TUGAS KMB II
ASKEP PASIEN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DENGAN APPENDICITIS DAN CA COLON
Disusun Oleh : Nama : Bella Elvina S1 Keperawatan (Alih Jenjang)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANTEN
Jln. Rawa Buntu No. 10 BSD-Serpong, Tangerang Selatan
A. Anatomi Sistem Pencernaan
Anatomi sistem pencernaan meliputi struktur organ-organ penyusun dalam sistem pencernaan yang terdiri atas mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Berikut penjelasan tentang masing-masing organ.
Saluran pencernaan pada manusia tergolong "satu jalur" karena makanan bergerak dalam satu arah mulai daru mulut sampai anus.
1. Mulut
Mulut sebagai organ pertama yang berperan menerima makanan dari luar tubuh.
Mulut tersusun atas lapisan luar oleh kulit sedangkan lapisan dalam ditutupi oleh selaput lendir atau mukosa. Mulut juga terdiri atas lapisan pertama yang berupa vestibula yang terdapat gusi, gigi, pipi dan bibir sedangkan lapisan kedua yaitu rongga mulut yang dibatasi oleh tulang maksilaris, mandibularis, palatum dan mandibularis disebelah dalam terhubung dengan faring.
Rongga dalam mulut dilapisi oleh selaput lendir. Rongga dalam mulut terdapat gigi, kelenjar ludah dan lidah. Berikut organ-organ dalam mulut :
a. Gigi
Setiap manusia terdapat dua bujur dental yang terletak di rahang bawah dan rahang atas. Gigi tertanam pada tepain bertulang yang memanjang baik rahang atas dn rahang bawah. Gigi juga disokong oleh jaringan ikat dalam akar proximal gigi (Fried and Hademenos, 1999). Gigi terdiri atas dua macam yaitu:
1) Gigi susu pada usia 6 hingga 7 bulan kemudian setelah berusia 2,5 tahun berjumlah 20 buah yang terdiri atas:
Gigi seri (Incisivus) berjumlah 8
Gigi taring (Caninus) berjumlah 4
Gigi geraham (Molare) berjumlah 8.
2) Gigi orang dewasa disebut gigi permanen tumbuh mulai usia 6 hingga 18 tahun berjumlah 32 buah. Terdiri atas :
8 buah gigi seri (Incisivus)
4 buah gigi taring (Caninus)
8 buah gigi geraham depan (Premolar)
12 buah gigi geraham belakang (Molar).
Setiap jenis gigi memiliki fungsi diantaranya sebagai media pemotong makanan pada gigi seri, merobek makanan yang keras oleh gigi taring, mengunyah makanan pada gigi geraham. Sedangkan struktur gigi tersusun atas bagian mahkota gigi, email dan akar gigi disertai saraf.
2. Lidah
Lidah tersusun atas otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir. Lidah dapat digerakan kesegala arah oleh otot lidah. Terdapat tiga bagian lidah yang tersusun atas:
a. Pangkal lidah (radiks lingua) terdapat epiglotis yang berfungsi menutup katup nafas pada saat menelan
b. Punggung lidah (dorsum lingua) terdapat papilla-papilla pengecap dan frenumul pengecap (selaput lendir) yang berada ditengah lidah
c. Ujung lidah (apeks lingua).
Lidah berperan untuk membantu mencampurkan makanan dalam mulut, mendorong makanan masuk menuju kerongkongan, untuk berbicara, sebagai indra pengecap rasa, dan membantu membersihkan gigi dan rongga mulut. Fisiologi dan mekanisme sistem pencernaan didalam rongga mulut dimulai dari proses memotong makanan yang masuk ke dalam mulut oleh gigi depan (incisivus) lalu dikunyah oleh gigi geraham depan dan belakang (premolar dan molar) sehingga mengubah makanan menjadi bagian yang lebih kecil dan mudah dicerna. Kemudian peran ludah/saliva
yang telah dikeluarkan oleh kelenjar ludah selanjutnya akan membungkus bagian makanan yang telah halus dengan enzim-enzim pencernaan mulut. Antibodi dan enzim seperti lisozim yang terkandund didalam ludah membantu memecah protein dan langsung membasmi bakteri. Lalu, secara otomatis makanan akan terdorong masuk kedalam kerongkongan.
3. Kelenjar saliva
Terdapat tiga jenis kelenjar ludah yang meliputi : a. Parotid yang terletak tepat dibawah telinga b. Submaksilaris yang terletak bawah rahang atas
c. Sublingual terletak dibawah lidah (Fried an Hademenos, 1999).
Kelenjar ludah (Saliva) banyak mengandung enzim dan ion. Ludah /saliva berperan, mendorong makananan menjadi mudah masuk kedalam lambung karena mengandung enzim ptialin, zat asam lambung akan membantu menghambat degradasi pati, memiliki efek antibakteri dan mematikan bakteri yang masuk dalam mulut.
4. Faring
Faring merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk.
Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.
Tekak terdiri dari :
a. Bagian superior = bagian yang sangat tinggi dengan hidung b. Bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut c. Bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring
Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga, Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring
5. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: oeso "membawa", dan phagus - "memakan")
Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi.
Esofagus dibagi menjadi tiga bagian :
a. Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka) b. Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus) c. Serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus) 6. Lambung
Lambung berawal dari esophagus dan berakhir pada duodenum usus halus.
Terdiri dari 3 bagian yaitu :
a. Kardia di sekitar sfingter esophageal bawah b. Fundus pada bagian puncak
c. Antrum di bagian bawah Bagian lambung terdiri dari :
a. Fundus ventrikuli, yang merupakan bagian yang menonjol keatas dan terletak sebelah kiri osteum kardium serta dijumpai gas
b. Korpus vetrikuli, berbentuk lekukan pada bagian bagian bawah kurbatura minor c. Antrum pylorus merupakan bagian dari lambung berbentuk pipa yang mempunyai
otot yang tebal membentuk sfingter pylorus
d. Kurvatura minor, terletak disebelah kanan lambung terbentang dari osteum kardiak sampai pylorus
e. Kurvatura mayor terbentang dari sisi kiri Osteum kardiak melalui fundus ventrikuli menuju sampai pilorus inferior. Ligamentum gastrolinealis terbentang dari bagian atas kurvatura sampai ke limpa
f. Osteum kardiak merupakan tempat esofagus bagian abdomen masuk menuju lambung dan dapat dijumpai orifisium pilorik.
Mekanisme kerja pencernaan secara mekanik dalam lambung yaitu diawali masuknya makanan dari kerongkongan menuju ke lambung melalui otot berbentuk cincing (sfinter) yang dapat membuka dan menutup. Fungsi lain dari sfinter adalah menghalangi kembalinya zat yang masuk ke dalam lambung untuk kembali ke
kerongkongan. Melalui aktifitas lambung dengan berkontraksi secara ritmik bertujuan untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Hasil yang diperoleh selama pencernaan makanan yang berlangsung didalam lambung meliputi :
a. Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung
b. Asam klorida (HCl), berperan meningkatkan kadar keasaman yang diperlukan pepsin untuk merombak protein. Asam lambung juga berperan menghambat infeksi dan membunuh bakteri di dalam lambung.
c. Prekursor pepsin (enzim yang memecah protein).
