Bagaimana pandangan Imam al-Sya>fi>'i dan dalil-dalilnya tentang status wali janda-janda kecil. Bagaimana kemerdekaan kebebasan janda di bawah umur dalam memilih jodoh menurut Imam al-Sya>fi>'i. Untuk mengetahui pendapat Imam al-Sya>fi>'i tentang wali nikah janda kecil dalam kitab al-Umm.
Memahami dan mendeskripsikan pemikiran Imam al-Sya>fi>'i tentang kemandirian janda-janda kecil dalam kitab al-Umm. Namun terdapat perbedaan terkait dengan tesis yang akan penulis bahas, penulis lebih memfokuskan pada pemikiran Imam al-Sya>fi>'i tentang wali nikah bagi janda-janda kecil dan peristiwa wali dalam kitab al-Umm. Subyek penelitian di sini adalah pernyataan Imam al-Sya>fi>i tentang perwalian janda-janda kecil dan kemandiriannya.
O=_اةاaEا
Wali, wali meliputi empat hal: tentang syarat-syarat sahnya perkawinan wali, ciri-ciri wali, jenis-jenis wali dan urutannya, keberatan wali terhadap orang-orang yang berada di bawah perwaliannya syarat-syarat perwalian dalam perkawinan 1) Islam. Bagi wanita yang sudah dewasa dan berakal, ada perbedaan pendapat ulama tentang persyaratan wali: Sya>fi>'i, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa jika seorang wanita yang sudah dewasa dan berakal, masih gadis, maka hak untuk menikahinya adalah milik wali, tetapi jika dia seorang janda, maka hak itu adalah milik keduanya (janda dan wali), wali tidak boleh menikahi janda itu tanpa persetujuannya. Akad yang hanya diucapkan oleh wanita itu sama sekali tidak sah, padahal akad itu sendiri memerlukan persetujuannya.
Hanafi mengatakan bahawa wanita yang telah baligh dan berakal budi boleh memilih suaminya sendiri dan juga boleh melangsungkan akad nikah sendiri, sama ada dia masih dara atau janda. Tiada sesiapa pun yang berkuasa ke atas dirinya dan tidak menentang pilihannya, dengan syarat orang yang dipilihnya itu daripada kufu yang sama atau setaraf dengannya dan maharnya tidak kurang daripada mahar misil, tetapi apabila dia. Sebahagian besar ulama Imamiyyah berpendapat bahawa wanita yang baligh dan berakal, kerana baligh dan matang, berhak untuk bertindak dalam segala bentuk jual beli dan sebagainya, termasuk urusan perkahwinan, jika dia masih ada. anak dara atau janda, jika ada bapa, datuk dan ahli keluarga lain atau tidak, dengan persetujuan bapa, sama ada dari golongan bangsawan atau rakyat jelata, yang berkahwin dengan orang yang bertaraf tinggi atau rendah, tanpa lelaki, tidak. walau bagaimanapun tinggi kedudukan mereka, mempunyai hak untuk menghentikannya.
Dia mempunyai hak yang sama seperti lelaki.36 Para pengikut Imamiyah memberi alasan dalam sebuah hadis.
OPJQو YE OPSWIK Z?ا F_ا
Inilah yang dinasihatkan kepada orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari akhirat. Ia lebih baik untuk anda dan lebih bersih. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak. Imam al-Shafi>'i mengatakan bahawa ini adalah ayat yang menjelaskan masalah wali dalam perkahwinan. Kalau tak nampak mesti ada wali, tentu tak ada gunanya larangan itu. Adapun saksi, sekurang-kurangnya dua orang yang soleh ialah mereka yang tidak melakukan dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil.
