• Tidak ada hasil yang ditemukan

BCA House View Report

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BCA House View Report"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Published on: 7 March 2023

(2)

Table of Contents

Executive Summary

Intisari &Tactical Asset Allocation Topic of The Month

There Is Still Too Much Liquidity In The System

Global Economic Outlook Indonesia Economic Outlook Currency Outlook

Commodity Snapshot

On Asset Class: Money Market On Asset Class: Fixed Income (USD) On Asset Class: Fixed Income (IDR) On Asset Class: Equity (USD) On Asset Class: Equity (IDR) Calendars

Glossary

3

4

5 7 9 13 14 15 16 17 18 19 20

(3)

Tactical Asset Allocation

3 Walaupun inflasi AS mulai turun secara YoY, data ketenagakerjaan yang masih kuat membuat beberapa pejabat The Fed menyatakan suku bunga masih harus dinaikkan ke level yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer).Pasar memperkirakan suku bunga akan dinaikkan hingga 5,50% per Juni 2023. Selain suku bunga, The Fed juga melakukan pengetatan kebijakan moneter lewat penguranganbalance sheet sejak tahun 2022. Likuiditas mulai turun, namun masih jauh lebih tinggi dibandingkanpre-COVID level.Tren yang sama juga terlihat padabalance sheet ECB dan BoJ. Alhasil, pasar saham dan obligasi dunia masih mencatatkan kenaikan dalam 3 bulan terakhir walaupun outlookekonomi negatif.Dari Tiongkok, pemulihan ekonomi semakin terlihat setelah pemerintah melonggarkan kebijakan zero-COVID.Pasalnya, nilai pinjaman perusahaan non-keuangan, PMI manufaktur, dan PMI non-manufaktur serempak naik per Januari 2023.

Dari dalam negeri, tingginya harga batu bara membuat ekspor Indonesia melejit sehingga tercatat surplus neraca dagang dan pertumbuhan PDB yang relatif tinggi di tahun 2022. Akan tetapi, harga batu bara yang mulai turun diperkirakan akan membuat ekspor, surplus neraca dagang, dan pertumbuhan PDB lebih rendah kedepannya. Pertumbuhan PDB dapat ditopang oleh konsumsi melihat Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) kembali meningkat di Februari 2023. Namun, perlu dipantau apakah tingginya IKK dapat terefleksi pada peningkatan penjualan ritel kedepannya.

3 Selisih suku bunga BI dan The Fed yang semakin menyempit berpotensi membuat IDR melemah. Untuk menjaga stabilitas IDR, BI perlu menahan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikannya. Imbal hasil pasar uang terutama deposito dapat naik lebih lanjut.

Money Market – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Fixed Income USD – SLIGHTLY OVERWEIGHT

View bulan sebelumnya Underweight Slightly

Underweight

Slightly

Overweight Overweight Neutral

Executive Summary

Intisari & Tactical Asset Allocation

Equity USD – NEUTRAL

Di bulan Februari 2023 volatilitas kembali terjadi di sektor teknologi negara maju dan Asia Pasifik karena ekspektasi suku bunga higher for longer. Namun, sektor teknologi negara maju dan Asia Pasifik masih memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan laba yang baik.

Fixed Income IDR – NEUTRAL

YieldINDON naik di seluruh tenor per Februari 2023 setelah pasar memperhitungkan suku bunga higher for longer. Kenaikan yield justru membuat INDON semakin menarik.YieldINDON tenor pendek hingga panjang berpotensi turun kedepannya melihat suku bunga mendekati puncaknya dan valuasi menarik.

Minimnya katalis positif membuat IHSG kemungkinan besar bergerak sideways kedepannya. Walaupun demikian, emiten di IHSG diperkirakan dapat membukukan earnings yang cukup tinggi di 2023.

Secara valuasi, IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan valuasi yang relatif murah di Asia.

Equity IDR – NEUTRAL

YieldFR naik terbatas di bulan Februari 2023 karena dukungan investor domestik yang masih sangat kuat.

Berbeda dengan investor domestik, investor asing membukukan outflow karena risk off sentiment global.Inflowdiperkirakan lebih terbatas kedepannya melihat IDRrisk premiumyang sangat rendah.

(4)

Topic of the Month

There Is Still Too Much Liquidity In The System

Di tahun 2022 inflasi melonjak sangat signifikan di seluruh dunia. Bahkan di banyak negara, inflasi menyentuh angka tertinggi sejak 30 atau 40 tahun terakhir. Hal ini membuat mayoritas bank sentral dunia berlomba-lomba untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter dengan cara menaikkan suku bunga. Di sepanjang tahun 2022, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak 4,25%, ECB menaikkan 2,50%, Bank Indonesia menaikkan 2,00%, sedangkan BoJ belum menaikkan suku bunga sampai sekarang.

Sama dengan kebijakan suku bunga, The Fed dan ECB sudah melakukan pengurangan aset pada balance sheet, sedangkan BoJ malah menambah aset (Exhibit 1).Namun, secara keseluruhan, likuiditas dari ketiga bank sentral ini masih jauh lebih tinggi dibanding masa sebelum pandemi COVID-19.Financial condition indexyang merupakan indikator yang sering digunakan untuk mengukur likuiditas dan kondisi keuangan secara keseluruhan bahkan menunjukkan pelonggaran.

Likuiditas yang masih sangat berlimpah adalah alasan utama mengapa pasar saham dan obligasi dunia naik signifikan sejak bulan November 2022. Padahal, outlook ekonomi dan laba perusahaan cenderung negatif dan kebijakan bank sentral masih cenderung hawkish. Selama kondisi likuiditas masih sangat berlimpah maka koreksi yang terjadi di pasar keuangan akan lebih terbatas.

Sumber: Bloomberg (Februari 2023)

Exhibit 1: G3 (US, Europe, Japan) Central Bank Balance Sheet (USD Tn)

8.93

8.38

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00

2003 2005 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021

The Fed

9.75

8.27

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00

2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

ECB

6.80

5.64

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00

2003 2005 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021

BoJ

(5)

Global Economic Outlook

Pasar akhirnya percaya bahwa The Fed mungkin harus menaikkan suku bunga lebih banyak dari perkiraan karena data ketenagakerjaan yang sangat kuat walaupun inflasi sudah mulai turun.

Pasar ketenagakerjaan AS masih sangat kuat walaupun sudah banyak perusahaan besar di AS yang melakukan PHK mulai dari sektor finansial sampai teknologi. Di bulan Januari 2023,unemployment rateAS dirilis di angka 3,40%

yang merupakan angka terendah dalam 54 tahun terakhir. Data initial jobless claim di akhir Februari 2023 dirilis lebih rendah yaitu di angka 192 ribu orang dibandingkan dengan perkiraan di 200 ribu orang. Pertumbuhan gaji yang masih cukup stabil di kisaran 6,00% dipercaya akan membuat inflasi tetap di level yang tinggi walaupun turun secara perlahan(Exhibit 2).Hal inilah yang membuat The Fed menegaskan tetap harus menaikkan suku bunga walaupun inflasi sudah turun secara perlahan.