Mekanisme pencernaan secara kimiawi di dalam lambung dibantu oleh sejumlah enzim diantaranya yaitu :
a. Enzim Amylase dengan melanjutkan pencernaan amilum dari bagian fundus b. Enzim Lipase, enzime yang membantu proses pemecahan lipid usus terutama pada
usia bayi hingga anak-anak
c. Enzim Renin, enzim yang membantu proses pencernaan susu pada usia bayi.
Koagulasi atau penggumpalan susu dapat terjadi karena adanya enzim renin dan kalsium sehingga proses pencernaan zat tersebut lebih lama. dicerna didalam lambung.
7. Usus Halus
Usus halus disebut juga usus kecil merupakan bagian yang terletak diantara lambung dan usus besar. Bentuk usus halus menyerupai tabung yang polos. Panjang usus halus 2-8 meter. Struktur usus halus lapisan-lapisan yaitu :
a. Lapisan mukosa (bagian dalam) b. Lapisan otot melingkar (M sirkuler) c. Lapisan otot memanjang (M longotudinal) d. Lapisan serosa (sebelah luar).
Sedangkan bagian usus halus terdiri atas tiga bagian diantaranya : a. Usus dua belas jari (Deudenum)
Berasal dari bahasa latin duodenum digitorum yang berarti duabelas jari, merupakan bagian dari usus halus dan menghubungkan antara lambung dan usus kosong (jejenum). Bagian usus duabelas jari memiliki ukuran lebih pendek dari bagian usus lainnya yang terdapat dalam usus halus. Memiliki panjang ±25 cm, berbentuk seperti sepatu kuda dan melengkung ke kiri dan berada tepat disamping pankreas.
Sebelah kanan deudenum terdapat selaput lendir yaitu papilla vateri yang bermuara pada saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus pankreatikus). pH usus duabelas jari kurng lebih sekitar derajat sembilan. Terdapat dua muara saluran pada usus duabelas jari yaitu pankreas dan kantung empedu mekanisme kerja pencernaan dalam usus duabelas jari (duodenum), yaitu makanan yang masuk dari lambung menuju usus halus akan diterima oleh usus duabelas jari melalui sfingter pylorus sesuai daya tampung. Namun jika kapasitas berlebih maka duodenum akan mengirimkan sinyal pada organ lambung agar menghentikan aliran makanan menuju ke usus halus.
b. Usus kosong (jejenum)
Istilah jejenum berasal dari bahasa Latin, jejunus yang berarti "kosong"
sedangkan berdasarkan bahasa inggris "jejune" yang artinya "lapar".
Usus kosong atau jejenum merupakan saluran penghubung antara usus duabelas jari menuju usus penyerapan (ileum) tempat sebelum zat diserap oleh tubuh.
Panjang usus kosong ±1-2 meter. Usus kosong dan usus penyerapan terletak tergantung pada bagian vana dicchut macontomium
c. Usus penyerapan (ileum)
Usus penyerapan atau ileum merupakan bagian penutup dari usus halus.
Memiliki ukuran panjang 2-4 meter dan berada setelah duodenum dan jejenum dan dilanjutkan oleh usus buntu. pH ileum antara 7-8 sehingga bersifat netral. Fungsi dari usus penyerapan adalah menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
8. Usus Besar
Usus besar (kolon) merupakan bagian yang terletak antara usus buntu dan rektum.
Fungsi utama organ tersebut untuk menyerap air dan feses. Usus besar tersusun dari beberapa bagian diantaranya :
a. Usus buntu (sekum) berasal dari bahasa latin : caecus, "buta" berdasarkan istilah anatomi artinya kantung yang terhubung dengan usus penyerapan (ileum) serta bagian kolon dari usus besar (kolon).
b. Umbai cacing (Appendix), dalam bahasa inggris appendix artinya ujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum. Rata-rata memiliki ukuran panjang bervariasi sekitar 10 cm ada pula 2-20 cm. Appendix selalu berada ditempat yang sama sedangkan ujung umbai cacing dapat berbeda letaknya seperti di retrocaecal, pinggang (pelvis) namun tetap berada di peritoneum.
Usus besar tidak mengeluarkan enzim pencernaan apapun karena pencernaan telah selesai sebelum kimus menjadi kolon. Sekresi kolon terdiri atas larutan mukus basa (NaHCO3) yang memiliki fungsi melindungi mukosa usus besar dari cedera mekanis dan kimiawi. Mukus menghasilkam pelumas untuk mempermudah feses bergerak, sedangkan NaHCO3 menetralkan asam-asam iritan yang diproduksi oleh fermentasi bakteri lokal. Gerak kolon yang melamban dapat membantu bakteri untuk tumbuh dan menumpuk di usus besar. Jumlah bakteri didalam kolon 10 kali lebih banyak dari jumlah sel yang ada di tubuh manusia dengan berat massa bakteri sebesar 1000 g. Bakteri penghuni memiliki peran :
a. Meningkatkan imunitas usus b. Mendorong motilitas kolon
c. Membantu integritas mukosa kolon
d. Memberi konstribusi nutrisi. Selain itu, kolon dalam keadaan normal menyerap garam dan H2O.
9. Rektum
Rektum, berdasarkan bahasa latin "regere" artinya meluruskan atau mengatur yaitu ruangan yang berada diantara usus besar dan anus. Fungsi dari rektum adalah sebagai tempat menyimpan sementara sisa pencernaan yang berupa feses. Biasana rektum kosong tidak menyimpan tinja/feses karena disimpan dalam kolon desendens.
Apabila kondisi feses penuh dalam kolon desendens maka akan masuk ke dalam rektum dan membuat keinginan untuk buang air besar. Mengembangnya saluran rektum menyebabkan penumpukan feses didalam rektum sehingga dapat memicu sistem saraf untuk mendorong keinginan agar melakukan defekasi. Apabila proses defekasi tertunda dalam periode yang lama maka menyebabkan feses kembali ke dalam usus besar dan penyerapan air akan kembali terjadi. Hal tersebut dapat menyebabkan konstipasi karena feses mengeras.
B. Fisiologi Sistem Pencernaan
Organ-organ dalam sistem pencernaan bersambungan satu sama lain tetapi dianggap sebagai entitas terpisah karena modifikasi regional yang memungkinkan organ-organ tersebut melakukan aktivitas fungsi pencernaan secara spesifik. Fungsi utama sistem pencernaan yaitu memindahkan nutrien, air, elektrolit dari makanan yang telah dikonsumsi dan masuk kedalam tubuh (Sherwood, L. 2007). Masuknya zat makanan kedalam tubuh berperan sebagai sumber energi dan bahan bakar esensial. Bahan bakar esensial tersebut
dapat digunakan oleh sel untuk menghasilkan ATP sebagai sumber energi untuk melakukan aktivitas seperti transport aktif, kontraksi, sitesis dan sekresi, serta menambah jaringan dalam tubuh.
