• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perumusan Tindak Pidana dalam Perundang-undangan

TINDAK PIDANA

D. Perumusan Tindak Pidana dalam Perundang-undangan

99 99 Dalam perkembangan teori hukum pidana, gagasan Vrij mengalami transformasi menjadi lembaga pemberian maaf (rechterlijk pardon). Perkembangan yang terjadi dalam hukum pidana Belanda tersebut, diduga telah memberikan inspirasi bagi penyusun RUU KUHP di Indonesia untuk mengakomodasi di dalam RUU KUHP.

Dalam konteks keindonesiaan RUU KUHP 2016 pada Pasal 56 ayat (2) mengakomodasi gagasan senada sebagai bagian dari pedoman bagi hakim dalam penjatuhan pidana. Di dalam ilmu hukum pidana, lembaga baru ini dikenal dengan sebutan lembaga pemberian maaf atau lembaga kewenangan hakim memberikan maaf (Inggris: judicial pardon; Belanda: rechterlijk pardon).

Perlu diperhatikan perkembangan ide atau gagasan tentang unsur subsosial dalam tindak pidana sebagaimana dikemukakan oleh Vrij, dan dimasukkannya pasal baru di dalam KUHP Belanda yang kemudian dikenal dengan sebutan rechterlijk pardon, serta munculnya gagasan lembaga permaafan di dalam RUU KUHP Indonesia. Perkembangan ini memperlihatkan terjadinya transformasi gagasan, dari yang semula dipandang sebagai unsur tindak pidana, menjadi asas baru yang berfungsi sebagai pedoman hakim dalam melakukan penjatuhan pidana.

bahwa seseorang tidak akan dikenai pidana secara sewenang- wenang oleh penguasa. Untuk itulah diperlukan perumusan dengan tegas dan jelas perbuatan yang merupakan tindak pidana. Hanyalah dalam hal ada dugaan bahwa seseorang telah melakukan tindak pidana yang telah ditetapkan di dalam undang-undang, maka aparat penegak hukum berwenang melakukan tindakan yang mengarah pada pemidanaan.

1. Penetapan Perbuatan sebagai Tindak Pidana

Kehidupan manusia merupakan rangkaian dari begitu banyak aktivitas/kegiatan atau perbuatan. Pada dasarnya setiap manusia adalah bebas dan merdeka untuk berbuat, melakukan sesuatu yang dikehendakinya untuk mewujudkan hak dan martabatnya sebagai manusia. Kebebasan atau hak yang dibawa sejak lahir dan melekat pada diri manusia dikenal sebagai hak asasi manusia.

Kendatipun pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kebebasan, namun kebebasan manusia tidaklah bersifat absolut atau mutlak. Artinya manusia dapat menjalankan kebebasannya sepanjang tidak merugikan pihak lain. Oleh karena manusia hidup bersma-sama dengan manusia lainnya, maka manusia itu tidak dapat berbuat segala sesuatunya jika berakibat merugikan kepentingan atau hak orang lain. Jadi kebebasan orang perorangan dibatasi oleh kebebasan atau kepentingan orang lain.

Untuk mencegah dilakukannya perbuatan-perbuatan yang merugikan atau melanggar kepentingan orang lain, maka dibuatlah kesepakatan bahwa perbuatan-perbuatan tertentu, yang dilakukan dengan cara merugikan kepentingan orang lain atau dapat merugikan kepentingan orang lain, harus dilarang dan diancam dengan sanksi berupa pidana tertentu.

Perbuatan-perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana yang disebut sebagai tindak pidana (ataupun dengan menggunakan istilah lainnya seperti perbuatan pidana, peristiwa pidana, delik) adalah perbuatan-perbuatan yang dapat mengakibatkan kerugian:

a. Kerugian yang bersifat materiil atau kebendaan, seperti pencurian, perampokan, penipuan.

b. Kerugian yang bersifat immateriil/spiritual, kerugian yang tidak bersifat kebendaan melainkan bersifat rohaniah, seperti fitnah, penghinaan, pencemaran nama baik.

101 101 c. Kerugian yang bersifat campuran antara kerugian kebendaan

dan kerugian spiritual, seperti perkosaan, pembunuhan, penganiayaan, pemberontakan.

Subjek dari kepentingan yang dilindungi oleh hukum pidana dari perbuatan-perbuatan yang membahayakannya atau merugikannya itu meliputi:

a. orang perorangan atau individu;

b. masyarakat atau kolektivitas; dan c. negara.

Kendatipun di dalam kenyataannya terdapat banyak perbuatan yang dapat menimbulkan kerugian, namun tidak semua perbuatan yang merugikan itu dijadikan sebagai tindak pidana. Menurut Sudarto, terdapat beberapa pertimbangan apakah suatu perbuatan akan ditetapkan atau dijadikan sebagai tindak pidana.

Perbuatan itu oleh masyarakat sungguh-sungguh dirasakan merugikan;

a. Pertimbangan cost and benefit, yakni pertimbangan tentang perbandingan biaya dan manfaatnya. Jika ada sarana lain yang lebih murah, lebih baik didahulukan dan hukum pidana digunakan sebagai sarana pengobatan yang terakhir (ultimum remedium);

b. Pertimbangan fasilitas dan beban kerja dari aparat penegak hukum, yakni apakah dengan diciptakannya tindak pidana baru, aparat penegak hukum masih mampu menyelesaikan atau tidak, jika perlu penambahan fasilitas dan jumlah tenaga aparat penegak hukum;

c. Pertimbangan kemampuan dalam hal pengetahuan dan keterampilan dari aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan menangani.

