• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebijakan Publik Depok

N/A
N/A
Yudi

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kebijakan Publik Depok"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PENGENDALIAN RAYAP SEBAGAI MASUKAN TERHADAP PERATURAN DAERAH

TENTANG BANGUNAN DI KOTA DEPOK

YUDI RISMAYADI

Peneliti Laboratorium Biomaterial Dan Biodeteriorasi Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati Dan Bioteknologi

Institut Pertanian Bogor

PENGANTAR

Kota Depok memiliki posisi yang sangat strategis ditinjau dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Wilayah ini berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta sebagai ibu kota negara, dan merupakan wilayah penyangga untuk meringankan tekanan perkembangan penduduk di ibu kota, yang diarahkan untuk pola pemukiman dan penyebaran kesempatan kerja secara lebih merata. Dalam perkembangannya selain sebagai pusat permukiman, Kota Depok telah tumbuh pula sebagai kota perdagangan, jasa dan pendidikan. Oleh karena itu laju pembangunan Kota Depok sangat pesat yang ditunjukkan oleh telah tersedianya berbagai sarana permukiman, pendidikan, dan bangunan fasilitas publik lainnya. Tentunya investasi yang telah tertanam dalam bentuk sarana bangunan gedung tersebut adalah asset penting untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan yang harus dilindungi.

Munculnya Rancangan Peraturan Daerah mengenai Bangunan di Kota Depok merupakan wujud kepedulian stakeholder bangunan di Kota Depok. Perda sangat stategis ditinjau dalam dua perspektif yaitu 1) menyiapkan aturan legal formal di kota Depok dalam penyelenggaraan bangunan sehingga terciptanya kondisi bangunan yang handal, sehat, dan serasi dengan alam lingkungannya dan 2) Perda merupakan jawaban kesiapan pemerintah daerah Kota Depok dalam mengemban amanat dari Undang-undang No 28 tahun 2002 mengenai Bangunan Gedung yang telah diundangkan.

Layaknya setiap kebijakan publik, setiap perda adalah hasil dari aktivitas politis yang divisualisasikan dalam berbagai tahap proses pembuatan kebijakan. Namun demikian setiap tahap proses pembuatan kebijakan itu juga dibarengi oleh serangkaian aktivitas intelektual yang mengungkap permasalahan secara kritis, menilai, dan mengkomunikasikan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan dalam satu atau lebih tahap proses sehingga setiap

(2)

kebijakan publik sesuai dan mampu menjawab kebutuhan serta keinginan publik.

Makalah ini tidak sepenuhnya merupakan hasil analisis kebijakan publik terhadap keseluruhan isi Rancangan Peraturan Daerah Kota Depok mengenai Bangunan, namun mecoba mengungkapkan permasalahan yang terkait persyaratan keandalan bangunan khususnya masalah keselamatan bangunan dalam perspektif yang lebih holistik dengan memandang seluruh faktor yang mempengaruhi keselamatan bangunan, khususnya rayap perusak bangunan.

Tinjauan Mengenai Persyaratan Keandalan Bangunan

Dalam UU No 28 Tahun 2002 Dan RAPERDA Bangunan Kota Depok

Bangunan merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya dan berfungsi sebagai tempat manusia melakukan berbagai aktivitas. Oleh karena itu pandangan holistik terhadap keberadaan suatu bangunan adalah bahwa bangunan tidak terpisahkan dari berbagai faktor lingkungan yang berada di sekitar tapak bangunan baik di dalam bangunan gedung maupun di luar bangunan gedung (Gambar 1).

Faktor-faktor tersebut berinteraksi dan memberikan beragam pengaruh termasuk terhadap keandalan bangunan gedung yang merupakan totalitas fungsional bangunan dalam mendukung aktivitas manusia yang berada didalamnya. Bahkan seringkali interaksi yang terjadi menyebabkan keandalan bangunan terganggu dan dari waktu ke waktu keandalannya semakin menurun. Penurunan keandalan bangunan tentunya akan mengakibatkan seluruh totalitas fungsional bangunan yang mempunyai nilai keselamatan, kenyamanan, kesehatan, keharmonisan lingkungan dan lain sebagainya terganggu sehingga memberikan dampak finansial maupun non finansial khususnya yang terkait dengan masalah keamanan dan kenyamanan pemakaian bangunan.

