PUSKESMAS MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2022
PROPOSAL RISET
Oleh:
WULAN FITRI ZAHRA NIM: 19154011027
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YPIB
PUSKESMAS MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2022
PROPOSAL RISET
Diajukan Sebagai Salah Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Program Diploma III Kebidanan
Oleh:
WULAN FITRI ZAHRA NIM: 19154011027
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YPIB
MAJALENGKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia ini dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2009, tentang Kesejahteraan Sosial, Undang – undang Nomor 36 Tahun 2009, tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, Rencana Aksi Nasional Kesejahteraan Lanjut Usia tahun 2010-2014 yang disusun dibawah koordinasi Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat dan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 52.
Tahun 2004 Tentang Komisi Nasional Lanjut Usia (Kemenkes RI, 2020).
Adapun program Kementerian Kesehatan dalam upaya untuk meningkatkan status kesehatan para lanjut usia adalah peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para lanjut usia di pelayanan kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok lanjut usia melalui konsep Puskesmas Santun Lanjut Usia. Saat ini data yang masuk di Kementerian Kesehatan baru terdapat 437 Puskesmas Santun lanjut usia. Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lanjut usia melalui pengembangan Poliklinik Geriatri di Rumah Sakit, peningkatan penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan dan gizi bagi usia lanjut dan sudah disosialisasikan Program Kesehatan lanjut usia ini ke semua provinsi, pemberdayaan masyarakat
1
melalui pengembangan dan pembinaan kelompok usia lanjut di masyarakat.
(Kemenkes RI, 2020).
Lansia merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia adalah seseorang yang telah berusia >60 tahun dan tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari (Ratnawati, 2017).
Menurut WHO (2020) di seluruh dunia jumlah lansia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Menurut data proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukan jumlah penduduk lanjut usia sama dengan jumlah balita, yaitu 8,5% dari jumlah penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Pada tahun 2020 jumlah lansia mencapai 29 juta orang atau 11% dari total populasi.
Angka kesakitan penduduk lansia tahun 2018 sebesar 31,11%, tahun 2019 sebesar 30,46% dan tahun 2020 sebesar 26,93% artinya bahwa dari setiap 100 orang lansia terdapat 27 orang di antaranya mengalami sakit. Bila dilihat perkembangannya dari tahun 2015-2020, derajat kesehatan penduduk lansia mengalami peningkatan yang ditandai dengan menurunnya angka kesakitan pada lansia (Kemenkes RI, 2020).
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melaporkan bahwa jumlah penduduk lansia pada tahun tahun 2018 sebanyak 24.036 jiwa, tahun 2019 sebanyak 21.941 jiwa dan tahun 2020 sebanyak 29.742 jiwa. Angka kesakitan pada lansia di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2020 mencapai 11,7%. Jenis keluhan yang dialami lansia di antaranya keluhan yang merupakan efek dari
penyakit kronis seperti asam urat, darah tinggi, rematik, darah rendah dan diabetes (Profil Dinkes Jawa Barat, 2020).
Di Kabupaten Majalengka pada tahun 2020 jumlah lansia sebanyak 148.493 orang. Angka kesakitan pada lansia di Kabupaten Majalengka pada tahun 2020 sebesar 134.846 orang. Gangguan kesehatan pada lansia berdasarkan data tahun 2020 adalah anemia (0,21%), kencing manis (1,86%), gangguan ginjal (0,18), hipertensi (22,4%), rematoid arthritis (6,38%), myalgia (10,1%), IPSA (6,42%), jantung (0,29%), gangguan mental emosional (3,3%) dan penyakit lainnya (48,8%) (Profil Dinkes Majalengka, 2020).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka tahun 2020 didapatkan jumlah lansia terbanyak yaitu berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cikijing yaitu sebesar 41.536 lansia urutan kedua yaitu di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka sebanyak 39.276 lansia dan yang mengalami gangguan kesehatan fisik sebanyak 34,2%. Masalah kualitas hidup lanisa di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka dapat dilihat dari adanya gangguan kesehatan dan gangguan fisik pada lanisa seperti penyakit anemia sebanyak (0,19%), kencing manis (7,08%), gangguan ginjal (0,23%), hipertensi (27,2%), rematoid arthritis (31,6%), myalgia (20,3%), ISPA (8,51%), gangguan mental emosional (0,43%) dan penyakit lainnya (4,49%).
Hasil studi pendahuluan dengan cara wawancara dan observasi terhadap 10 lansia di UPTD Puskesmas Majalengka didapatkan sebanyak 3 orang (30%) mengalami gangguan fisik dan sebanyak 5 orang (50%) mengalami gangguan fungsi kognitif (sering lupa dan inteletual rendah) dan 2 orang
(20%) lansia kurang berinteraksi social, seperti kurang pergaulan dengan lingkungan sekitar, banyak lansia tidak mengikuti kegiatan posyandu lansia.
Dari 5 lansia yang mengalami ganguan fungsi kognitif, didapatkan data bahwa lansia tersebut mengalami demensia ringan hingga sedang. Berdasarkan wawancara peneliti dengan lansia tersebut, lansia hanya suka mengahabiskan waktu dirumah, daripada untuk pergi ke sawah atau hanya sekedar untuk berjalan-jalan. Peneliti melakukan studi pendahuluan ini dengan memberikan kuesioner MMSE (Mini Mental State Exam) pada 5 lansia tersebut, dan didapatkan hasil bahwa 3 orang lansia mengalami demensia sedang, 2 orang lansia mengalami demensia ringan.
Seiring dengan usia yang semakin bertambah, lansia mengalami beberapa masalah dalam kehidupan dimana penurunan aspek kesehatan terjadi secara alamiah pada lansia, serta aspek psikologis dimana menurunnya fungsi dan peranan sosialnya menyebabkan terbatasnya kesempatan dalam memperoleh kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendapatan, dan mobilitas dimasyarakat (Padella, 2017). Saat memasuki usia pra lansia rendahnya tingkat aktifitas fisik dapat mempengaruhi fungsi kognitif. Pernyataan ini juga diperkuat dalam penelitian Cumming (2018) yang menyatakan bahwa aktifitas fisik juga dapat melindungi kesehatan otak di usia tua. Menurut Nouchi dan Kawashima, (2014) beberapa faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, faktor kesehatan dan aktifitas fisik.
Kemunduran fungsi kognitif dapat dicegah dengan aktifitas fisik.
Aktifitas fisik termasuk latihan ketahanan dan berjalan dapat meningkatkan
fungsi kognitif pada orang dewasa tua. Aktifitas fisik dapat meningkatkan vaskularisasi darah di otak yang bermanfaat sebagai neuroprotective (Oktafina, 2019).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Aktifitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Pada Lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalenggka Tahun 2022”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalenggka Tahun 2022
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2022.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran aktifitas fisik pada lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalenggka Tahun 2022 b. Diketahuinya gambaran fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2022
c. Diketahuinya hubungan antara aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2022
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi PKM Majalengka
Menjadi bahan informasi dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada lansia serta menkaji aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka 2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk memperkaya ilmu dalam pembelajaran dikampus.
3. Keluarga Pasien
Sebagai bahan informasi dan menambah wawasan keluarga tentang hubungan antara aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia
4. Bagi STIKes YPIB Majalengka
Diharapkan penelitian ini akan menambah literatur, sebagai dasar penelitian khususnya hubungan antara aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia dan sebagai bahan kajian ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam pembelajaran metodologi penelitian.
