Nama : MAHARIANA BUDI INDRA KUSUMA Kelas : 5C
Nim : 01021034
KASUS GANGGUAN PENCERNAAN
DIARE & MUAL MUNTAH
Seorang anak usia 9 tahun dengan berat 23 kg masuk IGD dengan riwayat nyeri abdomen, mual, muntah, dan diare profusa, berair, dan tidak berdarah, selama 3 hari. Lima hari yang lalu pasien berkemah di luar kota. Dokter mendiagnosis pasien mengalami diare akut dan merencanakan siprofloksasin 2 x 250 mg PO, metoklopramid 3 x 5 mg PO, NaCl 0,9% 2 plabot (@500 mL) IVFD habis dalam 2 jam.
Hasil pemeriksaan dan riwayat medik pasien
Fisik: TD 90/60 mmHg; nadi 110/menit; RR 20/menit; suhu 37,2oC; membran mukosa kering;
bising usus hiperaktif.
Lab: leukosit 16.000 sel/µL, Na 120 mEq/L, darah feses (-).
Riwayat penyakit terdahulu: -- Riwayat pengobatan: --
Riwayat sosial: Lima hari yang lalu pasien berkemah di luar kota.
Riwayat alergi: -- Jelaskan
1. Definisi penyakit 2. Gejala
3. Etiologi
4. Patogenesis atau patofisiologi (didahului dengan anfisman normal), lebih baik dalam bentuk bagan atau gambar jelas
5. Diagnosis (termasuk interpretasi data pemeriksaan)
6. Guideline pengobatan yang global atau nasional (lebih baik dalam bentuk bagan atau tabel) 7. Pilihan obatnya apa dan mengapa
8. Terapi farmakologi: golongan obat dan mekanisme 9. Terapi non Farmakologi
10. Asuhan kefarmasian (poin-poin konseling sesuai dengan kasus dan monitoring)
1. Definisi penyakit
Diare akut adalah suatu kondisi di mana frekuensi buang air besar (BAB) meningkat lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses yang lunak atau cair. Diare akut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain infeksi bakteri, virus, atau parasit, keracunan makanan, dan
malabsorpsi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare akut didefinisikan sebagai buang air besar dengan konsistensi encer atau berair yang terjadi lebih dari tiga kali dalam sehari selama kurang dari 14 hari.
2. Gejala
o Buang air besar encer atau berair o Frekuensi BAB lebih dari 3 kali sehari o Nyeri perut
o Mual dan muntah
o Demam
o Kelelahan
3. Etiologi
Diare akut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik infeksi maupun non-infeksi.
Infeksi adalah penyebab tersering diare akut, dengan bakteri, virus, dan parasit sebagai penyebab utamanya.
1) Bakteri yang paling sering menyebabkan diare akut adalah Escherichia coli (E. coli), Salmonella, Shigella, Campylobacter, dan Yersinia. Bakteri-bakteri ini dapat
menyebabkan diare dengan gejala yang berbeda-beda, tergantung pada jenis bakterinya.
Misalnya, E. coli O157:H7 dapat menyebabkan diare berdarah, sedangkan Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid.
2) Virus yang paling sering menyebabkan diare akut adalah rotavirus, adenovirus, Norwalk virus, dan astrovirus. Virus-virus ini dapat menyebabkan diare yang berlangsung selama beberapa hari.
3) Parasit yang paling sering menyebabkan diare akut adalah Giardia lamblia, Cryptosporidium parvum, dan Entamoeba histolytica. Parasit-parasit ini dapat menyebabkan diare yang berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.
Faktor non-infeksi yang dapat menyebabkan diare akut meliputi:
1) Keracunan makanan dapat disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit.
2) Malabsorpsi adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, celiac disease, dan sindrom iritasi usus besar (IBS).
3) Efek samping obat-obatan, seperti antibiotik, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan obat kemoterapi.
4) Penyakit tertentu, seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan penyakit celiac.
4. Patogenesis atau patofisiologi
Anatomi dan fisiologi normal saluran pencernaan
Saluran pencernaan adalah organ yang bertanggung jawab untuk mencerna makanan dan menyerap nutrisi. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus.
Mulut adalah tempat makanan pertama kali masuk ke saluran pencernaan. Di dalam mulut, makanan dikunyah dan dibasahi oleh air liur. Air liur mengandung enzim amilase yang mulai memecah karbohidrat menjadi gula sederhana.
