• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERAGAM KEBUDAYAAN PULAU PAPUA -rev2

Arnoldus Thomas L D

Academic year: 2024

Membagikan "BERAGAM KEBUDAYAAN PULAU PAPUA -rev2"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN KUNJUNGAN KE TMII ANJUNGAN PROVINSI PAPUA

Review Of JournaI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Antropologi

Dosen Pengampu:

Karl Benedictus Manalu SH., MH.

Oleh:

FAKULTAS ILMU HUKUM

JAKARTA 2023

(2)

2

P

Replika Mumi KATA PENGANTAR

uji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya, sehingga laporan (review of journal) hasil kunjungan wisata mahasiswa Fakultas Hukum – Universitas Mpu Tantular ke anjungan Provinsi Papua-Taman Mini Indonesia Indah dengan judul “Beragam Kebudayaan Papua” yang disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Laporan (review of journal) ini dibuat sebagai bentuk peningkatan kesadaran dan pengetahuan mahasiswa akan keberagaman tradisi dan kebudayaan Indonesia khusunya beragam kebudayaan pulau Papua yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia.

Kami menyadari, bahwa laporan (review of journal) yang kami buat masih jauh dari kata sempurna baik segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca guna menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik pada masa yang akan datang.

Semoga laporan (review of journal) ini dapat diterima dan menambah wawasan para pembaca serta dapat bermanfaat untuk perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

Jakarta, 25 Mei 2023

Kelompok 3 Antropologi – Ilmu Hukum Universitas Mpu Tantular - Jakarta

(3)

3 I. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

1.1. Taman Mini Indonesia Indah.

Taman Mini Indonesia Indah merupakan suatu kawasan objek wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur. Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat dari banyak provinsi di Indonesia yang di tampilkan dalam bentuk anjungan daerah berarsitektur tradisional, serta menampilkan aneka busana, tarian, dan tradisi daerah. Selain anjungan dari berbagai provinsi di Indonesia,

TMII juga terdapat berbagai sarana rekreasi dan museum-museum lainnya. Seperti, Museum Air Tawar, Museum IPTEK, Museum Al-qur’a, dan sebagainya. Di tengah-tengah TMII terdapat sebuah danau yang menggambarkan miniatur kepulauan Indonesia yang sangat mirip dengan aslinya.

Kami mengadakan kunjungan ini merupakan agenda yang diadakan dalam rangka tugas mata kuliah ilmu Antropologi.

Kami memilih TMII karena lokasinya yang tidak begitu jauh dan biayanya sangat terjangkau. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan kami tentang kebudayaan Indonesia.

1.2. Anjungan Provinsi Papua Taman Mini Indonesia Indah.

Anjungan Provinsi Papua di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan salah satu dari 33 anjungan provinsi yang ada di TMII. Anjungan ini dibangun pada tahun 1975 dan diresmikan pada tanggal 20 Oktober 1977 oleh Presiden Soeharto. Anjungan ini memiliki bangunan yang menyerupai rumah adat Papua dan di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi seperti pakaian adat, alat musik tradisional, dan kerajinan tangan. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan tari-tarian tradisional Papua.

Anjungan Papua memiliki arsitektur tradisional Papua yang khas dan menampilkan berbagai macam kebudayaan dan kesenian Papua seperti tari cendrawasih, tari warakaraket, tari ratoeh jaroe, dan tari kain.

Selain itu, di Anjungan Papua juga terdapat berbagai macam kerajinan tangan khas Papua seperti ukiran kayu, patung kayu, dan anyaman rotan.

Sumber :- Sejarah Taman Mini Indonesia Indah dan Serba-serbi tentang TMII (detik.com) -TMII siapkan lahan untuk anjungan provinsi baru - ANTARA News

Foto by. Arnolde Dj

(4)

4 1.3. Sejarah Provinsi Papua.

Papua

merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berada di wilayah paling timur Indonesia. Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini. Sebelumnya keseluruhan pulau Papua tersebut dinamakan Irian Jaya.