Di awal tahun 2023, beberapa pelaku pasar dan ekonom tadinya cukup yakin The Fed akan segera mengakhiri kenaikan suku bunga, bahkan menurunkannya di kuartal 4 tahun 2023. Namun, sejak beberapa data ketenagakerjaan dirilis lebih baik dari perkiraan dan beberapa pejabat The Fed menyatakan The Fed bisa saja langsung menaikkan 50 bps pada satu pertemuan, sekarang pasar mulai percaya bahwa The Fed memang akan terus menaikkan suku bunga.

PasarFed funds futures sekarang memprediksikan The Fed akan menaikkan suku bunga 3 x 0,25% dari 4,75% ke 5,50% sampai pertengahan tahun 2023 (Exhibit 3).Hal ini membuatyield US Treasury10 tahun naik dari 3,40% di awal Februari ke kisaran 3,90% di akhir Februari 2023. Disisi lain,yield US Treasury2 tahun naik ke kisaran 4,80%, sebuah level yang tersentuh di tahun 2007 sebelum Global Financial Crisisterjadi.

Kuatnya Pasar Ketenagakerjaan AS Membuat The Fed Harus Melanjutkan Kenaikan Suku Bunga

5 Exhibit 2: US Wage Growth (% YoY) & CPI (% YoY)

Sumber: Bloomberg (Februari 2023)

Exhibit 3: Fed Funds Futures Implied Rate (%)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

6.10 6.40

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00

2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023

Wage growth CPI YOY Index

4.58

4.88

5.14

5.32 5.41 5.42 5.37

5.28

Feb-23 Mar-23 May-23 Jun-23 Jul-23 Sep-23 Nov-23 Dec-23 3 hikes

from now Current

Effective Rate

(6)

Sektor perbankan di Tiongkok membukukan pinjaman baru sebesar CNY 4,90 triliun di bulan Januari 2023, jauh lebih tinggi dari CNY 1,40 triliun pada bulan sebelumnya dan melebihi ekspektasi pasar sebesar CNY 4,00 triliun. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan oleh pelonggaran zero-COVID policy serta upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pinjaman rumah tangga yang didominasi oleh KPR naik menjadi CNY 0,26 triliun di bulan Januari 2023 dari CNY 0,18 triliun di bulan Desember 2022. Pinjaman korporasi melonjak menjadi CNY 4,68 triliun dari CNY 1,26 triliun (Exhibit 4). Di bulan Februari 2023, regulator di Tiongkok memperingatkan perbankan untuk tetap menjaga risiko kredit ditengah melonjaknya permintaan. Di pertengahan Februari, PBoC selaku bank sentral bahkan harus menyuntikkan likuiditas sebesar CNY 500 miliar. Perkembangan ini mengindikasikan roda perekonomian Tiongkok sudah mulai bergerak.

Indeks PMI manufaktur maupun non-manufaktur melonjak tinggi di bulan Januari 2023. Kedua indeks PMI ini naik di atas angka 50 yang menandakan ekspansi (Exhibit 5). Padahal, dalam 3 bulan terakhir angka ini selalu dirilis di bawah angka 50 yang menunjukkan kontraksi. Perkembangan positif ini lebih banyak dikontribusikan oleh pelonggaranzero-COVID policyyang mendorong pemulihan aktivitas ekonomi dalam negeri. Sementara, permintaan dari luar negeri masih lemah karena perlambatan ekonomi global.

Aktivitas ekonomi Tiongkok mulai menguat pasca pelonggaran zero- COVID policy. Aktivitas ekonomi lebih didominasi oleh permintaan domestik, sedangkan permintaan dari luar negeri masih lemah.

Aktivitas Ekonomi Tiongkok Mulai Naik

Exhibit 4: China New Bank Loan (CNY Tn)

Sumber: Bloomberg (Februari 2023)

4.68

0.26 -1.00

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00

Jan-19 Mar-19 May-19 Jul-19 Sep-19 Nov-19 Jan-20 Mar-20 May-20 Jul-20 Sep-20 Nov-20 Jan-21 Mar-21 May-21 Jul-21 Sep-21 Nov-21 Jan-22 Mar-22 May-22 Jul-22 Sep-22 Nov-22 Jan-23

Non-Financial Business Household

Exhibit 5: China PMI

50.10 54.40

40.00 45.00 50.00 55.00 60.00

Feb-18 May-18 Aug-18 Nov-18 Feb-19 May-19 Aug-19 Nov-19 Feb-20 May-20 Aug-20 Nov-20 Feb-21 May-21 Aug-21 Nov-21 Feb-22 May-22 Aug-22 Nov-22

Manufacturing PMI Non-Manufacturing PMI

Sumber: Bloomberg (Februari 2023)

(7)

Surplus neraca pembayaran di tahun 2022 menjadi faktor utama bagi stabilitas dan penguatan IDR.

Namun, surplus neraca di tahun 2023 diperkirakan akan mulai turun karena harga batu bara yang turun.

Di kuartal 4 tahun 2022, Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca pembayaran(balance of payment). Neraca transaksi berjalan(current account) terus bertahan di posisi surplus sejak pandemi COVID-19 dimulai di tahun 2020, padahal sejak tahun 2014 selalu berada dalam keadaan defisit (Exhibit 6).

Ekspor yang melonjak tinggi akibat harga batu bara yang naik sangat signifikan di tahun 2022 adalah kontributor utama dari surplus ini. Kedua hal ini menjadi faktor utama bagi stabilitas dan penguatan IDR beberapa tahun belakangan.

Harga batu bara turun sekitar 50% secara YTD 2023 disebabkan oleh cadangan energi di Eropa yang cukup tinggi ditambah dengan musim dingin yang lebih hangat di Eropa. Terdapat korelasi positif yang cukup kuat antara harga batu bara dan neraca perdagangan Indonesia. Surplus neraca perdagangan di tahun 2023 diperkirakan akan mulai turun akibat harga batu bara yang turun(Exhibit 7). Hal ini dapat membuat mata uang IDR sulit menguat secara signifikan di tahun 2023 terutama jika investor asing tidak masuk ke pasar obligasi maupun saham di Indonesia.

Indonesia Economic Outlook

Neraca Pembayaran Menopang Rupiah, Turunnya Harga Batu Bara Berpotensi Membuat Surplus Neraca Dagang Turun

7 Exhibit 6: Indonesia Balance of Payment (USD Bn)

Sumber: Bank Indonesia (Februari 2023)

Exhibit 7: Indonesia Trade Balance (USD Bn) & Coal Price (USD/Metric Ton)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

4.73

-15.00 -10.00 -5.00 0.00 5.00 10.00 15.00

Current account FDI

Portfolio investment Other investments

3.87

192.85 0 100 200 300 400 500

-4.00 -2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00

Trade Balance (Left) Coal Price (Right)

(8)

Di tahun 2022, pertumbuhan PDB Indonesia dicatatkan di angka 5,31%, sedikit lebih tinggi dari konsensus di angka 5,29% (Exhibit 8). Angka ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2013. Pelonggaran PSBB dan juga melonjaknya harga komoditas terutama batu bara adalah kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi di tahun 2022. Konsumsi rumah tangga tumbuh lebih baik dari tahun 2020 dan 2021 dan mendekati level normal di kisaran 5%. Belanja pemerintah turun karena pendapatan pajak yang lebih tinggi dari target dan usaha pemerintah untuk mengembalikan defisit fiskal ke angka di atas -3% dari PDB. Seperti mayoritas negara-negara di dunia, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2023 ke angka 4,80% dari perkiraan sebelumnya di angka 5,00%.

