Kerjasama yang telah terbangun tersebut setidak-tidaknya telah berbuah beberapa manfaat dari PKH bagi masyarakat. Manfaat kerja sama itu, baik dari aspek Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi maupun perubahan sikap atau pola pikir.
Di bidang Pendidikan, terjadi peningkatan partisipasi sekolah anak peserta PKH dan penguatan prestasi belajar siswa PKH. Pada bidang Kesehatan, terjadi peningkatan akses layanan kesehatan, penguatan layanan bagi ibu hamil dan Balita, serta meningkatnya kunjungan peserta PKH ke layanan fasilitas kesehatan.
Untuk bidang ekonomi, telah terjadi peningkatan jangka pendek pendapatan keluarga, meringankan beban kebutuhan keluarga, pemutusan mata rantai kemiskinan dalam jangka panjang. Selain itu, meningkatknya perputaran ekonomi dan terpeliharanya taraf kesejahtraan sosial. Sementara perubahan sikap atau pola pikir dimana munculnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan bagi keluarga, serta penguatan kerja sama antar peserta PKH/warga dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.29
Masih banyaknya kekerasan yang terjadi di negeri ini. Ada kekerasan terhadap orang karena berbeda keyakinan, kekerasan antar sesama pemeluk agama, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kekerasan antar kelompok social, dan sebagainya. Dalam PKH, ada keluarga yang nyata-nyata masuk golongan mampu, namun tetap menerima dan dari program tersebut. Padahal, Bantuan Langsung Tunai (BLT) notabene ditujukan bagi keluarga miskin.
Begitupun PHK. Kendati telah berjalan sejak 2007, masalah demi masalah masih mewarnai program. Sebagaimana BLT, masih ada keluarga yang tidak layak menerima bantuan, tapi tetap masuk ke dalam KPM. Masalah ini masih kerap ditemukan di sejumlah daerah. Fenomena ini memperlihatkan kepada semua bahwa hubungan persaudaraan dan jalinan kasih sayang di antara sesama manusia seakan-akan hilang atau semakin menipis atau sedang terganggu. Keadaan ini sungguh bertolak belakang dari citra bangsa ini sebagai bangsa yang religeous dan bangsa besar yang beragama. Menurut Husein Muhammad, Islam sesungguhnya adalah agama Kasih Sayang. Setiap hari umat Islam diperintahkan membaca
“Bismillahirrahmaninirrahim”, baik ketika melaksanakan shalat maupun ketika akan melakukan pekerjaan-pekerjaaan yang baik. Setiap surah dalam al-Qur’an juga diawali dengan kalimat ini. Kata-kata ini berarti: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.30
Pembekalan untuk mempertebal rasa cinta dan menyangi dalam PKH bisa dipahami karena selama berabad-abad peradaban manusia telah membuat gambaran tentang perempuan dengan cara pandang ambigu dan paradoks.
30Husein Muhammad, “Islam Agama Rahmatan li al-Alamin.” Teks Khutbah Jum’at, dibacakan di masjid LIPI, Jakarta pada 19 September (2014); 1.
Perempuan dipuja, dicinta, disayang, sekaligus direndahkan. Ia dianggap sebagai tubuh yang indah bagai bunga ketika ia mekar, tetapi kemudian dicampakkan begitu saja begitu ia layu. Tubuh perempuan identik dengan daya pesona dan kesenangan seksual. Tetapi dalam waktu yang sama ia dieksploitasi demi hasrat diri dan keuntungan materi. Perempuan dipuji sebagai “tiang negara” dan ketika ia ibu, ia dipandang dengan penuh kekaguman: “surga di telapak kaki ibu”. Tetapi pada saat yang lain, ia menjadi makhluk Tuhan kelas dua. Dia terlarang tampil di panggung politik yang hingar-bingar. Ketika di meja makan, ibu setia menunggu bapak dan anak lelaki sampai mereka kenyang. Ketika ia seorang isteri, dia harus tunduk sepenuhnya kepada lelaki, suaminya. Ia tak boleh cemberut manakala suami bergairah terhadap tubuhnya, kapan saja, di mana saja dan dengan cara apa saja.31
Perempuan itu indah. Di banyak bagian dunia Arab, tubuh perempuan harus dilindungi dan dibungkus rapat-rapat, sering hanya menyisakan dua buah bola matanya atau bahkan acap wajahnya dilekatkan cadar hitam. Tubuhnya terlarang menantang laki-laki. Konon ini karena di dalamnya menyimpan sesuatu yang amat berharga. Bila melepaskan bungkus tubuhnya di ruang sosial, dia harus
“ditertibkan” dan pelanggaran atasnya harus dihukum. Kemanapun dia harus selalu dikontrol. Hari ini, konon, di Saudi Arabia control atas tubuhnya dilakukan dengan teknologi “remote”. Seorang feminis muslim Iran, Haideh Moghissi, mengemukakan keadaan di atas dengan tajam bahwa “Ekspresi perempuan atas keinginan-keinginannya dan usahanya untuk memperoleh hak-haknya terlalu
31Husein Muhammad, “Agama dan Seksualitas” Jurnal Perempuan, edisi 77 Vol.18 No. 2, Mei (2013).
