Arah Kebijakan
Pembangunan Daerah Tahun 2023
Forum Konsultasi Publik
Penyusunan Rancangan Awal RKPD Provinsi Sumatera Utara Tahun 2023
Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D
Direktur Tata Ruang dan Penanganan Bencana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Medan dan Jakarta, 8 Februari 2022
1• KEMENTAN
• BMKG, Badan Geologi/PVMBG
• BNPB
• KLHK
• KEMENKES
• KEMENDAGRI
• KEMENSOS
• BIG
• KEMEN ATR/BPN
• KEMDIKBUD
Kementerian PPN/Bappenas
Nama : Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA. Ph.D Tempat/Tgl.Lahir : Yogyakarta, 21 JanuarI 1965
Golongan : IVD
Alamat Rumah : Komplek Bappenas, Jl. Pertiwi II No.18 Blok A105, RT
03/RW01, Kedaung, Sawangan, Depok-16516 HP: 085-880- 596-992
Alamat Kantor : Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Jl. Taman Suropati No. 2-4 Jakarta-10310
Tel.: 021-3193-4195 Fax: 021-3193-4195
E-mail: [email protected] dan [email protected] PENDIDIKAN
1. Using Evidence for Smart Policy Design and
Implementation (Government Thnik Thank). Harvard Kennedy School Executive Education, Boston, Amerika Serikat. 12-17 Nov 2017
2. Leadership in Succession and Talent Management.
Melbourne Business School - Mt Eliza Executive Education, Australia. 27 Okt – 1 Nov 2016
3. Postdoctoral. Graduate School of International
Development, Nagoya University, Jepang. Okt-Des. 2006 4. S3. Doctor of Philosophy. Department of Urban
Engineering, the University of Tokyo, Jepang. April 2001-Mar. 2004.
5. S2. Master of Arts, Graduate School of International Development, Nagoya University, Jepang. Apr 1997-Mar.
1999.
6. Postgraduate Diploma, Institute of Developing Economies Advanced School, Tokyo, Jepang. Sept.
1994‑Mar. 1995.
7. S1. Sarjana, Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada.Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.
Juni 1984‑Juli 1989.
PEKERJAAN
1. Direktur Tata Ruang dan Penanganan Bencana, Sept 2020-Sekarang
2. Direktur Pengembangan Wilayah dan Kawasan, Jan 2019-Sept 2020
3. Direktur Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Bappenas. Sept 2016-Januari 2019
4. Kepala Sub-direktorat, Direktorat Pengembangan Wilayah, Bappenas. Januari 2006-September 2016 5. Kepala Sub-Direktorat, Direktorat Pengembangan
Kawasan Khusus dan Tertinggal, Bappenas. Mei 2004- Januari 2006
6. Kepala Bagian, Biro Pemberdayaan Masyarakat, Bappenas. Des. 2000-Mei 2004
7. Kepala Bagian, Biro Pembangunan Dati II dan Perdesaan, Bappenas. Mei 1999 –Desember 2000 8. Kepala Sub Bagian, Biro Pembangunan Dati II dan
Perdesaan, Bappenas. Maret 1994 –Januari 1997 9. Staf Perencana, Biro Analisa Ekonomi dan Statistik,
Bappenas 1991‑Maret 1994
Daftar Riwayat Hidup
Pendahuluan
Identifikasi Isu Strategis, Strategi dan Kebijakan, serta Prioritas Pembangunan
Isu Global
• Pasokan Pangan dan Energi
• Pembatasan Mobilitas
• Investasi
Isu Nasional
• Defisit Fiskal dan Investasi
• Rantai Nilai
• Daya Beli
Isu Lokal
• Pemantapan
Pemulihan Ekonomi
• Daya beli
• Pengangguran
• Pemerataan
• Bencana
Paradigma Sehat
Nasional
Lokasi Prioritas Major Project, Proyek Strategis Nasional dan
Perpres Percepatan
Paradigma Berkelanjutan Paradigma Tangguh
Paradigma Tumbuh
Paradigma Berkeadilan Kenormalan Baru
(New Normal)
Strategi dan Arah
Kebijakan Prioritas Pembangunan
Provinsi
Kabupaten/Kota
Kecamatan dan Desa
Pengembangan wilayah dan penguatan Rantai Nilai
(Value Chain)
Inovasi Daerah, Upgrading dan Standar Baru, Daerah
Tertinggal, Terdepan, Terpencil dan Terluar Revitalisasi Kecamatan dan
Inovasi Desa, Kawasan Transmigrasi dan Kawasan
Perdesaan Prioritas
Nasional
Kementerian PPN/Bappenas
Identifikasi Isu Global, Nasional dan Lokal
Isu Global
• Pasokan Energi dan Pangan
• Inflasi
• Investasi
• Mobilitas
Isu Nasional
• Fiskal defsit
• Investasi
• Rantai Nilai
• Daya Beli
Isu Lokal
• Pemantapan
Pemulihan Ekonomi
• Rantai Nilai
• Daya beli
• Pemerataan
• Bencana
Tahun 2022-2023 merupakan kunci
membangun pondasi reformasi struktural
untuk transformasi Indonesia
Kementerian PPN/Bappenas
Dari Pemulihan Ekonomi Menuju Transformasi Ekonomi
Pemulihan Ekonomi:
• Jangka pendek
• Intervensi sisi permintaan (demand side)
Menjaga daya beli (bansos, subsidi, dll)
Menciptakan permintaan dengan peluang kerja dan kebutuhan suplai barang/jasa
Transformasi Ekonomi:
• Jangka Menengah - Panjang
• Intervensi sisi produksi (production side)
Pemulihan ekonomi:
“NECESSARY CONDITION, BUT NOT SUFFICIENT”
Transformasi Ekonomi merupakan strategi jangka
Menengah – Panjang yang
perlu dilanjutkan
Enam strategi Transformasi sosial ekonomi Indonesia (jangka menengah – panjang)
SDM berdaya saing
SDM berdaya
saing Produktivitas sektor ekonomi Produktivitas
sektor ekonomi Ekonomi hijau Ekonomi hijau
Transformasi digital
Transformasi digital
Integrasi ekonomi domestik
Integrasi ekonomi
domestik Pemindahan IKN Pemindahan IKN
Kementerian PPN/Bappenas
Perekonomian Indonesia diarahkan untuk Meningkatkan Kapasitas Produktif
Perekonomian pada Tahun 2023 Konsumsi Masyarakat
Diperkirakan akan meningkat seiring aktivitas perekonomian domestik dan stabilnya perekonomian global yang pulih berkelanjutan