Sistem pencernaan melakukan empat proses pencernaan yang terdiri dari motilitas, sekresi, pencernaan/digesti, dan penyerapan. Berikut penjelasan terkait proses pencernaan tersebut :
a. Motilitas, kontraksi otot yang menyebabkan zat makanan tercampur dan terdorong maju seluruh isi saluran cerna. Contohnya otot polos pada pembuluh darah. Otot polos pada pembuluh darah, otot polos pada dinding saluran cerna mempertahankan kontraksi tingkat rendah yang menetap.
b. Sekresi, terjadi pengeluaran sejumlah getah pencernaan ke dalam lumen saluran cerna oleh kelenjar saluran eksokrin. Sekresi pencernaan meliputi air, elektrolit, dan kosntituen organik spesifik seperti enzim, garam empedu, atau mukus.
c. Pencernaan (digestion), merupakan proses penguraian biokimiawi dari struktur kompleks makanan menjadi satuan yang lebih kecil sehingga dapat diserap oleh enzim-enzim yang diproduksi di dalam sistem pencernaan.
d. Penyerapan, melalui proses pencernaan makanan yang sebagian besar terjadi didalam usus halus maka sejumlah unit- unit kecil makanan akan diserap dari hasil proses pencernaan barcama ain vitamin dan alatrolita disalurkan dari luman saluran cerna menuju ke dalam darah atau limfe.
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : APPENDICITIS
A. Pengertian
Apendisitis ialah sebagai sebab umum terjadinya inflamasi akut bagian bawah kanan rongga pada abdomen tetapi berbeda dengan abdomen darurat. Bahkan Apendiks bisa terlibat dalam system imun sektorik pada saluran pencernaan. Akan tetapi, untuk pengangkatan apendiks tidak memunculkan efek fungsi system imun yang jelas (Syamsu Hidayat, 2005).
Appendicitis ialah penyakit peradangan dari apendik periformis yang juga menjadi penyebab terjadinya penyakit abdomen akut (Dermawan & Rahayuningsih, 2010).
Menurut (Mansjoer, 2000), Apendisitis bisa di katakan peradangan berbahaya yang terdapat pada bagian apendiks vermiformis serta juga menjadi sebab terjadinya abdomen akut yang banyak di jumpai pada seseorang, penyakit yang satu ini bisa terjadi untuk semua usia baik pada laki ataupun pada perempuan. Apabila tidak segera di tangani appendisitis bisa menjadi penyebab pecahnya lumen usus, maka dari itu penyakit appendisitis merupakan penyakit berbahaya dan harus segera di tangani (Willams &
wilkins, 2011).
Apendisitis sendiri tanda gejala nya berupa rasa nyeri pada bagian abdomen periumbilical, dapat pula mengalami mual, muntah, lokalisasi nyeri ke fosa iliaka kanan, nyeri tekan pada saat dilepas di sepanjang titik McBurney, dan juga nyeri tekan pelvis pada sisi kanan saat pemeriksaan per rectal (Thomas & Dkk, 2016).
Nah jika dilihat pada uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa apendisitis merupakan situasi terjadinya infeksi pada umbai apendiks dan penyakit bedah abdomen yang kerap terjadi. Apendisitis ialah penyakit peradangan usus buntu atau pada bahasa latinnya appendiks vermivormis, yakni organ yang berbentuk memanjang yang panjangnya bisa 6 sampai 9 cm dengan pangkal terletak di bagian pangkal usus besar bernama sekum yang letaknya di bagian perut kanan bawah (Handaya, 2017).
B. Etiologi
Berbicara mengenai penyebab apendisitis memang masih belum dapat di pastikan.
Akan tetapi, apendisitis biasanya terjadi karena disebabkan oleh bakteri. Kemudian banyak juga hal yang menjadi pencetus terjadinya appendisitis yakni karena tersumbatnya lumen
apendiks, hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks dan cacing askaris yang menjadi penyebab sumbatan. Untuk hal lain yang bisa diduga menjadi penyebab timbulnya apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E histolytica.
Pada Penelitian epidemiologi memberikan petunjuk bahwa peran pola kebiasaan dalam pengkonsumsian makanan yang tidak banyak mengandung serat dan pengaruh dari konstipasi dianggap juga sebagai faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Konstipasi itu sendiri dapat meningkatkan tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan terjadinya peningkatan pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semua hal ini akan mempengaruhi terjadinya apendisitis akut (Sjamsuhidayat, 2010).
sering terjadi. Menurut Sjamsuhidayat (2004), apendisitis terdiri dari lima bagian antara lain:
1. Apendisitis Akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan mengenai peritoneum pariental menimbulkan rasa sakit di abdomen kanan bawah setempat sehingga menimbulkan menimbulkan rasa sakit abdomen kanan bawah.
2. Apendisitis Infiltrat (Masa periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa Periapendikuler terjadi bila apendisitis ganggrenosa di tutupi pendinginan oleh omentum.
3. Apendisitis Perforate
Ada fekalit didalam lumen, Umur (orang tua atau anak muda) dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks.
4. Apendisitis Rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan, namun apendiks tidak pemah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut. Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%.
5. Apendisitis Kronis
Fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
C. Tanda dan Gejala
Tanda gejala yang khas terjadi pada apendisitis ialah nyeri, menurut (Wedjo, 2019), bahwasannya nyeri apendisitis dapat dirasakan pada bagian abdomen kuadran bawah dan pada umumnya bisa diikuti dengan demam ringan, mual, muntah juga ditandai dengan kehilangan nafsu makan. Beratnya infeksi dan lokasi appendiks ini akan menjaid penentu
derajat nyeri tekan, spasme otot dan terdapat atau tidaknya konstipasi atau diare. Bila terjadi lingkaran appendiks pada bagian belakang sekum, nyeri serta nyeri tekan bisa lebih terasa pada bagian daerah lumbal : jika ujungnya pada pelvis, maka tanda ini bisa diketahui pada saat pemeriksaan rektal
D. Patofisiologi
Pada umumnya Apendisitis ini bisa diakibatkan karena. adanya sumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, adanya benda asing, striktur karena fibrosis penyebab terjadinya peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi dapat menjadi penyebab mukus yang diproduksi mukosa dan nantinya bisa mengalami bendungan. Semakin lamanya mukus itu maka dapat mempengaruhi dan menjadi penyebab peningkatan tekanan intralumen. Karena terjadinya peningkatan tersebut maka bisa menjadi hambatan aliran limfe yang dapat menimbulkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Saat itulah bisa terjadinya apendisitis akut lokal ditandai oleh nyeri pada epigastrium. Apabila sekresi mukus tetap berlanjut, tekanannya terus mengalami peningkatan. Hal itu nanti bisa menjadi penyebab obstruksi vena, edema semakin bertambah, dan bakteri pun akan bisa menembus dinding Peradangan yang ditimbulkan dapat meluas sehingga bisa terkena peritoneum setempat dan bisa timbul rasa nyeri pada daerah kanan bawah. Keadaan ini sering disebut dengan istilah apendisitis supuratif akut.
