• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI

N/A
N/A
Patricia Evita C

Academic year: 2024

Membagikan "MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI "

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI

(Kajian Tentang Putusan Mahkamah Agung RI Tahun 2005-2011)

LAPORAN PENELITIAN

Disusun Oleh:

JOHANNES BRATA WIJAYA, S.H. (Koordinator) DR. ISMAIL RUMADAN, M.H. (Anggota)

SUHARDIN, S.H. (Anggota)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN MAHKAMAH AGUNG RI

2013

(3)
(4)

LAPORAN HASIL PENELITIAN

MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI : KAJIAN TENTANG PUTUSAN

MAHKAMAH AGUNG RI TAHUN 2005 – 2011

OLEH :

KOORDINATOR PENELITI JOHANNES BRATA WIJAYA, S.H.

ANGGOTA :

DR. ISMAIL RUMADAN, M.H.

SUHARDIN, S.H.

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM DAN PERADILAN

MAHKAMAH AGUNG RI TAHUN 2013

(5)
(6)

i KATA PENGANTAR

Badan Penelitian dan Pengembangan & Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI merupakan satuan kerja yang lahir setelah semua Lembaga Peradilan Yaitu:

1. Peradilan Umum;

2. Peradilan Agama;

3. Peradilan Tata Usaha Negara;

4. Peradilan Militer;

berada di bawah "satu atap" Mahkamah Agung RI.

Salah satu tugas dan tanggung jawab Badan Litbang Diklat Kumdil adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia bagi seluruh aparat Peradilan, baik bagi Tenaga teknis (Hakim, Panitera dan Jurusita) maupun tenaga non Teknis, termasuk Pejabat Struktural.

Dan dalam rangka Pelaksanaan tugas tersebut, Badan Litbang Diklat Kumdil meliput 4 (empat) unit kerja yakni :

1. Sekretariat Badan;

2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan;

3. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan;

4. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan;

Salah satu unit dari Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan adalah Penelitian (Puslitbang).

Berdasarkan DIPA 2013 Pusat Penelitian dan

Pengembangan Hukum dan Peradilan (Puslitbang) telah melaksanakan berbagai macam kegiatan yang menjadi tupoksinya. Salah satunya adalah Penelitian "MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI (Kajian Tentang Putusan Mahkamah Agung RI Tahun 2005-2011)" yang merupakan Penelitian Kepustakaan. Penelitian tersebut dilaksanakan diwilayah Hukum Pengadilan di Jakarta. Hasilnya telah disusun dan dibuat dalam bentuk Buku Laporan.

(7)

ii Untuk itu, kami menyampaikan ucapan terima kasih atas ketulusan dan keikhlasan semua pihak mulai dari pengumpulan bahan-bahan sampai dengan selesainya penelitian dan telah menjadi sebuah Buku Laporan Penelitian

"MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI (Kajian Tentang Putusan Mahkamah Agung RI Tahun 2005-2011)".

Insya Allah, jerih payah kita semua akan menjadi amal sholeh dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, Amin.

Mega Mendung, Oktober 2013 KEPALA

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN & PENDIDIKAN DAN PELATIHAN HUKUM DAN PERADILAN

NY. SITI NURDJANAH, SH., MH

(8)

iii KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala limpahan nikmat dan karunianya, sehingga Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan melalui DIPA Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI Tahun Anggaran 2013 telah berhasil merealisasikan salah satu tugas pokok dan fungsinya yakni menyelenggarakan kegiatan penelitian.

Kegiatan tersebut diawali dengan Focus Grup Discussion (FGD) untuk mendiskusikan Proposal Penelitian berjudul

"MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI (Kajian Tentang Putusan Mahkamah Agung RI Tahun 2005-2011)" kegiatan FGD Proposal tersebut berlangsung di Jakarta. Setelah FGD Proposal, dilanjutkan dengan memulai pelaksanaan kegiatan Penelitian Kepustakaan di Jakarta, melalui kompilasi bahan dan data penelitian, seleksi serta analisis terhadap berbagai data, bahan, referensi kepustakaan, dan putusan-putusan pengadilan yang relevan, serta dilengkapi sejumlah wawancara dengan para narasumber yang kompeten.

Terhadap hasil Penelitian tersebut kemudian dilakukan Kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) untuk membahas dan mendiskusikan Hasil Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyempurnaan hasil penelitian.

FGD Proposal Penelitian, maupun FGD Hasil Penelitian telah diikuti oleh para undangan, antara lain meliputi beberapa Hakim Agung, Hakim Tinggi, Hakim Tinggi Pengawasan, Hakim Tinggi yang diperbantukan pada Balitbang Diklat, Hakim Yusitisial, Hakim Tingkat Pertama, Fungsional Peneliti Puslitbang Mahkamah Agung, peneliti dari Instarisi atau Lembaga lain, Akademisi dari Perguruan Tinggi dan Staf Puslitbang. Dengan tujuan untuk mendapatkan berbagai masukan, kritik dan usulan bagi penyempurnaan proposal maupun hasil penelitian.

Diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kemanfaatan hasil penelitian, baik bagi kalangan internal Mahkamah Agung beserta segenap jajaran dan hirarkinya, maupun bagi para stake holder lainnya.

(9)

iv Buku Laporan Hasil Penelitian ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban Kapuslitbang kepada Pimpinan Mahkamah Agung RI, serta sebagai dokumentasi telah selesainya pelaksanaan kegiatan tersebut. Semoga kiranya dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya.

KEPALA

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BADAN LITBANG DIKLAT KUMDIL MA-RI

Prof. Dr. BASUKI REKSO WIBOWO, S.H., M.S.

NIP. 19590107 198303 1 005

(10)

v SEKAPUR SIRIH

Penelitian hukum tentang makna sifat melawan hukum materiel adalah merupakan penelitian kepustakaan berdasarkan tahun anggaran 2013 oleh Pusat Penelitian dan Pengembambangan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan metode penelitian, dengan cara meneliti dan menelaah putusan-putusan yang sudah Inkracht dari Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Sebagaimana biasanya waktu pelaksanaan penelitian selama 15 (lima belas) hari setelah dilakukan presentasi FGD (Focus Group Discution) dari beberapa perwakilan internal dan eksternal Pusat Penelitian dan Pengembambangan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Di dalam laporan hasil penelitian pengumpulan data-data baik dokumen maupun literature-literatur putusan-putusan dikaji dianalisis dan dibuatkan tabulasi putusan yang sudah Inkracht dengan melihat amar dan pertimbangan hukumnya. Adapun dengan dapat dijadikan sebagai laporan hasil penelitian seperti judul diatas kiranya dapat berguna bagi para hakim-hakim di daerah-daerah sebagai bahan referensi dan berguna juga bagi pimpinan Mahkamah Agung Republik Indonesia sebagai masukan untuk membuat pedoman atau referensi berupa peraturan untuk hakim-hakim tersebut dan bagi Bangsa Indonesia baik kalangan Akademisi dan Praktisi sangat berguna untuk pembangunan di bidang hukum khususnya tindak pidana korupsi.

Di dalam melakukan penelitian ini substansinya menjelaskan tentang ketidaksamaan bagi para hakim dalam memutus perkara tentang ajaran sifat melawan hukum materiel tindak pidana korupsi setelah paska keputusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia perkara Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006.

(11)

vi Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua para pihak yang membantu terkait di dalam penelitian ini.

Jakarta, 10 Oktober 2013

Koordinator Peneliti,

Johannes Brata Wijaya, S.H.