5. Bagi Peneliti Lain
Sebagai sumber informasi bagi peneliti lain dan bahan perbandingan penelitian sejenis khususnya tentang hubungan antara aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia
BAB II
TINAJUAN PUSTAKA
A. Lansia
1. Pengertian
Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai umur 60 tahun keatas karena adanya proses penuaan berakibat menimbulkan berbagai masalah kesejahteraan di hari tua, kecuali bila umur tersebut atau proses menua itu terjadi lebih awal dilihat dari kondisi fisik, mental dan sosial (Mangoenprasodjo, 2016).
Lanjut usia atau menjadi tua adalah adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Prosese menua merupakan proses sepanjang hidup, tidaka hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan (Maryam, 2015).
Lanjut usia adalah seseorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih berkemampuan (potensial) maupun karena sesuatu hal tidak lagi mampu berperan secara aktif dalam pembangunan (tidak potensial) (Kemenkes RI. 2019).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulakn bahwa lansia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, sikap, perubahan akan memberikan pengaruh pada keseluruhan aspek kehidupan termasuk kesehatan.
7
2. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia, menurut Kemenkes RI (2019) adalah sebagai berikut :
a. Pralansia (prasenilis), yaitu seseorang yang berusia antara 45 – 59 tahun.
b. Lansia, yaitu orang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi, yaitu orang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorangberusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d. Lansia potensial, yaitu lansia yang masih mampu melakukan perkerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang / jasa.
e. Lansia tidak potensial, yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
Batasan - batasan lansia menurut WHO (dalam Nugroho, 2015) mengelompokkan lansia menjadi empat kelompok yaitu meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 – 59 tahun.
b. Usia lanjut (erderly), ialah kelompok antara usia 60 – 70 tahun.
c. Usia lanjut tua (old), ialah kelompok antara usia 70 – 75 tahun.
d. Usia sangat tua (very old), ialah kelompok usia diatas 90 tahun.
3. Tipe-tipe Lansia
Pada umumnya lansia lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah sendiri daripada tinggal bersama anaknya. Menurut Nugroho (2015) adalah:
a. Tipe Arif Bijaksana: Yaitu tipe kaya pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, ramah, rendah hati, menjadi panutan.
b. Tipe Mandiri: Yaitu tipe bersifat selektif terhadap pekerjaan, mempunyai kegiatan.
c. Tipe Tidak Puas: Yaitu tipe konflik lahir batin, menentang proses penuaan yang menyebabkan hilangnya kecantikan, daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, jabatan, teman.
d. Tipe Pasrah: Yaitu lansia yang menerima dan menunggu nasib baik.
e. Tipe Bingung: Yaitu lansia yang kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, pasif, dan kaget.
4. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua.
Dari ujung rambut sampai ujung kaki mengalami perubahan dengan makin bertambahnya umur. Menurut Nugroho (2015) perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut:
a. Perubahan Fisik
1) Sel. Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.
2) Sistem Persyarafan. Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat otak menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh terhadap dingin rendah, kurang sensitive terhadap sentuhan.
3) Sistem Penglihatan. Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis, daya membedakan warna menurun.
4) Sistem Pendengaran. Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara atau nada yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
5) Sistem Cardiovaskuler. Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan jantung menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi perubahan posisidari tidur ke duduk (duduk ke berdiri)bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65mmHg dan tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistole normal ±170 mmHg, diastole normal ± 95 mmHg.
6) Sistem pengaturan temperatur tubuh. Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi beberapa factor yang mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain:
Temperatur tubuh menurun, keterbatasan reflek menggigildan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.
7) Sistem Respirasi. Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan kedalaman nafas turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya aktifitas silia), O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak berganti.
8) Sistem Gastrointestinal. Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi absorbsi menurun.
9) Sistem Genitourinaria. Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun sampai 200 mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi atrofi vulva, selaput lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi seksual intercrouse berefek pada seks sekunder.
10) Sistem Endokrin. Produksi hampir semua hormon menurun, penurunan sekresi hormon kelamin misalnya: estrogen, progesterone, dan testoteron.
11) Sistem Kulit. Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya, perubahan pada bentuk sel epidermis.
12) System Muskuloskeletal. Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot mudah kram dan tremor.
b. Perubahan Mental
Menurut Nugroho (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:
1) Perubahan fisik.
2) Kesehatan umum.
3) Tingkat pendidikan.
4) Hereditas.
5) Lingkungan.
6) Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya kekakuan sikap.
7) Kenangan, kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 menit.
8) Kenangan lama tidak berubah.
9) Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, berkurangnya penampilan, persepsi, dan ketrampilan, psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor waktu.
c. Perubahan Psikososial
1) Perubahan lain adalah adanya perubahan psikososial yang menyebabkan rasa tidak aman, takut, merasa penyakit selalu mengancam sering bingung panic dan depresif.
2) Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan fisik dan sosioekonomi.
3) Pensiunan, kehilangan financial, pendapatan berkurang, kehilangan status, teman atau relasi
4) Sadar akan datangnya kematian.
5) Perubahan dalam cara hidup, kemampuan gerak sempit.
6) Ekonomi akibat perhentian jabatan, biaya hidup tinggi.
7) Penyakit kronis.
8) Kesepian, pengasingan dari lingkungan social.
9) Gangguan syaraf panca indra dan Gizi 10) Kehilangan teman dan keluarga.
11) Berkurangnya kekuatan fisik.
Menurut Hernawati (2017) perubahan pada lansia ada 3 yaitu perubahan biologis, psikologis, sosiologis.
a. Perubahan biologis meliputi :
1) Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah mengakibatkan jumlah cairan tubuh juga berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis- garis yang menetap.
2) Penurunan indra penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A vitamin C dan asam folat, sedangkan gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn dapat menurunkan nafsu makan, penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.
3) Dengan banyaknya gigi geligih yang sudah tanggal mengakibatkan ganguan fungsi mengunyah yang berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
4) Penurunan mobilitas usus menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung nyeri yang menurunkan nafsu makan usia lanjut. Penurunan mobilitas usus dapat juga menyebabkan susah buang air besar yang dapat menyebabkan wasir .
5) Kemampuan motorik yang menurun selain menyebabkan usia lanjut menjadi lanbat kurang aktif dan kesulitan untuk menyuap makanan dapat mengganggu aktivitas/ kegiatan sehari-hari.
6) Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek melambatkan proses informasi, kesulitan berbahasa kesultan mengenal benda- benda kegagalan melakukan aktivitas bertujuan apraksia dan ganguan dalam menyusun rencana mengatur sesuatu mengurutkan daya abstraksi yang mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun.
7) Akibat penurunan kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga berkurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran nutrisi sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.
8) Incotenensia urine diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut yang mengalami IU sering kali mengurangi minum yang mengakibatkan dehidrasi.
b. Kemunduran psikologis
Pada usia lanjut juga terjadi yaitu ketidak mampuan untuk mengadakan penyesuaian–penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya antara lain sindroma lepas jabatan sedih yang berkepanjangan.
c. Kemunduran sosiologi
Pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman usia lanjut itu atas dirinya sendiri. Status social seseorang sangat penting bagi kepribadiannya di dalam pekerjaan. Perubahan status social usia lanjut akan membawa akibat bagi yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan persiapan yang baik dalam menghadapi perubahan tersebut aspek social ini sebaiknya diketahui oleh usia lanjut sedini mungkin sehingga dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin.
