• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan Prakiraan Cuaca pada 29 Maret 2024

N/A
N/A
Neil F. R. Tempo

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis dan Prakiraan Cuaca pada 29 Maret 2024"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DAN PRAKIRAAN CUACA 29 MARET 2024 PUKUL 00.00 UTC HINGGA 29 MARET 2024 PUKUL 12.00 UTC

1.

http://www.bom.gov.au/clim_data/IDCKGSM000/soi30.png

 SOI = +4.4 (tidak signifikan < +7)

 Suplai uap air bergerak dari Pasifik Barat ke Pasifik Timur, aktivitas potensi pembentukan awan hujan di wil. Indonesia Timur tidak signifikan. Namun cenderung menguat

2. http://www.bom.gov.au/clim_data/IDCK000072/nino3_4.png

 Indeks ENSO di NINO3.4 : +1.0/ El Nino Moderat (normal ±0.5)

 Tidak signifikan terhadap peningkatan hujan di wil. Indonesia. Dapat berpengaruh terhadap penurunan hujan di wil. Indonesia (khususnya Indonesia bag. Timur)

3. http://www.bom.gov.au/clim_data/IDCK000072/iod1.png

(2)

 DMI : +0.81 (netral ±0.48)

 Suplai uap air dari wil. Indonesia bag. barat ke wil. S. Hindia berdampak pada penurunan potensi pertumbuhan awan hujan di wil. Indonesia bag.

Barat.

4. http://www.bom.gov.au/clim_data/IDCKGEM000/rmm.phase.Last40days.gif?

1710123976839

 MJO : Aktif pada fase 1 (West. Hem. And Africa)

 tidak berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, Khususnya Tanjung priok

5. https://web.meteo.bmkg.go.id//media/data/bmkg/mfy/sur_idx.png

(3)

Indeks Surge Gushi-HK

: -2.6 (normal < +10)

 Aliran massa udara dingin tidak signifikan terhadap wil. Indonesia.

6. https://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/indeks-monsoon

 Anomali AUMSI : 1.40

 Monsun Australia berada pada keaadan yang lemah dan memiliki kecenderungan akan melemah kedepannya.

 Anomali WNMPI : -1.79

 Monsun Asia berada pada keadaan yang kuat, namun memiliki kecenderungan akan melemah kedepannya.

 Keadaan monsun Australia yang lemah dan monsun asia yang kuat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif pada Indonesia bagian Barat.

7. https://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/analisis-parameter-cuaca/analisis- model-00-utc

(4)

 Konvergensi : Bengkulu, Sulawesi Tengah

 Daerah siklonik: Kalimantan tengah

 Lapisan atas mencapai lebih dari 17 kt

 Lapisan bawah berada sekitar 13 kt

8. https://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/sea-surface-temperature-analysis

 SST di Tanjung priok berkisar antara 29-30 °C

 anomali SST : 0.0 s/d 0.5 °C

 anomali SST di teluk Jakarta berada pada positif yaitu +0.0 hingga +0.5 derajat celcius sehingga meningkatkan potensi penguapan.

9. https://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/analisis-parameter-cuaca/analisis- model-00-utc

(5)

 Angin permukaan mencapai 0 - 5 kt

 Angin pada lapisan atas mencapai 10-15 kt

10. https://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/analisis-isobar m

 Daerah tekanan rendah: Bagian barat pulau sumatra

 Daerah tekanan tinggi: Aceh, Sulawesi Selatan, Papua

11. https://www.kma.go.kr/ema/nema03_kim/rall/detail.jsp?opt1=asia1&opt2=instabili ty&opt3=kim_ra2d_asia1_kindex_ft06_pa4_s&tm=2024.03.10.12&delta=000&ftm=

2024.03.10.12

(6)

 Wil Tanjung Priok

 K indeks: 35-40 Kuat, Probalitas awan konfektif dan petir pada skala Kuat.

