BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
1. Pembinaan Karakter
Menurutkamus besar bahasa indonesiapembinaanberartiproses, cara, perbuatan membina (negara dan sebagainya); pembaharuan;
penyempurnaan; usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.Bila dilihat dari segi watak berarti pembangunan watak manusia sebagai pribadi dan makhluk sosial melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah, organisasi, pergaulan, ideologi, dan agama.17
Sedangkan dalam Gerakan Pramuka Pembinaan adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara terus menerus oleh anggota dewasa terhadap peserta didik, dengan menggunakan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, serta Sistem Among yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, perkembangan dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.18
Bila dianalogikanistilah pembinaan merujuk pada suatu kegiatanmempertahankan dalam meyempurnakan sebah rumah, maka usaha kita sehari hariadalah membersihkan, memperbaiki dan
17Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2012), hlm. 1032.
18KeputusanKwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 176 Tahun 2013 Tentang Pola dan Mekanisme Pembinaan Pramuka Penegak, hlm. 2.
mengganti yang sudah rusak dan itulah yang dimaksud usahapembinaan. Jadi yang dimasud pembinaan adalah usaha yng dilakukan untukmemperbaiki guna memperoleh hasil yang baik dari sebelumnya
Dalam suatu sistem pendidikan,Pembinaan karakter adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku, yang dapat dilakukan atau bertindak secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan nilai-nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuatuntuk melaksanakannya, baik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, maupun dengan lingkungan.
b. Pengertian karakter
Menurut kamus besar bahasa Indonesia istilah karakter berarti tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak. 19 Sutarjo dalam bukunya mengemukakan “Watak atau karakter karakter berasal dari bahasa yunani “charassein” yang berarti barang atau alat untuk menggores, yang dikemudian hari dipahami sebagai stempel/cap. Jadi, watak itu sebuah stempel atau cap, sifat-sifat yang melekat pada seseorang”.20
Pendapat lain istilah 'karakter dipahami dalam dua kubu pengertian.
19Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar ...hlm. 1139.
20Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Nilai Karakter. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 76.
Pertama, bersifat deterministik,disini karakter dipahami sebagai sekumpulan kondisi rohaniah pada diri kita yang sudah teranugerahi atau ada dari sononya (given). Dengan demikian, iamerupakan kondisi yang kita terima begitu saja, tak bisa kita ubah, la merupakan tabiat seseorang yang bersifat tetap, menjadi tanda khusus yang membedakan orang yang satu dengan lainnya.
Pengertian kedua, bersifat non deterministik atau dinamis.Di sini karakter dipahami sebagai tingkat kekuatan atau ketangguhan seseorang dalam upaya mengatasi kondisi rohaniah yang sudah given.Ia merupakan proses yang dikehendaki oleh seseorang (willed) untuk menyempurnakan kemanusiaannya.21
Dari pengertian karakter diatas, menurut hemat penulis karakter dapat dipahami sebagai sutu kondisi rohaniah yang belum selesai. Ia bisa diubah dan dikembangkan mutunya, dan bisa pula diterlantarkan sehingga tak ada peningkatan mutu atau bahkan makin terpuruk.
c. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah usaha bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan tempat penanaman nilai agar setiap individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa.22Karakter dalam sisi kehidupan menjadi pembedaantara manusia dengan binatang.Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah membinatang.Orang-orang yang berkarakter kuat dan baik secara individual maupun sosial adalah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik.
21Saptono. Dimensi-Dimensi Pendidika.... ,hlm. 18.
22Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012) hlm. 165.
Marcus Tulisius Cicero dalamSaptono mengatakan”kesejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya”.23Karakter menunjukkan arah bagaimana bangsa itu menapaki dan melewati suatu zaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu.Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter yang mampu membangun sebuah peradaban besar yang kemudian mempengaruhi perkembangan dunia.24
Sedangkan di Indonesiagagasan pembangunan bangsa telah ada semenjak kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Presiden pertama Soekarno telah menyatakan perlunya nation and character building sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.Beliau menyadari bahwa karakter suatu bangsa sangat berperan dalam mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia.