5. Perawatan Lansia
Menurut Hernawati (2017) pelayanan keperawatan terhadap lansia menggunakan metode pendekatan, yaitu :
a. Pendekatan Fisik.
Pendekatan fisik dilakukan dengan cara memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bias dicapai dan dikembangkan, serta penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresifnya. Pendekatan fisik pada umumnya dibagi menjadi dua yaitu lanjut usia yang masih aktif dan lanjut usia yang pasif. Dimana lansia mengalami keterbatasan fisik, kemunduran fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau infeksi dari luar. Tindakan tidak selalu menunggu adanya keluhan dari lansia, karena tidak jarang lansia menghindari kontak yang terlalu sering dengan tenaga kesehatan. Hal itu dapat diantisipasi dengan pengamatan yang cermat terhadap kondisi lansia dan pendekatan fisik ini lebih ditekankan untuk pemenuhan dasar lansia.
b. Pendekatan Psikis
Pada pendekatan psikis ini perawat memiliki peran penting untuk mengadakan pendekatan edukatif, perawat dapat juga berperan sebagai pendukung (supporte), dapat juga sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai sahabat yang akrab karena lansia sangat membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungan.
c. Pendekatan sosial
Dalam melakukan pendekatan sosial perawat bisa mengajak lansia berdiskusi, tukar pikiran dan bercerita yang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan sosial. Selain itu perawat juga bisa memberi kesempatan untuk berkumpul bersama sesama lansia yang berarti menciptakan sosialisasi mereka. Lansia juga harus diberi kesempatan mengadakan komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar seperti mendengar berita dan rekreasi.
d. Pendekatan spiritual
Tujuan pendekatan spiritual ini adalah untuk memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam berhubungan dengan Tuhan. pada pendekatan spiritual ini setiap lansia akan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi peristiwa kematian dan perawat bisa memberikan support pada lansia dalam menghadapi kematian.
B. Fungsi Kognitif 1. Pengertian
Secara definitif fungsi kognitif sulit diartikan karena konsep ini digunakan secara luas dalam berbagai konteks (neurokognitif, sains kognitif, psikologi, dan kognitif) yang memberikan beberapa definisi khusus. Fungsi kognitif merupakan suatu proses persepsi, atensi, memori, membuat keputusan, dan kemampuan berbahasa (Nouchi dan Kawashima, 2014).
Fungsi kognitif dapat disimpulkan sebagai semua proses yang digunakan oleh manusia untuk mengatur informasi melalui input dari
lingkungan (sensori), transduksi (persepsi/visuospasial), pemusatan (atensi), penyimpanan informasi (memori), dibahasakan, dan akhirnya informasi diimplementasikan (psikomotor) (Bostrom dan Sandberg, 2019).
Kolegium Neurologi Indonesia PERDOSSI (2018) mendefinisikan fungsi kognitif merupakan fungsi tertinggi hingga kemampuan untuk memecahkan masalah. Fungsi kognitif terdiri dari 5 modalitas, yaitu fungsi atensi, bahasa, memori, visuospasial dan fungsi eksekutif
2. Perubahan Fungsi Kognitif
Menurut Azizah (2011) menjelaskan bahwa Perubahan fungsi kognitif pada lansia, antara lain :
a. Memory (daya ingat atau ingatan): pada lanjut usia daya ingat merupakan salah satu fungsi kognitif yang paling awal mengalami penurunan. Ingatan jangka panjang kurang mengalami perubahan, sedangkan ingatan jangka pendek seketika 0-10 menit memburuk.
Lansia akan kesulitan dalam mengungkapkan kembali cerita atau kejadian yang tidak begitu menarik perhatiannya, dan informasi baru seperti TV dan film
b. IQ (Intellegent Quocient): IQ merupakan suatu skor pada suatu tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan verbal dan kuantitatif (Semiun, 2016). Fungsi intelektual yang mengalami kemunduran adalah fluid intelligent seperti mengingat daftar, memori bentuk geometri, kecepatan menemukan kata, menyelesaikan masalah, keceptan berespon, dan perhatian yang cepat teralih
c. Kemampuan belajar (learning): para lansia tetap diberikan kesempatan untuk mengembangkan wawasan berdasarkan pengalaman (learning by experience). Implikasi praktis dalam pelayanan kesehatan jiwa (mental health) lanjut usia baik bersifat promotif-preventif, kuratif dan rehabilitatif adalah memberikan kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar yang sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing lanjut usia yang dilayani
d. Kemampuan pemahaman : kemampuan pemahaman atau menangkap pengertian pada lansia mengalami penurunan. Hal ini dipengaruhi oleh konsentrasi dan fungsi pendengaran lansia mengalami penurunan.
Dalam memberikan pelayanan terhadap lansia sebaiknya berkomunikasi dilakukan kontak mata atau saling memandang.
Dengan kontak mata lansia dapat membaca bibir lawan bicaranya, sehingga penurunan pendengaran dapat diatasi dan dapat lebih mudah memahami maksud orang lain. Sikap yang hangat dalam berkomunikasi akan menimbulkan rasa aman dan diterima, sehingga lansia lebih tenang, senang dan merasa dihormati
e. Pemecahan masalah: pada lansia masalah-masalah yang dihadapi semakin banyak. Banyak hal dengan mudah dapat dipecahkan pada zaman dahulu, tetapi sekarang menjadi terhambat karena terjadi penurunan fungsi indra pada lansia. Hambatan yang lain berasal dari penurunan daya ingat, pemahaman, dan lain-lain yang berakibat pemecahan masalah menjadi lebih lama.
f. Pengambilan keputusan: pengambilan keputusan pada lanjut usia sering lambat atau seolah-olah terjadi penundaan. Oleh sebab itu, lansia membutuhkan petugas atau pembimbing yang dengan sabar mengingatkan mereka. Keputusan yang diambil tanpa membicarakan dengan mereka para lansia, akan menimbulkan kekecewaan dan mungkin dapat memperburuk kondisinya. Dalam pengambilan keputusan sebaiknya lansia tetap dalam posisi yang dihormati
g. Motivasi: motivasi dapat bersumber dari fungsi kognitif dan fungsi afektif. Motif kognitif lebih menekankan pada kebutuhan manusia akan informasi dan untuk mencapai tujuan tertentu. Motif afektif lebih menekankan pada aspek perasaan dan kebutuhan individu untuk mencapai tingkat emosional tertentu. Pada lansia, motivasi baik kognitif maupun afektif untuk memperoleh sesuatu cukup besar, namun motivasi tersebut seringkali kurang memperoleh dukungan kekuatan fisik maupun psikologis, sehingga hal-hal yang diinginkan banyak terhenti ditengah jalan
3. Aspek Fungsi Kognitif
Menuut Michelon, (2016) aspek fungsi kognitif seseorang meliputi berbagai fungsi yaitu atensi (perhatian), bahasa, memori, fungsi visuospasial, dan fungsi eksekutif yang dijabarkan sebagai berikut
a. Atensi
Atensi merupakan kemampuan untuk fokus memperhatikan satu stimulus tertentu dan kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi pada objek, tindakan, atau pemikiran tertentu dan mengabaikan
stimulus lainnya baik internal maupun di luar lingkunganyang tidak dibutuhkan. Atensi merupakan hubungan antara batang otak, aktivitas sistem limbik, dan aktivitas korteks. Untuk mempertahankan fungsi kognitif, terutama dalam proses belajar, atensi dan konsentrasi sangat diperlukan.
b. Bahasa
Bahasa merupakan instrumen dasar komunikasi pada manusia dan merupakan modalitas dasar yang membangun kemampuan fungsi kognitif. Sehingga pemeriksaan bahasa wajib dilakukan pada saat awal pemeriksaan neurobehavior. Modalitas bahasa terdiri dari kelancaran berbicara, pemahaman, pengulangan (repetisi), penamaan, menulis dan membaca.
