DALAM PROSES PERDATA
F. Apakah yang Harus Dibuktikan (Quoderat
2. Pengertian hak
Dalam bahasa Belanda, dikenal adanya dua jenis “hu- kum”:
a. Hukum objektif.
b. Hukum subjektif.
Sebenarnya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indo- nesia, maka hukum objektif itu adalah “hukum” itu sendiri, sedangkan hukum subjektif adalah “hak”.
Menurut Prof. Holand20 yang dimaksudkan sebagai
“hak” adalah:
“One man’s capasity of inluencing the acts of an other, by means, nota of his own strength, but of the opinion or the force of society.”
Jadi, menurut Prof. Holand, hak merupakan kemampuan seseorang untuk memengaruhi perbuatan/tindakan orang lain, bukan dengan jalan kekuatannya sendiri, melainkan di- da sar kan pada pendapat atau kekuatan masyarakat.
http://pustaka-indo.blogspot.com
Atau seperti yang dikatakan oleh Ernest Barker21, bahwa:
“My right in general are my part and portions of a whole system of right, as expressed an embodied in my particular person, an they are part and portion”.
Jadi pada asasnya, kata Ernest Barker, hak adalah bagian dari keseluruhan sistem hukum.
Atau menurut Dias22 bahwa:
“A right is a claim, whether enforceable or not, which resides by virtue of a rule of law in any given person, that another person, also by virtue of law, shall behave in a particular way.”
Jadi, Dias lebih memandang hak itu sebagai suatu tun- tutan yang karena adanya suatu kaidah hukum yang di pu- nyai oleh seseorang terhadap orang lain, agar orang lain itu berbuat/ber tindak menurut suatu kaidah tertentu itu.
Bagi sistem hukum Barat, hak adalah alat untuk me- mung kinkan manusia memperkembangkan jiwa raganya se- cara sepenuhnya. Demikian kata Ernest Barker.23
Adapun bagi kita di Indonesia, hak itu bukanlah un tuk digunakan secara sepenuhnya, melainkan juga ha rus me mer- hatikan kepentingan kolektif. Menurut pe nu lis, ke bebasan yang sebebas-bebasnya justru ada lah ke ti dakbebasan. Marilah penulis mem berikan sebah con toh se bagai berikut: Jika si A dengan sebebas-bebasnya meng gu nakan haknya untuk meng- gunakan mobil pribadinya de ngan kecepatan maksimal 120 kilometer perjam ditengah ke ra maian kota, apakah yang ter- jadi? Malapetakalah yang akan menimpa orang lain yang juga adalah pemakai jalan ra ya, sehingga kebebasan bagi si A adalah ketidak bebasan bagi orang lain.
Oleh karena itu, penulis lebih cenderung mengartikan hak itu sebagai:
http://pustaka-indo.blogspot.com
“Kebebasan untuk berbuat sesuatu menurut hukum, dengan me
merhatikan kepentingan kolektif.”
Perkataan memerhatikan kepentingan kolektif di sini, bukan berarti lantas kepentingan pribadi si pemilik hak su- dah diatasi sama sekali oleh kepentingan kolektif, karena itu penulis tidak menggunakan kata “tunduk” ke pada kepentin- gan kolektif, tetapi “memerhatikan” ke pen ting an kolektif. Ini berarti antara kepentingan pribadi dan kepentingan kolektif harus selaras.
Sehubungan dengan hal di atas, ada pepatah hukum yang menyatakan:
“Quod licet jovi non licet bovi”, apa yang boleh dilakukan oleh seseorang belum berarti yang lain juga boleh melakukannya.”
Setelah kita mengetahui pengertian “peristiwa” dan
“hak”, timbullah pertanyaan, dari suatu peristiwa, apanya yang harus dibuktikan?.
Jawabannya adalah bahwa yang harus kita buktikan pa- da suatu peristiwa adalah “kebenarannya”. Bahwa peristiwa tersebut benar telah terjadi.