sering dianggap bertentangan dengan kepentingan-kepentingan laki-laki dan melawan hak-hak laki-laki atas perempuan yang telah diberikan oleh Tuhan”.
Menurutnya, alasan utama untuk mendukung praktik-praktik kontrol atas seksualitas dan moralitas perempuan adalah “adanya anggapan bahwa perempuan merupakan makhluk lemah dalam pertimbangan moral, memiliki kemampuan kognitif yang rendah, kuat secara seksual dan mudah terangsang. Dalam perspektif ini, perempuan cenderung melakukan pelanggaran.”32 Lelaki begitu perkasa dan pemilik otoritas raja bahkan boleh jadi dewa.
Basis utama perhatian kasus yang akan ditanggulangi melaui PKH di atas, dalam perspektif Husein Muhammad adalah melalui kebersamaan untuk saling menyayangi dan menyintai berdasarkan prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan). Prinsip fundamental dan inti Islam ini ingin menegaskan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Pernyataan ini mengandung makna bahwa tidak ada di jagat raya ini, Eksistensi Pemilik Otoritas Absolut selain Tuhan, Allah. Eksistensi Kemahatunggalan Tuhan tidak melulu diajukan dalam kerangka pemaknaan teosentrisnya, tetapi lebih dalam kerangka manusia dan kemanusiaan. Dengan kata lain, Keesaan Tuhan harus menjadi landasan utama untuk tatakelola manusia dalam siklus kehidupan mereka di muka bumi ini, termasuk untuk saling menyayangi dan menyintai. Tauhid adalah jantung dan ruh Islam. Kepadanyalah seluruh gerak dan pemikiran manusia dilandaskan, diarahkan dan dipersembahkan.
32Haideh Moghissi, Feminisme dan Fundamentalisme Islam (LKiS, Yogyakarta-ICIP, Jakarta, 2005), 29.
Sayyed Hossein Nasr, salah seorang cendikiawan muslim terkemuka kelahiran Iran menyatakan, “Jantung atau inti Islam adalah penyaksian Ke-Esa-an Tuhan, Universalitas, Kebenaran, kemutlakan untuk tunduk kepada kehendak Tuhan, pemenuhan segala tanggungjawab manusia dan penghargaan terhadap seluruh makhluk hidup”.33 Pemaknaan Tauhid seperti ini dalam PKH, sejatinya mengandung gagasan pembebasan manusia dari segala bentuk perendahan (subordinasi), diskriminasi dan penindasan atas martabat manusia (dignity) atas dasar apapun. Pada sisi lain, gagasan teologis yang seyogyanya diterapkan dalam PKH, hendak menempatkan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang terhormat dengan konsekuensi keniscayaan bagi setiap individu atau kelompok manusia memandang sesamanya sebagai makhluk yang mandiri (bebas) dan dalam posisi yang setara serta memperlakukannya secara adil dan kesalingan proporsional.
Keadilan tidak bicara tubuh laki-laki atau perempuan, tetapi soal nilai-nilai dan kualitas-kualitas dalam diri yang dengannya tubuh memperoleh tempat dan peran yang tepat.
Inti teologi Tauhid mengharuskan PKH menata kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam persepektif kemandirian (kebebasan), kesetaraan, keadilan dan kesalingan. Terma-terma tiga yang pertama ini disebutkan dalam teks otoritatif Islam, Al-Qur’an dan Hadits Nabi, dalam porsi yang amat banyak.
