Wealth Management Division
Published on: 3 August 2023
BCA House View Report
Tactical Asset Allocation
Money Market – Neutral
Meskipun The Fed menaikkan suku bunga ke 5,50% di FOMC Juli 2023, BI tetap menahan suku bunga di 5,75% pada RDG Juli 2023 karena inflasi turun dan IDR stabil. Suku bunga BI yang sudah berada di puncak membuat ruang kenaikan imbal hasil pasar uang akan semakin terbatas kedepannya.
Fixed Income USD – Slightly Overweight
Kuatnya data ketenagakerjaan & PDB AS di kuartal-II 2023 berpotensi membuat suku bunga ditahan tinggi untuk waktu yang lebih lama. Alhasil, penurunanyieldINDON cukup terbatas meskipun CDS 5YR Indonesia telah turun signifikan.Yield INDON berpotensi turun lebih lanjut ketika The Fed mulai mengindikasikan penurunan suku bunga.
Fixed Income IDR – Slightly Overweight
Meskipun selisihreal yieldFR dan UST kian menyempit, kepemilikan asing yang berada di kisaran terendah (16%) membuat risikooutflowrelatif kecil.
Namun, permintaan investor domestik dan asing yang tetap tinggi ditengah kondisi fundamental Indonesia yang solid serta jumlah penerbitan yang mulai dikurangi dapat menjaga pergerakanyieldFR.
Equity USD – Neutral
Di AS, potensi kenaikan saham teknologi lebih terbatas kedepannya karena rentan terkena aksi profit taking dan AS sedang berada dalam kondisi pengetatan likuiditas. Di Asia, pasar saham Tiongkok terkoreksi karena data ekonomi terus memburuk. Koreksi membuat valuasi semakin murah dibandingkan pasar saham Asia lainnya.
Equity IDR – Neutral
Rilis earnings H1-2023 akan menentukan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Rotasi sektoral di IHSG terus berlanjut. Sektor finansial khususnya big banks dan consumer menjadi sektor yang diburu investor.
Secara teknikal, IHSG memilikisupportkuat di level 6.500 yang berpotensi menahan penurunan indeks.
Topics of The Month
⚫ View bulan sebelumnya Underweight Slightly
Underweight
Slightly
Overweight Overweight Neutral
TAA (Tactical Asset Allocation)
Topic 3: Indonesia Is Not Immune To Global Slowdown
• Kondisi makroekonomi Indonesia relatif kuat dibandingkan negara emerging market Asia lainnya. Hal ini membuat IDR bertahan sebagaibest performing currencydi Asia secara YTD, yieldFR turun paling signifikan, dan IHSG membukukan kenaikan secara YTD.
• Namun, pelemahan ekonomi global, khususnya Tiongkok, turut berdampak pada perekonomian Indonesia. Konsumsi melambat ditandai dengan penurunan intrabiz dan intrabel selama 2023.
Topic 2: Can King Dollar Retain Its Throne?
• Suku bunga The Fed yang berpotensi diturunkan lebih dahulu dibandingkan suku bunga BoE dan ECB berpotensi membuat USD melemah. Alasannya, GBP dan EUR berkontribusi sekitar 70% dari komponen USD.
• Namun, USD masih relatif kuat dengan ditopang oleh data ketenagakerjaan &servicesyang solid disaat inflasi mulai turun. The Fed belum menunjukkan indikasidovish.
• Real yieldobligasi pemerintah AS juga kembali ke level positif dan lebih tinggi dibandingkan negara maju lainnya sehingga berpotensi mendoronginflowdan menahan pelemahan USD.
Topic 1: Tighter LiquidityHasn’t Stopped The Market
• LikuiditasG3 central banksyaitu The Fed, ECB, dan BoJ mulai turun ke USD 21,48 triliun di Juli 2023 setelah sempat menyentuh level tertingginya di USD 25,02 triliun pada Februari 2022.
• Namun, kinerja pasar saham maupun obligasi dunia justru tercatat positif selama YTD 2023.
• Tanpa pengetatan likuiditas yang lebih agresif dari bank sentral, kinerja pasar obligasi dan saham akan sulit untuk turun signifikan.
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00
2008 2010 2012 2014 2016 2018 2020 2022
The Fed ECB BoJ
Selama pandemi COVID-19, bank sentral dunia menggelontorkan likuiditas dalam jumlah masif untuk mendorong pemulihan ekonomi. Hal ini tercermin dari melebarnyabalance sheet G3 central banksyaitu The Fed (AS), ECB (Eropa), dan BoJ (Jepang) hingga mencapai USD 25,02 triliun pada Februari 2022. Level ini jauh lebih tinggi dibandingkan likuiditas yang digelontorkan selama krisis finansial global 2008 dimana balance sheet ketiga bank sentral dunia tersebut hanya berada di kisaran USD 6,00 triliun. Namun, aktivitas ekonomi yang kembali pulih dan inflasi yang melonjak tinggi terutama di negara maju membuat G3 central banks menarik kembali likuditas tersebut (quantitative tightening). Secara total, likuiditas turun signifikan dari level tertingginya (-14,18%) ke USD 21,48 triliun di bulan Juli 2023(Exhibit 1).
Ditengah pengetatan likuiditas yang sedang berlangsung, pasar saham dan obligasi dunia justru membukukan kinerja yang positif selama YTD 31 Juli 2023 (Exhibit 2 & 3). Secara teori, pengetatan likuiditas seharusnya menurunkan kapasitas pelaku pasar dalam berinvestasi sehingga berdampak negatif bagi performa pasar saham dan obligasi. Kenaikan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor sentimen dan ekspektasi bahwa cepat atau lambat The Fed akan berhenti menaikkan bahkan mulai menurunkan suku bunga.