Di dalam hukum pembuktian, tidak semua peristiwa itu harus dibuktikan. Untuk mengetahui mana yang harus di- buktikan dan mana yang tidak perlu dibuktikan, maka penu- lis di bawah ini menjelaskannya dengan gambar berikut.
Jadi, ada dua macam peristiwa dalam hubungannya dengan pem buktian ini:
1. Peristiwa yang irelevan (tidak relevan).
2. Peristiwa yang relevan.
Sehubungan dengan peristiwa yang relevan dan irele van ini, ada ahli hukum lain yang menggunakan istilah:
http://pustaka-indo.blogspot.com
1. Ratio Decidendi.
2. Obitar Dictum.
a. Ratio Deciendi
Ratio decidendi ini adalah inti dari suatu perkara yuri- dis, yakni bagian yang dianggap mempunyai sifat yang menentukan. Dengan kata lain, Ratio decidendi adalah faktor yang sejati (material fact), faktor esensi yang jus- tru mengakibatkan suatu putusan demikian.
b. Obiter Dictum
Kebaikan dari ratio decidendi adalah obiter dictum ini.
Jadi, merupakan bagian dari peristiwa yuridis yang ti- dak penting diperhatikan.
(mengenai hal ini, lebih mendetailnya dapat dibaca pada hlm. 30-31, Prof. Kusumadi Pudjosewojo, S.H., “Pe do
man Pelajaran Tata Hukum Indonesia).
Peristiwa yang irelevan ini sudah jelas tidak perlu dibuk- tikan, berdasarkan asas “MINIMA NON CURAT PRAETOR”, yaitu bahwa hakim tidak memerhatikan hal-hal yang remeh, atau asas lain “NULTA SED NON MULTUM”, yaitu banyak
Keterangan gambar:
A = Peristiwa yang tidak relevan.
B = Peristiwa yang relevan.
B1, B2, B3, dan B4 adalah peristiwa relevan yang tidak perlu dibuktikan.
http://pustaka-indo.blogspot.com
dalam jumlah, tetapi tidak ada yang penting.
Tetapi perlu diketahui, bahwa tidak semua peristiwa yang relevan yang perlu dibuktikan.
Ada empat peristiwa relevan yang tidak perlu dibuktikan (dalam gambar penulis sebagai B1, B2, B3, dan B4), yaitu:
1. Peristiwa prosesuil.
2. Peristiwa notoir.
3. Peristiwa yang sudah merupakan pengetahuan umum.
4. Peristiwa yang oleh undang-undang sendiri telah diten- tukan bahwa tidak perlu dibuktikan lagi.
Baiklah, di bawah ini penulis menjelaskan masing-ma- sing dengan lebih mendetail.
ad. 1. Peristiwa prosesuil
Yang penulis maksudkan sebagai peristiwa prosesuil adalah peristiwa yang terjadi di muka persidangan pengadil- an yang memeriksa perkara yang bersangkutan yang harus di buk tikan tadi.
Penulis dalam hal ini dapat membagi peristiwa prosesuil itu atas:
a. Peristiwa prosesuil murni.
b. Peristiwa Prosesuil yang tidak murni.
Yang penulis maksudkan sebagai peristiwa prosesuil mur ni, adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka per si - dangan pengadilan, yang bersifat yuridis prosesuil, mi sal nya peng gugat mengadakan pengakuan murni, sehingga per kara itu bisa diputus dengan dasar pengakuan murni dari ter gugat itu.
Adapun yang penulis maksudkan sebagai peristiwa pro- sesuil yang tidak murni adalah peristiwa-peristiwa yang ter-
http://pustaka-indo.blogspot.com
jadi di muka persidangan, yang sebenarnya hanya peristiwa biasa, tetapi karena mempunyai pengaruh terhadap peristiwa pemeriksaan, maka harus dicatat dalam berita acara. Misal- nya, si tergugat atau si penggugat ketika sedang diperiksa di muka persidangan, tiba-tiba menguap dengan membuka mulut lebar-lebar, yang berakibat secara kebetulan seekor lalat masuk menyangkut di kerongkongannya, sehingga ia ke labakan dan berjingkrak-jingkrak, atau mungkin pingsan karena sesak nafas, sehingga menimbulkan kegemparan di persidangan, atau menyebabkan terjadinya gangguan pada pemeriksaan perkara tersebut.