Jika aliran arteri mengalami sebuah gangguan maka bisa terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Pada Stadium yang satu ini sering dikenal ataupun di sebut dengan apendisitis gangrenosa. Apabila dinding rapuh itu memecah, dapat menyebabkan terjadinya apendisitis perforasi. Bilamana kesemua proses diatas berjalan secara lambat, omentum dan usus yang dekat akan mengalami pergerakkan ke arah apendiks, hal ini nanti dapat menimbulkan massa lokal yang sering dikenal atau disebut dengan infiltrate apendicularis. Radang yang terjadi pada apendiks itu bisa menyebabkan abses. Untuk anak-anak sendiri, dikarenakan omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka dinding apendiksnya lebih tipis. Selain itu juga daya tahan tubuhnya yang masih lemah sehingganya memperudah terjadinya perforasi. Pada lansia, perforasi mudah terjadi karena adanya sebuah gangguan pada pembuluh darahnya (Mansjoer, 2000).
E. Pathway
F. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Saputro, 2018), pemeriksaan penunjang apendikslis meliputi sebagai berikut:
1. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi: nampak muncul bengkak (swelling) rongga perut dimana akan terlihat dinding perut mengalami pengencangan (distensi).
b. Palpasi: didaerah perut kanan bawah apabila ditekan maka akan terasa nyeri dan bila tekanan itu dilepas makan akan terasa nyeri (Blumberg sign) dimana hal itu merupakan kunci dari diagnosis apendiksitis akut.
c. Dengan tindakan pada tungkai bawah kanan dan paha ditekuk kuat/tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka akan terasa nyeri di perut akan semakin parah (proas sign)
d. Kecurigaan akan munculnya radang usus buntu akan makin meningkat apabila pada pemeriksaan dubur dan atau vagina bisa terjadi rasa nyeri
e. Suhu dubur terasa lebih tinggi dari suhu ketiak, maka akan lebih menunjang adanya peradangan pada usus buntu.
2. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang biasa dicoba pada penderita yang diprediksi appendicitis akut berupa pengeceldan darah lengkap serta test protein reaktive (CRP).
Pada penegereldran darah lengkap sebagian besar penderita umumnya ditemui jumlah Jeukosit di atas 10.000 dan neutrofil diatas 75 %. Sebaliknya pada pengecekan CRP ditemui jumlah serum yang mulai bertambah pada 6-12 jam sehabis inflamasi jaringan, Urinalisis Normal, namun eritrosit/leukosit bisa jadi ada. Foto abdomen: Dapat melaporkan akan adanya pergeseran, material apendiks (fekalit), Deus terlokalisir peningkatan dari sel darah putih (leukosit) sampai 10.000-18.000/mm3. Bila penaikan lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).
3. Pemeriksaan urine
Dilaksanakan dengan tujuan memperlihatkan apakah terdapat eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. Pada pengecekkan ini dapat memberikan sebuah bantuan untuk menyingkirkan diagnosis banding misalnya pada infeksi saluran kemih maupun pada batu ginjal yang memiliki indikasi klinis serta juga nyaris sama.
4. Pemeriksaan radiologi
Pada pemeriksaan radiologi yang kerap dicoba pada penderita appendicitis akut yakni Ultrasonografi, CT-scan. Bila pada pemeriksaan ultrasonografi dapat ditemui bagian memanjang di tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks. Sedangkan jika pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendicalith dan juga perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran dari sekum.
5. Pemeriksaan USG
Bila pada hasil pemeriksaan fisik dapat meragukan, maka dilakukan pemeriksaan USG, utamanya pada wanita, bila dicurigai adanya abses. Dengan USG bisa dipakai dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya.
6. Abdominal X-Ray
Bisa dipergunakan untuk melihat apakah ada fecalith sebagai pemicu dari appendisitis, pemeriksaan yang satu ini pula dilaksanakan lebih utama nya anak-anak
G. Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan appendicitis Pembedahan di indikasikan apabila diagnose apendisitis telah di tetapkan dan ditegakkan. Antibiotik dan juga cairan IV bisa diberikan, pasien jug a dipinta melakukan pembatasan aktivitas fisik sampai pembedahan sudah berlangsung. Untuk analgetik bisa diberikan setelah diagnosa itu ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk pengangkatan apendiks) dilaksanakan segera mungkin untuk mambantu penurunan terjadinya resiko perforasi Apendiktomi itu bisa dilaksanakan dalam anestesi umum atau spinal, secara terbuka atau cara laparoskopi yang merupakan sebuah metode baru dan efektil Apbila apendiktomi terbuka, insisi McBurney lebih banyak dipilih para ahli bedah Bagi penderita yang diagnosisnya masih belum jelas ada baiknya di laksanakan observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi dapat dilaksanakan apabila dalam observasi masih dalam keraguan. Apabila ada laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik untuk kasus yang diragulan bisa segera mungkin ditentukan untuk dilakukan operasi atau tidaknya (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
Menurut (Arief Mansjoer apendisitis pada berikut ini : 1. Tindakan medis
a. Observasi
Terhadap diagnosa pada 8 - 12 jam pertama saat setelah munculnya tanda serta gejala dari apendisitis, sering kali tidak terdiagnosa, untuk ini sangatlah penting dalam melakukan sebuah observasi yang cermat. Pasien di beri arahan untuk berbaring dahulu di tempat tidur dan jangan diberikan apapun terlebih dahulu melalui mulut, apabila diperlukan maka bisa diberikan cairan aperviteral.
Pemeriksaan pada abdomen dan rektum, sel darah putih serta hitung jenis di ulangi secara periodik penting juga untuk dilakukan foto abdomen dan thorak posisi tegak untuk kesemua kasus apendisitis, nanti diagnosa akan lebih jelas dari
tanda lokalisasi kuadran kanan bawah dalam waktu satu hari full atau 24 jam saat setelah timbulnya suatu gejala.
b. Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi peritonitis atau toksitas yang menandakan bahwa ileus pasca operatif yang sangat menggangu. Jika di perlukan untuk pasien ini mungkin perlu dilakukan aspirasi kubah lambung Penderita dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang
c. Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi sistematik dengan toksitas yang berat dan pada demam yang tinggi.
d. Terapi Bedah
Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah terkontrol ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik lainnya. Biasanya hanya diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan secara dini baik mempunyai praksi mortalitas 1 % secara primer angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tampaknya disebabkan oleh komplikasi ganggren dan perforasi yang terjadi akibat yang tertunda.
e. Terapi pasca operasi
Dalam hal ini penting untuk di lakukannya obstruksi tanda - tanda vital agar dapat mengetahui terjadinya syok hipertermia, perdarahan di dalam, gangguan pernafasan angket sonde lambung bila pasien itu telah sadar, sehingganya cairan lambung itu dapat di cegah. Beri arahan pasien untuk berbaring pada posisi semi fowler. Penderita bisa dikatakan baik apabila pada waktu 12 jam tidak ada gangguan, dan selama itu penderita di minta untuk berpuasa. Bila pada tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian lakukan pemberian minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam.
