1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap perusahaan yang didirikan diharapkan dapat menghasilkan keuntungan sehingga mampu bertahan atau berkembang dalam jangka panjang dan tidak mengalami likuidasi. Namun pada kenyataannya, asumsi tersebut tidak selalu berjalan dengan baik. Seringkali perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu tertentu terpaksa bubar atau dilikuidasi karena mengalami kesulitan keuangan yang berujung pada kebangkrutan. Brigham dan Houston (2011) menyatakan bahwa financial distress terjadi jika perusahaan mengalami ketidakmampuan untuk menyelesaikan pembayarannya dengan tepat waktu atau ketika arus kas dari perusahaan tidak berjalan dengan lancar.
Perusahaan yang mengalami kebangkrutan akan diawali dengan kondisi kesulitan keuangan (financial distress) pada perusahaan tersebut. Kesulitan keuangan (financial distress) pada perusahaan terjadi ketika perusahaan tidak dapat memenuhi jadwal pembayaran atau ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut akan segera tidak dapat memenuhi kewajibannya (Brigham dan Houston, 2014:964). Tetapi, perusahaan yang sedang mengalami kondisi financial distress belum dapat dipastikan akan diakhiri dengan kebangkrutan. Hal ini bergantung pada kemampuan suatu perusahaan untuk mencegah dan mengatasi kondisi financial distress yang akan mengarah pada terjadinya kebangkrutan.
Financial distress timbul dari berbagai situasi hingga perusahaan menghadapi masalah kesulitan ekonomi. Menurut Rodoni dan Ali (2010:176) ditinjau dari kondisi keuangan terdapat tiga keadaan penyebab financial distress antara lain faktor kekurangan modal, beban utang yang terlalu besar serta mengalami kerugian berkelanjutan. Masing-masing aspek mempunyai keterkaitan sehingga keseimbangannya perlu dijaga agar perusahaan dapat terhindar dari kondisi financial distress hingga terjadi kebangkrutan. Jadi, dapat dikatakan bahwa financial distress merupakan suatu penurunan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan yang terjadi ketika arus kas operasi perusahaan tidak mampu untuk mencukupi kewajiban jangka pendeknya yang segera jatuh tempo, baik kewajiban kepada kreditor, berupa pokok pinjaman dan bunga, maupun kewajiban kepada pemegang saham, berupa deviden.
Analisis mengenai kondisi financial distress sangat penting bagi berbagai pihak. Hal ini dikarenakan kebangkrutan perusahaan tidak hanya merugikan pihak perusahaan saja, tetapi merugikan pihak lain yang berhubungan dengan perusahaan tersebut. Oleh karena itu, analisis kondisi financial distress dapat dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan. Suatu perusahaan dinilai mengalami kondisi financial distress jika perusahaan tersebut mengalami kerugian atau dalam beroperasi memperoleh laba operasi negatif. (Whitaker, 1999). Pentingnya kondisi financial distress ini diketahui, diharapkan dapat dilakukan tindakan untuk memperbaiki situasi tersebut sehingga perusahaan tidak akan masuk pada tahap kesulitan yang lebih berat seperti kebangkrutan ataupun likuidasi. Analisa laporan keuangan dapat menjadi salah satu alat untuk
memprediksi kebangkrutan. Laporan keuangan dapat dijadikan dasar untuk mengukur kesehatan suatu perusahaan melalui rasio-rasio keuangan yang ada.
Kesehatan suatu perusahaan akan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjalankan usahanya, distribusi aktivanya, keefektifan penggunaan aktivanya, hasil usaha atau pendapatan yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar, serta potensi kebangkrutan yang akan dialami.
Alfath (2016) mengungkapkan bahwa perusahaan yang mengalami financial distress ditandai dengan laba bersih (net operation income) negatif selama lebih dari satu tahun dan tidak melakukan pembayaran deviden. Sesuai dengan surat keputusan direksi BEJ Nomor Kep- 308/BEJ/07-2004 poin III.3.1.1, bursa akan menghapus pencatatan saham perusahaan tercatat apabila perusahaan tercatat mengalami kondisi atau peristiwa yang secara langsung berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat (Ayuningtias, 2013).