Peristiwa prosesuil ini dianggap diketahui hakim se- hingga tidak perlu dibuktikan lagi.
ad. 2. Peristiwa notoir
Ini harus berhati-hati untuk menyatakan atau meng- galangkan suatu peristiwa ke dalam NotoirFeiten atau pe- ris tiwa notoir ini, karena kadang-kadang suatu peristiwa ke- lihatannya adalah peristiwa notoir, padahal bukan.
Peristiwa notoir itu sendiri adalah suatu peristiwa yang di anggap peristiwa yang sudah diketahui oleh orang yang me miliki penidikan cukup dan telah mengenal keadaan masa di mana ia hidup, tanpa mengadakan penelitian lebih lan jut lagi, termasuk pula peristiwa yang diketahuinya dari sumber-sumber umum (mass media misalnya) tanpa meng- adakan peristiwa yang cukup untuk digunakan sebagai argu mentasi pembenaran bagi suatu tindakan yang sifatnya merupakan sifat yang memiliki arti. (Bandingkan pula pen- dapat P.A. Stein24 dan pendapat Prof.Dr. R.M. Sudikno Mer- tokusumo.25
Atau pendapat Prof. Mr. A. Pitlo,26 bahwa tidaklah ter-
http://pustaka-indo.blogspot.com
masuk dalam peristiwa notoir jika peristiwa-peristiwa yang secara kebetulan diketahui hakim yang bersangkutan, atau hakim yang menyaksikannya ketika terjadi atau hakim yang bersangkutan mempunyai keahlian perihal suatu kejadian atau keadaan.
Ini berarti bahwa “private knowledge” dari hakim atau yang dalam istilah hukum kontinental disebut “Eigen Weten
schap des Rechters”, masih memerlukan pembuktian dan tidak termasuk peristiwa notoir.
Misalnya, hakim kebetulan melihat tergugat mengadakan perjanjian jual beli rumah yang kini dipersengketakan, di mana hakim itu sendiri yang kebetulan memeriksa per kara- nya, maka dalam hal ini terjadinya perjanjian jual beli rumah itu masih tetap harus dibuktikan oleh para pihak, karena ini hanya merupakan “Eigen Wetenschap des Rechters” dan bukan Notoir Feiten.
Lazimnya peristiwa notoir ini diartikan sebagai pe ris- tiwa yang diketahui umum. Oleh sebab itu, maka hakim ber- pendidikan tinggi dan sudah tentu dianggap ber pe nge tahuan luas juga, harus tahu juga peristiwa notoir ini, sehingga tidak perlu dibuktikan lebih lanjut.
Sebagai contoh, bahwa hari kemerdekaan Republik Indo nesia jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, hal ini tidak me merlukan pembuktian lagi di muka pengadilan. Adalah tidak eisien apabila harus didatangkan seorang saksi sejarah yang membuktikan bahwa proklamasi Indonesia itu benar tang gal 17 Agustus 1945.
Dalam hal timbul perselisihan akan hal semacam itu su lit untuk dimasukkan dalam golongan “diketahui umum”, sehingga dalam hal demikian perselisihan akan timbul, peris- tiwa yang bersangkutan masih harus dibuktikan. Demikian
http://pustaka-indo.blogspot.com
pendapat Prof. R. Soekardono, S.H.27
Tadi penulis mengemukakan bahwa sering suatu peris- tiwa dianggap notoir feit, padahal sebenarnya bukan. Penulis da pat memberikan sebuah contoh: jika si X dikatakan se- bagai orang terkaya di kota Ujungpandang, ini belum me- ru pakan peristiwa notoir, karena kriteria kaya tidaknya se- se orang masih merupakan sesuatu yang relatif dan masih me mungkinkan diperdebatkan. Lain halnya dengan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari diproklamasikannya Republik Indo nesia, tidak mungkin diperdebatkan lagi.
