• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyampaian Informasi Melalui Media

Dalam dokumen OJK - Laporan Triwulan II 2022.pdf (Halaman 131-136)

17 rekening

B. Penyampaian Informasi Melalui Media

Dalam rangka memberikan perlindungan kepada konsumen dan masyarakat, Satgas Waspada Investasi melakukan siaran pers atau penyampaian informasi kepada publik guna mencegah bertambah banyaknya korban terkait dengan Entitas yang diduga melakukan kegiatan investasi ilegal yang berindikasi merugikan masyarakat dan perkembangan penanganannya melalui media massa. Pada triwulan II-2022, Satgas Waspada Investasi menyampaikan dua informasi yaitu:

1. Pada 13 April 2022 dengan judul “Satgas Waspada Investasi Kembali Temukan 20 Entitas Investasi Ilegal Dan 105 Pinjaman Online Tanpa Izin”

2. Pada 21 Mei 2022 dengan judul “Satgas Waspada Investasi Kembali Temukan 7 Entitas Investasi Tanpa Izin Dan 100 Pinjaman Online Ilegal”.

2.7.5 Penanganan Entitas Ilegal oleh Satgas Waspada Investasi

Penawaran kepada masyarakat untuk menempatkan dananya pada produk investasi yang semakin bervariasi jenis terus meningkat.

Namun, investasi yang ditawarkan tidak sesuai atau tidak memiliki legalitas sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, sehingga penawaran tersebut dapat menurunkan

Selama semester I-2022, OJK dan SWI telah menghentikan kegiatan usaha sebanyak 48 Entitas investasi ilegal dan 355 Entitas fintech peer-to-peer lending tanpa izin OJK.

Informasi detail terkait entitas investasi ilegal yang dihentikan kegiatan usahanya dapat diakses melalui minisite Satgas Waspada Investasi https://www.ojk.go.id/waspada-investasi/id/Default.aspx

Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan, masyarakat dapat mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Layanan Konsumen OJK 157, WA (081157157157), email [email protected] atau [email protected].

Informasi mengenai aset kripto bisa dilihat di website https://www.bappebti.go.id/. Pengaduan dapat diakses melalui https://pengaduan.bappebti.go.id.

Penjualan Langsung

0 Fintech P2P

Lending 205

Gadai Ilegal 0

Money Game 11

Investasi Forex 9

Investasi Cryptocurrency

5

Lainnya 2 Grafik II–23 Penghentian Entitas Ilegal oleh Satgas Waspada Investasi

tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan yang saat ini makin berkembang.

Oleh sebab itu, diperlukan pengawasan sehingga dapat menghasilkan deteksi dini terhadap kegiatan investasi yang diduga telah merugikan banyak masyarakat.

Menindaklanjuti pengaduan dan/atau pertanyaan dari masyarakat terkait dengan legalitas dan kegiatan usaha entitas yang diduga melakukan kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi tanpa izin, Satgas Waspada Investasi melakukan rapat koordinasi dengan anggota Satgas Waspada Investasi dari Kementerian/Lembaga lain.

Pada triwulan II-2022, terdapat pengaduan masyarakat yang disampaikan kepada sekretariat Satgas Waspada Investasi yang sebagian besar mengenai pinjaman online ilegal (pinjol ilegal).

Satgas Waspada Investasi juga telah melakukan penghentian terhadap kegiatan pinjol ilegal yang sampai saat ini masih meresahkan masyarakat.

Rekomendasi yang merupakan hasil dari rapat koordinasi SWI ditindak lanjuti dengan Pemeriksaan bersama Kementerian/Lembaga yang memiliki kewenangan terkait, Penyampaian laporan informasi kepada Bareskrim Polri dan pemblokiran situs atau aplikasi kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Satgas Waspada Investasi dan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia juga aktif melakukan cyber patrol dalam rangka deteksi dini platform dan website yang menawarkan investasi ilegal. OJK dan SWI pada triwulan II-2022 telah menghentikan kegiatan usaha sebanyak 27 Entitas investasi ilegal dan 205 Entitas Fintech P2P Lending tanpa izin OJK.

2.8.1 Persiapan Pelaksanaan MER FATF

Sektor Jasa Keuangan (SJK) merupakan sektor terbesar dan memiliki peran penting dalam rezim Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) di Indonesia. Sebagai Lembaga Pengawas dan Pengatur di Sektor Jasa Keuangan, OJK terus mendorong penguatan rezim APU PPT nasional di SJK melalui pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya sebagaimana dimandatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, dan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

OJK secara terencana dan berkelanjutan terus meningkatkan efektivitas penerapan program APU PPT berbasis risiko melalui upaya pengaturan, pengawasan, dan penegakan hukum yang efektif dan memadai. Hal ini menjadi kontribusi OJK dan SJK dalam mendisrupsi aktivitas tindak kejahatan, memberikan rasa aman bagi masyarakat, dan melindungi kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Efektivitas rezim APU PPT pada SJK Indonesia salah satunya dinilai melalui pelaksanaan Mutual Evaluation Review (MER) oleh Financial Action Task Force (FATF). FATF adalah badan antar pemerintah yang memiliki tujuan untuk menetapkan standar dan mendorong implementasi yang efektif atas peraturan dan operasional, serta tindakan hukum untuk memerangi TPPU/TPPT/PPSPM. MER merupakan peer review dimana negara anggota menilai negara anggota lain dalam implementasi dan efektivitas langkah-langkah untuk memerangi TPPU/TPPT/PPSPM. Keberhasilan MER FATF akan menunjukkan bahwa SJK Indonesia telah patuh dan sejalan dengan standar internasional sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan mendorong stabilitas keuangan.