Besoknya di lakukan pemberian makan saring, dan untuk hari berikutnya dilakukan pemberian makan-makanan yang lunak. Untuk sehari setalah operasi pasien dianjurkan untuk melakukan duduk tegak pada tempat tidur selama 2 x 30 menit. Dan pada haru kedua pendeirta hisa berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh jahitan yang ada bisa diangkat dan pasien itu pun dibolehkan untuk pulang
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian pada pasien post operasi apendiktomi menurut (Bararah & Jauhar, 2013 dalam saputro, 2018) ; mutaqqin & kumala sari, (2011) antara lain :
1. Data Umum Pasien
Meliputi nama pasien, umur (remaja - dewasa), jenis kelamin (Laki – laki lebih berisiko daripada perempuan), suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis.
2. Keluhan Utama
Pasien dengan post operasi apendiktomi biasanya merasakan nyeri pada luka insisi/operasi.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit sekarang dikaji dimulai dari keluhan yang dirasakan pasien sebelum masuk rumah sakit,ketika mendapatkan perawatan di rumah sakit sampai dilakukannyapengkajian. Pada pasien post operasi apendiktomi biasanya didapatkan adanya keluhan seperti nyeri pada luka insisi operasi. Keluhan nyeri dikaji menggunakan PQRST : P (provokatif), yaitu faktor yang mempengaruhi berat atau ringannya nyeri. Q (Quality), yaitu kualitas dari nyeri, seperti apakah rasa tajam, tumpul atau tersayat. R (Region), yaitu daerah / lokasi perjalanan nyeri.S (Severity), yaitu skala/ keparahan atau intensitas nyeri.T (Time), yaitu lama/waktu serangan atau frekuensi nyeri.
4. Riwayat Kesehatan Dahulu
Dalam hal ini yang perlu dikaji atau di tanyakan pada klien tentang penyakit apa saja yang pernah di derita, riwayat operasiserta tanyakan apakah pernah masuk rumah sakit sebelumnya.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan pada pasien mengenai riwayat penyakit keluarga seperti (Diabetes Melitus, Hipertensi, Asma) dan penyakit menular.
6. Riwayat Psikososial
Pada pasien post operasi apendiktomi didapatkan kecemasan akan nyeri hebat atau akibat respons pembedahan. Pada beberapa pasien juga didapatkan mengalami ketidakefektifan koping berhubungan dengan perubahan peran dalam keluarga (Mutaqqin, Arif & kumala sari, 2011).
7. Pola Sehari-Hari
a. Nutrisi Nafsu makan menurun dan porsi makan menjadi kurang b. Eliminasi
1) Alvi : Kadang terjadi diare/ konstipasi pada awal post operasi
2) Urine : Pada pasien post operasi apendiktomi mengalami penurunan haluaran urin.
c. Tidur/istirahat Pola tidur dapat terganggu maupun tidak terganggu, tergantung bagaimana toleransi klien terhadap nyeri yang dirasakannya.
d. Personal Hygiene Upaya untuk menjaga kebersihan diri cenderung kurang.
e. Aktavitas Biasanya pasien post operasi apendiktomi mengalami kelemahan
Pemeriksaan fisik 1. Keadaan umum
Keadaan umum klien mulai saat pertama kali bertemu dengan klien dilanjutkan mengukur tanda-tanda vital. Pada pasien post operasi apendiktomi mencapai kesadaran penuh setelah beberapa jam kembali dari ruang operasi.
2. Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) umumnya pasien mengalami takikardi, peningkatan tekanan darah, dapat juga terjadi hipotensi.
Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan Kepala
Kebersihan kepala, warna rambut, tidak ada kelainan bentuk kepala, tidak ada nyeri tekan.
2. Pemeriksaan Muka
Pasien nampak meringis menahan nyeri pada luka bekas operasi. tidak ada nyeri tekan, tidak ada edema.
3. Pemeriksaan Mata
Keadaan pupil isokor, palperbra dan refleks cahaya tidak ada gangguan, konjungtiva tidak anemis
4. Pemeriksaan Hidung
Bersih, tidak terdapat polip, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat nafas cuping hidung
5. Pemeriksaan Mulut
Mukosa bibir kering karena adanya pembatasan masukan oral, mengamati bibir ada tidaknya kelainan kogenital (bibir sumbing), sianosis atau tidak, pembengkakkan atau tidak, lesi atau tidak, amati adanya stomatitis pada mulut atau tidak, amati jumlah dan bentuk gigi, gigi berlubang, warna, plak, dan kebersihan gigi.mengkaji terdapat nyeri tekan atau tidak pada pipi dan mulut bagian dalam.
6. Pemeriksaan Telinga
Pada klien post operasi apendiktomi fungsi pendengaran tidak mengalami gangguan, inspeksi bentuk dan kesimetrisan telinga, kebersihan telinga.
7. Pemeriksaan Thorak a. Paru-paru
1) Inspeksi : Pergerakan dada simetris, Pasien post operasi apendiktomi akan mengalami penurunan dan peningkatan frekuensi nafas.
2) Palpasi : Kaji ada tidaknya nyeri tekan, vokal fremitus sama antara kanan dan kiri.
3) Perkusi : Terdengar sonor.
4) Auskultasi : Normalnya terdengar vasikuler pada kedua paru, tidak terdapat suara tambahan.
b. Jantung
1) Inspeksi : Ictus cordis tidak Nampak
2) Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS 4 & 5 mid clavicula sinistra.
3) Perkusi : Normalnya terdengar pekak.
4) Auskultasi : Normalnya terdengar tunggal suara jantung pertama dan suara jantung kedua.
8. Abdomen
a. Inspeksi : Terdapat luka bekas operasi tertutup kasa, bentuk dan ukuran luka, terlihat mengencang (distensi).
b. Palpasi : Terdapat nyeri tekan pada abdomen bekas operasi c. Perkusi :Kaji suara apakah timpani
d. Auskultasi : Bising usus menurun hipertimpani 9. Ekstremitas
Secara umum klien post operasi apendiktomi dapat mengalami kelemahan karena tirah baring pasca operasi. Kekakuan otot akan berangsur membaik seiring dengan peningkatan toleransi aktivitas klien.
10. Integritas kulit
Terdapat luka sayatan pada bekas operasi, warna kulit, kelembaban, akral hangat, CRT (Capilary Refil Time) < 2 detik, turgor kulit menurun.
