteraan Keluarga Sebagai Sarana Pemberdayaan Perempuan," Jurnal Organisasi dan Manajemen, Vol. 7. No. 1 (2011): 1-7.
bertanggung jawab terhadap keluarga. Selanjutnya, dikembangkan paradigma pemberdayaan agar PKK mampu melakukan upaya pemberdayaan keluarga meskipun pada kenyataannya kekuasaan tetap melakukan kontrol. Pada paradigma pendidikan dan pembinaan, kekuasaan secara langsung melakukan hegemoni, sementara pada paradigma pemberdayaan, muncul kesadaran dari kekuasaan untuk melakukan pemberdayaan meskipun kenyataannya hanya sebatas slogan, sehingga PKK tetap menjadi gerakan statis. Dekonstruksi atas kelembagaan PKK perlu dilakukan agar PKK dapat menjadi organisasi yang mandiri dan berdaya.14
Makna PKK dikaitkan dengan perspektif kesetaraan dan keadilan gender adalah keharmonisan, solidaritas, keadilan, keselarasan, dan keseimbangan.
Makna keharmonisan menunjukkan bahwa PKK merupakam: (1) organisasi yang bertujuan membangun keharmonisan keluarga; dan (2) organisasi yang mengarahkan perempuan untuk menciptakan keluarga yang harmonis, yaitu keluarga yang berada dalam kondisi damai, tentram, dan nyaman. Makna solidaritas menunjukkan bahwa PKK merupakan: (1) organisasi yang tumbuh sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan perempuan; (2) organisasi yang berusaha meningkatkan harkat dan martabat perempuan. Makna keadilan menunjukkan bahwa PKK merupakan: (1) organisasi yang berupaya mewujudkan keadilan dalam keluarga dan masyarakat; (2) organisasi yang berupaya mewujudkan keadilan gender, sehingga laki-laki dan perempuan memiliki
14Ramandita Shalfiah, "Peran Pemberdayaan Dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dalam Mendukung Program-Program Pemerintah Kota Bontang," 982.
kedudukan dan peran yang sama dalam kehidupan, karena selama ini perempuan dianggap sebagai other (Liyan) sedangkan laki-laki adalah self (Diri).15
Makna keselarasan menunjukkan bahwa PKK merupakan: (1) organisasi yang berupaya menuju terciptanya suasana yang tertib, teratur, aman, dan damai, sehingga timbul ketentraman lahir batin dalam keluarga; (2) organisasi yang berusaha menuju pada terwujudnya perilaku yang baik, sopan berdasarkan tata tertib masyarakat yang penuh rasa tanggung jawab, sehingga tidak terjadi hegemoni, dominasi, subordinasi dan marginalisasi perempuan. Makna keseimbangan menunjukkan bahwa PKK merupakan: (1) organisasi yang berupaya menuju terciptanya kesetaraan dalam keluarga dan masyarakat; (2) organisasi yang berupaya mewujudkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, agar memiliki kedudukan dan peran yang sama dalam kehidupan.16 C. Konsep Keluarga Harapan Pasca Reformasi
Pada masa reformasi, kegiatan pembangunan tetap berjalan sesuai dengan target pembangunan yang dibuat masing-masing pemerintah, meskipun belum memiliki karakter yang jelas kemana arah pembangunan Indonesia, ketidak jelasan ini menghasilkan banyak program pembangunan dibuat, banyak pula program dibuat untuk meminimalisir dampak sampingan dari pembangunan.
Berbagai program diluncurkan untuk mengatasi permasalahan masyarakat terhadap akses kebutuhan dasar, misal dengan program Bantuan Langsung Tunai
15Sri Marwanti dan Ismi Dwi Astuti, "Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Melalui Pengembangan Kewirausahaan Keluarga Menuju Ekonomi Kreatif Di Kabupaten Karanganyar,"
Sepa, Vol. 9 No. 1 9.1 (2012): 134-144.
16Sri Marwanti dan Ismi Dwi Astuti, "Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Melalui Pengembangan Kewirausahaan Keluarga Menuju Ekonomi Kreatif Di Kabupaten Karanganyar,"
135.