(3)

Gambar 1. Skema hubungan bangunan gedung dan lingkungannya Penurunan keandalan bangunan gedung adalah hasil resultante dari proses kemunduran kualitas bangunan (building deterioration) akibat bekerjanya faktor perusak bangunan. Watt 1999 mengklasifikasi faktor-faktor perusak bangunan sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi Faktor Perusak Bangunan

Penyebab

Bekerja di luar bangunan Bekerja di dalam bangunan

Atmosfer Tanah Penghuni Akibat

desain Penyebab mekanik

Gravitasi Beban salju dan hujan

Tekanan tanah dan air

Beban hidup Beban mati Penurunan

kekuatan dan pembebanan

Tekanan salju, suhu dan kelembaban

Amblas, Bergeser

Pelekukan Pergeseran, Penyusutan Energi kinetik Angin, hujan

Es, badai pasir Gempa bumi Akibat internal,

Pemakaian Penurunan kadar Air Getaran dan bumi Bunyi guruh,

pesawat, ledakan, lalulintas, mesin

Getaran lalu

lintas Bunyi & getaran musik, hiburan, alat rumah

Bunyi dan getaran Penyebab electromagnet

Kondisi lingkungan

Perawatan Bangunan

External envelope

Aktivitas penghuni Kondisi lingkungan di dalam bangunan Isi bangunan

Struktur Material bangunan

(4)

Penyebab

Bekerja di luar bangunan Bekerja di dalam bangunan

Atmosfer Tanah Penghuni Akibat

desain Radiasi Radiasi matahari,

radiasi radioaktif Radiasi

radioaktif Lampu, radiasi

radioaktif Radiasi permukaan

Listrik Cahaya Arus listrik - Listrik statis &

suplai listrik

Magnetisme - - Medan magnet Medan Magnet

Penyebab suhu Panas, embun,

perubahan suhu Panas tanah

embun Panas tubuh,

rokok Pemanasan,

Kebakaran Penyebab kimia

Air dan larutan Kelembaban udara,kondensasi, presipitasi

Air tanah dan air permukaan

Penyemprotan air, kondensasi, deterjen, alkohol

Pemanasan, kebakaran Penyebab oksidasi Oksigen, ozon,

Nitrooksida

Potensial elektrokimia

Disenfektan, pemutih

Potensial elektrokimia Penyebab reduksi

Asam Asam karbonat,

asam sulfurat, kotoran burung

Asam karbonat,

asam humat

Cuka, asam sitrat, asarn karbonat

Asam sulfat, asam karbonat

Basa - Kapur Sodium,potasium Semen

Garam Kabut garam Nitrat, fosfat,

klorida, sulfat

Sodium klorida Gips, sulfat Bahan kimia netral Debu Batu kapur,

Silica Lemak, minyak,

tinta, debu Lemak, minyak, debu Penyebab Biologi

Tumbuhan dan Mikroba

Bakteri, benih Tumbuhan

Bakteri, lumut jamur, akar pohon

Bakteri, tanaman hias

-

Hewan Serangga,

Burung

Tikus, rayap, Hewan piaraan -

Dalam Undang-Undang No 28 Tahun 2002 Bangunan Gedung persyaratan keandalan bangunan meliputi:

1). Persyaratan keselamatan bangunan, 2). Persyaratan kesehatan bangunan

3). Persyaratan kenyamanan bangunan; dan 3). Persyaratan kemudahan

Terkait dengan masalah keselamatan bangunan sebagaimana diatur dalam pasal 17 hingga pasal 20 dapat diinventarisir beberapa faktor yang mempengaruhi keselamatan bangunan, yaitu terkait dengan:

(5)

1). Persyaratan bangunan dalam mendukung beban muatannya;

2). Kemampuan bangunan dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.