PMTB/Investasi
Diperkirakan tumbuh tinggi pada tahun 2023 untuk meningkatkan kapasitas produktif perekonomian seiring dengan keberlanjutan peningkatan investasi publik dan swasta
Ekspor
Berperan dalam peningkatan kapasitas produktif perekonomian melalui perbaikan rantai nilai global
PDB SISI
PENGELUARAN*
Konsumsi RT & LNPRT 5,2 – 5,4 Konsumsi Pemerintah 3,4 – 3,8 6,4 – 7,9 Investasi
6,3 – 7,5 Impor Barang
dan Jasa 5,5 – 6,7 Ekspor Barang
dan Jasa PERTUMBUHAN
EKONOMI INDONESIA*
5,3- 5,8%
*: proyeksi 2023
Pengembangan Sektor-sektor Bernilai Tambah Tinggi
Industri Pengolahan
Informasi dan Komunikasi
HIGHLIGHT PDB SISI PRODUKSI*
5,4 – 5,9
3,7 – 3,8 Pertanian
4,9 – 5,4 Perdagangan 6,1 – 6,5
Penyediaan Akomodasi
dan Makan Minum
8,7 – 9,3
Konstruksi
Pertambangan 6,3 – 6,6
2,0 – 2,1
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA*
5,3- 5,8%
*: proyeksi 2023
Faktor Pendorong Pertumbuhan
• Sektor industri diperkirakan akan menjadi penggerak pertumbuhan dengan kebijakan yang mengarah ke industry 4.0 dan transisi ke industri yang ramah lingkungan (green industry)
• Sektor Pertanian akan tumbuh positif seiring dengan kebijakan hilirisasi pertanian dan peningkatan produktivitas
• Sektor Perdagangan diharapkan pulih seiring dengan pulihnya perdagangan dunia serta penguatan peran UMKM
• Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum diharapkan pulih seiring dengan pulihnya pariwisata
• Sektor Informasi dan Komunikasi diperkirakan terus
tumbuh seiring dengan tren digitalisasi
Kementerian PPN/Bappenas
Penyusunan RKP 2023
Jadual dan Tahapan Penyusunan RKP 2023
Sumber : Paparan KickOff Pembahasan Tema RKP 2023 – 19 Januari 2022
Kementerian PPN/Bappenas
Dasar Pertimbangan Penentuan Tema RKP 2023
7 Agenda Pembangunan Visi – Misi Presiden Arahan
Presiden Hasil
Evaluasi RKP 2021 TW III
Kinerja Prioritas Nasional (PN)
RKP 2021 Hingga Triwulan
III berdasarkan pencapaian
sasaran PN
Peningkatan kualitas manusia Indonesia
Struktur Ekonomi yang Produktif, Mandiri, dan Berdaya Saing
Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan
Mencapai Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan
Kemajuan Budaya yang Mencerminkan Kepribadian Bangsa
Penegakan Sistem Hukum yang Bebas Korupsi,
Bermartabat, dan Terpercaya Penegakan bagi Segenap Bangsa dan Memberikan Rasa Aman pada Seluruh Warga Pengelolaan Pemerintahan yang Bersih, Efektif, dan Terpercaya
Sinergi Pemerintahan Daerah dalam Kerangka Negara
Kesatuan
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Pembanguna n SDM
Pembanguna n
Infrasturktur
Penyederhan aan Regulasi
Penyederhan aan Birokrasi
Transformasi Ekonomi
1
2
3
4
5
Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan Berkualitas dan Berkeadilan
Pengembangan Wilayah untuk Mengurangi
Kesenjangan
SDM Berkualitas dan Berdaya Saing
Revolusi Mental dan
Pembangunan Kebudayaan Infrastruktur untuk
Ekonomi dan Pelayanan Dasar
Lingkungan Hidup,
Ketahanan, Bencana, dan Perubahan Iklim
Stabilitas Polhukhankam dan Transformasi
Pelayanan Publik
Perbandingan Tema RKP dan Kebijakan Fiskal Tahun 2018-2022
Tema RKP 2021
Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan
Reformasi Sosial
Tema Kebijakan Fiskal 2021
Percepatan Pemulihan Ekonomi
dan Penguatan Reformasi Tema RKP 2019
Pemerataan Pembangunan
untuk Pertumbuhan
Berkualitas Tema Kebijakan
Fiskal 2019 APBN untuk
Mendorong Investasi dan
Daya Saing
Tema RKP 2020
Peningkatan Sumber Daya Manusia untuk
Pertumbuhan Berkualitas Tema Kebijakan
Fiskal 2020 APBN untuk Akselerasi Daya
Saing melalui Inovasi dan Pembangunan
Kualitas SDM Tema RKP 2018
Memacu Investasi dan Infrastruktur
untuk
Pertumbuhan dan Pemerataan Tema Kebijakan
Fiskal 2018 Memantapkan Pengelolaan Fiskal
untuk
Mengakselerasi Pertumbuhan yang
Berkeadilan
Tema RKP 2022
Tema Kebijakan Fiskal 2022
Pemulihan Ekonomi dan Transformasi
Struktural
TEMA RKP 2022 SAMA DENGAN TEMA KEBIJAKAN FISKAL 2022
Pemulihan Ekonomi dan Transformasi
Struktural
Kementerian PPN/Bappenas
Usulan Tema RKP 2023
Pemantapan pembangunan dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan
ilmu dan teknologi yang terus meningkat
Percepatan pembangunan dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan
keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM
berkualitas dan berdaya saing
RPJPN 2005-2025: Indonesia yang Maju, Mandiri, Adil dan Makmur
RPJMN III (2015-2019) RPJMN IV (2020-2024)
2015
Melanjutkan Reformasi
bagi Percepatan Pembangun an Ekonomi
yang Berkeadilan
2016
Mempercep at Pembangun
an
Infrastruktur untuk Memperkuat
Fondasi Pembangun
an yang Berkualitas
2017
Memacu Pembangunan
Infrastruktur dan Ekonomi
untuk Meningkatkan
Kesempatan Kerja serta Mengurangi
Kemiskinan dan Kesenjangan Antarwilayah
2018
Memacu Investasi
dan Memantapk
an Pembangun
an Infrastruktur
untuk Percepatan Pertumbuha n Ekonomi
yang Berkualitas
2019
Pemerataan Pembangun
an untuk Pertumbuha
n Berkualitas
2020
Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM untuk Pertumbuha
n Berkualitas
2021
Mempercep at Pemulihan
Ekonomi dan Reformasi
Sosial
2022
Pemulihan Ekonomi
dan Reformasi Struktural
2023
….