Apabila kondisi ekonomi bertahan kuat meskipun suku bunga telah dinaikkan secara signifikan, bank sentral dunia mungkin perlu melakukan pengurangan balance sheet secara lebih agresif. Implikasinya, ekonomi berpotensi melambat dengan lebih cepat dan memicu terjadinya resesi. Namun, apabila resesi terjadi sebelum penguranganbalance sheet dilakukan secara agresif, bank sentral harus kembali melakukan pelonggaran kebijakan moneter dengan cara menurunkan suku bunga dan memperlambat aksi pengurangan aset padabalance sheet. Dalam kedua kasus tersebut, kenaikan di pasar saham akan lebih terbatas kedepannya. Untuk obligasi, yield dapat tetap bertahan tinggi apabila pengetatan likuiditas dilakukan secara agresif namunyielddapat turun lebih lanjut apabila ekonomi terlebih dahulu memasuki fase resesi.
− Cash IDR Tidak terdapat dampak langsung
▲Fixed Income USD Kenaikanyield UST
dan INDON relatif terbatas karena likuiditas masih cukup
berlimpah
▲Equity IDR IHSG naik +1,18%
karena asing membukukaninflow IDR 19,19 triliun YTD
31 Juli 2023
▲Fixed Income IDR Yield FR bertahan rendah karena asing
membukukaninflow IDR 82,92 triliun YTD 31 Juli 2023
▲Equity USD Pasar saham global mencatatkan kenaikan
karena likuiditas masih cukup
berlimpah
Tighter Liquidity Hasn’t Stopped The Market
Topic 1
Exhibit 1: G3 Balance Sheet (USD Tn)
Exhibit 2: Equity Performance YTD (%)
Exhibit 3: Bond Total Return YTD (%)
Highest 25,02
5.24 7.99
8.24
Sumber: Bloomberg (31 July 2023)
Likuiditas di sistem keuangan dunia mulai turunseiring dengan
ekonomi yang kembali pulih dan inflasi yang melonjak tinggi
Pasar saham dan obligasi justru mencatatkan kinerja
positifselama YTD 2023
Tanpa pengetatan likuiditas yang lebih agresifdari bank sentral, kinerja pasar obligasi dan saham
akan sulit turun signifikan
17.73
9.47
-5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00
Dec-22 Jan-23 Feb-23 Mar-23 Apr-23 May-23 Jun-23 Jul-23
MSCI Developed Market MSCI Emerging Market
4.52
2.02 2.42
-1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
Dec-22 Jan-23 Feb-23 Mar-23 Apr-23 May-23 Jun-23 Jul-23
Emerging Market US EU
EUR 57.60%
JPY 13.60%
GBP 11.90%
CAD 9.10%
SEK 4.20%
CHF 3.60%
Kenaikan suku bunga The Fed ke 5,50% di FOMC Juli 2023 diperkirakan akan mengakhiri siklus kenaikan suku bunga yang dilakukan secara agresif sejak awal tahun 2022. Kontras dengan The Fed, ECB dan BoE diperkirakan masih akan melanjutkan kenaikan suku bunga mengingat inflasi di kedua negara tersebut masih relatif tinggi. Ketika suku bunga diekspektasi naik, maka mata uang di negara tersebut akan cenderung menguat.
Begitu pula sebaliknya.
Suku bunga The Fed yang telah berada di kisaran puncak dan berpotensi diturunkan lebih dahulu dibandingkan suku bunga ECB dan BoE dapat membuat USD melemah.
Alasannya, mata uang Eropa (EUR) dan Inggris (GBP) berkontribusi sekitar 70,00% dari komponen USD(Exhibit 4). Penguatan kedua mata uang tersebut akan berpengaruh signifikan terhadap pelemahan USD.
Selain suku bunga,real yieldobligasi di suatu negara juga berpengaruh terhadap pergerakan mata uang. Tingginya real yield obligasi akan meningkatkan keatraktifan imbal hasil obligasi di negara tersebut sehingga memicu inflow dan membuat mata uang menguat. Per 31 Juli 2023,real yield obligasi pemerintah AS naik ke 0,96%, kembali ke level positif dan lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya dideveloped market (Exhibit 5).
Kenaikanreal yieldobligasi pemerintah AS membuatyield berada pada tingkat yang lebih menarik sehingga investor dapat kembali memburu obligasi AS dan mengakumulasi USD. Implikasinya, meskipun terdapat potensi pelemahan USD akibat divergensi kebijakan moneter The Fed dengan BoE dan ECB kedepannya, inflow di pasar obligasi diharapkan dapat menahan pelemahan tersebut.
Exhibit 5: Developed Market Bond Real Yield (%)
Sumber: Bloomberg (31 July 2023)
−Cash IDR Tidak terdapat dampak langsung
▲Fixed Income USD
Yield INDON berpotensi turun terbatas mengikuti penurunanyield UST
− Equity IDR Tidak terdapat dampak langsung
▼Fixed Income IDR Spread real yield FR dan UST menyempit sehingga berpotensi
memicuoutflow
▼Equity USD Terkoreksi karena investor beralih dari pasar saham ke obligasi
AS yang memberikan yield yang menarik
Sumber: Bloomberg (July 2023)
Exhibit 4: USD Components
Topic 2
Can King Dollar Retain Its Throne?
Mata uang Eropa (EUR) dan Inggris (GBP) berkontribusi
sekitar 70,00% dari komponen USD
Suku bunga The Fed yang berpotensi diturunkanterlebih dahulu dibandingkan ECB dan BoE
dapat membuat USD melemah
Namun,real yield obligasi AS meningkatsehingga dapat
mendoronginflow dan menahan pelemahan USD
0.96 0.70
-0.73
-2.70 -2.81
-3.59
-6.80
US Canada Swiss Japan EU UK Sweden
-10.76 -7.84 -40.00
-20.00 0.00 20.00 40.00
Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22 Oct-22 Jan-23 Apr-23 Jul-23
Intrabel YoY Intrabiz YoY
Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih cukup kuat dibandingkan negara-negara emerging market Asia lainnya ditengah kondisi perlambatan ekonomi global.
PDB kuartal-I 2023 Indonesia dirilis di level 5,03% YoY, sejalan dengan target pemerintah di 5,30% YoY untuk FY2023. Inflasi turun ke 3,52% YoY di Juni 2023, kembali ke target BI di rentang 2,00% - 4,00%. Rasio hutang terhadap PDB relatif rendah. Current account bahkan tercatat surplus 1,00% terhadap PDB.
