• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan kondisi pekerjaan serta lingkungan kerja Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memastikan adanya

PENYAKIT AKIBAT KERJA dan SISTEM PELAPORAN

5. Pemeriksaan kondisi pekerjaan serta lingkungan kerja Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memastikan adanya

faktor penyebab penyakit ditempat atau ruang kerja. Hasil pengukuran kuantitatif di tempat atau ruang kerja sangat perlu untuk melakukan penilaian dan mengambil kesimpulan, apakah kadar zat sebagai penyebab penyakit akibat kerja cukup dosisnya atau tidak untuk menyebabkan sakit. Misalnya, kandungan udara 0,005 mg timah hitam per meter kubik udara ruang kerja tidaklah menyebabkan keracunan Pb, kecuali jika terdapat absorbsi timah hitam dari sumber lain atau jam kerja per hari dan minggunya sangat jauh melebihi batas waktu 8 jam sehari dan 40 jam seminggu.

Apabila dalam pemeriksaan kesehatan ditemukan Penyakit Akibat Kerja (PAK), maka pengurus perusahaan wajib untuk melakukan:

1. Dokter pemeriksa membuat laporan medik diagnosis PAK (lampiran 2, Kepmenakertrans Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEPTS 333/MEN/1989 tentang Diagnosa Dan Pelaporan PAK)

2. Membuat dan melaporkan tertulis kepada Dinas Tenaga Kerja Setempat dalam waktu paling lama 2 x 24 jam setelah penyakit tersebut dibuat diagnosanya (lampiran 1, Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.

KEPTS 333/MEN/1989 tentang Diagnosa Dan Pelaporan PAK)

3. Membuat dan melaporkan tertulis kepada pihak Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan) dalam waktu paling lama 2 x 24 jam setelah penyakit tersebut dibuat diagnosanya

4. Melakukan tindakan preventif agar Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang sama tidak terulang kembali

5. Menyediakan secara cuma-cuma semua alat pelindung diri untuk pencegahan PAK

Diagnosis penyakit, termasuk Penyakit Akibat Kerja adalah kewenangan dan kompetensi profesi medis yaitu para dokter. Bagaimana dokter membuat suatu diagnosis diatur dalam ketentuan normative berupa Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEPTS 333/MEN/1989 mengenai Diagnosis Dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja yang menekankan bahwasanya Penyakit Akibat Kerja dapat didiagnosis sewaktu melaksanakan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja; dalam pemeriksaan penyakit akibat kerja harus ditentukan apakah penyakit yang diderita tenaga kerja merupakan penyakit akibat kerja atau bukan (Pasal 2, ayat 1 dan 2); diagnosis Penyakit Akibat Kerja ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan klinis kepada tenaga kerjadan pemeriksaan kondisi pekerjaan serta lingkungannnya untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara penyakit dan pekerjaan atau lingkungan kerjanya. Apabila terdapat keragu-raguan dalam menegakkkan diagnosis penyakit akibat kerja oleh dokter pemeriksa kesehatan, dapat dikonsultasikan kepada dokter penasehat tenaga kerja dan apabila diperlukan dapat pula dikonsultasikan kepada dokter ahli yang bersangkutan (Pasal 3 ayat 1 dan 2).

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER- 05/MEN/1993 mengatur bahwa dalam hal terjadi perbedaan pendapat mengenai penetapan kecelakaan kerja dan Penyakit Akibat Kerja, pengusaha atau tenaga kerja/keluarga atau Badan Penyelenggara Jamsostek (sekarang BPJS Ketenagakerjaan) dapat meminta penetapan kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan. Pegawai pengawas dan petugas Badan Penyelanggara Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan) dapat mengadakan penelitian dan pemeriksaan atas PAK dimaksud yang hasilnya dapat dijadikan dasar menetapkan PAK atau bukan PAK.