Terdapat korelasi yang kuat antara Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) dengan retail sales, namun angka retail sales selama 6 bulan terakhir masih cukup rendah (Exhibit 9). Melambatnya konsumsi juga diindikasikan oleh penurunan BCA intrabel dan inflasi inti di awal tahun. Namun, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) kembali melanjutkan kenaikan karena efek musiman menjelang hari raya Idul Fitri, kenaikan UMP yang lebih tinggi dari biasanya, dan aktivitas perekonomian yang sudah dibuka lebih luas lagi. Hasil survei menunjukkan responden lebih optimis terhadap pendapatannya di tahun ini. Para analis dan ekonom berharap naiknya IKK akan segera diikuti oleh kenaikanretail sales.

Pertumbuhan PDB Indonesia cukup baik di tahun 2022 karena pelonggaran PSBB dan naiknya harga komoditas. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) kembali naik dan diharapkan dapat tercermin dalam kenaikan retail sales.

Pertumbuhan PDB Indonesia Masih Cukup Kuat di Tahun 2022, Indeks Kepercayaan Konsumen Mulai Naik

Exhibit 8: Indonesia GDP Growth (%)

Sumber: BPS (Februari 2023)

Exhibit 9: Consumer Confidence Index & Retail Sales (%)

Sumber: Bloomberg (Februari 2023)

5.03 5.07 5.17 5.02

-2.07

3.7

5.31

2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

123.00

1.70

-25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 20

0 20 40 60 80 100 120 140

Jan-18 Apr-18 Jul-18 Oct-18 Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22 Oct-22 Jan-23

Consumer Confidence Index (Left) Retail sales (Right)

(9)

DXY diekspektasi bergerak pada rentang 103,00-108,00.

Pergerakan DXY dipengaruhi oleh: 1) Data menunjukkan bahwa ekonomi AS relatif kuat dengan unemployment rate berada di 3,40% (exp 3,60%, prev 3,50%),ISM Services berada di 55,20 (exp50,50,prev49,20), danretail sales naik 3,00% (exp 2,00%, prev -1,10%) secara MoM di bulan Januari 2023.

Kuatnya perekonomian AS memberi ruang bagi The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga ke level yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama; 2) Inflasi AS masih persisten tinggi baik dari sisi konsumen maupun produsen dengan didorong oleh kenaikan harga sewa tempat tinggal dan energi; 3) Dalam FOMC Februari 2023, The Fed memperlambat kenaikan suku bunga sebesar 25 bps ke 4,50%-4,75%. The Fed masih merencanakan beberapa kenaikan suku bunga sebelum menghentikan siklus pengetatan kebijakannya.

Currency Outlook

EUR/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,0300-1,0800.

9 Beberapa faktor yang mendorong pergerakan EUR/USD: 1) Data ekonomi Eropa menunjukkan kontraksi denganEZ Unemployment Rate berada di 6,60% YoY (exp 6,50% YoY, prev 6,60% YoY) di bulan Desember 2022. EZ S&P Global Manufacturing PMIberada di 48,80 (exp48,80,prev48,80) danGE S&P Global Manufacturing PMIdi 47,30 (exp 47,00,prev 47,00) di bulan Januari 2023; 2) Tingkat inflasi Eropa di bulan Januari 2023 masih tinggi walaupun secara MoM turun -0,20% seiring dengan normalisasi harga energi; 3) Di bulan Februari 2023, ECB menaikkan suku bunga sebesar 50 bps ke level 3,00% sesuai dengan ekspektasi pasar. ECB berkomitmen untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 bps di bulan Maret mendatang.

Exhibit 10: Pergerakan USD Index

Exhibit 11: Pergerakan EUR/USD

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

104.87

90.00 95.00 100.00 105.00 110.00 115.00

1.0576

0.95 1.00 1.05 1.10 1.15

(10)

GBP/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,1600-1,2200.

Faktor yang menyebabkan pergerakan GBP/USD antara lain: 1) Data ekonomi Inggris menunjukkan pelemahan dengan S&PGlobal Manufacturing PMIberada di 47,00 (exp 46,70, prev 46,70) dan S&P Global Service PMI di 48,70 (exp 48,00, prev 48,00) di bulan Januari 2023; 2) Tekanan inflasi di Inggris mulai berkurang meskipun masih tinggi. Inflasi turun di bulan Januari 2023 dengan CPI 10,10% YoY dan Core CPI 5,80% YoY. Penurunan inflasi juga didukung oleh turunnya harga rumah; 3) Di bulan Februari 2023, BoE menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 4,00%. BoE mengindikasikan bahwa siklus kenaikan suku bunga mungkin akan segera berakhir dengan perkiraan inflasi akan turun signifikan ke 4% tahun 2023 dan turun kembali ke level kurang dari target di 2%

pada tahun 2024.

AUD/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,6500-0,7000.

Pergerakan AUD/USD dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1) Data ekonomi Australia menunjukkan pelemahan denganretail sales-3,90% MoM (exp-0,20%

MoM,prev1,70% MoM) di bulan Desember 2022. Westpacconsumer confidence turun -6,90% MoM (prev 5,00% MoM) di bulan Februari 2023; 2) Tingkat inflasi Australia di bulan Desember 2022 melonjak dari 7,30% YoY ke 8,40% YoY; 3) RBA menaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 3,35% di bulan Februari 2023. RBA melihat bahwa inflasi baru akan kembali ke level 3% pada tahun 2025 sehingga suku bunga perlu dinaikkan lebih lanjut untuk mengatasi inflasi.

Exhibit 12: Pergerakan GBP/USD

Exhibit 13: Pergerakan AUD/USD

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

1.2022

1.00 1.05 1.10 1.15 1.20 1.25 1.30 1.35 1.40

0.6729

0.60 0.62 0.64 0.66 0.68 0.70 0.72 0.74 0.76 0.78

(11)

Beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan USD/CNH antara lain: 1) Data ekonomi Tiongkok menunjukkan terjadinya ekspansi dengan Caixin PMI Manufacturingberada di 49,20 (exp49,80,prev49,00) dan CaixinPMI Services di 52,90 (exp 51,00, prev 48,00) di bulan Januari 2023; 2) Pergerakan CNH dipengaruhi oleh sentimen positif darireopeningdan sentimen negatif dari tensi geopolitik dengan AS; 3) PBoC mempertahankan suku bunga acuan di tingkat rendah dan menambah likuiditas sebesar CNY 199 milyar ke dalam sistem keuangan untuk memenuhi permintaan pinjaman walaupun inflasi Tiongkok mulai naik. Di bulan Januari 2023 inflasi naik dari 1,80% YoY ke 2,10% YoY.