Turunnya inflasi Indonesia juga memberikan ruang bagi BI untuk berhenti menaikkan suku bunga sejak awal tahun 2023. BI telah menahan suku bunga selama 7 bulan berturut-turut di level 5,75%. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang banyak diburu investor asing sehingga IDR bertahan sebagai best performing currency di Asia (3,24%), yield FR turun signifikan (-69,00 bps), dan IHSG membukukan kenaikan secara YTD (1,18%)(Exhibit 6).
Exhibit 6: EM Asia Macroeconomic Indicators
Sumber: Trading Economics (July 2023)
Meskipun kondisi makroekonomi Indonesia relatif kuat, tidak dapat dipungkiri bahwa perlambatan ekonomi global turut berpengaruh pada melemahnya perekonomian Indonesia.
Aktivitas ekonomi mulai melambat ditandai dengan indeks transaksi bisnis BCA (intrabiz) dan indeks belanja BCA (intrabel) yang menunjukkan tren penurunan di sepanjang tahun 2023 dan berada di level -7,84% YoY dan -10,76%
YoY di bulan Juli 2023(Exhibit 7).
Aktivitas ekonomi di Indonesia dapat terus melemah kedepannya seiring dengan pemulihan ekonomi Tiongkok yang berlangsung lambat dan potensi resesi yang cukup tinggi di negara maju. Namun, ekspektasi peningkatan konsumsi menjelang tahun politik 2024 diharapkan dapat meredam dampak pelemahan ekonomi yang terjadi.
Ditambah lagi, pemerintah masih memiliki anggaran belanja yang cukup untuk menggelontorkan stimulus fiskal dan menopang pertumbuhan ekonomi.
Sumber: Big Data BCA, calculations by BCA Economist (29 July 2023)
Topic 3
Indonesia Is Not Immune To Global Slowdown
▼Cash IDR Suku bunga BI yang sudah berada
di puncak memperkecil ruang
kenaikan imbal hasil pasar uang
−Fixed Income USD Tidak terdapat dampak langsung
▲Equity IDR
Earnings emiten masih cukup bagus meskipun perlambatan konsumsi
mulai terjadi
▲Fixed Income IDR Yield FR turun signifikan
karena kondisi makroekonomi Indonesia
kuat dan pengelolaan fiskalprudent
−Equity USD Tidak terdapat dampak langsung Exhibit 7: Intrabiz & Intrabel (% YoY)
Kondisi makroekonomi Indonesia relatif kuat
dibandingkan negara emerging market Asia
lainnya
Hal ini membuat Indonesia banyak diburu investor asing. IDR
bertahan sebagaibest performing currency, yield FR turun signifikan,
dan IHSG mengalami kenaikan
Perlambatan ekonomi global turut berdampak pada melemahnya konsumsi di Indonesia. Intrabiz dan intrabel
mengalami penurunan
Indonesia China India Thailand Malaysia Philipphines
GDP (YoY) 5.03% 6.30% 6.10% 2.70% 5.60% 6.40%
Inflation (YoY) 3.52% 0.00% 4.81% 0.23% 2.40% 5.40%
Rate Changes
(YTD 2023) 0.25% -0.10% 0.25% 0.75% 0.25% 0.75%
Debt to GDP 40.90% 76.90% 89.26% 60.96% 60.40% 60.90%
Current Account
to GDP 1.00% 2.20% -2.60% -0.50% 2.60% -4.40%
CCY Performance
(vs. USD) 3.24% -3.42% 0.59% 1.13% -2.29% 1.51%
Bond Yield
Changes (bps) -69.00 -17.60 -15.00 -4.10 -20.60 32.40
Equity
Performance 1.18% 3.69% 9.11% -6.75% -2.41% 0.38%
70.00 75.00 80.00 85.00 90.00
-20.00%
-15.00%
-10.00%
-5.00%
0.00%
5.00%
Brent (R) % YTD Changes (L)
1,800 1,850 1,900 1,950 2,000 2,050
-1.50%
0.50%
2.50%
4.50%
6.50%
8.50%
10.50%
12.50%
Gold (R) % YTD Changes (L)
Currency Outlook
DXY (100,75-103,75)
EUR/USD (1,0610-1,1300)
GBP/USD (1,2400-1,3000)
USD/IDR (14.900-15.250) AUD/USD (0,6500-0,6900)
USD/JPY (137,00-145,00)
USD/CNH (7,0500-7,2850)
Commodity Snapshot
Pergerakan DXY dipengaruhi oleh:
• Data bulan Juni 2023 menunjukkan ekonomi AS yang cukup kuat dimana: 1) ISM manufacturingbertahan di 46,00 (prev46,90); 2) ISMservicesnaik ke 53,90 (prev 50,30); 3) Tingkat pengangguran turun ke 3,60% (prev3,70%); 4) Nonfarm payrollnaik 209.000 (prev306.000); 5)Average hourly earningsstabil di 0,40% MoM (prev 0,40% MoM); dan 6) PDB AS kuartal-II 2023 naik 2,40% QoQ (prev2,00% QoQ).
• Inflasi AS bulan Juni 2023 turun ke 3,00% YoY (prev4,00% YoY) dan inflasi inti turun ke 4,80% (prev5,30%).
• The Fed kembali menaikkan suku bunga 25 bps di FOMC Juli 2023. The Fed masih akan mempertahankan pendekatandata dependentdan belum menutup kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pergerakan USD/IDR dipengaruhi oleh:
• Data bulan Juni 2023 menunjukkan ekonomi yang melambat dimana: 1) PMI manufaktur sedikit naik ke 52,50 (prev 50,30); 2) Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) turun ke 127,10 (prev128,30); dan 3) Surplus neraca dagang naik ke USD 3,46 Bn (prevUSD 0,43 Bn).
• Tekanan terhadap IDR berkurang seiring dengan adanya indikasi tambahan stimulus di Tiongkok dan siklus kenaikan suku bunga The Fed yang mendekati puncaknya.