Keywords: Pemulihan, Transformasi Ekonomi, Berkelanjutan, Pemerataan
7 Prioritas Nasional (PN)*
*Didukung dengan pelaksanaan Major Project
Kementerian PPN/Bappenas
SDM Berkualitas dan Berdaya Saing
Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan Pembangunan Infrastruktur
Lingkungan Hidup dan Kerentanan Bencana Memperhatikan/
mempertimbangkan kondisi:
Sebagai Prasyarat:
Transformasi Ekonomi:
Rata-rata Pertumbuhan 6% per tahun
1
Wilayah sebagai Basis Pembangunan
2 3
5
6
Kondisi Polhukhankam yang Kondusif:
• Penyederhanaan Regulasi
• Penyederhanaan Birokrasi
• Stabilitas Politik dan Pertahanan Keamanan
7 4
Didukung oleh:
Dilaksanakan melalui:
Kerangka Pikir 7 Agenda Pembangunan
Sumber: Lamp. I - Perpres No. 18/2020 tentang RPJMN 2020-2024
Tujuan, Arah Kebijakan, dan Strategi Pengembangan Wilayah RPJMN 2020-2024
Memantapkan dan mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi pascapandemi COVID-19.
Mengembangkan dan menguatkan rantai nilai industri pengolahan dan rantai nilai pariwisata.
Penguatan mitigasi bencana dan pengurangan risiko, serta pemulihan pasca bencana.
STRATEGI PERTUMBUHAN
2. Pengembangan kawasan strategis dan peningkata n investasi
TUJUAN PENGEMBANGAN WILAYAH
Kawasan Ekonomi Khusus/
Kawasan Industri/
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas
Kawasan Strategis Pariwisata Nasional
Kawasan Perkotaa n
1 . Pengembangan sektor unggulan dan peningkata n kualitas SDM
Pengembangansektor unggulan
Peningkatan kualitas SDM
Peningkatan intensitas perdagangan
antarwilayah
STRATEGI PEMERATAAN
3. Meningkatkan konektivitas di kawasan 3T disertai kebijakan afirmatif 1. Meningkatkan akses, mutu dan pelayanan dasar.
Peningkatan produktivita s
Pemulihan dan peningkatan daya beli
Penguatan konektivitas antarwilayah
2. Memperkuat pemberdayaan masyarakat dan
pengembangan
ekonomi lokal di Kawasan 3T
Pendidika
n Kesehata
n
Air
Minum Sanitasi Perumahan
Transporta
si Udara Transporta
si Laut Jalan Angkutan
Perdesaan Pemberdayaa
n Masyarakat
Pengembang an Ekonomi
Lokal
Mempercepat transformasi sosial ekonomi dengan mengoptimalkan potensi, dan keunggulan wilayah, serta percepatan pemerataan.
1. Meningkatkan pemerataan antarwilayah KBI dan KTI, serta pemerataan antara Jawa dan luar Jawa 2. Meningkatkan keunggulan kompetitif pusat-pusat
pertumbuhan wilayah
3. Meningkatkan kualitas tata kelola pelayanan dasar, daya saing, serta kemandirian daerah
4. Meningkatkan sinergi pemanfaatan ruang wilayah 5. Pendekatan Tematik, Holistik, Integratif, dan
berbasis Spasial (THIS)
ARAH KEBIJAKAN
Kementerian PPN/Bappenas
Arah Kebijakan Pembangunan Wilayah Sumatera 2020-2024
19 19
Arah Kebijakan Strategi Pengembangan
Mempercepat pemulihan industri, pariwisata, dan investasi pasca Pandemi Covid-19 melalui pengembangan kawasan strategis di Pulau Sumatera.
Pemulihan Ekonomi
Konektivi tas
Mengoptimalkan pengembangan industri hilir berbasis komoditas unggulan, khususnya di wilayah Pesisir Timur Sumatera.
Mewujudkan wilayah Sumatera menjadi pintu gerbang Indonesia dalam perdagangan internasional serta menjadi lumbung energi nasional dan lumbung pangan nasional.