1) Kelancaran berbicara adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan kalimat dengan panjang, ritme, dan melodi yang normal. Suatu metode yang dapat digunakan untuk membantu menilai kelancaran seseorang atau pasien adalah dengan meminta seseorang atau pasien untuk menulis dan berbicara secara spontan.
2) Pemahaman : kemampuan seseorang untuk memahami suatu perkataan atau perintah, yang dibuktikan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan perintah tersebut.
3) Pengulangan : kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu kalimat atau pernyataan yang diucapkan oleh pemeriksa.
4) Penamaan : kemampuan seseorang untuk menamai suatu objek, menyebutkan nama benda, orang atau aksi yang ditunjukkan oleh pemeriksa.
5) Membaca : kemampuan mengerti stimulus tulisan berupa simbol, kata, ejaan, kalimat dan paragraf.
6) Menulis : kemampuan menulis dilakukan dengan menilai mekanisme tulisan, menulis serial alphabet, dikte huruf, kata, menulis kalimat dan tulisan narasi dari sebuah gambar situasi c. Memori
Memori adalah proses bertingkat dimana informasi pertama kali harus dicatat dalam area korteks sensorik kemudian diproses melalui sistem limbik untuk terjadinya pembelajaran baru. Secara klinis memori dibagi mejadi tiga tipe dasar yaitu immediate memory merupakan kemampuan untuk mengingat kembali (recall) stimulus dalam interval waktu beberapa detik, recent memory merupakan kemampaun untuk mengingat kembali kejadian sehari-hari (misalnya tanggal, nama dokter, apa yang dimakan saat sarapan), dan remote memory merupakan rekoleksi kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lalu contohnya tanggal lahir, sejarah, dan nama teman (KNI PERDOSSI, 2018).
d. Visuospasial
Visuospasial adalah kemampuan untuk memproses suatu stimulus visual yang masuk, memahami hubungan spasial antara objek ataupun memvisualisasikan gambar dan skenario (Michelon, 2016).
Semua lobus berperan dalam kemampuan konstruksi ini, namun lobus parietal terutama hemisfer kanan mempunyai peran paling dominan.
Kemampuan visuospasial dapat dievaluasi melalui kemampuan konstruksional seperti menggambar atau meniru berbagai macam gambar, seperti lingkaran atau kubus dan menyusun balok (KNI PERDOSSI, 2018)
e. Fungsi Eksekutif
Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif yang tinggi seperti cara berpikir dan kemampuan memecahkan masalah. Secara konseptual, fungsi eksekutif mempunyai 4 komponen yaitu kemampuan untuk menentukan tujuan, perencanaan, pelaksanaan rencana untuk mencapai tujuan dan kinerja yang efektif. Fungsi eksekutif diperankan oleh lobus frontalis (Philips dan Henry, 2018) 4. Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Kognitif
Menurut Nouchi dan Kawashima, (2014) beberapa faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif adalah :
a. Usia
Faktor usia dapat berhubungan dengan fungsi kognitif yang menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada otak akibat bertambahnya usia antara lain fungsi penyimpanan informasi (storage) hanya mengalami sedikit perubahan. Sedangkan fungsi yang mengalami penurunan yang terus menerus adalah kecepatan belajar, kecepatan memproses informasi baru dan kecepatan beraksi terhadap
rangsangan sederhana atau kompleks, penurunan ini berbeda antar individu.
b. Jenis Kelamin
Menurunnya kondisi fisik yang menunjang terjadinya kerusakan mental telah ditunjukkan dengan fakta bahwa perlakuan terhadap hormon sex pada wanita berusia lanjut dapat meningkatkan kemampuan berpikir, mempelajari bahan baru, menghapal, mengingat dan meningkatkan kemauan untuk mengeluarkan energi intelektual.
c. Pendidikan
Pengaruh pendidikan yang telah dicapai seseorang atau dapat mempengaruhi secara tidak langsung terhadap fungsi kognitif seseorang, termasuk pelatihan (direct training). Berdasarkan teori reorganisasi anatomis menyatakan bahwa stimulus eksternal yang berkesinambungan akan mempermudah reorganisasi internal dari otak.
Tingkat pendidikan seseorang mempunyai pengaruh terhadap penurunan fungsi kognitifnya. Pendidikan mempengaruhi kapasitas otak, dan berdampak pada tes kognitifnya. Pengaruh pendidikan yang telah dicapai seseorang atau dapat mempengaruhi secara tidak langsung terhadap fungsi kognitif seseorang, termasuk pelatihan (direct training). Berdasarkan teori reorganisasi anatomis menyatakan bahwa stimulus eksternal yang berkesinambungan akan mempermudah reorganisasi internal dari otak. Tingkat pendidikan seseorang mempunyai pengaruh terhadap penurunan fungsi kognitifnya.
d. Status perkawinan
Status perkawinan dapat mempengaruhi fungsi kognitif seseorang, laki-laki usia lanjut yang mengalami kehilangan pasangan atau belum pernah kawin/hidup sendiri, dalam waktu lebih dari lima tahun akan mengalami penurunan fungsi kognitif dua kali lebih sering dibandingkan laki-laki yang telah kawin, atau hidup dengan seseorang/keluarga pada beberapa tahun . Faktor ini diduga karena dengan memiliki pasangan, seseorang akan mendapatkan dukungan dari pasangannya terutama saat mengalami tekanan emosi baik stress maupun gejala depresi yang muncul karena perubahan pola hidup dan konflik.
e. Pekerjaan
Pekerjaan dapat mempercepat proses menua yaitu pada pekerja keras/over working, seperti pada buruh kasar/petani. Pekerjaan orang dapat mempengaruhi fungsi kognitifnya, dimana pekerjaan yang terus menerus melatih kapasitas otak dapat membantu mencegah terjadinya penurunan fungsi kognitif dan mencegah dimensia.
f. Faktor kesehatan
Salah satu faktor penyakit penting yang mempengaruhi penurunan kognitif adalah hipertensi. Peningkatan tekanan darah kronis dapat meningkatkan efek penuaan pada struktur otak, meliputi reduksi substansia putih dan abu-abu di lobus prefrontal, penurunan hipokampus, meningkatkan hiperintensitas substansia putih di lobus frontalis. Angina pektoris, infark miokardium, penyakit jantung koroner dan penyakit vaskular lainnya juga dikaitkan dengan
memburuknya fungsi kognitif. Riwayat adanya stroke, hipertensi, fibrilasi atrium penyakit vaskuler perifer dan diabetes juga menjadi faktor resiko penurunan kognitif. Faktor resiko yang lain seperti trauma kepala ringan, konsumsi alkohol, polusi bahan kimia, perokok dan pekerja pabrik. Pada pasien diabetes melitus fungsi kognitif salah satnya dipengaruhi oleh :
1) Status Gizi
Hasil penelitian The Whitehall II dan the Framingham Offspring, menunjukan bahwa overweight mempunyai hubungan terhadap berkurangnya fungsi memori dan fungsi eksekutif. Studi Yan Zou di Tiongkok menunjukan bahwa IMT yang menurun berpengaruh terhadap penurunan dari fungsi kognitif dan merupakan risiko terhadap demensia
2) Kadar Gula Darah
Kondisi glukosa darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan efek toksik di otak. Adanya stress oksidatif dan akumulasi advanced glycation and products (AGEs) berpotensi pada kerusakan jaringan otak di hipokampus (Olivier, H. dalam Tsalissavrina, 2018).
g. Aktifitas fisik
Kemunduran fungsi kognitif dapat dicegah dengan aktifitas fisik.