• Pada RDG bulan Juli 2023, BI kembali menahan suku bunga di 5,75% seiring dengan turunnya inflasi Juni 2023 ke 3,52% YoY.
Emas
• Pergerakan harga emas cenderung stabil di kisaran USD 1.900– 2.000/t.oz selama bulan Juli 2023. Per 31 Juli 2023, harga emas berada di USD 1.965/t.oz, menguat 7,73% secara YTD.
• Potensi resesi yang cukup tinggi terutama di negara maju menimbulkan ketidakpastian global sehingga pelaku pasar kembali mengakumulasi emas yang merupakansafe haven asset. Ditambah lagi, beberapa bank sentral dunia yang membeli emas sebagai upaya dedolarisasi turut menopang pergerakan harga emas.
Sumber: Bloomberg (31 July 2023)
Exhibit 8: Gold Price & YTD Performance (%)
Sumber: Bloomberg (31 July 2023)
Exhibit 9: Oil Price & YTD Performance (%)
Minyak Brent
• Harga minyak dunia mengalami kenaikan di sepanjang bulan Juli 2023 sehingga pelemahan harga hanya tercatat sebesar -0,41% YTD 31 Juli 2023. Harga minyak berada di level USD 85,56/barel.
• Alasannya, pemangkasan pasokan minyak lebih lanjut oleh Rusia dan Saudi Arabia menjaga stabilitas harga ditengah turunnya permintaan global seiring dengan potensi resesi yang meningkat di negara maju dan pemulihan ekonomi Tiongkok yang berlangsung lambat. Disamping itu, analis juga mencatat adanya perlambatan produksi minyak AS.
USD/t.oz USD/barel
7.73%
1,965
-0.41%
85.56
Tim Ekonom BCA memperkirakan BI akan terus menahan suku bunga di 5,75%
hingga akhir tahun 2023 dan mulai menurunkannya di awal tahun 2024. Selama The Fed belum mulai menurunkan suku bunga, ruang BI untuk mulai menurunkan suku bunga juga relatif terbatas. Implikasinya, imbal hasil pasar uang terutama deposito sudah berada di puncak dan dapat bertahan tinggi dalam beberapa waktu kedepan (rata-rata bunga deposito IDR 12 bulan per 31 Juli 2023: 3,70%). Namun, imbal hasil berpotensi turun ketika BI mulai menurunkan suku bunga kedepannya.
Money Market
NEUTRAL– no change
Imbal hasil pasar uang terutama deposito sudah berada di puncak. Imbal hasil dapat bertahan tinggi dalam beberapa waktu kedepan namun berpotensi turun ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Di pertemuan bulan Juli 2023, The Fed menaikkan suku bunga ke 5,50% sementara BI menahan suku bunga di 5,75%. Hal ini menjadikan selisih suku bunga BI dan The Fed semakin menyempit ke 0,25%(Exhibit 10).BI dapat tetap menahan suku bunga di 5,75% karena inflasi Indonesia sudah kembali ke target BI di 2,00% - 4,00% (Jun- 23: 3,52%)(Exhibit 11)dan mata uang IDR masih bertahan sebagaibest performing currencydi Asia (3,24% YTD 31 Juli 2023).
Walaupun selisih suku bunga BI dan The Fed semakin
menyempit, BI dapat menahan suku bunga di 5,75% karena inflasi Indonesia sudah kembali ke target dan IDR relatif stabil.
Faktor risiko: BI mulai menurunkan suku bunga sehingga imbal hasil pasar uang terutama deposito semakin rendah.
Source: Bloomberg (July 2023) Source: Bloomberg (July 2023)
Last 3 months:
N
May 23
N
Jun 23
N
Jul 23 BI diperkirakan dapat mulai
menurunkan suku bunga di awal tahun 2024. Kecil kemungkinan BI menurunkan suku bunga sebelum The Fed mulai menurunkan suku bunga.
Exhibit 10: BI & The Fed Interest Rate Differential (%) Exhibit 11: Indonesia Inflation & Core Inflation (%YoY)
3.52
2.58 1.00
2.00 3.00 4.00 5.00 6.00
CPI Core CPI
BI Inflation Target: 2% - 4%
5.50 5.75
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00
Spread FFR BI7DRR
0.25
Fixed Income (USD)
SLIGHTLY OVERWEIGHT– changed from OVERWEIGHT
Yield INDON masih berada di kisaran tertinggi setidaknya dalam 8 tahun terakhir.Yield berpotensi turun lebih lanjut ketika The Fed mengindikasikan suku bunga dapat mulai diturunkan dan CDS 5YR Indonesia bertahan rendah.
Inflasi AS bulan Juni 2023 yang turun ke 3,00% YoY meningkatkan optimisme pasar bahwa inflasi dapat kembali ke target The Fed dalam jangka pendek dan pengetatan kebijakan moneter yang sangat agresif sejak 2022 cukup efektif dalam menurunkan inflasi. Ekspektasi inflasi dalam 2 tahun kedepan yang direpresentasikan oleh US Breakeven 2YRmenyentuh 2,10% per 31 Juli 2023(Exhibit 12). Turunnya inflasi dan ekspektasi inflasi membuat pasar memperkirakan suku bunga sudah berada di kisaran puncak dan akan segera memasuki terminal rate kedepannya. Namun, data ketenagakerjaan & PDB AS di kuartal-II 2023 yang masih kuat menimbulkan kekhawatiran bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Alhasil, yield UST 10YR hanya turun terbatas ke 3,96% per 31 Juli 2023 setelah sempat naik ke 4,06% per 7 Juli 2023. Yield UST berpotensi turun lebih lanjut ketika ekonomi AS melemah lebih signifikan dan tingkat pengangguran mengarah ke 4,50%
sehingga membuat The Fed dapat mulai menurunkan suku bunga.
Exhibit 13: INDON 10YR Yield (%) & CDS 5YR Indonesia (Bps)
Exhibit 12: US Breakeven Inflation 2YR (%)
Source: Bloomberg (31 July 2023) Source: Bloomberg (31 July 2023)
Turunnya inflasi dan
ekspektasi inflasi AS membuat pasar memperkirakan siklus kenaikan suku bunga The Fed akan segera berakhir. Namun, data ketenagakerjaan & PDB AS yang masih kuat
menimbulkan kekhawatiran suku bunga harus ditahan tinggi dalam waktu lebih lama.