11 USD/CNH diekspektasi bergerak

pada rentang 6,8000-7,1000.

pada rentang 130,00-140,00. ekonomi Jepang masih belum menunjukkan pemulihan dengan Jibun BankPMI Manufacturing berada di 48,90 (prev 48,90) di bulan Januari 2023; 2) Inflasi Jepang terus naik dari 4,00% ke 4,30% secara YoY sehingga memperkuat spekulasi pengetatan kebijakan moneter oleh BoJ; 3) Pergantian Gubernur BoJ di bulan April mendatang akan sangat menentukan arah kebijakan BoJ.

Pemerintah Jepang telah secara resmi menominasikan Kazuo Ueda sebagai Gubernur, memberikan kemungkinan adanya pengurangan stimulus secara bertahap. Namun, pelaku pasar masih terus memantau perkembangan selanjutnya.

Exhibit 14: Pergerakan USD/JPY

Exhibit 15: Pergerakan USD/CNH

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

136.17

110.00 115.00 120.00 125.00 130.00 135.00 140.00 145.00 150.00 155.00

6.9546

6.20 6.40 6.60 6.80 7.00 7.20 7.40

(12)

Faktor yang menyebabkan pergerakan USD/IDR antara lain: 1) Data ekonomi menunjukkan kondisi yang baik dengan trade balance surplus berada di USD 3,87 Bn (exp USD 3,25 Bn, prev USD 3,89 Bn) dan S&P Global PMI Manufacturing berada di 51,30 (prev 50,90) di bulan Januari 2023; 2) IDR tertekan oleh peningkatan impor menjelang Idul Fitri namun ditopang olehinflow ke pasar saham. Kenaikan cadangan devisa dari USD 137,20 Bn ke USD 139,40 Bn juga memberikansupportbagi penguatan IDR; 3) Pada pertemuan kebijakan di bulan Februari 2023, BI mempertahankan suku bunga di level 5,75% sesuai ekspektasi pasar.

USD/IDR diekspektasi bergerak pada rentang 15.000-15.500.

Exhibit 16: Pergerakan USD/IDR

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

15250

14,000 14,500 15,000 15,500 16,000

(13)

Gas alam dan batu bara.Pada perdagangan 28 Februari 2023, harga gas alam dan batu bara melemah masing-masing sebesar -38,61% dan -52,28% secara YTD(Exhibit 18).Harga kembali ternormalisasi setelah sebelumnya naik secara signifikan di tahun 2022 akibat perang Rusia - Ukraina yang menyebabkan gangguan rantai pasok. Alasannya, musim dingin Eropa yang lebih hangat dari biasanya membuat persediaan gas alam cukup berlimpah dan berada jauh di atas rata-rata. Ketika musim dingin berakhir, permintaan kembali melemah sehingga harga turun secara gradual. Turunnya harga gas alam turut berdampak pada turunnya harga batu bara sebagai substitusinya.ReopeningTiongkok yang diharapkan dapat menopang harga gas alam dan batu bara ternyata juga tidak mampu mengimbangi perlambatan permintaan global. Kondisi ini sebenarnya berdampak positif karena berpotensi menurunkan inflasi dan dapat mengurangi tekanan bagi bank sentral dunia untuk terus menaikkan suku bunga. Namun, kondisi ini cukup merugikan Indonesia dan negara-negara yang merupakan commodity-based country.

Minyak WTI.Di perdagangan 28 Februari 2023, harga minyak WTI turun sebesar -4,00% YTD dan ditutup di level USD 77,05/barel(Exhibit 17).Di tahun 2023, harga minyak diperkirakan turun relatif terbatas karena penurunan permintaan minyak turut diimbangi dengan penurunan tingkat pasokan. Dari segi permintaan, pengetatan kebijakan moneter secara agresif oleh beberapa bank sentral dunia menyebabkan ekspektasi perlambatan ekonomi global serta penurunan daya beli masyarakat sehingga permintaan minyak mengalami penurunan. Dibukanya kembali ekonomi Tiongkok berpotensi mendorong permintaan minyak, namun tidak cukup signifikan untuk mengimbangi penurunan permintaan global.

Sementara dari segi pasokan, terdapat beberapa hal yang mempengaruhi pasokan minyak dunia. Per 28 Februari 2023, cadangan minyak strategis AS (SPR) turun ke level 371,58 juta barel, merupakan level terendah sejak 1983 (Exhibit 17). Walaupun AS telah melepas 50% dari SPR sebagai upaya untuk menurunkan harga minyak, pasokan minyak masih cukup ketat karena OPEC+

memutuskan untuk memangkas produksi. Rusia mengumumkan akan memangkas produksi minyak sebesar 500.000 barel/hari atau sekitar 5% dari total produksinya mulai bulan Maret 2023. Sementara itu, OPEC telah memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel/hari atau setara dengan 2%

dari total pasokan minyak global sejak November 2022.

Commodity Snapshot

Harga minyak berpotensi turun secara terbatas di tahun 2023 seiring dengan pengurangan pasokan minyak oleh OPEC+

ditengah ekspektasi perlambatan ekonomi global.

13 Exhibit 17: US Strategic Petroleum Reserve &

Oil WTI Price Exhibit 18: Coal & Natural Gas Price (YTD)

Harga gas alam dan batu bara turun signifikan karena persediaan yang berlimpah. Hal ini berdampak positif bagi penurunan inflasi dan dapat mengurangi tekanan bagi bank sentral di dunia untuk terus menaikkan suku bunga. Namun, turunnya harga energi berpotensi menyebabkan penurunan surplus neraca dagang Indonesia.

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

-38.61%

-52.28%

-60.00%

-50.00%

-40.00%

-30.00%

-20.00%

-10.00%

0.00%

Natural Gas Coal

371.58 77.05

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

300 350 400 450 500 550 600 650 700 750

1983 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021

US SPR (Left) Oil WTI Price (Right)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

mn barrels USD/barrel

(14)

Selisih suku bunga riil BI dan The Fed yang terus menyempit

berpotensi membuat IDR melemah.

Ketika hal tersebut terjadi, BI dapat kembali menaikkan suku bunga sehingga berdampak pada kenaikan imbal hasil deposito dan obligasi jangka pendek (FR 1 tahun).

Di FOMC Februari 2023, The Fed (bank sentral AS) menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke 4,75%. Sementara di RDG Februari 2023, Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di 5,75%. Hal ini membuat selisih suku bunga riil yakni selisih suku bunga setelah dikurangi dengan inflasi antara BI dan The Fed menyempit ke 2,13%. Padahal, secara rata-rata 5 tahun, selisih suku bunga berada di kisaran 3,97% (Exhibit 19). Memang tidak ada urgensi untuk BI kembali menaikkan suku bunga melihat inflasi Indonesia yang mulai turun (Jan- 23: 5,28% YoY) dan mata uang IDR yang relatif kuat (2,09% YTD 28 Februari 2023). Namun, apabila The Fed masih terus menaikkan suku bunga ke level yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama, selisih suku bunga riil akan terus menyempit dan memberikan tekanan terhadap pergerakan IDR. Ketika hal tersebut terjadi, tidak menutup kemungkinan BI akan kembali menaikkan suku bunga sehingga berdampak pada kenaikan imbal hasil deposito dan obligasi tenor pendek (FR 1 tahun). Per 28 Februari 2023, rata-rata bunga deposito 12 bulan berada di 3,82% (vs. 3,36% 28-Feb-22) danyieldFR 1 tahun berada di level 6,27% (vs. 3,34% 28-Feb-22)(Exhibit 20).

