• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis komparatif konsumsi beras dan terigu di indonesia

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "analisis komparatif konsumsi beras dan terigu di indonesia"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

Saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Perbandingan Konsumsi Beras dan Gandum di Indonesia ini memang merupakan karya yang belum pernah diajukan dalam bentuk apapun ke perguruan tinggi manapun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui trend konsumsi beras dan gandum di Indonesia serta menganalisis perbandingan konsumsi beras dan gandum di Indonesia. Hasil analisis trend menunjukkan bahwa konsumsi beras di Indonesia cenderung menurun sedangkan konsumsi gandum cenderung meningkat.

Berdasarkan hasil ramalan konsumsi beras dan gandum, konsumsi beras mengalami tren penurunan dan terigu mengalami tren peningkatan, serta hasil analisis uji t (uji beda) dimana variansi konsumsi beras dan konsumsi tepung di Indonesia adalah berbeda secara signifikan pada tingkat kepercayaan 99% (katakanlah. /α 0,01). Ungkapan terima kasih kepada pencipta atas bimbingannya yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis yang berjudul "Analisis Perbandingan Konsumsi Beras dan Gandum di Indonesia." Hasil analisis dengan uji-t (Two Sample Assuming Unequal Variances) pada perbandingan konsumsi dan konsumsi beras.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perubahan ini menjadikan tepung terigu sebagai salah satu bahan pangan yang dibutuhkan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Selain itu, peningkatan permintaan tepung terigu juga didorong oleh peningkatan jumlah masyarakat yang tetap mengkonsumsi makanan berbahan dasar tepung terigu. 3 Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pertambahan penduduk juga berarti peningkatan konsumsi beras dan gandum yang cukup besar.

Data produksi beras dan gandum selama lima tahun terakhir dimana pada tahun 2013 total produksi beras sebesar 4.848.000 ton pada tahun 2014, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya terus meningkat. besarnya antara konsumsi beras dan produksi beras tidak mendekati dimana konsumsi beras menurun sedangkan produksi meningkat karena disini tidak semua beras dikonsumsi untuk pangan tetapi digunakan untuk bahan baku industri, konsumsi benih dan konsumsi lainnya. Jika konsumsi beras masyarakat stabil maka konsumsi beras relatif aman untuk swasembada pangan dan pola konsumsi, perkembangan atau trend konsumsi beras melihat pola konsumsi masyarakat. 4 Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang analisis perbandingan konsumsi beras dan tepung di Indonesia dalam upaya mengetahui kecenderungan masyarakat terhadap konsumsi beras dan tepung.

Tabel 1. Produksi beras dan terigu Indonesia  No  Tahun
Tabel 1. Produksi beras dan terigu Indonesia No Tahun

Rumusan Masalah

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat status konsumsi beras dan gandum masyarakat Indonesia di atas pada Gambar 2. Variabel data dalam penelitian ini adalah konsumsi beras sebagai variabel dependen (respon) dan periode waktu sebagai variabel independen (prediktor). Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pola konsumsi antara konsumsi beras dan konsumsi gandum digunakan analisis uji t (uji beda).

Hasil analisis uji-t (Two-Sample Assuming Unequal Variance) pada perbandingan konsumsi beras dan konsumsi gandum di Indonesia. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa pola variansi konsumsi beras dan konsumsi gandum di Indonesia berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 99% (sig./α 0,01). Dimana rata-rata konsumsi beras di Indonesia selama 25 tahun terakhir adalah 2.686.755 kg/kpt/tahun.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

  • Komoditas Beras
    • Kandungan Beras
    • Macam dan Warna Beras
  • Komoditas Terigu
  • Teori Konsumsi
  • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi
  • Kerangka Pikir

Di Indonesia, di antara berbagai jenis makanan pokok bertepung, beras merupakan sumber kalori penting bagi sebagian besar penduduk, memasok 60–80% kalori dan 45–55% protein dari produk beras. Beras merupakan komoditas yang strategis secara politik, sehingga peran pemerintah dalam pengembangan produksi dan konsumsi beras sangat intensif. Menurut Kementerian Pertanian RI (2016), tingkat konsumsi beras di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 84.628 kilogram per orang per tahun.