Gagasan relasi kesalingan (resiprokal/resiprosity) diungkapkan dalam sejumlah teks-teks suci ini. Satu di antaranya adalah, “Di antara tanda-tanda kemahabijaksanaan dan kemahagungan Allah adalah Dia menciptakan untuk
33Sayyed Hossein Nasr, The Heart of Islam, Pesan-pesan Kemanusiaan Islam (Bandung: Mizan, 2003), 384
kamu pasangan dari jenis yang sama denganmu agar kamu damai bersamanya.
Dan Allah menjadikan kamu dan pasanganmu (untuk) saling mencinta dan saling menyayangi. Sesungguhnya pada semua hal ini ada tanda-tanda kemahabijaksanaan Allah bagi orang-orang yang berpikir”. (Q.S. al-Rum:21).
Ibnu Abbas, seorang sahabat Nabi, mengatakan: “Aku, sungguh, ingin tampil menarik di hadapan isteriku, sebagaimana aku ingin isteriku tampil menarik di hadapanku”.
Husein Muhammad menyimpulkan bahwa kata paling genuine untuk mewadahi seluruh nilai kebaikan dalam program PKH adalah kata “Taqwa” yang berulangkali disebut dalam teks-teks suci al-Qur’an dan hadits Nabi. Ia tidak sekedar ditunjukkan oleh ketekunan seseorang dalam ritual-ritual personal- individual, sebagaimana sering dipersepsikan banyak orang. Ia adalah puncak dari seluruh bangunan kehidupan manusia dalam Islam baik dalam relasi personal maupun antar personal. Dan kata Nabi: “Al-Taqwa Ha Huna, al-Taqwa Ha Huna al-Taqwa Ha Huna,” Taqwa itu di sini, Taqwa itu di sini, Taqwa itu di sini), sambil menekankan tangan ke dada tempat jantung berada. Makna lain dari kata Taqwa adalah “Ihsan” (membagi Kebaikan). Sayyed Hossein Nasr, menyebutnya sebagai “Keindahan”. Katanya: “Ia adalah mencintai Tuhan dan mencintai makhluk-Nya karena Tuhan. Ihsan adalah kedamaian dalam jiwa seseorang, yaitu dalam kondisi keseimbangan dan harmonis dengan dunia, di dalam dan di luar”.
Ia adalah visi kehidupan manusia dalam skala universal program PKH.
BAB IV
KONSEP KELUARGA HARAPAN KEMENSOS RI A. Benih-benih Keluarga Pada Zaman Orde Lama
Pada era Orde Lama, masa pemerintahan presiden Soekarno antara tahun 1959-1967, pembangunan sosial kesejahteraan keluarga dicanangkan oleh MPR Sementara (MPRS) yang menetapkan sedikitnya tiga ketetapan yang menjadi dasar perencanaan nasional pemberdayaan keluarga, yaitu: 1) TAP MPRS No.I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik republik Indonesia sebagai Garis- Garis Besar Haluan Negara, 2) TAP MPRS No.II/MPRS/1960 tentang Garis- Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1969, 3) Ketetapan MPRS No.IV/MPRS/1963 tentang Pedoman-Pedoman Pelaksanaan Garis-Garis Besar Haluan Negara dan Haluan Pembangunan. Dengan dasar perencanaan tersebut membuka peluang dalam melakukan pembangunan Indonesia yang diawali dengan babak baru dalam mencipatakan iklim kesejahteraan keluarga Indonesia yang lebih kondusif, damai, dan sejahtera.
Proses mengrehablitasi dan merekontruksi yang di amanatkan oleh MPRS ini diutamakan dalam melakukan perubahan perekonomian untuk mendorong pembangunan nasional yang telah didera oleh kemiskinan dan kerugian pascapenjajahan Belanda.1
Pada tahun 1947 Perencanaan pembangunan kesejahteraan keluarga di Indonesia diawali dengan lahirnya “Panitia Pemikir Siasat Ekonomi”.