Faktor risiko:1) Ekonomi Indonesia memburuk sehingga BI harus menurunkan suku bunga; 2) Likuiditas terus berlimpah sehingga bunga deposito malah harus diturunkan.

Money Market

SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

Exhibit 19: BI & The Fed Real Interest Rate Differential (%)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Exhibit 20: FR 1YR Yield Movement (%)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

2.13

0.47 -1.66 -10.00

-5.00 0.00 5.00 10.00

Feb-18 May-18 Aug-18 Nov-18 Feb-19 May-19 Aug-19 Nov-19 Feb-20 May-20 Aug-20 Nov-20 Feb-21 May-21 Aug-21 Nov-21 Feb-22 May-22 Aug-22 Nov-22 Feb-23

Spread Indonesia Real Interest Rate US Real Interest Rate

6.27

3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 6.00 6.50 7.00

(15)

Volatilitas di UST (MOVE Index) kembali meningkat di Februari 2023 karena pasar memperhitungkan terminal rate The Fed dapat mencapai 5,50% dan suku bunga tidak akan diturunkan di 2023.

Akibatnya, persepsi investor atas tingkat risiko obligasi Indonesia ikut naik.

Turunnya inflasi AS selama 6 bulan berturut-turut sejak Juni 2022 sempat membuat pasar berekspektasi The Fed dapat menurunkan suku bunga (pivot) di akhir tahun 2023. Hal ini membuat volatilitas di US Treasury (UST) yang direpresentasikan oleh MOVE Index turun di Desember 2022 hingga Januari 2023. Turunnya MOVE Index turut berdampak pada turunnya persepsi investor terhadap tingkat risiko obligasi Indonesia sehingga CDS 5YR Indonesia turun.

Namun, volatilitas kembali terjadi di bulan Februari 2023 pasca rilis beberapa data yang menunjukkan ekonomi AS masih relatif kuat dengan tingkat pengangguran turun (Jan-23: 3,40%), penjualan ritel naik (Jan-23: 3,00% MoM), PMI manufaktur naik (Feb-23: 47,80), dan PMI non-manufaktur naik (Feb-23:

50,50). Kondisi ini membuka ruang untuk The Fed kembali menaikkan suku bunga ke level yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama. Per 28 Februari 2023, pasar memperhitungkanterminal rateThe Fed berada di 5,50% dan suku bunga tidak akan diturunkan di tahun 2023. Padahal, satu bulan sebelumnya pasar memperkirakan terminal rateThe Fed hanya berada di 5,00% dan suku bunga akan diturunkan 25 bps di November 2023. Akibatnya, MOVE Index dan CDS 5YR Indonesia kembali naik(Exhibit 21).

Volatilitas yang terjadi membuatyieldUST naik sehinggayieldINDON ikut naik di seluruh tenor per Februari 2023. Namun, kenaikanyieldINDON saat ini justru menjadi kesempatan untuk kembali akumulasi. Yield tenor pendek yang lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter berpotensi turun bila suku bunga berhenti dinaikkan di tahun 2023 dan mulai diturunkan di tahun 2024. Sementara yield tenor menengah panjang berpotensi turun karena valuasi yang sangat menarik dilihat dari selisih yield UST dan INDON yang semakin lebar seiring dengan bertambahnya tenor(Exhibit 22).Selain itu, ekspektasi pasar dan The Fed yang lebih searah dapat membuat MOVE Index dan CDS 5YR turun sehingga mendukung penurunanyield.

Faktor risiko: Volatilitas berlanjut karena The Fed harus kembali menaikkan suku bunga dengan agresif.

Fixed Income (USD)

Foreign Currency Bonds (INDON) – SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

15 Kenaikan yield INDON di seluruh

tenor pada bulan Februari 2023 menjadi kesempatan untuk kembali akumulasi karena ada potensi yield turun di tenor pendek hingga panjang melihat suku bunga semakin mendekati puncaknya dan valuasi menarik.

Exhibit 21: MOVE Index & Indonesia CDS 5YR (Bps)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Exhibit 22: UST & INDON Yield Spread Across Tenor (Bps)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023) 5 x

0,25% 5 x

0,25%

4 x 0,25%

61%

51%

48%

44%

44%

123.60

93.83 70

90 110 130 150 170

Feb-22 Apr-22 Jun-22 Aug-22 Oct-22 Dec-22 Feb-23

MOVE Index CDS 5YR Indonesia

Fed 50 Bps Rate Hike

Fed 75 Bps Rate Hike

High Uncertainty About Terminal Rate

Market False Hope About Fed Pivot

-14.90 13.05

37.36

78.24 71.88

115.31 120.87

160.49

1Y 2Y 3Y 5Y 7Y 10Y 20Y 30Y

(16)

680.11

0 200 400 600 800 1,000 1,200

Feb-18 May-18 Aug-18 Nov-18 Feb-19 May-19 Aug-19 Nov-19 Feb-20 May-20 Aug-20 Nov-20 Feb-21 May-21 Aug-21 Nov-21 Feb-22 May-22 Aug-22 Nov-22

Pre-COVID level avg (Feb-18 to Feb-20):

IDR 336,98 Tn

Ditengah kenaikan yield US Treasury serta outflow investor asing (IDR 7,59 triliun) selama bulan Februari 2023, yield FR berhasil membukukan kenaikan yang relatif terbatas dibandingkan obligasi dunia lainnya yang naik lebih signifikan. Alasannya, likuiditas yang masih sangat berlimpah saat ini membuat dukungan investor domestik di pasar obligasi Indonesia (FR) tetap kuat. Per 28 Februari 2023, likuiditas di sistem perbankan yang direpresentasikan oleh instrumen Operasi Pasar Terbuka (OPT) BI berada di level IDR 680,11 triliun.

Level tersebut hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-ratapre-COVID (Feb-2018 hingga Feb-2020) di IDR 336,98 triliun(Exhibit 23).Selama likuiditas bertahan di level yang tinggi, kenaikan yield(penurunan harga) FR akan tetap terbatas kedepannya. Namun, risiko muncul apabila likuiditas mulai ditarik atau tersalurkan dengan lebih optimal ke kredit.

