26 Bagian terbesar bentuk hukum pidana adalah berupa perumusan delik. Dalam perumusan delik kesalahan dan melawan hukum adalah syarat umum bagi dapat dipidananya seseorang, bahkan dalam definisi klasik mengenai tindak pidana, diakui sebagai syarat umum terjadinya tindak pidana. Karena itu, sebagai syarat umum, keduanya tidak selalu dicantumkan sebagai unsur dalam lukisan- lukisan delik.
27 tercantum dalam rumusan delik, perbuatan itu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut atau tercela. Karena itu pula ajaran ini mengakui alasan-alasan pembenar di luar undang-undang. Dengan perkataan lain, alasan pembenar dapat bearada pada hukum yang tidak tertulis. melawan hukum, apabila secara materiel perbuatan itu tidak bertentangan dengan hukum.
Ajaran sifat melawan hukum materiil hanya diterima dalam fungsinya yang negatif, dalam arti bahwa suatu perbuatan dapat hilang sifatnya sebagai Ajaran sifat melawan hukum materiel dalam hukum pidana modern diterima dari dokrin hukum pidana Jerman. Di Belanda sendiri beberapa publikasi dari penulis-penulis Belanda yang mempersoalkan ajaran ini, mulai muncul lagi pada tahun 60-an melalui disertasi J.ter Heide,Vrijheid, over de zin van de straf (1965), dan pada tahun 70-an memlalui publikasi tulisan-tulisanTh.W.van Veen.41
Tulisan-tulisan van Veen ini muncul karena sejak tahun 1968, dalam beberapa perkara pidana, alasan-alasan hilangnya sifat melawan hukum materiel sebagai alasan pembenar telah dipakai oleh terdakwa, tetapi selalu kandas di pengadilan yang lebih tinggi, terutama di Mahkamah Agung. Pada dasarnya, keberatan Mahkamah Agung untuk menolak alasan hilangnya sifat melawan hukum materiel sebagai alasan pembenar adalah :
Dengan menerima tidak ada hal melawan hukum materiel dalam suatu peristiwa tertentu, hakim sebetulnya mengambil tempat yang diduduki oleh pembuat undang-undang. Dengan ini hakim mengesampingkan undang-undang.42
Mengapa alasan pembenar yang tidak tertulis (seperti ontbreken van materiele wederrechtelijk ini) sukar dapat diterima oleh
41 H.J. van Eikama Hommes, De materiele wederrechtlijkheid in het strafrecht, dalam Strafrecht in perspektief, Gouda Quint B.V., Arnhem, 1980 hlm. 29
42 van Bemmelen, Hukum Pidana I, terjemahan,op.cit, hlm. 104.
28 hakim Belanda daripada penerimaan alasan penghapus kesalahan yang tidak tertulis (afwesigheid van alle schuld),van Veen mengatakan :
Dapat diusulkan untuk membedakan hilangnya sifat melawan hukum materiel berdasarkan dua alasan. Jenis pertama mempunyai sifat eksepsi. Yang bersangkutan mengakui secara prinsip sifat melawan hukum dari kelakuannya, tetapi mengemukakan keadaan-keadaan khusus.
Jenis kedua mempunyai sifat memungkiri, bahwa apa yang didakwakan pada hakikatnya termasuk dalam rumusan delik. Akan tetapi, menurut undang-undang, setidak-tidaknya menurut maksud pembuat undang- undang, apa yang dituduhkan itu tidak bersifat melawan hukum.43
Karena itu menurut van Veen pula :
Perkataan „materiel‟ tidak perlu dianggap serius. Dengan kata „hilangnya sifat melawan hukum materiel‟ berarti bahwa sifat melawan hukum yang dimaksud dalam perumusan delik menjadi hilang walaupun terdakwa tidak dapat mendasarkan alasan pembenar yang diformulasikan dalam undang-undang.44
Apakah sesungguhnya yang disebut sifat melawan hukum? Vermunt mengambil pendapat Von Lizt:
Sifat melawan hukum formal adalah perbuatan yang bertentangan dengan suatu norma yang ditetapkan negara berupa perintah dan larangan.
Sifat melawan hukum materiel adalah pelanggaran terhadap kepentingan-kepentingan sosial yang dilindungi
43 Th. W.van Veen, Ontbreken van materiele wederrechtelijkheid (1), Delikt en Delinkwsnt (voorzetting tijdschrift voor Stafrecht), Gouda Quint 6.V., 1975, hlm. 189.
44 Th. W.van Veen, ibid, hlm. 190.
29 oleh norma-norma hukum perorangan atau masyarakat, termasuk perusakan atau membahayakan suatu kepentingan hukum.45
Pemisahan antara sifat melawan hukum formal dan materiel ini juga dikemukakan oleh Maurrach dan Jeshech.46 yang menarik perhatian adalah pendapat Jeshech, seperti dikutip Vermunt, yang mengatakan :
Menurut pendapatnya, adalah „bersifat melawan hukum formal‟ apabila suatu kelakuan bertentangan dengan kewajiban untuk berbuat atau tidak melakukan sesuatu yang disebut dalam norma hukum.