Tingginya konsumsi beras di Indonesia tidak sebanding dengan produktivitas beras di Indonesia pada tahun yang sama. Tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia, selain pola konsumsi masyarakat yang sulit berubah dari beras ke makanan lain, juga disebabkan oleh faktor sosial, antara lain persepsi masyarakat terhadap konsumsi. Dari kedua variabel tersebut dapat dijelaskan mengenai fungsi konsumsi yang menggambarkan tingkat konsumsi pada berbagai pendapatan.

Dari asumsi tersebut dijelaskan bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang maka tingkat konsumsi dan tabungannya juga akan semakin tinggi. Berdasarkan teori yang dipaparkan Keynes, dapat disimpulkan bahwa tingkat konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Definisi kekayaan rumah tangga mencakup kekayaan riil (misalnya rumah, tanah dan mobil) dan kekayaan finansial (deposito berjangka, saham dan surat berharga).

Misalnya, bunga deposito yang diterima setiap bulan dan dividen yang diterima setiap tahun meningkatkan pendapatan rumah tangga. Konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang menjadikan beras sebagai satu-satunya makanan pokok, meningkatkan ketergantungan mereka terhadap konsumsi beras. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada rumah tangga perkotaan tetapi juga pada rumah tangga pedesaan.

Sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, perkembangan konsumsi gandum di Indonesia dapat menggeser konsumsi pangan pokok penduduk Indonesia dari beras.

METODE PENELITIAN

  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data
  • Definisi Operasional
  • Letak Geografis
  • Kondisi Demografis
  • Kondisi Pertanian

Trend adalah pergerakan (tendensi) naik atau turun dalam jangka panjang, yang diperoleh dari rata-rata perubahannya dari waktu ke waktu. Letak geografis Indonesia sangat strategis karena merupakan jalur perdagangan dunia antara negara-negara dari Asia Timur dengan negara-negara Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan India. Kapal dagang yang membawa berbagai barang dari China, Jepang dan negara lainnya melewati Indonesia menuju negara tujuan di Eropa.

Sedangkan negara lain menjual berbagai produk seperti kain dan kain halus, porselin dan lain-lain ke Indonesia. Sebagian besar penduduk Indonesia adalah suku Melayu yang menempati hampir seluruh wilayah Indonesia yaitu di bagian barat dan tengah. Ada pula kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia yang sebagian besar terletak di Indonesia bagian timur.

Salah satu ciri penduduk Indonesia adalah persebaran penduduknya yang tidak merata antar pulau dan provinsi. Indonesia merupakan negara agraris, dimana sebagian besar luas tanahnya digunakan untuk sektor pertanian, yaitu sekitar 74,52% dari total luas tanah di Indonesia. Lama pendidikan tertinggi yang pernah dicapai rata-rata 12 tahun atau setara dengan jenjang SMA.

Lahan pertanian di Indonesia semakin menyusut, hal ini berbanding terbalik dengan negara-negara di Eropa, Amerika Serikat, Brazil yang lahan pertaniannya semakin bertambah setiap tahunnya. Ketegangan sosial muncul dari ketimpangan kepemilikan lahan pertanian di Indonesia dan pemerintah juga menyediakan lahan pertanian yang luas bagi para pengusaha. Keadaan pertanian di Indonesia juga tidak luput dari permasalahan globalisasi pasar dan liberalisasi perdagangan.Dampak globalisasi terhadap sektor pertanian ditandai dengan datangnya produksi pertanian impor yang relatif murah karena diproduksi secara efisien dan efisien. memberikan subsidi yang besar kepada petani di negara asalnya, produk ini membanjiri pasar domestik di Indonesia.