Penulis membagi ada tiga macam peristiwa notoir:
a. Peristiwa notoir yang bersifat internasional.
b. Peristiwa notoir yang bersifat nasional.
c. Peristiwa notoir yang bersifat lokal/kedaerahan.
Peristiwa notoir yang bersifat internasional misalnya, bahwa Israel melakukan invasi militer ke wilayah Lebanon, atau Partai Buruh Solidaritas dibubarkan oleh pemerintah Polandia. Peristiwa notoir yang sifatnya internasional ini pada umumnya berlaku bagi hukum acara perdata internasional, tetapi bukan berarti bahwa dalam hukum acara perdata biasa tidak mungkin berarti.
Sebagai contoh: jika tergugat ingin membuktikan keti- dak beradaannya di Indonesia, karena berada di Lebanon pada saat tentara Israel melakukan invasinya, ini sudah me- ru pakan peristiwa notoir intenasional, yaitu tentang saat tentara Israel melakukan invasi itu.
Adapun peristiwa notoir yang bersifat nasional, misal nya meletusnya Gunung Galunggung di Jawa Barat. Atau bahwa Menteri Pertahanan Republik Indonesia sekarang (ta hun 1982) adalah Jenderal TNI M. Yusuf.
http://pustaka-indo.blogspot.com
Dan peristiwa notoir lokal/kedaerahan, misalnya bahwa Kantor Pengadilan Negeri Ujungpandang terletak di Jalan Kar tini persimpangan/pojok jalan Jenderal Sudirman, bah- wa bioskop artis terletak di jalan G. Lompabatang dan lain- lainnya.
Ini hanya merupakan peristiwa notoir yang berlaku bagi penduduk tetap Ujungpandang atau Makasar. Tidak perlu dibuktikan lagi bahwa bioskop artis itu apakah benar ter letak di jalan G. Lompobatang atau tidak.
Yang dewasa ini masih merupakan polemik dalam lite- ratur-literatur hukum pembuktian antara para ahli hukum adalah apakah termasuk pula dalam pengertian peristiwa notoir, peristiwa yang merupakan desas-desus?
Atau secara lengkap penulis mempertanyakan, apakah peristiwa-peristiwa:
a. desas-desus,
b. rumor (desas-desus buruk bagi seseorang), c. fama, juga sejenis desas-desus,
d. communis, opinie doctorum (pendapat umum para ahli), dapat dimasukkan sebagai peristiwa notoir atau bukan?
Masih diperdebatkan kini.
ad. 3. Peristiwa yang sudah merupakan pengetahuan umum Yang penulis maksudkan di sini, sebagai peristiwa yang sudah merupakan pengetahuan umum adalah peristiwa yang berdasarkan pengalaman, atau dengan kata lain kesim pulan yang didasarkan pada pengetahuan umum.
Pengalaman yang dimaksudkan di sini adalah tidak ber- sifat normatif, jadi merupakan ketentuan umum berdasar- kan pengalaman manusia yang digunakan untuk menilai pe- ris tiwa yang diajukan untuk dibuktikan itu.
http://pustaka-indo.blogspot.com
Pengetahuan tentang pengalaman, misalnya:
– bahwa seorang manusia yang berlari nonstop selama dua jam, pasti akan kepayahan;
– bahwa mobil yang dilarikan dengan kecepatan 100 kilo- meter per jam, kemudian tiba-tiba direm, pasti me ning- galkan “remspoor” (bekas rem di aspal);
– jika seorang manusia ditembak kepalanya sehingga kena dengan sebutir peluru, maka orang itu pasti mati.