(BLT) yang kemudian berubah nama menjadi Bantuan Langsung Sementara (BLSM), sebelumnya Program Beras Miskin dari tahun 2002 sampai saat ini tetap dijadikan program andalan. Dan sejak tahun 2007 diluncurkan kembali Program Keluarga Harapan (PKH).17
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab dua, Program Keluarga Harapan bukan murni program dari Pemerintah Indonesia, karena Program keluarga harapan ini diadopsi dari sejumlah negara di kawasan Amerika Latin, seperti Brasil, Cile, Nikaragua, dan Meksiko. Di kawasan Asia Tenggara, Filipina dan Indonesia adalah negara yang menguji coba program untuk keluarga sangat miskin ini. Pemerintah Indonesia melalui Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang diketuai Wakil Presiden RI dan terdiri atas sejumlah kementerian terkait (Kemensos, Kemendikbud, Kemenkes, Kemendagri, Kemenag, Kemenkominfo, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bappenas) telah menerapkan PKH di tujuh provinsi pada 2007. Dalam perjalanannya, PKH dikembangkan di 25 provinsi pada 2011 dan telah mencakup 33 provinsi pada awal 2012.18
Program Keluarga Harapan adalah program nasional dalam membantu keluarga sangat miskin (KSM) di Tanah Air guna memperoleh layanan gratis pendidikan dan kesehatan. peserta PKH diarahkan pada Rumah Tangga Sangat Miskin. Tetapi mulai tahun 2012 basis bantuan kemudian diarahkan pada Keluarga Sangat Miskin yang terdiri dari orang tua (ayah dan ibu) serta anak.
17Andi Suci Anita dan Umi Salawati, "Analisis Pendapatan Penerima Bantuan Langsung Masyarakat-Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (BLM-PUAP) di Kabupaten Barito Kuala," Jurnal Agribisnis Perdesaan, Vol. 1. No. 04 (2011): 285-288.
18Juli Panglima Saragih, "Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Di Daerah Istimewa Yogyakarta,"
Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, Vol. 6. No. 1 (2015): 45-59.
Perubahan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa keluarga adalah satu unit yang relevan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Orang tua mempunyai tanggungjawab terhadap pendidikan, kesehatan, kesejahtaraan, dan masa depan anak. Oleh karenanya, keluarga adalah unit yang relevan dalam upaya memutus rantai kemiskinan antar generasi.19
Program Keluarga Harapan merupakan bantuan tunai bersyarat bagi 2,4 juta Rumah Tangga/keluarga yang memiliki kesejahteraan terendah di Indonesia. Para peserta memperoleh bantuan tunai bila memenuhi kriteria yang terkait dengan kesehatan dan pendidikan. Program ini tidak hanya membantu para pesertanya untuk mengatasi persoalan keuangan, tapi juga memperbaiki masa depan generasi penerus dari para peserta tersebut. Kriteria keluarga yang mendapat bantuan PKH adalah mereka yang mempunyai dua anak yang masih sekolah di sekolah dasar dan sekolah lanjut tingkat pertama serta ibu hamil. Dana bantuan dibayarkan setiap tiga bulan sebesar Rp500 ribu tiap KK. Dimana Sebagai Imbalannya RTSM Tadi Diwajibkan Untuk Memeriksakan Anggota Keluarganya Ke Puskesmas Dan/atau Menyekolahkan Anaknya Dengan Tingkat Kehadiran Sesuai Ketentuan.
Bantuan Sosial adalah bantuan berupa uang, barang, dan jasa kepada keluarga dan/atau seseorang miskin, tidak mampu, dan/atau rentan terhadap risiko sosial.20 Sasaran PKH merupakan keluarga dan/atau seseorang yang miskin dan rentan serta terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, memiliki komponen kesehatan, pendidikan, dan/atau kesejahteran sosial.21 Kriteria
19Pasal 1 angka 1 Permensos 1/2018.
20Pasal 1 angka 3 Permensos 1/2018.