Keringongan adalah tabung yang menghubungkan mulut ke lambung. Kerongkongan berkontraksi untuk menggerakkan makanan ke lambung.
Lambung adalah organ berotot yang berfungsi untuk mencerna makanan. Di dalam lambung, makanan dicampur dengan asam lambung dan enzim pencernaan. Asam lambung membunuh bakteri dan memecah protein. Enzim pencernaan memecah karbohidrat, lemak, dan protein menjadi molekul yang lebih kecil.
Usus halus adalah organ terpanjang di saluran pencernaan. Usus halus dibagi menjadi tiga bagian: duodenum, jejunum, dan ileum. Usus halus bertanggung jawab untuk menyerap sebagian besar nutrisi dari makanan.
Usus besar adalah organ yang bertanggung jawab untuk menyerap air dan elektrolit dari makanan. Usus besar juga berfungsi untuk membentuk feses.
Anus adalah lubang di ujung saluran pencernaan. Anus adalah tempat feses dikeluarkan dari tubuh.
Patogenesis diare
Dalam keadaan normal, dinding intestinal memiliki fungsi absorbsi dan sekresi yang dikontrol oleh regulatorregulator sehingga didominasi oleh fungsi absorbsi yang akan
menghasilkan tinja normal. Kedua mekanismetersebut memerlukan pemecahan nutrisi yang baik dalam membentuk molekul-molekul yang diperlukan untuk membentuk ikatan dengan air dan elektrolit saat proses absorbsi (misalnya, glukosa, galaktosa dan asam amino) dan mencegah terdapatnya substansi aktif yang tidak dapat diabsorbsi secara aktif melalui proses osmotikdi dalam lumen usus. Selain itu, proses absorpsi dan sekresi juga ditunjang oleh kerja enzim Na+- K+-ATP-ase pada membran basolateral dan dua antiport di brush border.
Saat diare keseimbangan transport elektrolit dan air terganggu, terjadi penurunan fungsi absorbsi dan dominasi fungsi sekresi elektrolit dan nutrien (sekresi aktif anion terutama di sel kriptus), sehingga terjadi pengeluaran airyang berlebihan kelumen usus. Duamekanisme utama yaitu diare osmotik dan sekretorik, kedua mekanisme tersebut kadang terjadi secara bersamaan.
Gambar 1. Pergerakan air dan elektrolit melalui membran sel
Gambar 2. Proses fisiologi host ikut berperan dalam patofisiologi dan kerentanan terhadap diare akut 5. Diagnosis Interpretasi data pemeriksaan
1) Tekanan darah 90/60 mmHg menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
2) Nadi 110/menit menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
3) Pernafasan 20/menit menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
4) Suhu 37,2oC menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
5) Membran mukosa kering menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
6) Bising usus hiperaktif menunjukkan tanda-tanda iritasi usus.
7) Leukosit 16.000 sel/µL menunjukkan adanya infeksi.
8) Na 120 mEq/L menunjukkan adanya dehidrasi.
9) Darah feses (-) menunjukkan bahwa diare tidak disebabkan oleh infeksi bakteri tertentu, seperti shigellosis atau salmonellosis.
6. Guideline pengobatan
7. Pilihahan obat
Pilihan obat Alasan
Nacl 0,9% Untuk mengganti cairan yang hilang
akibat diare
Siprofloksasin Sebagai antibiotik untuk mengatasi diare akibat infeksi bakeri
Metoklopramide Untuk mengatasi mual muntahnya
Loperamid Untuk mengrangi jumlah feses yang keluar
Ibuprofen Untuk mngatasi sakit perut saat mencret
8. Terapi farmakologi 1) Nacl 0,9%
Mekanisme Kerja
Natrium klorida (NaCl) adalah larutan elektrolit yang berfungsi untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare. NaCl terdiri dari natrium (Na+) dan klorida (Cl-). Na+ berperan dalam menjaga keseimbangan osmotik dan tekanan darah, sedangkan Cl- berperan dalam keseimbangan asam-basa.
NaCl bekerja dengan cara diserap oleh usus halus dan masuk ke aliran darah. Na+
dan Cl- kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.
Indikasi
NaCl digunakan untuk mengobati dehidrasi akibat diare, muntah, atau berkeringat berlebihan. NaCl juga dapat digunakan untuk membersihkan luka, hidung, atau tenggorokan.