Persepsi investor asing terhadap risiko kredit Indonesia membaik namun yield INDON 10YR tidak ikut turun karena yield UST 10YR belum turun signifikan.
Faktor risiko:Data ketenagakerjaan AS terus menguat sehingga memperkecil ruang The Fed untuk mulai menurunkan suku bunga.
Di Indonesia, CDS 5YR turun ke 73,28 bps per 31 Juli 2023 (31 Desember 2022:
100,00 bps). Turunnya CDS menandakan persepsi investor asing yang membaik terhadap risiko kredit Indonesia. Kondisi makroekonomi Indonesia yang solid dan pengelolaan fiskal yangprudentmenjadi faktor utama dalam meningkatkan optimisme tersebut. Secara historis setidaknya dalam 10 tahun terakhir, penurunan CDS selalu diikuti oleh penurunan yield INDON 10YR. Namun kali ini,yield INDON 10YR tidak ikut turun karena yieldUST 10YR belum turun signifikan (Exhibit 13). YieldINDON hanya turun ke 4,90% per 31 Juli 2023 setelah sebelumnya sempat naik ke 5,16% per 10 Juli 2023. Kedepannya,yieldINDON berpotensi turun lebih lanjut ketika The Fed mengindikasikan suku bunga dapat mulai diturunkan dan CDS bertahan rendah.
Last 3 months:
SOW
May 23
SOW
Jun 23
OW
Jul 23
% Bps
COVID-19
4.90
73.28 0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 300.00
1.50 2.50 3.50 4.50 5.50 6.50
INDON 10YR Yield (L) CDS 5YR Indonesia (R)
Lower CDS not followed by lower yield
4.93
2.10
-1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
2018 2019 2020 2021 2022
Fixed Income (IDR)
SLIGHTLY OVERWEIGHT– no change
Tingginya permintaan investor domestik dan asing ditengah kondisi fundamental Indonesia yang solid serta penerbitan yang terus dikurangi membuat yield FR dapat bertahan rendah dalam jangka pendek. Sementara dalam jangka panjang,yielddapat kembali turun (harga naik) ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Inflasi AS yang turun ke 3,00% YoY di bulan Juni 2023 membuat real yield (yield dikurangi dengan inflasi) dari US Treasury (UST) 10YR memasuki teritori positif di level 0,96% per 31 Juli 2023. Kondisi ini membuat selisih real yield antara FR dan UST 10YR menyempit ke level 1,77% (rata-rata 10 tahun: 3,77%) (Exhibit 14).
Secara teori, selisihreal yieldyang sempit menurunkan keatraktifan obligasi Indonesia sehingga dapat memicuforeign outflow.Namun, risikooutflowcukup terbatas saat ini melihat investor asing sudah membukukan outflow yang sangat signifikan di pasar obligasi Indonesia selama tahun 2020 hingga 2022 (IDR 245 triliun). Persentase kepemilikan asing per 31 Juli 2023 berada di level 15,56%, mendekati level terendah dalam 10 tahun terakhir di level 14,31%. Risiko outflow yang terbatas seharusnya turut meminimalisir volatilitas yieldFR. Disamping itu, kondisi fundamental Indonesia yang solid diharapkan dapat terus menjaga pergerakanyieldFR.
Exhibit 15: Government Cash Balance (IDR Tn) Exhibit 14: FR & UST 10YR Real Yield Spread (%)
Source: Bloomberg (31 July 2023) Source: Bank Indonesia, Tim Ekonom BCA (May 2023)
Selisih real yield FR dan UST 10YR menyempit namun risiko outflow investor asing di pasar obligasi Indonesia cenderung terbatas karena kepemilikan investor asing berada di kisaran terendah sepanjang masa.
Faktor demand-supply dalam negeri menjadi faktor utama yang menggerakan yield FR.
Pemerintah berencana melakukan pemangkasan penerbitan obligasi hingga IDR 350 triliun di tahun 2023 karena defisit APBN diproyeksi mengecil dan tingkat kas pemerintah sangat tinggi.
Faktor risiko:1) Adanegative surprisesyang membuat IDR melemah; 2) Dukungan investor domestik mulai pudar di pasar obligasi Indonesia.
Pergerakanyield FR saat ini lebih didominasi oleh faktordemanddan supplydalam negeri. Tingginya permintaan ditengah penerbitan yang terus dikurangi membuatyield FR dapat bertahan rendah dalam jangka pendek. Dari sisi demand, permintaan investor cukup tinggi karena FR masih menawarkan yield yang jauh lebih tinggi dibandingkan instrumen pasar uang seperti deposito. Sementara dari sisi supply, penerbitan obligasi dapat dikurangi melihat defisit fiskal yang diproyeksikan mengecil ke -2,28% terhadap PDB atau setara dengan penerbitan netto IDR 486,43 triliun.
Sebelumnya, pemerintah menargetkan defisit fiskal dapat mencapai -2,80% terhadap PDB atau setara dengan penerbitan netto IDR 597,37 triliun. Selain itu, tingkat kas pemerintah juga berada di kisaran tertinggi pada level IDR 729,50 triliun per Mei 2023 sehingga menurunkan kebutuhan pembiayaan untuk tahun 2023 (Exhibit 15).
Kementerian keuangan berencana melakukan pemangkasan penerbitan obligasi hingga IDR 350 triliun di tahun 2023.YieldFR dapat kembali turun (harga naik) dalam jangka panjang ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Last 3 months:
SOW
May 23
SOW
Jun 23
SOW
Jul 23
729.50
0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00 900.00
1.77 0.96 2.73
-8.00 -3.00 2.00 7.00 12.00
Spread UST 10YR Real Yield FR 10YR Real Yield
Equity (USD)
NEUTRAL– no change
Volatilitas dapat bertahan baik di pasar saham AS maupun pasar saham Tiongkok. Di pasar saham AS, volatilitas dipicu oleh aksiprofit takinginvestor dan likuiditas yang terus dikurangi. Di pasar saham Tiongkok, volatilitas terjadi karenasell offberlanjut ditengah data ekonomi yang terus mengecewakan.