Aktifitas fisik termasuk latihan ketahanan dan berjalan dapat meningkatkan fungsi kognitif pada orang dewasa tua. Aktifitas fisik
dapat meningkatkan vaskularisasi darah di otak yang bermanfaat sebagai neuroprotective
C. Aktifitas Fisik Lansia 1. Pengertian
Aktivitas fisik ialah pola gerakan yang dilakukan oleh otot rangka beserta sistem penunjangnya disertai dengan adanya pengeluaran energi.
Banyaknya pasokan energi yang diperlukan bergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa berat pekerjaan yang dilakukan, dan berapa lama waktu yang diperlukan. Untuk bergerak otot membutuhkan energi di luar metabolisme, sedangkan pau-paru dan jantung memerlukan energi untuk mengantarkan oksigen dan zat-zat gizi ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dari tubuh (Almatsier 2002, dalam Esty, 2017).
World Healt Organization (WHO) physical inactivity: a global public health problem (2017) dalam Esty, (2017) mengungkapkan bahwa, aktivitas fisik sangatlah berbeda dengan exercise. Exercise merupakan kategori aktivitas fisik yang berulang, terstruktur, dan direncanakan yang bertujuan sebagai pemeliharaan dan perbaikan komponen kebugaran fisik seperti olahraga. Sedangkan aktivitas fisik yang tidak terstruktur melibatkan gerakan tubuh dan dilakukan pada aktivitas sehari-hari seperti
bekerja, berkendara aktif, melakukan pekerjaan rumah dan kegiatan rekreasi.
2. Kriteria Aktifitas Fisik
Menurut Esty, (2017) mengatakan bahwa aktivitas fisik memiliki beberapa kriteria, yakni :
a. Aktivitas Fisik Aktif
Aktivitas fisik aktif akan memiliki pengaruh baik bagi tubuh seperti untuk kebugaran, meningkatkan ketahanan tubuh, tekanan darah stabil, menghindari terjadinya penyakit diabetus mellitus, obesitas, membantu mengatasi gangguan tidur, serta meningkatkan kualitas hidup yang baik.
b. Aktivitas Fisik Kurang
Aktif Atau Sedentari Aktivitas sedentari dapat meningkatkan risiko penyakit seperti penyakit jantung, diabetus mellitus, hipertensi, stroke, dan bisa mempengaruhi umur harapan hidup. Kegiatan yang biasanya dilakukan seperti duduk atau berbaring sehari-hari di tempat kerja (membaca, kerja di depan komputer), di rumah (menonton tv, mengobrol, beramain game), di perjalanan atau transportasi (kereta, pesawat, bis, mobil), tetapi kecuali waktu tidur.
3. Jenis Aktivitas Fisik
Aktivitas atau kegiatan dalam kategori baik harus memenuhi kriteria FITT yang terdiri dari (frequency, intensity, time, type). Frekuensi merupakan kegiatan yang dilakukan seberapa sering (hari dalam
seminggu). Intensitas merupakan seberapa keras kegiatan dilakukan.
Waktu merupakan kegiatan yang sekali dilakukan dalam (durasi). Jenis merupakan kegiatan yang dilakukan. Jenis-jenis aktivitas fisik pada lansia dilakukan tergantung dari tujuannya, apakah untuk kesehatan, kebugaran, perbaikan kinerja, dan kemandirian menurut Kathy, (2012) dalam Esty, (2017), yakni:
a. Latihan Aerobik
Latihan yang dilakukan untuk membuat kerja paru dan jantung meningkat dengan kebutuhan oksigen maksimum seperti berjalan, bersepeda, berlari, dan naik turun tangga. Lansia yang memiliki rentan usia > 65 tahun disarankan melakukan latihan yang dimulai dari intensitas rendah dan peningkatan dilakukan berdasarkan toleransi masing-masing individual. Latihan fisik pada lansia bisa dilakukan dengan durasi waktu 30 menit untuk intensitas sedang, dilakukan dengan durasi waktu 20 menit dan frekuensi 5 kali dalam satu minggu.
Untuk intensitas tinggi, dilakukan dengan durasi waktu 20 menit dan frekuensi 3 kali dalam satu minggu dengan cara kombinasi selama 2 hari dengan intensitas tinggi dan dengan intensitas sedang dalam seminggu.
b. Latihan Fleksibilitas Dan Keseimbangan
Latihan fleksibilitas diberikan dengan tujuan untuk membantu menjaga lingkup gerak sendi. biasanya dapat diilakukan 2-3 hari per minggu, sedngkan yang melibatkan peregangan otot dan sendi 3-4 kali, dengan sekali penariakn dipertahankan 10-30 detik. Latihan keseimbangan
diberikan dengan tujuan untuk membantu mencegah lansia agar tidak mudah jatuh. Latihan ini dilakukan 3 hari dalam seminggu, dengan intensitas rendah seperti berjalan, senam tai chi, chair based exercise c. Latihan Kekuatan Otot
Latihan kekuatan otot merupakan latihan yang bertujuan untuk memperkuat dan menyokong otot serta jaringan ikat seperti duduk dikursi kemudian kaki dililit dengan alat pembebanan handuk yang panjang kemudian ditahan beberapa detik dengan kemampuan tergantung pada individu. Latihan dilakukan sebanyak seminggu 2x dengan pemberian jeda untuk istirahat. Untuk membentuk kekuatan otot yang maksimal bisa menggunakan tahanan atau beban dengan 10- 12 repitisi setiap latihan. Pemberian intensitas latihan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan lansia dengan jumlah repitisi juga ditingkatkan bebannya, 10-25 repitisi dalam satu set latihan
4. Klasifikasi Aktivitas Fisik
Menurut WHO, 2017 dalam Esty, (2017) menjelaskan bahwa aktivitas fisik memiliki 3 klasifikasi dalam beberapa tingkatan, yakni:
a. Aktivitas Ringan Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan menggunakan sedikit tenaga sehingga tidak menghasilkan perubahan pada tubuh seperti berkendaraan, menonton TV, duduk, beribadah.
b. Aktivitas Sedang Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan dengan intensitas tenaga sedang minimal 150 menit yang menggunakan kekuatan otot secara fleksibilitas seperti berjalan kaki dengan cepat,
joging atau berlari-lari kecil, menyapu dan mengepel lantai dan bersepeda.