Keempat pertimbangan tersebut harus diperhatikan sebelum memutuskan apakah suatu perbuatan tertentu akan dijadikan tindak pidana baru. Jika hal-hal tersebut diabaikan oleh pembentuk undang- undang, maka dapat terjadi inflasi tindak pidana. Inflasi tindak pidana ditandai dengan banyaknya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan pidana yang tidak diselesaikan sebagaimana mestinya sehingga martabat hukum dan aparat penegak hukum menjadi merosot disertai berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

2. Undang-Undang sebagai Sumber Hukum Pidana

Untuk mengetahui perbuatan apa yang dilarang dan diancam dengan pidana, perbuatan apa dan bagaimana yang dinyatakan sebagai tindak pidana, harus dilihat di dalam undang-undang sebagai salah satu sumber hukum pidana yang tertulis, selain dapat juga ditemukan dalam hukum pidana yang tidak tertulis.

Penetapan atau perumusan tindak pidana di dalam undang- undang merupakan konsekuensi logis dari berlakunya asas legalitas dalam hukum pidana yang mensyaratkan kepastian hukum tentang perbuatan yang dilarang dan dijadikan tindak pidana. Rumusan tindak pidana harus dapat menggambarkan dengan cermat dan pasti perbuatan apa dan bagaimana yang hendak dilarang atau yang diperintahkan. Dengan dasar demikian, rumusan tindak pidana dianggap baik apabila dapat menggambarkan dengan jelas perbuatan apa dan bagaimana yang dilarang atau diperintahkankan.

Sebaliknya rumusan tindak pidana itu dianggap buruk apabila tidak dapat memberikan gambaran jelas perbuatan apa yang dilarang atau diperintahkan. Rumusan yang buruk ini menyebabkan timbulnya ketidakpastian hukum yang membuka kemungkinan pada terjadinya tindakan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum.

3. Model Perumusan Tindak Pidana

Dasar adanya penjatuhan pidana kepada seseorang adalah adanya perbuatan, yakni perbuatan yang memenuhi atau mencocoki rumusan tindak pidana dalam undang-undang. Pengertian dari perbuatan yang memenuhi rumusan tindak pidana dalam undang- undang, yaitu bahwa perbuatan konkret yang dilakukan itu harus memiliki ciri-ciri perbuatan yang dirumuskan secara abstrak did alam undang-undang. Di dalam undang-undang perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak pidana itu dirumuskan secara abstrak jadi tidak konkret. Artinya perbuatan itu tidak terikat secara spesifik pada orang, tempat, dan waktu tertentu.

Dalam undang-undang hukum pidana, tindak pidana dirumuskan dalam bentuk larangan ataupun perintah yang disebut norma atau kaidah dengan disertai sanksi atau pidana yang diancamkan. Dua hal ini, yaitu norma atau kaidah dan sanksi atau pidana, merupakan kandungan dari aturan hukum pidana. Norma atau kaidah hukum pidana yang berupa larangan dan perintah, menyatakan perbuatan apa yang dilarang ataupun perbuatan yang diperintahkan.

103 103 Di dalam KUHP dikenal tiga model perumusan norma hukum pidana:59

a. Model perumusan yang memuat penyebutan atau uraian tentang unsur-unsur perbuatan yang dilarang; contohnya:

Pasal 154–157 KUHP: menabur kebencian; Pasal 281 KUHP:

pelanggaran kesusilaan; Pasal 305 KUHP: meninggalkan anak di bawah umur 7 tahun; Pasal 413 KUHP: panglima tentara yang lalai terhadap permintaan pejabat sipil; Pasal 435 KUHP:

pegawai yang melakukan pemborongan pekerjaan jawatannya sendiri.

b. Model perumusan yang hanya menyebutkan kualifikasi atau nama dari perbuatan yang dilarang tanpa menguraikan unsur- unsur perbuatan, contohnya: Pasal 184 tentang perkelahian tanding/dihapuskan Pasal 297 KUHP: tentang perdagangan wanita; Pasal 351 KUHP: penganiayaan.

c. Model perumusan yang mengkombinasikan penyebutan unsur- unsur perbuatan serta kualifikasi atau nama dari perbuatan yang dilarang, contohnya: Pasal 124 KUHP: membantu musuh; Pasal 263 KUHP: pemalsuan surat; Pasal 338 KUHP:

pembunuhan; Pasal 362 KUHP: pencurian; Pasal 372 KUHP:

penggelapan; Pasal 378 KUHP: penipuan; Pasal 425 KUHP:

kerakusan pejabat; Pasal 438 KUHP: perompakan.

RUU KUHP 2015,60 dalam rumusan tindak pidana, menganut model kedua, yaitu perumusan tindak pidana dengan menguraikan unsur-unsur perbuatan yang dilarang serta memberinya nama atau kualifikasi. Sementara itu dalam penempatan norma dan sanksi, perumusan tindak pidana di dalam RUU KUHP mengikuti model pertama, yakni menempatkan norma dan sanksi secara bersama- sama dalam satu pasal kecuali untuk pidana denda yang berkategori.

Kategori pidana denda ini terdapat pada Pasal 75 RUU KUHP.