Transforma si Ekonomi
Penguatan pusat-pusat pertumbuhan wilayah Mendorong operasionalisasi dan peningkatan investasi dengan memantapkan pasokan energi dan mengoptimalkan paket- paket insentif fiskal dan nonfiskal sesuai dengan potensi/tema pengembangan kawasan, utamanya di: KEK Arun Lhokseumawe, KPNPN Sabang, KI/KEK Sei Mangkei, KI Kuala Tanjung, DPP Danau Toba, KI Dumai, KI/KEK Galang Batang, KPBPB Batam, DPP Bangka Belitung/KEK Tanjung Kelayang
Penguatan konektivitas Meningkatkan konektivitas antar kawasan pengembangan, kota-kota utama, dan pusat pelayanan untuk meningkatkan jangkauan layanan dan distribusi melalui pengembangan koridor tol trans sumatera di pesisir timur, penyediaan transportasi massal perkotaan sesuai dengan kebutuhan distribusi layanan, dan pengembangan sistem transportasi wilayah multimoda di WM Medan dan WM Palembang Peningkatan ekonomi lokal Meningkatkan ekonomi lokal melalui pengembangan
industri kecil dan menengah berbasis sumber daya alam dan pariwisata serta peningkatan produktivitas budidaya pertanian, perkebunan, dan perikanan khususnya usaha rakyat.
Peningkatan kualitas SDM Meningkatkan kualitas dan ketersediaan SDM untuk mendukung pengembangan kawasan pertumbuhan melalui pengembangan BLK dan sekolah vokasi.
Peningkatan pelayanan dasar Mendorong percepatan pembangunan pada kawasan daerah tertinggal, perbatasan, dan pulau-pulau terluar dengan menerapkan Standar Pelayanan Minimum dan perluasan jaringan listrik, telekomunikasi, dan bandara perintis (bandara/jalur penerbangan perintis), serta infrastruktur dasar lainnya, serta peningkatan akses dan mutu layanan Pendidikan dan kesehatan.
Penanggulangan bencana Meningkatkan sarana dan prasarana pencegahan dan mitigasi resiko bencana
Meningkatkan pemerataan
pembangunan wilayah Pesisir Barat Sumatera.
Pemerataa n wilayah
Penangan an
bencana
Menguatkan kapasitas mitigasi dan penanganan bencana.
19
Lhokseuma we Langsa Sabang
Banda Aceh
Gunungsitol i
Sibolga
Bukittinggi Padang
Solok
Lubuklingga u
Bengkulu
Bandar Lampung Pematang
Siantar
KI Dumai
Pekanbaru Batam
Tanjung Pinang
Jambi
Pangkal Pinang
Prabumulih SKPT Natuna
SKPT Mentawai SKPT Sabang
Selat Sunda KPBPB
Sabang PKSN Sabang
KEK/KI Arun Lhoksumawe
KEK/KI Sei Mangkei DPP
Danau Toba
PKSN Bengkalis
PKSN Ranai
KEK/KI Galang Batang KPBPB Batam – Bintan -
Karimun
KEK Tanjung Kelayang
DPP Bangka Belitung WM
Palembang Aceh Besar
Gayo Lues Biruen
ARAH PENGEMBANGAN
WILAYAH SUMATERA TAHUN 2022
Wilayah
Metropolitan (WM) KI/KEK/KPBPB
Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT)
Pusat Kegiatan Strategis Nasional Destinasi
Pariwisata Prioritas (DPP)
Koridor Pertumbuhan Koridor Pemerataan Kota Besar
Kota Sedang Kota Kecil
Kabupaten Pengembangan Alternatif
Koridor Pembangunan
MAJOR PROJECT PRIORITAS RKP 2022
MP 18 Pendidikan dan Pelatihan Vokasi untuk Industri 4.0
MP 18 Integrasi Bantuan Sosial menuju Skema Perlindungan Sosial Menyeluruh
SEKTOR PERLINDUNGAN SOSIAL
MP 8 Pembangunan Energi Terbarukan Green Fuel Berbasis Kelapa Sawit
MP 21 Reformasi Sistem Kesehatan Nasional
MP 22 Penurunan Kematian Ibu dan Stunting
SISTEM KESEHATAN NASIONAL
PEMBANGUNAN RENDAH KARBON
SEKTOR KETAHANAN PANGAN MP 1 Revitalisasi Tambak di Kawasan Sentra Produksi Udang dan Bandeng
SEKTOR PENDIDIKAN DAN KETERAMPILAN
MP 5 9 Kawasan Industri dan 31 Smelter
SEKTOR INDUSTRI
MP 4 Industri 4.0 di 6 Sub Sektor Prioritas
MP 39 Pembangunan dan Pengembangan Kilang Minyak
MP 14 Pembangunan Wilayah Batam – Bintan
MP 10 Wilayah Metropolitan (WM)
MP 44 Penguatan Sistem Peringatan Dini Bencana MP 16 Reforma Agraria
MP 29 Jaringan Pelabuhan Utama Terpadu
SEKTOR
INFRASTRUKTUR
MP 33 Sistem Angkutan Umum Massal Perkotaan di 6 Wilayah Metropolitan
MP 26 Jalan Tol Trans Sumatera Aceh
MP 27 Jalan Trans 18 Pulau 3T
MP 38 Pipa Gas Bumi Trans Kalimantan (2.219 KM)
Sasaran Pertumbuhan Wilayah Sumatera
2020* 2021** RA RKP2022***
LPE
(%) -1,2 4,6 4,9 – 5,4
Share 21,4 21,2 21,2
Kementerian PPN/Bappenas
1. UU No. 25 Tahun 2004 tentang SPPN, Pasal 5 Ayat 3.
RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan
mengacu pada RKP , memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja, dan pendanaannya,...
2. UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Pasal 256 Ayat 4.
RKPD disusun dengan berpedoman pada
Rencana Kerja Pemerintah dan program strategis nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat....
3. Permendagri 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi
Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang RPJPD dan RPJMD, Serta Tata Cara Perubahan RPJPD, RPJMD, dan RKPD, Pasal 12 Ayat 3.
RKPD disusun dengan berpedoman pada
Rencana Kerja Pemerintah dan program strategis nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat....