MER Indonesia oleh FATF adalah persyaratan agar Indonesia dapat diterima sebagai anggota penuh FATF, yang merupakan bentuk inisiasi Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 2017 melalui Menteri Keuangan Republik Indonesia. Keanggotaan Indonesia di FATF akan meningkatkan persepsi positif terhadap sistem keuangan Indonesia, sehingga memperkuat keyakinan dan kepercayaan terhadap Indonesia dalam kancah bisnis internasional dan mendukung iklim investasi di Indonesia. Daya saing SJK Indonesia akan meningkat di mata global yang akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang sehat. Selain itu, keanggotaan Indonesia di FATF akan berkontribusi strategis agar Indonesia dapat bersinergi dengan negara anggota FATF lainnya untuk menentukan berbagai standar global terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Salah satu proses penting pada MER adalah pelaksanaan on-site visit MER pada 17 Juli s.d. 4 Agustus 2022. Assessor akan datang langsung ke negara yang dinilai dan melakukan interview dengan Kementerian/Lembaga terkait, dan Pihak Pelapor termasuk Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) untuk membuktikan dan menilai efektivitas kepatuhan penerapan program APU PPT di negara tersebut. Menuju pelaksanaan on-site visit, OJK berfokus pada melakukan pengkinian dan penyampaian dokumen Technical Compliance (TC) dan Immediate Outcome (IO) kepada PPATK, selaku koordinator nasional MER, sebagai berikut:

1. Pengkinian dokumen Technical Compliance (TC) OJK per 1 April 2022.

2. Menyampaikan pengkinian data dan informasi terkait kuesioner IO dan permintaan statistik tambahan dari assessor pada 25 April 2022.

3. Menyampaikan pengkinian IO 1 – Pemahaman Risiko, yang terkait bidang tugas OJK, pengkinian narasi terkait Inklusi Keuangan, dan data rekapitulasi pemblokiran terkait Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris pada 28 April 2022.

2.8 Penanganan Anti Pencucian Uang dan

Pencegahan Pendanaan Terorisme

OJK terus melakukan penyusunan permintaan data tambahan permintaan assessor yang terus datang menjelang on-site visit, sekaligus menyiapkan data dan informasi dengan posisi terkini Juni 2022.

Sebagai bagian dari persiapan MER, OJK terus menyelenggarakan rangkaian refreshment MER untuk mendalami kuesioner IO dan membahas isu spesifik yang perlu menjadi perhatian untuk penguatan rezim APU PPT di Indonesia, khususnya terkait dengan Tindak Pidana Asal (TPA) dari Tindak Pidana Pencucian Uang yang berisiko tinggi, emerging risk, dan potensi fokus assessor. Dalam rapat refreshment pendalaman IO, OJK secara terencana mengikutsertakan Tim MER dari OJK dan juga PUJK sampling untuk mendiskusikan strategi menjawab dan juga strategi untuk meningkatkan kepatuhan penerapan dan pengawasan program APU PPT antara lain melalui FGD Pembahasan IO dalam rangka Persiapan On-site Visit MER FATF pada 18 dan 19 Mei 2022 serta rangkaian rapat lainnya.

OJK menyelenggarakan FGD Penerapan Program APU PPT Berbasis Risiko bagi Fintech P2P Lending dan Securities Crowd-Funding, yang dinilai sebagai emerging risk, serta pertemuan dengan perwakilan BPR dan PUJK sampling membahas APU PPT. Kegiatan ini merupakan refreshment MER dan juga sarana penelaahan oleh Pengawas.

Terkait TPA berisiko tinggi, OJK menjadi inisiator penyelenggaraan rapat lintas Kementerian/

Lembaga untuk cross-cutting issues yaitu Tindak Pidana (TP) Narkotika (dihadiri Pengawas, BNN, PPATK), TP Kehutanan dan TP Lingkungan Hidup (dihadiri Pengawas KR/KO, PPATK, KLHK, dan BPD di wilayah berisiko tinggi), TP Perpajakan (dihadiri Pengawas, PPATK, dan DJP), penyalahgunaan Non-Profit Organization (dihadiri Pengawas, BNPT, Densus 88, Kementerian Sosial, PPATK, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan

BSI), serta koordinasi persiapan MER bersama DJP, Kementerian Keuangan, BI, dan KSP. Selanjutnya, OJK juga membahas pengawasan APU PPT pada Konglomerasi Keuangan antar satuan kerja internal terkait dalam rangka persiapan MER.

OJK mengikuti berbagai kegiatan khusus persiapan MER yang diselenggarakan oleh PPATK, meliputi sharing session persiapan on-site visit yang disampaikan oleh perwakilan Asia Pacific Group on Anti-Money Laundering (APG) dan AUSTRAC, rapat konsolidasi juru bicara MER nasional, dan rapat konsolidasi pemenuhan data tambahan permintaan assessor. Selain itu, OJK juga mengikuti Mock-up Interview pada 13 s.d. 15 Juni 2022 yang dihadiri oleh expert bidang APU PPT dari APG, AUSTRAC, Anti Money Laundering Council (AMLC) Philippines, Bank Negara Malaysia, Monetary Authority of Singapore, dan HM Treasury. Mock-up Interview memberikan pengalaman dan gambaran nyata pelaksanaan on-site visit serta feedback yang perlu ditindaklanjuti untuk meningkatkan penilaian MER.

Pada kesempatan tersebut, OJK mengikuti Mock- up Interview terkait IO1 – Penilaian dan Pemahaman Risiko dan IO3 – Pengawasan, serta mendukung untuk IO2 – Kerja Sama Internasional, IO5 – Legal Person and Legal Arrangement, IO7 – Penyidikan, IO-10 dan IO-11 tentang Targeted Financial Sanction.

PUJK sampling di bawah pengawasan OJK mengikuti Mock-up Interview terkait IO4 – Tindakan Pencegahan.

OJK akan terus konsisten dan berkontribusi aktif dalam persiapan MER bagi OJK dan Industri Jasa Keuangan, serta dalam kerangka nasional yang dikoordinasikan oleh PPATK. Berbagai upaya persiapan yang dilakukan ini tidak hanya untuk mensukseskan MER FATF tetapi juga menjadi momentum akselerasi penguatan rezim APU PPT di SJK untuk mendukung integritas dan tata kelola SJK dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

OJK terus mengupayakan untuk meningkatkan jumlah pegawai yang mendapatkan Certified Anti Money Laundering Specialist (CAMS). Hal tersebut sejalan dengan Rekomendasi FATF Nomor 26 – Regulation and Supervision of Financial Institutions yang mensyaratkan sumber daya Pengawas memiliki standar profesional yang tinggi, serta memiliki integritas dan keahlian yang tinggi. Sertifikasi CAMS telah dilaksanakan untuk Pengawas di Perbankan, Pasar Modal, IKNB, dan Satuan Kerja pelaksana fungsi APU PPT.

Pada triwulan II-2022, OJK telah menyelenggarakan In-House Training (IHT) “Internalisasi National Risk Assessement (NRA) dan Sectoral Risk Assessment (SRA) serta Tindak Pidana Asal (TPA) Berisiko dalam Rangka Penguatan Pengawasan Program APU PPT”

pada 23 s.d. 25 Mei 2022. Program bagi pegawai OJK tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengaturan dan pengawasan APU PPT di Sektor Jasa Keuangan. Selain IHT, OJK secara berkala meningkatkan kapasitas Pegawai melalui pelatihan CFT Investigation yang diselenggarakan oleh pihak eksternal.

Selain itu, sebagai upaya mendorong efektivitas peran Pelaku Jasa Keuangan (PJK) dalam Rezim APU PPT, OJK menyelenggarakan berbagai kegiatan capacity building penerapan program APU PPT bagi PJK. Kegiatan diselenggarakan oleh OJK maupun bersinergi dengan Asosiasi PJK, di mana OJK aktif berperan sebagai narasumber. Kegiatan capacity building bagi PJK selama triwulan II-2022 adalah sebagai berikut:

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan terkait APU PPT dapat diakses melalui website OJK (https://www.

ojk.go.id/apu-ppt/).

Tabel II–36 | Capacity Building PJK

No. Kegiatan Pelaksanaan

1. Invitation to Basic and Advanced CFT Investigation Course 9 s.d 13 Mei 2022 2. Diseminasi Kewajiban Pelaporan Beneficial Ownership yang diselenggarakan

oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia kantor wilayah Kepualan Riau

17 Mei 2022

3. In House Training (IHT) (SPR 1303) – Combating Money Laundering and

Terrorist Financing in Digital Era 18 s.d. 19 Mei 2022

4. Implementasi Penerapan Program APU-PPT untuk Perusahaan Peer-to-Peer

Lending (P2P Lending) 3 Juni 2022

5. Webinar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1373 terkait Pendanaan Terorisme, serta Public-Private Sector Engagement oleh United Nations on Drugs and Crime (UNODC).

10 Juni 2022

6. Pelatihan Program APU PPT PT. Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk. 14 Juni 2022 7. Lokakarya Penyidikan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang berasal

dari Tindak Pidana Asal Kepabeanan dan Cukai 21 Juni 2022

2.8.2 Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia

IHT Internalisasi NRA dan SRA serta TPA Berisiko dalam Rangka

Dalam dokumen OJK - Laporan Triwulan II 2022.pdf (Halaman 131-136)