BAB IV PENUTUP
B. SARAN SARAN
1. Perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah tentang cara penanggulangan penganiayaan dalam keluarga yaitu dengan memperberat sanksi pidana penjara dari yang ada sekarang.
2. Perlu adanya penyuluhan-penyuluhan hukum kepada para calon suami istri yang akan melangsungkan tali perkawinan sehingga mereka mengetahui secara mendalam mengenai "Tujuan Perkawinan".
3. Dihimbau kepada para istri atau suami untuk tidak segan-segan melapor kepada yang berwajib apabila di lingkungan keluarga-nya terjadi penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu pihak, dan juga kepada para tetangga terdekat apabila mengetahui di sekelilingnya terdapat suatu penganiayaan dalam keluarga.
4. Hendaklah dihindari adanya perkawinan muda yang sering menimbulkan kerawanan antara keduanya dalam hidup berumah tangga.
5. Perlunya dibentuk Lembaga-lembaga yang dapat menampung untuk sementara korban penganiayaan yang sangat membutuhkan perlindungan tersebut, sehingga korban menyadari bahwa sebagai Warga Negara Indonesia yang merdeka, yang keberadaannya diakui dan dijamin oleh Undang-undang, mengetahui bahwa tidak seorangpun berhak menghakimi atau melakukan perbuatan penganiayaan walaupun itu suaminya istrinya atau orang tuanya sendiri.
6. Perlu adanya ketrampilan yang khusus kepada para penyidik untuk mengetahui secara dini tentang adanya penganiayaan dalam keluarga, sehingga tidak menimbulkan akibat yang lebih fatal.
7. Perlu ditingkatkan peranan dan fungsi Badan Penasihat Perkawinan, Perselisihan dan Perceraian (BP4) agar masyarakat luas mengenal eksistensi dari badan tersebut.
184
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. Moeljatno, Prof, S.H., Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1978.
2. Saleh, K. Wancik, S.H., Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Departemen Kehakiman - Badan Pembinaan Hukum Nasional - Pusat Penyuluhan Hukum, 1983.
3. Saleh, K. Wancik, S.H., Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, Pusat Penyuluhan Hukum - Departemen Kehakiman, 1983.
4. Saleh, K. Wancik, S.H., Peraturan Pemerintah RI Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pusat Penyuluhan Hukum Departemen Kehakiman, 1983.
5. Soemiyati, S.H., Hukum Perkawinan dan Undang-undang Perkawinan, Penerbit Liberty, Jogyakarta, 1982,
6. Acjiir, Y.A., Tinjauan psikologik mengenai penyebab dan penang
gulangannya, Harian Umum Pelita, 1989.
7. Yamin, Nani, tanggapan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum untuk Wanita dan Keluarga terhadap kekerasan dalam Keluarga.
8. Ichtijanto, H.SA., S.H., Tinjauan Hukum Terhadap Penganiayaan dalam Keluarga dan Cara Penanggulangannya, Pelita, 1983.
9. Muchtar, Zubaidah. H., Penanggulangan Penganiayaan Dalam Keluarga, Pelita, 1983.
10. Oetama, Jakob, Kasus Pembunuhan Christin mulai disidangkan, Kompas, 13 Maret 1990, halaman 1.
11. Oetama, Jakob, Kasus Pembunuhan Nyonya Diah Holidah yang dipotong menjadi tujuh, Kompas, 16 Maret 1989, halaman 1.
12. Moeliono, M. Anton, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1988.
TINDAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA SEBAB DAN AKIBATNYA
Oleh :
Achmad Ubbe, S.H.
I. PENDAHULUAN
Tindak kekerasan dalam rumah tangga (selanjutnya disingkat TKRT) akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang. Pengumpulan data dan penelitian khusus mengenai hal ini. Menurut catatan yang ada belum diadakan di Indonesia, namun demikian dari kenyataan di sekitar kita dan pemberitaan oleh media massa dapat diketahui bahwa tindak kekerasan dalam rumah tangga mengalami peningkatan seiring dengan berkembangnya kejahatan pada umumnya.
TKRT sebab dan akibatnya, sebagai penomena sosial akan dipelajari dengan pendekatan multidisipliner yang dilatarbelakangi oleh beberapa pemikiran, antara lain bahwa TKRT merupakan sisi hitam dari bangunan keluarga (RT) yang sesungguhnya tidak dikehendaki oleh peradaban dan sistem nilai budaya baku yang hidup dalam masyarakat akan tetapi beberapa bentuk tindak kekerasan dari anggota (RT) kepada anggota lain masih saja terjadi di dalam masyarakat kita.
Sebagai gambaran pembanding membahas masalah ini, penulis akan mengutip temuan dalam sebuah penelitian di Amerika yang mengatakan 3/4 wanita di Sana pernah mengalami kekerasan fisik dari partnernya...
dan 1 dari 5 wanita tersebut mengalami peristiwa kekerasan berulang kali dengan unsur kesengajaan. Khusus untuk anak dikatakan 10% dari anak-anak di Amerika Serikat mempunyai pengalaman ditindak keras oleh orang tuanya (Purnianti, 1991:6).