21Pasal 3 Permensos 1/2018.
komponen kesehatan meliputi:22 1) ibu hamil/menyusui; dan 2) anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun. Kriteria komponen pendidikan meliputi:23 1) anak sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah atau sederajat; 2) anak sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah atau sederajat; 3) anak sekolah menengah atas/madrasah aliyah atau sederajat; dan 4) anak usia 6 (enam) sampai dengan 21 tahun yang belum menyelesaikan wajib belajar 12 tahun. Sedangkan kriteria komponen kesejahteraan sosial meliputi:24 1) lanjut usia mulai dari 60 tahun; dan 2) penyandang disabilitas diutamakan penyandang disabilitas berat.
PKH ini bertujuan untuk, yaitu:25 1) untuk meningkatkan taraf hidup Keluarga Penerima Manfaat melalui akses layanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial; 2) mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan rentan; 3) menciptakan perubahan perilaku dan kemandirian Keluarga Penerima Manfaat dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan sosial; 4) mengurangi kemiskinan dan kesenjangan; dan 5) mengenalkan manfaat produk dan jasa keuangan formal kepada Keluarga Penerima Manfaat. Keluarga Penerima Manfaat PKH berhak mendapatkan:26 1) Bantuan Sosial PKH; 2) pendampingan PKH; 3) pelayanan di fasilitas kesehatan, pendidikan, dan/atau kesejahteraan sosial; dan 4) program Bantuan Komplementer di bidang kesehatan, pendidikan, subsidi energi, ekonomi, perumahan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Selain memiliki hak, keluarga penerima manfaat PKH juga memiliki kewajiban yaitu berkewajiban
22Pasal 5 ayat (1) Permensos 1/2018.
23Pasal 5 ayat (2) Permensos 1/2018.
24Pasal 5 ayat (3) Permensos 1/2018.
25Pasal 2 Permensos 1/2018.
26Pasal 6 Permensos 1/2018.
untuk:27 1) memeriksakan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan bagi ibu hamil/menyusui dan anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun; 2) mengikuti kegiatan belajar dengan tingkat kehadiran paling sedikit 85% (delapan puluh lima persen) dari hari belajar efektif bagi anak usia sekolah wajib belajar 12 tahun; dan 3) mengikuti kegiatan di bidang kesejahteraan sosial sesuai dengan kebutuhan bagi keluarga yang memiliki komponen lanjut usia mulai dari 60 tahun dan/atau penyandang disabilitas berat.
Jadi, PKH itu adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga dan/atau seseorang miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin. Tujuan dari PKH ini antara lain adalah untuk meningkatkan taraf hidup keluarga penerima manfaat melalui akses layanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial; serta mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan rentan.
Penyaluran Bantuan Sosial PKH dilakukan secara nontunai. Besar manfaat, jumlah penerima, dan lokasi Bantuan Sosial PKH dari setiap penyaluran Bantuan Sosial PKH ditetapkan oleh direktur yang menangani pelaksanaan PKH.
Pelaksanaan penyaluran Bantuan Sosial dilaksanakan secara bertahap dalam 1 (satu) tahun. Nilai Bantuan Sosial PKH ditetapkan oleh direktur yang menangani pelaksanaan PKH mengenai indeks dan komponen Bantuan Sosial PKH.28 Kementerian Sosial melalui Bank Penyalur melakukan penyaluran Bantuan Sosial PKH secara nontunai ke rekening atas nama Keluarga Penerima Manfaat PKH.
27Pasal 7 Permensos 1/2018.
28Pasal 37 dan Pasal 38 Permensos 1/2018.
Rekening atas nama Keluarga Penerima Manfaat PKH itu, dapat diakses melalui Kartu Keluarga Sejahtera.29
Penyaluran Bantuan Sosial secara nontunai dapat dikecualikan bagi:30 1) penyandang disabilitas berat; 2) lanjut usia terlantar nonpotensial; 3) eks penderita penyakit kronis nonpotensial; 4) komunitas adat terpencil; dan/atau 5) daerah yang belum memiliki infrastruktur untuk mendukung penyaluran Bantuan Sosial PKH secara nontunai. Penyaluran Bantuan Sosial PKH secara nontunai dapat diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat dengan kondisi:31 1) meninggal dunia sebelum melakukan aktivasi Kartu Keluarga Sejahtera; dan 2) menjadi tenaga kerja Indonesia sebelum melakukan aktivasi Kartu Keluarga Sejahtera.
