• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMANYA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DENGAN KASA BETADIN DIBANDINGKAN KASA STERIL

Dalam dokumen NATIONAL SEMINAR OF SPORT SCIENCE (Halaman 140-146)

LAMANYA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DENGAN KASA

Pada tahun 2016, dilaporkan terdapat 14 kasus tetanus neonatorum dengan jumlah meninggal 6 kasus. Kasus yang meninggal tersebut dilaporkan dari melakukan pemeriksaan kehamilan dengan bidan/perawat. Namun, menurut faktor penolong persalinan, ditolong oleh penolong persalinan tradisional, misalnya dukun. Untuk pemotongan tali pusat, sebagian besar kasus dilakukan pemotongan tali pusat dengan gunting 1 bayi, bambu 8 bayi, lain-lain 3 bayi dan tidak diketahui 2 bayi, sedangkan faktor lainnya perawatan tali pusat, dari 14 bayi tali pusatnya yang di rawat dengan alkohol 10%

1 bayi, perawatan tradisional 4 bayi, lain-lain 5 bayi dan tidak diketahui perawatannya 4 bayi (Kemenkes R1, 2016).

Angka Kematian Bayi (AKB) pada bulan Januari - Agustus tahun 2017 di wilayah kerja Puskesmas Welahan I kabupaten Jepara terdapat 7 kasus, 3 diantaranya karena IUFD/lahir mati, 3 bayi karena asfiksia dan 1 bayi karena kelainan kongenital. Selain itu terdapat 86 neonatal yang mengalami komplikasi yang di tangani diantaranya:

Tabel 1. Jumlah neonatal yang mengalami komplikasi yang ditangani di wilayah kerja Puskesmas Welahan I kabupaten Jepara.

Bulan BBLR Asfiksia Infeksi Ikterus Kelainan bawaan Lainnya

Januari 2 0 0 0 0 0

Februari 2 0 0 1 0 3

Maret 0 0 0 1 0 5

April 3 1 1 1 0 4

Mei 2 0 0 0 1 10

Juni 3 1 1 1 0 10

Juli 0 0 0 0 0 5

Agustus 4 0 0 3 2 19

Jumlah 16 2 2 7 3 56

Sumber : Profil Puskesmas Welahan I kabupaten Jepara

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan peneliti di wilayah kerja Puskesmas Welahan I pada tanggal 7 Oktober 2017, di BPM bidan wilayah kerja Puskesmas Welahan I perawatan tali pusatnya sudah menggunakan kasa steril saja, namun masih ada dukun bayi yang menggunakan betadin. Dari 7 bayi yang dirawat dengan kasa steril, 6 bayi waktu lepasnya tali pusat cepat dan 1 bayi waktu lepasnya tali pusat lambat sedangkan 4 bayi lagi yang dirawat dengan betadin. 1 bayi waktu lepasnya tali pusat cepat dan 3 bayi waktu lepasnya tali pusat lambat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama waktu pelepasan tali pusat bayi antara perawatan dengan kasa betadin dan kasa steril di wilayah kerja Puskesmas Welahan I kabupaten Jepara.

METODE

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi analitik komperatif dengan menggunakan pendekatan case control. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi baru lahir. Teknik pengambilan sampel dengan quota sampling, 36 ibu yang memiliki bayi baru lahir dengan rincian 12 ibu yang merawat tali pusat bayi dengan kasa steril dan 24 ibu yang merawat tali pusat bayi dengan kasa betadine.

Pengambilan data melalui wawancara. Data dianalisis secara univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji Mann-Whitney.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1. Lama lepasnya tali pusat yang dirawat dengan kasa steril

Tabel 2 Distribusi frekuensi berdasarkan lepasnya tali pusat pada bayi baru lahir.

Lama lepasnya tali pusat Frekuensi Prosentase (%) Cepat (< dari 5 hari)

Normal (5-7 hari)

6 14

25 % 58,3 %

Lambat (> dari 7 hari) 4 16,7 %

Total 36 100.0 %

Dari tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar lepasnya tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Welahan I Kabupaten Jepara rata-rata lepas pada hari ke 5-7 (normal) sebanyak 17 bayi baru lahir (42,2%).