Dasar Hukum Sinkronisasi RKP dengan RKPD
Sasaran Pembangunan
Sasaran Pembangunan
Tema Pembangunan
Tema Pembangunan
Arah Kebijakan Arah Kebijakan
Strategi Pembangunan
(Fokus) Strategi Pembangunan
(Fokus)
• Evaluasi RKP;
• Kerangka Ekonomi Makro (sasaran pembangunan wilayah);
• Strategi Pengembangan Wilayah (target pengembangan wilayah);
• Strategi Pendaan Pembangunan.
• Evaluasi RKP;
• Kerangka Ekonomi Makro (sasaran pembangunan wilayah);
• Strategi Pengembangan Wilayah (target pengembangan wilayah);
• Strategi Pendaan Pembangunan.
Ruang lingkup yang diacu/dipedomani oleh RKPD
Struktur RKP 2023
PRIORITAS PEMBANGUNAN
1. Prioritas Nasional (sasaran, indikator, target);
2. Program Prioritas (sasaran, indikator, target);
3. Kegiatan Prioritas (sasaran, indikator, target);
4. Proyek Prioritas (sasaran, indikator, target);
• Major Project/MP (urgensi, struktur, indikator, target, alokasi, lokasi, instansi pelaksana); dan
• Proyek prioritas (BUMN-Swasta)/Rincian Output APBN (RM-DAK-KPBU-PHLN-SBSN) yang mendukung MP.
• Kerangka Kelembagaan PN
• Kerangka Regulasi PN
• Kerangka Kelembagaan PN
• Kerangka Regulasi PN
Ruang Lingkup Struktur RKP 2023 yang
Dapat Diacu oleh RKPD 2023
Pola Perdagangan antar wilayah Sumatera Utara 2019
• Perdagangan Provinsi Sumatera Utara mengalami deficit tahun 2019 sebesar Rp. 30 triliun
• Pembelian dari luar provinsi terbesar berasal dari Kalimantan Barat, DKI Jakarta, dengan Komoditas nilai perdagangan terbesar yang masuk ke Provinsi Sumatera Utara adalah kimia lainnya ytdl seperti calcium, hypochlorite, alumunium sulphate, dan perchloric
• Penjualan ke luar luar provinsi terbesar ke Aceh, Riau, dan DKI Jakarta, dengan Sedangkan komoditas dengan nilai perdagangan terbesar yang keluar dari Provinsi Sumatera Utara adalah minyak kelapa sawit (CPO)
Sumber: Perdagangan Antar Wilayah 2020, BPS
Kementerian PPN/Bappenas
2,93 70,02
Aliran input Antara ke Sumatera Utara [proporsi input antara terhadap Total Input Antara]
Aliran Output dari Sumatera Utara [proporsi output terhadap total permintaan antara]
2,19
2,90
0,97 1,75
1,1
2,15 0,98
2,78 3,29
1,27 Papua Parat
3,78 1,20
1,72
1,55 2,20
0,20
0,22 1,30
• Kebutuhan Input untuk kegiatan produksi di Sumatera Utara terbesar berasal dari Sumatera Utara sendiri [70,02%], impor domestik [22,02 %], dan Impor Luar Negeri sebesar [7,95%]
• Output Sumatera Utara untuk pemenuhan permintaan antara, terbesar di Sumatera Utara
[82,15%] dan provinsi lain [17,85%]
• Pola perdagangan antar wilayah, dari sisi Output maupun Inpu.
Perdagangan Sumatera Utara sangat kuat dengan provinsi di wilayah Jawa_Bali (DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur) dan wilayah Sumatera (Riau, Sumatera Selatan, Aceh)
82,15
Pola Aliran Output [Permintaan Antara]-Input Antara
Sumatera Utara IRIO 2016 (%)
Keterkaitan Daerah Perekonomian Sumatera Utara
Keterkaitan ke Belakang dan Keterkaitan ke Depan
24
11. Aceh 24
13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Kep. Bangka Belitung 21. Kep. Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. DI Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 65. Kalimantan Utara 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 94. Papua
- 0.005 0.010 0.015 0.020 0.025 0.030 0.035 0.040 0.045 0.050 0.025
0.039 0.045 0.030
0.033
Keterkaitan Ke Belakang Sumatera Utara dengan Provinsi Lain
Keterkaitan ke belakang Sumatera Utara paling kuat dengan Provinsi DKI Jakarta, Riau, Banten, Jawa Timur dan
Aceh.
Keterkaitan ke belakang Sumatera Utara paling kuat dengan Provinsi DKI Jakarta, Riau, Banten, Jawa Timur dan
Aceh.
Keterkaitan ke depan Sumatera Utara paling kuat
dengan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Riau,
Banten, dan Aceh.
Keterkaitan ke depan Sumatera Utara paling kuat
dengan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Riau,
Banten, dan Aceh.
Keterkaitan ke belakang (backward linkages) adalah keterkaitan suatu sektor atau daerah terhadap sektor atau daerah lain yang
menyumbang input kepadanya. Ukuran untuk melihat keterkaitan ke belakang ekonomi digunakan indeks daya penyebaran.
Keterkaitan ke depan (forward linkages) adalah keterkaitan suatu sektor atau daerah yang menghasilkan output untuk digunakan sebagai input bagi sektor atau daerah lain. Ukuran untuk melihat keterkaitan ke depan ekonomi
digunakan indeks derajat kepekaan.
Sumber: BPS. Data IRIO 2016 diolah.