(12)

vii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……… i

v DAFTAR ISI ……….. v

x

BAB I PENDAHULUAN ……… 1 1

A. LATAR BELAKANG ……… 1 1

B. PERUMUSAN MASALAH ……….. 4

C. TUJUAN PENELITIAN ……… 5

D. METODE PENELITIAN ……….. 5

E. KEGUNAAN PENELITIAN ……… 6 6

F. KERANGKA TEORITIS ……….. 6 G. SISTEMATIKA PENULISAN ………. 13 BAB II MAKNA SIFAT MELAWAN HUKUM DALAM

PERKARA PIDANA KORUPSI LANDASAN TEORITIS MENGENAL AJARAN SIFAT

MELAWAN HUKUM MATERIEL ………. 15 A. NORMA-NORMA MATERIEL DAN

HUKUM PIDANA ……… 15

B. ASAS LEGALITAS ………. 18

C. NILAI RELATIF UNDANG-UNDANG ………. 22 D. SIFAT MELAWAN HUKUM SEBAGAI

UNSUR ……… 26

E. ARTI MELAWAN HUKUM ……….. 32 31

F. YURISPRUDENSI ………. 36

G. DE SCHUTZNORM THEORIE ……… 39

H. TERMINOLOGI ……… 40

I. PERTIMBANGAN HUKUM

MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG UNSUR MELAWAN HUKUM

(WEDERRECHTELIJKHEID) ……….. 59

J. SUATU PENELAAHAN ……… 63

(13)

viii K. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB …………. 71 BAB III HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN

TERHADAP PUTUSAN-PUTUSAN KASASI DI MAHKAMAH AGUNG RI PERIODE TAHUN

2005-2011 ……… 73 70

A. TABULASI PERKARA PIDANA KORUPSI ….. 74 B. ANALISA PUTUSAN TAHUN 2005-2011

“PERKARA PIDANA KORUPSI……….. 88 DAFTAR PUSTAKA ………. 91

LAMPIRAN ……… 97

(14)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Korupsi merupakan suatu fenomena universal, yang melekat dan telah menjadi bagian dari sejarah peradaban umat manusia semenjak berabad-abad yang lampau.1 Hampir-hampir tidak ada satu Negara pun di dunia ini, baik Negara maju maupun Negara berkembang yang steril dari tindak pidana korupsi. Perbedaan hanya terletak pada tingkat intensitas dan prevalensi korupsi, yang pada umumnya lebih tinggi di Negara-nagara berkembang ketimbang di Negara-nagara maju.2

Pada sebagian Negara berkembang, kondisi korupsi yang terjadi kelihatan sangat serius dan merisaukan.3 Oleh sebab itu, adalah wajar apabila Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan masalah korupsi dan upaya penanggulagannya sebagai suatu agenda penting dalam berbagai kongres tentang “The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders” 4 masalah ini bahkan pernah dibawa ke dalam forum Sidang Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1999, yang kemudian melahirkan “United Nations Declaration Against Corruption and Bribery in International Commercial Transaction” 5 Untuk mencapai efektivitas penegakan hukum dalam penanggulangan korupsi, dalam deklarasi ini dianjurkan agar Negara-negara anggota mengadopsi ketentuan hukum yang diperlukan sepanjang hal tersebut belum terdapat di dalam system hukum masing-masing

1 Rance P. Lee (ed), Corruption and Its Control in Hong Kong:

Situation up to the Late Seventies, (Hong Kong: The Chenese Unyvercity Press, 1981), hlm. 1.

2 Elwi Danil, KORUPSI:” Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya”, Raja Grafindo Persada, 2012, hlm. 1.

3 Lihat dan bandingkan Robert Klitgaard, Op cit., hlm. 10.

4 Lihat The United Nations, The United Nations and Crime Prevention, Op.cit., hlm. 29-30.

5 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Op.cit., hlm.417- 418.

(15)

2 Pembaruan hukum pidana tentang korupsi dapat dimasukkan ke dalam upaya penanggulangan seperti dianjurkan deklarasi tersebut diatas. Dlam konteks itu, ketentuan-ketentuan hukum pidana yang tidak lagi kondusif bagi usaha penanggulangan, perlu direformasi dengan tetap memperhatikan asas-asas hukum yang merefleksikan prinsip hukum Negara. Reformasi hukum di Indonesia, untuk penanggulangan masalah korupsi, ditandai antara lain dengan pembentukan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai pengganti Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971.

Terdapat beberapa kemajuan di dalam Undang-Undang korupsi Tahun 1999, yang jika dilihat dalam perpektif teoretis dapat mengandung berbagai diskusi akademik. Sehubungan dengan tersebut, maka tulisan ini mencoba mengedepankan suatu aspek yang cukup menarik, terutama sekali menyangkut keberanian kebijakan legislative dalam memformulasikan fungsi positif ajaran sifat melawan hukum materiel (materiele wederrechtelijheid), yang sejak semula cenderung dianggap bersinggungan dengan asas legalitas sebagai suatu asas fundamental dan “soko gurunya” hukum pidana.

Ada 4 (empat) kategori tindak pidana korupsi sebagai konsep yuridis, yaitu :

1. Suap menyuap (Bribery) 2. Pemerasan (Extention)

3. Penipuan/Penggelapan (Fraud) 4. Nepotisme (Nepotism)

Sebagai dasar hukum kategori ini pengaturannya pada Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 dan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme.

Rumusan hukum pidana tentang kategori-kategori perbuatan ini pada umumnya ditemukan pengaturannya di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001. Namun tentang nepotisme, secara

(16)

3 khusus dirumuskan di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih Bebas KKN.

Meskipun keempat kategori perbuatan tersebut tidak sama pengertiannya secara konsepsional, namun terdapat satu benang merah yang menghubungkannya, yaitu adanya kesamaan karakter. Menurut Syed Hussein Alatas, kesamaan karakter yang dapat dipahami dari keempat kategori perbuatan korup itu adalah, penempatan kepentingan-kepentingan public dibawah tujuan-tujuan privat dengan melanggar norma-norma tugas dan kesejahteraan yang dibarengi dengan keserbarahasiaan, pengkhianatan dan pengabaian atas setiap konsekuensi yang diderita oleh masyarakat.6

Kebijakan Undang-undang khususnya dibidang Hukum Pidana Khusus Tindak Pidana Korupsi telah mengalami perkembangan dan perbedaan yang signifikan dan dinamis luar biasa.

Dalam hal ini karena kegalauan terhadap permasalahan korupsi yang telah menyengsarakan rakyat Indonesia, dan sampai saat ini, ada 7 (tujuh) ketentuan Perundang-undangan yang berlaku untuk memberantas tindak pidana korupsi, yaitu :

1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai mana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi

“Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”.

3. Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 Tentang Penyalahgunaan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

6 Elwi Danil, KORUPSI: Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya, Raja Grafindo Persada , Agustus 2012., hlm. 178

(17)

4 6. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang

Perlindungan Saksi dan Korban.

7. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan United Nations Convention Aqaints Coruption 2003 (Konvensi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi 2003).

Bagi mereka yang berpandangan “Positivisme Legalistic”

keberadaan beberapa putusan perundang-undangan tersebut untuk mencegah dan membatasi tindak pidana korupsi yang mana didalam subtansinya tidak terlepas ajaran sifat melawan hukum yang akan digunakan sebagai tolok ukur pembuktiannya penegak hukum untuk proses pembuktiannya setiap perkara yang dihadapinya sebagai perbuatan atau tindak pidana korupsi.

Bahwa ajaran sifat melawan hukum yang akan diteliti ini sering menjadi ajang perdebatan dari kalangan akademis, praktisi serta beberapa hakim yang akan menangani suatu kasus tindak pidana korupsi terdapat perbedaan penerapan unsur positif unsur melawan hukumnya dan hal inilah yang menjadi permasalahan yang akan diteliti putusan-putusan yang sudah Inkracht (hukum tetap) dengan melihat amar putusan dan pertimbangan hukum majelis tersebut.

Adanya suatu pendapat yang berbeda atau “Dissenting Opinion”

Putusan-putusan Mahkamah Agung RI Tahun 2005 sampai dengan 2011.

Demikian latar belakang dari penelitian ini yang diulas lagi dalam bentuk permasalahan dan tujuan penelitian dan seterusnya.

B. PERUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah bentuk ajaran sifat melawan hukum dalam perkara tindak pidana korupsi didalam peraturan Perundang- undangan di Indonesia.

2. Bagaimanakah penerapan ajaran Sifat Melawan Hukum Formil dan Materiel tersebut dalam praktek pembuktian oleh hakim berdasarkan kepastian hukum atau keadilan dalam masyarakat didalam putusan-putusan Majelis Hakim tersebut.

(18)

5 C. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui dan memahami suatu rumusan-rumusan dan asas-asas terhadap sifat melawan hukum berdasarkan putusan-putusan perundang-undangan tindak pidana korupsi;

2. Untuk mendapatkan berupa prospek ke depan sebagai putusan-putusan hakim yang dijatuhkan apabila hanya menjadi corong Undang-undang atau hanya Jurisprudensi atau memang mementingkan keadilan dalam masyarakat Dengan berani menerobos peraturan perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi.

D. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori pendekatan masalah Yaitu secara hukum Normatif, langkah-langkah yang diambil adalah berdasarkan studi dokumen- dokumen, literatur, keputusan dan studi kasus terhadap putusan- putusan Hakim yang sudah Inkracht Van Gewijsde (mempunyai kekuatan hukum tetap), khususnya putusan-putusan Mahkamah Agung RI dan putusan tingkat Pertama dan Banding yang sudah Inkracht terhadap subtansi ajaran Sifat Melawan Hukum Tindak Pidana Korupsi dan data-data yang diambil bersifat data sekunder yang akan dianalisa secara kualitatif dan hasil dari analisa ini akan di deskripsikan di Interpretasikan, dicatat terhadap kondisi-kondisi yang berkembang saat ini dengan dilakukan secara deskriptif dan juga akan dibuatkan berupa suatu bentuk tabulasi-tabulasi. Kemudian penelitian ini menggunakan sistem langsung dengan narasumber yang dianggap perlu untuk mendukung penelitian ini dan sebagai bahan responden terutama para hakim-hakim yang telah pernah memutus terhadap kasus-kasus Tindak Pidana Korupsi.

(19)

6 E. KEGUNAAN PENELITIAN

Demi hasil laporan Penelitian nanti kiranya dapat berguna untuk bahan pemikiran yang akan datang berupa bentuk teoritis maupun praktis, sebagai berikut:

1. Secara teoritis, laporan hasil penelitian kelak berguna bagi pengembangan dan pembaharuan di dalam Ilmu Hukum alasannya dalam penegakkan perbuatan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia.

2. Secara praktis, catatat hasil penelitian ini juga kelak secara praktis/praktek berguna untuk sebagai referensi kelembagaan Mahkamah Agung RI khususnya para Hakim dari tingkat pertama sampai dengan tingkat Kasasi dan Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung dalam memutus suatu perkara.

Dan secara hukum dapat berguna untuk sebagai bahan pembuat undang-undang, untuk bahan kajian masukan terhadap putusan perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi.

F. KERANGKA TEORITIS

Dalam kerangka teoritis ini di bahas tentang kajian berupa bentuk makna “Sifat Melawan Hukum” Perkara Pidana Korupsi di dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Tindak Pidana Korupsi melihat pada kenyataannya didalam putusan-putusan para Hakim dapat dikaji dan diuji kebenarannya terhadap penerapan dalam praktek dari bentuk teori, asas dan norma Hukum. Asas-asas dalam Hukum Pidana merupakan suatu nilai-nilai yang terkandung didalamnya harus dipatuhi di dalam Hukum Pidana dengan teori asas dalam norma- norma Hukum tersebut mengkaji didalam sifat melawan hukum dalam suatu kasus Tindak Pidana Korupsi didalam hakim memeriksa dan memutus suatu perkara dilembaga peradilan. Penelusuran terhadap literature yang menjadikan korupsi sebagai objek kajian dan pembahasan telah memberikan gambaran tentang betapa tidak mudahnya membuat suatu batasan konseptual untuk memahami

(20)

7 makna korupsi. Ketidakmudahan aspek terkandung didalam perilaku korupsi itu sendiri sehingga sulit menarik suatu pengertian yang serba mencakup.7

Menurut Robert O. Tilman sepertinya keindahan, pengertian Korupsi yang sesungguhnya tergantung dari cara dari sudut mana kita memandangnya, penggunaan suatu prespektif yang lain, penggunaan pendekatan Yuridis untuk memahami makna Korupsi secara konseptual akan menghasilkan suatu pengertian yang berbeda dengan penggunaan pendekatan sosiologis, kriminologis dan politis misalnya. Dan dengan pendekatan multidisipliner bagi kalangan hakim tidak bermanfaat dalam pendekatan ini tetapi diperlukan pemahaman komprehensif sehingga dapat diartikan secara luas konseptual makna korupsi dan kalangan hakim dapat memahami Aspek-aspek secara sosiologis dan kriminologis adalah bersifat kualitatif, bila di tampung norma hukum pidana diperlukan politik hukum pidana dalam kerangka Ius Constituendum.8

Dilihat dari sudut terminology, istilah Korupsi berasal dari kata “Corruption” dalam bahasa latin yang berarti kerusakan atau kebobrokan, dan dipakai juga untuk menunjuk suatu keadaan atau perbuatan yang busuk. Dalam perkembangannya mewarnai perbendaharaan kata dari berbagai Negara, istilah korupsi sering dikaitkan orang dengan ketidak jujuran atau kecurangan seseorang dalam bidang keuangan.9

Dikemukakan pula oleh Henry Campbell Black10 mengartikan Korupsi adalah suatu perbuatan yang didahulukan

7 Elwi Danil, Korupsi, Konsep Tindak Pidana dan Pembatasannya, tahun 2012, cet. Raja Grafindo Persada, hlm. 2.

8 Robert O. Tilman,” Timbulnya Birokrasi Pasar Gelap, Administrasi Pasar Gelap dan Korupsi di Negara-negara Baru” dalam Muchtar Lubis dan James C, Scoot (ed), Bunga Rampai Korupsi, (Jakarta:

LP3ES, 1988), hlm. 59

9 Elwi Danil, “Korupsi” Konsep Tindak Pidana dan Pembatasannya, Tahun 2012, cet. Raja GrafindoPersada, hlm.3-4.

10 Henry, Campbell Black, Black‟s Law Dictionary With Pronounciations, (St. Paul, Minn: West Publishing Co., 1983) hlm. 182.

(21)

8 dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan keinginan resmi dan hak-hak dari pihak lain. Beliau juga mengatakan, corruption perbuatan seorang pejabat yang secara melanggar hukum menggunakan jabatannya utnuk mendapatkan suatu keuntungan yang berlawanan dengan kewajiban.

Dalam Webster New American Dictionary “Coruption”

diartikan sebagai “Decay” (lapuk), “Contamination” (kemasukan sesuatu…) dan “Impurity” (tidak murni) sedangkan kata “Corupt”

(menjadi busuk, lapuk dan buruk).

Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Kata Korupsi diartikan sebagai perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan seterusnya.

Didalam hukum pidana asas yang terpenting adalah asas legalitas, yang tercantum dalam Pasal 1 ayat 1, KUHP, yaitu tiada suatu perbuatan (Feit) yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang mendahuluinya.

Ketentuan ini diusulkan dalam Code Penal (KUHP) Prancis yang mulai berlaku 1 Maret 1984, yang menetapkan Lacoi Penale es‟d Interpretation “Stricte” Hukum Pidana harus ditafsir secara ketat. 11

Ada 2 (dua) hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan dalam rumusan tersebut antara lain :12

1. Jika suatu perbuatan dilarang atau pengabaian sesuatu yang diharuskan dan diancam dengan pidana, maka perbuatan atau pengabaian tersebut harus tercantum didalam Undang-undang Hukum Pidana.

2. Ketentuan tersebut tidak boleh berlaku surut dengan suatu kekecualian yang tercantum di dalam Pasal 1 ayat 2 KUHP.

Bahwa didalam penerapan fungsi positif ajaran Melawan Hukum Materiil itu dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999.

Norma Hukumnya tidak dirumuskannya dalam Pasal-pasal yang ada

11 Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Perkembangannya, Sofmadia, tahun 2012, hlm.49-50.

12 D. Hazewinkel, Suringa, Op., Cit. hal. 709.

(22)

9 dalam Undang-undang itu, tetapi dirumuskan dipenjelasan Undang- undang Nomor 31 Tahun 1999 Pasal 2 ayat 1, antara lain :13

“Yang dimaksud dengan asas “Melawan Hukum” dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil atau materiil yaitu meskipun perbuatan norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat maka perbuatan tersebut dapat dipidana.” itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan,

namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan.

Yang menjadi Fokus Interest dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 didalam penerapan fungsi Positif Ajaran sifat melawan Hukum Materiil adalah ketentuan Pasal 2 ayat (1), namun secara Eksplisit “Melawan Hukum”.14

Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 menentukan :

1. Setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu koorporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara, dipindana penjara paling singkat 4 (empat) dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliyar rupiah).

2. Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud ayat 1 dilakukan keadaan tertentu pidana mati dapat dijatuhkan.

13 Elwi Danil, Korupsi, Konsep Tindak Pidana dan Pembatasannya, tahun 2012, cet. Raja Grafindo Persada, hal, 152.

14 Elwi Danil, Korupsi,Konsep Tindak Pidana dan Pembatasannya, tahun 2012, cet. Raja Grafindo Persada, hal, 137-140.

(23)

10 Begitu juga dilihat dari terminologi Melawan Hukum merupakan padanan dari istilah Wederechtelijk bahasa Belanda yang artinya berbeda-beda berbagai penulis.15

Van Hammel mengelompokkan ada 2 (dua) paham, yaitu : 1. Kelompok paham positif yang mengartikan sebagai bertentangan dengan hukum atau menyalahkan orang lain.