Selanjutnya dalam penjelasan pasal 18 yang dimaksud dengan persyaratan bangunan dalam mendukung beban muatannya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan UU No 28 Tahun 2002, persyaratan keandalan bangunan merupakan kemampuan bangunan dalam mencegah (preventif action) dan menanggulangi (curatif action) faktor-faktor perusak bangunan yang mengancam bangunan gedung. Secara rinci undang-undang menyebutkan faktor-faktor tersebut terdiri dari:

1. Kerusakan akibat bahaya kebakaran 2. Bahaya petir

3. Penurunan keandalan bangunan akibat beban mutannya dan perilaku alam, meliputi

a. Menurunnya kualitas material (deteriorasi) akibat penyusutan relaksasi, kelelahan, dll.

b. Gempa (tektonik dan vulkanik) c. Angin ribut/badai

d. Tanah longsor e. Banjir

f. Bahaya akibat serangga perusak dan jamur

Sejalan dengan UU No 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, dalam rancangan Perda Daerah Kota Depok tentang Bangunan juga dimuat persyaratan keandalan bangunan yang isinya tidak berbeda dengan UU

(6)

tersebut. Dalam kedua peraturan tersebut, ancaman keandalan bangunan dari faktor perusak bangunan telah memasukkan seluruh faktor perusak bangunan yang mungkin timbul, namun dengan tingkat perhatian yang berbeda.

Bahaya kebakaran dan petir memiliki tingkat perhatian yang sangat tinggi dalam peraturan perundangan-undangan No 28 Tahun 2002 dan RAPERDA Kota Depok mengenai Bangunan. Bahaya petir dan kebakaran diuraikan dalam batang tubuh undang-undang, yaitu pasal 17 sampai pasal 20, demikian juga pada rancangan Perda Kota Depok dimuat pada pasal yang sama. Sementara itu penurunan keandalan bangunan akibat bahaya serangga perusak (khususnya rayap) hanya terakomodasi dalam penjelasan pasal 18 baik dalam UU No 28 Tahun 2002 maupun dalam RAPERDA Kota Depok tentang Bangunan. Di wilayah Kota Depok, kondisi tersebut kurang proporsional apabila melihat kasus-kasus kerusakan bangunan yang sesungguhnya terjadi. Kerusakan akibat serangan rayap jauh lebih tinggi kasusnya dibandingkan kerusakan akibat kebakaran dan petir terutama pada bangunan-bangunan untuk fungsi hunian dan bangunan milik pemerintah daerah Kota Depok. Oleh karena itu, sesungguh peraturan kebijakan publik mengenai bahaya rayap perlu mendapat penguatan yang menempatkannya pada tingkat yang setara dengan faktor perusak bangunan dari bahaya kebakaran dan bahaya petir

Logic Of Inquiry Penguatan

Kebijakan Mengenai Penanggulangan Bahaya Rayap

Kebijakan publik lahir dari kombinasi aktivitas politik dan intelektual.

Demikian halnya dengan tinjauan terhadap penguatan pasal-pasal mengenai bahaya rayap harus merupakan hasil dari proses politis yang tidak terlepas dari usaha pengungkapan permasalahan secara kristis dengan mengkomunikasikan pengetahuan mengenai rayap dan potensi bahayanya bagi keselamatan bangunan gedung serta manfat-manfaat penangulangannya melalui kajian intelektual. Tentunya proses politik

(7)

merupakan kewenangan stakeholder yang lain, oleh karena itu bahasan ini hanya ingin mengantarkan kembali pengetahuan yang sudah diketahui mengenai pentingnya bahaya rayap diakomodasi dalam peraturan daerah sebagai bentuk pemecahan masalah dari terjadinya kerusakan-kerusakan bangunan gedung oleh serangan rayap selama ini (Logic of Inquiry).

A. Rayap dan Bahaya Serangannya di Kota Depok

Perkembangan metropolitan Jakarta telah menarik perkembangan pembangunan kawasan sekitarnya yang menggiring para investor, tenaga, kerja, sumber daya dan jaringan-jaringan ekonomi antar daerah untuk memiliki kantor perwakilan di Jakarta. Secara tata ruang kota Jakarta telah menyatu membentuk kawasan megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, bahkan Cianjur).