Perencanaan pembangunan 1947 ini masih mengutamakan bidang ekonomi
1Rakhmat Hidayat, "Perspektif Sosiologi tentang Kurikulum," Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 17. No. 2 (2011): 178-188.
mengingat urgensi yang ada pada waktu itu (meskipun di dalamnya tidak mengabaikan sama sekali masalah-masalah nonekonomi khususnya masalah sosial-ekonomi, masalah perburuhan, aset Hindia Belanda, prasarana dan lain lain yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial). Tanpa perencanaan semacam itu maka cita-cita utama untuk “merubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional” tidak akan dengan sendirinya dapat terwujud. Apalagi jika tidak diperkuat oleh Undang-Undang yang baku pada masa itu. Sekitar tahun 1960 sampai 1965 proses sistem perencanaan pembangunan mulai tersndat-sendat dengan kondisi politik yang masih sangat labil telah menyebabkan tidak cukupnya perhatian diberikan pada upaya pembangunan untuk memperbaiki kesejahtraan rakyat.2
Namun sebelum itu, pada awal abad ke-20 perjuangan perempuan Indonesia dalam upaya untuk menyejahterakan keluarga mulai mengarah pada kemajuan dalam mencapai kebebasan yang sama dengan laki-laki. Dimulainya dengan merealisasikan gagasan yang dituliskan oleh kartini mengenai kesadaran tentang pendidikan bagi perempuan, yang didasari bahwa dengan pendidikan dapat membawa pengaruh besar terhadap kemajuan dan perubahan karena dari perempuan awal dari generasi penerus bangsa menerima didikan. Oleh karena itu, bukan tanpa sebab tokoh-tokoh perempuan terdidik di Indonesia memulai perjuangan kesejahteraan keluarga harapan di bidang pendidikan untuk perempuan. Seiring berkembangnya pendidikan bagi perempuan, hal itu berdampak pada meluasnya peranan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat
2Jullisar An-naf, "Tinjauan Analitis Terhadap Model Pembangunan Indonesia," Kybernan (Jurnal Ilmu Pemerintahan), Vol. 2. No. 1 (2011): 68-82.
hingga pada masa revolusi fisik (1945-1950), terlihat gerak perempuan Indonesia sangat progresif dalam upaya pendirian negara Indonesia. Banyak muncul dan berkembang organisasi-organisasi perempuan di Indonesia serta peran aktif perempuan dalam wilayah politik. Hal itu tanpa mengesampingkan peranannya sebagai ibu dan istri dalam rumah tangga.3
Pada waktu kedatangan Jepang ke Indonesia di Tarakan bulan Maret 1942, Jepang melakukan propagandanya agar rakyat Indonesia mendukung Perang Asia Timur Raya. Propaganda ini pun tak hayal juga dilakukan terhadap kaum wanita di Indonesia. Kebijakan propaganda Jepang tersebut memberikan pengaruh baik positif maupun negatif bagi kaum wanita di Indonesia. Ketika perang keberadaan kaum wanita cukup diakui, karena pada masa ini kaum wanita menjadi pendamping dalam perang, baik untuk urusan logistik, perawatan tentara perang, maupun untuk urusan kebutuhan biologis para tentara Jepang. Akan tetapi peran wanita yang baik-baik hanya bisa dirasakan oleh kaum wanita yang tergabung dalam organisasi-organisasi resmi pemerintahan Jepang, sedangkan bagi kaum wanita yang berada pada level pendidikan rendah dan ekonomi lemah maka yang dirasakan adalah sebuah keterpaksaan, siksaan, penderitaan dan hancurnya masa depan.4
Pada masa pendudukan Jepang, wanita memiliki peran yang lebih aktif. Hal ini terlihat dari program Jepang yang memobilisasi masyarakat untuk keperluan perang dan didalamnya wanita ikut berperan. Akan tetapi ruang lingkup
3Merci Robbi Kurniawanti, "Ibu Ruswo: Pejuang Perempuan Dalam Tiga Zaman (1928-1949),"
Risalah, Vol. 2. No. 7 (2016); 1-20.
