BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Pengambilan data dilaksanakan di Pasar Induk Gede Bage pada bulan Agustus hingga Oktober 2019, sedangkan analisa data dilakukan bulan November 2019. Penelitian dilakukan pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang telah memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah 33 orang.
4.1.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat pendidikan, indeks massa tubuh (IMT), kebiasaan merokok, dan masa kerja pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1 Karakteristik Responden
Karakteristik Jumlah (n) Presentase (%)
Usia (tahun)
<=25
26-35
36-45
>45
2 16 14 1
6,1 48,5 42,4 3,0
Total 33 100
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
33 0
100 0
Total 33 100
Pendidikan
SD
>SD
15 18
45,5 54,5
Total 33 100
IMT
Underweight
Normal & Overweight
4 29
12,1 87,9
Total 33 100
Kebiasaan Merokok
Ya
Tidak
31 2
93,9 6,1
Total 33 100
Masa Kerja
<=5 tahun
>5 tahun
5 28
15,2 84,8
Total 33 100
Berdasarkan tabel diatas reponden terbanyak berusia 26-35 tahun, yaitu 16 dari 33 orang (48,5%). Berdasarkan jenis kelamin, seluruh responden adalah laki- laki sebanyak 33 dari 33 orang (100%).
Responden sebagian besar memiliki pendidikan terakhir >SD sebanyak 18 orang (54,5%). Berdasarkan IMT, responden terbanyak memiliki IMT pada normal & overveight yaitu 29 orang (87,9). Responden yang memiliki kebiasaan merokok yaitu sebanyak 31 orang (93,9%). Masa kerja responden yang dominan adalah >5 tahun sebanyak 28 orang (84,8%).
4.1.2 Gambaran Beban Kerja Fisik Kuli Panggul Beras
Karakteristik responden berdasarkan beban kerja fisik pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2 Gambaran Beban Kerja Fisik Kuli Panggul Beras
Variabel Jumlah (n) Presentase (%)
Beban Kerja Fisik
Kategori 1
Kategori 2
Kategori 3
20 8 5
60,6 24,2 15,2
Total 33 100
Keterangan:
Kategori 1 (33-52 kg/angkat)
Kategori 2 (53-72 kg/angkat)
Kategori 3 (73-92 kg/angkat)
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage memiliki beban kerja fisik pada kategori 1 (33- 52 kg/angkat) yaitu 20 orang (60,6%).
4.1.3 Gambaran Posisi Angkat Kuli Panggul Beras
Karakteristik responden berdasarkan posisi angkat pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.3 di bawah ini.
Tabel 4.3 Gambaran Posisi Angkat Kuli Panggul Beras
Variabel Jumlah (n) Presentase (%)
Posisi Angkat
Benar
Salah
14 19
42,4 57,6
Total 33 100
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden terbanyak mengangkat beban dengan posisi yang salah, yaitu sebanyak 19 orang (57,6%).
4.1.4 Gambaran Kejadian Low Back Pain (LBP) dan Skala Nyeri Kuli Panggul Beras
Karakteristik subjek penelitian berdasarkan kejadian low back pain (LBP) dan skala nyeri pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini.
Tabel 4.4 Gambaran Kejadian Low Back Pain (LBP) dan Skala Nyeri Kuli Panggul Beras
Variabel Jumlah (n) Presentase (%)
Kejadian Low Back Pain (LBP)
Ya
Tidak
29 4
87,9 12,1
Total 33 100
Skala Nyeri
Tidak Nyeri = 0
Nyeri Ringan = 1-3
Nyeri Sedang = 4-7
Nyeri Berat = 8-9
Nyeri Sangat Berat = 10
2 12 17 2 0
6,1 36,3 51,5 6,1
0
Total 33 100
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage mengalami kejadian low back pain (LBP) yaitu sebanyak 29 orang (87,9). Responden yang mengalami LBP tersebut paling banyak berada pada skala 4-7 (Nyeri Sedang) yaitu 17 orang (51,5%).
4.1.5 Hubungan Karakteristik Responden dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Hubungan karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat pendidikan, indeks massa tubuh (IMT), kebiasaan merokok, dan masa kerja dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.5 di bawah ini.