Di bulan Juli 2023, pasar saham AS yang direpresentasikan oleh S&P500rallyhingga sempat menyentuh level tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Kenaikan tersebut dikontribusikan oleh kenaikan saham megacap tech ditengah ekspektasi siklus kenaikan suku bunga The Fed yang akan segera berakhir dan adanya euforia AI.
Megacap tech memiliki bobot yang besar (~25% dari indeks S&P500) sehingga kenaikannya berpengaruh signifikan terhadap kenaikan indeks. Pasar saham AS dapat melanjutkan kenaikan namun potensi kenaikan relatif lebih terbatas kedepannya. Selain karena rentan terkena aksi profit taking, S&P500 hanya berada
~4% dibawah all time high. All time high sempat dicapai di tahun 2021 ketika kebijakan moneter The Fed sangat akomodatif, ditandai dengan ekspansi balance sheetdari USD 4 triliun menjadi USD 9 triliun(Exhibit 16).Kondisi ini kontras dengan kebijakan The Fed saat ini yang sedang mengurangi likuiditas di pasar. Likuiditas yang lebih rendah menurunkan kapasitas investor dalam berinvestasi sehingga kenaikan di pasar saham akan cenderung lebih terbatas.
Exhibit 17: P/E Ratio - MSCI China Index / MSCI Asia Pacific ex Japan Index (x)
Source: Bloomberg (31 July 2023) Source: Bloomberg (31 July 2023)
Pengetatan likuiditas oleh The Fed yang ditandai dengan penurunan balance sheet menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi kenaikan pasar saham AS kedepannya.
Data ekonomi Tiongkok yang mengecewakan terus
menurunkan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi sehingga pasar saham Tiongkok kembali terkoreksi.
Namun, koreksi membuat valuasi menjadi semakin murah.
Faktor risiko: 1)Profit takingdi pasar saham AS membuat volatilitas meningkat; 2) Resesi global semakin menurunkan earningsperusahaan; 3) Tensi politik antara AS dan Tiongkok terus memanas; 4) Data ekonomi Tiongkok terus melemah.
Berbeda dengan pasar saham AS, pasar saham Tiongkok kembali turun di bulan Juli 2023. Inflasi yang sangat rendah (Jun-23: 0,00% YoY), ekspor yang turun drastis (Jun-23: -12,40% YoY), pertumbuhan PDB yang berada dibawah ekspektasi (Jun-23:
6,30% YoY), dan tingkat pengangguran kaum muda yang kembali mencetak rekor tertinggi (Jun-23: 21,30%) terus menurunkan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Tiongkok sehingga sell off kembali terjadi. Namun, koreksi tersebut membuat valuasi pasar saham Tiongkok juga semakin murah. Rasioprice to earnings (p/e) dari pasar saham Tiongkok dibandingkan pasar saham Asia lainnya kecuali Jepang menyentuh level 0,77x, atau setara dengan -1 standar deviasi dibawah rata-rata 10 tahun pada level 0,86x (Exhibit 17). Valuasi yang murah membuat beberapa institusi besar mulai mengambil posisi overweight di Tiongkok.
Akan tetapi, investor baru akan memburu pasar saham Tiongkok secara lebih agresif ketika data-data ekonomi mulai menunjukkan pemulihan yang lebih signifikan.
Last 3 months:
SOW
May 23
N
Jun 23
N
Jul 23 Exhibit 16: S&P500 Index vs. The Fed Balance Sheet (USD Tn)
4,766
4,589 8.94
8.24
3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00
2,000 3,000 4,000 5,000
2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023
S&P500 (L) Fed B/S (R)
0.77 0.60
0.70 0.80 0.90 1.00 1.10
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022
10YR Average +1 STD
+2 STD -1 STD
-2 STD MSCI China/MSCI APACxJ
20.21 18.05
8.80
25.23 24.19
10.30
BMRI BBCA BBNI
H1-2022 H1-2023
Equity (IDR)
NEUTRAL– no change
RilisearningsH1-2023 akan menentukan kinerja indeks dalam jangka pendek. Rotasi sektoral terus berlanjut dimana sektor finansial khususnya big banks, consumer staples, dan consumer discretionary menjadi sektor yang diburu investor.
Rotasi sektoral terus terjadi hingga bulan Juli 2023. Sektor yang membukukan kenaikan paling signifikan di tahun 2022 yakni sektor energi justru menjadi sektor yang terkoreksi paling signifikan secara YTD 28 Juli 2023. Pasalnya, penurunan harga komoditas terutama energi membuat profitabilitas emiten turun sehingga harga sahamnya terkoreksi. Dua perusahaan penghasil batu bara yakni BUMI dan INDY mencatatkan penurunan laba bersih sebesar -51,20% YoY dan -55,20% YoY. Rotasi terjadi ke sektor finansial khususnya big banks, consumer staples, dan consumer discretionaryyang berhasil membukukanearningsH1-2023 yang cukup baik, sesuai ekspektasi pasar(Exhibit 19).Tim BCA Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba big banks, consumer staples, danconsumer discretionary dapat mencapai 17,00%, 16,00%, dan 14,00% masing-masing di sepanjang tahun 2023, lebih tinggi dibandingkan IHSG yang diperkirakan hanya tumbuh sebesar 4,00%.
Exhibit 19: JCI Sectoral Performance YTD 31 July 2023
Exhibit 18: Big Cap Earnings Result H1-2023 (IDR Tn)
Source: Bloomberg (31 July 2023) Source: Bloomberg (31 July 2023)
Setelah naik signifikan di tahun 2022, sektor energi menjadi sektor dengan koreksi paling signifikan di 2023. Rotasi sektoral ke sektor finansial khususnya big banks, consumer staples, dan consumer discretionary terus berlanjut.
Big banks (BBCA, BBNI, dan BMRI) mencatatkan
pertumbuhan laba bersih yang cukup baik di H1-2023. Hal ini mendorong kinerja IHSG hingga menembus level 6.931 per 31 Juli 2023.