Sistem nilai yang mengatur bagaimana bertingkah laku dalam sebuah perkawinan dan Rumah Tangga merupakan materi yang diajarkan oleh agama. Semua agama mengatur keluhuran perkawinan dan kesucian tujuan lembaga tersebut. Sistem nilai seperti ini tidak hanya dimonopoli oleh agama
tapi juga tumbuh dan berkembang pula pada adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku. Lebih dari itu pasal 1 UU No. 1 tahun 1974 mengatakan perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (RT) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kekukuhan sistem nilai dan kewibawaan lembaga perkawinan tidak hanya menjadi perhatian sistem nilai agama, budaya dan UU Nomor 1 tahun 1974, tetapi juga menjadi perhatian khusus dari hukum pidana seperti antara lain tercantum dalam pasal 356 dan 307 KU H Pidana yang pada dasarnya mengatur hal sebagai berikut. Pasal 356 mengatakan :
"Pidana yang ditentukan dalam 351, 353, 354 dan 355 dapat ditambah sepertiga: Bila kejahatan itu dilakukan terhadap ibunya, ayahnya yang sah istrinya dan anaknya."
Selanjutnya pasal 307 mengatakan :
"Bila yang melakukan kejahatan tersebut dalam pasal 305 adalah ayah atau ibu anak itu, maka pidana yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan sepertiga."
Pada uraian tersebut di atas tergambar secara ideal lembaga perkawinan dan cara bertingkah laku yang diharapkan tumbuh dan berkembang dalam kehidupan Rumah Tangga. Jikalau keadaan yang baik-baik itu tidak dapat dicapai, sistem nilai dan perangkat peraturan yang ada memberi jalan dengan perceraian. Sungguhpun demikian kenyataan menunjukkan keadaan yang lain.
Dalam kenyataan sehari-hari TKRT dalam banyak hal dan kejadian, masih dianggap sebagai kepatutan demi menjaga kepentingan antara sesama dalam Rumah Tangga yang bersangkutan, TKRT sering dipahami sebagai upaya mendisiplinkan anggota Rumah Tangga yang dianggap tidak disiplin.
Kenyataan sehari-hari yang berhubungan dengan TKRT secara garis besar dapat dicatat sebagai berikut:
1. Warga masyarakat pada umumnya masih melihat TKRT sebagai hal yang wajar dan ia merupakan rahasia Rumah Tangga yang tidak patut 188
dicampuri oleh pihak yang lain yang berada di luar Rumah Tangga yang bersangkutan.
2. Warga masyarakat pada umumnya memiliki minat yang rendah untuk melaporkan terjadinya suatu TKRT dan mereka enggan menjadi saksi dalam proses peradilan.
3. Pada umumnya korban TKRT berada di pihak yang sulit dan lemah, sehingga sebagian dari mereka tidak dapat membela diri atau mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan terhadap dirinya.
Akibatnya, mereka dalam keadaan siklus kekerasan yang membelenggu dirinya dan memberi kemungkinan tindak kekerasan mengenai dirinya berulang kali.
Kesenjangan antara nilai agama, budaya dan Hukum seperti terurai di atas di satu sisi dengan kenyataan rendahnya kepedulian sosial dan tumpulnya kontrol sosial warga masyarakat terhadap TKRT di pihak lainnya, melatarbelakangi pemikiran dan pendekatan dalam mempelajari masalah TKRT ini. Dengan latar belakang ini, tulisan ini dihadapkan pada masalah pokok ; Faktor-faktor apa saja yang mendorong lahirnya tindak kekerasan itu;
siapa-siapa saja yang menjadi obyek dan subyek tindak kekerasan itu, Pengenalan akan masalah ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dapat ditempuh dalam mencegah dan menanggulangi akibat TKRT tersebut.
Langkah operasional yang dijalani untuk menjawab permasalahan seperti tersebut di atas adalah penelitian perpustakaan. Data dan kenyataan yang berkaitan dengan masalah akan diolah untuk membuat suatu gambaran tindak kekerasan dalam rumah tangga. Gambaran tindak kekerasan dalam sebuah rumah tangga akan ditekankan pada aspek penyebab terjadinya tindakan itu dan akibat yang timbul dari sebab yang ada itu. Penggambaran yang demikian dimaksudkan pula untuk mengenal akibat dan mengantisipasi pencegahan dan penanggulangannya. Tulisan ini dapat dipergunakan sebagai langkah awal dalam mempelajari dan meneliti tindak kekerasan yang sungguh- sungguh terjadi dalam masyarakat kita.
II. BEBERAPA PENGERTIAN
Bagian ini akan diawali dengan penggambaran konsep yang terkait pada masalah yang dibahas.
Pokok-pokok pikiran yang bersangkutan dengan hal ini dapat diikuti pada uraian di bawah ini