Tabel 4.5 Hubungan Karakteristik Responden dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Karakteristik
Low Back Pain (LBP)
Total
n (%) Nilai P Ya
n (%)
Tidak n (%) Usia (tahun)
<=25
26-35
36-45
>45
0 (0) 14 (87,5)
14 (100) 1 (100)
2 (100) 2 (12,5) 0 (0) 0 (0)
2 (100) 16 (100) 14 (100) 1 (100)
0,001
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
29 (87,9) 0 (0)
4 (12,1) 0 (0)
33 (100) 0 (100)
-
Pendidikan
SD
>SD
13 (86,7) 16 (88,9)
2 (13,3) 2 (11,1)
15 (100) 18 (100)
0,846
IMT
Underweight
Normal & Overweight
2 (50,0) 27 (93,1)
2 (50,0) 2 (6,9)
4 (100) 29 (100)
0,062
Kebiasaan Merokok
Ya
Tidak
28 (90,3) 1 (50,0)
3 (9,7) 1 (50,0)
31 (100) 2 (100)
0,090
Masa Kerja
<=5 tahun
>5 tahun
2 (40,0) 27 (96,4)
3 (60,0) 1 (3,6)
4 (100) 29 (100)
0,007
*) Uji Chi Square
Berdasarkan tabel diatas didapatkan informasi bahwa proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) dengan usia 26-35 tahun yaitu 14 dari 16 orang (87,5%), usia 36-45 tahun yaitu 14 dari 14 orang (100%), dan usia >45 tahun yaitu 1 dari 1 orang (100%).
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,001 (nilai p<0,05). Meskipun hasilnya signifikan, secara statistik validitas analisis tidak baik karena masih ada sel yang bernilai 0. Oleh karena itu, hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) adalah 29 dari 33 orang (87,9%). Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage tidak dapat ditentukan.
Berdasarkan tingkat pendidikan, proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) adalah 13 dari 15 orang (86,7%) pada tingkat SD dan 16 dari 18 orang (88,9%) pada tingkat
>SD.
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,846 (nilai p>0,05).
Berdasarkan indeks massa tubuh (IMT), proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) dengan IMT underweight yaitu 2 dari 4 orang (50,0%) dan IMT normal & overweight 27 dari 29 orang (93,1%).
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,062 (nilai p>0,05).
Proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) berdasarkan kebiasaan merokok adalah 28 dari 31 orang (90,3%). Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,090 (nilai p>0,05).
Berdasarkan masa kerja, proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) dengan masa kerja <5 tahun
yaitu 2 dari 5 orang (40,0%) dan masa kerja >5 tahun yaitu 27 dari 28 orang (96,4%).
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,007 (nilai p<0,05).
4.1.6 Hubungan Beban Kerja Fisik Dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Hubungan beban kerja fisik dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini.
Tabel 4.6 Hubungan Beban Kerja Fisik dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Beban Kerja Fisik
Low Back Pain (LBP)
Total
n (%) Nilai P Ya
n (%)
Tidak n (%)
Kategori 1
Kategori 2
Kategori 3
16 (80) 8 (100) 5 (100)
4 (20) 0 (0) 0 (0)
20 (100) 9 (100) 7 (100)
0,228
*) Uji Chi Square Keterangan:
Kategori 1 (33-52 kg/angkat)
Kategori 2 (53-72 kg/angkat)
Kategori 3 (73-92 kg/angkat)
Berdasarkan tabel diatas didapatkan informasi bahwa proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) dengan beban kerja fisik pada kategori 1 (33-52 kg/kali angkat) yaitu 16 dari 20 orang (80 %), pada kategori 2 (15-20 kali) yaitu 8 dari 8 orang (100 %), dan yang memiliki keluhan low back pain (LBP) pada kategori 3 (21-26 kali) yaitu 5 dari 5 orang (100%).
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja fisik dengan keluhan low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,228 (nilai p>0,05). Meskipun hasilnya tidak signifikan, secara statistik validitas analisis tidak baik karena masih ada sel yang bernilai 0. Oleh karena itu, hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
4.1.7 Hubungan Posisi Angkat dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Hubungan posisi angkat dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini.