Apabila pegawai pengawas ketenagakerjaan kebetulan seorang dokter, kewenangan untuk menetapkan PAK tersebut tidak menimbulkan masalah atau kesulitan mengingat pegawai pengawas yang dokter memiliki landasan profesi yang dipersyaratkan untuk menetapkan diagnosis medis. Keadaan akan berbeda jika pegawai pengawas ketenagakerjaan bukan seorang dokter. Dengan dikeluarkannya peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-04/MEN/1998 yang dimaksudkan untuk mewujudkan kesamaan langkah dan persepsi dalam menangani kasus kecelakaan kerja yang berkaitan dengan masalah medis, dokter penasehat mempunyai fungsi memberikan pertimbangan medis kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan dan atau Badan Penyelenggara Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan) dalam penetapan jaminan kecelakaan kerja atau Penyakit Akibat Kerja (PAK). Selain itu dokter penasehat juga dapat menetapkan Penyakit Akibat Kerja (PAK) bila terjadi perbedaan pendapat antara Badan Penyelenggara Jamsostek dengan pengusaha dan atau tenaga kerja/ahli warisnya, atau dalam hal belum diaturnya Penyakit Akibat Kerja dalam peraturan-perundangan. Dalam hal terjadi ketidaksepakatan penetapan PAK banding sehingga sampai tingkat tertinggi yaitu pada penetapan menteri, dokter penasehat dapat memberikan pertimbangan medis kepada Menteri Tenaga Kerja untuk menetapkan PAK. Dokter penasehat dibenarkan untuk melakukan rekam medis dan bila dipandang perlu melakukan pemeriksaan ulang kepada tenaga kerja.

Baik dalam membuat diagnosis penyakit akibat kerja dan juga penilaian cacat karena kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja, dokter wajib memegang teguh Kode Etik Dokter pada umumnya dan Kode Etik Kedokteran Kerja (Kode Etik Hiperkes Medis) yang antara lain menyatakan bahwa dokter melaksanakan tugas sebagai suatu amal ilmiah yang obyektifitas dan terpadu dan hanya membuat sesuatu pernyataan dan atau persetujuan atas dasar hasil pengamatan dan pandangan yang jujur.

Dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor KEP 79/MEN/2003 tentang Pedoman Diagnosis dan Penilaian Cacat Karena Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja atau disingkat KepMen No. 79/MEN/2003, terdapat informasi klinis/medis tentang diagnosis dan juga

penilaian cacat karena kecelakaan dan penyakit akibat kerja menurut spesialisasi kedokteran. Informasi klinis demikian harus digunakan dalam rangka pola metodologi diagnosis penyakit akibat kerja dan cacat karena kecelakaan kerja atau cacat karena penyakit akibat kerja.

Jenis Penyakit Akibat Kerja

Dalam kaitannya dengan kompensasi jaminan sosial tenaga kerja, Pasal 11 UU No. 3 tahun 1992 tentang Jamsostek menegaskan bahwa jenis Penyakit Akibat Kerja serta perubahannya ditetapkan dengan keputusan Presiden atau Kepres No. 22 tahun 1993. Dalam Kepres tersebut telah ditetapkan 31 jenis penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja, dua puluh sembilan diantaranya bersifat Internasional mengikuti standar Organisasi Perburuhan Internasional. Dua jenis penyakit lainnya yaitu penyakit yang disebabkan suhu tinggi dan penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat bukan Penyakit Akibat Kerja menurut standar internasional melainkan atas dasar pertimbangan dan kebijakan kita sendiri.

Suatu jenis penyakit dalam Kepres 22 tahun 1993 bukan identitas suatu penyakit tunggal melainkan sejumlah atau banyak penyakit akibat kerja. Sebagai misal, jenis penyakit yang disebabkan oleh benzene dan homolog- homolognya masing-masing menimbulkan kelainan yang berbeda kepada berbagai organ tubuh. Contoh lain, Penyakit yang disebabkan oleh Kadmium yang beracun menunjukan efek berbeda seandainya terhirup debunya kedalam paru-paru atau tertelan masuk kedalam saluran pencernaan. Atau misal lainnya adalah penyakit yang disebabkan radiasi elektromagnetis dan radiasi yang mengion; dua jenis radiasi demikian menyebabkan penyakit-penyakit yang berbeda.

Dengan jenis penyakit akibat kerja nomor 31 yaitu penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk obat maka semua bahan kimia lain yang jumlahnya demikian banyak mungkin saja menyebabkan penyakit akibat kerja; yang penting adalah pembuktian bahwa penyakit yang bersangkutan disebabkan oleh salah satu atau sejumlah bahan kimia lain tersebut.