Kawasan ini juga pada akhirnya mengalami pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi, diperkirakan pada tahun 2020-an akan mencapai 30,2 juta jiwa.

Peningkatan jumlah penduduk di Kota Depok tentunya perlu dimbangi dengan pertumbuhan ekonomi kawasan dan infrastruktur kota, jaringan jalan, lingkungan permukiman, gedung-gedung perkantoran, apartment, dan lain-lain. Namun demikian akibat kondisi tersebut akan pula membawa konsekuensi pada peningkatan konversi lahan, peningkatan ketidakteraturan, berkurangnya kebersihan dan meningkatnya volume sampah serta pencemaran udara serta air. Di samping itu, muncul permasalahan yang berkaitan dengan hadirnya organisme-organisme pengganggu (urban pest) di lingkungan perkotaan baik itu hama maupun penyakit. Kehadiran organisme pengganggu ini sebagai akibat terjadinya perubahan dan gangguan terhadap kondisi ekosistem alami ke ekosistem buatan sehingga membentuk tata hubungan baru antar komponen penyusunnya.

Berbagai faktor pengganggu yang sebagian besar dari kelompok antropoda khususnya serangga mampu beradaptasi pada lingkungan

(8)

yang khas dan kondisi yang diciptakan oleh manusia dan menjadi toleran terhadap kondisi suhu serta kelembaban tertentu yang merupakan karakteristik lingkungan hidup manusia. Serangga-serangga tersebut dalam lingkungan perkotaan dapat mempengaruhi kualitas kesehatan manusia atau akibat kemampuan mereka yang dapat merusak makanan, serat, dan struktur bangunan. Demikian halnya dengan status kehadiran serangga tanah yaitu rayap tanah pada lingkungan perkotaan.

Rayap merupakan serangga yang hidup berkelompok dalam jumlah yang besar dalam koloninya. Satu koloni rayap dapat mencapai jutaan individu yang tersusun dari tiga kasta yang berbeda, yaitu kasta pekerja, prajurit, dan ratu. Serangga ini merupakan pemakan kayu atau bahan berselulosa sehingga dalam lingkungan alaminya rayap berperan sebagai dekomposer bahan organik dan pembentukan struktur tanah topsoil.

Pada kondisi tertentu, kemampuan rayap tanah dalam mendekomposisi bahan organik menempatkan serangga ini sebagai komponen ekosistem yang sangat penting dan berguna. Rayap tanah mendekomposisi bahan organik berupa serasah daun atau ranting, tunggak-tunggak kayu atau tanaman mati menjadi unsur hara (bahan anorganik). Melalui proses tersebut berbagai komponen ekosistem autotrop dapat tumbuh, bereproduksi, dan menghasilkan bahan-bahan berguna bagi umat manusia. Di pihak lain, keseimbangan antara komponen biotik dan abiotik dari suatu hamparan lahan (landskap) dapat dengan mudah berubah akibat aktivitas manusia. Perubahan atau konversi hamparan lahan dari hutan alam menjadi areal pertanian atau areal pertanian menjadi permukiman seringkali merubah status kehadiran rayap menjadi hama yang sangat penting terutama pada bangunan-bangunan gedung di lingkungan perkotaan.

Bangunan yang terserang rayap dapat mengalami kerusakan tidak saja pada kayu sebagai bagian komponen konstruksi bangunan seperti kuda- kuda, balok knok, gording, kaso, atau reng, dan lain-lain tetapi juga kayu

(9)

sebagai komponen non struktural pada bangunan seperti plint, wooden floor, mebeler, dan lain-lain. Bangunan yang terserang rayap serangkali tampak memiliki penampilan yang tidak normal seperti misalnya serangan rayap pada balok knok menyebabkan pelendutan struktur atap atau kerusakan pada kaso dan reng menyebabkan letak genting yang tidak tampak rapi.

Serangan rayap sebagai hama bangunan tampaknya semakin meningkat seiring dengan perkembangan pembangunan kota yang banyak merubah kondisi lingkungan alaminya. Kondisi ini menurut Robinson (1996) ditunjang pula oleh kemampuan rayap yang mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan kota (urban environmental). Fenomena tersebut pada saat ini dijumpai di kota Depok yang sedang berkembang.