Keterkaitan Antarsektor Perekonomian Sumatera Utara
Keterkaitan ke Belakang dan Keterkaitan ke Depan
25 25 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya
0.000 2.000 4.000 6.000 8.000
7.313 6.797 6.685 6.613
Indeks Backward Linkage Sektor di Sumatera Utara
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya
- 2.0000 4.0000 6.0000 8.0000 10.0000 12.0000
Indeks Forward Linkages Sektor di Sumatera Utara
Sektor yang memiliki keterkaitan kedepan paling kuat di Sumatera Utara: sektor Pengadaan listrik dan gas, sektor jasa perusahaan, dan sektor pertanian, kehutanan,
dan perikanan
Sektor yang memiliki keterkaitan kedepan paling kuat di Sumatera Utara: sektor Pengadaan listrik dan gas, sektor jasa perusahaan, dan sektor pertanian, kehutanan,
dan perikanan Sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang paling kuat di Sumatera Utara:
industri pengolahan, sektor pengadaan lsitrik dan gas, sektor konstruksi, dan penyediaan akomodasi dan makan minum
Sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang paling kuat di Sumatera Utara:
industri pengolahan, sektor pengadaan lsitrik dan gas, sektor konstruksi, dan penyediaan akomodasi dan makan minum
Sumber: BPS. Data IO 2016 diolah.
Angka Pengganda (Multiplier Effect) Sumatera Utara
Perbandingan Antarprovinsi Berdasarkan Tabel IRIO 2016
26 26 Sumber: BPS. Data IRIO 2016 diolah.
11. Aceh 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Kep. Bangka Belitung 21. Kep. Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. DI Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 65. Kalimantan Utara 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 94. Papua
- 1.0000 2.0000
1.7142 1.8599 1.6809
1.7165 1.7506
1.8332 1.7162 1.6642 1.6517 1.4169
1.5412 1.7744 1.7771 1.7775 1.6625 1.5957
1.7463 1.6928 1.6928 1.7928
1.8827 1.6735 1.6875 1.6189
1.6904 1.6634 1.7046 1.5475
1.6599 1.6624 1.5879 1.5755
1.7668 1.5947
Multiplier Pendapatan
11. Aceh 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Kep. Bangka Belitung 21. Kep. Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. DI Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 65. Kalimantan Utara 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 94. Papua
- 1.0000 2.0000 3.0000 1.6599
1.8864 1.6305
1.7208 1.7152 1.8702 1.6602 1.6509 1.5918 1.3697
1.5275 1.7784 1.8037 1.7781 1.6260
1.7436 1.7010 1.6121
1.6487 1.8477
1.9295 1.8077 1.7737 1.5137
1.5954 1.7049 1.7053 1.5135
1.5848 1.6177 1.6020 1.5581
1.8153 1.6317
Multiplier Output
11. Aceh 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Kep. Bangka Belitung 21. Kep. Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. DI Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 65. Kalimantan Utara 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 94. Papua
- 1.0000 2.0000 3.0000 1.6872
1.8936 1.6578
1.7030 1.7324 1.8421 1.6885 1.6541 1.6264 1.4327
1.5449 1.7804 1.7955 1.7661 1.6538 1.6139 1.7352 1.6671 1.6620 1.7976
1.9100 1.6601
1.6887 1.5772
1.6740 1.6494 1.6885 1.5123
1.6305 1.6333 1.5524 1.5459 1.7585 1.5653
Multiplier Nilai Tambah Bruto
11. Aceh 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Kep. Bangka Belitung 21. Kep. Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. DI Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 65. Kalimantan Utara 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 94. Papua
- 1.0000 2.0000 3.0000 1.5543
1.8434 1.5537
1.8443 1.6526
1.8056 1.5071
1.5780 1.5850 1.7188
2.0499 1.7568 1.6722 1.6005
1.6369 1.6533 1.6516 1.5129 1.4344
1.6121 1.7921 1.5793
2.0299 1.8223 1.6040 1.5399
1.6477 1.4137
1.5010 1.4847 1.3994
1.4435 1.8602 1.4963
Multiplier Tenaga Kerja Multiplier Tenaga Kerja Multiplier Nilai Tambah Bruto
11. Aceh 12. Sumatera Utara 13. Sumatera Barat 14. Riau 15. Jambi 16. Sumatera Selatan 17. Bengkulu 18. Lampung 19. Kep. Bangka Belitung 21. Kep. Riau 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. DI Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten 51. Bali 52. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Timur 65. Kalimantan Utara 71. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tengah 73. Sulawesi Selatan 74. Sulawesi Tenggara 75. Gorontalo 76. Sulawesi Barat 81. Maluku 82. Maluku Utara 91. Papua Barat 94. Papua
- 1.0000 2.0000 3.0000 1.6599
1.8864 1.6305
1.7208 1.7152 1.8702 1.6602 1.6509 1.5918 1.3697
1.5275 1.7784
1.8037 1.7781 1.6260
1.7436 1.7010 1.6121
1.6487 1.8477
1.9295 1.8077 1.7737 1.5137
1.5954 1.7049 1.7053 1.5135
1.5848 1.6177 1.6020 1.5581 1.8153 1.6317
Multiplier Output
Multiplier Output
Multiplier Pendapatan
Angka Pengganda (Multiplier Effect) Sumatera Utara
Perbandingan Antarsektor Berdasarkan Tabel IO 2016
27 27 Sumber: BPS. Data IO 2016 diolah.
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya
0.0000 1.0000 2.0000 1.2667
1.4229 1.7847 1.6586 1.4723
1.6313 1.3196
1.5021 1.6138 1.3591 1.1918
1.2201 1.3962 1.3875 1.2986
1.4768 1.4010
Multiplier Output
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya
0.0000 1.0000 2.0000 3.0000 1.2048
1.4226 2.1712
2.5880 1.4202
1.7373 1.2334
1.5488 1.7733 1.2893 1.1254
1.1857 1.3250 1.3131 1.2271
1.4939 1.3525
Multiplier Nilai Tambah
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya
0.0000 2.0000 4.0000 6.0000 8.0000 1.1296
1.6858
5.8226 3.4914 1.3794
2.3721 1.1496
1.5457 1.7620
1.9069 1.3047
2.9843 1.6179 1.1984 1.1799 1.3996 1.2450
Multiplier Tenaga Kerja
Multiplier Output Multiplier Nilai Tambah Bruto Multiplier Tenaga Kerja
Sektro Prioritas Perekonomian Sumatera Utara
Indeks Daya Penyebaran dan Indeks Derajat Kepekaan
28 28 Sumber: BPS. Data IO 2016 diolah.
