BAB II RIWAYAT HIDUP IMAM AL-QURTHUBI DAN
B. Riwayat Hidup Wahbah Zuhaili dan Kajian Kitab
37
B. Riwayat Hidup Wahbah Zuhaili dan Kajian Kitab
38
dengan waktu yang relatif singkat di bawah bimbingan sang ibu.53
Wahbah Zuhaili sendiri di besarkan lingkungan ulama-ulama Mazhab Hanafi, yang membentuk pemikirannya dalam Mazhab Fiqih. Walaupun Wahbah tinggal di lingkungan ulama-ulama yang bermazhab Hanafi, namun pemikirannya tidak fanatik pada satu Mazhab atau pada pemikiran Mazhab Hanafi saja, Wahbah selalu menghargai pendapat-pendapat Mazhab lain. Hal ini dapat di lihat ketika Wahbah menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan Fiqih, Wahbah tidak condong pada salah satu Mazhab.54
2. Guru-guru Wahbah Zuhaili
Berikut ini penulis akan mencantumkan guru- guru dari Wahbah Zuhaili yang pernah Wahbah datangi
untuk menuntut ilmu- 55
a. Syaikh Muhammad Hashim Al-Khatib Al- Syafi (w. 1958 M)
b. Syaikh Muhammad Al-Rankusi c. Syaikh Judat Al-Mardini (w. 1957 M) d. Syaikh Hasan Al-Shati (w. 1962 M)
e. Syaikh Muhammad Luthfi Al-Fayumi (w.
1990 M)
f. Syaikh Ahmad Al-Samak g. Syaikh Hmadi Juwaijati h. Syaikh Hasan Al-Jankah
i. Syaikh Shadiq Jankah Al-Maidani
53 Mohammad Mufid, Belajar dari Tiga Ulama Syam, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2015), hlm 91.
54 Syifaun Nufus Atmi, Penafsiran Ayat-Ayat tentang Wanita Shalihah menurut Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir (Studi Deskriptif), (Skripsi, UIN Mataram, Mataram, 2020), hlm. 20.
55 Ibid., hlm. 22.
39
j. Syaikh Shalih Farfur k. Syaikh Hasan Khatib l.
m. Syaikh Shubhi Al-Khazran n. Syaikh Rasyid Syathi o. Hikmat Syathi
p. Madhim Mahmud Nasimi 3. Karya-karya Wahbah Zuhaili
Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa seorang yang alim seharusnya tak berhenti dari aktivitas mengajar dan berdakwah dari mimbar ke mimbar saja, tapi juga harus memiliki sebuah karya tulis. Sebab dengan menulis karya-karyanya akan tetap terpelihara, dan tetap bisa di akses oleh khalayak luas, dan tentunya menjadi warisan yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Oleh sebab itulah Wahbah Zuhaili memiliki banyak sekali buku-buku bacaan, antara lain:
1) Atsar Al-Harb Fi Al-Fiqih Al-Isla>mi-Dirasat Muqa>ranah, Dar Al-Fikr, Damaskus, 1963.
2) Al-Wa>sit Fi Ushu>l Al-Fiqih, Universitas Damaskus, 1966.
3) Al-Fiqih Al-Isla>mi Fi Uslu>b Al-Jadi>d, Maktabah Al-Hadithah, Damaskus, 1967.
4) Naza>riat Ad-Daru>rat Asy- , Maktabah Al-Farabi, Damaskus, 1969.
5) Naza>riat ad-Dama>n, Dar al-Fikr, Damaskus, 1970.
6) Al-Usu>l al-Ammah li Wahdah ad-Di>n al-Haq, Maktabah al-Abassiyah, Damaskus 1972.
7) Al-Ala>qat ad-Dawliah fi al-Isla>m, Muassasah al-Risalah, Beirut, 1981.
40
8) Al-Fikih al-Isla>mi wa Adillatuh, (jilid 8), Dar al-Fikr, Damaskus, 1984.
9) Usu>l al-Fikih al-Isla>mi (dua jilid), Dar al-Fikr, Damaskus, 1986.