Perusahaan dapat mengalami delisting jika terlambat menyampaikan kewajiban pelaporan keuangan, perusahaan memiliki utang jangka panjang dalam jumlah besar, perusahaan terus mengalami kerugian, perusahaan terkena masalah hukum, tidak memiliki pendapatan operasional yang memadai, selama lebih dari 1 (satu) tahun tidak membayar dividen, serta kinerja perusahaan yang menurun secara terus menerus. Menurut Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor : Kep-308/BEJ/07-2004 tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting).
Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah delisting pada perusahaan manufaktur tahun 2017. Delisting adalah apabila saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami penurunan kriteria sehingga tidak
memenuhi persyaratan pencatatan, maka saham tersebut dapat dikeluarkan dari pencatatan di Bursa Efek. PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT) yang dulu bernama Cipaganti Cipta Graha (Cipaganti) dinyatakan bangkrut, lantaran gagal membayar utang kepada sejumlah kreditor. Akibatnya, saham perusahaan angkutan travel ini dicoret (delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bursa memutuskan menghapus pencatatan efek PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT) dari Bursa Efek Indonesia efektif sejak tanggal 19 Oktober 2017. Proses delisting CPGT memenuhi berbagai persyaratan seperti tertuang dalam aturan Delisting dan Relisting antara lain, ketentuan III.3.1.1 aturan tersebut berbunyi; Mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka, dan perusahaan tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Dengan dicabutnya status perseroan sebagai perusahaan tercatat, maka Cipaganti tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat dan BEI akan menghapus nama perseroan dari daftar perusahaan tercatat yang mencatatkan efeknya di BEI.1
Dengan demikian, salah satu yang menjadi penyebab perusahaan mengalami penghapusan dari bursa adalah karena perusahaan tersebut berada pada kondisi kesulitan keuangan (financial distress). Damodaran dalam Rahmayanti dan Hadromi (2017) mengungkapkan faktor internal perusahaan yang menyebabkan financial distress adalah terjadinya kesulitan arus kas, besarnya jumlah utang, dan
1 Motoris.id “Cipaganti Bangkrut, Saham Dibuang dari Bursa”
https://www.motoris.id/industri/3166/cipaganti-bangkrut-saham-dibuang-dari-bursa/
Diakses pada tanggal 19 Oktober 2017
kerugian dalam kegiatan operasional perusahaan selama beberapa tahun.
Mekanisme Corporate Governance merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan kontrol, pengawasan terhadap keputusan tersebut. Mekanisme corporate governance diarahkan untuk menjamin dan mengawasi berjalannya sistem governance dalam sebuah organisasi. Maka dapat dikatakan bahwa mekanisme corporate governance mampu memitigasi financial distress didalam perusahaan. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penerapan corporate governance antara lain pernah dilakukan oleh Parulian (2007) yang meneliti salah satunya mengenai hubungan struktur kepemilikan dan kondisi financial distress.
Struktur kepemilikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi perusahaan di masa depan.
Struktur kepemilikan diproyeksikan melalui kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial. Struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional) merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan dimasa yang akan datang. Kepemilikan institusional diharapkan akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen sehingga biaya agensi dapat diminimalkan, Hasil penelitian Meilinda (2012) menyatakan kepemilikan institusional, berpengaruh terhadap financial distress, hal ini berbeda dengan penelitian Sastriana (2013) yang menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemungkinan terjadinya financial distress. Di sisi lain adanya kepemilikan oleh investor institusional seperti perusahaan efek, asuransi,
perbankan, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen perusahaan, sehingga probabilitas terjadinya financial distress dapat berkurang.
Dengan adanya kepemilikan institusional diharapkan akan mendorong pengawasan yang lebih optimal terhadap keputusan manajemen dalam penggunaan asset perusahaan, sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya financial distress.