IDEKS DERAJAT KEPEKAAN (Forward Linkages)
Rendah [< 1] Tinggi [> 1]
INDE KS DAY
A PEN ARA YEB N (Bac kwa Link rd ages
)
Tinggi [>1]
• Pengadaan air, Pengolahan Sampah, Limabah dan Daur Ulang
• Konstruksi
• Jasa Kesehatan dan kegiatan sosial
• Industri Pengolahan
• Pengadaan Listrik dan Gas
• Transportasi dan Pergudangan
Rend ah [<1]
• Pertambangan dan penggalian
• Informasi dan Komunikasi
• Jasa Keuangan dan Asuransi
• Real Estate
• Jasa Perusahaan
• Adm. Pemerintahan
• Jasa Pendidikan
• Jasa lainnya
• Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
• Perdagangan besar dan eceran
Sektor Industri Pengolahan, sektor Pengadaan listrik dan gas, dan sektor transportasi dan pergudangan
merupakan sektor strategis untuk mendorong perekonomian Sumatera Utara. kedua sektor tersebut memiliki
dampak penyebaran pada sektor hulu atau sektor input produksi dan output keduanya menjadi input sektor lain
atau sektor hilir
Kemiskinana di Sumatera Utara relative rendah….
• Kemiskinan Sumatera Utara di bawah rata-rata nasional, dengan
perkembangan kemiskinan 2015-2021 cenderung menurun,
• Tingkat kemiskinan di perdesaan dan perkotaan relatif sama, pada tahun 2021 perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan
• Kemiskinan masih
permasalahan utama di beberapa wilayah
kabupaten, kemiskinan tertinggi di Kabupaten Nias Utara dan Nias Barat
>25 persen
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
0 2 4 6 8 10 12
Perkembangan Kemiskinan Perkotaan dan Perdesaan di Sumatera Utara
Perkotaan Perdesaan
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
0 2 4 6 8 10 12
Perkembangan Peresentase Penduduk Miskin Sumatera Utara 2015-2021 (maret)
SUMATERA UTARA INDONESIA
Peresentase Penduduk Miskin Kabupaten/Kotas
di Sumatera Utara 2015-2021 (maret
Pengangguran Terbuka di Sumatera Utara rendah, namun cenderung meningkat…
• Kondisi Pengangguran Terbuka di Sumatera Utara lebih rendah dibawah rata-rata nasional,
• Trend Pengangguran Terbuka cenderung meningkat, peningkatan pengangguran di tahun 2020 seiring dengan Pandemi Covid 19 (PHK, kehilangan lapangan pekerjaan)
• Secara spasial TPT di Kota Medan, Kabupaten Tebing Tinggi, dan Pematang Siantar masih tinggi dibandingkan kabupaten lainnya di Sumatera Utara
Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten/Kota di Sumatera Utara 2019
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
- 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka Sumatera Utara Tahun 2015-2021
Sumatera Utara Indonesia
Indek Pembangunan Manusia Sumatera Utara
• Kondisi SDM di Gorontalo relatif lebih rendah dibandingkan -rata nasional dan provinsi di wilayah Sumatera
• Secara spasial masih terdapat wilayah Kabupaten dengan IPM masih rendah di kabupaten Nias Barat, Nias Selatan, Nias Utara, Nias, Mandailing Natal, dan Pakpak Bharat
IPM Kabupaten/Kota di Sumatera Utara 2021
ACEH
SUMATERA UTARA
SUMATERA BARAT
RIAU
JAMBI
SUMATERA SELATAN
BENGKULU
LAMPUNG
KEP. BANGKA BELITUNG
KEP. RIAU
INDONESIA 66.00
68.00 70.00 72.00 74.00 76.00 78.00
72.00 72.29
IPM Provinsi di Wilayah Sumatera 2021
Sinkronisasi RKP dan
RKPD Tahun 2023
Kementerian PPN/Bappenas
Dasar Hukum Penyelarasan
DAERAH
PROGRAM/
KEGIATAN
PUSAT
PRIORITAS PEMBANGUNAN RUJUKAN
USULAN
UU 23/2014
Pembangunan Daerah bagian integral dari pembangunan nasional;
Kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh Daerah merupakan bagian integral dari kebijakan nasional
UU 25/2004
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan di tingkat Pusat dan Daerah
INDIKATOR - TARGET
•Pasal 5 ayat (2) UU SPPN, “RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. “
•Pasal 263 ayat (3) UU Pemda “RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah yang memuat tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, pembangunan Daerah dan keuangan Daerah, serta program Perangkat Daerah dan lintas Perangkat Daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang disusun dengan berpedoman pada RPJPD dan RPJMN.”
•Pasal 272 ayat (3) UU Pemda “Pencapaian sasaran, program, dan kegiatan pembangunan dalam rencana strategis perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselaraskan dengan pencapaian sasaran, program, dan kegiatan pembangunan yang ditetapkan dalam rencana strategis kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian untuk tercapainya sasaran pembangunan nasional.”
Kementerian PPN/Bappenas
Pendekatan Penyelarasan
Perencanaan Nasional dan Daerah
Prioritas Nasional
Program dan Kegiatan Prioritas
Langkah yang perlu dilakukan:
1.Pemerintah daerah mengidentifikasi pokok- pokok program, kegiatan dan output prioritas
nasional dalam RPJMN;
2.Pemerintah Daerah melakukan pemetaan program, kegiatan dan output dalam RPJMD dan Renstra SKPD 2023-2026 yang sesuai dengan
program, kegiatan dan output dalam RPJMN 2020-2024
3.Pemerintah Daerah
menegaskan dalam narasi
dan matriks RPJMD dan
Renstra 2023-2026
tentang dukungan
terhadap prioritas
nasional.