Potensi ancaman rayap pada bangunan gedung di Kota Depok diduga sangat tinggi. Menurut Foliente et al. (2002) serangan rayap pada bangunan gedung dipengaruhi oleh beberapa peubah diantaranya adalah lokasi geografis bangunan gedung (terkait dengan faktor iklim seperti rata-rata temperatur, curah hujan, kelembaban, dll), tipe tanah, umur bangunan, tipe konstruksi bangunan, tipe penghalang rayap (termite barrier), tingkat perawatan, dan sumber makanan serta keragaman jenis rayap yang ada. Secara konseptual, bahaya serangan rayap dapat dikelompokan menjadi tiga faktor (variabel bebas), yaitu kondisi bangunan gedung, keragaman dan kelimpahan jenis rayap, serta kondisi lingkungan yang merupakan habitat rayap tanah. Ketiga faktor saling berhubungan dalam menentukan potensi ancaman serangan rayap.

Karakteristik bangunan terkait dengan tingkat kemudahan bangunan untuk diserang rayap. Faktor tersebut diduga juga dipengaruhi oleh banyak peubah seperti jenis material, tipe pondasi, tingkat perawatan, umur bangunan dan lain-lain. Demikian pula dengan karakteristik lingkungan seperti keadaan iklim dan tanah serta karakteristik rayap terutama keragaman jenis dan kelimpahannya seberapa besar pengaruhnya terhadap tingkat potensi ancaman rayap.

(10)

Hasil kajian di kota Depok menunjukkan bahwa ketiga faktor yang mempengaruhi serangan rayap pada umumnya mendukung kecenderungan suatu bangunan di Kota Depok terserang rayap. Pada bangunan-bangunan milik pemerintah Kota Depok yang dijadikan objek kajian menunjukkan bahwa karakteristik bangunan sangat rentan terhadap serangan rayap. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh rendahnya mutu bangunan dan material yang digunakan. Sebagian besar bahan bangunan kayu yang digunakan adalah kayu-kayu yang rentan serangan rayap dan tidak mendapat perlakuan anti rayap, demikian pula pada aspek perawatan bangunan umumnya sangat rendah, banyak bangunan- bangunan yang dibiarkan bocor yang secara langsung menciptakan kondisi lingkungan bangunan yang sangat disukai rayap karena tingkat kelembaban yang tinggi. Di pihak lain, di Kota Depok sebaran rayap yang berbahaya pada bangunan, yaitu jenis-jenis rayap tanah Coptotermes sangat tinggi dan dijumpai di semua kelurahan. Oleh karena itu, bahaya serangan rayap di Kota Depok sangat tinggi.

B. Kasus Serangan Rayap dan Kerugian Ekonomisnya

Berdasarkan hasil survey menunjukkan bahwa lebih dari 90% bangunan milik pemerintah Kota Depok mengalami kerusakan akibat serangan rayap. Rayap tidak saja menyerang kayu konstruksi bangunan tetapi pada beberapa gedung pemerintahan juga menyerang isi bangunan(Gambar 1).

(11)

Keterangan: a - b Serangan rayap pada komponen struktural bangunan c Serangan rayap pada komponen non struktural d Serangan rayap pada isi bangunan

Gambar 1. Kerusakan akibat serangan rayap

Kerusakan akibat serangan rayap pada kayu sebagai bahan struktur bangunan, khususnya struktur atas bangunan (rangka atap) dapat menyebabkan bagian tersebut kehilangan kemampuan strukturalnya dalam menahan penutup atap sehingga pada tingkat serangan yang sangat berat dapat menyebabkan struktur atas roboh dan mengancam para penggunan bangunan gedung. Pada isi bangunan yang berbahan lignoselulosa seperti dokumen-dokumen yang sangat penting tentunya serangan rayap memiliki arti kerugian tersendiri yang nilai kehilangannya dapat jauh lebih besar dari kerusakan pada struktur bangunan.