c. Aktivitas Berat Kegiatakan atau aktivitas yang dilakukan secara terus menerus menggunakan otot dengan intensitas minimal 10 menit dan dilakukan minimal 3 hari dalam seminggu sampai meningkatnya denyut nadi dan nafas lebih cepat dari biasanya sehingga mengelurkan keringat yang dihassilkan dari dalam tubu seperti bermain tenis meja, bola voly, bola basket, bela diri, menimba air mencangkul, lari cepat 5. Manfaat Aktivitas Fisik
Saat ini, sudah diketahui bahwa orang yang aktif menunjukkan tingkat yang lebih rendah dari semua penyebab kematian dan risiko lebih rendah menderita penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, kanker usus besar, kanker payudara, dan depresi (Afaricio-Ugariza, R. 2017). Pemeliharaan aktivitas fisik dan kebugaran fisik yang baik penting untuk kemandirian fungsional (Hesseberg, K. 2016: 92). Menurut Ambardini (2019) menyatakan bahwa
“olahraga dapat menurunkan resiko penyakit diabetes militus, hipertensi, dan penyakit jantung”. Berdasarkan pengertian tersebut maka olahraga sangatlah bermanfaat bagi kesehatan tubuh, karena disamping menjadikan tubuh bugar dan sehat manfaat lainnya adalah mengurangi resiko terserang penyakit. Manfaat olahraga pada lansia diantaranya dapat memperpanjang usia, menyehatkan jantung, otot, dan tulang. Dengan olahraga membuat lansia lebih mandiri, mencegah obesitas, mengurangi kecemasan dan depresi, serta memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi. Dengan
demikian olahraga bagi lansia sangat perlu dilakukan dengan aturan yang sesuai, karena dengan berolahraga sudah diketahui manfaat bagi tubuh.
Menurut World Health Organization dalam Nia, (2018) aktivitas fisik secara teratur banyak memiliki manfaat untuk tubuh, seperti:
a. Meningkatnya metabolisme tubuh.
b. Meningkatnya kemampuan kerja otot.
c. Menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kerja otot jantung.
d. Meningkatkan ketahanan tubuh dalam melakukan kegiatan fisik.
e. Menghindari terjadinya obesitas.
6. Pengukuran Aktivitas Fisik
Penilaian untuk aktivitas fisik seseorang dalam penelitian bisa dilakukan secara objektif atau subjektif. Penilaian objektif adalah penilaian dengan beban yang rendah, sedangkan penilaian subjektif adalah penilaian dengan beban yang tinggi. Beban adalah besarnya usaha pada responden yang akan diberikan intervensi. Alat ukur yang bisa digunakan untuk aktivitas fisik yang objektif antara lain adalah monitor detak jantung, alat sensor gerakan, dan kalorimetri tidak langsung. Sedangkan alat ukur yang bisa digunakan untuk aktivitas fisik yang subjektif antara lain observasi langsung dan kuesioner. Kelompok beban rendah yang dimaksud adalah kelompok yang tidak memerlukan usaha yang besar pada saat diberikan intervensi. Sedangkan kelompok beban tinggi yang dimaksud adalah kelompok yang memerlukan usaha terus menerus (Purwanto, 2010 dalam Esty, 2014).
Aktivitas fisik mempunyai penilaian dalam melakukan sebuah penelitian salah satu kuesioner yang secara umum banyak digunakan adalah kuesioner International Physical Activity Questionaire (IPAQ).
International Physical Activity Questionaire (IPAQ) adalah instrumen yang telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan dikembangkan oleh WHO di negara berkembang. Penggunaan instrumen IPAQ dalam mengukur aktivitas fisik terdiri dari 7 pertanyaan yakni mengukur aktivitas fisik berat (vigorous activity), aktivitas fisik sedang (moderate activity), aktivitas berjalan (walking activity), dan aktivitas sedentary atau duduk (sitting activity) pada seseorang yang dilakukan berapa lama dalam hitungan waktu (jam/menit) serta berapa kali melakukan kegiatasan tersebut dalam satu minggu terakhir. Kuesioner ini dapat dilakukan mulai dari usia 16-84 tahun.
Kelebihan instrumen IPAQ yakni mempunyai beberapa pertanyaan yang mudah dalam mengisi kuesioner tersebut, kegiatan yang dapat dihitung berdasaran pada jumlah energy yang dihasilkan dan dikeluarkan oleh tubuh (Tando, 2012 dalam Nia, 2018). Pengukuran aktivitas fisik akan di klasifikasikan berdasarkan MET (Metabolic Equivalent). MET merupakan rasio laju metabolisme saat bekerja yang kemudian dibandingkan saat sedang beristirahat. Nilai 1 MET setara dengan 1 kkal/kg/jam dan didefinisikan sebagai energi ketika duduk dengan tenang.
Perbandingan nilai MET dalam aktivitas dengan kategori sedang yaitu 4 kali lebih besar, sehingga dalam penilaiannya bisa dikalikan 4 MET.
Sedangkan pada kategori aktivitas berat memiliki perbandingan 8 kali
lebih besar, sehingga perhitungannya akan dikali 8 MET (Purohit, 2011 dalam Esty, 2014).
World Health Organization dalam Nia, (2018) penilaian aktivitas fisik di bagi dalam 3 klasifikasi, antara lain:
a. Aktivitas Tinggi 1) Aktivitas fisik berat minimal >3 hari dengan intensitas minimal >1500 METs-menit/minggu. 2) Kombinasi aktivitas fisik berat, sedang, dan berjalan dalam >7 hari dengan intensitas minimal >300 MET-menit/minggu.
b. Aktivitas Sedang 1) Intensitas aktivasi berat minimal >20 menit/hari selama >3 hari. 2) Intensitas aktivitas sedang selama >5 hari atau berjalan minimal >30 menit/hari. 3) Kombinasi aktivitas fisik berat, sedang, dan berjalan dalam >7 hari dengan intensitas minimal >600 MET-menit/minggu.
c. Aktivitas Rendah Aktivitas dengan intensitas ringan yang tidak memenuhi ke dalam kriteria aktivitas berat atau aktivitas sedang dengan nilai
D. Penelitian Sejenis
1. Penelitian Oktafina Safita Nisa (2019) tentang Hubungan Tingkat Aktifitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah. Hasil bivariat didapatkan ada hubungan antara tingkat aktifitas fisik dengan fungsi kognitif dimana nilai p = 0,010 (p > 0,05) yang dapat diartikan bahwa Ho ditolak. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan terdapat
hubungan antara tingkat aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura.
2. Penelitian Tri Vanny Sampe Polan (2018) tentang hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Puskesmas Wori Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Hasil penelitian terdapat 54 responden yang fungsi kognitif terganggu dan 29 responden yang tidak memiliki gangguan fungsi kognitif serta 44 responden dengan aktivitas fisik yang kurang dan 39 responden yang aktivitas fisiknya baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di wilayah kerja Puskemas Wori Kabupaten Minahasa Utara Tahun 2018 (p=0,000<0,05)
3. Penelitian Chairina Azkya Noor (2020) tentang hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Posyandu Lansia X, Jakarta.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna secara statistik antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia (p=0.000).
Aktivitas fisik dapat mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia. Lansia dengan aktivitas fisik golongan regular sampai dengan active memiliki nilai fungsi kognitif yang normal dibandingkan lansia tanpa aktivitas fisik atau termasuk ke dalam golongan under-active
4. Penelitian Rahayu (2017) tentang hubungan aktifitas fsik dengan fungsi kogntif pada lansia di Wiayah Kerja Puskesmas Pagaden Kabupaten Subang dari penelitian ini pun diperkuat dengan studi yang menyatakan bahwa responden dengan aktivitas fisik efektif dengan level moderat ataupun tinggi kecil kemungkinannya mengalami gangguan kognitif.