Tabel 4.7 Hubungan Posisi Angkat dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Posisi Angkat
Low Back Pain (LBP)
Total
n (%) Nilai P Ya
n (%)
Tidak n (%)
Benar
Salah
10 (71,4) 19 (100)
4 (28,6) 0 (0)
14 (100)
19 (100) 0,013
*) Uji Chi Square
Berdasarkan tabel diatas didapatkan informasi bahwa proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) dengan posisi angkat yang benar yaitu 10 dari 14 orang (71,4%), dan posisi angkat yang salah yaitu 19 dari 19 orang (100%).
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara posisi angkat dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,013 (nilai p<0,05). Meskipun hasilnya signifikan, secara statistik validitas
analisis tidak baik karena masih ada sel yang bernilai 0. Oleh karena itu, hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
4.1.8 Hubungan Skala Neri dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Hubungan skala nyeri dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dapat dilihat pada Tabel 4.8 di bawah ini.
Tabel 4.8 Hubungan Skala Nyeri Dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Kuli Panggul Beras di Pasar Induk Gede Bage
Skala Nyeri
Low Back Pain (LBP)
Total
n (%) Nilai P Ya
n (%)
Tidak n (%)
Tidak Nyeri = 0
Nyeri Ringan = 1-3
Nyeri Sedang = 4-7
Nyeri Berat = 8-9
Nyeri Sangat Berat = 10
0 (0) 10 (83,3)
17 (100) 2 (100)
0 (0)
2 (100) 2 (16,7) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
2 (100) 12 (100) 17 (100) 2 (100) 0 (100)
0,001
*) Uji Chi Square
Berdasarkan tabel diatas didapatkan informasi bahwa proporsi kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage yang mengalami kejadian low back pain (LBP) dengan skala nyeri ringan yaitu 10 dari 12 orang (83,3%), skala nyeri sedang yaitu 17 dari 17 orang (100%), dan sakala nyeri berat yaitu 2 dari 2 orang (100%).
Hasil uji statistik menggunakan chi square test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara skala nyeri dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan nilai p=0,001 (nilai p<0,05). Meskipun hasilnya signifikan, secara statistik validitas analisis tidak baik karena masih ada sel yang bernilai 0. Oleh karena itu, hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage berusia 26-35 tahun, yaitu sebanyak 16 dari 33 orang (48,5%). Proporsi keluhan LBP paling banyak berusia antara 26-35 dan 36-45 yakni masing-masing sebanyak 14 orang (42,4%). Semakin bertambahnya usia terjadi proses degenerasi yang mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi tubuh yang salah satunya adalah tulang manusia. Proses ini terjadi mulai pada usia 30 tahun berupa kerusakan jaringan, perubahan jaringan menjadi jaringan parut dan kerusakan-kerusakan lainnya. Hal tersebut menyebabkan penurunan elastisitas tulang dan kekuatan otot yang dapat menimbulkan terjadinya LBP.9,12
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurwahyuni pada tahun 2012, bahwa usia berhubungan dengan kejadian LBP.