2. Kelompok paham negatif yang mengartikan sebagai tidak berdasarkan hukum atau sebagai tanpa hak.

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Nayoma dan Lauge Meiyer yang mencatat bahwa didalam literature Hukum Pidana dikenal pengertian Wederr Olijck yang paling berbeda. Seperti bertentangan dengan Hukum, dengan hak orang lain atau tanpa hak sendiri.

Didalam KUHP, unsur melawan hukum tersebut sifat melawan hukum dijumpai dalam beberapa pengertian seperti misalnya pada pasal 406 KUHP dituangkan dengan istilah tanpa hak sendiri Pasal 333 KUHP bertentangan dengan Hukum Objektif dan Pasal 167 dan Pasal 522 KUHP mengandung arti bertentangan dengan Hukum khusus Tindak Pidana Korupsi menurut Andi Hamzah Melawan Hukum paling tepat diartikan sebagai tidak mempunyai hak sendiri untuk menikmati keuntungan (korupsi).

Didalam Kepustkaan Hukum Pidana sehingga saat ini ditemukan adanya perbedaan pendapat menguasai ajaran sifat Melawan Hukum, yaitu :16

1. Sifat melawan hukum formal (formale wederechtelijkheid)

Sifat melawan hukum formal adalah apabila perbuatan itu bertentangan dengan ketentuan Undang-undang (hukum tertulis) dengan

15 Andi Hamzah, Korupsi Indonesia Masalah dan Pemecahaannya, Jakarta, Grafindo, hal. 76.

16 Ruslan Saleh, Korupsi Indonesia Masalah dan Pemecahannya, Jakarta, Grafindo, hlm. 76.

(24)

11 pengetahuan seperti itu, maka suatu perbuatan bersifat Melawan Hukum adalah apabila telah dipenuhi semua unsur yang tersebut dalam rumusan delik, jika semua unsur tersebut telah terpanuhi maka tidak perlu lagi diselidiki lagi apakah perbuatan itu menurut masyarakat Benar- benar telah dirasakan sebagai perbuatan yang tidak patut dilakukan.

2. Sifat melawan hukum materiil (Materiil wederrechtelijkheid)

Suatu perbuatan disebut sebagai perbuatan melawan hukum secara materiil suatu perbuatan melawan tentu tidaklah hanya sekedar bertentangan dengan ketentuan Hukum tertulis saja, disamping memenuhi syarat-syarat formal yaitu memenuhi semua unsur yang disebut dalam rumusan delik, perbuatan haruslah benar-benar dirasakan masyarakat sebagai perbuatan atau tidak boleh tidak patut dilakukan. Jadi dalam konstruksi yang demikian suatu perbuatan tersebut dipandang tercela dalam suatu masyarakat.

Tolok ukur untuk mengatakan suatu perbuatan telah melawan hukum secara materiil sebagaimana dikatakan menghukum secara materiil sebagaimana dikatakan Loebby Loqman bukan didasarkan pada ada atau tidaknya ketentuan dalam suatu Undang- undang akan tetapi ditinjau dari nilai yang ada dalam masyarakat.

Pandangan yang menitikberatkan melawan hukum secara formal cenderung melihatnya dari sisi objek atau perbuatannya telah cocok dengan tindak pidana yang dilakukan, maka tidaklah perlu diuji apakah perbuatan melawan hukum secara meteriil atau tidak, atau sebaliknya secara materiil merupakan pendangan yang menitikberatkan melawan hukum dari segi subjek atau pelaku. Dari sisi ini apabila dari perbuatan telah cocok dengan rumusan tindak

(25)

12 pidana yang dilakukan maka tindakan selanjutnya adalah perbuatan melawan hukum secara materiil dari sisi pelaku.17

Korupsi dilihat dari sifat perbuatannya dapat dibedakan dalam 2 (dua) kategori, yaitu :

1. Bersifat Administratif

Bersifat Administratif adalah korupsi yang dilakukan oleh Pejabat Negara atau Pegawai Pemerintah dan tidak terkait dengan politik, mereka melakukan korupsi semata-mata hanyalah untuk menikmati hidup mewah dan senang. Hal ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) hal:

a. Karena kebutuhan mendesak b. Karena keserakahan

2. Bersifat Struktural

Korupsi yang berkaitan dengan struktur kekuasaan karena adanya kerjasama atau persekongkolan (kolusi) dalam kerja yang tak baik antara pemegang kekuasaan dengan pelaku bisnis atau sebaliknya atas dasar saling menguntungkan. Sifat tersbut dapat dibagi dalam 2 (dua) hal, yaitu:

a. Income Coruption (materi)

b. Police Coruption (Membuat peraturan)

Sifat ini melawan hukumnya kalau diajukan ke Pengadilan mereka akan berdalih sudah sesuai dengan peraturan dan sesuai dengan ketentuan hukum, padahal aturan hukum itu mereka (pelaku) sendiri yang membuatnya, praktek korupsi seperti ini sukar untuk dibuktikan sifat melawan hukumnya didalam suatu putusan perundang-undangan yang berlaku bagi tindak pidana korupsi tersebut.

17 Loebby Loqman, Beberapa Ikhwal di dalam Undang-undang No.

3, tahun 1971 tentang Pidana Korupsi, Op., Cit. hal. 25.

(26)

13 G. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan terdiri dari Bab I sampai dengan Bab IV, yaitu :

Bab I PENDAHULUAN

Terdiri dari Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Metode penelitian, Kegunaan Penelitian, kerangka Penelitian dan Sistematika Penulisan.

Bab II MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI

Bab III HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN

TERHADAP PUTUSAN-PUTUSAN KASASI DAN PENINJAUAN KEMBALI PERKARA TAHUN 2005-2011 DI MAHKAMAH AGUNG RI

A. Berupa bentuk-bentuk tabulasi yang akan dianalisa putusan-putusan berikutnya.

B. Analisa putusan tahun 2005 sampai dengan 2011 tentang perkara pidana korupsi

Bab IV KESIMPULAN DAN SARAN

Ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran.

Lampiran Daftar Pustaka Tabulasi

Bab IV PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran Daftar Pustaka Lampiran-lampiran

(27)

14

(28)

15 BAB II

MAKNA “SIFAT MELAWAN HUKUM” DALAM PERKARA PIDANA KORUPSI

Landasan Teoretis Mengenal Ajaran Sifat Melawan – Hukum Materiel

A. NORMA-NORMA MATERIEL DAN HUKUM PIDANA Pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran kami adalah : “Kepada siapakah hukum pidana ini ditujukan atau siapakah adresat hukum pidana? Apakah hanya ditujukan kepada pelanggar- pelanggar tauran hukum pidana dan karenanya mereka dihukum?Ataukah ditujukan kepada para penegak hukum untuk menegakkannya agar terdapat tata tertib dalam lalu lintas pergaulan hidup pada suatu Negara? 18

“Selain oleh hukum, kehidupan manusia dalam masyarakat dipedomi moral manusia itu sendiri, diatur pula oleh agama, oleh kaidah-kaidah susila, kesopanan, adat kebiasaan dan kaidah-kaidah social lainnya”, demikian dikatakan olehMochtar Kusuaatmadja. 19

Pendapat tersebut dapat sepenuhnya penulis setuju karena sesungguhnya kita mengikuti kaidah-kaidah moral, agama, susila, kesopanan, adat kebiasaan, dan social berdasarkan keadaan hidup, pengetahuan atau kebutuhan hidup yang sama.

Kaidah-kaidah tersebut dapat menjadi tuntunan tuntunan orang untuk berperilaku atau menjadi norma-norma perilaku. Sebagai norma biasanya tidak dengan sengaja dibuat oleh pembuat norma, tetapi berkembang sendiri dalam hidup manusia dari generasi ke generasi.

18 Komariah Emong Sapardjadja, Ajaran Sifat melawan Hukum Materiel Dalam Hukum Pidana Indonesi, Bandung, 2001, hlm. 1.

19 Mochtar Kusumaatmadja, fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional, Lembaga penelitian Hukam dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, tidak bertahun, hlm. 3.