Lebih jelas dinyatakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara rendahnya aktivitas fisik dan rendahnya fungsi kognitif pada responden
E. Kerangka Teori
Menurut Nouchi dan Kawashima, (2014) beberapa faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif adalah :
Keterangan :
: Vaiabel yang dieliti : Vaiabel yang tidak dieliti
Diagram 2.1
Kerangka Teori : Faktor Resiko Fungsi Kognitif (Sumber : Nouchi dan Kawashima, 2014) Faktor Resiko
1. Usia
2. Jenis Kelamin 3. Pendidikan
4. Status perkawinan 5. Pekerjaan
6. Faktor Kesehatan 7. Aktifitas fisik
Fungsi Kognitif Pada Lansia
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2018).
1. Visualisasi Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah seperti diagram di bawah ini:
Diagram 3.1 Visualisasi Kerangka Konsep Penelitian
2. Variabel Penelitian
Aktifitas Fisik Fungsi Kognitif
Variabel Independen Variabel Dependen
Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang memiliki atau yang didapatkan oleh satuan-satuan penelitian tentang suatu konsep tertentu (Notoatmodjo, 2018). Variabel independen dalam penelitian ini adalah aktifitas fisik sedangkan variabel dependennya adalah fungsi kognitif pada lansia
B. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi
Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1 Fungsi
kognitif
suatu proses persepsi, atensi, memori, membuat keputusan, dan kemampuan berbahasa
Wawancara Kuesioner
(MOCA) 0 : Terdapat gangguan fungsi kognitif jika nilai skor MoCA-Ina <
26 1 : Tidak
terdapat gangguan jika nilai skor MoCA- Ina 26-30
Ordin al
2 Aktifitas fisik
Pola gerakan yang dilakukan oleh otot rangka beserta sistem penunjangnya disertai dengan adanya
pegeluaran energi
Wawancara Kuesioner (IPAQ)
0 : Ringan, jika skor 76-100%
1 ; Sedang, jika skor: 56-75%
2 : Berat, jika skor: < 56%
Ordi nal
C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah 37
1. Ho : Tidak ada hubungan aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka tahun 2022
2. Ha : ada hubungan aktifitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka tahun 2022
D. Jenis Penelitian 1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Adapaun cross sectional menurut Nursalam (2015) yaitu jenis penelitian yang menentukan pada waktu pengukuran/ observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat.
2. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Hidayat, 2018). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Lansia di wilayah kerja Puskesmas Majalengka sebanyak 3962 orang dari data terbaru tahun 2022.
b. Sampel
Menurut Sugiyono (2017) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar,
dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian lansia di wilayah kerja Puskesmas Majalengka. Menurut Sulistyaningsih (2015) untuk mengambil sampel yang kurang dari 10.000 menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
N : Besar Populasi n : Besar Sampel
d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (10%) Maka sampel untuk penelitian ini adalah :
dibulatkan 98 responden.
Jadi sampel yang diinginkan adalah 98 responden a. Teknik Pengambilan Sampel
Prosedur pengambilan sampel ini menggunakan secara acak sederhana (simple random sampling). Hakikat dari pengambilan sampel secara acak sederhana adalah bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel (Notoatmodjo, 2017). Simple random sampling dengan proportional to size dengan cara sebagai berikut :
n
¿ Ν 1+Ν(d2) ¿ ¿
¿¿
n
¿ 3962
1+3962(0,12) ¿ ¿
¿ ¿ n
¿ 3962
40
n
,62¿ 97,
¿ ¿¿6
¿1) Menyusun seluruh populasi sasaran diseluruh Desa yang ada wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka
No Nama Desa ∑ per Desa
Perhitungan Sampel
∑ Sampel Per Desa 1 Majalengka
wetan
741 741 / 3962 x 98
18
2 Cicurug 687 687 / 3962 x 98 17
3 Sindangkasih 577 577 / 3962 x 98 14
4 Kulur 514 514 / 3962 x 98 13
5 Cibodas 499 499 / 3962 x 98 12
6 Tonjong 505 505 / 3962 x 98 12
7 Kawungirang 439 439 / 3962 x 98 11
Jumlah 3962 98
2) Menghitung besarnya sampel masing-masing Desa yaitu dengan cara membagi populasi masing-masing ditiap Desa dengan jumlah keseluruhan populasi kemudian dikalikan dengan jumlah sampel 3) Memilih sampel secara random di masing-
masing Desa
Membuat daftar nama sesuai dengan jumlah masing–masing tiap desa kemudian untuk menentukan sampel diambil dengan cara mengundi/dikocok sesuai dengan jumlah sampel dari masing – masing Desa yang sudah ditentukan jumlahnya.
3. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian : Puskesmas Majalengka
Waktu Penelitian : Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Maret - April 2022.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner dalam bentuk pertanyaan untuk mengetahui fungsi kognitif, dan Aktifitas fisik.. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
1) Aktifitas fisik menggunakan instrumen IPAQ dengan jumlah pertanyaan sebanyak 11 item, penilaian aktivitas fisik di bagi dalam 3 klasifikasi, antara lain : aktivitas tinggi, aktivitas sedang dan aktivitas rendah.
2) Fungsi kognitif menggunakan kuesioner Montreal Cognitive Assesment- Versi Indonesia (MoCA-Ina). Hasil pengukuran ini diinterpretasikan dengan kategori terdapat gangguan fungsi kognitif jika nilai skor MoCA-Ina < 26 dan tidak terdapat gangguan jika nilai skor 26-30.
Instrumen penelitian yang digunakan merupakan kuesioner baku, sehingga tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
5. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dengan cara menyebar angket kepada responden untuk diisi, sesuai dengan variabel yang diteliti. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a. Mengurus surat perijinan dari Bakesbangpol, Dinas Kesehatan dan Puskesmas Majalengka
b. Kordinasi dengan perawat Lansia untuk jadwal dan waktu penelitian
c. Pengumpulan data dilakukan pada kunjungan lansia yaitu hari kamis dan jumat
d. Sebelum pengumpulan data peneliti melakukan persiapan protokol kesehatan yaitu menyiapkan masker, menyediakan handsanitizer,
mengatur jarak tempat duduk minimal 1 meter, melakukan penyemprotan disinfektan diruangan aula dan menyediakan thermogun e. Pengisian kuesioner dilakukan secara dor to dor kepada lansia yang
terpilih menjadi sampel di Desanya masing-masing
f. Pada pelaksanaan penelitian responden diwajibkan menggunakan masker, sebelum masuk ruangan responden di scan menggunakan thermogun dan diwajibkan mencuci tangan, kemudian menempati tempat duduk yang sudah diatur jaraknya
g. Memeriksa kembali instrumen yang sudah disi oleh responden
6. Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo (2018) pengolahan data dalam penelitian menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Editing
Pada langkah ini hasil pengumpulan data penelitian dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian dalam format pendataan sudah lengkap dalam arti semua data yang dibutuhkan telah terisi dan jelas atau terbaca.
b. Coding.