Identifikasi terhadap spesimen rayap yang menyerang bangunan gedung dijumpai dua jenis rayap penting sebagai faktor perusak bangunan gedung, yaitu Coptotermes curvigntahus dan Macrotermes gilvus.

Rayap Coptotermes curvignathus dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah pada bangunan gedung. Rayap ini termasuk kelompok rayap tanah dari Famili Rhinotermitidae. Karakteristik morfologi rayap tanah Coptotermes dicirikan oleh Kepala berwarna kuning, antena, lambrum, dan pronotum kuning pucat. Bentuk kepala bulat ukuran panjang sedikit lebih besar daripada lebarnya, memiliki fontanel yang

(12)

lebar. Antena terdiri dari 14-16 segmen; segmen kedua dan segmen keempat sama panjangnya. Mandibel berbentuk seperti arit dan melengkung diujungnya; batas antara sebelah dalam dari mandibel kanan sama sekali rata. Panjang kepala dengan mandibel 2,46-2.66 mm, panjang kepala tanpa mandibel 1.56-1.68 mm. Lebar kepala 1.40-1.44 mm dengan lebar pronotum 1.00-1.03 mm dan panjangnya 0.56 mm.

Panjang badan 5.5-6 mm. Bagian abdomen ditutupi dengan rambut yang menyerupai duri. Abdomen berwarna putih kekuning-kuningan (Gambar 2).

Gambar 2. Kasta Prajurit Genus Coptotermes

Sementara itu rayap Macrotermes merupakan faktor perusak bangunan dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih rendah dibandingkan rayap Coptotermes, namun demikian kasus serangannya lebih banyak dijumpai pada bangunan gedung yang diamati. Rayap ini termasuk kedalam famili Termitidae. Genus Macrotermes memiliki kepala berwarna coklat tua. Mandibel berkembang dan berfungsi;

mandibel kanan dan kiri simetris dan tidak memiliki gigi marginal.

Mandibel melengkung pada ujungnya dan digunakan untuk menjepit.

Ujung dari labrum tidak jelas, pendek dan melingkar. Labrum ini mempunyai hyalin pada ujungnya. Antena terdiri dari 16-17 ruas.

(13)

Gambar 3. Kasta Prajurit Genus Macrotermes gilvus

Di samping dua jenis rayap tanah, pada beberapa bangunan dijumpai pula serangan rayap Cryptotermes inspiratus tetapi kasus dan tingkat serangannya jauh lebih rendah dibandingkan jenis rayap tanah. Rayap ini digolongkan kedalam rayap kayu kering karena bersarang dan menyerang kayu-kayu kering. Bentuk serangannya dicirikan dengan adanya bulatan-bulatan kecil berwarna coklat yang keluar dari bagian yang diserang.

Sementara itu kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada bangunan milik Pemerintah Kota Depok yang dihitung berdasarkan anggaran rehabilitasi bangunan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan (Lampiran 1). Nilai kerugian tersebut tidak termasuk bangunan yang tidak direhab dan bangunan-bangunan milik publik atau sektor swasta.

Apabila kerugian pada bangunan-bangunan itu dimasukan dalam perhitungan tentunya nilai kerugian ekonomisnya akan sangat besar.

Sebagai gambaran secara nasional pada bangunan perumahan kerugian akibat serangan rayap mencapai lebih dari 2 trilyun rupiah. Direktorat Tata Bangunan Dirjen Cipta Karya (1983) memperkirakan kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada gedung pemerintah mencapai 100 milyar

(14)

rupiah, sementara itu pada bangunan dengan fungsi hunian mencapai di DKI Jakarta diperkirakan mencapai 35 milyar rupiah.

Berdasarkan uraian kecendrungan peningkatan bahaya serangan rayap dan kerugian-kerugian ekonomis yang terjadi akibat serangan rayap yang merupakan beban pada anggaran belanja pemerintah maupun beban publik maka dalam penyelenggaraan bangunan gedung sangat penting memasukan pengendalian rayap untuk menekan dampak kerugian yang mungkin timbul.