10) Juhud Taqnin al-Fikih al-Isla>mi>, (Muassasah al-Risalah, Beirut, 1987).
11) Fikih al-Mawa>ri>s fi asy- >t al-Isla>miah, Dar al-Fikr, Damaskus, 1987.
12) Al-Wasaya wa al-Waqf fi al-Fikih al-Islami, Dar al-Fikr, Damasakus, 1987.
13) Al-Islam Din al-Jihad La al-Udwan, Persatuan Dakwah Islam Antara Bangsa, Tripoli, Libya, 1990.
14) At-Tafsi>r al-Muni>r fi al-aqi>dah wa asy-
wa al-Manha>j, (16 jilid), Dar al-Fikr, Damaskus, 1991.
15) Al-Qisah al- >yah wa Baya>n, Dar Khair, Damaskus, 1992.56
4. Latar Belakang Penulisan Kitab Tafsi>r Al-Muni>r Tafsir ini di beri Judul Al-Tafsi>r Al-Muni>r Fi
Al- - -Manha>j, di
terbitkan pertama kali pada tahun 1991 oleh Dar AL-
Fikr Al- -Munir ini
di tulis ketika Wahbah Zuhaili menjadi Visiting Professor di Kuwait, dalam kurun waktu 5 tahun tanpa istirahat kecuali amakn dan shalat. Ketika Wahbah Zuhaili selesai menulis kitab Tafsirnya, sebelum di cetak, Wahbah menyerahkannya kepada pelajar yang setingkat dengan sekolah menengah untuk membaca dan juga mempelajarinya. Hal itu dilakukan agar
56 Mohammad Mufid, Belajar..., hlm. 96-98.
41
Wahbah sendiri tahu bahwa baahasa yang di gunakan dalam menulis kitab ini mudah dicerna oleh pelajar atau tidak.57
Adapun tujuan ditulisnya Tafsir Al-Munir tersebut di tengah banyaknya refrensi kitab tafsir klasik maupun kontemporer adalah untuk memudahkan para pengkaji ilmu keislaman. Adapun penjelasannya dijelaskan oleh Wahbah Zuhaili dalam Muqoddimah Tafsirnya:
adalah untuk mengikat umat islam dengan Al-
yang merupakan Firman Allah dengan ikatan yang kuat dan ilmiah. Sebab Al-
aturan yang harus di taati dalam kehidupan manusia.
Fokus saya dalam kitab ini bukan untuk menjelaskan permasalahan Khila>fiyah dalam bidaang Fiqih, sebagaimana di temukan para pakar Fiqih, akan tetapi saya ingin menjelaskan hukum yang dapat diambil dalam ayat Al-Qur
luas. Hal ini akan lebih dapat diterima dari sekedar menyajikan maknanya secara umu. Sebab Al-
mengandung aspek Aqidah, Akhlak, dan pedoman umum serta faedah-faedah yang dapat dipetik dari ayat- ayat-Nya. Sehingga setiap penjelasan, penegasan, dan isyarat ilmu pengetahuan yang terekam di dalamnya menjadi instrumen pembangunan kehidupan sosial yang lebih baik dan maju bagi masyarakat modern secara umumsaat ini, atau untuk kehidupan individual
58
57 Mokhamad Sukron, Tafsir Wahbah Al-Zuhaili Analisis pendekatan, metodelogi, corak Tafsir Al-Munir Terhadap Ayat Poligami, Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. 2, Nomor 1, April 2018, hlm. 264.