4Esti Nurjanah, "Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said Dalam Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan Indonesia," Risalah, Vol. 4. No. 6 (2017); 1-20.
keterlibatan kaum wanita dalam propaganda ini terbatas, hanya sebagai pendamping bagi kaum laki-laki dalam perang. Selain itu, kaum wanita berada di barisan belakang dan merupakan tenaga cadangan sehingga kaum wanita harus selalu siap untuk menggantikan kaum laki-laki yang sedang bertempur, baik dalam menjalankan roda ekonomi baik di kantor, pabrik, di sawah, di ladang, dan pekerjaan lainnya maupun dalam perang itu sendiri. Dalam melaksanakan kebijakan propaganda tersebut, pemerintah Jepang melibatkan kaum wanita dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat formal seperti keterlibatan wanita dalam organisasi ciptaan Jepang dalam usaha bela negara, dan non-formal seperti keterlibatan wanita dalam praktek-praktek pengabdian dan kewajiban melayani negara.5
Pada April 1942 dibentuklah Gerakan Istri 3A, yang dipimpin oleh Ny. Artina Samsoedin. Organisasi ini memiliki sub-bagian bagi pemudi yaitu Barisan Puteri Asia Raya. Namun gerakan Istri 3A ini berakhir karena adanya perpecahan di tubuh penguasa Jepang, tetapi Barisan Puteri Asia Raya tetap dipertahankan dan pada akhirnya melebur menjadi Fujinkai. Pada Maret 1943 dibentuk BPP Poetra (Barisan Pekerja Perempuan Poetra) oleh Empat Serangkai yang bertujuan untuk menarik simpati rakyat Indonesia dan untuk mempersatukam kaum wanita yang ada di Jawa dengan memberikan dasar-dasar kemampuan kerja. Namun karena dianggap tidak menguntungkan pemerintahan Jepang, akhirnya organisasi ini
5Esti Nurjanah, "Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said Dalam Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan Indonesia," Risalah,Vol. 4. No. 6 (2017); 3-4; Susiana Nugraha dan Yuko Hirano,
"Prediktor Yang Mempengaruhi Perubahan Kesehatan Mental Tenaga Kesehatan Indonesia Di Jepang," Jurnal Kesehatan Kartika, Vol. 11. No. 1 (2018): 62-71.
dibubarkan. Pada 3 November 1943 dibentuklah Fujinkai yang dipimpin oleh Ny.
Abdurrahman.6
Fujinkai merupakan organisasi gabungan dari organisasi-organisasi yang telah ada sebelumnya. Penggabungan ini dilakukan karena pemerintah Jepang sendiri tidak memiliki hubungan sosial dengan masyarakat umum, sehingga Fujinkai ini pun tidak bisa menjangkau wanita pada golongan rendah baik di desa maupun di kota. Dipedesaan, Fujinkai menjadi organisasi para istri pamong praja untuk membangun cabang Fujinkai di seluruh Jawa dengan menggunakan pengaruh para istri bupati, camat, dan lurah. Tugas pokok dari Fujinkai adalah membantu kegiatan garis depan dengan memperkuat garis belakang. Bantuannya berupa latihan Palang Merah, penggunaan senjata, penyelenggaraan dapur umum, mengerjakan keperluan serdadu, dan yang terpenting adalah melakukan perluasan tanaman untuk persediaan kebutuhan makanan utama untuk perang. Selain itu juga, keberadaan Fujinkai bermaksud untuk mendukung organisasi Islam agar Jepang mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat Indonesia. Para pemimpin Islam ini dijadikan figur untuk mempopulerkan garakan kehidupan baru kepada wanita Indonesia agar hidup lebih hemat, rajin menabung, mengurus keluarga dengan baik, serta bersedia untuk mengambil alih pekerjaan laki-laki.
Semua itu semata-mata untuk menanamkan ideologi Jepang agar wanita Indonesia menjadi bagian dari terciptanya kemakmuran Asia Raya (Great East Asia Co- prosperity).7
6I. Wayan Nitayadnya, "Muatan Politik Propaganda Kolonial Jepang dalam Cerpen dan Drama Karya Idrus," Atavisme, Vol. 16. No. 2 (2013): 215-227.
7Wulan Sondarika, "Peranan Wanita dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Masa Pendudukan Jepang," Historia: Jurnal Pembelajaran Sejarah dan Sejarah UM Metro, Vol. 5. No. 2: 207-217.
Pada dasarnya Fujinkai ditujukan untuk menunjang keberhasilan Jepang dalam perang. Hal ini tercermin dari tugas wanita menurut konsep masyarakat timur. Pertama, anggota Fujinkai melakukan tugas sesuai tradisi perempuan Jawa.
