Nama : Anggoro Setyo Tamtomo
Nima : F0321039
Kelas : Akuntansi C
Mata Kuliah : Pengauditan II
Rangkuman Mata Kuliah Perencanaan Audit Berbasis Risiko
Audit Berbasis Risiko (Risk Based Audit) adalah suatu teknik audit dimana semua kegiatan audit yang dimulai dari perencanaan audit, pelaksanaan audit, dan pelaporan hasil audit berbasis pada prioritas risiko perusahaan yang telah ditetapkan bersama manajemen operasional dengan melakukan risk assessment.
Risk Based Audit merupakan sebuah metode atau cara yang digunakan oleh auditor internal dalam melaksanakan tugas auditnya, sehingga memberikan jaminan bahwa risiko yang ada sudah dikelola oleh pihak manajemen dengan baik dan memiliki batasan risiko yang tidak berdampak terhadap tujuan perusahaan.
A. Tahapan Perencanaan Audit
1. Menerima Klien dan Melakukan Perencanaan Audit Awal
Ada empat hal yang perlu dilakukan auditor dalam perencanaan audit awal, yaitu sebagai berikut:
Memutuskan akan menerima klien baru atau melanjutkan klien lama untuk dilakukan audit (membuat perikatan baru atau perikatan lama)
Mengidentifikasi mengapa klien menginginkan untuk dilakukan audit, karena informasi ini akan mempengaruhi bagian dari proses perencanaan selanjutnya
Memenuhi syarat-syarat penugasan yang ditetapkan oleh klien
Mengembangkan strategi audit secara keseluruhan dengan membentuk tim yang memiliki keahlian khusus di bidangnya
2. Memahami Bisnis dan Industri Klien
Terdapat beberapa aspek pendekatan untuk memahami bisnis dan industri klien, antara lain:
Industri dan lingkungan eksternal
Operasi dan proses bisnis
Manajemen dan tata kelola
Strategi dan tujuan klien
Ukuran dan kinerja 3. Menilai Risiko Bisnis Klien
Auditor akan memeriksa dan memahami strategi bisnis yang telah dijalankan oleh klien dan auditor akan menilai apakah ada risiko yang mungkin terjadi dalam bisnis klien tersebut. Apabila memang terdapat risiko dalam bisnis tersebut, maka dapat dipastikan bahwa bisnis yang dilakukan oleh klien tersebut mengalami kegagalan dalam pencapaian tujuan perusahaan.
4. Melaksanakan Prosedur Analitis Pendahuluan Tujuan prosedur analitis pendahuluan terdiri atas:
Prosedur analitis awal
Prosedur analitis substantif
Prosedur analitis akhir
5. Menetapkan Materialitas dan Menilai Risiko Audit yang Dapat Diterima serta Risiko Inhern
Tahapan ini terbagi menjadi dua poin, yaitu:
Menentukan tingkat materialitas awal
Mempertimbangkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan 6. Memahami Pengendalian Internal dan Menilai Risiko Pengendalian
Setiap pengendalian internal dirancang oleh auditor untuk mencegah atau mendeteksi terjadinya salah saji yang material dalam laporan keuangan. Lingkungan pengendalian merupakan komponen pengendalian internal yang terdapat empat proses di dalamnya, yaitu penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.
7. Mengumpulkan Informasi untuk Menilai Risiko Kecurangan
Auditor harus mulai mengumpulkan informasi untuk menilai adanya risiko kecurangan selama perencanaan audit berlangsung dan memperbarui penilaian tersebut selama proses audit berlangsung.
Informasi yang terdapat dalam penilaian risiko kecurangan dapat ditemukan saat auditor melakukan kunjungan ke perusahaan klien serta mengidentifikasi pihak-pihak yang terkait di dalamnya.
8. Mengembangkan Strategi Audit dan Program Audit secara Keseluruhan
Dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi, auditor dapat memilih antara dua strategi audit awal berikut:
Primarily subtantive approach.
Lower assessed level of control risk approach. (AMP)
Risk assessment menyoroti peran internal auditor dalam mengidentifikasi dan menganalisis risiko bisnis yang dihadapi perusahaan sehingga diperlukan sikap proaktif dari internal auditor dalam mengenali risiko – risiko yang dihadapi manajemen dalam mencapai tujuan organisasi. Internal auditor dalam hal ini dapat menjadi mitra manajemen dalam meminimalkan risiko kerugian serta memaksimalkan peluang yang dimiliki perusahaan.
Tujuan dan ruang lingkup audit serta alokasi sumber daya internal auditor sepenuhnya didasarkan pada prioritas tingkat risiko bisnis yang dihadapi entitas. Proses risk assessment mencakup 3 (tiga) konsep penting yaitu tujuan, risiko, dan control. Tujuan merupakan outcome yang diharapkan dapat dihasilkan oleh suatu proses atau bisnis. Risiko adalah kemungkinan suatu kejadian/tindakan akan menggagalkan atau berpengaruh negatif terhahap kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan bisnis, sedangkan kontrol merupakan elemen – elemen organisasi yang mendukung manajemen dan karyawan dalam mencapai tujuan organisasi. Sementara audit berbasis risiko sangat penting karena berfungsi untuk memberikan sebuah keyakinan kepada Dewan Komisaris dan Direksi bahwa proses pengendalian internal dan manajemen risiko sudah dilakukan dengan baik sehingga manajemen mampu mengefektifkan tanggungjawabnya dengan membatasi risiko tersebut.
Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang menjalankan sebagai fungsi auditor internal dalam suatu entitas dapat melakukan review secara periodik tiap tahun atas risk based internal auditing dikaitkan dengan perencanaan audit. Tujuan dari metode audit berbasis risiko ialah mengurangi risiko perusahaan, mengantisipasi risiko potensial yang dapat merugikan operasional perusahaan dan melindungi perusahaan dari kejadian yang tidak terduga dan diantisipasi sebelum kejadian tersebut benar – benar terjadi.