Semua contoh di atas tidak membutuhkan pem buk tian lagi, sesuai asas “MANIFESTA NON EGENT PRO SATIONE”
(fakta-fakta yang dikenal umum tidak perlu me merlukan pem- buktian). Coba dibayangkan jika untuk mem buktikan bahwa seorang yang ditembak kepalanya akan mati, harus dibuktikan dengan menampilkan seorang “suka relawan” yang bersedia benar-benar ditembak kepalanya di muka persidangan, bu- kankah suatu hal yang tidak mungkin?.
Lalu di mana letak perbedaan antara peristiwa notoir de- ngan peristiwa yang berdasarkan pengetahuan umum?
Perbedaannya adalah:
– peristiwa notoir, hakim mengenal peristiwanya secara konkret, misalnya warna emas adalah kuning;
– peristiwa yang didasarkan pengetahuan umum, hakim menerapkan suatu pengetahuan umum, misalnya mobil lebih cepat larinya dari manusia.
ad. 4. Peristiwa yang oleh undangundang sendiri telah ditentukan bahwa tidak perlu dibuktikan
Dalam hal ini ada yang juga termasuk peristiwa prosesuil.
Sebagai contoh:
– dengan telah dilaksanakannya sumpah pemutus (sum-
http://pustaka-indo.blogspot.com
pah decisoir), yang oleh undang-undang tidak me mung- kinkan pembuktian perlawanan lagi, maka peristiwa yang dipersengketakan tidak memerlukan pembuktian lebih lanjut;
– jika seorang tergugat mengakui gugatan penggugat dalam bentuk pengakuan murni, berarti peristiwa yang dipersengketakan yang telah diakui secara murni oleh ter gugat tidak memerlukan pembuktian lebih lanjut, dan perkara itu dianggap selesai;
– dalam hal tergugat tidak datang, padahal telah dipanggil secara patut, lalu hakim menjatuhkan hukuman verstek yang menyatakan tergugat kalah, maka peristiwa yang di persengketakan yang dimuat dalam gugatan peng gu- gat tanpa diadakan pembuktian sudah dianggap benar, dan kemudian tanpa mendengar serta di luar hadir nya tergugat dijatuhkan hukuman verstek. (sebagai ca tat an, perlu diketahui, bahwa tidak mesti seorang ha kim men
jatuhkan hukuman putusan yang menyatakan ka lahnya ter gugat secara verstek jika tergugat tidak hadir, mes ki
pun telah dipanggil secara patut, bisa saja dengan per
tim bangan bahwa gugatan si penggugat tidak ada dasar hu kumnya, maka hakim dalam ketidak hadiran ter gugat me nyatakan penggugat yang kalah, bukan tergugat).
Mengenai hal ini, lihat Pasal 8 dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 atau Pasal 200 R.bg.
Untuk menjelaskan mana peristiwa yang relevan dan mana yang irelevan, penulis memisalkan sebagai berikut:
Terjadi tabrakan antara mobil Mercy putih milik Tuan A dan mobil Toyota milik Tuan B, sehingga Tuan B meminta ganti rugi. Terjadinya tabrakan pada Jumat kliwon. Dan loka si-
http://pustaka-indo.blogspot.com
nya di perempatan jalan Kartini, jalan G. Sawakarang, Jalan Sudirman, Tuan A memakai baju safari merah muda, ber- ka ca mata, sedangkan Tuan B memakai Jean sepasang warna biru. Pada saat kecelakaan, di atas mobil Tuan A ikut anak- ananya. Adapun di atas mobil Tuan B ikut pacarnya Miss X, seorang aktris jelita. Cepat kendaraan 50 kilometer per jam, baik Tuan A maupun Tuan B.
Dari keseluruhan yang dikemukakan di atas, yang termasuk peristiwa relevan hanyalah bahwa yang mengemudikan mobil adalah Tuan A dan Tuan, kecepatannya masing-masing 50 kilometer per jam, lokasinya di jalan-jalan tersebut.
Adapun isinya, seperti baju Tuan A dan Tuan B, pacar Tuan B yang aktris jelita dan sebagainya adalah peristiwa yang irelevant, sehingga tidak perlu dibuktikan.