B. Diagnosa
1. Nyeri Akut (D.0077)
a. Gejala dan Data Mayor
1) Data Subjektif : Mengeluh nyeri 2) Data Objektif :
Tampak meringis
Bersikap protektif (mis : waspada, posisi menghindari nyeri)
Gelisah
Frekuensi nadi meningkat
Sulit tidur.
b. Gejala dan Data Minor 1) Data Subjektif : - 2) Data Objektif :
Tekanan darah meningkat
Pola napas berubah
Nafsu makan berubah
Proses berpikir terganggu
Menarik diri
Berfokus pada diri sendiri
Diaforesis.
2. Defisit nutrisi (D.0019) b. Gejala dan Data Mayor
1) Data Subjektif : - 2) Data Objektif :
Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal c. Gejala dan Data Minor
1) Data Subjektif :
Cepat kenyang setelah makan
Kram/nyeri abdomen
Nafsu makan menurun
2) Data Objektif :
Bising usus hiperaktif
Otot pengunyah lemah
Otot menelan lemah
Membran mukosa pucat
Sariawan
Serum albumin turun
Rambut rontok berlebihan
Diare 3. Ansietas (D.0080)
a. Gejala dan Data Mayor 1) Data Subjektif :
Merasa bingung
Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi
Sulit berkonsentrasi 2) Data Objektif :
Tampak gelisah
Tampak tegang
Sulit tidur b. Gejala dan Data Minor
1) Data Subjektif :
Mengeluh pusing
Anoreksia
Palpitasi
Merasa tidak berdaya 2) Data Objektif :
Frekuensi napas meningkat
Frekuensi nadi meningkat
Tekanan darah meningkat
Diaforesis
Tremor
Muka tampak pucat
Suara bergetar
Kontak mata buruk
Sering berkemih
Berorientasi pada masa lalu C. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa SDKI Tujuan Dan Kriteria Hasil SLKI
SIKI
1. Nyeri Akut (D.0077) Setelah dilakukan asuhan keperawatan nyeri akut selama diharapkan dengan kriteria hasil :
- Keluhan nyeri menurun - Meringis menurun - Gelisah menurun
Kesulitan tidur menurun
Manajemen Nyeri Observasi
- Identifikasi lokal, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intesitas nyeri
- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi respons nyeri non verbal - Identifikasi faktor
yang memberatkan dan memperingan nyeri
- Identifikasi
pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan - Monitor efek samping
pengggunaan
analgetik
Terapeutik
- Berikan teknik nonfarmakologis, untuk mengurangi rasa nyeri (mis, TENS hipnosis, akupresur, terpai masuk, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terpi bermain)
- Fasilitas istirahat dan tidur
- Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategis meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan nyeri - Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri - Anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat - Ajarkan teknik
nonfarmokologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
Kolaboarsi pemberian analgetik, jika perlu 2. Defisit Nutrisi
(D.0019)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan Defisit Nutrisi dengan kriteria hasil :
- Porsi makanan yang di habiskan meningkat
- Kekuatan otot
pengunyah meningkat - Kekuatan otot menelan
meningkat
- Pengetahuan tentang pilihan makanan yang sehat meningkat
- Perasaan cepat kenyang menurun
- Nyeri abdomen
menurun
- Sariawan menurun
- Rambut rontok
menurun - Diare menurun
- Frekuensi makan membaik
- Nafsu makan membaik
Manajemen Nutrisi Observasi :
- Identifikasi status nutrisi
- Identifikasi alergi dan intoleransi makanan - Identifikasi makanan
yang disukai - Identifikasi
kebutuhan kalori dan jenis nurien
- Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
- Monior asupan
makanan
- Monitor berat badan
- Monitor hasil
pemeriksaan laboratorium
Terapeutik :
- Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika
- Bising usus membaik
- Membran mukosa
membaik
perlu
- Fasilitas menentukan pedoman diet ( mis, piramida makanan) - Sajikan makanan
secara menarik dan suhu yang sesuai - Berikan makanan
tinggi serat untuk mencegah konstipasi - Berikan makanan
tinggi kalori dan tinggi protein
- Berikan suplemen makanan, jiak perlu - Hentikan pemberian
makan melalui selang nasogatrik jika asupan oral dapat ditoleransi
Edukasi :
- Anjurkan posisi duduk, jika mampu - Ajarkan diet yang
diprogramkan Kolaborasi :
- Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis, pereda nyeri, antiemetik), jika perlu
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menetukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang di butuhkan, jika perlu 3. Ansietas (D.0080) Setelah dilakukan asuhan
keperawatan Ansietas dengan kriteria hasil :
- Verbalisasi
kebingungan menurun - Verbalisasi khawatir
akibat kondisi yang dihadapi menurun - Perilaku gelisah
menurun
- Perilaku tegang menurun
- Keluhan pusing menurun - Anoreksia menurun - Palpitasi menurun - Diaforesis menurun - Tremor menurun - Pucat menurun - Konsentrasi membaik - Pola tidur membaik - Frekuensi pernapasan
membaik
- Frekuensi nadi membaik - Tekanan darah membaik - Kontak mata membaik - Pola berkemih membaik - Orientasi membaik
Reduksi Ansietas Observasi :
- Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis.
kondisi, waktu, stressor)
- Identifikasi kemampuan
mengambil keputusan Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal)
Terapeutik
- Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan
kepercayaan
- Temani pasien untuk mengurangi
kecemasan, jika memungkinkan - Pahami situasi yang
membuat ansletas - Dengarkan dengan
penuh perhatian - Gunakan pendekatan
yang tenang dan
meyakinkan
- Tempatkan barang
pribadi yang
memberikan kenyamanan - Motivasi
mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
- Diskusikan
perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan dating
Edukasi
- Jelaskan prosedur, termasuk sensasi
yang mungkin
dialami
- Informasikan secara faktual mengenai diagnosis,
pengobatan, dan prognosis
- Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien. jika perlu - Anjurkan melakukan
kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
- Anjurkan
mengungkapkan
perasaan dan persepsi - Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
ketegangan
- Latih penggunaan mekanisme
pertahanan diri yang tepat
-
Latih teknik relaksasiKolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan serangkaian Tindakan yang dilakukan oleh perawat atau tenaga medis lainnya untuk membantu pasien dalam proses penyembuhan dan perawatan serta serta masalah Kesehatan yang dihadapi pasien yang sebelumnya disusun dalam rencana keperawatan.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan guna untuk mengevaluasi hasil dari rencana keperawatan.
ASKEP GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : CA COLON
A. Pengertian Ca Colon
Neoplasma / Kanker adalah pertumbuhan baru (atau tumor) massa yang tidak normal akibat proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa memiliki keuntungan dan tujuan. Neoplasma terbagi atas jinak atau ganas. Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker (cancer). (SylviaA Price, 2005).
Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari
pertumbuhan sel yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat).
Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan kanker kolon adalah tumbunhya sel-sel ganas di permukaan dalam usus besar (kolon) atau rektum. Lokasi tersering timbulnya kanker kolon adalah di bagian sekum, asendens, dan kolon sigmoid, salah satu penatalaksanaannya adalah dengan membuat kolostomi untuk mengeluarkan produksi faeces. Kanker colon adalah penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru ( ACS 1998)
Karsinoma atau kanker kolon ialah keganasan tumbuh lambat yang paling sering ditemukan daerah kolon terutama pada sekum, desendens bawah, dan kolon sigmoid.