(29)

16 Kaidah-kaidah moral, agama, susila, kesopanan, dan social, yang selanjutnya menjadi norma perilaku tersebut, ada yang dikukuhkan menjadi norma hukum. Norma hukum itu ada yang menjadi bagian dari hukum perdata, hukum administrasi, atau hukum pidana. Penyebutan dan pengakuan hukum dari norma-norma perilaku oleh pembuat Undang-undang bukan saja karena bertujuan melindungi norma-norma yang sudah ada itu terhadap bahaya, terhadap penciptaan norma perilaku yang baru, atau pengembangannya yang tidak jelas, tetapi menurut Von Hayeck, seperti dikutip oleh Schaffmeister :

Die Besonderheit von durch einen dazu berufenen Gezetceber ausgestellten Rechtsregeln gegenuber anderen

„gewachsenen‟ Verhaltensregeln ist dann auch hauptsachlich darin zu sehen, dab „wir sie in einem gewissen Grade bewubt so gestalten konnen, dab sie in Verbindung mit den anderen Regeln und in den zu erwartenden tatsachlichen Umstanden zur Bildung einer Gesamtordnung fuhren. 20

(keistimewaan aturan hukum yang dibuat oleh pembuat undang-undang yang berwenang untuk itu berhadapan dengan aturan perilaku yang sudah tumbuh, terutama terlhat di situ, bahwa kita secara sadar, dapat membentuknya sampai derajat tertentu).

Masalahnya ialah, apakah yang menjadi kriteria untuk menentukan suatu norma perilaku menjadi norma hukum, khususnya dalam bidang hukum pidana yang kelak memberinya sanksi-sanksi?

20 D. Schaffmeister, “Verhaltenorm und Strafrecht”, Ad personam, Opstellen aangeboden aan prof. mr. Ch.J. Enschede, W.E.J. Tjeenk Willink, Zwolle 1981, hlm. 247.

(30)

17

“Strafrecht is een overheidsmonopolie, (hukum pidana suatu monopoli dari pemerintah), demikian kata Enschede.21 Hal tersebut terjadi karena tugas pertama setiap Negara untuk mempertahankan keamanan dan ketertiban, dan karena itu Negara mempunyai alat pemaksa untuk melaksanakannya, yang dalam suasana demikian tempatnya hukum pidana. Hukum pidana melegitimasi dan sekaligus menunjukkan batas-batas paksaan itu.

Kami berpendapat bahwa negaralah yang menetapkan norma-norma perilaku mana yang akan dikukuhkan menjadi kaidah hukum dengan mengingat kepentingan-kepentingan yang perlu dilindungi, terutama dari intervensi pihak lain. Juga tidak semua kepentingan dapat dilayani oleh hukum karena kepentingan setiap orang berbeda. Bahkan, dapat juga saling bertentangan, lagi pula tidak setiap kepentingan patut dihormati.

Pendapat Enschede yang dikutip oleh Schaffmeister”…, das Sr. enthalt weder Befehle noch Mormen, sondern nur Deliktsumschreibungen. 22 (bahwa hukum pidana hanyalah rumusan delik, yang menunjukkan fragmen-fragmen dari norma-norma yang dapat dipidana). Padahal :“Insbesondere Deliktsumschreibungen haben deutlich den Character eines-Modells, mitdemeinzelneAspekte der komplexen Wirklickeit auf hohem Abtraktionsniveau als strafrechtrelevent defeniert warden”. 23 (Khususnya rumusan delik, mempunyai sifat sebagai suatu model yang mempunyai suatu aspek kenyataan yang kompleks, dan model itu didefinisikan melalui tingkat abstrak yang tinggi). Dengan demikian, tampak lebih jelas bahwa antara norma perilaku dan norma hukum pidana (perumusan delik) mempunyai hubungan yang saling mengait. Perumusan delik ini diperlukan karena asas legalitas, dank arena salah satu tugas hukum pidana adalah melayani tegaknya tertib hukum dalam suatu Negara.

21 Ch. J. Enschede, “Problemen van strafwetgeving”. Problemen van wet-geving, Kluwer – Deventer -1982, hlm. 165.

22 ibid, hlm. 283.

23 ibid, hlm. 277.

(31)

18 Die Strafgesetzgebung bestimmt, in welchen fallen und wie sanktioniert warden darf; die Strafrectspfiege ubt die derart zugewiesenen Befugnisse aus im Dienste der gesellschaftlichen Bedriedung – des Ausgleichs der um das Deliktherum entstadenen Unruhe und Undfreedens – und zur Forderung der Normgehorsamkeit.

(Pembuat undang-undang juga menetukan dalam hal mana dan bagaimana boleh dilakukan pemberian sanksi;

pelaksana hukum pidana melakukan wewenang yang diberikan secara demikian untuk melayani kedamaian dalam masyarakat, keseimbangan antara keresahan yang terjadi dan ketidakdamaian, dan untuk menambah kepatuhan terhadap norma. 24

Dari kejadian tadi, di samping aturan-aturan yang diundangkan, tetap berkembang aturan-aturan yang tidak diundangkan yang terus hidup dalam masyarakat, yang bahkan justru aturan-aturan yang tidak diundangkan itu dirasakan lebih adil. Oleh karena itu, aturan hukum pidana harus cocok/ berhubungan dengan norma perilaku yang terbanyak dianut, karena apabila terlalu banyak norma yang diberi sanksi, system hukum pidana akan sangat meragukan.

Banyak aturan yang diundangkan kurang berhasil.

Aturan-aturan itu tidak akan didukung apabila bertentangan dengan aturan-aturan yang masih dianut dalam masyarakat sekalipun tidak diundangkan.

Hukum pidana adalah suatu codex, dank arena sifat sebagai codex, jauh dari sempurna.Karena itu, hakim sering mencari keadilan dalam nilai-nilai masyarakat.

Yang sangat mencolok dalam hukum pidana adalah penegakan norma-normanya karena penegakan hukum pidana sesungguhnya banyak ditentukan oleh asas legilitas.

24 ibid, hlm. 278.

(32)

19 B. ASAS LEGALITAS

Asas ini, baik di Belanda maupun di Indonesia, tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) dengan rumusannya; “Geen Feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan voorafgegane wettelijke strafbepalingen”,25 atau “Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada”.26

Meskipun telah berumur seratus tahun lebih, yaitu sejak 1886 diberlakukannya Wvs di Belanda, dan 1918 di Indonesia, rumusan ini tidak berubah.

Menurut Groenhuijsen,27 ada empat makna yang terkandung dalam pasal ini. Dua dari yang pertama ditujukan kepada pembuat undang-undang (de wetgevende macht), dan dua yang lainnya merupakan pedoman bagi hakim.Pertama, bahwa pembuat undang-undang tidak boleh memberlakukan suatu ketentuan pidanaberlaku mundur.Kedua, bahwa semua perbuatan yang dilarang menyatakan bahwa terdakwa melakukan perbuatan pidana didasarkan pada hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan, dan Keempat, terhadap peraturan hukum pidana dilarang diterapkan analogi.

Menurut Dupont: “Het legaliteitsbeginsel is een van de meest fundamentele beginselen van het strafrecht.”28 (Asas legalitas adalah suatu asas yang paling penting dalam hukum pidana).

Dikatakan selanjutnya bahwa asas ini dikenal dengan adgium “nullum delictum poena praevia sine lege poenair.Secara singkat: nullum crimen sine lege berarti tidak ada tindak pidana tanpa undang-undang,

25 E.M.L Engelbrecht, Kitab-kitab Undang-undang, Undang-undang dan Peraturan-peraturan serta Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia., A.W. Sijthoff, Leiden, 1953, hlm.995.

26 Tim Penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, op.cit hlm. 13.

27 M.S. Qroenhuijsen, Straf en wet, Pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana pada Universitas Katolik, Jumat, 6 November 1987, Gouda Quint. Arnhem, hlm. 15

28 Lieven Dupount.dan Raf. Brabant, Handbook Belgisch,Acco Leuven/Amesfoort, 1990, hlm. 101.

(33)

20 dan nulla poena sine lege berarti tidak ada pidana tanpa undang- undang. Jadi, undang-undang menetapkan dan membatasi mana yang pidana sanksi mana yang dapat dijatuhkan kepada pelanggarnya.