Hanya yang dimaksud di sini adalah orang yang menjauhi dosa besar dan tidak terbiasa melakukan dosa kecil. Setidaknya mereka yang menaati ibadah seperti shalat, puasa dan sebagainya. Menurut salah satu keterangan, hadits ini dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan hukum.40 . Wali hakim adalah seseorang yang karena kedudukannya berhak mengadakan perjanjian perkawinan, hak itu diperoleh atas dasar penyerahan wali garis atau karena wali garis tidak ada. . Lelaki itu berharap kelakuan buruknya akan hilang dengan menikahiku. Aku sendiri sebenarnya tidak menyukainya." Aisyah berkata, "Kamu masih duduk di sini menunggu Rasulullah." Begitu nabi datang, dia menyampaikan masalahnya tadi, nabi kemudian memanggil ayahnya dan memintanya untuk menyerahkan perjodohan itu kepadanya (putrinya).
Ikra ditakrifkan sebagai paksaan terhadap seseorang untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan ancaman yang membahayakan jiwa atau badannya, tanpa kemampuannya untuk melawannya. Sedangkan bagi orang yang dipaksa, perbuatan itu sebenarnya bertentangan dengan kehendak hati nurani atau akalnya. Majallah al-Ahkam al-'Adliyyah (Kanun Sivil Turki Uthmaniyyah) dalam Perkara 948 memberikan definisi paksaan yang merangkumi perkataan dan perbuatan, yang berbunyi: Ikra ialah menekan seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa haknya dan tanpa persetujuannya. yang terpaksa dipanggil al-Mukrah, manakala orang yang memaksa dipanggil mukrah 'alaih, manakala sesuatu yang menimbulkan ketakutan dinamakan mukrah bih. Oleh itu sesuatu itu tidak dinamakan paksaan jika disertai dengan kerelaan orang yang melakukan perbuatan terpaksa itu.
Mengenai ijbar adalah suatu perbuatan melakukan sesuatu atas dasar tanggung jawab.Konsep ijbar dikenal dalam fikih Islam dalam hubungannya dengan masalah perkawinan.Dalam fikih mazhab Imam al-Sya>fi>'i, orang yang memiliki kekuasaan atau hak ijbar adalah ayah atau kakek. Jadi jika seorang bapak dikatakan sebagai mujbir wali maka dia adalah orang yang mempunyai kuasa atau hak untuk mengawini anak perempuannya walaupun tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan dan perkawinan ini dianggap sah secara hukum. perlindungan atau tanggung jawab yang diberikan oleh ayah kepada anaknya, karena keadaannya yang dianggapnya tidak mampu atau lemah untuk bertindak. Memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu secara sukarela dapat dilihat sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Bisa jadi, dalam tradisi masyarakat yang berkembang pada masa Imam al-Sya>fi>i, syarat di atas menjadi standar minimal untuk menunjukkan kerelaan seorang perempuan untuk menikah dengan laki-laki, calon suaminya.
Di sisi lain, pendapat ini mengatakan bahwa perempuan dewasa dianggap memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum yang berkaitan dengan transaksi keuangan, seperti perdagangan dan sebagainya.
واDُ~ِHْIَ^
Atas dasar itu, hak untuk menentukan pasangan dan melangsungkan perkawinan merupakan hak pribadi seorang wanita.Perkawinan yang dilakukan oleh wali dinyatakan sah bila telah diperoleh persetujuan dari calon mempelai.
FُHِÀOَEِإَو
Pendapat lain dikemukakan oleh Imam Sya>fi>'i, Imam Malik bin Anas, menurut riwayat lain dari Asyhab, Imam Sufyan ats-Tsauri, Ishaq bin Rahutah, Ibnu Syubrumah dan Ibnu Hazm. Dikatakan bahwa akad nikah yang persetujuannya diberikan oleh seorang perempuan, janda atau gadis, adalah tidak sah.59. Dua ayat di atas jelas menunjukkan perintah Allah kepada para wali untuk menikahkan anak perempuannya, jadi pelaku perkawinan dalam hal ini adalah walinya, bukan wanita yang bersangkutan. Sementara itu, ayat-ayat al-Qur'an dalam surat al-Baqarah sebagaimana dikemukakan pada pendapat pertama ditafsirkan oleh Imam al-Sya>fi'i dkk. jika tidak.