Dosis
Dosis NaCl tergantung pada usia, berat badan, dan tingkat dehidrasi pasien. Dosis umum NaCl untuk dehidrasi ringan adalah 75 ml/kgBB/jam. Dosis umum NaCl untuk dehidrasi sedang adalah 100 ml/kgBB/jam. Dosis umum NaCl untuk dehidrasi berat adalah 20 ml/kgBB/jam.
Efek Samping
Efek samping NaCl yang umum terjadi adalah:
Rasa asin di mulut
Mual
Muntah
Konstipasi
Efek samping NaCl yang jarang terjadi adalah:
Hipernatremia
Hiperkloremia
Busung
Kejang 2) Siprofloksasin
Mekanisme kerja
Siprofloksasin adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang bekerja dengan cara menghambat enzim DNA girase dan topoisomerase IV. Enzim-enzim ini diperlukan untuk replikasi DNA bakteri. Dengan menghambat kedua enzim tersebut,
siprofloksasin dapat menghentikan pertumbuhan dan reproduksi bakteri, sehingga akhirnya bakteri tersebut mati.
Indikasi
Siprofloksasin digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri, termasuk:
Infeksi saluran kemih (ISK)
Infeksi saluran pernapasan
Infeksi kulit dan jaringan lunak
Infeksi saluran pencernaan
Infeksi tulang dan sendi
Infeksi intra abdomen
Infeksi prostat
Infeksi saluran genital
Infeksi gigi dan mulut
Dosis 10-15 mg/kgBB, 2 kali sehari.
Efek samping
Efek samping yang paling umum terjadi akibat penggunaan siprofloksasin adalah:
Mual
Muntah
Diare
Sakit kepala
Pusing
Gangguan tidur
Reaksi kulit
Nyeri otot
Nyeri sendi
Gangguan pencernaan
Infeksi jamur 3) Metoklopramide
Mekanisme Kerja
Metoklopramide adalah antagonis reseptor dopamin-2 (D2) yang bekerja dengan cara memblokir reseptor D2 di lambung dan usus halus. Reseptor D2 berperan dalam menghambat gerakan peristaltik, yaitu gerakan ritmis otot-otot di saluran pencernaan yang membantu memindahkan makanan melalui saluran pencernaan. Dengan
memblokir reseptor D2, metoklopramide dapat meningkatkan gerakan peristaltik dan mempercepat pengosongan lambung.
Indikasi
Metoklopramide digunakan untuk mengobati mual dan muntah yang disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk:
Mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi atau radioterapi
Mual dan muntah akibat operasi
Mual dan muntah yang disebabkan oleh infeksi
Mual dan muntah yang disebabkan oleh kehamilan
Refluks gastroesofageal (GERD)
Dispepsia
Dosis
Dosis metoklopramide tergantung pada usia, kondisi medis, dan respons pasien terhadap obat. Dosis umum metoklopramide adalah sebagai berikut:
Dewasa: 10-20 mg per oral setiap 4-6 jam, atau 10-25 mg intramuskular atau intravena setiap 6-8 jam.
Anak-anak: 0,5-1 mg per kilogram berat badan per oral setiap 4-6 jam, atau 0,1-0,2 mg per kilogram berat badan intramuskular atau intravena setiap 6-8 jam.
Efek Samping
Efek samping yang paling umum dari metoklopramide adalah:
Mual
Muntah
Sakit kepala
Pusing
Lelah
Konstipasi
Diare
Efek ekstrapiramidal, seperti kejang otot, kekakuan otot, dan gerakan ritmis yang tidak terkendali
4) Loperamid
Mekanisme kerja
Loperamid adalah obat antimotilitas yang bekerja dengan cara menghambat reseptor opioid perifer di mukosa usus kecil dan usus besar. Reseptor opioid ini mengontrol kontraksi otot polos usus. Dengan menghambat reseptor ini, loperamid dapat memperlambat pergerakan usus dan meningkatkan penyerapan cairan dan elektrolit.
Indikasi
Loperamid digunakan untuk mengobati diare akut dan kronis. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sedangkan diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
Dosis
Dosis loperamid untuk diare akut adalah 4 mg sekali, diikuti dengan 2 mg setelah setiap buang air besar encer. Dosis maksimum harian adalah 16 mg.
Dosis loperamid untuk diare kronis adalah 2 mg sekali atau dua kali sehari. Dosis maksimum harian adalah 16 mg.
Efek samping
Efek samping yang umum terjadi pada loperamid adalah konstipasi, mual, dan muntah. Efek samping yang serius, tetapi jarang terjadi, adalah ileus paralitik (penyumbatan usus).
5) Ibuprofen
Mekanisme kerja
Ibuprofen adalah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin. Prostaglandin adalah zat kimia yang berperan dalam peradangan, nyeri, dan demam. Ibuprofen bekerja dengan cara menghambat enzim COX-2, yang berperan dalam produksi prostaglandin. Hal ini menyebabkan berkurangnya peradangan, nyeri, dan demam.
Indikasi Ibuprofen
Ibuprofen digunakan untuk mengobati berbagai kondisi, termasuk:
Nyeri ringan hingga sedang, seperti sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, dan nyeri haid
Demam
Peradangan, seperti nyeri sendi, radang sendi, dan radang gusi Dosis Ibuprofen untuk anak umur 9 tahun
Dosis Ibuprofen untuk anak umur 9 tahun adalah sebagai berikut:
Untuk nyeri ringan hingga sedang: 200 mg setiap 6-8 jam, maksimal 800 mg per hari.
Untuk demam: 200 mg setiap 4-6 jam, maksimal 600 mg per hari.
Dosis Ibuprofen untuk anak harus selalu disesuaikan dengan berat badan anak.
Efek samping
Efek samping Ibuprofen yang umum terjadi meliputi:
Sakit perut
Mual
Muntah
Sakit kepala
Diare
Rasa terbakar di lambung
Ruam kulit
9. Terapi non farmakologi
Terapi non farmakologi yang biasa dilakukan adalah dengan memperbanyak minum, istirahat, hindari makanan yang dapat merangsang terjadinya diare atau makan-makanan yang mudah dicerna dalam usus dan lambung, memperbanyak buah yang mengandung pektin, memperbanyak asupan vitamin terutama vit.A dan mineral, dan perbaikan gizi.
10. Asuhan kefarmasian KONSELING
1. Perkenalan
Perkenalkan saya mahariana Sebagai apoteker dari Apotek YPIB yang akan menyiapkan obat untuk anak ibu.
2. Konfirmasi nama pasien umur Alamat
Apakah betul dengan ibu dari anak atas nama... dan berumur 9 tahun? Kalau boleh tau dimana alamat tempat tinggal ibu?
3. Izin minta waktu untuk konseling
Sebelumnya, saya izin meminta kesediaan waktu ibu untuk mengadakan konseling untuk membahas terapi pengobatan yang akan dijalani oleh anak ibu. Apakah ibu berkenan?
Baik bu, jadi kedepannya konseling akan dilaksanakan untuk memantau perkembangan dan memantau keberhasilan terapi yang anak ibu jalani agar dapat berjalan secara maksimal.
4. Tanya keluhan pasien
Izin bertanya sebelumnya apakah ada keluhan selama ini yang anak ibu rasakan?
Sebelumnya apakah anak ibu punya riwayat penyakit atau ada obat yang biasa diminum oleh anak ibu?
5. 3 prime question
Sebelumnya apa anak ibu pernah mendapat hasil data lab dari rumah sakit atau tempat check up?
Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obat anak ibu?
Apa yang dijelaskan dokter tentang hasil yang diharapkan setelah ibu menerima. terapi obat tersebut?
6. Informasi nama obat, indikasi obat, exp date, penyimpanan Baik bu akan saya jelaskan nama obat dan fungsinya:
1. Ciprofloxacin sebagai Antibiotik : pemberian antibiotik dimaksudkan untuk mencegah atau menangani infeksi bakteri penyebab diare pada anak.
2. Ibuprofen sebagai Antinyeri Untuk mengatasi sakit perut saat diare
3. Loperamid sebagai Antidiare : Obat antidiare berfungsi untuk mengurangi frekuensi buang air besar.
4. metoklopramid sebagai antiemetik(antimuntah), anak yang muntah pada saat diare juga dapat mengakibatkan dehidrasi sehingga pemberian obat antiemetik selain
menghentikan rasa mual juga dapat membantu dalam mengurangi kehilangan cairan pada saat diare.
5. Nacl 0,9% : untuk mengganti cairan yang hilang akibat diare
Bu, perlu diperhatikan juga untuk cara penyimpanan obatnya ya Obat harus disimpan:
A. Jauh dari jangkauan anak-anak
B. Dihindari dari panas dan cahaya langsung C. Simpan ditempat kering dan tidak lembab
7. Informasi cara penggunaan obat (jam diminum obat seperti dosis) + terapi non farmakologi.
1. Terapi Farmakologi
A. Ciprofloxacin : 250 mg 2×1 sehari
B. Ibuprofen : Anak-anak usia 8-12 tahun, 200-250 mg 3-4 kali sehari.
C. Loperamid : Anak-anak usia 9–11 tahun: 2 mg setelah BAB. Dosis dapat ditambah 1 mg lagi jika masih diare, maksimal 6 mg per hari.
D. Metoclopramide : 5 mg 3×1 sehari E. Nacl : 460 mL/hari
2. Terapi non farmakologi
memperbanyak minum, istirahat, hindari makanan yang dapat merangsang terjadinya diare atau makan-makanan yang mudah dicerna dalam usus dan lambung,
memperbanyak buah yang mengandung pektin, memperbanyak asupan vitamin terutama vit.A dan mineral, dan perbaikan gizi.
8. Tanya riwayat alergi
Apakah sebelumnya anak ibu mempunyai alergi terhadap obat tertentu?
9. Jelaskan kemungkinan efek samping dan bila lupa minum obat
Baik, berarti anak ibu tidak ada alergi ya. Jadi bu setiap obat yang diberikan memiliki efek samping yang ringan ataupun berat
Loperamid : Sembelit, Pusing, Kantuk, Kram perut, Mual
Ibuprofen : Perut kembung, Mual dan muntah, Diare atau malah sembelit, Sakit maag, Pusing, Sakit kepala
ciprofloxacin : Sakit maag, Mual atau muntah, Diare, Pusing atau sakit kepala, Sulit tidur atau justru mengantuk.
Metoclopramide: Gelisah, mengantuk, pusing, rasa cemas dan bingung, tremor, sakit kepala, reaksi alergi.
Nacl 0,9% : untuk pengganti cairan tubuh yang hilang
Jangan sampai lupa diminum obat untuk anak ibu ya bu secara rutin dan tepat waktu 10. Konfirmasi ulang
Saya sudah menjelaskan cara menggunakan obat-obat ini. Apakah ibu bisa mengulangi nama-nama obatnya serta cara penggunaannya?
11. Penutup
Benar, ibu sudah memahami tentang obat-obatnya serta cara penggunaannya. Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?
Jika cukup, jangan lupa untuk minum obat secara teratur dan tepat waktu. Selain itu tetap membiasakan pola hidup sehat dan bersih agar terhindar dari penyakit ya bu. Jangan sungkan untuk menghubungi kami jika ibu mengalami kesulitan tentang pengobatan ini. Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk konseling bu.
MONITORING
Monitoring pada pasien ini adalah:
1. Monitoring terhadap gejala dehidrasi, jika dehidrasi sudah teratasi maka 2. penggunaan NaCl dihentikan.
3. Monitoring terhadap mual muntah, jika mual muntah sudah teratasi 4. maka obatnya dihentikan.
5. Monitoring kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat.
6. Monitoring obat antibiotik yang harus dihabiskan oleh pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Tuang, A. (2021). Analisis analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(2), 534-542.
ROSIDI, Ali; HANDARSARI, Erma; MAHMUDAH, Mita. Hubungan kebiasaan cuci tangan dan sanitasi makanan dengan kejadian diare pada anak SD Negeri Podo 2 Kecamatan
Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2020, 6.1.
ANGGRAINI, Debie; KUMALA, Olivitari. Diare Pada Anak. Scientific Journal, 2022, 1.4: 309- 317.
KUSUMA, Andiko Nugraha. Determinan Personal Hygiene Pada Anak Usia 9–12 Tahun. Faletehan Health Journal, 2019, 6.1: 37-44.
AMIN, Lukman Zulkifli. Tatalaksana diare akut. Cermin Dunia Kedokteran, 2015, 42.7: 398852.
JAP, Arvin Leonard Sumadi; WIDODO, Ariani Dewi. Diare Akut yang Disebabkan oleh Infeksi. Jurnal Kedokteran Meditek, 2021, 27.3: 282-288.
MELIYANTI, Fera. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Jurnal Aisyah: Jurnal Ilmu Kesehatan, 2016, 1.2: Hal 09-16.
Stockmann C, Pavia A, Graham B. Detection of 23 Gastrointestinal Pathogens Among Children Who Present With Diarrhea. Article. Journal of the Pediatric Infectious Disease Society Advance Access. May 4,2016.
NURJANAH, Siti; KOTO, Yeni; DANISMAYA, Irawan. Madu dapat Menurunkan Frekuensi Diare pada Anak: Honey Can Reduce the Frequency of Diarrhea in Children. Journal Of Nursing Education And Practice, 2022, 2.1: 25-30.