Irian adalah singkatan dari “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” . Nama ini dipopulerkan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno 1

Papua (dahulu Irian Barat (1956 – 1973) dan Irian Jaya (1973 – 2000)) adalah provinsi yang terletak di pesisir utara Papua, Indonesia, yang berdiri sejak 1 Mei 1963. Provinsi Papua sebelumnya bernama Irian Barat dan Irian Jaya yang mencakup seluruh Tanah Papua bekas Karesidenan Nugini Barat. Ibu kota Papua berada di Kota Jayapura, yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini.

Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.

Sejak 30 Juni 2022, provinsi Papua dimekarkan, yang membentuk provinsi baru yakni, Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta Papua Selatan.[6]

Faktanya, provinsi Papua adalah provinsi terluas di Indonesia dengan luas wilayah 319.036,05 km2. Tak hanya itu, masyarakat Papua sendiri memiliki beragam etnis yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki ciri khasnya.

Cara hidup masyarakat Papua pesisir misalnya, akan berbeda dengan cara hidup masyarakat Papua yang berada di pegunungan, begitu pun cara hidup masyarakat pedesaan dan

perkotaan.

Geografi

Provinsi Papua memiliki luas sekitar 81.049,30 km2, pulau Papua berada di ujung timur dari wilayah Indonesia, dengan potensi sumber daya alam yang bernilai ekonomis dan strategis, dan telah mendorong bangsa-bangsa asing untuk menguasai pulau Papua.[7] Sebelum dimekarkan, provinsi Papua memiliki luas 312.224,37 km2 dan merupakan provinsi terbesar dan terluas pertama di Indonesia.[7][8]

Batas wilayah

Utara Samudera Pasifik

Timur Provinsi Sandaun, Papua Nugini

Selatan Provinsi Papua Pegunungan, Papua Tengah

Barat Provinsi Papua Tengah

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Papua , https://www.britannica.com/place/Papua , https://en.wikipedia.org/wiki/Papua_%28province%29

(5)

5

Peta Provinsi Papua

peta wilayah provinsi papua - Bing images

Etimologi

Perkembangan asal usul nama pulau Papua memiliki perjalanan yang panjang seiring dengan sejarah interaksi antara bangsa asing dengan masyarakat Papua, termasuk pula dengan bahasa-bahasa lokal dalam memaknai nama Papua.

Asal nama Papua berasal dari Papo Ua yang dalam bahasa Tidore artinya "tidak bergabung",

"tidak bersatu", atau "tidak bergandengan". Maksudnya wilayah Papua itu jauh sehingga tidak masuk dalam daerah induk Kesultanan Tidore. Akan tetapi wilayah-wilayah tersebut tetap tunduk dan berada dibawah persekutuan dagang Tidore bernama Uli Siwa.

Dalam pembagiannya wilayah di Papua dibagi menjadi Korano Ngaruha atau Kepulauan Raja Ampat, Papo-ua Gam Sio (Papua sembilan negeri), dan Mafor Soa Raha (Mafor Empat Soa).[9] Ada Teori lain yang menyatakan bahwa nama Papua berasal dari Bahasa Melayu kuno papuwah, artinya "rambut keriting". Akan tetapi kata ini masuk pada kamus bahasa melayu tahun 1812 ciptaan William Marsden yang tidak ditemukan dalam kamus yang lebih awal.[10] Pada catatan abad ke-16 Portugis dan Spanyol, kata Papua merujuk kepada penduduk Kepulauan Raja Ampat dan pesisir Kepala Burung.[11] Berdasarkan teori lain ini menurut F.C. Kamma nama ini bisa saja berasal dari Bahasa Biak 'Sup i Babwa' yang digunakan untuk menyebut Kepulauan Raja Ampat berarti tanah di-bawah (matahari terbenam), yang kemudian menjadi 'Papwa' lalu 'Papua'.[10]

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Papua , https://www.britannica.com/place/Papua , https://en.wikipedia.org/wiki/Papua_%28province%29

(6)

6 1.4. Kebudayaan Papua.