58 Mohamad Mufid, Belajar..., hlm. 102.
42
Ali Ayazi juga menambahkan terkait dengan tujuan di tulisnya kitab Tafsir Al-Munir ini ialah untuk memadukan keorisinalan Tafsir Klasik dan keindahan Tafsir Kontemporer, karena menurut Wahbah Zuhaili banyak orang yang menyudutkan bahwa Tafsir Klasik tidak mampu memberikan solusi terhadap problematika Kontemporer, sedangkan para Mufassir Kontemporer banyak melakukan penyimpangan interpretasi terhadap ayat Al-
berdalilkan pembaharuan.59
5. Metode Penafsiran dalam Tafsi>r Al-Muni>r
Terkait metodologi yang digunakan oleh Wahbah Zuhaili dalam menafsirkan ayat-ayat Al-
Tahlili (analitik) dari segi tartib ayat, walaupun juga Wahbah sedikit mengkombinasikan metode semi
(tematik), karena selain menafsirkan Al- ari surah Al-Fatihah sampai surah An-Nas, Wahbah juga memberi tema pada setiap kali memasuki kajian ayat yang sesuai dengan kandungannya. Ini bisa dilihat ketika Wahbah Zuhaili menafsirkan surah Al-Baqoroh ayat 1-5, Wahbah memberikan tema sifat-sifat orang mukmin dan juga balasan bagi orang-orang yang bertaqwa. Hal yang serupa terus dilakukan sampai dengan menafsirkan surah An-Nas, Wahbah selalu memberikan tema pembahasan pada setiap ayat yang saling berkaitan.60
59 Ibid., hlm. 103.
60 Ainol, Metode Penafsiran Al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis, Vol. 1, Nomor 2, Desember 2011, hlm. 149.
43
6. Corak Penafsiran dalam Tafsi>r Al-Muni>r
Corak Penafsiran yang digunakan oleh Wahbah Zuhaili dalam menulis Tafsirnya ini tidak lepas dari latar belakang keilmuannya, yaitu ilmu Hukum Islam dan Filsafat Hukum. Dari sini bisa dilihat bahwa Tafsir Al-Munir memiliki corak Fiqih yang kental. Selain dari corak Fiqih, Tafsir ini juga menyajikan nuansa sastra, budaya dan kemasyarakatan , yaitu corak Tafsir yang menjelaskan petunjuk-petunjuk Al- masyarakat serta usaha-usaha untuk menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan penjelasan yang indah dan tentunya mudah untuk dipahami.
Adapun bagian yang di beri sub judul Fiqh Al- Hayah Aw Al-Ahka>m bertujuan menjelaskan hal-hal yang belum di bahas secara menyeluruh ketika menafsirkan ayat, atau adakalanya juga persoalan- persoalan yang diangkat merupakan problematika yang masih menimbulkan polemik di kalangan masyarakat islam pada umumnya. Dengan demikian, permasalahan-permasalahan yang telah dikaji tersebut mendapat kejelasan.61
7. Kelebihan dan Kekurangan Kitab Tafsir Al-Munir a. Kelebihan :
1) Memilki pengantar tafsir yang sangat berguna bagi para pembaca yang berisikan seputar > >n.
2) Sistematika penyusunanya jelas dan runtut, sehingga para pembaca akan sangat mudah
61 Mokhamad Sukron, Tafsir..., hlm. 268.
44
mencari topik bahasan tanpa harus membaca isinya secara keseluruhan.
3) Mudah dicerna oleh orang awam karena bahasa yang digunakan sangat sederhana.
4) Menggunakan rujukan yang valid dan disertai dengan footnote.
5) Ayat-ayat di bagi berdasarkan topik pembahasan, sehingga para pembaca akan diarahkan pada tema pembahasan kumpulan ayat-ayat yang di tafsirkannya, karena tafsir ini membuat sub bahasan sesuai dengan tema ayat yang di tafsirkan.
6) Terdapat keterangan masalah hukum yang memudahkan para pembaca untuk mengambil beberapa kesimpulan atau hikmah-hikmah yang dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
7) Adanya Faharith baik berupa potongan redaksi Hadis, maupun sebagian potongan kata yang ada dalam Al- 62
b. Kekurangan
1) Tafsir ini terkadang hanya sekedar mengutip pendapat dari Mufassir sebelumnya, jadi jika dilihat pendapat dalam tafsir seakan-akan sama dengan Mufassir tersebut.
2) Hadis yang di cantumkan sering tidak disertai dengan perawi yang lengkap sehingga sulit mengetahui kualitas hadis tersebut.63
62 Syifaun Nufus Atmi, Penafsiran..., hlm. 34.
63 Ibid., hlm. 35.
45