Sementara negara berkembang seperti Indonesia relatif kurang berhasil dalam melindungi petani (produsen) dan masyarakat (konsumen).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Trend Konsumsi Beras di Indonesia

Berdasarkan data konsumsi di Indonesia diketahui bahwa data tersebut memiliki unsur trend (cenderung menurun) setiap tahunnya, dengan mengetahui pola datanya maka akan lebih mudah untuk memilih metode time series yang konsisten dengan data konsumsi beras. Perkembangan konsumsi beras Indonesia kg/cpt/tahun dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2017 mengalami tren penurunan yang signifikan. Nilai cut-off yang diperoleh dari hasil analisis adalah 2.686.755 kg/kapita/tahun, yang berarti rata-rata konsumsi beras di Indonesia selama 25 tahun terakhir adalah 2.686.755 kg/kapita/tahun.

Persamaan pada Gambar 3 menunjukkan besarnya nilai koefisien tren linier -1,292 yang berarti konsumsi beras mengalami penurunan dari tahun ke tahun (jangka pendek), dan dari hasil analisis di atas diperkirakan total Konsumsi beras Indonesia tahun 2018-2020 akan mengalami penurunan tren karena masyarakat beralih ke konsumsi gandum (gandum). Hasil pengolahan data regresi linier berganda menunjukkan koefisien determinasi atau R squared (R²) sebesar 0,957 yang berarti 95,7% yang berarti makan nasi bisa. Garis trend linier (garis lurus) menunjukkan bahwa konsumsi beras mengalami perkembangan linier yang terus menerus dan mengalami penurunan yang signifikan, yang berarti perkembangannya mengalami penurunan yang signifikan.

Peningkatan konsumsi terigu terbesar terjadi pada tahun 2007 dan 2017, dan konsumsi tepung terigu juga mengalami penurunan pada tahun yang berbeda, seperti dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan hasil analisis trend konsumsi terigu pada Gambar 4 dengan menggunakan uji trend linier, terlihat diperoleh persamaan garis trend dan data estimasi peningkatan konsumsi terigu dimana y=3220+964.4t dan R² atau biasa disebut koefisien korelasi dimana R² selalu positif disini didapatkan R² = 0.712 yang berarti 71.2% yang berarti variabel waktu dapat dipengaruhi, konsumsi tepung meningkat dari tahun ke tahun (jangka pendek). Sementara itu, hasil uji tren polinomial orde 2 (nonlinier) memberikan persamaan y = 66.07x2 - 753.5x + 10952 dan R² = 0.851, dimana konsumsi gandum juga meningkat dalam jangka panjang.

Dari pendapat Spelastyo (2010), untuk mengetahui apakah penyimpangan konsumsi beras lebih besar dari konsumsi gandum maka dilakukan pengujian lain pada konsumsi beras dan konsumsi gandum yang dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan aturan keputusan yaitu jika nilai t-score ˃ t- kritis, maka tolak Ho atau terima lt; 2,0639), artinya yang diasumsikan ada perbedaan yang signifikan antara variasi konsumsi beras dan konsumsi tepung. 35 Pergeseran bertahap pola konsumsi masyarakat dari beras ke tepung terigu, karena masyarakat semakin menyukai hal-hal yang instan, pergeseran pola konsumsi ini juga dipengaruhi oleh faktor tingkat pendapatan, harga beras dimana seiring dengan naiknya harga beras, banyak masyarakat dengan pendapatan yang lebih rendah akan lebih memilih untuk mengkonsumsi bahan makanan yang berbahan dasar gandum dibandingkan dengan beras karena harganya yang lebih murah, dan perubahan pola konsumsi beras sebaiknya digantikan oleh bahan makanan lokal karena dapat diproduksi di dalam negeri dengan tetap mengimpor bahan baku tepung terigu. dari luar negeri dapat menyebabkan devisa negara berkurang.