Kemampuan fisik maksimal seseorang berada pada usia 25-40 tahun yang kemudian akan semakin menurun sesuai dengan bertambaahnya usia, sehingga ketika seseorang mencapai usia >40 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya LBP.33,34 Teori ini sejalan dengan penelitian yang dilalukan oleh Andini F pada tahun 2015 mengenai Risk Factors of Low Back Pain in Workers, bahwa insiden LBP terjadi pada usia antara 35-55 tahun.9
Berdasarkan jenis kelamin, seluruh responden berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 33 orang (100%). Proporsi keluhan LBP berdasarkan jenis
kelamin laki-laki yakni sebanyak 29 orang (87,9%). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage tidak dapat ditentukan. Hal tersebut disebabkan karena seluruh responden adalah laki-laki. Menurut Kiranjit K pada tahun 2015, kejadian LBP lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan laki-laki disebabkan karena secara normal kekuatan otot wanita lebih rendah.1
Sebagian besar responden memiliki riwayat pendidikan terakhir >SD sebanyak 18 orang (54,5%). Proporsi keluhan LBP berdasarkan tingkat pendidikan yaitu sebanyak 16 orang (48,5%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat pendidikan dengan kejadian LBP. Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho IA pada tahun 2017, menyatakan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan pekerja, sehingga semakin rendah riwayat pendidikan pekerja memungkinkan untuk meningkatkan prevalensi kejadian LBP.10
Proporsi kuli panggul beras yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) normal & overweight yaitu sebanyak 29 orang (87,9%). Kuli panggul beras yang mengalami LBP berdasarkan IMT adalah 27 orang (93,1%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian LBP. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri Seta pada tahun 2014, bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian IMT. Penelitian yang dilakukan oleh Tiara Devi T pada tahun 2017, menunjukan hasil yang berbeda yakni tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian LBP.12
Kegiatan mengangkat beban yang dilakukan oleh para kuli panggul membutuhkan tenaga yang kuat untuk menopang berat beban yang sangat berat, adapun bagian tubuh yang paling berperan penting untuk menopang beban adalah tulang belakang terutama daerah lumbar. Ketika seseorang memiliki IMT berlebih, kemungkinan untuk terjadinya kerusakan dan bahaya pada tulang belakang semakin besar. Hal ini disebabkan karena tulang belakang akan semakin tertekan dan bagian intervertebral disknya akan semakin sempit untuk menopang beban tubuh.36 Teori ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kade Ngurah pada tahun 2014, bahwa seorang yang memiliki IMT overweight memiliki resiko 2,5 lebih tinggi untuk menyebabkan LBP.
Berdasarkan kebiasaan merokok, sebagian besar kuli panggul beras di Pasar induk Gede Bage memiliki kebiasaan merokok yaitu sebanyak 31 orang (93,9%). Proporsi keluhan LBP berdasarkan kebiasaan merokok yakni sebanyak 28 orang (84,8%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian LBP. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri Seta pada tahun 2014, bahwa kebiasaan merokok memiliki hubungan dengan LBP. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Winda AR pada tahun 2012, pekerja yang memiliki kebiasaan merokok memiliki resiko 2,84 kali lebih tinggi mengalami cedera muskuloskeletal dari pada pekerja yang tidak memiliki kebiasaan merokok.35
Hasil observasi dilapangan menunjukkan bahwa para kuli panggul bekerja 8 jam perhari selama 6 hari perminggu. Pekerja mengangkat beban saat ada pembeli yang dating dan saat ada pengiriman barang. Pada saat tidak ada pembeli
dan pengiriman barang, pekerja bisa beristirahat diluar dari jam istirahat yang telah diberikan. Para kuli biasanya memanfaatkan waktu istirahatnya untuk makan, minum, ngobrol, dan merokok secara bersama-sama. Hal tersebut menjadi salah satu faktor adanya kesamaan untuk menghirup asap rokok baik untuk perokok aktif maupun pasif. Asap rokok sendiri mengandung CO yang dapat mengikat oksigen yang dibutuhkan oleh sel otot, sehingga sel akan kekurangan oksigen dan menyebabkan penurunan dari produksi energi. Keadaan tersebut mengakibatkan mudah terjadinya kelelahan dan dapat menimbulkan adanya nyeri.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tiara Devi T pada tahun 2017, bahwa tidak terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian LBP.12
Responden telah melewati masa kerja sebagai kuli panggul beras >5 tahun sebanyak 28 orang (84,8%). Proporsi keluhan LBP berdasarkan masa kerja yaitu sebanyak 27 orang (96,4%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri Seta pada tahun 2014, bahwa masa kerja berhubungan dengan keluhan nyeri pinggang. Penelitian yang dilakukan oleh Mei Sianturi pada tahun 2015, menyataan hal yang serupa mengenai adanya hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kejadian LBP.36,37