Dalam hal ini, pendidikan karakter menjadi benar-benar sangat berharga dalam menjalani kehidupan sosial kemasyarakatan. Begitu banyak nilai budaya dan karakter yang bersumber dari falsafah, pola hidup, agama, dan dasar Negara yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar yang dianut. Penguatan pendidikan karakter dilakukan dengan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai sebagai berikut;
23Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsep dan Aplikasi dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 15
24Akh. Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi muda,(Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 1.
1) Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2) Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3) Toleran
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4) Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyesuaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6) Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7) Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas.
8) Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan oranag lain.
9) Rasa ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10) Semangat kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11) Cinta tanah air
Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan ketaatan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12) Menghargai prestasi
Sikap dan tindakan yanag mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13) Bersahabat/komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.
14) Cinta damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15) Gemar membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebaikan bagi dirinya.
16) Peduli lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17) Peduli sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18) Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.25
Dalam Permendikbud No 20 tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan formal dijelaskan bahwa penguatan pendidikan karkter (PPK) adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik dengan menerapkan 18 nilai-nilai karakter yang termuat dalam Pancasila. Dari 18 nilai karakter tersebut merupakan perwujudan dari 5 (lima) nilai utama yang saling berkaitan yaitu
25Muhammad Yaumi. PendidikanKarakter: Landasan, Pilar dan Implementasi. (Jakarta:
Kencana, 2010), hlm. 83.
religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas yang terintegrasi dalam kurikulum.26
Pendidikan karakter memiliki dimensi yang luas dan harus bersinergi dari setiap komponen agar terciptanya lingkungan pendidikan yang kompleks. Menurut Ki Hadjar Dewantara dalam Muzakkir menyebutkan:
Tripusat Pendidikan yang merupakan tempat tumbuh kembangnya seorang anak yaitu; 1) Pendidikan keluarga atau pendidikan informal, 2) Pendidikan di sekolah atau pendidikan formal, dan 3) Pendidikan di dalam masyarakat atau pendidikan nonformal. Tripusat Pendidikan ini besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter seseorang. Alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Sejak timbul adab kemanusiaan hingga kini, hidup keluarga selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti atau karakter dari tiap-tiap manusia. ) Pendidikan di sekolah merupakan pusat perguruan yang teristimewa berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran (perkembangan intelektual) beserta pemberian ilmu pengetahuan (balai-wiyata). Alam kemasyarakatan atau alam pemuda merupakan kancah pemuda untuk beraktivitas dan beraktualisasi diri mengembangkan potensi dirinya.27
Dalam paradigma lama, keluarga dipandang sebagai tulang punggung pendidikan karakter.Hal ini bisa dipahami, karena pada masa lalu, lazimnya keluarga-keluarga bisa berfungsi sebagai tempat terbaik bagi anak-anak untuk mengenal dan mempraktikkan berbagai kebajikan maupun tradisi melalui teladan, petuah, cerita/dongeng, dan kebiasaan setiap hari secara intensif.
26Permendikbud No 20 tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal.
27Muzakkir, “Harmonisasi Tri Pusat Pendidikan Dalam Pengembangan Pendidikan Islam”
,Jurnal Al-Ta’dib,Vol. 10, Nomor. 1, Januari-Juni 2017, hlm. 146.
Akan tetapi dizaman ini modernisasi membuat banyak keluarga mengalami perubahan fundamental.Karena tuntutan pekerjaan, yang menyita waktu perjumpaan yang erat antara ayah, ibu, dan anak, tidak tinggal dalam satu rumah dengan orang tua.Belum lagi, makin banyak keluarga bermasalah: tidak harmonis, terjadi berbagai kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian. Sehingga makin banyak keluarga yang tidak bisa berfungsi sebagai tempat terbaik bagi anak- anak untuk mendapatkan pendidikan karakter.