Prognosa optimistik; tanda dan gejala awal biasanya tidak ada. (Susan Martin Tucker, 1998).
B. Etiologi
Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society, The National Cancer Institute, dan organisasi kanker lainnya.
Faktor resiko telah teridentifikasi. Faktor resiko untuk kanker kolon:
1. Usia lebih dari 40 tahun 2. Darah dalam feses
3. Riwayat polip rektal atau polip kolon
4. Adanya polip adematosa atau adenoma villus
5. Riwayat keluarga dengan kanker kolon atau poliposis dalam keluarga 6. Riwayat penyakit usus inflamasi kronis
7. Diet tinggi lemak, protein, daging dan rendah serat.
Makanan-makanan yang pasti di jurigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar (Tabel 56-1 ). Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut, yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Dict dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar.
Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan (e.g Mormons.seventh Day Adventists).
Makanan yang harus dihindari : 2. Daging merah
3. Lemak hewan 4. Makanan berlemak
5. Daging dan ikan goreng atau panggang
6. Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring) Makanan yang harus dikonsumsi:
1. Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis (seperti brokoli,brussels sprouts)
2. Butir padi yang utuh
3. Cairan yang cukup terutama air
Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma, faktor utama yang membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma Colon: tubular, villous dan tubulo villous ( akan di bahas pada polips ). Meskipun hampir besar kanker Colon berasal dari adenoma,hanya 5% dari semua adenoma Colon menjadi manigna, villous adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna.
Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum. Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100% dari orang yang berusia 20-30 tahun. Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit Crohn's juga mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut.
C. Tanda dan Gejala
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksi, atau penurunan berat badan dan
keletihan. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam, seperti ter). Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi dan distensi) serta adanya darah merah segar dalam feses. Gejala yang dihubungakan dengan lesi rektal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah.
D. Patofisologi
Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun makanan merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu berkorelasi dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar serat yang rendah, serta adanya interaksi antara bakteri di dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan, selain itu dapat juga dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khususnya bir. Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel dalam usus - endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai sebagai polip jinak, yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup, serta merusak; jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya.
Tumor dapat berupa masa polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular (mirip cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada bagi rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens.
Tumor dapat menyebar melalui :
1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
2. Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah balik ke portal.
Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidyat (1197) diantaranya : 1. Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan dinding usus
besar (lapisan mukosa).
2. Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di bawah lapisan mukosa.
3. Pada stadium III sel kanker sudah menyebar ke sebagian kelenjar limfe yang banyak terdapat di sekitar usus.
4. Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh kelenjar limfe atau bahkan ke organ-organ lain.
E. Pathway
F. Pemeriksaan Penunjang 1. Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi perlu dikerjakan, baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan jelas pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.
2. Radiologi
Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara lain adalah : foto dada dan foto kolon (barium enema).
Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen.
Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.
Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis. Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan tindakan pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada suatu tempat atau suatu striktura.
3. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya metastasis kanker kelenjar getah bening di abdomen dan di hati.
4. Histopatologi
Selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di beberapa tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna menegakkan diagnosis. Gambaran histopatologi karsinoma kolorektal ialah adenokarsinoma, dan perlu ditentukan differensiasi sel.
5. Laboratorium
Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma kolorektal, walaupun demikian setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu diperiksa Hb. Tumor marker (petanda tumor) yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ml biasanya ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut. Berdasarkan penelitian, CEA tidak bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini karsinoma kolorektal, sebab ditemukan titer lebih dari 5 mg/ml hanya pada sepertiga kasus stadium III. Pasien dengan buang air besar lendir berdarah, perlu diperiksa tinjanya secara bakteriologis terhadap shigella dan juga amoeba.
6. Scan
(misalnya, MRI. CZ: gallium) dan ultrasound : Dilakukan untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi respons pada pengobatan.
7. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum)
Dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ dan sebagainya.
8. Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit
Dapat menunjukkan anemia, perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih:
trombosit meningkat atau berkurang.
9. Sinar X dada
Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terjadi perdarahan yang cukup bermakna terapi komponen darah dapat diberikan.
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah. Pilihan mencakup kemoterapi, terapi radiasi dan atau imunoterapi.
Kemoterapi yang diberikan ialah 5-flurourasil (5-FU). Belakangan ini sering dikombinasi dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi.
Bahkan ada yang memberikan 3 macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari hasil penelitian, setelah dilakukan pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan kemoterapi.
2. Penatalaksanaan bedah
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan rektal, pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi merupakan suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat keputusan dikolon, massa tumor kemudian di eksisi. Reseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi kelas A dan semua kelas B serta lesi C.
Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon kelas D. Tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif. Apabila tumor sudah menyebar dan mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak dapat dilakukan. Tipe pembedahan tergantung dari lokasi dan ukuran tumor.
Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut :
a. Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor dan porsi usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah dan nodus limfatik)
b. Reseksi abominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum serta sfingter anal)
c. Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan anastomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi
d. Kolostomi permanen atau iliostomy (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat direseksi)
3. Difersi vekal untuk kanker kolon dan rektum
Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai difersi sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar.
4. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Dukungan adaptasi dan kemandirian.
b. Meningkatkan kenyamanan.
c. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
d. Mencegah komplikasi.
e. Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
5. Penatalaksanaan diet
a. Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat dapat melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus akan menjadi racun yang memicu sel kanker.
b. Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)
c. Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi terutama yang terdapat pada daging hewan.
d. Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut dapat memicu
e. Sel karsinogen/sel kanker
f. Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
g. Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Biodata pasien terdiri dari : a. Nama
b. Umur c. Agama
d. Pendidikan e. Pekerjaan
f. Status pernikahan g. Alamat
h. Tanggal masuk Rumah Sakit i. Diagnosa medis
2. Keluhan utama 3. Riwayat kesehatan :
a. Riwayat penyakit sekarang b. Riwayat penyakit dahulu c. Riwayat penyakit keluarga 4. Riwayat adanya faktor-faktor risiko :
a. Kanker paru-merokok sigaret, lamanya terpajan karsinogen di tempat bekerja (asbes, ion-ion radiasi, arsenik).
b. Kanker kolon-kurang adekuat masukan diet serat.
c. Kanker kulit-lamanya terpajan oleh sinar ultraviolet.
d. Kanker lain-punya riwayat keluarga yang kanker.