Rasio pertumbuhan menggambarkan persentase pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke tahun. Rasio ini di antaranya yaitu pertumbuhan penjualan (sales growth) dan kenaikan laba bersih. Pertumbuhan penjualan itu sendiri mencerminkan kemampuan suatu perusahaan dalam meningkatkan penjualan produk yang dihasilkannya, baik peningkatan frekuensi penjualan ataupun peningkatan volume penjualan. Perusahaan yang berhasil menjalankan strateginya dalam hal pemasaran dan penjualan produknya, akan meningkatkan pertumbuhan penjualan perusahaan. Tingginya tingkat pertumbuhan penjualan tersebut mengindikasikan perolehan laba yang besar. Sehingga, apabila tingkat pertumbuhan penjualan suatu perusahaan tinggi berarti kondisi keuangan perusahaan tersebut cukup stabil dan jauh dari financial distress, karena terbukti dengan penjualan yang dapat terus bertumbuh. Muflihah (2017) menyatakan bahwa faktor pertumbuhan penjualan berpengaruh negatif terhadap financial distress karena perusahaan mengalami penjualan yang relatif meningkat disetiap tahunnya maka dapat dikatakan perusahaan tidak memiliki laba negatif dan juga tidak akan mengalami kondisi financial distress, sedangakn hasil penelitian
Rahayu (2015) menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif terhadap Financial distress, hal ini dikarenakan pertumbuhan penjualan (Sales Growth) yang tinggi belum tentu memilki beban yang sedikit, sehingga laba yang dihasilkan hanya sedikit. Pertumbuhan penjualan mencerminkan keberhasilan investasi perusahaan pada periode yang lalu dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan perusahaan di masa depan (Widhiari & Merkusiwati, 2015).
Perusahaan yang pertumbuhan penjualannya positif dan semakin lebih tinggi cenderung dapat mempertahankan kelangsungan usahanya serta dapat menurunkan potensi terjadinya kondisi financial distress.
Sementara itu terdapat juga faktor selain kinerja keuangan namun berhubungan dengan kondisi perusahaan, Ukuran suatu perusahaan menggambarkan seberapa besar total aset yang dimiliki perusahaan tersebut.
Menurut Rajan dan Zingales (dalam Supriyanto dan Falikhatun, 2008), perusahaan yang memiliki total aset yang besar akan mudah melakukan diversifikasi dan kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan akan lebih kecil. Hal senada diungkapkan Storey (dalam Fachrudin, 2011) bahwa apabila total aset suatu perusahaan semakin maka perusahaan tersebut akan mampu melunasi kewajiban di masa depan, sehingga perusahaan dapat menghindari permasalahan keuangan. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan dan memiliki arah negatif terhadap Financial distress (Widyastuti, 2015), sedangkan penelitian yang lain menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap financial distress (Anjana, 2017; Nora, 2016; Gobenvy, 2014)
Semakin banyak perusahaan yang mengalami kepailitan akibat dari kondisi financial distress yang dialami, maka semakin penting pula bagi perusahaan untuk memprediksi faktor-faktor yang dapat menyebabkan kondisi financial distress tersebut. Adapun faktor-faktor yang diuji dan dianalisis dalam penelitian ini adalah kepemilikan institusional, pertumbuhan penjualan, dan ukuran perusahaan.
Perbedaan hasil penelitian dalam memprediksi kondisi Financial distress yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya menjadikan alasan penulis untuk melakukan pengujian ulang terhadap faktor yang mempengaruhi kondisi financial distress pada suatu perusahaan. Kepemilikan institusional, merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan dimasa yang akan datang karena yang memonitor manajemen sehingga pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusional. Pertumbuhan penjualan dapat berpengaruh terhadap financial distress dikarenakan dapat dijadikan prediksi pada pertumbuhan perusahaan di periode yang akan datang. Tingginya tingkat pertumbuhan penjualan tersebut mengindikasikan perolehan laba yang besar dan Ukuran Perusahaan dapat menggambarkan kondisi keuangan perusahaan, karena ukuran perusahaan menunjukkan jumlah asset yang dimiliki perusahaan.
Ketiga variabel independen tersebut dipilih dalam penelitian agar diharapkan akan menghasilkan data yang cukup akurat dalam memberikan gambaran mengenai potensi perusahaan untuk mengalami financial distress. Penelitian saat ini juga berfokus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dikarenakan pada perusahaan manufaktur memiliki pengaruh yang sangat besar di Indonesia khususnya pada faktor perekonomian serta perusahaan manufaktur memiliki
perkembangan yang begitu pesat dan juga rentan terkena dampak dalam krisis ekonomi.
Ditinjau dari sudut pandang Islam financial distress sering dimaknai sebagai kondisi di mana seseorang dalam kondisi sulit keuangan. Kondisi ini akan menempatkan perusahaan pada ancaman kebangkrutan (pailit). Financial distress menyebabkan perusahaan terancam gagal dalam melaksanakan kewajibannya terhadap pihak yang berkepentingan dengan perusahaan, seperti investor, kreditor bahkan pihak penjamin dana.