Asas ini mengandung asas perlindungan, yang secara historis merupakan reaksi terhadap kesewenang-wenangan penguasa di zaman Ancien Regime serta jawaban atas kebutuhan fungsional terhdap kepastian hukum yang menjadi keharusan di dalam suatu Negara hukum liberal pada waktu itu. Sekarang pun keterikatan Negara-negara hukum modern terhadap asas ini mencerminkan keadaan bahwa tidak ada suatu kekuasaan Negara yang tanpa batas terhadap rakyatnya dan kekuasaan Negara pun tunduk pada aturan- aturan hukum yang telah ditetapkan.29

Its origin remain nebulous”, demikian kata Prassel.30 Tetapi penelitian Sahetapy menemukan bahwa menurut Oppenheimer Talmudic Jurisprudence, ilmu hukum orang jahudi, mendahului von Feuerbach.31

Khususnya bagi Belanda, dengan asas legalitas, hukum pidana merupakan hukum undang-undang dalam pengertian bahwa tidak ada tempat bagi hukum tidak tertulis (hukum kebiasaan).Karena itu pula bagi perumusan delik dalam ketentuan undang-undang dianut prinsip Lex certa.

Pendapat lain dikemukakan oleh t’ Hart, :

Dat rechtebeginselen geen permanent gefixeerde inhoud hebben; zlj kunnen ook nlet worden beoordeeld los van de historische dlmensie en van de maatschappelijke context waarin zlj zijn ingebed32

Bahwa asas-asas hukum tidak mempunyai isi yang pasti dan permanen; asas-asas itu juga tidak dapat dinilai tepat

29 Lieven Dupount., Beginselen van behoortijke Strafrechtsbsdeling, Uitgeverij Kluwer, Antwerpen, 1979, hlm.49-50..

30 Frank R. Prassel, Criminal Law, Justice, and Society, Goodyear Publishing Company Inc, Santa monica California, 1979, hlm. 70.

31 J.E. Sahetapy, Ancaman Pidana mati Terhadap Pembunuhan Berencana, disertai, Alumni, Bandung, 1979, hlm. 169.

32 M.S. Groenhuijsen, Strsf en Wet, ibid, hlm. 45.

(34)

21 dari dimensi sejarah dan konteks kemasyarakatan dimana hal tersebut termasuk.

Selanjutnya, dan ini yang terpenting dari pendapatnya:

…. Dat het instrumentele en het beschermlgsaspect twee zijden vormen van het strafrecht, die voortdurend tegen elkaar moeten worden afgewogen. In wetgeving en rechtspraak moet nu eens het ene, dan weer het andere facet omtsandigheden de overhand kunnen krijgen.

Bahwa aspek instrumental dan aspek pelindungan, dua sisi dari hukum pidana, yang selalu harus ditimbang satu sama lain.

Dalam perundang-undangan dan pengadilan kadang- kadang hanya satu, kadang-kadang pula yang lainnya, kemudian facet yang lain dalam situasi-situasi yang ada bag masyarakat.

Menurut pendapat kami, dalam menimbang kedua sisi tersebut, akan terdapat dua kubu kepentingan yang saling berebut tempat,.Kubu pertama adalah kepentingan Negara dalam rangka memelihara tata tertib, dan ini yang harus dtegakkan, sedangkan kubu kedua adalah segi perlindungan hukum bagi masyarakat.

Menurut Rennekink, asas legalitas ini adalah, “een ved- erlichte voorkeur voor de beweging van de grotererechtsbes- cherming”,33 tetapi dalam arti “het gezichpunt moet kunnen domineren wanner dat ten bate van de rechtsgemeenschap onvermijdelijk is”34 asas perlindungan hanya mempunyai hanya mempunyai prevensi yang sangat sedikit, tatapi pendapat terbanyak menyatakan bahwa demi masyarakat hukum tidak dapat dihindarkan. negara dengan adanya asas legalitas ini harus diartikan sebagai memberikan kepastian hukum, bukan sebagai kepastian undang-undang. Karena itu juga tugas-tugas kepolisian dan peradilan bukanlah untuk menegakkan undang-undang tetapi penegakan hukum. Sebagai alat kontrol

33 M.S. Groenhuijsen, lot.cit.

34 ibid.

(35)

22 terhadap intervensi negara dalam pelayanan hukum pidana ini, dalam praktek sehari-hari, asas ini harus diujikan terhadap asas-asas lain dalam kehidupan bernegara seperti asas algemene begin-selen van behoorlljk bestuur, beginsefen van een goede procesorde, atau de ongeschereven beginselen van sub-sidiariteit en proportionaliteit.35

C. NILAI RELATIF UNDANG-UNDANG

Hukum pidana adalah hukum undang-undang, demikian selalu dikatakan orang. Hal ini adalah suatu kesimpulan dari “sine praevia lege poenalf, yang merupakan bagian dari adagium yang terkenal dari Von Feurbach,nulum delictum noela poena sine praevia lege poenali.

Adagium itu kemudian menjadi dasar asas legalitas hukum pidana, yang baik di Belanda maupun di Indonesia dicantumkan dalam Pasal 1 ayat (1)nya.

Memang apabila dilihat dari sejarah WvS dan konkordannya KUHP, dibentuk pada pertengahan abad ke sembilan belas, di bawah pertarungan sengit aliran sejarah dan aliran positivis.

Dua tokoh besar yuris Jerman telah mengadakan suatu debat yang sangat menarik. Yang seorang, von Savigny, membela pengakuan daya cipta hukum dari semangat hukum, menurutnya, harus lahir secara historis dari jiwa rakyat. Lawannya, Thibaut, membela perlunya kodifikasi.Rakyat harus dapat membaca dalam kitab-kitab undang-undang, bagaimana hubungan-hubungan hukum lahir, berubah dan berakhir. Ia menghendaki agar penguasa negara menghentikan kekuasaan hukum kebiasaan yang senantiasa, sedikit banyak, tidak menentu dan berubah-ubah menurut tempat dan waktu.

Akan tetapi, “menurut von Savigny kodifikasi hukum selalu membawa serta efek negatif, yakni menghambat perkembangan hukum. Sejarah berkembang terus, tetapi hukum sudah ditetapkan...”36 semula kemenangan bagi von savigny tampaknya sudah pasti. Di

35 M.S. Groenhuijsen, op.cit.hlm. 58.

36 Theo Huijbers OSC, Filsafat hukum dalam Lintasan Sejarah, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1982, hlm. 119.

(36)

23 bawah pimpinannya, mazhab sejarah memulai pawai kemenangan.

Akan tetapi, kendati wibawa yang ia peroleh dalam lingkungan- lingkungan ilmiah, dalam abad sembilan belas tersebut kita melihat lahirnya kitab-kitab undang-undang yang satu dan menyusul lagi yang lain. Akhirnya, tidak ada satupun pembuat undang-undang yang menutup mata terhadap keberhasilan yang diperoleh dengan diundangkannya Code Civil. Jadi tampaknya seolah-olah kebenaran pada akhirnya berada pada Thibaut.

Pengaruh kodifikasi dan sifat mengagungkan undang- undangtampak dengan dianutnya ajaran sifat melawan hukum formal, yaitu suatu ajaran yang mengatakan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi apabila telah terpenuhi unsur-unsur seperti yang termuat dalam lukisan delik dan atau disertai akibat-akibatnya. Dengan perkataan lain, pengertian melawan hukum adalah sama dengan bertentangan dengan undang-undang. Karena itu pulalah pembuat undang-undang pidana memberikan alasan-alasan penghapus pidana di dalam suatu bab khusus, yaitu bab 3 buku I, baik W.v.S maupun KUHP.

Kepastian hukum yang hendak dijamin oleh undang- undang pidana, seperti yang diagungkan oleh Pasal 1 ayat (1) nya, tidaklah memberikan juga keadilan. Lahirnya yurisprudensi pertama tentang ajaran sifat melawan hukum materiel pada tahun 1993 (Arrest Hoge Raad, Februari 1933, yang terkenal dengan Veearts arrest), membuktikan bahwa penerapan ajaran sifat melawan hukum formal tidak cukup memberikan jaminan terhadap penemuan keadilan dalam kasus yang konkret. Arrest ini memberikan kelonggaran kepada hakim untuk memberikan keadilan kepada orang yang tidak melakukukan tindak pidana (seperti yang dituduhkan dalam dakwaan jaksa) dengan jalan menyatakan hilangnya sifat melawan hukum formal berdasarkan alasan-alasan di luar undang-undang pidana, yaitu hukum tidak tertulis, yang dalam perkara khusus ini adalah: pertimbangan yang secara ilmiah dianggap dapat dibenarkan.