Kedua, menjalankan aksi sosial dan ketrampilam. Ketiga, wanita dipersiapkan untuk sewaktu-waktu dapat memanggul senjata. Keempat, Fujinkai diharapkan dapat bekerja sama dengan lembaga ciptaan Jepang lainnya. Untuk mewujudkan semua itu, Fujinkai pada Maret 1944 membentuk Barisan Srikandi yang dipimpin oleh Liliy Kartadireja yang memberikan pelatihan keprajuritan, bahasa Jepang, pertanian dan agama. Selain itu, Fujinkai juga membentuk bagian keputerian yang diberi nama Barisan Puteri pada Juli 1944 yang terdiri dari pemudi berusia 15-20 tahun. Namun sebuah kesimpulan didapat bahwa, meskipun Fujinkai ini berupaya menjangkau kaum wanita dari berbagai golongan baik pemudi, istri-istri di desa dan di kota, organisasi ini kurang bisa memobilisasi massa karena yang tergabung dalam organisasi ini didominasi oleh kalangan elit, seperti istri pamong praja, sehingga masyarakat umum tidak tertampung dalam organisasi ini. Bisa dikatakan bahwa kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Jepang pada kaum wanita berdampak dalam berbagai aspek kehidupan wanita di Indonesia. Masa pendudukan Jepang yang tergolong singkat namun membawa pengaruh dan luka serta penderitaan yang dalam bagi kaum wanita di Indonesia. Jika dibandingkan dengan dampak yang muncul bagi wanita di Indonesia selama penjajahan Belanda yang masa penjajahannya tergolong lama.8
8I. Wayan Nitayadnya, "Muatan Politik Propaganda Kolonial Jepang dalam Cerpen dan Drama Karya Idrus," 227.
Segera setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan, perkumpulan perempuan Fujinkai dibubarkan karena merupakan bentukan Jepang, kemudian dibentuk kembali menjadi Persatuan Wanita Indonesia (Perwani), kemudian lahir kembali organisasi-organisasi perempuan di antaranya, di Jakarta dibentuklah Wanita Negara Indonesia (Wani) yang dipimpin oleh Ny. Suwarni Pringgodigdo tugas mereka mendirikan dapur umum dan mengatur pendistribusian beras guna mendukung perjuangan kemerdekaan, di Bandung juga berdiri Laksar Wanita (Laswi) yang merupakan barisan perempuan bersenjata pertama kali dibentuk pada Oktober 1945. Anggota Laswi berasal dari anggota Barisan Srikandi yang juga dibentuk oleh Jepang, ada juga berdiri Barisan Buruh Perempuan dibawah kepemimpinan Ny. Trimurti di Klaten 1946, pada golongan keagamaan mendirikan kembali organisasi mereka, yakni Aisyah dan Wanita Katolik dan muncullah Partai Wanita Rakyat, merupakan partai perempuan yang berdiri pertama kali di Indonesia pada tahun 1945 di bawah kepemimpinan Ny. Sri Mangunsarkoro, partai ini bersifat militan dengan prinsip pokok nasionalisme dan monogami.9
Para kaum nasionalis menyadari akan peran penting perempuan berpartisipasi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan kepentingan kaum perempuan hanya akan dapat terwujud dalam fase sosialis yang akan mengikuti proses nasionalis, untuk itu para perempuan harus aktif dan turut ikut maju di barisan depan dalam pergerakan revolusi nasional untuk mempertahankan kemerdekaaan dan kepada para kaum laki-laki harus dapat mengontrol egonya
9Audra Jovani, "Perkembangan Gerakan Politik Perempuan Di Indonesia," Pamator Journal, Vol.
7. No. 1 (2014); 1-20.
dan mengajak kaum perempuan untuk berjuang sebagai roda pasangan kereta perangnya, sayap kedua garuda nasional kita. Pergerakan perempuan yang sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang dibangun kembali dan beberapa organisasi membentuk federasi berorientasi nasional dalam sebuah Kongres. Kongres diadakan untuk menata kembali pergerakan perempuan yang sempat terhenti, usaha yang dilakukan perempuan pasca koloni jepang lebih berkembang dalam proses utuk memperoleh kemerdekaan hingga perempuan berperan aktif dalam politik di Indonesia.10