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurzannah pada tahun 2015, seseorang yang memiliki masa kerja >5 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya LBP dibandingkan dengan seseorang yang memiliki masa kerja <5 tahun.34 Berkaitan dengan hal tersebut, LBP merupakan suatu penyakit yang
bersifat kronis, diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat berkembang dan bermanifestasi menimbulkan rasa sakit. Para pekerja yang melakukan pekerjaan berat terutama pekerja pengangkut yang telah bekerja dalam waktu yang cukup lama memiliki risiko lebih tinggi mengalami LBP. Hal ini disebabkan karena LBP tidak terjadi secara spontan melainkan dibutuhkan jangka waktu tertentu untuk dapat berkembang menimbulkan adanya nyeri tergantung dari masing-masing kemampuan tubuh.12 Ketika seseorang memiliki paparan yang terus menerus terjadi, hal itu dapat menyebabkan terjadinya proses degenerasi tulang belakang dan penyempitan rongga diskus yang mengakibatkan adanya keluhan LBP yang dapat bersifat kronis.34 Teori ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kaur Kiranjit pada tahun 2015, bahwa insiden tertinggi terjadinya LBP terjadi pada pekerja yang memiliki masa kerja >10 tahun dari pada <5 tahun atau 5-10 tahun.1
Berdasarkan hasil penelitian mengenai beban kerja fisik, diketahui sebagian besar kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage dengan beban kerja fisik dengan kategori 1 (33-52 kg/angkat) 20 orang (60,6%). Proporsi keluhan LBP paling banyak dengan beban kerja fisik kategori 1 yaitu sebanyak 16 orang (80%). Di lapangan, para kuli panggul bekerja mengangkut beras rata-rata bisa mencapai 33-92 kg/kali angkat. Para kuli panggul bekerja dengan mengangkat beban yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing pekerja, ada yang kuat mengangkat hanya 2 karung beras (50 kg) dalam sekali angkat dan ada pula yang mampu mengangkat 3 sampai 4 karung (75-100 kg) dalam sekali angkat. Para pekerja memerlukan tenaga yang cukup besar untuk melakukan kegiatan tersebut. Pekerjaan yang menggunakan tenaga besar dapat
menyebabkan adanya beban mekanik yang besar pada otot, tendon, ligamen, dan sendi sehingga dapat menyebabkan terjadinya iritasi, inflamasi, kelelahan dan kerusakan otot serta tendon dan juga jaringan lain. hal tersebut menjadi salah satu faktor risiko pekerjaan yang dapat menyebabkan terjadinya LBP.9
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja fisik dengan keluhan LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriningsih pada tahun 2011, bahwa beban kerja tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan keluhan LBP. Sama seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Tiara DT pada tahun 2017, bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara beban kerja yang diangkut dengan keluhan MSDs. Meskipun hasil secara statistik tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan, berdasarkan hasil penelitian responden kuli panggul beras sebagian besar mengalami LBP. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya faktor lain seperti jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, atau karena berat beban yang diangkat angkat yang bisa ditoleransi oleh kekuatan otot pekerja.12,38
Faktor lain yang terkait dengan kejadian LBP di pengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), masa kerja, kebiasaan merokok, riwayat pendidikan, riwayat penyakit dan riwayat trauma.
Selain itu LBP juga dipengaruhi oleh beban kerja, kapasitas kerja dan lingkungan kerja.9 Faktor risiko tertinggi yang dapat menyebabkan keluhan LBP adalah beban yang diangkut oleh pekerja.12 Petugas kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage bekerja mengangkat beban dalam setiap harinya bisa mencapai 353- 2.528 kg tanpa menggunakan alat bantu, hal itu sangat melampaui batas angkat
maksimal yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. PER.01/Men/1978. Aktivitas angkat maksimal menurut jenis kelamin yang telah ditetapkan, pekerja laki-laki dewasa (18-60 tahun) memiliki batas angkat maksimal yaitu 40 kg untuk sekali angkat dan 15-18 kg untuk aktivitas angkat yang terus-menerus.31 Selain itu para petugas kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage tidak memperhatikan posisi angkat yang benar sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya LBP.9
Kegiatan mengangkut beban secara manual dengan berat beban yang berat menyebabkan beban kerja fisik meningkat, pekerja memerlukan energi fisik otot yang tinggi sebagai sumber energinya. Berat beban yang diangkat tersebut menyebabkan adanya penekanan pada segmen tulang belakang (L5/S1) yang kemudian mengakibatkan terjadinya kerusakan lapisan intervertebral disk.