Berbeda dengan investor domestik, di bulan Februari 2023, investor asing kembali membukukanoutflow sebesar IDR 7,59 triliun.Risk off sentimentyang terjadi secara global setelah pasar memperhitungkan kemungkinan The Fed dapat menaikkan suku bunga ke level yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama menjadi pemicunya. Kedepannya, inflowinvestor asing diperkirakan akan lebih terbatas. Salah satu alasannya adalah IDR risk premiumsaat ini sangat rendah(Exhibit 24).IDRrisk premiummerupakan komponen penyusunyieldFR selain yield US Treasurydan CDS 5YR Indonesia. Dengan potensi IDR yang melemah terbatas kedepannya karena harga komoditas mulai ternormalisasi dan selisih suku bunga BI dan The Fed yang semakin menyempit, IDRrisk premium yang sangat rendah semakin menurunkan keatraktifanyieldFR.

Faktor risiko:1) Adanegative surprisesyang dapat membuat IDR melemah; 2) Dukungan investor domestik mulai pudar di pasar obligasi Indonesia; 3)Outflow investor asing semakin signifikan.

Fixed Income (IDR)

Local Currency Bonds (FR/Indonesia Government IDR Bonds) – NEUTRAL (change from SLIGHTLY OVERWEIGHT)

Kuatnya dukungan investor domestik ditengah melimpahnya likuiditas membuat yield FR naik terbatas dibanding obligasi dunia lainnya di bulan Februari 2023.

Exhibit 23: Liquidity in BI OMO Instrument (IDR Tn) Risk off sentiment di pasar global

memicu outflow investor asing di bulan Februari 2023. Kedepannya, inflow investor asing diperkirakan lebih terbatas melihat IDR risk premium yang sangat rendah saat ini.

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Exhibit 24: IDR Risk Premium (%)

2.04

2.50 3.50 4.50 5.50

IDR Risk Premium 10YR Avg -2 STD

-1 STD 1 STD 2 STD

(17)

Apple 99.80

Microsoft 72.70

Alphabet 60.00

Meta 23.20 Exxon

55.70

Shell 39.50

Chevron 35.50

BP 27.70

Tech Oil Setelah sempat rebound di bulan

November 2022 hingga Januari 2023, saham teknologi di negara maju dan Asia Pasifik kembali terkoreksi di Februari 2023 karena kenaikan yield UST 10YR ditengah ekspektasi The Fed yang lebih hawkish.

Kenaikan suku bunga The Fed yang agresif selama tahun 2022 membuatyield UST 10YR naik sehingga saham teknologi yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga terkoreksi signifikan. Dalam periode Januari hingga Oktober 2022, yield UST 10YR naik 254 bps sehingga membuat saham teknologi negara maju yang direpresentasikan oleh MSCI World IT Index terkoreksi -29,53% dan saham teknologi Asia Pasifik yang direpresentasikan oleh MSCI Asia Pacific ex Japan Index terkoreksi -31,16%. Akan tetapi, saham teknologi sempatrebounddi bulan November 2022 hingga Januari 2023 karena ekspektasi The Fed yang lebih dovish melihat inflasi AS turun dalam 6 bulan berturut-turut. Namun, rebound harus kembali terhenti di bulan Februari 2023 setelahyieldUST 10YR naik ke 3,92% per 28 Februari 2023(Exhibit 25).Pasalnya, rilis data AS menunjukkan ekonomi yang masih relatif kuat sehingga membuka ruang untuk The Fed menaikkan suku bunga ke level yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Walaupun ekspektasi suku bunga higher for longer dan aksi sell-off investor ditengah risk off sentiment kembali membawa volatilitas, saham teknologi sebenarnya masih menawarkan fundamental dan prospek pertumbuhan laba yang baik. Beberapa perusahaanmegacapteknologi negara maju seperti Apple, Microsoft, Alphabet, dan META berhasil membukukan net income kumulatif sebesar USD 255,70 miliar di tahun 2022. Angka tersebut hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan perusahaan minyak dunia seperti Exxon, Chevron, Shell, dan BP yang hanya membukukan net income kumulatif sebesar USD 158,40 miliar(Exhibit 26). Padahal, perusahaan minyak sangat diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas selama tahun 2022. Untuk sektor teknologi Asia Pasifik, pertumbuhan laba diperkirakan dapat meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi dan tingginya tingkat tabungan masyarakat Tiongkok yang dapat memicu ledakan konsumsi. Kuatnya fundamental menjadi salah satu faktor kunci yang dapat membuat sektor teknologi kembali naik kedepannya.

Faktor risiko: 1) The Fed kembali agresif dalam menaikkan suku bunga; 2) Ekonomi AS melemah signifikan; 3) Tensi politik AS dan Tiongkok semakin memanas.

Equity (USD)

NEUTRAL (change from SLIGHTLY OVERWEIGHT)

17 Sektor teknologi memiliki

fundamental yang sangat baik. Di negara maju, net income beberapa perusahaan teknologi di tahun 2022 mengungguli perusahaan minyak yang sedang diuntungkan dengan tingginya harga komoditas. Di Asia Pasifik, pertumbuhan laba

berpotensi naik karena pemulihan ekonomi Tiongkok.

Exhibit 25: MSCI World IT, MSCI APACxJ, and UST 10YR Yield (%)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Exhibit 26: Big Oil vs. Big Tech Net Income FY2022 (USD Bn)

Sumber: Bloomberg, Yahoo Finance (28 Februari 2023) 5 x

0,25%

4 x 0,25%

48%

44%

44%

Total:

255.70 Total:

158.40

-13.34%

-14.26%

3.92 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 -30.00%

-20.00%

-10.00%

0.00%

10.00%

Feb-22 Apr-22 Jun-22 Aug-22 Oct-22 Dec-22 Feb-23

MSCI World IT (Left) MSCI APACxJ (Left) UST 10YR Yield (Right) October

Rebound

(18)

Fundamental emiten yang kuat dan valuasi yang murah diharapkan dapat menopang pergerakan IHSG kedepannya walaupun katalis positif untuk jangka pendek masih terbatas.

IHSG bergerak sideways selama bulan Februari 2023 dan ditutup di 6.843 (0,06% MTD 28 Februari 2023). Investor asing kembali membukukan inflow secara terbatas (IDR 5,76 triliun). Walapun minim katalis positif, secara fundamental IHSG masih menawarkan prospek pertumbuhan laba yang sangat baik di tahun 2023. BCA Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba dapat mencapai 12% dengan sektor consumer discretionary (29%), finansial (17%), consumer staples(15%) sebagai kontributor utamanya. Selain itu, koreksi yang terjadi membuat valuasi IHSG menggunakanforward price to earnings (p/e) ratio semakin menarik. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia, IHSG menjadi salah satu indeks saham denganforward p/eyang cukup murah yakni di 14,10x(Exhibit 27).Kombinasi dari fundamental yang kuat dan valuasi yang murah diharapkan dapat terus menopang pergerakan indeks kedepannya.

Meskipun masih didukung oleh fundamental yang kuat dan valuasi yang murah, IHSG kemungkinan besar masih akan bergeraksidewaysdalam jangka pendek.

