• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Yang Memuat Hukum Tidak Tertulis

D. Beberapa Yurisprudensi

II. ANALISA DAN EVALUASI

3. Peraturan Yang Memuat Hukum Tidak Tertulis

merupakan bagian-bagian darinya, la tidak lagi terpisah-pisah satu dengan lainnya dan hai tersebut sejalan dengan cita-cita menjadi bangsa yang satu maka pelaksanaan dan penerapan asas-asas hukum tak tertulis itu memerlukan pula penyesuaian, sehingga tidak akan merupakan penghambat bagi tercapainya cita-cita wawasan nusantara di bidang hukum, yakni hanya satu hukum yang mengabdi pada kepentingan hukum Bangsa Indonesia,

Masalah hukum tak tertulis dalam perundang-undangan, adalah merupakan bagian yang dalam dari soal-soal pembangunan dan pembinaan hukum nasional. Hukum tak tertulis sebagai bagian dari hukum yang hidup dan berfaku, selain memerlukan pembinaan yang diarahkan kepada terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa dan perkembangan pembangunan pada umumnya. Hukum tak tertulis sebagai hukum yang hidup dan dengan demikian sebagai hukum yang sesuai dengan pandangan hidup, cita-cita dan kesadaran hukum rakyat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan-bahan bagi pembangunan hukum nasional yang baru.

Adapun hubungan dengan permasalahan perundang-undangan adafah terletak pada hakekatnya tekad untuk tidak mengabaikan tumbuh dan berkembangnya hukum tak tertulis, yang perlu diinformasikan melalui proses pembuatan peraturan perundang- undangan.

Kategori-kategori tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

3.1. Pada sebagian peraturan tampak bahwa apa yang diatur di dalamnya bukanlah penuangan norma-norma hukum adat yang semula berlaku sebagai hukum tidak tertulis ke dalam bentuk peraturan perundang-undangan dalam rangka penyelenggaraan kodifikasi, melainkan justeru merupakan perubahan, bahwa penggantian norma-norma hukum yang ada. Penggusuran norma hukum adat tersebut didasarkan pada pertimbangan tidak memenuhi persyaratan ataupun bertentangan dengan asas-asas tata masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, ataupun tidak lagi memenuhi tuntutan masyarakat modern.

3.1.1. Undang-undang No. 2 tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil Tanah Pertanian (LN. 1960 - 2; TLN. No.

1924)

3.1.2. Undang-undang No. 16 tahun 1960 tentang Bagi Hasil Perikanan (LN. 1964 - 97; TLN No, 2690)

3.1.3. Pasal 7 UU No. 56 PRP. tahun 1960 (LN. 1960 -147;

TLN. No. 2117) tentang Pengembalian Pertanian yang Digadaikan.

3.2. Ada Peraturan Perundang-undangan yang menganggap perlu untuk mengakui adanya lembaga-lembaga hukum tertentu dari hukum adat. Akan tetapi pernyataan pengakuan itu sekaligus mengandung pengarahan dalam pelaksanaan untuk disesuai­

kan dengan kepentingan nasional dan penyelenggaraan pembangunan. Lembaga Hukum yang dimaksud itu adalah Hak Ulayat masyarakat hukum adat tradisional dan hak-hak yang bersumber darinya yang dalam pelaksanaannya memang tampak kurang cukup memperhatikan kepentingan nasional, bahkan seringkali justru merupakan hambatan bagi penyelenggaraan pembangunan.

Contoh peraturan yang dimaksud adalah :

3.2.1. Pasal 3 UU No. 5/1960 tentang "Peraturan Dasar Pokok Agraria" yang disebut UU Pokok Agraria (UUPA) (LN. 1960 -104; TLN. No. 2043);

3.2.2. Pasal 17 UU No. 5/1967 tentang Undang-undang Pokok Kehutanan (LN. 1967 - 88; TLN. No. 2823).

3.3. Ada yang memerintahkan untuk membatasi sifat-sifat lembaga-lembaga hukum tertentu yang bertentangan dengan Pancasila, bahwa memerintahkan untuk diusahakan hapusnya lembaga itu. Perintah penghapusan mana sebagai sudah mulai dilaksanakan.

Sebagai contoh dikemukakan antara lain :

3.3.1. Pasal 53 UUPA mengenai Gadai, Hak Usaha Bagi Hasil Hak Menumpang dan Hak Sewa Tanah Per­

tanian;

3.3.2. Pasal 9 UU No. 16/1964 tentang Bagi Hasil Perikanan yang melarang sewa menyewa dan gadai menggadai tambak, kecuali untuk keperluan-keperluan tertentu dengan izin khusus.

3.4. Sebaliknya ada peraturan yang menyempurnakan lembaga- lembaga hukum adat, hingga memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat modern. Sebagai contoh dapat di­

kemukakan penyempurnaan pengaturan acara pemindahan hak atas tanah dan pendaftaran/pemberian alat pembuktiannya. Hal ini diatur dalam Peraturan No. 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah (LN. 1961 - 28; TLN No.

2171).