Kementerian PPN/Bappenas
Alur Pikir Perencanaan Pembangunan
36
Alur Substansi Rakortekrenbang
RAKORTEKRENBANG
Kementerian PPN/Bappenas
TRANFORMASI DAN AKUMULASI
… Pengembangan Industri dan Penguatan Rantai Nilai di Daerah…
Input
produksi Produksi Pasar
Ekspor Pengolahan Distribusi Logistik dan
Transportasi
Lokal
1. UMKM 2. Swasta 3. Kemeperin
4. Kemenristek/BPPT 5. Kemen BUMN 6. Dinas Pertanian 7. Dinas Perindustrian
1. Pergudangan 2. Jalan dan Jembatan 3. Angkutan Kapal 4. Angkutan Udara 5. Angkutan Sungai, Laut dan Danau
1. Pergudangan 2. Bandara dan
Angkutan Udara 3. Pelabuhan dan
Angkutan Laut
1. Informasi pasar 2. Promosi
3. Kerjasama Pembiayaan dan Pemasaran 1. Air Bersih
2. Listrik
3. Tenaga Terdidik dan Terlatih
4. Peralatan dan Mesin 5. Teknologi
Akumulasi Nilai Tambah, Pendapatan, Surplus dan Tabungan Akumulasi Nilai Tambah, Pendapatan, Surplus dan Tabungan
1. Lahan 2. Benih/Bibit 3. Pupuk 4. Pestisida 5. Tenaga Kerja 6. Peralatan 7. Teknologi
1. Petani 2. Nelayan 3. UMKM
4. Dinas Pertanian 5. Dinas Kelautan 6. Dinas Tata Ruang 7. Kementan 8. KemenKelautan 9. Kemen ATR/BPN 10.BUMN
11.Perusahaan
1. Kemenhub 2. KemenPUPera 3. Kemendag 4. BUMN
5. Dinas Perhubungan 6. Dinas Perdagangan 1. KemenPUPera
2. Kemenhub
3. Dinas Perhubungan
Komoditas Unggulan:
Pertanian: Padi, Jagung, Ubi Kayu, dll
Perkebunan: Sawit, Kelapa, Kakao, Tebu, dll Perikanan: rumput laut, ikan, udang, dll Industri: IRT, Industri Pengolahan
Pertambangan: migas dan non migas
Pariwisata: wisata alam, budaya, religi, kuliner, dll
1. Kemenhub 2. Kemendag 3. Kemenlu 4. Bea Cukai 5. BUMN
6. Dinas Perhubungan 7. Dinas Perdagangan
Tugas dan Peran Bappenas, KL dan Bappeda:
1.Memetakan rantai nilai (value chain) setiap kawasan 2.Menganalisis hambatan (bottlenecks) dan penyebabnya 3.Memahami perilaku masyarakat, Pemda dan Pelaku Usaha.
4.Mengidentifikasi dan menganalisis kegiatan dan output prioritas K/L dan Pemda untuk mengatasi hambatan dalam pengembangan rantai nilai.
5.Merumuskan kegiatan dan output prioritas dengan memperhtitungkan kerangka regiulasi, kerangka organisasi dan kerangka investasi.
Transformasi Digital
1. Satu Data Satu Peta
2. RTRW 3. KLHS
4. Kajian dan Peta Risiko Bencana 5. Kajian Neraca
Air
6. Kajian dan Peta
Sosial Budaya
Kementerian PPN/Bappenas
TRANFORMASI DAN AKUMULASI
… Pengembangan Industri dan Penguatan Rantai Nilai di Daerah…
Rencana
Wisata Transportasi Transportasi
Internasional Akomodasi Destinasi
dan Atraksi
Pasar dan Pusat Perbelanjaan
Domestik
1. UMKM 2. Swasta 3. Kemenpar 4. Kemen BUMN 5. Dinas Pariwisata 6. Dinas ESDM 7. Dinas PU 8. Dinas Kominfo
1. Festival Seni dan Budaya 2. Festival Keagamaan 3. Festival Kuliner 4. Atraksi Wisata 5. Kompetisi Olah Raga 1. Intermoda
2. Angkutan Darat 3. Bandara dan
Angkutan Udara 4. Pelabuhan dan
Angkutan Laut
1. Industri Kerajjinan 2. Industri Rumah
Tangga
3. Industri Tekstil 4. Industri Makanan
dan Minumamn 1. Hotel dan Motel
2. Air Bersih 3. Listrik 4. Internet
5. Tenaga Terdidik dan Terlatih
Akumulasi Nilai Tambah, Pendapatan, Surplus dan Tabungan Akumulasi Nilai Tambah, Pendapatan, Surplus dan Tabungan
1. Kemenhub 2. KemenPUPera 3. BUMN
4. BUMD
5. Dinas Pariwisata 6. Dinas Perhubungan 7. Dinas PU
8. Dinas Perdagangan
Pariwisata Unggulan:
1.Wisata Alama 2.Wisata Bahari 3.Wisata Kuliner 4.Wisata Religi 5.Wisata Budaya 6.Wisata Sejarah 7.Wisata Olah Raga
1. UMKM 2. Pelaku Usaha 3. Dinas Perindag 4. Dinas Pertanian 5. Dinas Perikanan 6. Kemendag 7. Bea Cukai 8. BUMN
Transformasi Digital
Amenitas:
Kuliner dan Hiburan
1. Wisata Alama 2. Wisata Bahari 3. Wisata Kuliner 4. Wisata Religi 5. Wisata Budaya 6. Wisata Olah Raga
1. Pemerintah Desa 2. UMKM
3. Pelaku Usaha 4. Dinas Kepemudaan dan Olah Raga 5. Dinas Pertanian 6. Dinas KKP 7. Kemen Dikbud 8. KemenPariwisata 1. Pemerintah Desa
2. UMKM 3. Pelaku Usaha 4. Dinas Kepemudaan dan Olah Raga 5. Dinas Pertanian 6. Dinas KKP 7. Kemen Dikbud 8. KemenPariwisata