Penelitian ini menunjukkan bahwa lama pelepasan tali pusat pada bayi dengan perawatan kasa steril mayoritas normal (5-7 hari) sebanyak 14 bayi baru lahir (58,3%) dan sebanyak 6 orang (25 %) yang lama pelepasan tali pusatnya cepat (< 5 hari). Berdasarkan teori tersebut, peneliti dapat menguraikan bahwa perawatan tali pusat dengan menggunakan kasa kering steril secara signifikan efektif menjadikan tali pusat puput pada waktunya. Semakin baik dalam pelaksanaan perawatan tali pusat pada bayi baru lahir maka semakin mengurangi resiko komplikasi terjadinya infeksi.

Tali pusat atau umbilical cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan, jadi perawatan tali pusat adalah tindakan merawat atau memelihara pada tali pusat bayi setalah tali pusat dipotong sampai sebelum puput.

Perawatan tali pusat dan kulit mengurangi sampai tingkat yang aman atau memusnahkan mikro organisme penyebab infeksi (Prawirodiharjo, 2010).

Perawatan Tali pusat dengan kasa steril adalah perawatan tali pusat tanpa mengoleskan zat apapun dan mempertahankan sisa tali pusat dengan ditutupi kasa steril secara longgar. Tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan lepas lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit. Sehingga kita perlu menghindari pengolesan tali pusat dengan jenis zat apapun (Saifuddin, 2009). Berdasarkan uraian diatas, bahwa perawatan tali pusat yang benar haruslah memakai kasa kering steril yang menyebabkan pelepasan tali pusat dalam batas normal (5 – 7 hari) karena kasa steril yang mencegah terjadinya infeksi pada tali pusat tersebut sehingga bisa menyempurnakan proses pelepasan tali pusat.

kering steril dan pastikan balutan tidak terlalu kuat sehingga bayi tidak kesakitan (Marjono, 2008).

Penelitian ini juga diperkuat oleh Wihono (2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden menggunakan cara perawatan tali pusat dengan kassa kering steril, kassa alkohol, kassa yodium povidon dan perawatan terbuka.

Cara perawatan tali pusat dengan menggunakan kassa kering steril sebanyak 24 responden dengan rata-rata lama waktu pelepasan tali pusat bayi adalah 5,91 hari.

Cara perawatan tali pusat dengan menggunakan kassa alkohol sebanyak 13 responden dengan rata-rata lama waktu pelepasan tali pusat bayi adalah 5,92 hari.

Cara perawatan tali pusat dengan menggunakan kassa yodium povidon sebanyak 10 responden dengan rata-rata lama waktu pelepasan tali pusat bayi adalah 6 hari. Cara perawatan tali pusat dengan perawatan terbuka sebanyak 2 responden dengan rata- rata lama waktu pelepasan tali pusat bayi dengan menggunakan perawatan terbuka adalah 6 hari.

1.2. Lama lepasnya tali pusat yang dirawat dengan kasa betadine

Tabel 3 Distribusi frekuensi berdasarkan lepasnya tali pusat pada bayi baru lahir.

Lama lepasnya tali pusat Frekuensi Prosentase (%)

Normal (5-7 hari) 3 25 %

Lambat (> dari 7 hari) 9 75 %

Total 36 100.0 %

Dari tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar lepasnya tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Welahan I Kabupaten Jepara rata-rata lepas pada hari ke 5-7 (normal) sebanyak 9 bayi baru lahir (75%).

Penelitian ini menunjukkan bahwa lama pelepasan tali pusat pada bayi dengan perawatan kasa betadine mayoritas lama (> 7 hari) sebanyak 9 bayi baru lahir (75%).

Hal ini menunjukkan masih ada pengetahuan yang salah berkaitan dengan perawatan tali pusat bayi baru lahir. Pemakaian betadine untuk perawatan tali pusat mengakibatkan tali pusat basah atau lembab, sehingga tidak menimbulkan pelepasan panas dari tubuh bayi. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan betadine serta dibalut kasa steril. Pembalut diganti setiap hari dan atau setiap basah atau kotor (Riksani, 2012).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Astutik (2015) bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh (100%) responden 24 mengalami pelepasan tali pusat secara normal (5–7 hari) setelah dilakukan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering steril. Seluruh responden (100%) mengalami pelepasan tali pusat secara lambat (>7 hari) setelah dilakukan perawatan tali pusat menggunakan kasa alkohol 70 %.