3.5. Ditemukan pula peraturan yang menggunakan konsep, asas- asas dan lembaga hukum adat yang semula berlaku dalam lingkungan dan suasana masyarakat-masyarakat hukum tradisional, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern tingkat nasional. Yang Harsono dimaksudkan adalah konsepsi, asas-asas dan lembaga-lembaga hukum di bidang

hukum agraria adat yang digunakan oleh UUPA dalam penyusunan Hukum Agraria Nasional.

3.6. Dalam rangka menyelenggarakan unifikasi hukum terlihat juga adanya perluasan lingkungan berlakunya ketentuan-ketentuan serta lembaga-lembaga hukum adat yang semula terbatas berlakunya di kalangan tertentu sebagai contoh dapat dilihat:

3.6.1. Peraturan-peraturan hukum dan lembaga-lembaga hukum di bidang hukum agraria adat, yang semula terbatas berlakunya. Terutama di kalangan orang- orang pribumi dalam hubungannya dengan tanah- tanah adat/tanah-tanah hak Indonesia berdasarkan ketentuan Pasal 5 UUPA, menjadi berlaku bagi siapapun yang mempunyai atau mengadakan hubungan hukum dengan tanah.

3.6.2. Ketentuan-ketentuan mengenai harta benda dalam perkawinan menurut asas-asas hukum adat yang semula berlaku di kalangan orang-orang pribumi yang menganut sistem kekeluargaan parental, berdasarkan ketentuan Pasal 35 s.d,36 Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

4. Analisa hasil penelitian lapangan tentang hukum adat tanah dan kaitannya dengan UU No. 5/1960.

Undang-undang No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria kurang lebih sudah mencapai umur 31 tahun tepatnya undang-undang tersebut diundangkan pada tanggal 24 September 1960. Sepanjang perjalanan berlakunya undang-undang tersebut, bermunculan undang-undang lainnya yang erat sekali dengan Undang-undang Pokok Agraria. Undang-undang yang berkaitan itu adalah sebagai berikut:

1. UU No. 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan.

46

2. UU No.11 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan.

3. UU No. 6 tahun 1967 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

4. UU No. 4 tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup.

5. UU No. 16 tahun 1985 tentang Rumah Susun.

6. UU No. 3 tahun 1972 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Transmigrasi.

Walaupun Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria sepanjang peranannya bermunculan undang-undang yang erat sekali dengan undang-undang itu namun pada prinsipnya undang-undang itu masih banyak relevansinya dengan perkem­

bangan zaman.

Lahirnya Undang-undang tentang Agraria melatar belakangi bahwa susunan kehidupan rakyat negara Republik Indonesia ini dalam perekonomian masih bercorak agraris, maka bumi, air dan ruang angkasa sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa mempunyai fungsi yang amat penting untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur.

Kemudian Hukum Agraria yang masih berlaku sekarang ini (Undang-undang Agraria No. 6 tahun 1960) sebagai tersusun dan berdasar pada sendi-sendi Pemerintah jajahan hingga bertentangan dengan kepentingan rakyat dan negara di dalam menyelesaikan pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Hukum Agraria pada zaman penjajahan mempunyai sifat dualisme, di samping hukum adat juga hukum agraria yang berdasarkan atas hukum berat.

Bagi penduduk bangsa Indonesia asli hukum Agraria penjajahan Belanda yang berdasarkan atas hukum barat itu tidak menjamin adanya kepastian hukum. Sehubungan dengan tersebut diatas maka perlu adanya Hukum Agraria Nasional yang didasarkan atas hukum adat tentang tanah yang sederhana dan menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia dengan tidak menjabarkan unsur-unsur yang berdasarkan pada hukum Agama. Menurut Prof. I. Gusti Ketut

Sutha, S.H. Hukum Agraria Naisonal secara umum tidak bisa tidak harus berakibat pada hukum adat, dikarenakan relevansi alam pikiran dari masyarakat Indonesia ke Hukum Adat dan itu tidak mungkin untuk dilepaskan,

Dalam kurun waktu tahun 1928 oleh para pendiri Republik ini Hukum Adat dilihat sebagai salah satu landasan yang potensial dalam memproses diri menjadi suatu Negara yang kita idam-idamkan. Nilai- nilai hukum adat dalam UUD 1945 merupakan intinya jiwa dari hukum adat atau geestnta sesuai dengan geest dari bangsa Indonesia, misalnya berkeluarga, kebersamaan, gotong-royong, musyawarah mufakat. Dalam bentuk konkret, penjabaran kehidupan masyarakat dalam bidang hukum tidak bisa tidak harus dicarikan dengan jiwa dari hukum Adat yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia, apakah itu dalam produk perundang-undangan; Agraria, Undang-undang Perkawinan. Undang-undang Pokok Kehakiman, dimana kita melihat pencerminan secara jelas dari Hukum Adat. Bahan utama Undang- undang Pokok Kehakiman, adalah Hukum Tidak Tertulis adalah Hukum Adat. Demikian pula dalam Undang-undang Pokok Agraria secara formal jelas bersumber pada Hukum Adat, sebagai hukum utama.