Hal yang sama, sebelumnya, di bidang hukum perdata pertimbangan keadilan yang termuat dalam arrestHR 31 1919, juga tentang sifat melawan hukum, membuktikan bahwa :

(37)

24 De enghartige opvatting van „onrechtmating‟ in de zin van „strijdig met de wet de rechtsovertuiging van de bevolking niet langer bevredigde, Interpreteert hij deze tern als „onbehoorlijk‟. Daarmede kreeg art. 1401 een strekking, strokend met de billijkheidsinzlchten, die in de massa leven.37

Pendapat yang sempit tentang „melawan hukum‟ dalam arti „bertentangan dengan undang-undang‟ tidak lagi memuaskan keyakinan hukum rakyat, hakim menafsirkan istilah ini sebagai „tidak patut‟. Dengan demikian Pasal 1401 memperoleh suatu makna, yang sejalan dengan pandangan-pandangan tentang keadilan yang hidup dalam khalayak ramai.

Asas-asas hukum adalah isinya, yang berbeda dengan bentuknya, yaitu norma. Asas adalah dasar, kriteria, dan pedoman pembenaran.

Notohamidjojo berpendapat bahwa :

Asas-asas hukum ialah prinsip-prinsip yang dianggap dasar atau fundamental hukum. Asas-asas itu dapat disebut juga pengertian dan nilai-nilai yang menjadi titik tolak berfikir tentang hukum. Asas-asas itu merupakan titik tolak juga bagi pembentukan undang-undang dan interprestasi undang-undang tersebut.38

Tidak bijaksana apabila kita tidak menyinggung nama Hans Kelsen, filosof Jerman yang terkenal dengan teori murni tentang hukum (riene Rechtslehre), dengan konsepsi ilmuhukum dan teori hukumnya :

a. Ilmu hukum adalah suatu pemahaman normologis tentang makna hukum positif (normological

37 J.Ph. Suijling, Lavendrecht an strvisn recht,op.cit., hlm. 74.

38 Notohamidjojo, dikutip oleh Theo Huijbers OSC, Filsafat hukum, Kanisius, Yogyakarta, 1990, hlm. 79.

(38)

25 apprehenson of the meaning of positive law).

Walaupun demikian, ilmu hukum semata-mata hanya mempelajari norma-norma. Ilmu hukum adalah ilmu kognitif yang murni tentang hukum, yang hanya mempelajari hukum positif. Oleh karena itu, ilmu hukum tidak mempermasalahkan delege ferenda, teori tentang alasan-alasan bagi hukum dan baik buruknya isi hukum positif.

b. Teori hukum (legal theory) adalah teori umum tentang hukum positif yang menggunakan metode pemahaman yuristik yang khas secara murni. Metode yuristik adalah suatu cara untuk memandang hukum sebagai penentuan normatif dari pertanggung jawaban yang dapat digambarkan dengan sebuah skema umum tentang perkaitan normatif antara kondisi-kondisi dan konsekuensi-konsekuensi dari pelaku yang benar dan yang salah. Metode yuristik yang demikian dapat menjamin suatu pandangan yang utuh (unitary view) tentang objek studinya. Metode yuristik ini harus bebas dari percampuran dengan pendekatan- pendekatan psikologis, sosiologis, politikologis, dan etis (konsekuensi dari penolakan terhadap sinkretisme metodologis.39

Dalam bidang hukum pidana, adagium nullum delictum seperti peneliti sebut di atas, menjadi asas hukum yang menjamin kebebasan individu dari kesewenang-wenangan penguasa dan dikukuhkan dalam Buku I KUHP. Juga asasgeen straf zonderschuld, yang dikukuhkan oleh yurisprudensi 14 pebruari 1916, menjadi asas yang sampai saat ini membumi walaupun tidak merupakan hukum tertulis, seperti juga asas melawan hukum.

39 Arief Sidharta, B., Filsafat hukum Mazhab dan Refleksinya, disunting oleh Lili Rasjidi dan Arief Sidharta, Remaja karya, Bandung,1989 hlm. 59.

(39)

26 Bagian terbesar bentuk hukum pidana adalah berupa perumusan delik. Dalam perumusan delik kesalahan dan melawan hukum adalah syarat umum bagi dapat dipidananya seseorang, bahkan dalam definisi klasik mengenai tindak pidana, diakui sebagai syarat umum terjadinya tindak pidana. Karena itu, sebagai syarat umum, keduanya tidak selalu dicantumkan sebagai unsur dalam lukisan- lukisan delik.

D. SIFAT MELAWAN HUKUM SEBAGAI UNSUR

Gambaran umum suatu tindak pidana adalah suatu perbuatan manusia yang memenuhi perumusan delik, melawan hukum dan pembuat bersalah melakukan perbuatan itu.

Enschede merumuskan, “een strafbaar fiet iss een menselijke gedraging, die valt binnen de grenzen van een delictsomschrijving, wederrechtelijk is en aan schuld te wijten”.40 Tindak pidana adalah suatu perbuatan manusia, yang termasuk dalam perumusan delik, melawan hukum dan kesalahan yang dapat dicelakan padanya.

Merumuskan apa yang dimaksud dengan tindak pidana, karena asas legalitas, mewajibkan kepada pembuat undang- undang, dan apa yang dimaksud dengan tindak pidana harus dirumuskan dengan jelas. Karenanya pula rumusan tersebut mempunyai peranan yang menentukan mengenai apa yang dilarang atau apa yang harus dilakukan orang.

Secara singkat ajaran sifat melawan hukum yang formal mengatakan bahwa apabila suatu perbuatan telah mencocoki semua unsur yang memuat dalam rumusan tindak pidana, perbuatan tersebut adalah tindak pidana. Jika ada alasan-alasan pembenar, maka alasan-alasan tersebut harus juga disebutkan secara tegas dalam undang-undang.

Ajaran yang materiel mengatakan bahwa di samping memenuhi syarat-syarat formal, yaitu mencocoki semua unsur yang

40 Ch. J. Enshede Beginselen van strafrecht,zesde druk, bewerkt door C.F. Ruter, en S.A.M. Stolwijk, Klewer, Deventer, 1987 hlm. 29.

(40)

27 tercantum dalam rumusan delik, perbuatan itu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut atau tercela. Karena itu pula ajaran ini mengakui alasan-alasan pembenar di luar undang-undang. Dengan perkataan lain, alasan pembenar dapat bearada pada hukum yang tidak tertulis. melawan hukum, apabila secara materiel perbuatan itu tidak bertentangan dengan hukum.

Ajaran sifat melawan hukum materiil hanya diterima dalam fungsinya yang negatif, dalam arti bahwa suatu perbuatan dapat hilang sifatnya sebagai Ajaran sifat melawan hukum materiel dalam hukum pidana modern diterima dari dokrin hukum pidana Jerman. Di Belanda sendiri beberapa publikasi dari penulis-penulis Belanda yang mempersoalkan ajaran ini, mulai muncul lagi pada tahun 60-an melalui disertasi J.ter Heide,Vrijheid, over de zin van de straf (1965), dan pada tahun 70-an memlalui publikasi tulisan-tulisanTh.W.van Veen.41

Tulisan-tulisan van Veen ini muncul karena sejak tahun 1968, dalam beberapa perkara pidana, alasan-alasan hilangnya sifat melawan hukum materiel sebagai alasan pembenar telah dipakai oleh terdakwa, tetapi selalu kandas di pengadilan yang lebih tinggi, terutama di Mahkamah Agung. Pada dasarnya, keberatan Mahkamah Agung untuk menolak alasan hilangnya sifat melawan hukum materiel sebagai alasan pembenar adalah :

Dengan menerima tidak ada hal melawan hukum materiel dalam suatu peristiwa tertentu, hakim sebetulnya mengambil tempat yang diduduki oleh pembuat undang-undang. Dengan ini hakim mengesampingkan undang-undang.42

Mengapa alasan pembenar yang tidak tertulis (seperti ontbreken van materiele wederrechtelijk ini) sukar dapat diterima oleh

41 H.J. van Eikama Hommes, De materiele wederrechtlijkheid in het strafrecht, dalam Strafrecht in perspektief, Gouda Quint B.V., Arnhem, 1980 hlm. 29

42 van Bemmelen, Hukum Pidana I, terjemahan,op.cit, hlm. 104.

(41)

28 hakim Belanda daripada penerimaan alasan penghapus kesalahan yang tidak tertulis (afwesigheid van alle schuld),van Veen mengatakan :

Dapat diusulkan untuk membedakan hilangnya sifat melawan hukum materiel berdasarkan dua alasan. Jenis pertama mempunyai sifat eksepsi. Yang bersangkutan mengakui secara prinsip sifat melawan hukum dari kelakuannya, tetapi mengemukakan keadaan-keadaan khusus.