Cenderung tetap

 Li indeks: -1/-2 Lemah, Pengangkatan parsel udara yang lemah. Cenderung tetap

 Showalter indeks: -1/0 Moderate, keadaan stabilitas atmosfer dan peluang terjadinya petir kategori moderat. Cenderung tetap

12. https://web.meteo.bmkg.go.id/id/pengamatan/analisis-parameter-cuaca/analisis- model-00-utc

(7)

 Kelembapan yang tinggi memberi pasokan uap air dalam pembentukan awan konvektif

 3000 hinnga 10.000 ft kelembapan berada pada rentang 80% - 90%

 Pada lapisan 18.000 ft kelembapan berada pada rentang 50% - 60%

13. https://peta-maritim.bmkg.go.id/ofs-static

 F01. Selat Karimata bagian utara: Timur Laut – Tenggara, 0-20 knot

 F02. Selat Gelasa: Timur Laut – Tenggara, 2-15 knot

 F03. Perairan utara Belitung: Timur Laut – Tenggara , 4-10 knot

 F04. Perairan selatan Belitung: Timur Laut – Tenggara , 4-15 knot

 F05. Selat Karimata bagian selatan: Utara – Tenggara , 2-15 knot

 F06. Laut Jawa bagian barat: Timur Laut – Selatan , 2-15 knot

 F07. Perairan utara Banten: Timur Laut – Tenggara , 0-10 knot

 F08. Perairan Kepulauan Seribu: Timur Laut – Tenggara , 2-15 knot

 F09. Teluk Jakarta: Timur Laut – Timur , 4-15 knot

 F10. Perairan Karawang-Subang: Timur Laut – Tenggara , 2-15 knot

 F11. Perairan Indramayu-Cirebon: Timur Laut – Selatan, 4-15 knot

(8)

14. https://peta-maritim.bmkg.go.id/ofs-static

 F01. Selat Karimata bagian utara: 0-1.25 m

 F02. Selat Gelasa: 0-0.5 m

 F03. Perairan utara Belitung: 0-0.5m

 F04. Perairan selatan Belitung: 0-0.5 m

 F05. Selat Karimata bagian selatan: 0-0.5m

 F06. Laut Jawa bagian barat: 0-0.5m

 F07. Perairan utara Banten: 0-0.5 m

 F08. Perairan Kepulauan Seribu: 0-0.5 m

 F09. Teluk Jakarta: 0-0.5m

 F10. Perairan Karawang-Subang: 0-0.5m

 F11. Perairan Indramayu-Cirebon: 0-0.5m

15. https://peta-maritim.bmkg.go.id/ofs-static

(9)

 Kea arah: Barat Daya – Barat Laut

 Kecepatan: 5 – 20 cm/s

16.  Pasang surut min: pukul 12.00, 0.3

 Pasang surut max: pukul 18.00, 0.6

(10)

Kesimpulan untuk daerah DKI Jakarta:

 MJO dalam fase aktif pada fase 1 =

tidak berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, Khususnya Tanjung priok

 anomali SST di teluk Jakarta berada pada positif yaitu +0.0 - +0.5 derajat celcius sehingga meningkatkan potensi penguapan.

 Monsun asia kuat

 Kelembapan pada lapisan bawah hingga atas sangat tinggi hingga 90%

 Angin lapisan bawah cukup tinggi hingga maksimal 15 kt

 K indeks dalam kondisi kuat

(11)
(12)

Referensi

Dokumen terkait

Namun demikian pendekatan-pendekatan dalam membuat prakiraan cuaca sudah banyak dikembangkan oleh negara maju meskipun pendekatan-pendekatan tersebut tidak sepenuhnya sesuai

Analisis Hujan Bulan Januari 2018 dan Prakiraan Hujan Bulan Maret, April dan Mei 2018 disusun berdasarkan hasil analisis data hujan yang diterima dari stasiun dan pos

Analisis Hujan Bulan Desember 2018 dan Prakiraan Hujan Bulan Februari, Maret dan April 2019 disusun berdasarkan hasil analisis data hujan yang diterima dari stasiun dan pos

Analisis Hujan Bulan Desember 2017 dan Prakiraan Hujan Bulan Februari, Maret dan April 2018 disusun berdasarkan hasil analisis data hujan yang diterima dari stasiun dan pos

Analisis Hujan Bulan Maret 2019 dan Prakiraan Hujan Bulan Mei, Juni dan Juli 2019 disusun berdasarkan hasil analisis data hujan yang diterima dari stasiun dan pos

Analisis Hujan Bulan Desember 2016 dan Prakiraan Hujan Bulan Februari, Maret dan April 2017 disusun berdasarkan hasil analisis data hujan yang diterima dari stasiun dan pos

Mengutip dari laman resmi Kemenag, Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadhan 1445 H pada 10 Maret 2024 atau 29 Syaban 1445 H.. Hasil dari sidang isbat

Analisis dan Prakiraan cuaca pada tanggal 26 Maret 2024 pukul 00.00 UTC hingga 26 Maret 2024 pukul 12.00