Analisis perbandingan (perbandingan) konsumsi beras dan gandum di Indonesia dari hasil analisis uji-t yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99% antara konsumsi beras dan konsumsi gandum.

Gambar 3. Trend konsumsi beras Indonesia (1996-2020)  Sumber : Data sekunder yang diolah, 2018
Gambar 3. Trend konsumsi beras Indonesia (1996-2020) Sumber : Data sekunder yang diolah, 2018

Trend Konsumsi Terigu di Indonesia

Perbandingan Konsumsi Beras dan Terigu di indonesia

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Saran
  • Peta Lokasi Penelitian
  • Konsumsi Beras dan Terigu di Indonesia
  • Jumlah Konsumsi Beras (1.000/10.000 kg/kpt/thn) dan Konsumsi
  • Rata-rata Jumlah Konsumsi Per Lima Tahun
  • Hasil Analisis Regression Beras
  • Hasil Analisis Regression Terigu
  • T-Test: Two-Sample Assuming Unequal Variances
  • Dokumentasi Penelitian di Badan Pusat Statistik

Saran yang dapat diberikan adalah agar pemerintah lebih memperhatikan masalah ketahanan pangan di Indonesia, disarankan agar pemerintah menjaga dan mengontrol jumlah atau volume impor agar tidak terlalu berlebihan, serta mengembangkan lainnya. produk pati yang diperoleh dari hasil pertanian dalam negeri seperti jagung, singkong atau sorgum. TPH Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan] Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan. Data konsumsi dari tahun 1996 hingga 2017

Strategi Pembelajaran Inkuiri Diperoleh dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/dik/maryatissimsi/7strategilearning-inkuiripdf.pdf diakses tanggal 27 Februari 2018 pukul 10.35 WITA. 2002. Strategi ketahanan pangan, ketersediaan dan pola konsumsi pangan keluarga buruh tani dan pabrik di Desa Kebon Dalem Kota Cilegon [disertasi].

Gambar 1. Ruang tunggu kantor Badan Pusat Statistik
Gambar 1. Ruang tunggu kantor Badan Pusat Statistik

Gambar

Tabel 1. Produksi beras dan terigu Indonesia  No  Tahun
Tabel 2. Konsumsi Beras dan Terigu Indonesia (1996-2020)
Gambar 2. Rata-rata konsumsi beras dan terigu indonesia per 5 tahun (1996-2020)  Sumber : Data sekunder yang diolah,2018
Gambar 3. Trend konsumsi beras Indonesia (1996-2020)  Sumber : Data sekunder yang diolah, 2018
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Proyeksi produksi dan konsumsi beras di Indonesia tahun 2009-2013 menunjukan bahwa Indonesia defisit beras hingga tahun 2010 sehingga untuk menutupi kebutuhan akan

Analisis Prakiraan Produksi dan Konsumsi Beras Indonesia ……… (Apri Andani) 15 Berbasis pada kebijakan pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan, maka pemecahan

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa Kebutuhan beras di masyarakat Kelas Bawah lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan beras masyarakat Kelas Menengah dan Kelas

Hal ini menunjukan bahwa ketersediaan beras yang menjadi faktor dalam mendukung ketahanan beras, semata-mata tidak hanya melibatkan produksi beras lokal saja,

Hasil kesimpulannya, yaitu Variabel luas lahan tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks produksi beras disebabkan karena masih adanya impor beras yang terjadi untuk

dilakukan maka disarankan kepada pemerintah : (1) Kedepannya pemerintah diharapkan mampu dalam menstabilkan harga beras di Indonesia, mungkin bisa dengan menetapkan harga beras

hasil R² dari persamaan simultan penawaran beras di Provinsi Sumatera Utara sebesar 0,9524 (95,24 persen), berarti kemampuan variasi variabel harga eceran beras,

Pertumbuhan Populasi Tribollium castaneum (Coleoptera : Tenebrionidae) pada Tepung Terigu dan Tepung Beras di Berbagai Suhu Ruang Simpan.. Dibimbing