Jenis kedua mempunyai sifat memungkiri, bahwa apa yang didakwakan pada hakikatnya termasuk dalam rumusan delik. Akan tetapi, menurut undang-undang, setidak-tidaknya menurut maksud pembuat undang- undang, apa yang dituduhkan itu tidak bersifat melawan hukum.43

Karena itu menurut van Veen pula :

Perkataan „materiel‟ tidak perlu dianggap serius. Dengan kata „hilangnya sifat melawan hukum materiel‟ berarti bahwa sifat melawan hukum yang dimaksud dalam perumusan delik menjadi hilang walaupun terdakwa tidak dapat mendasarkan alasan pembenar yang diformulasikan dalam undang-undang.44

Apakah sesungguhnya yang disebut sifat melawan hukum? Vermunt mengambil pendapat Von Lizt:

Sifat melawan hukum formal adalah perbuatan yang bertentangan dengan suatu norma yang ditetapkan negara berupa perintah dan larangan.

Sifat melawan hukum materiel adalah pelanggaran terhadap kepentingan-kepentingan sosial yang dilindungi

43 Th. W.van Veen, Ontbreken van materiele wederrechtelijkheid (1), Delikt en Delinkwsnt (voorzetting tijdschrift voor Stafrecht), Gouda Quint 6.V., 1975, hlm. 189.

44 Th. W.van Veen, ibid, hlm. 190.

(42)

29 oleh norma-norma hukum perorangan atau masyarakat, termasuk perusakan atau membahayakan suatu kepentingan hukum.45

Pemisahan antara sifat melawan hukum formal dan materiel ini juga dikemukakan oleh Maurrach dan Jeshech.46 yang menarik perhatian adalah pendapat Jeshech, seperti dikutip Vermunt, yang mengatakan :

Menurut pendapatnya, adalah „bersifat melawan hukum formal‟ apabila suatu kelakuan bertentangan dengan kewajiban untuk berbuat atau tidak melakukan sesuatu yang disebut dalam norma hukum.

Soalnya di sini mengenai penentangan terhadap „berbuat menurut norma-norma yang diperintahkan‟ walaupun disini harus dikatakan bahwa sifat melawan hukum formal mempunyai arti materiel karena dengan perusakan norma itu, dasar kepercayaan yang menjadi dasar tata tertib dalam masyarakat dirugikan.47

Pendapat Jesheck ini, menurut Vermunt, didasari pemikiran bahwa : Norma hukum bukan semata-mata „perintah –perintah paksa, tetapi tuntunan tata tertib yang ada dalam suatu lingkungan masyarakat yang sesuai dengan pandangan orang-orang dalam lingkungan hukum yang sama itu dan oleh karena itu mempunyai hak atas penataan dan anggota warganya.48

Arti praktis dari sifat melawan hukum materiel, disamping fungsinya, menurut Jeschek adalah: “als „Orien- tierungspunkt‟ des Gesetzgebers bei der aufstellung der

45 Domein Vermunt, op.cit, hlm. 50.

46 Domein Vermunt, ibid, hlm. 133.

47 ibid, hlm. 133.

48 Domein Vermunt, loc.cit.

(43)

30 Straftatbestande und der Leitgedanke der Strafvervolgungsor-gane”,49 (Sebagai titik orientasi pembuat undang-undang menyusun lagi pula kemungkinan-kemungkinan untuk mempergunakan alasan pembenar).

Tetapi menurut Jescheck selanjutnya:

Ween das Gesetz schweigt, aber dem Gesetz entsprechende Guterabwagung sagt, dass die Strafrechtsnorm zugrunde leigende Zweckeund Wervorstellungen hier anderen berechtigten Interessen, denen die Handlung dient, zurucktreten mussen”.

Bila undang-undang tidak mengatakan apa-apa, tetapi pertimbangan-pertimbangan hukum yang sesuai dengan hal tersebut berbicara tujuan-tujuan dan harapan-harapan tentang nilai-nilai yang menjadi dasar norma hukum pidana dari kepentingan- kepentingan yang merupakan hal lain yang dilayani oleh perilaku itu, harus mundur.

Jescheck juga tetap mengingatkan bahwa kepastian hukum karenanya tidak boleh dilanggar, sehingga dikatakannya :

Klausula mumi adalah : suatu perbuatan tidak melawan hukum apabila perbuatan itu sesuai dengan tujuan undang-undang. Suatu perbuatan adalah melawan hukum kalau tujuannya lebih merugikan daripada bermanfaat untuk negara/ organ-organnya.

Klusula itu tidak boleh dipakai secara langsung untuk menyelesaikan masalah, tetapi memerlukan alasan- alasan yang dapat membuat suatu kelakuan dapat dibenarkan sebagai kekecualian.50

Mengenai alasan pembenar yang tidak tertulis itu sendiri, Vermunt menyetujui pendapat Jescheck yang juga

49 Domein Vermunt, loc.cit.

50 Ibid.

(44)

31 mengatakan bahwa pemisahan antara sifat melawan hukum formal dan materiel adalah berdasarkan praduga yang tidak benar : “... dass die Gesetzlichkeit des Strafrechts auch fur die Rechtfertigungsgrunde gilt, wahrend diese im Wahrheit der Gesamtheit des gesrchriebenen Oder ungeschriebenen-Rechts zu entnehmen sind”.51 (... sifat menurut hukum dari hukum pidana juga berlaku bagi alasan pembenar yang sesungguhnya hal tersebut dapat diambil dari keseluruhan hukum tertulis atau hukum tak tertulis.

Berkenan dengan pendapat para Sarjana Hukum Jerman tersebut, kiranya kita dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa pendapat mereka sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hukum di Belanda. Ini dapat dibuktikan dari tulisan- tulisan dalam buku-buku tentang asas-asas hukum pidana yang terbit pada tahun-tahun terakhir ini yang tidak lagi membahas secara khusus mengenai sifat melawan hukum yang formal maupun materiel.

Mereka cukup menyinggungnya dalam bagian yang membicarakan tindak pidana.52 Tulisan-tulisan lepas, malahan lebih memuat sekitar kebutuhan ilmu hukum Belanda untuk mengembangkan alasan-alasan penghapus pidana (alasan pembenar) yang tidak tertulis.

Pendapat-pendapat di atas masih sangat berpengaruh di Indonesia, terutama dalam penerapannya, seperti nanti akan terlihat dalam yurisprudensi-yurisprudensi yang akan peneliti beberkan.

Karena itu, peneliti berpendapat bahwa pandangan-pandangan yang saling berlainan tadi sesungguhnya terletak pada cara penafsiran dan penilaian terhadap fakta yang terungkap di muka sidang pengadilan.

Semakin cermat meneliti fakta konkret yang dapat dibuktikan atau tidak dapat dibuktikan, semakin besar peluang untuk memperoleh alasan pembenar di luar undang-undang (alasam pembenar yang tidak

51 Domein Vermunt, loc.cit.

52 Bandingkan misalnya: dalam buku Hazewinkel Suringa cetakan tahun 1933 dan cetakan ke sebelas (1989). Juga van Bemmelen cetakan ke satu (1079) dan cetakan ke sembilan (1986). Nieboer, cetakan pertama tahun 1990.

Referensi

Dokumen terkait

Hakim seharusnya mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi No.012/PUU-I/2003 yang menyatakan ketentuan Pasal 158 Undang-undang Ketenagakerjaan bertentangan dengan UUD 1945

a) Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 24 mengenai Kekuasaan Kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. b) Undang-Undang

Melawan hukum artinya meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan (melawan hukum formil) namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena

Sistem Pembebanan Pembuktian Terbalik Perkara Korupsi Sistem negatif menurut Undang-undang yang terbatas negatief wettelijk pada pasal 183 KUHAP, dasar untuk menyatakan

Pelaku tindak pidana korupsi secara ideal seharusnya dipidana secara maksimal sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Hal yang kedua menyatakan bahwa menurut ajaran melawan hukum formil, sifat melawan hukumnya perbuatan yang telah ada dan dirumuskan dalam undang-undang sebagai

Konsekuensi dari pasal tersebut ialah bahwa perbuatan seseorang yang tidak tercantum dalam undang-undang sebagai suatu tindak pidana juga tidak dapat dipidana, jadi

mati sangatlah terasa berat bagi seorang terpidana yang di vonis hukuman pidana mati dan bertentangan dengan Pasal 28 A dan 28 I Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan