METODOLOGI PENAFSIRAN AL-QURAN
Achmad Daniel Abrory
Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Instititut Agama Islam Al-Qodiri Jember Email : [email protected]
Abstract: Al-Quran is the source of Islamic teachings. The holy book occupies a central position, not only in the development of Islamic sciences, but is also the inspiration, guide and unifier of Muslim movements throughout the 14 centuries of history of this ummah movement. As a life guide for all ages, and in various aspects of human life, the Koran is an open holy book (open ended), to be understood, interpreted and interpreted from the perspective of the method of interpretation as well as the perspective of the dimensions or themes of human life from here the sciences emerged to study the Koran from its various aspects (asbab al-nuzul, philology of tradition and substance) including the science of exegesis. The development of the sciences of interpretation of the mufassirs in a variety of methods and styles, in the following, we will briefly present the history of interpretation, the methods used by mufassirs in understanding the Koran and the various styles used by mufassirs in explaining the contents of the holy book of the Koran.
Keywords: Al-Qur’an, Interpretation
Abstrak: Al-Quran adalah sumber ajaran Islam. Kitab suci itu menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangannya ilmu-ilmu ke-Islaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang 14 abad sejarah pergerakan umat ini. Sebagai pedoman hidup untuk segala zaman, dan dalam berbagai aspek kehidupan mansusia, Al-Quran merupakan kitab suci yang terbuka (open ended), untuk dipahami, ditafsirkan dan ditakwilkan dalam prespektif metode tafsir maupun perspektif dimensi- dimensi atau tema-tema kehidupan manusia dari sini mencullah ilmu-ilmu untuk mengkaji Al-Quran dari berbagai aspeknya (asbab al- nuzul, filologi tradisi dan substansi) termasuk di dalamnya ilmu tafsir. Berkembanglanh ilmu- ilmu tafsir dari para mufassir dalam berbagai ragam metode dan coraknya, berikut ini akan dikemukakan sepintas sejarah penafsiran, metode yang digunakan mufassir dalam memahami A- Quran dan berbagai macam corak yang digunakan mufassir dalam menjelaskan isi kandungan kitab suci Al-Quran..
Kata kunci: Aluran, Tafsir
PENDAHULUAN
Al-Quran bagaikan samudra yang tidak pernah kering airnya,
gelombangnya tidak pernah reda, kekayaan dan hazanah yang dikandungnya tidak pernah habis, dapat di layari dan diselami dengan berbagai cara, dan memberikan manfaat dan dampak yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Dalam kedudukannya sebagai kitab suci (Scripture) dan mu'jizat bagi kaum muslimin, Al-Quran merupakan sumber keamanan, sumber motivasi dan inspirasi, sumber nilai dan sumber dari segala sumber hukum yang tidak pernah kering atau jenuh bagi yang mengimaninya. Di dalamnya (Al-Quran) terdapat dokumen historis
yang merekam kondisi sosio ekonomis, religius, ideologis, politis dan budaya dari peradaban umat manusia sampai abad ke VII masehi, namun pada saat yang sama menawarkan hazanah petunjuk dan tata aturan tindakan bagi umat manusia yang ingin hidup dibawah nuangan dan yang mencari makna kehidupan mereka didalamnya. Jika demikian itu halnya, maka pemahaman terdapat ayat-ayat Al- Quran melalui penafsiran-penafsiran, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat, menjamin istilah kunci untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam Al-Quran.
Sebagai pedoman hidup untuk segala zaman, dan dalam berbagai aspek kehidupan mansusia, Al-Quran merupakan kitab suci yang terbuka (open ended), untuk dipahami, ditafsirkan dan ditakwilkan dalam prespektif metode tafsir maupun perspektif dimensi- dimensi atau tema-tema kehidupan manusia dari sini mencullah ilmu-ilmu untuk mengkaji Al-Quran dari berbagai aspeknya (asbab al- nuzul, filologi tradisi dan substansi) termasuk di dalamnya ilmu tafsir.
Berkembanglanh ilmu-ilmu tafsir dari para mufassir dalam berbagai ragam metode dan coraknya, berikut ini akan dikemukakan sepintas sejarah penafsiran, metode yang digunakan mufassir dalam memahami A-Quran dan berbagai macam corak yang digunakan mufassir dalam menjelaskan isi kandungan kitab suci Al- Quran.
KAJIAN TEORI Pengertian Al-Qur’an
Secara etimologi Al-Qur'an berasal dari kata "qara'a, yaqra'u, qira'atan, atau qur'anan" yang berarti mengumpulkan (al-jam'u) dan menghimpun (al-dhammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian ke bagian lain secara teratur.
Sedangkan pengertian Al-Qur'an dari segi terminologinya dapat dipahami dari pandangan ulama berikut: Muhammad Salim Muhsin, dalam Bukunya Tarikh Al- Qur'an al-Karim menyatakan, bahwa:
ىّلَص دّمَحُم اَنّيِبَن ىَلَع ُلّزَنُمْلا ىَلاَعَت ِهللا ُم َلَك َوُه ُنآْرُقْلا لل انيلا ُلوقنملا فحاصملا يف بوتكملا ملسو ِهْيَلَع ُهّللا هنم ةروس رصقاب ىدحلملا هكولب عتملا ارتاوتم
“Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan dinukil/diriwayatkan kepada kita dengan jalan yang mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya) walaupun surat terpendek.” 1
METODE
Metode yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah metode telaah pustaka, yakni membaca dan memahami referensi penelitian, baik dari sumber data primer maupun sekunder. Selain itu, metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis, yaitu mensistematisasikan keterangan atau data yang telah terkumpul dalam sebuah penjelasan yang terperinci disertai dengan analisis penulis.
Sumber Data
Sumber data yang akan penulis gunakan dalam tahap penyusunan
artikel ini antara lain : Tarikh Al-Qur'an al-Karim, al-Bidayah Tafsir al-Maudhu', al-Tibyan 'Ulum Al-Qur'an, dan , al-Bidayah Tafsir al- Maudhu'
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini diawali dengan mencari dan mengumpulkan beberapa buku dan jurnal studi hadits. Dari situ penulis mulai membaca, menelaah, dan mengambil beberapa point-point penting yang berkaitan dengan pembahasan analist pada artikel ini.
1 Muhammad Salim Muhsin, Tarikh Al-Qur'an al-Karim, (Iskandariyah: Muassasah Syabab al- Jam'iyah, t.t.), hlm. 5.
Teknik Analisis Data
Data-data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode
berfikir induksi. Data-data yang berhasil dikumpulkan dianalisis, kemudian
ditarik kesimpulan secara umum.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode yang berkembang dalam penafsiran Al-Qur'an terdapat empat macam, yaitu tahlili, metode ijmal, metode mugarin, dan metode maudhu'i.
Masing masing metode tersebut mempunyai kriteria tersendiri.
Pertama, metode tahlili yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang dilakukan dengan cara menjelaskan ayat Al-Qur'an dalam berbagai aspek, serta menjelaskan maksud yang terkandung di dalamnya sehingga kegiatan mufasir hanya menjelaskan per ayat, surat per surat, makna lafal tertentu, susunan kalimat, persesuaian kalimat satu dengan kalimat lain, asbabun nuzul yang berkenaan dengan ayat yang ditafsirkan.2
Metode tahlili disebut juga metode tajzi'i atau (parsial) yang banyak dilakukan oleh para mufasir salaf dan metode ini oleh sebagian pengamat dinyatakan sebagai metode yang gagal mengingat cara penafsirannya yang parsial juga tidak dapat menemukan substansi Al-Qur'an secara integral dan ada kecenderungan masuknya pendapat mufasir sendiri mengingatkan pemaknaan ayat tidak dikaitkan dengan ayat lain yang membahas topik yang sama.
Hampir semua penafsiran Al-Qur'an menggunakan tafsir tahlili, mengingat tafsir ini tidak banyak melibatkan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan penafsiran bahkan praktis di lakukan, di antara modal tafsir tahlili adalah:
2 Abd Hayy Al-Farmawi, al-Bidayah Tafsir al-Maudhu', (Kairo: al-Hadharah al-Arabiyah1977), hlm. 24
1. Tafsir al-Maraghi, oleh Musthafa al-Maraghi (wafat 1952 H); dan 2. Tafsir Al-Qur'an, oleh Abu Fida Ibnu Katsir (wafat 774 H).
Kedua, metode tafsir ijmali yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang dilakukan dengan cara menjelaskan maksud Al-Qur'an secara global tidak terperinci seperti tafsir tahlili, hanya saja penjelasannya disebutkan secara global (ijmal).
Ketiga, metode muqarin yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang di lakukan dengan cara perbandingan (komparatif), dengan menemukan dan mengkaji perbedaan-perbedaan antara unsur-unsur yang diperbandingkan, baik dengan menemukan unsur yang benar di antara yang kurang benar, atau untuk tujuan memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai masalah yang dibahas dengan jalan penggabungan (sintesis), unsur-unsur yang berbeda itu.
Tafsir muqarin dilakukan dengan membanding-bandingkan ayat satu dengan yang lain, yaitu dengan ayat-ayat yang mempunyai kemiripan redaksi dalam dua masalah atau kasus yang berbeda atau lebih, atau yang memiliki redaksi yang berbeda untuk kasus yang sama atau yang diduga sama, atau membandingkan ayat dengan Hadits yang tampak bertentangan, serta membandingkan pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran Al-Qur'an.
Metode Muqarin mempunyai kelebihan khusus daripada metode yang lain di antaranya adalah:
1. Dapat memusatkan perhatian pada penggalian hikmah di balik variasi redaksi ayat untuk kasus yang sama dan pemilihan redaksi yang mirip untuk kasus yang berbeda, dengan begitu metode ini dapat menguras isi kandungan Al-Qur'an, membuktikan komposisi ayat Al-Qur'an yang tidak sembarang, sekaligus mendemonstrasikan ijaz (kemujizatnya).
2. Mengaitkan hubungan Al-Qur'an dengan Hadits yang dibandingkan.
3. Mengetahui orisinalitas penafsiran seorang mufasir, sebab dimungkin- kan mufasir pendatang meminjam tafsiran pendahuluannya tanpa menyebutkan
sumber kutipannya. Dan dapat mengungkap kecende- rungan mufasir, mazhab apa yang dianut, dapat mengungkap kekeliruan mufasir dahulu dan mencari pendapat yang lebih benar dengan jalan tarjih (memilih yang terbaik dan terkuat), dapat mengungkap sumber sumber perbedaan pendapat di kalangan mufasir, dapat dijadikan sebagai sarana pengkompromian aliran ulama tafsir, dan dapat memperoleh pemahaman yang lebih lengkap mengenai kandungan Al-Qur'an.
Macam-macam variasi ayat yang dilakukan dengan metode mugarin adalah sebagaimana yang ditulis oleh al-Zarkasyi sebagai berikut:
1. Variasi letak kata dalam kalimat, seperti kata "udzkhul al-Bab" dalam QS.al-Baqarah: 58 dengan al-A'raf: 161;
2. Variasi jumlah huruf, seperti kata "sawaun" dalam QS. al-Baqarah: 6 dan Yasin: 10;
3. Variasi keterdahuluan, seperti kata "syafatun" dalam QS. al-Baqarah: 48 dan al-Baqarah: 123;
4. Variasi makrifat dan nakirah, seperti kata "al-Haq" dalam QS.al-Baqarah:
61 dan Ali Imran: 24:
5. Variasi pemilihan huruf, seperti kata "Wakula" atau "Fakula" dalam QS.al- Baqarah: 35 dan al-Araf: 19.
6. Variasi pemilihan kata, seperti kata "Ma alfayna" dengan "ma wajadna"
dalam QS. al-Baqarah: 170 dan Luqman: 21; dan
7. Variasi idgom, seperti "yatadharra'u" dalam QS. al-An'am: 42 dan al A'raf:
49.
Keempat, metode maudhu'i yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang di lakukan dengan cara memilih topik tertentu yang hendak dicarikan pen- jelasannya dalam Al-Qur'an yang berhubungan dengan topik ini, lalu dicarilah kaitan antara berbagai ayat ini agar satu sama lain bersifat menjelas-kan,
kemudian ditarik kesimpulan akhir berdasarkan pemahaman mengenai ayat- ayat yang saling terkait itu. Metode maudhu'i mempunyai dua keunggulan:
1. Dapat memperoleh pemahaman Al-Qur'an lebih utuh dan autentik mengenai satu topik tertentu, sehingga sulit memasukkan ide mufasi 2. Relevan dengan kebutuhan orang muslim yang perlu penyelesaian kasus
berdasarkan pendekatan tematik ayat Al-Qur'an.
Contoh metode maudhu'i (tematik) adalah seperti penyelesaian kasti riba yang dilakukan oleh Ali al-Shabuni dalam "Tafsir Ayat Ahkam" yang secara hierarki menentukan urutan ayat. Pertama, QS. ar-Rum ayat 39 yang menjelaskan kebencian Allah kepada riba walaupun belum diharamkan Kedua, QS. an-Nisa ayat 130 yang menjelaskan keharaman riba secara tersirat (ta'wil) belum tersurat (tashrih). Ketiga, QS. Ali Imran ayat 30 yang menjelaskan keharaman riba dengan jelas, namun yang diharamkan sebagian bukan keseluruhan. Keempat, QS. al-Baqarah ayat 278 yang menjelaskan keharaman riba secara mutlak.3
Proses penggunaan metode maudhu'i dapat dilakukan dengan jalan:
1. Mencari topik (maudhu't) yang hendak dibahas;
2. Menginventarisir ayat-ayat yang berkaitan dengan topic
3. Memberikan urutan ayat menurut hierarkinya, baik mengenai turunnya, Makiyah dan Madinah sesuai dengan riwayat sebab-sebab turunnya;
4. Menjelaskan persesuaian atau relevansi antara ayat yang satu dengan ayat yang lain atau antara surat yang satu dengan yang lainnya
5. Menyempurnakan bahasan dengan jalan membagi masalah menurut klasifikasinya
6. Melengkapi penjelasan dengan Hadits, riwayat sahabat sehingga se- makin jelas
3 Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan 'Ulum Al-Qur'an, (Beirut: Manahil al-Irfan, 1980), him.
390-391.
7. Mempelajari ayat-ayat yang satu topik secara tematik, dengan penyesuai an antara yang umum dan yang khusus, yang mutlak dan yang muqayyad, yang global atau yang terperinci, dan memadukan ayat yang tampaknya bertentangan serta menentukan nasikh dan mansukh.4
Tafsir maudhui mendapat tempat tersendiri dari metode penafsiran yang ada. Mahmud Syaltut menganggap bahwa metode maudhu'i merupa kan metode yang relevan untuk digunakan pada masa kini, karena dapat memberi keterangan pada umat manusia dengan ajaran-ajaran Al-Qur'an sesuai dengan kasus yang terjadi, lagi pula topik dalam Al-Qur'an belum tersistematisasi sehingga satu topik dibahas dalam berbagai ayat yang berbeda-beda tempatnya.5
Pendapat di atas dapat dibenarkan mengingat metode maudhu'i dapat menuntaskan satu topik dengan pendekatan qur'ani yang lebih integral dan komprehensif, dan merupakan kajian tafsir ma'tsur yang lebih men- dekatkan pada kebenaran objektif, karena bahasannya mencakup ayat perayat atau surat per surat dalam satu topik, sehinga masalah yang dihadapi umat cepat terselesaikan.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, penulis dapat menyimpulkan bahwa metode yang berkembang dalam penafsiran Al-Qur'an terdapat empat macam, yaitu tahlili, metode ijmal, metode mugarin, dan metode maudhu'i. Masing masing metode tersebut mempunyai kriteria tersendiri.
1. Pertama, metode tahlili yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang dilakukan dengan cara menjelaskan ayat Al-Qur'an dalam berbagai aspek, serta menjelaskan maksud yang terkandung di dalamnya sehingga kegiatan mufasir hanya menjelaskan per ayat, surat per surat, makna lafal
4 Abu Hayyi al-Farmawi, Op.cit., hlm. 61-63.
5 Ibid, hlm. 64.
tertentu, susunan kalimat, persesuaian kalimat satu dengan kalimat lain, asbabun nuzul yang berkenaan dengan ayat yang ditafsirkan.
2. Kedua, metode tafsir ijmali yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang dilakukan dengan cara menjelaskan maksud Al-Qur'an secara global tidak terperinci seperti tafsir tahlili, hanya saja penjelasannya disebutkan secara global (ijmal).
3. Ketiga, metode muqarin yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang di lakukan dengan cara perbandingan (komparatif), dengan menemukan dan mengkaji perbedaan-perbedaan antara unsur-unsur yang diperbandingkan.
4. Keempat, metode maudhu'i yaitu metode penafsiran Al-Qur'an yang di lakukan dengan cara memilih topik tertentu yang hendak dicarikan pen- jelasannya dalam Al-Qur'an yang berhubungan dengan topik ini, lalu dicarilah kaitan antara berbagai ayat ini agar satu sama lain bersifat menjelas-kan, kemudian ditarik kesimpulan akhir berdasarkan pemahaman mengenai ayat-ayat yang saling terkait itu.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Farmawi, Abd Hayy, al-Bidayah Tafsir al-Maudhu', (Kairo: al-Hadharah al- Arabiyah1977)
Ali al-Shabuni, Muhammad, al-Tibyan 'Ulum Al-Qur'an, (Beirut: Manahil al- Irfan, 1980)
Salim Muhsin , Muhammad. Tarikh Al-Qur'an al-Karim, (Iskandariyah:
Muassasah Syabab al-Jam'iyah, t.t.)