Soalnya di sini mengenai penentangan terhadap „berbuat menurut norma-norma yang diperintahkan‟ walaupun disini harus dikatakan bahwa sifat melawan hukum formal mempunyai arti materiel karena dengan perusakan norma itu, dasar kepercayaan yang menjadi dasar tata tertib dalam masyarakat dirugikan.47
Pendapat Jesheck ini, menurut Vermunt, didasari pemikiran bahwa : Norma hukum bukan semata-mata „perintah –perintah paksa, tetapi tuntunan tata tertib yang ada dalam suatu lingkungan masyarakat yang sesuai dengan pandangan orang-orang dalam lingkungan hukum yang sama itu dan oleh karena itu mempunyai hak atas penataan dan anggota warganya.48
Arti praktis dari sifat melawan hukum materiel, disamping fungsinya, menurut Jeschek adalah: “als „Orien- tierungspunkt‟ des Gesetzgebers bei der aufstellung der
45 Domein Vermunt, op.cit, hlm. 50.
46 Domein Vermunt, ibid, hlm. 133.
47 ibid, hlm. 133.
48 Domein Vermunt, loc.cit.
30 Straftatbestande und der Leitgedanke der Strafvervolgungsor-gane”,49 (Sebagai titik orientasi pembuat undang-undang menyusun lagi pula kemungkinan-kemungkinan untuk mempergunakan alasan pembenar).
Tetapi menurut Jescheck selanjutnya:
Ween das Gesetz schweigt, aber dem Gesetz entsprechende Guterabwagung sagt, dass die Strafrechtsnorm zugrunde leigende Zweckeund Wervorstellungen hier anderen berechtigten Interessen, denen die Handlung dient, zurucktreten mussen”.
Bila undang-undang tidak mengatakan apa-apa, tetapi pertimbangan-pertimbangan hukum yang sesuai dengan hal tersebut berbicara tujuan-tujuan dan harapan-harapan tentang nilai-nilai yang menjadi dasar norma hukum pidana dari kepentingan- kepentingan yang merupakan hal lain yang dilayani oleh perilaku itu, harus mundur.
Jescheck juga tetap mengingatkan bahwa kepastian hukum karenanya tidak boleh dilanggar, sehingga dikatakannya :
Klausula mumi adalah : suatu perbuatan tidak melawan hukum apabila perbuatan itu sesuai dengan tujuan undang-undang. Suatu perbuatan adalah melawan hukum kalau tujuannya lebih merugikan daripada bermanfaat untuk negara/ organ-organnya.
Klusula itu tidak boleh dipakai secara langsung untuk menyelesaikan masalah, tetapi memerlukan alasan- alasan yang dapat membuat suatu kelakuan dapat dibenarkan sebagai kekecualian.50
Mengenai alasan pembenar yang tidak tertulis itu sendiri, Vermunt menyetujui pendapat Jescheck yang juga
49 Domein Vermunt, loc.cit.
50 Ibid.
31 mengatakan bahwa pemisahan antara sifat melawan hukum formal dan materiel adalah berdasarkan praduga yang tidak benar : “... dass die Gesetzlichkeit des Strafrechts auch fur die Rechtfertigungsgrunde gilt, wahrend diese im Wahrheit der Gesamtheit des gesrchriebenen Oder ungeschriebenen-Rechts zu entnehmen sind”.51 (... sifat menurut hukum dari hukum pidana juga berlaku bagi alasan pembenar yang sesungguhnya hal tersebut dapat diambil dari keseluruhan hukum tertulis atau hukum tak tertulis.
Berkenan dengan pendapat para Sarjana Hukum Jerman tersebut, kiranya kita dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa pendapat mereka sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hukum di Belanda. Ini dapat dibuktikan dari tulisan- tulisan dalam buku-buku tentang asas-asas hukum pidana yang terbit pada tahun-tahun terakhir ini yang tidak lagi membahas secara khusus mengenai sifat melawan hukum yang formal maupun materiel.
Mereka cukup menyinggungnya dalam bagian yang membicarakan tindak pidana.52 Tulisan-tulisan lepas, malahan lebih memuat sekitar kebutuhan ilmu hukum Belanda untuk mengembangkan alasan-alasan penghapus pidana (alasan pembenar) yang tidak tertulis.
Pendapat-pendapat di atas masih sangat berpengaruh di Indonesia, terutama dalam penerapannya, seperti nanti akan terlihat dalam yurisprudensi-yurisprudensi yang akan peneliti beberkan.
Karena itu, peneliti berpendapat bahwa pandangan-pandangan yang saling berlainan tadi sesungguhnya terletak pada cara penafsiran dan penilaian terhadap fakta yang terungkap di muka sidang pengadilan.
Semakin cermat meneliti fakta konkret yang dapat dibuktikan atau tidak dapat dibuktikan, semakin besar peluang untuk memperoleh alasan pembenar di luar undang-undang (alasam pembenar yang tidak
51 Domein Vermunt, loc.cit.
52 Bandingkan misalnya: dalam buku Hazewinkel Suringa cetakan tahun 1933 dan cetakan ke sebelas (1989). Juga van Bemmelen cetakan ke satu (1079) dan cetakan ke sembilan (1986). Nieboer, cetakan pertama tahun 1990.
32 tertulis), yang pada akhirnya menunjukkan betapa relatifnya pula arti dari sifat melawan hukum.
E. ARTI MELAWAN HUKUM