Keluarga Penerima Manfaat yang meninggal dunia sebelum melakukan aktivasi Kartu Keluarga Sejahtera dan Keluarga Penerima Manfaat yang menjadi tenaga kerja Indonesia sebelum melakukan aktivasi Kartu Keluarga Sejahtera, mengajukan permohonan Bantuan Sosial PKH dengan melengkapi persyaratan:32 1) surat keterangan ahli waris dari kecamatan; 2) surat keterangan dari dinas sosial daerah kabupaten/kota atau surat keterangan dari kecamatan yang menyatakan ahli waris Keluarga Penerima Manfaat yang berhak menerima dana Bantuan Sosial PKH; dan/atau c; 3) surat keterangan dari dinas tenaga kerja daerah kabupaten/kota atau surat keterangan dari kecamatan yang menyatakan bahwa Keluarga Penerima Manfaat Bantuan Sosial PKH merupakan tenaga kerja Indonesia.
29Pasal 39 ayat (1) dan (2) Permensos 1/2018.
30Pasal 39 ayat (3) Permensos 1/2018.
31Pasal 45 ayat (1) Permensos 1/2018.
32Pasal 45 ayat (3) Permensos 1/2018.
Mekanisme penyaluran Bantuan Sosial PKH secara nontunai meliputi:
1. Pembukaan rekening penerima Bantuan Sosial PKH. Pembukaan rekening penerima Bantuan Sosial PKH dilakukan oleh Bank Penyalur secara kolektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai perbankan.
Pembukaan rekening penerima Bantuan Sosial PKH berdasarkan surat keputusan direktur yang menangani pelaksanaan PKH.33
2. Sosialisasi dan edukasi; Sosialiasi dan edukasi dilaksanakan oleh Bank Penyalur Bantuan Sosial PKH dan pelaksana PKH kepada penerima Bantuan Sosial PKH.34
3. Distribusi Kartu Keluarga Sejahtera;35 Distribusi Kartu Keluarga Sejahtera kepada Keluarga Penerima Manfaat dilakukan oleh Bank Penyalur dibantu oleh pendamping sosial. Kartu Keluarga Sejahtera yang sudah diterima oleh Keluarga Penerima Manfaat harus dilakukan aktivasi. Aktivasi Kartu Keluarga Sejahtera untuk memastikan Kartu Keluarga Sejahtera telah diterima oleh penerima manfaat PKH.
4. Proses penyaluran Bantuan Sosial PKH;36 Proses penyaluran Bantuan Sosial PKH dilaksanakan oleh Kementerian Sosial melalui Bank Penyalur ke rekening atas nama penerima Bantuan Sosial PKH. Proses penyaluran Bantuan Sosial PKH itu dilaksanakan oleh Bank Penyalur dan diberikan tanpa pengenaan biaya. Proses penyaluran Bantuan Sosial PKH dilakukan dengan memindahbukukan /pemindahbukuan dana dari rekening Pemberi
33Pasal 41 Permensos 1/2018.
34Pasal 42 Permensos 1/2018.
35Pasal 43 ayat (1), (2) dan (3) Permensos 1/2018.
36Pasal 44 ayat (1), (2) dan (3) Permensos 1/2018.
Bantuan Sosial PKH di Bank Penyalur kepada rekening penerima Bantuan Sosial PKH.
5. Penarikan dana Bantuan Sosial PKH;37 Penarikan dana Bantuan Sosial PKH dilakukan melalui Bank Penyalur dan/atau agen yang ditunjuk oleh Bank Penyalur.
6. Rekonsiliasi hasil penyaluran Bantuan Sosial PKH;38 dan Rekonsiliasi hasil penyaluran Bantuan Sosial PKH dilaksanakan setiap tahap penyaluran dan/atau sesuai dengan kebutuhan. Rekonsiliasi hasil penyaluran Bantuan Sosial PKH dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan tingkat pusat. Rekonsiliasi hasil penyaluran Bantuan Sosial PKH itu dilakukan oleh pelaksana PKH dan Bank Penyalur mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan tingkat pusat.
7. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan penyaluran Bantuan Sosial PKH.39 Pemantauan penyaluran Bantuan Sosial PKH dilaksanakan setiap tahap penyaluran dan/atau sesuai dengan kebutuhan. Evaluasi penyaluran Bantuan Sosial PKH dilakukan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan penyaluran Bantuan Sosial PKH. Kemudian pelaporan penyaluran Bantuan Sosial PKH dilaksanakan secara berkala oleh Bank Penyalur kepada Kementerian Sosial.
Pada sektor pengentasan kemiskinan, pemerintah melakukan akselerasi besar dengan penambahan target Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Jika tahun 2016 jumlah KPM PKH masih 3,5 keluarga, maka pada 2017 menjadi 6 juta keluarga
37Pasal 46 Permensos 1/2018.
38Pasal 47 ayat (1), (2) dan (3) Permensos 1/2018.
39Pasal 48 Permensos 1/2018.
dan dan pada tahun 2018 ini KPM PKH telah mencapai 10 juta keluarga.
Pemerintah menjadikan PKH sebagai episentrum program-program pengentasan kemiskinan di Indonesia. Sehingga sistem penyelenggaraan PKH harus diperkuat.
Salah satu tujuan akhir dari PKH adalah meningkatkan partisipasi sekolah baik itu sekolah dasar maupun sekolah menengah.40 Untuk meningkatkan tingkat partisipasi sekolah maka keikutsertaan mereka yang berada di luar sistem persekolahan harus ditingkatkan. Sebagian besar dari mereka yang pada usia sekolah tidak berada dalam sistem persekolahan biasanya menjadi pekerja anak.
Untuk meningkatkan partisipasi tersebut, maka PKH harus dapat menjaring mereka yang berada di luar sistem persekolahan termasuk mereka yang menjadi pekerja anak. Pendamping PKH, terutama untuk daerah yang diduga banyak terdapat pekerja anaknya akan dibekali dengan pengetahuan berkaitan dengan bimbingan kepada pekerja anak dalam rangka mempersiapkan mereka kembali ke bangku sekolah. Dengan demikian, PKH membuka peluang terjadinya sinergi antara program yang mengintervensi sisi supply dan demand, dengan tetap mengoptimalkan desentralisasi, koordinasi antar sektor, koordinasi antar tingkat pemerintahan, serta antar pemangku kepentingan (stakeholders). Pada akhirnya, implikasi positif dari pelaksanaan PKH harus bisa dibuktikan secara empiris sehingga pengembangan PKH memiliki bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan.
40Megawati Simanjuntak, "Karakteristik Demografi, Sosial, dan Ekonomi Keluarga Penerima Program Keluarga Harapan (PKH)," Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, Vol. 3. No. 2 (2010):
101-113.
BAB V
RELEVANSI KONSEP KELUARGA MASLAHAT KH. HUSEIN MUHAMMAD DENGAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)
KEMENTERIAN SOSIAL RI
Bab ini merupakan bab inti dari penelitian ini. Sebagaimana telah dijelaskan pada bab satu dan kedua, rukun atau pilar dari konsepsi pemikiran Keluarga Maslahat Husein Muhammad terdiri atas lima komponen pokok, yaitu:
1) Kesalingan menghormati; 2) membahagiakan lahir batin; 3) melindungi, menjaga; 4) mendukung, bekerjasama; 5) menyayangi dan mencintai.
Berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) Tahun 2005, kemiskinan menjadi lokus utama Program Keluarga Harapan (PKH).