Dua alasan tersebut di atas merupakan alasan logis untuk memperkuat pasal-pasal mengenai bahaya rayap pada RAPERDA Kota Depok tentang Bangunan.

Di pihak lain, penguatan pasal-pasal mengenai bahaya rayap juga diperkuat oleh adanya acuan legal formal dari peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi, yaitu UU No 28 Tahun 2002 mengenai Bangunan Gedung. Di samping itu dalam kaitannya dengan bangunan negara terdapat Surat Keputusan Direktur Cipta Karya No 295/KPTS/CK/1997 tentang pedoman teknis pembangunan gedung negara yang juga telah mengantisipasi akibat bahaya serangan rayap. Keputusan Direktur Cipta Karya terus diperbaharui setiap tahun dan berdasarkan keputusan tersebut dalam proses pembangunan gedung negara dapat ditambahkan biaya untuk pencegahan rayap sebesar 6%. Pada tataran teknis operasional telah diterbitkan Standar Nasional mengenai pengendalian bahaya serangan rayap sehingga bagi setiap daerah dapat merujuk SNI tersebut dalam merumuskan kebijakan teknisnya sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing.

Manfaat Penguatan Pasal-Pasal Mengenai Bahaya Rayap

Tidak dapat dipungkiri bahwa serangan rayap telah menimbulkan beban yang sangat besar bagi pemerintah dan masyarakat akibat kerugian ekonomis yang sangat besar. Pemerintah dan masyarakat terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengganti komponen kayu bangunan

(15)

yang rusak dan biaya untuk menanggulangi rayap sebagai agen perusaknya.

Di samping itu ada beban sosial yang dipikul karena hilangnya kesempatan dan kenyamanan untuk menikmati bangunan gedung yang bebas kerusakan akibat serangan rayap.

Berdasarkan kondisi tersebut, upaya pengendalian bahaya rayap yang dikuatkan dalam aturan legal formal (perundang-undangan mengenai bangunan gedung) juga akan memberikan manfaat tidak saja manfaat ekonomis, tetapi juga manfaat sosial dan di pihak lain ada manfaat tidak langsung bagi aspek lingkungan berupa kelestarian hutan sebagai sumber pemasok kayu bahan bangunan.

Manfaat ekonomis pengendalian bahaya rayap terletak pada menurunnya biaya perawatan bangunan dan umur pakai bangunan yang lebih tinggi. Para pemilik bangunan dapat menghindari pengeluaran biaya yang timbul akibat dari serangan rayap. Biaya yang dapat diselamatkan setara dengan nilai kerugian ekonomis yang terjadi yang timbul sebagai akibat tidak diaplikasikan pengendalian bahaya rayap.

Pengendalian bahaya rayap juga akan mengurangi resiko yang timbul yang terkait dengan aspek keselamatan penggunaan bangunan. Tanpa upaya pengendalian bahaya rayap telah sangat banyak bangunan atap yang roboh akibat serangan rayap. Kondisi ini akan mempengaruhi rasa aman dan kenyamanan penggunaan gedung. Dengan sendirinya maka upaya pengendalian bahaya rayap akan meningkatkan tingkat keamanan dan kenyamanan penggunaan bangunan gedung.

Di pihak lain, umur penggunaan kayu yang dapat ditingkatkan melalui pengendalian bahaya rayap akan menyebabkan penggantian kayu semakin berkurang, effisiensi penggunaan kayu meningkat, dan kekhawatiran penggunaan kayu tidak awet semakin berkurang karena terlindungi. Kondisi tersebut pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kegiatan penebangan pohon di hutan sebagain sumber pemasok kayu. Dengan demikian hutan

(16)

semakin terjaga dan aspek kelestariannya menjadi lebih mudah dipertahankan.

Tingginya bahaya serangan rayap juga telah membuka lapangan kerja baru yaitu dengan berdirinya perusahaan-perusahaan pengendali rayap termasuk industri-industri termitisida pendukungnya. Tidak kurang dari 150 perusahaan pengendali rayap terdapat di wilayah Jakarta dan sekitarnya (JABODETABEK) dengan jumlah orang yang menggantungkan hidupnya dari industri ini tidak kurang dari 6000 jiwa. Tentunya dalam kondisi dimana lapangan pekerjaan yang sangat terbatas pada saat ini, kehadiran perusahaan-perusahaan pengendalian rayap merupakan bagian yang penting dalam menyerap angkatan kerja yang tidak mampu terserap.