5. Kaji respons pasien dan orang terdekat tentang diagnosa.
6. Pemeriksaan fisik dasar dalam survei umum (Apendiks F) nampak manifestasi komplikasi yang berhubungan dengan kanker, terutama jika pasien dalam stadium terminal. Komplikasi-komplikasi ini berhubungan dengan metastase dan penggunaan terapi untuk pengobatan kanker :
a. Nyeri
b. Supresi sumsum tulang (anemia, leukemia, trombositopenia) c. Ketidakseimbangan cairan dan biokomia
d. Gejala-gejala disfungsi organ seperti kanker yang menyebar ke tempat yang lebih jauh (otak, hepar, paru-paru, tulang, organ reproduksi, rongga peritoneum)
7. Kaji pengertian dan minat pasien tentang cara penentuan obat.
8. Kaji pasien dan orang terdekat tentang kebutuhan dukungan spiritual.
9. Kaji status nutrisi, mencakup berat badan, nafsu makan, diet, kondisi umum kulit dan mukosa mulut.
10. Perhatikan adanya dan karakter nyeri abdominal dan rektal; pola eliminasi yang lalu dan sekarang; terapi obat yang terbaru; riwayat medis yang lalu; deskripsi
warna, bau, konsistensi feses dan adanya darah atau mukus; penurunan berat badan; kebiasaan diit termasuk penggunaan alkohol; keletihan yang tidak lazim.
Auskultasi abdomen terhadap bising usus; palpasi terhadap area nyeri tekan, distensi, massa padat; dan inspeksi terhadap darah dalam feses.
B. Diagnosa
2. Nyeri Akut (D.0077)
c. Gejala dan Data Mayor
1) Data Subjektif : Mengeluh nyeri 2) Data Objektif :
Tampak meringis
Bersikap protektif (mis : waspada, posisi menghindari nyeri)
Gelisah
Frekuensi nadi meningkat
Sulit tidur.
d. Gejala dan Data Minor 3) Data Subjektif : - 4) Data Objektif :
Tekanan darah meningkat
Pola napas berubah
Nafsu makan berubah
Proses berpikir terganggu
Menarik diri
Berfokus pada diri sendiri
Diaforesis
4. Intoleransi Aktivitas (D.0056) a. Gejala dan Data Mayor
1) Data Subjektif :
Mengeluh lelah 2) Data Objektif :
Frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi istirahat b. Gejala dan Data Minor
2) Data Subjektif :
Dispnea saat/setelah aktivitas
Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas
Merasa lelah 3) Data Objektif :
Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat
Gambaran EKG menunjukkan aritmia saat/setelah
5. Defisit nutrisi (D.0019) b. Gejala dan Data Mayor
3) Data Subjektif : - 4) Data Objektif :
Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal c. Gejala dan Data Minor
3) Data Subjektif :
Cepat kenyang setelah makan
Kram/nyeri abdomen
Nafsu makan menurun 4) Data Objektif :
Bising usus hiperaktif
Otot pengunyah lemah
Otot menelan lemah
Membran mukosa pucat
Sariawan
Serum albumin turun
Rambut rontok berlebihan
Diare
C. Intervensi
No. Diagnosa SDKI Tujuan Dan Kriteria Hasil SLKI
SIKI
1. Nyeri Akut (D.0077) Setelah dilakukan asuhan keperawatan nyeri akut selama diharapkan dengan kriteria hasil :
- Keluhan nyeri menurun
Manajemen Nyeri Observasi
- Identifikasi lokal, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
- Meringis menurun - Gelisah menurun
Kesulitan tidur menurun
intesitas nyeri
- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi respons nyeri non verbal - Identifikasi faktor
yang memberatkan dan memperingan nyeri
- Identifikasi
pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan - Monitor efek samping
pengggunaan analgetik Terapeutik
- Berikan teknik nonfarmakologis, untuk mengurangi rasa nyeri (mis, TENS hipnosis, akupresur, terpai masuk, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terpi bermain)
- Fasilitas istirahat dan tidur
- Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategis meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu
nyeri
- Jelaskan strategi meredakan nyeri - Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri - Anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat - Ajarkan teknik
nonfarmokologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
Kolaboarsi pemberian analgetik, jika perlu 2. Defisit Nutrisi
(D.0019)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan Defisit Nutrisi dengan kriteria hasil :
- Porsi makanan yang di habiskan meningkat
- Kekuatan otot
pengunyah meningkat - Kekuatan otot menelan
meningkat
- Pengetahuan tentang pilihan makanan yang sehat meningkat
- Perasaan cepat kenyang menurun
- Nyeri abdomen
menurun
- Sariawan menurun
- Rambut rontok
menurun - Diare menurun
- Frekuensi makan
Manajemen Nutrisi Observasi :
- Identifikasi status nutrisi
- Identifikasi alergi dan intoleransi makanan - Identifikasi makanan
yang disukai - Identifikasi
kebutuhan kalori dan jenis nurien
- Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
- Monior asupan
makanan
- Monitor berat badan
- Monitor hasil
pemeriksaan laboratorium Terapeutik :
membaik
- Nafsu makan membaik - Bising usus membaik
- Membran mukosa
membaik
- Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
- Fasilitas menentukan pedoman diet ( mis, piramida makanan) - Sajikan makanan
secara menarik dan suhu yang sesuai - Berikan makanan
tinggi serat untuk mencegah konstipasi - Berikan makanan
tinggi kalori dan tinggi protein
- Berikan suplemen makanan, jiak perlu - Hentikan pemberian
makan melalui selang nasogatrik jika asupan oral dapat ditoleransi
Edukasi :
- Anjurkan posisi duduk, jika mampu - Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi :
- Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis, pereda nyeri, antiemetik),
jika perlu
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang di butuhkan, jika perlu 2. Intoleransi Aktivitas
(D.0056)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan Intoleransi Aktivitas dengan kriteria hasil :
- Frekuensi nadi
meningkat
- Saturasi O2 meningkat - Kecepatan berjalan
meningkat
Manajemen Energi Observasi
- Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang megakibatkan
kelelahan
- Monitor kelelahan fisik dan emosional - Monitor pola dan jam
tidur
- Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
Terapeutik
- Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (misalnya : cahaya, suara, kunjungan)
- Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
- Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
- Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan
Edukasi
- Anjurkan tirah baring - Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap
- Anjurkan menghubungi
perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang - Ajarkan strategi
koping untuk
mengurangi kelelahan
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Haddey.2000. Keperawatan Medikal - Bedah Buku Saku Dari Brunner & Suddarth (Terjemahan), EGC, Jakarta
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta
Daniel Suranta Ginting, dkk. 2022. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia, Padang: Anggota IKAPI
Dermawan, D., & Rahayuningsih, T. 2010. Keperawatan Medikal Bedah (Sistem Pencernaan) Yogyakarta: Gosyen Publishing
Handaya, Adeodatus Yuda. 2017. Deteksi Dini & Atasi 31 Penyakit Bedah Saluran Cerno (Degratif). Jogjakarta
Saputro, N. E. 2018. Asuhan Keperawatan Pada Klien Post Operasi Apendicitis
Sjamsuhidayat & wong,2005, Buku ajar ilmu bedah, EGC, Jakarta
Smeltzer, SC & Bare,. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. brunner dan suddarth Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C & Bare, B.R. 2013. Edisi 8. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah.
Suyono,dkk, 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi 3, Balai penercit FKUI, Jakarta
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2016. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2016. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.