Pada tahapan ini setelah semua data diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding yaitu mengubah data
berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Data hasil penelitian kemudian diberikan kode sesuai dengan hasil ukur.
c. Memasukan Data (Data Entry) atau Processing
Langkah ini adalah data-data dari masing-masing sampel penelitian dimasukan dalam bentuk kode (angka atau huruf) kemudian diolah ke dalam program atau software komputer. Dalam proses ini dituntut ketelitian karena apabila tidak akan terjadi bias, meskipun hanya memasukan data saja.
d. Pembersihan Data (Cleaning).
Semua data dari setiap sumber data atau sampel selesai dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
7. Analisis Data a. Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis datanya. Dalam analisis ini menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel. Rumus frekuensi dari tiap-tiap variabel yang diteliti menurut Arikunto (2019) adalah sebagai berikut:
p = f x 100 % n
Keterangan : p = Proporsi
f = Jumlah kategori sampel yang diambil n = Jumlah sampel
Tabel 3.2 Distribusi Frekuensi (Arikunto, 2019)
Variabel f %
Jumlah
Interpretasi data sebagai berikut : Tabel 3.3 Interpretasi Data
No Skala Pengukuran Interpretasi
1 0 Tidak ada satupun
2 1% - 25% Sebagian kecil responden
3 26%-49% Kurang dari setengah responden
4 50% Setengahnya responden
5 51-75% Lebih dari setengahnya
6 76%-99% Sebagian besar responden
7 100% Seluruh responden
(Arikunto, 2019) b. Analisis Bivariat
Analisa ini bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Uji yang dipakai adalah uji Chi- Square dengan batas kemaknaan ¿ = 0,05 atau derajat kebebasan df= 1 (Arikunto, 2016). Langkah –langkah analisis bivariat adalah sebagai berikut :
1) Menyusun Tabel Silang ( 3x2 )
Tabel 3.4 Tabel Silang (2x2) Variabel Bebas Fungsi Kognitif
Total
Kurang Baik
a b a+b (m1)
c d c+d (m2)
Jumlah a+c ( n1) b+d (n2) n
2) Menghitung Chi-Square dengan rumus : X2=∑ (O−E)
2
E Keterangan :
O : Nilai Observasi (pengamatan) E : Nilai Expected (harapan) Df = (b-1) (k-1)
b : jumlah baris k : jumlah kolom
Apabila ada sel yang kosong atau nilai < 5, maka di gunakan fisher exact dengan rumus:
X2= (¿O−E∨−1 2 )
2
E
3) Menentukan uji kemaknaan hubungan dengan cara membandingkan nilai ρ ( ρ value) dengan nilai ¿ = 0,05 pada taraf kepercayaan 95 % dan derajat kebebasan = 1 dengan kaidah keputusan sebagai berikut :
a) Nilai ρ ( ρ value) < 0,05 , maka HO ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara variabel bebas dengan variabel terikat.
b) Nilai ρ ( ρ value) > 0,05, maka Ho gagal ditolak, yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antar variabel bebas dengan variabel terikat.
DAFTAR PUSTAKA
Afaricio-Ugariza, R. 2017. Physical activity and health: the evidence explained.
USA & Canada: Routledge
Arikunto, Suharsimi. 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta
Ambardini. Rachmah Laksmi. 2019. Aktifitas Fisik Lanjut Pada Usia. Yogyakarta : LPM UNY
Azizah. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta : Graha. Ilmu
Bostrom dan Sandberg, 2019. Cognitive Enhancement: Methods, Ethics, Regulatory Challenges. Science & Engineering Ethics 15, no. 3 (2009):
311–341.
Chairina Azkya Noor. 2020. Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Pada Lansia di Posyandu Lansia X, Jakarta
Cumming. 2018. Organizational Development and Change (9th ed). Ohio: South- Western Cengage Learning
Esty, Wahyuningsih. 2017. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Ed. 9. Jakarta:
EGC
Hernawati. 2017. Keperawatan Geriatrik: Merawat Lansia Dengan Cinta dan Kasih Sayang. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Hidayat, 2018. Metode Penelitian Keperawatan dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika
Hesseberg, Bentzen. K. 2016. Physical fitness in older people with mild cognitive impairment and dementia. Journal of Aging and Physical Activity, 24(1), 92–100. doi:10.1123/japa.2014-0202.
Kemenkes RI, 2020. Jaga Diri dan Keluarga Anda dari Virus Corona – Covid- 19. [Online] Tersedia pada : www. kemkes.go.id
Kemenkes RI. 2019. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
KNI PERDOSSI, 2018. Acuan Praktik Klinis Neurologi. PERDOSSI 2016:19-25 Mangoenprasodjo, 2016. Osteoporosis dan Bahaya Tulang Rapuh. Jakarta:
Thinkfresh
Maryam, 2015. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba Medika
Michelon, 2016. The effect of corporate governance on sustainability disclosure.
Journal of Management & Governance, 16(3), 477-509
Nia, Kusmaedi. 2018. Pedoman praktis berolahraga untuk kebugaran dan kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset
Notoatmodjo, 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. 2015. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis,.
Jakarta, Salemba Medika
Nugroho. 2015. Keperawatan Gerontik & Geriatrik Edisi 3. Jakarta: EGC
Nouchi dan Kawashima, 2014. Improving Cognitive Function from Children to Old Age: A Systematic Review of Recent Smart Ageing Intervention Studies. Advances in Neuroscience, 2014, 1–15. https://doi.
org/10.1155/2014/235479
Oktafina Safita Nisa. 2019. Hubungan Tingkat Aktifitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah
Profil Dinkes Jawa Barat, 2020. Profil Kesehatan Tahun 2019. Dinas Kesehat.
Provinsi Jawa Barat.
Profil Dinkes Majalengka, 2020. Profil Kesehatan Majalengka 2020.
Majalengka : Dinkes Majalengka
Padella, 2017. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: Nuha Medika.
Philips dan Henry, 2018. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus.
Diabetes Care volume 35 Supplement 1 : 64-71
Purwanto, 2010. Perkembangan olahraga terkini: Kajian Para Pakar. Jakarta:
PT. Grafindo Persada
Rahayu. 2017. Hubungan Aktifitas Fsik Dengan Fungsi Kogntif Pada Lansia di Wiayah Kerja Puskesmas Pagaden Kabupaten Subang
Ratnawati, 2017. Asuhan keperawatan gerontik.Yogyakarta: Pustaka Baru Press Sugiyono. 2017. Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung :
Alfabeta
Sulistyaningsih. 2015. Metodologi Penelitian Kebidanan, Kuantitatif & Kualitatif.
Edisi Pertama, Yogyakarta : Graha Ilmu
Semiun, Yustinus. 2016. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius
Tri Vanny Sampe Polan. 2018. Hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia di Puskesmas Wori Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara
Tsalissavrina, 2018. Hubungan lama terdiagnosa diabetes dan kadar glukosa darah dengan fungsi kognitif penderita diabetes tipe 2 di Jawa Timur.
AcTion: Aceh Nutrition Journal, 3(1), 28. https://doi.org / 10.30867/action.v3i1.96
Tando, Herman. 2012. Kearah Memahami Kesehatan Mental. Yogyakarta : PPB FIP UNY
WHO. 2020. Health of the elderly. Geneva: World Health Organization
WHO, 2017. MMDS Decision Tables. Vital Statistics ICD- 10 ACME Decision Tables for Classifying Underlying Causes of Death Book 1-3. WHO