Kesimpulan dan Rekomendasi

1. Rancangan Peraturan Daerah Kota Depok tentang Bangunan telah secara lengkap mengakomodasikan faktor-faktor yang terkait dengan persyaratan keandalan bangunan gedung sebagaimana UU No 28 Tahun 2002. Namun demikian tidak cukup proporsional dalam menempatkan bahaya rayap dibandingkan dengan faktor lain yang mempengaruhi keandalan bangunan seperti bahaya kebakaran dan petir. Padahal, di pihak lain bahaya rayap pada bangunan di Kota Depok sangat tinggi.

2. Penguatan pasal-pasal mengenai bahaya rayap pada RAPERDA dapat ditinjau dari dua alasan penting/logis (Logic of Inquiry), yaitu besarnya kecendrungan potensi serangan rayap dan kerugian-kerugian ekonomis yang ditimbulkanya.

3. Atural legal formal seperti perda akan mendorong upaya pengendalian bahaya rayap dalam penyelenggaraan bangunan gedung sehingga akan diperoleh manfaat-manfaat ekonomis, ekologis, dan sosial. Oleh karena itu sudah selayaknya apabila pengendalian bahaya rayap menempati posisi penting dalam batang tubuh perda tentang bangunan di Kota Depok (rancangan usulan pasal-pasal mengenai bahaya rayap terlampir).

(17)
(18)

Lampiran 1. Data Kerugian Bangunan Negara di Kota Depok Akibat Serangan Rayap Melalui Kegiatan Rehabilitasi Bangunan Tahun 2002 sampai 2004

No Jenis Bangunan Gedung

Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004

Nilai Total (Rp)

Akibat Rayap (Rp)

Nilai Total (Rp)

Akibat Rayap (Rp)

Nilai Total (Rp) Akibat Rayap (Rp) I Sektor Pendidikan

a. SD 5.678.324.000 487.634.500 7.990.340.000 656.790.000 9.879.540.000 927.934.000

b. SLTP 348.034.395 32.720.600

c. SLTA

TOTAL 5.678.324.000 487.634.500 8.338.374.395 689.510.600 9.879.540.000 927.934.000 II Sektor Kesehatan

Puskesmas 452.166.000 42.183.000 610.555.000 57.932.400

TOTAL 452.166.000 42.183.000 610.555.000 57.932.400

III Kantor Pemerintah

a. Dinas/Badan 227.236.000 22.426.000

b. Kecamatan c. Kelurahan

TOTAL 227.236.000 22.426.000

JUMLAH TOTAL 5.678.324.000 487.634.500 8.790.540.395 731.693.600 10.717.331.000 1.008.292.400

Referensi

Dokumen terkait

Menemukan contoh kebijakan publik yang Menemukan contoh kebijakan publik yang dikeluarkan oleh pemda.. dikeluarkan oleh

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DI KOTA MEDAN DALAM. PERSPEKTIF

permasalahan publik, formulasi kebijakan dari permasalahan publik, proses pembuatan dan analisis serta proses penentuan prioritas kebijakan publik.... HASIL

diharapkan mahasiswa memahami sebagai berikut: Memahami kebijakan publik yang partisipatif, sebagai pengantar memahami permasalahan kebijakan publik.  Latar Belakang

Perlu diketahui bahwa analisis kebijakan bukanlah sebuah keputusan, tetapi lebih merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuatan kebijakan publik yang berisi

Pengantar Kebijakan Publik: Dari Administasi Negara, Kebijakan Publik, Administrasi Publik, Pelayanan Publik, Good Governance, Hingga Implementasi Kebijakan.. Metode Penelitian

implementasi kebijakan publik

Analisis kebijakan publik lebih merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuat kebijakan publik yang berisi tentang masalah yang dihadapi, tugas yang mesti dilakukan oleh organisasi