Melihat hal itu sekolah harus mampu menyelenggarakan pendidikan karakter dan terus berupaya menjadikan dirinya sebagai tempat terbaik bagi kaum muda untuk mendapatkan pendidikan karakter. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang merupakan bagaian dari tri pusat pendidikan secara fungsinya harus bersinergi dengan lembaga pendidikan yang lain dalam menciptakan ligkungan pendidikan yang berkarakter.
Ada empat alasan mendasar mengapa sekolah pada masa sekarang perlu lebih bersungguh-sungguh menjadikan dirinya tempat terbaik bagi pendidikan karakter.Keempat alasan itų adalah:
1) Karena banyak keluarga (tradisional maupun nontradisional) yang tidak melaksanakan pendidikan karakter.
2) Sekolah tidak hanya bertujuan membentuk anak yangcerdas, tetapi juga anak yang baik;
3) Kecerdasan seorang anak hanya bermakna manakaladilandasi dengan kebaikan;
4) Karena membentuk anak didik agar berkarakter tangguhbukan sekadar tugas tambahan bagi guru, melainkan tanggung jawab yang melekat pada perannya sebagai seorang guru.28
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesiadijelaskan bahwa kegiatan ektrakurikuler pramuka sbb:
Kurikulum 2013, pendidikan Kepramukaan ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib.Hal ini mengandung makna bahwa pendidikan Kepramukaan merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang secara sistemik diperankan sebagai wahana penguatan psikologis-sosial-kultural (reinfocement) perwujudan sikap dan keterampilan kurikulum 2013 yang secara psikopedagogis koheren dengan pengembangan sikap dan kecakapan dalam pendidikan Kepramukaan.Dengan demikian pencapaian Kompetensi Inti Sikap Spiritual (KI-1), Sikap Sosial (KI-2), dan Keterampilan (KI-3) memperoleh penguatan bermakna (meaningfull learning) melalui fasilitasi sistemik-adaptif pendidikan Kepramukaan di lingkungan satuan pendidikan.29 Dalam lingkungan sekolah atau formal Penanaman nilai-nilai karakter dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler.Penanaman nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler meliputi:
pembiasaan akhlak mulia, kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tata krama dan tata tertib kehidupan sosial sekolah, Kepramukaan, upacara bendera, pendidikan pendahuluan bela negara, pendidikan berwawasan kebangsaan, UKS, PMR, serta pencegahan penyalahgunaaan narkoba dll.
d. Dasar dan Tujuan Pembinaan/Pembinaan Karkter
28Saptono. Dimensi-Dimensi Pendidikan.... ,hlm. 24.
29Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014, Pendidikan Kepramukaan Sebagai Ekstrakurikuler Wajib, hlm. 2.
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, menyebutkan: “pendidikan nasional berpungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,....”
Dalam Islam, dasar atau alat pengukur yang menyatakan baikburuknya sifat seseorang itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi SAW. Apa yang baik menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, itulah yang baik untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya apa yang buruk menurut Al-Qur’andan As-Sunnah itulah yang tidak baik dan harus dijauhi.
Adapun ayat Al-Qur’anyang menerangkan tentang dasar akhlak adalah:
Artinya:
“dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
(Q.S Al-Qolam : 49(4)
Orang Islam harus mencontohi akhlak Rosulallah SAW.
Sebagaimna yang ditegaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Q.S Al- Ahzab: 33 (21)
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.(Q.S Ar-Rum:
30)
Berdasarkan uraian di atas, hemat penulis pendidikan karakter memiliki tujuan pokokyaitu, membentuk pribadi yang insan kamil berjiwa nasional, peduli bangsa dan negara yang berlandaskan budaya dan agama sebagai acuan utama dalam bertindak dan bertutur kata.
Sehingga Nabi Muhammad SAW. dapat dijadikan sebagai tauladan, dan pancasila sebagai ideologi dalam berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, generasi muda penerus bangsa yang diinginkan dapat tercipta.Sehingga kehidupan yang harmonis, damai, toleran dan sebagainya (tindakan positif) menjadi tradisi dan budaya keseharian.