Kerusakan lapisan tersebut menyebabkan penekanan dan mengiritasi akar saraf sehingga menimbulkan adanya nyeri. Seiring berjalannya waktu, ketika berat beban tersebut diangkat secara terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada otot, ligamen dan tendon pada daerah tersebut yang memperparah keluhan nyeri.10,11 Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurzannah pada tahun 2015, mengenai hubungan faktor risiko dengan terjadinya nyeri punggung bawah (low back pain) pada tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Belawan Medan, yang menunjukkan ada hubungan yang bermakna pada variabel usia, masa kerja, beban kerja dan sikap kerja dengan kejadian LBP.34
Berdasarkan hasil penelitian mengenai posisi angkat, sebagian besar pekerja mengangkat dengan posisi angkat yang salah, yaitu sebanyak 19 orang (57,6%). Seluruh pekerja yang mengangkat dengan posisi angkat yang salah
tersebut mengeluhkan LBP. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara posisi angkat dengan kejadian LBP pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Bayu pada tahun 2013, bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap angkat dengan keluhan nyeri pinggang.39
Posisi yang salah saat bekerja menyebabkan transfer energi dari otot ke jaringan rangka tidak efisien, sehingga membutuhkan energi yang lebih besar untuk melakukan suatu pekerjaan. Keadaan tersebut mengakibatkan pekerja mudah mengalami kelelahan.9 Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mayrika P pada tahun 2009, bahwa posisi angkat yang benar dapat menurunkan risiko terpapar LBP. Posisi angkat yang benar, tumpuan beban tidak terletak pada tulang belakang atau punggung, melainkan pada kedua kaki sehingga kemungkinan rusaknya tulang belakang akan kecil dan tidak terjadi LBP.40 Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian Nanda Susanto pada tahun 2013, bahwa terdapat hubungan antara teknik mengangkat beban dengan keluhan nyeri pinggang.8
Berdasarkan skala nyeri, responden yang mengalami LBP paling banyak berada pada skala 4-7 (Nyeri Sedang) yaitu 17 orang (51,5%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh kelompok Studi Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia (PERDOSSI) pada tahun 2002 bahwa pederita LBP rata- rata memiliki nilai nyeri pada nyeri sedang sampai berat. Keluhan nyeri otot biasanya tidak terjadi pada orang yang memiliki waktu istirahat yang cukup dalam kesehariannya. Seseorang yang memiliki pekerjaan yang membutuhkan pengeluaran tenaga yang besar namun tidak memiliki waktu yang cukup untuk
istirahat, meningkatkan risiko terjadinya keluhan otot.41 Keluhan LBP sendiri lebih sering terjadi pada orang yang memiliki ketidakseimbangan antara kemampuan fisik yang dimiliki dengan beban pekerjaan yang harus dikerjakan.
Para kuli panggul beras memiliki kemampuan fisik dan berat beban angkat yang berbeda-beda, dimana sebagian besarnya berat beban angkat tersebut melebihi kemampuan angkat masing-masing pekerja. Keadaan dimana beban kerja terlalu berat melampaui kemampuan fisik yang rendah, dapat memperberat adanya keluhan nyeri.42
4.3 Keterbatasan Penelitian
Penelitian mengenai hubungan beban kerja fisik dengan kejadian low back pain (LBP) pada kuli panggul beras di Pasar Induk Gede Bage memiliki keterbatasan antara lain:
1. Penelitian yang dilakukan di beberapa toko beras menggambarkan karakteristik kerja kuli panggul beras yang berbeda. Seperti perbedaan jumlah rata-rata angkat perhari, dan jarak tempat bekerja sehingga beban kerja fisik yang diukur tidak sama rata.
2. Belum ada standar baku mengenai batas berat angkat perhari.
3. Pengiriman barang di toko beras tidak terjadi setiap hari, sehingga berat beban yang diangkut pekerja berbeda-beda dalam setiap harinya.
4. Penelitian ini tidak meneliti tentang motivasi, persepsi, dan kepuasan kerja.