Faktor risiko:1)Earningsemiten berada dibawah ekspektasi pasar; 2) IDR melemah sehingga memicu terjadinyaforeign outflow;3) Tensi politik di Indonesia meningkat.
Hingga 31 Juli 2023, beberapa perusahaanbig captelah melaporkanearnings result untuk H1-2023. Tiga perbankan besar yang telah merilisearningsyakni BBCA, BBNI, dan BMRI mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 34,02% YoY, 17,05% YoY, dan 24,84% YoY (Exhibit 18). Kenaikan tersebut utamanya dikontribusikan oleh penurunan pencadangan atas kredit gagal bayar (beban provisi). Rilis earnings perbankan yang baik menjadi katalis positif yang mendorong kinerja IHSG hingga menembus level 6.931 per 31 Juli 2023. Besar kemungkinan IHSG melanjutkan kenaikan kedepannya bila earnings emiten di sektor lainnya dirilis sesuai bahkan melampaui ekspektasi. Sebaliknya, IHSG dapat kembali terkoreksi bila earnings emiten mengecewakan. Namun, berdasarkan analisis teknikal, level 6.500 telah terbukti menjadisupportkuat yang dapat menahan penurunan indeks.
Last 3 months:
SOW
May 23
SOW
Jun 23
N
Jul 23
-15.59%
-10.03%
-9.00%
-2.33%
-1.23%
1.62%
3.88%
5.81%
5.88%
9.03%
10.69%
14.99%
Energy Basic Materials Technology Healthcare Infrastructure Financials Industrials Property Cons. Staples Cons. Discretionary Big Banks Transportation
▲25% ▲34%
▲17%
Big banks include:
BBCA, BMRI, BBRI, BBNI
Economic Calendar & Product Highlights
Economic Calendar Product Highlights
Name Type Launch/Mature Period
PBS011 Bond Mature Aug-23
SR019 Bond Launch Aug-23
SR013 Bond Mature Sep-23
ORI018 Bond Mature Oct-23
INDON23NEW Bond Mature Oct-23
ORI024 Bond Launch Oct-23
ST008 Bond Mature Nov-23
ST011 Bond Launch Nov-23
Countries Events Dates
Manufacturing PMI July 2023 1-Aug-23 ADP Nonfarm Employment July 2023 2-Aug-23 Services PMI July 2023 3-Aug-23 Composite PMI July 2023 3-Aug-23 Nonfarm Payroll July 2023 4-Aug-23 Unemployment Rate July 2023 4-Aug-23 Trade Balance June 2023 8-Aug-23
CPI July 2023 10-Aug-23
Core CPI July 2023 10-Aug-23
PPI July 2023 11-Aug-23
Core PPI July 2023 11-Aug-23 Retail Sales July 2023 15-Aug-23 Industrial Production July 2023 16-Aug-23 Manufacturing PMI July 2023 1-Aug-23
Services PMI July 2023 3-Aug-23 Composite PMI July 2023 3-Aug-23 BoE Interest Rate Decision 3-Aug-23
GDP Q2-2023 11-Aug-23
Industrial Production June 2023 11-Aug-23 Manufacturing Production June 2023 11-Aug-23 Unemployment Rate June 2023 15-Aug-23
CPI July 2023 16-Aug-23
Retail Sales July 2023 18-Aug-23 Manufacturing PMI July 2023 1-Aug-23 Unemployment Rate June 2023 1-Aug-23
PPI June 2023 3-Aug-23
Composite PMI July 2023 3-Aug-23 Services PMI July 2023 3-Aug-23 Retail Sales June 2023 4-Aug-23
GDP Q2-2023 16-Aug-23
Industrial Production June 2023 16-Aug-23
CPI July 2023 18-Aug-23
Current Account June 2023 22-Aug-23 Manufacturing PMI July 2023 1-Aug-23
Services PMI July 2023 3-Aug-23 Household Spending June 2023 8-Aug-23 Current Account June 2023 8-Aug-23
PPI July 2023 10-Aug-23
GDP Q2-2023 15-Aug-23
Trade Balance July 2023 17-Aug-23
CPI July 2023 18-Aug-23
Manufacturing PMI July 2023 1-Aug-23 Services PMI July 2023 3-Aug-23 Foreign Reserves July 2023 7-Aug-23 Trade Balance July 2023 8-Aug-23
CPI July 2023 9-Aug-23
PPI July 2023 9-Aug-23
Industrial Production July 2023 15-Aug-23 Retail Sales July 2023 15-Aug-23 Unemployment Rate July 2023 15-Aug-23
CPI July 2023 1-Aug-23
Foreign Reserves July 2023 7-Aug-23
GDP Q2-2023 7-Aug-23
Consumer Confidence Index July 2023 8-Aug-23 Retail Sales July 2023 15-Aug-23 Trade Balance July 2023 15-Aug-23 United States
United Kingdom
Japan
China
Indonesia Euro Zone
Glossary
Balance sheet:neraca.
Credit Default Swap:instrumen derivatif yang mencerminkan persepsi risiko investor asing terhadap investasinya di sebuah negara. Biasa disingkat menjadiCDS.
Defisit fiskal:suatu kondisi dimana pendapatan pemerintah lebih kecil dibandingkan pengeluarannya.
Dovish:kebijakan moneter longgar, biasanya ditandai dengan penurunan suku bunga.
Earnings:laba.
Earnings result:pernyataan resmi mengenai laporan keuangan perusahaan, biasanya per kuartal.
Emerging market:istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Indonesia.
Foreign inflow: aliran dana masuk dari investor asing ke kelas aset tertentu.
Foreign outflow: aliran dana keluar dari investor asing dari kelas aset tertentu.
Indeks Kepercayaan Konsumen: indeks yang mencerminkan keyakinan konsumen Indonesia mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen dalam periode yang akan datang. Biasa disingkat menjadi IKK. Dalam Bahasa Inggris adalahConsumer Confidence Index (CCI).