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 5 tahun 1960 maka diharapkan dapat memberi kemungkinan tercapainya fungsi bumi, air dan ruang angkasa yang harus sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia serta memenuhi pula keperluannya dalam soal Agraria.

Sejak diundangkan Undang-undang No. 5 tahun I960 tentang Agraria, pengaturan menurut hukum sangat berperan sekali. Adapun Pasal-pasal yang mengatur yang berkaitan dengan hukum adat ialah ; 1. Pasal 2 ayat 2 menentukan hal menguasai dari negara termaksud

dalam ayat 1 Pasal ini memberi wewenang untuk:

a. Mengatur da menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.

b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa.

c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

Pasal 2 ayat 2 wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari negara tersebut pada ayat 2 Pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dalam arti berkebangsaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Pasal 2 ayat 4 Hak menguasai dari negara tersebut diatas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah.

2. Pasal 3 dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan 2 pelaksanaan Hak Ulayat dan Hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataan masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang- undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.

3. Pasal 5 Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang ini dan dengan peraturan perundang-undangan lainnya segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang berdasar pada Hukum Agama.

4. Pasal 4 hanya warga negara Indonesia dapat mempunyai hubungan yang sepenuhnya dengan bumi, air dan ruang angkasa, dalam batas ketentuan Pasal 1 dan 2.

5. Pasal 14;

1. Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 2 ayat 2 dan 3, Pasal 9 ayat 2 serta Pasal 10 ayat 1 dan 2 pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya:

a. Untuk keperluan Negara

b. Untuk keperluan peribadatan dan keperluan-keperluan nilai-nilainya, sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa

c. Untuk keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat sosial kebudayaan dan lain-lain kesejahteraan.

d. Untuk keperluan memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan dengan itu.

e. Untuk keperluan memperkembangkan industri, trans­

migrasi dan pertambangan.

2. Berdasarkan rencana umum tersebut pada ayat 1 Pasal ini dan mengingat peraturan-peraturan yang bersangkutan, pemerintah daerah mengatur persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa untuk daerahnya sesuai dengan daerah masing-masing.

3. Peraturan Pemerintah daerah-daerah yang dimaksud dalam ayat 2 Pasal ini berlaku setelah mendapat pengesahan mengenai Daerah Tingkat I dari Presiden, Dati II dari Gubernur/Kepala Daerah yang bersangkutan dan Dati III dari Bupati atau Walikota/Kepala Daerah yang bersangkutan.

6. Pasal 26:

1. Juai beli, penukaraan, pengibahan, pemberian dengan wasiat pemberian menurut adat dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk memudahkan hak milik serta penga­

wasannya diatur oleh peraturan Pemerintah.

7. Pasal 56.

Selama Undang-undang mengenai hak milik sebagai tersebut dalam Pasal 50 ayat 1 belum terbentuk, maka yang berlaku adalah ketentuan-ketentuan hukum adat setempat dan peraturan- peraturan lainnya mengenai hak-hak atas tanah yang memberi wewenang sebagaimana atau mirip dengan yang dimaksud dalam Pasal 20, sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan-ketentuan undang-undang ini.

8. Pasal 58.

Selama peraturan-peraturan pelaksanaan undang-undang ini belum terbentuk, maka peraturan-peraturan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis mengenai bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan dan hak-hak atas tanah, yang ada mulai berlakunya undang-undang ini, tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan-ketentuan dalam un­

dang-undang ini serta taksiran yang sesuai dengan itu.

Bertitik tolak dengan ketentuan-ketentuan dalam Pasal-pasal Undang- undang No. 5 Tahun 1960 bahwa yang jelas-jelas mengatur masalah tanah ke dalam hukum adat adalah sebanyak 8 Pasal. Adapun ke 8 Pasal yang mengatur masalah tanah adalah sebagai berikut: negara, pemerintah, masyarakat. Negara disini dimaksud hanya mengenai semua tanah tanpa mengecualikan.

Pemerintah ini dimaksudkan adalah sebagai orang yang memaksakan penyelenggaraan kekuasaan negara untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Masyarakat disini dimaksud dapat dalam individu/perorangan atau sekelompok manusia dapat sekelompok manusia yang mempunyai hak bersama/hak Ulayat.

Baik negara, pemerintah, masyarakat dan perorangan dalam mengelola tanah adalah untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia yaitu mencapai masyarakat adil makmur. Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah pelayanan yang diberikan oleh aparat pemerintah dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat lancar, cepat, tepat disertai biaya yang relatif murah.

Dengan banyaknya pengaturan hukum tanah terhadap Hukum Adat berarti Hukum Tanah Nasional sebagian berdasarkan pada hukum adat. Diharapkan agar undang-undang beserta peraturan pelaksanaannya dapat menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam Hukum Adatnya.

Berdasarkan Pasal-pasal dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) yang dikaitkan dengan hasil penelitian lapangan khususnya ke daerah Tingkat I Bali adalah sesuai sekali; Undang-undang yang mengatur masalah tanah berdasarkan pada Hukum Adat.

5. Analisa Hukum Adat Tanah di Bali dan Kaitannya Dengan Agama