Kemiskinan merupakan sebuah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, baik laki-Iaki maupun perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Oleh sebab itu, kemiskinan tidak hanya terkait dengan pendapatan, tetapi juga mencakup kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin dan keterbatasan akses masyarakat miskin dalam penentuan kebijakan publik yang berdampak pada kehidupannya. Dengan demikian, penanggulangan kemiskinan melalui PKH akan berkaitan erat dengan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin, yaitu hak sosial, budaya, ekonomi dan politik yang secara normatif merupakan tanggung jawab negara kepada warga negara agar masyarakat tidak
jatuh miskin dan masyarakat miskin harus segera dipulihkan hak-haknya agar dapat mengembangkan kehidupan yang bermartabat.1
PKH dengan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin, menurut penulis sudah tepat, dengan dilaksanakan menggunakan metode Pendekatan Berbasis Hak (Right Based Approach).
Pendekatan berbasis hak (right based approach). Hal itu dikarenakan berimplikasi langsung pada perubahan cara pandang terhadap hubungan negara dan masyarakat khususnya masyarakat miskin. Pendekatan berbasis hak dalam penanggulangan kemiskinan mengatur kewajiban negara, artinya bahwa negara (pemerintah, DPR, DPD, TNI/POLRI, dan lembaga tinggi negara lainnya) secara bersama-sama berkewajiban untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin secara bertahap dan progresif.2
Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga telah mengeluarkan kebijakan menghormati merupakan pandangan, sikap dan perilaku pemerintah dan lembaga negara memperhatikan dan mengedepankan hak-hak dasar masyarakat miskin, baik dalam perumusan kebijakan publik maupun penyelenggaraan pelayanan publik, termasuk tidak turut serta dalam pelanggaran terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin. Melindungi bermakna bahwa negara akan melakukan upaya nyata dan sungguh-sungguh untuk mencegah dan menindak setiap bentuk tindakan pelanggaran hak-hak dasar masyarakat miskin
1Juneman, Program Keluarga Harapan Di Indonesia: Dampak Pada Rumah Tangga Sangat Miskin di Tujuh Provinsi (Jakarta: P3KS Press, 2012), 10; Noni Feliani, "Implementasi Pembelajaran PKBM Berbasis Budaya Guna Mendukung Pelestarian Budaya Di PKBM Wiratama Yogyakarta," Jurnal Elektronik Mahasiswa Pend. Luar Sekolah-S1, Vol. 6. No. 02 (2017): 159- 169; Moh. Wardi, "Madura Awards dan Perbandingan Prestasi Pendidikan Empat Kabupaten Di Madura," Kabilah: Journal of Social Community, Vol. 2. No. 1 (2017): 60-82.
2Bappenas, Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (Jakarta: Bappenas, 2005), 2.
yang dilakukan oleh berbagi pihak. Memenuhi berarti bahwa upaya negara untuk menggunakan sumberdaya dan sumberdana yang tersedia dalam memenuhi hak- hak dasar masyarakat miskin, termasuk menggerakkan secara aktif sumberdaya dari masyarakat, swasta dan berbagai pihak.3
Pelaksanaan kewajiban negara untuk terlebih dahulu menghormati, melindungi, dan kemudian memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin akan membuat proses pemenuhan hak-hak dasar tersebut lebih progresif dan tidak terhambat oleh ketersediaan sumberdaya dan sumberdana. Negara dapat memilih berbagai instrumen kebijakan baik melalui anggaran maupun peraturan perundangan untuk melaksanakan kewajiban pemenuhan hak-hak dasar secara bertahap. Negara juga dapat menentukan skala prioritas dalam penggunaan sumberdaya dan sumberdana secara lebih efisien dan lebih berpihak kepada masyarakat miskin. Pemerintah sebagai salah satu penyelenggara negara dan pengemban amanat rakyat berperan aktif untuk menciptakan perluasan kesempatan bagi terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat miskin seperti hak atas pekerjaan, hak atas pangan, hak atas pendidikan dan kesehatan dan sebagainya.
Dengan memperhatikan sumberdaya dan sumberdana yang tersedia, pemerintah bertindak aktif dalam memprioritaskan anggaran dan regulasi yang mendukung pemenuhan hak-hak dasar. Pemerintah akan berupaya sekuat tenaga untuk mengatur dan mengarahkan sektor-sektor produktif, investasi publik dan regulasi yang lebih mengarah pada penanggulangan kemiskinan. Oleh sebab itu, kebijakan
3Bappenas, Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan, 2.