Penyakit Akibat Kerja sebanyak 31 jenis sebagaimana terdapat dalam Lampiran Kepres No.22 Tahun 1993 adalah sebagai berikut:

1. Pneumokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silikosis, antrakosilikosis,asbestosis) dan silikotuberkulosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat dan kematian;

2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras;

3. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas, Vlas, henep, dan sisal (bisinosis);

4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitasi dan zat perangsang yang dikenalyang berada dalam proses pekerjaan;

5. Alveolitis Allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organis;

6. Penyakit yang disebabkan oleh Berilliumatau persenyawaannya yang beracun;

7. Penyakit yang disebabkan oleh Kadmium atau persenyawaannya yang beracun;

8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawaanya yang beracun;

9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang beracun ;

10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya yang beracun;

11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya yang beracun;

12. Penyakit yang disebabkan oleh air raksa atau persenyawaannya yang beracun;

13. Penyakit yang disebabkan oleh timbale (Pb,timah hitam) atau persenyawaanya yang beracun

14. Penyakit yang disebabkan oleh fluor atau persenyawaannya yang beracun;

15. Penyakit yang disebabkan oleh Karbon disulfide;

16. Penyakit yang disebabkan oleh derivate halogen dari persenyawaan hidrokarbon alifatis atau aromatis yang beracun;

17. Penyakit yang disebabkan oleh Benzen atau homolognya yang beracun;

18. Penyakit yang disebabkan oleh derivate nitro dan amina dari Benzen dan homolognya yang beracun;

19. Penyakit yang disebabkan oleh Nitrogliserin atau Ester asam nitrat lainnya;

20. Penyakit yang disebabkan oleh alcohol, glikol atau Keton;

21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan seperti karbon monoksida, hydrogen sianida, Hidrogen sulfida atau derifat yang beracun, amoniak, seng, braso dan nikel;

22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan;

23. Penyakit kulit yang disebabkan oleh getaran mekanis (kelainan-kelainan otot, urat, tulang, persendian, pembuluh darah tepi, atau saraf tepi);

24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih;

25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetis dan radiasi yang mengion;

26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab sisis, kimiawi atau biologis;

27. Penyakit kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak mineral, antrasen atau persenyawaan, produk atau residu dari zat tersebut;

28. Kanker paru atau mesitelioma yang disebabkan oleh asbes;

29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki risiko kontaminasi khusus;

30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi atau kelembaban udara tinggi;

31. Penyakit yang disebabkan oleh kimia lainnya termasuk bahan obat.

Bila diperhatikan dengan seksama, 31 jenis penyakit akibat kerja menurut Kepres 22 tahun 1993 dapat pula dikelompokkan atas dasar 3 (tiga) kategori utama yaitu ;

1. Penyakit akibat kerja yang tegas dinyatakan penyebabnya, yang dalam hal ini factor-faktor kimiawi, fisis, dan biologis

2. Penyakit Akibat Kerja yang mengenai system organ sasaran, yaitu system pernafasa, kulit, dan musculoskeletal (otot rangka)

3. Kanker akibat kerja

Contoh kategori utama atas dasar penyebabnya adalah keracunan oleh air raksa atau persenyawaan yang beracun (contoh faktor kimiawi) atau penyakit akibat kerja oleh radiasi yang mengion (contoh faktor fisis) dan penyakit antraks akibat kerja (contoh faktor biologis). Contoh kategori utama atas dasar system organ sasaran adalah asbestosis (contoh sistem alat pernafasan), vitiligo akibat kerja (contoh kulit sebagai organ sasaran dan kelainan otot rangka akibat kerja yang disebabkan vibrasi mekanis (contoh sistem otot rangka).

Contoh kategori utama kanker akibat kerja adalah kanker oleh karena Vinil Klorida atau debu kayu keras dari pekerjaan ditempat kerja. Pengelompokan Penyakit Akibat Kerja atas ketiga kategori utama ini merupakan suatu kecenderungan baru dalam menangani masalah penyakit akibat kerja.