Dilihat dari segi nilai perdagangan harian,turnoverdi bulan Februari 2023 berada di kisaran IDR 7-8 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun 2022 yang mencapai IDR 12 triliun. Hal ini menandakan perdagangan harian yang relatif sepi. Selain itu, jika dilihat dari analisis teknikal, garismoving average200 hari (MA 200D) yang semula berperan sebagai support telah berubah menjadi resistanceketika IHSG terkoreksi di Desember 2022. IHSG memerlukan katalis positif yang kuat untuk kembali naik dan menembus garis resistancetersebut.

Per 28 Februari 2023, garis resistance dari MA 200D berada di level 6.962 (Exhibit 28).

Faktor risiko: 1) Risk off sentiment global terus berlanjut sehingga memicu outflow;2) USD kembali menguat signifikan; 3) Ekspektasiearnings2023 direvisi turun.

Equity (IDR)

NEUTRAL (change from SLIGHTLY OVERWEIGHT)

IHSG kemungkinan besar masih akan bergerak sideways dalam beberapa waktu kedepan. Garis MA 200D yang berada di level 6.962 berperan sebagai resistance.

Exhibit 27: Asian Countries Stock Market’s Forward P/E (x)

Sumber: Bloomberg (28 Februari 2023)

Exhibit 28: JCI Technical Analysis

6,843 6,962

6,300 6,500 6,700 6,900 7,100 7,300 7,500

JCI Index MA 200D 20.07 19.73

17.65

14.88

14.10

13.18

12.37 9.80

India Hong Kong Thailand Philippines Indonesia Japan China South Korea

(19)

19

Calendars

Economic Calendar Product Calendar

Name Type Launch/Mature Period

SR018 Bond Launch Mar-23

INDOIS23 Bond Mature Mar-23

SR012 Bond Mature Mar-23

BPG12 CPF Mature Mar-23

INDON23 Bond Mature Apr-23

ST010 Bond Launch May-23

FR0063 Bond Mature May-23

ORI023 Bond Launch Jun-23

Countries Events Dates

Manufacturing PMI February 2023 1-Mar-23 Services PMI February 2023 3-Mar-23 Composite PMI February 2023 3-Mar-23 Trade Balance January 2023 8-Mar-23 Non Farm Payroll February 2023 10-Mar-23 Unemployment Rate February 2023 10-Mar-23 CPI February 2023 14-Mar-23 Core CPI February 2023 14-Mar-23 Retail Sales February 2023 15-Mar-23 PPI February 2023 15-Mar-23 Core PPI February 2023 15-Mar-23 Industrial Production February 2023 17-Mar-23 FOMC Rate Decision 23-Mar-23

Core PCE Q4-2022 30-Mar-23

Manufacturing PMI February 2023 1-Mar-23 Services PMI February 2023 3-Mar-23 Composite PMI February 2023 3-Mar-23 Industrial Production January 2023 10-Mar-23

GDP January 2023 10-Mar-23 CPI February 2023 22-Mar-23 Retail Price February 2023 22-Mar-23 PPI February 2023 22-Mar-23 Retail Sales February 2023 24-Mar-23 Manufacturing PMI February 2023 1-Mar-23

Services PMI February 2023 3-Mar-23 Composite PMI February 2023 3-Mar-23 Trade Balance January 2023 7-Mar-23 Foreign Reserves February 2023 7-Mar-23 Unemployment Rate February 2023 16-Mar-23

Retail Sales February 2023 28-Mar-23 CPI February 2023 29-Mar-23 Manufacturing PMI February 2023 1-Mar-23

Services PMI February 2023 3-Mar-23 Composite PMI February 2023 3-Mar-23

GDP Q4-2022 9-Mar-23

PPI February 2023 10-Mar-23 Trade Balance February 2023 16-Mar-23 Industrial Production January 2023 16-Mar-23 Retail Sales February 2023 31-Mar-23 Manufacturing PMI February 2023 1-Mar-23

Services PMI February 2023 3-Mar-23 Composite PMI February 2023 3-Mar-23 Trade Balance February 2023 7-Mar-23 Foreign Reserves February 2023 7-Mar-23 CPI February 2023 9-Mar-23 PPI February 2023 9-Mar-23 Foreign Direct Investment February 2023 11-Mar-23

Retail Sales February 2023 15-Mar-23 5-Year Loan Prime Rate 20-Mar-23 1-Year Loan Prime Rate 20-Mar-23 Manufacturing PMI February 2023 1-Mar-23

CPI February 2023 1-Mar-23 Core CPI February 2023 1-Mar-23 Foreign Reserves February 2023 7-Mar-23 Consumer Confidence Index February 2023 8-Mar-23 Trade Balance February 2023 15-Mar-23 Bank Indonesia 7D Reverse Repo 16-Mar-23

(20)

Balance sheet reduction:pengurangan nilai aset pada neraca.

Consumer Price Index: indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi konsumen. Biasa disingkat menjadiCPI.

Credit Default Swap: instrumen derivatif yang mencerminkan persepsi risiko danrisk appetiteinvestor terhadap sebuah investasi. Biasa disingkat menjadiCDS.

Defisit fiskal: selisih kelebihan belanja (pengeluaran) pemerintah dibandingkan dengan penerimaan pemerintah.

Dovish:istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kebijakan moneter longgar. Biasanya ditandai dengan suku bunga yang rendah.

Fed pivot: suatu kondisi dimana The Fed selaku bank sentral Amerika Serikat mengubah arah kebijakan moneter dari yang sebelumnya kontraktif (ketat) menjadi ekspansif (longgar), atau sebaliknya.

Foreign inflow: aliran dana masuk dari investor asing ke kelas aset tertentu.

Foreign outflow: aliran dana keluar dari investor asing dari kelas aset tertentu.

Forward price to earning ratio:rasio yang digunakan untuk mengukur nilai atau valuasi sebuah perusahaan, dihitung dengan cara membagi harga saham dengan potensiearningsdalam 12 bulan kedepan. Biasa disingkat menjadiforward p/e.

Hawkish: istilah finansial yang mendeskripsikan pandangan kebijakan moneter yang ketat. Biasanya ditandai dengan suku bunga yang tinggi.

Indeks Keyakinan Konsumen: indeks yang mencerminkan keyakinan konsumen Indonesia mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen dalam periode yang akan datang. Biasa disingkat menjadiIKK.Dalam Bahasa Inggris adalahConsumer Confidence Index (CCI).

Initial jobless claims:jumlah individu yang melakukan klaim atas tunjangan pengangguran untuk pertama kali.

Kebijakan moneter: kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral atau otoritas keuangan di suatu negara untuk mengontrol jumlah uang yang beredar di pasar.

Moving average: indikator yang digunakan untuk menghitung harga rata-rata suatu aset dalam periode waktu tertentu, yang kemudian dihubungkan kedalam bentuk garis.

Neraca pembayaran: catatan seluruh transaksi ekonomi suatu negara dengan negara lainnya di periode tertentu. Neraca pembayaran terdiri dari neraca transaksi berjalan, neraca transaksi keuangan, dan neraca lalu lintas moneter. Dalam Bahasa Inggris adalahBalance of Payment (BoP).