1.3. Perbedaan lama waktu pelepasan tali pusat bayi baru lahir antara perawatan tali pusat dengan kasa steril dan kasa betadin

Tabel 4 Distribusi frekuensi berdasarkan perbedaan lama waktu pelepasan tali pusat bayi baru lahir antara perawatan tali pusat dengan kasa steril dan kasa betadin

Perawatan Mean P value

Kasa steril 14.62 0,001*

Kasa betadine 26.25

*Uji Mann-Whitney

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lama waktu pelepasan tali pusat antara yang menggunakan kasa steril dan kasa betadin (P value < 0,05 = 0.001). Pelepasan tali pusat pada kasa betadine 12 hari lebih lama dibandingkan dengan perawatan tali pusat dengan kasa steril. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kasa steril dapat mempercepat lepasnya tali pusat sehingga mengurangi resiko infeksi pada bayi baru lahir. Peneliti dapat menguraikan juga bahwa yang terpenting dalam perawatan tali pusat adalah melakukan perawatan dengan cara keadaan steril, bersih, kering supaya tidak terjadi infeksi cukup hanya di balut dengan kasa steril saja tanpa dibubuhi atau ditambah dengan cairan yang lain misalkan seperti betadine, alkohol.

Perawatan tali pusat dengan kasa steril adalah perawatan tali pusat tanpa mengoleskan zat apapun dan mempertahankan sisa tali pusat dengan menutupi tali pusat dengan kasa steril secara longgar. Tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan lepas lebih cepat dengan komplikasi lebih sedikit sehingga kita perlu menghindari pengolesan tali pusat dengan jenis zat apapun Riksani, 2012).

Berdasarkan hasil teori diatas, Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Astutik (2015) bahwa hasil uji Mann Whitney diperoleh P value = 0,000 = a = 0,05.

Sehingga Ha diterima dan Ho ditolak sehingga ada pengaruh perawatan tali pusat dengan menggunakan kasa kering steril terhadap pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Saradan Kabupaten Madiun.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lama waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir pada perawatan tali pusat dengan kasa steril yaitu normal (5-7) hari sebanyak 58,3 % , sebagian besar lama waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir pada perawatan tali pusat dengan kasa betadine yaitu normal (5-7) hari sebanyak 75 %.

Terdapat perbedaan lama waktu lepasnya tali pusat bayi baru lahir antara tali pusat yang di rawat dengan kasa steril dan kasa betadin (P value< 0,05 = 0.001). Pelepasan tali pusat

REFERENSI

Badan penelitian dan pengembangan kesehatan depkes RI. Riset kesehatan Jawa Tengah.

2012. [Diakses tanggal 25 september 2017]. di dapat dari:

http://www.dinkesjatengprov.go.id

Badan Pusat Statistik. 2012. Survei demografi kesehatan di Indonesia. Jakarta

Depkes RI. Profil kesehatan republik Indonesia. 2016. [diakses pada tanggal 25 september 2017] di dapat dari: http://www.depkes.go.id

Dinas kesehatan provinsi Jawa Tengah. 2016. Profil dinas kesehatan provinsi Jawa Tengah Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara. 2013. Profil Kesehatan Jepara

Dinas Kesehatan Jawa Tengah. 2009. Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah Donna L. Wong. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Volume 1. Jakarta: EGC Marjono. 2007. Teknik perawatan tali pusat ABC Medika

Profil Puskesmas Welahan I. 2016. Jepara

Paisal, 2009. Tekhnik perawatan tali pusat. [Diakses tanggal 25 september 2017]. di dapat dari: http://www.perawatantalipusat.com

Prawiroharjo, Sarwono. 2010. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : YBP

Astuti, Puji. 2015. Pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat berhubungan dengan waktu lepas tali pusat. Semarang : Poltekes Kemenkes

Rohmah & Walid. 2012. Proses keperawatan teori dan aplikasi. Yogyakarta Riksani, R. 2012. Keajaiban tali pusat dan plasenta bayi. Jakarta

Sofiana dan Eko. 2011. Efektifitas metode kolostrum dan metode kasa kering terhadap waktu pelepasan tali pusat. Jurnal kebidanan. Diakses pada : 05 Februari 2015 Solihin. 2008. Buku saku perawatan tali pusat. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC Wahyuni, S. 2012. Asuhan neonatus, bayi, dan balita: Penuntun belajar praktik klinik.

Jakarta : EGC

Wahyuningsih, Endang. 2017. Praktik perawatan tali pusatoleh ibu dengan kejadian infekti tali pusat bayi baru lahir. Semarang : UNIMUS.

INOVASI PAPAN CATUR UNTUK PENYANDANG TUNANETRA

Dalam dokumen NATIONAL SEMINAR OF SPORT SCIENCE (Halaman 140-146)