Sistem Pelaporan Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Peraturan Jaminan Sosial untuk Tenaga Kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/Men/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEPTS 333 tahun 1989 telah memberi penagasan hukum untuk wajib melaporkan dan mengikuti sistem pelaporan. Pada tahap awal atau pertama, pengusaha wajib melaporkan PAK tersebut 2 x 24 jam sejak menerima diagnosa dari dokter pemeriksa, dengan menggunakan Formulir Jamsostek 3. Sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEPTS 333/MEN/1989 tentang diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja, pelaporan dokter pemeriksa harus meliputi:

1. Identitas, yang meliputi; nama penderita; nomor induk pokok; umur; jenis kelamin; jabatan; unit/ bagian kerja;

lama kerja; nama perusahaan; jenis perusahaan dan alamat perusahaan.

2. Anamnesis yang meliputi; riwayat pekerjaan; keluhan yang diderita; dan riwayat penyakit.

3. Hasil pemeriksaan mental dan fisik (status present), yang meliputi pemeriksaan mental (kesadaran, sikap dan

tingkah laku; kontak psikis, dan perhatian, dan lain-lain) ; pemeriksaan fisik (tinggi badan dalam sentimeter ; berat badan dalam kilogram; tensi sistolik dan diastolik dalam mmHg; denyut nadi permenit dan kualitasnya lemah/sedang/cukup/kuat serta regular atau irregular;

suhu aksiler; kepala; dan muka; rambut; mata; strabismus, reflek pupil, kornea dan konjungtivita; hidung; mukosa, penciuman, epistaksis; tenggorokan; tonsil, suara; rongga mulut; mukosa lidah, gigi; leher; kelenjar gondok; toraks;

bentuk, pergerakan, paru, jantung,; abdomen; hati, limpa;

genitalia; tulang punggung; ekstremitas; refleks;

fisiologis/patologis; koordinasi otot; tromor, tonus, paresis, paralisis; dan lain-lain); pemeriksaan rontgen (paru,jantung,dan lain-lain); elektrokardiogram (EKG atau ECG); pemeriksaan laboratoris; darah, urine, tinja;

pemeriksaan tambahan/monitoring biologis; pengukuran kadar bahan kimia penyebab sakit didalam tubuh tenaga kerjamisalnya kadar dalam urine, darah, dan sebagainya dan hasil uji/pemeriksaan fungsi organ tubuh tertentu akibat pengaruh bahan kimia tersebut misalnya uji fungsi paru, dan sebagainya; pemeriksaan patologis anatomis;

serta kesimpulannya.

4. Hasil pemeriksaan lingkungan kerja dan cara kerja yang meliputi faktor lingkungan kerja yang dapat berpengaruh terhadap sakit penderita (faktor fisik, kimiawi, biologis, psikososial); faktor cara kerja yang berpengaruh terhadap sakit penderita (peralatan kerja, proses produksi, ergonomik); waktu paparan nyata (per hari, per minggu) dan alat pelindung diri.

5. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja, yang meliputi pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan kerja, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan khusus, (dilakukan/tidak dilakukan; kelainan yang ditemukan) 6. Resume, yang meliputi faktor-faktor yang mendukung

diagnosis, penyakit akibat kerja, dari anamnesis;

pemeriksaan medis (mental, fisik, laboratories, monitoring biologis, rontgen, patologis anatomis); pemeriksaan lingkungan kerja dan cara kerja tenaga kerja; dan waktu paparan nyata.

7. Kesimpulan, yaitu: penderita/tenaga kerja yang bersangkutan menderita atau tidak menderita penyakit akibat kerja; diagnosis; diagnosis menurut jenis penyakit akibat kerja atas dasar Kepres No. 22 Th 1993 dan atau menurut klasifikasi Internasional Penyakit (International Classification of Disease atau disingkat ICD)

Tahap kedua, pengusaha wajib melaporkan PAK dalam waktu 2 x 24 jam, menggunakan formulir Jamsostek 3a sejak menerima surat keterangan dari dokter melalui formulir 3c yang menerangkan;

a) Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) b) Keadaan cacat sebagian untuk selama-lamanya c) Keadaan cacat total untuk selama-lamanya d) Meninggal dunia

Tahap pertama maupun tahap kedua, hasil pemelaporan tersebut disampaikan kepada dinas tenaga kerja setempat dan kantor Jamsostek. Pada Undang-undang mengenai Jamsostek disebutkan adanya sanksi bagi pengusaha yang tidak melaporkan PAK, yaitu hukuman sekurang- kurangnya selama 6 bulan penjara atau denda setinggi- tingginya 50.000.000 (lima puluh juta rupiah).