Neraca perdagangan:catatan seluruh transaksi ekspor dan impor suatu negara dengan negara lainnya di periode tertentu. Dalam Bahasa Inggris adalahTrade Balance.

Neraca transaksi berjalan:catatan yang meliputi transaksi ekspor dan impor, pembayaran dari luar negeri, serta hibah. Dalam Bahasa Inggris adalahCurrent Account (CA).

Operasi Pasar Terbuka: kegiatan transaksi di pasar uang dalam yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengontrol jumlah uang beredar.

Biasa disingkat menjadiOPT.

Produk Domestik Bruto:indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara dalam periode tertentu. Biasa disingkat menjadiPDB.Dalam Bahasa Inggris adalahGross Domestic Product (GDP).

Retail sales:indikator yang mengukur level pengeluaran konsumen untuk berbelanja barang eceran.

Risk off:istilah yang menggambarkan bahwa pasar pesimis dengan prospek perekonomian dan cenderung mengurangi risiko investasinya.

Risk premium: imbal hasil tambahan yang diharapkan oleh investor terhadap suatu instrumen investasi yang lebih berisiko dibandingkan aset bebas risiko.

Terminal rate:tingkat dimana suku bunga berhenti dinaikkan.

Year-to-date:periode yang dimulai pada awal tahun kalender hingga tanggal tertentu. Biasa disingkat menjadiYTD.

Yield:imbal hasil.

Yield spread: selisih imbal hasil antar obligasi.

Zero-COVID policy: aturan restriksi COVID ketat yang membuat mobilitas masyarakat turun signifikan.

Glossary

(21)

21

Contributor List

BCA Wealth Panel

BCA Wealth Panel Members

SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe

Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra

BCA Sekuritas Head of Equity Aldo Benas

Wealth Management Division

Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management

Anastasia Gracia– Research Analyst Grace Natalia – Research Analyst

Treasury Team

Junita Gunawan– Head of Treasury

Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst

Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst

Economist Team Barra Kukuh Mamia– Economist

BCA Sekuritas Team Andre Benas– Head of Research

Chief Economist David Sumual

(22)

Disclaimer

Laporan BCAHouse View(“Laporan”) ini hanya bersifat sebagai informasi dan bukan merupakan rekomendasi, saran, ajakan, atau arahan, serta tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau permintaan untuk melakukan transaksi tertentu.

Tidak ada satu pun baik PT Bank Central Asia Tbk(“BCA”), perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya yang memberikan pernyataan atau jaminan (baik tersurat atau tersirat) atau bertanggung jawab sehubungan dengan akurasi atau kelengkapan dari informasi, penilaian, proyeksi, perkiraan, analisis, dan pendapat lainnya yang tercantum dalam Laporan ini (“Informasi”). Dalam hal Informasi berasal dari sumber di luar BCA, Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang menurut BCA dapat diandalkan. Namun demikian, BCA tidak menjamin bahwa Informasi tersebut akurat, lengkap, maupun terkini (up-to-date).

BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dituntut atas kerugian apa pun baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung atau atas kerugian lainnya dalam bentuk apa pun yang mungkin timbul dari setiap penggunaan Informasi yang tercantum dalam Laporan ini (termasuk setiap kesalahan atau kekeliruan yang mungkin ditemukan dalam Laporan ini). Segala akibat dan kerugian yang timbul dari penggunaan Informasi untuk keperluan apa pun menjadi tanggung jawab pengguna Informasi sepenuhnya dan pengguna Informasi membebaskan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dari segala tuntutan, gugatan, dan/atau tindakan hukum lainnya dalam bentuk apa pun.

Setiap Informasi terkandung dalam Laporan ini mungkin didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan yang mungkin dapat berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya atau kondisi yang terjadi di kemudian hari. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil yang berbeda pula. BCA perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak mewakili atau menjamin bahwa Informasi apa pun akan terpenuhi.

Kinerja masa lalu yang dimuat dalam Laporan ini bukan merupakan indikator maupun jaminan kinerja di masa mendatang.

Informasi yang disampaikan dalam Laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Informasi yang tercantum pada Laporan ini dapat berasal dari pihak lainnya. BCA tidak bertanggung jawab atas kebenaran, keakuratan, atau kelengkapan Informasi, termasuk kesalahan Informasi yang tercantum pada Laporan ini.

Laporan ini dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, dan kebutuhan pihak tertentu, serta tidak ditujukan untuk satu/sekelompok pihak tertentu. Sebelum Anda melakukan transaksi investasi apa pun, Anda harus melakukan pengkajian dan analisis secara independen dan meminta saran atau masukan dari segi finansial dan hukum dari tenaga profesional (jika diperlukan).

Informasi yang dimuat dalam Laporan ini tidak mencerminkan posisi BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dalam melakukan transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku transaksi maupun sebagai prinsipal atau agen sehingga transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya yang dilakukan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dapat tidak konsisten dengan Informasi yang dimuat dalam Laporan ini.

Produk investasi yang disebutkan dalam Laporan ini (selain produk simpanan atau deposito BCA) BUKANmerupakan produk maupun tanggung jawab BCA dan bukan juga merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada BCA, sertaTIDAK TERMASUKdalam cakupan obyek program penjaminan Pemerintah atau penjaminan simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Laporan ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang, disalin/difotokopi, diduplikasi, dikutip, atau disediakan dalam bentuk apa pun, dengan sarana apa pun, atau didistribusikan kembali kepada pihak lain manapun tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari BCA.

Referensi

Dokumen terkait

Pada unit 2 ini terjadi penurunan efisiensi pada bulan Februari sampai dengan April dan kembali naik pada bulan Mei, akan tetapi kembali turun pada bulan Juni dan

Rilis data tenaga kerja AS naik lebih dari yang diharapkan untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Juli dan upah meningkat, memperkuat ekspektasi pertumbuhan

Fixed Income IDR SLIGHTLY OVERWEIGHT– no change Ekspektasi BI sudah mencapai puncak siklus kenaikan suku bunga, penurunan pasokan SBN karena pengelolaan fiskal yang baik, serta

Perang Rusia-Ukraina yang terus berlanjut, kenaikan harga komoditas yang berujung pada kenaikan inflasi yang semakin tinggi, pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral

Money Market NEUTRAL– no change Potensi kenaikan imbal hasil pasar uang terutama bunga deposito relatif terbatas melihat suku bunga BI yang sudah berada di puncak dan likuiditas yang

Faktor risiko: 1 The Fed harus menaikkan suku bunga lebih besar dari ekspektasi pasar; 2 Ada negative surprises yang dapat menyebabkan pelemahan IDR; 3 Dukungan investor domestik dan

Tactical Asset Allocation Inflasi AS yang sudah mulai turun dari +9,10% YoY ke +8,50% YoY pada bulan Juli 2022 dan ekonomi AS yang secara teknis telah memasuki resesi karena

Faktor risiko: 1 Berkurangnya dukungan dari investor domestik terutama perbankan di pasar obligasi; 2 The Fed yang lebih agresif dalam melakukan pengetatan kebijakan moneter memberikan