Kawan ini telah berkahwin dengan kakaknya. Tidak lama kemudian, suaminya menceraikannya sehingga iddahnya selesai. Bekas suami ini kemudiannya berniat untuk mengahwininya lagi. Mendengar itu, Ma'qil menjadi marah. Dia bersumpah tidak akan berkahwin dengannya. 62 Daripada Dalam hal ini kita dapat memahami bahawa sekiranya wanita itu boleh mengahwini bekas suaminya, sudah pasti ayat ini tidak diturunkan. Malah menurut Abu Dawud, Ma'qil diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk membayar denda. kepada ayat di atas, pernyataan ini mengemukakan hujah lain daripada hadis Rasulullah SAW:
اOPI
HXذإaJ|K
OPXYE
YEOPNaj
نO½[SQiQو
OPJQو
Interpretasi mereka adalah sebagai berikut: Wahai laki-laki), jika kami menceraikan istri-istri kalian, maka iddahnya habis, maka kalian (wahai para wali) tidak menghalangi mereka (bekas istri kalian) untuk menikah dengan laki-laki lain (calon suami mereka). Pendapat Imam al-Sya>fi>'i, tujuan perkawinan pada hakekatnya adalah membentuk keluarga yang bahagia. Menurut mereka, wanita pada umumnya kurang cerdas dalam memilih calon pasangan hidupnya. Sifat emosionalnya lebih menonjol daripada kecerdasannya. Kondisi ini bisa memprihatinkan. Meski wali mujbir diperbolehkan memaksa putrinya menikah dengan laki-laki, sangat dianjurkan untuk meminta izin putrinya terlebih dahulu. Selain itu, kekuasaan wali mujbir hilang ketika putrinya menjadi janda, yang berarti wali mujbir tidak berhak memaksa putrinya yang telah menjanda menikah dengan pilihan wali laki-laki.
Abu Hanifah memberikan kebebasan kepada anak perempuan yang telah mencapai usia baligh untuk menikah berdasarkan pilihannya. Oleh karena itu, pemilihan laki-laki yang cocok harus diserahkan kepada persetujuan ayah atau wali lain yang akan melengkapi dan melindunginya dari penipuan oleh orang-orang yang hanya mengikuti keinginannya. Nabi Muhammad bersabda bahwa janda dan wanita yang diceraikan tidak dapat dinikahi sampai izin diperoleh dari mereka. Anak perempuan juga tidak boleh dinikahkan sampai mendapat izin 66. Jika seorang laki-laki menikahkan anak perempuannya dan anak perempuan itu tidak menyukainya, maka perkawinan itu harus dinyatakan batal 67 .
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kebebasan perempuan dalam memilih pasangan dapat dijabarkan sebagai berikut. Menurut Imam Malik dan Imam Hanafi, seorang janda yang belum dewasa, walinya boleh memaksanya untuk menikah, sedangkan menurut Imam Sya>fi>'i, wali tidak boleh menikahinya tanpa persetujuannya. Adapun gadis kecil itu, para ulama madzhab sepakat bahwa dia boleh dinikahkan tanpa persetujuannya, tetapi mereka berselisih tentang siapa yang boleh menikahinya tanpa persetujuannya.
Menurut Sya>fi>'i, ayah dan kakeknya yang boleh menikahinya tanpa persetujuannya, sedangkan Imam Malik mengatakan bahwa hanya ayah atau orang yang diserahkan oleh ayah yang boleh menikah dengannya. memberi makan. akad jika calon suami ditentukan oleh bapaknya, dan pendapat Imam Hanafi adalah bahwa setiap orang yang memiliki hak asuh atas seorang gadis boleh menikahinya meskipun tanpa persetujuannya, tetapi ketika dia sudah dewasa, gadis tersebut memiliki hak untuk memilih. . Imam Malik dan Imam al-Sya>fi>'i berpendapat bahwa ijab hanyalah sunat, bahkan seorang ayah sebagai wali dapat memaksa anak perempuan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya sedangkan menurut Imam Hanafi harus ada ijab dari gadis tersebut.