Kebijakan moneter:kebijakan yang diambil bank sentral untuk mengatur jumlah uang yang beredar. Kebijakan yang diambil biasanya berkaitan dengan suku bunga dan giro wajib minimum perbankan.
Neraca perdagangan:catatan seluruh transaksi ekspor dan impor suatu negara dengan negara lainnya di periode tertentu. Dalam Bahasa Inggris adalah Trade Balance.
Neraca transaksi berjalan:catatan yang meliputi transaksi ekspor dan impor, pembayaran dari luar negeri, serta hibah. Dalam Bahasa Inggris adalah Current Account (CA).
PMI manufaktur: manufacturing purchasingmanagers’ index, merupakan indikator ekonomi yang mengukur aktivitas manufaktur di suatu negara.
Price to earnings ratio:rasio yang digunakan untuk mengukur nilai atau valuasi sebuah perusahaan, dihitung dengan cara membagi harga saham denganearningsperusahaan. Biasa disingkat menjadip/e.
Produk Domestik Bruto:indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara dalam periode tertentu. Biasa disingkat menjadiPDB.Dalam Bahasa Inggris adalahGross Domestic Product (GDP).
Profit taking:aksi merealisasikan keuntungan.
Quantitative Tightening:kebijakan moneter dalam bentuk penjualan atau membiarkan surat berharga negara jatuh tempo untuk mengurangi jumlah uang beredar sehingga menjaga kestabilan ekonomi. Biasa disingkat menjadiQT.
Real yield:suku bunga acuan dikurangi inflasi.
Resesi:sebuah kondisi dimana pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Resesi biasanya ditandai oleh pertumbuhan PDB yang terkontraksi selama 2 kuartal berturut-turut.
Safe haven asset:aset yang dinilai aman ditengah kondisi ketidakpastian ekonomi, politik, atau geopolitik.
Terminal rate:tingkat dimana suku bunga berhenti dinaikkan.
US Breakeven Inflation Rate:indikator yang digunakan untuk mengukur ekspektasi inflasi di Amerika Serikat.
Year-To-Date:periode yang dimulai pada awal tahun kalender hingga tanggal tertentu. Biasa disingkat menjadiYTD.
Yield:imbal hasil.
Yield spread:selisih imbal hasil antar obligasi.
Wealth Panel Contributors
BCA Wealth Panel
BCA Wealth Panel Members
SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe
Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra
BCA Sekuritas Head of Equity Aldo Benas
Wealth Management Division
Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management
Anastasia Gracia– Research Analyst Grace Natalia – Research Analyst
Treasury Team
Junita Gunawan– Head of Treasury
Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst
Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst
Economist Team Barra Kukuh Mamia– Economist
BCA Sekuritas Team Andre Benas– Head of Research
Chief Economist David Sumual
Disclaimer
Laporan BCA House View (“Laporan”) ini hanya bersifat sebagai informasi dan bukan merupakan rekomendasi, saran, ajakan, atau arahan, serta tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau permintaan untuk melakukan transaksi tertentu.
Tidak ada satu pun baik PT Bank Central Asia Tbk(“BCA”), perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya yang memberikan pernyataan atau jaminan (baik tersurat atau tersirat) atau bertanggung jawab sehubungan dengan akurasi atau kelengkapan dari informasi, penilaian, proyeksi, perkiraan, analisis, dan pendapat lainnya yang tercantum dalam Laporan ini(“Informasi”). Dalam hal Informasi berasal dari sumber di luar BCA, Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang menurut BCA dapat diandalkan. Namun demikian, BCA tidak menjamin bahwa Informasi tersebut akurat, lengkap, maupun terkini (up-to-date).
BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dituntut atas kerugian apa pun baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung atau atas kerugian lainnya dalam bentuk apa pun yang mungkin timbul dari setiap penggunaan Informasi yang tercantum dalam Laporan ini (termasuk setiap kesalahan atau kekeliruan yang mungkin ditemukan dalam Laporan ini). Segala akibat dan kerugian yang timbul dari penggunaan Informasi untuk keperluan apa pun menjadi tanggung jawab pengguna Informasi sepenuhnya dan pengguna Informasi membebaskan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dari segala tuntutan, gugatan, dan/atau tindakan hukum lainnya dalam bentuk apa pun.
Setiap Informasi terkandung dalam Laporan ini mungkin didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan yang mungkin dapat berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya atau kondisi yang terjadi di kemudian hari. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil yang berbeda pula. BCA perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak mewakili atau menjamin bahwa Informasi apa pun akan terpenuhi.
Kinerja masa lalu yang dimuat dalam Laporan ini bukan merupakan indikator maupun jaminan kinerja di masa mendatang.
Informasi yang disampaikan dalam Laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Informasi yang tercantum pada Laporan ini dapat berasal dari pihak lainnya. BCA tidak bertanggung jawab atas kebenaran, keakuratan, atau kelengkapan Informasi, termasuk kesalahan Informasi yang tercantum pada Laporan ini.
Laporan ini dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, dan kebutuhan pihak tertentu, serta tidak ditujukan untuk satu/sekelompok pihak tertentu. Sebelum Anda melakukan transaksi investasi apa pun, Anda harus melakukan pengkajian dan analisis secara independen dan meminta saran atau masukan dari segi finansial dan hukum dari tenaga profesional (jika diperlukan).
Informasi yang dimuat dalam Laporan ini tidak mencerminkan posisi BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dalam melakukan transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku transaksi maupun sebagai prinsipal atau agen sehingga transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya yang dilakukan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dapat tidak konsisten dengan Informasi yang dimuat dalam Laporan ini.
Produk investasi yang disebutkan dalam Laporan ini (selain produk simpanan atau deposito BCA)BUKANmerupakan produk maupun tanggung jawab BCA dan bukan juga merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada BCA, sertaTIDAK TERMASUKdalam cakupan obyek program penjaminan Pemerintah atau penjaminan simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Laporan ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang, disalin/difotokopi, diduplikasi, dikutip, atau disediakan dalam bentuk apa pun, dengan sarana apa pun, atau didistribusikan kembali kepada pihak lain manapun tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari BCA.