Dalam Al-Quran QS. Al-Baqoroh [2]: 280 yang mana barangsiapa terbukti mengalami kesulitan keuangan, dalam arti tidak mempunyai kekayaan yang bisa dijual untuk melunasi utangnya, ia tidak boleh ditagih, karena Allah SWT.Berfirman:
نوَإِ
َنٍَُٔيرعَت رًُجُِن نِإ رًُؾَّى ٞ ريَۡخ ْأُكَّد َصَث نَأَو ٖٖۚةَ َسۡريٌَ َٰلَِإ ٌةَرِظََِػ ٖةَ رسُۡع وُذ َنَكَ
٢٨٠
Artinya: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh [2]: 280)
Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa kepada Allah SWT dan Allah SWT akan memberikan balasan kepada umatnya yang selalu berusaha karena sesungguhkan mereka akan mendapatkan sebagaimana dia telah berusaha. Sehingga jika manusia mengalami kesulitan, maka berusahalah dan selalu bertawakal kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
َلاَك ُلُٔسَر ِ َّللّا َّلّ َص َّللّا ِّْيَيَع ًََّيَسَو َْٔل ًُْؾَُّ َ
أ ًُْجُِْن
َنُٔ َّكَََّٔث
َ َعَ
ِ َّللّا َّقَح ِِّ لكَََّٔث ُرَل
ًُْجْؼِز اٍََن ُقَزْرُي ُْيۡ َّطىا وُدْغَت ا ًصاَ ِخِ ُحوُرَثَو
اًُا َطِب )
هاور
ىدٌترىا
(
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda “seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh”. (HR: Tirmidzi, no. 2266).
Makna dari hadits tersebut yaitu orang yang benar-benar berserah diri kepada Allah SWT menunjukkan bahwa orang ersebut memiliki iman yang kuat.
Dia sepenuhnya mengimani dan meyakini kemampuan Allah atas segala sesuatunya.
Berdasakan hal tersebut, maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Pertumbuhan Penjualan dan Ukuran Perusahaan Terhadap Financial distress dan Tinjauannya Dari Sudut Pandang Islam Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018”
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh Kepemilikan Institusional, Pertumbuhan Penjualan dan Ukuran Perusahaan secara parsial terhadap Financial distress?
2. Bagaimana pengaruh Kepemilikan Institusional, Pertumbuhan Penjualan dan Ukuran Perusahaan secara simultan terhadap Financial distress?
3. Bagaimana pengaruh Kepemilikan Institusional, Pertumbuhan Penjualan dan Ukuran Perusahaan terhadap Financial distress dalam sudut pandang Islam?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, penelitian tentang “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Pertumbuhan Penjualan dan Ukuran Perusahaan Terhadap Financial distress” ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional, Pertumbuhan Penjualan, dan Ukuran Perusahaan secara parsial terhadap Financial distress pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2014 sampai 2018.
2. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional, Pertumbuhan Penjualan, dan Ukuran Perusahaan secara simultan terhadap Financial distress pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2014 sampai 2018.
3. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional, Pertumbuhan Penjualan, dan Ukuran Perusahaan terhadap Financial distress dalam sudut pandang Islam?
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan untuk penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Diharapkan bermanfaat sebagai bahan evaluasi dari teori dengan keadaan yang ada di lapangan dan memberikan kontribusi pada perkembangan teori akuntansi serta menambah khasanah yang baru dalam perbendaharaan ilmu pengetahuan.
b. Sebagai tambahan pengetahuan dalam memprediksi Financial distress
dalam suatu perusahaan terutama perusahaan manufaktur dan menambah informasi dan referensi tentang Financial distress bagi mahasiswa dalam penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Dapat menjadi masukan untuk perusahaan terutama perusahaan yang mengalami Financial distress mengenai faktor yang dapat berpengaruh untuk mengatasi kondisi Financial distress.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi investor dan calon investor yang tertarik menanamkan modalnya melalui pasar modal agar lebih berhati-hati dalam mencermati kualitas laporan keuangan yang diterbitkan dan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi tambahan dalam mempertimbangkan keputusan investasi.
c. Diharapkan mampu memberikan masukan dan menjadi pedoman bagi lembaga pemerintah dalam mengantipasi dan menerapkan kebijakan mengenai kondisi Financial distress.