Papua (Propinsi Papua dan Papua Barat) terdiri dari 257 suku bangsa. Seluruh suku bangsa tersebut dikelompokkan menjadi 7 wilayah adat. Berikut ketujuh wilayah adat tersebut:

1. Mamta : Papua Timur Laut

2. Saereri : Papua Utara/Teluk Cenderawaih 3. Domberai : Papua Barat Laut

4. Bomberai : Papua Barat 5. Anim Ha : Papua Selatan 6. La Pago : Papua Tengah 7. Meepago : Papua Timur 1. WILAYAH ADAT MAMTA

Wilayah Adat Mamta merupakan wilayah adat sekitar Jayapura. Wilayah adat mamta merupakan wilayah adat terbesar dengan 87 suku. Wilayah Adat Mamta terdiri dari:

1. Kota Jayapura (Port Numbay) 2. Sentani

3. Genyem 4. Depapre 5. Demta 6. Sarmi 7. Bonggo 8. Memberamo 2. WILAYAH ADAT SAERERI

Wilayah Adat Saereri terletak di sekitar Teluk Cenderawasih, meliputi:

1. Biak Numfor 2. Supiori 3. Yapen 4. Waropen

5. Nabire bagian pantai

(7)

7 3. WILAYAH ADAT DOMBERAI

Wilayah Adat Domberai terletak di Papua Barat Laut sekitar Sorong Manokwari, meliputi:

1. Manokwari 2. Bintuni 3. Babo 4. Wondama 5. Wasi 6. Sorong 7. Raja Ampat 8. Teminabuan 9. Inawatan 10. Ayamaru 11. Aifat 12. Aitinyo

4. WILAYAH ADAT BOMBERAI

Wilayah Adat Bomberai terletak di Papua Barat yakni Fakfak Mimika dan sekitarnya, meliputi:

1. Fakfak 2. Kaimana 3. Kokonao 4. Mimika

5. WILAYAH ADAT HA ANIM

Wilayah Adat Ha Anim terletak di Papua Selatan yakni Merauke dan sekitarnya, meliputi:

1. Merauke 2. Digoel 3. Muyu 4. Asmat 5. Mandobo

6. WILAYAH ADAT MA PAGO

Wilayah adat Ma Pago merupakan wilayah adat terkecil dengan hanya 11 suku, terletak di Papua Timur meliputi:

1. Pegunungan Bintang 2. Wamena

3. Tiom 4. Kurima 5. Oksibil 6. Okbibab

7. WILAYAH ADAT LA PAGO

Wilayah Adat La Pago terletak di Papua Tengah, meliputi:

1. Puncak Jaya 2. Tolikara 3. Paniai

4. Nabire Pedalaman

Sumber: [Mengenal Papua] Inilah 7 Wilayah Adat di Papua (kabarpapua.net)

(8)

8 2. TUJUAN KUNJUNGAN WISATA

2.1. Tujuan dari kunjungan wisata ini merupakan bagian dari tugas dan untuk memenuhi syarat belajar mata kuliah Antropologi – Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular Jakarta. Hasil dari kunjungan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa dan menambah wawasan pengetahuan serta memberikan sumbangan pemikiran terkait Keberagaman Kebuduyaan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terutama tentang “Keberagaman Kebudayaan Papua” yang merupakan bagian dari kekayaan kebudayaan Indonesia.

2.2. Tujuan dari penyusunan laporan “journal of refiew” kegiatan kunjungan wisata ini adalah melaporkan dan mendeskripsikan kawasan objek wisata Anjungan Provinsi Papua yang telah dikunjungi dan Menjelaskan Beragam Kebudayaan Papua.

2.3. Memberikan penilaian dan saran terkait pengelolaan kepada pengelola Anjungan Papua di Taman Mini Indoneis Indah, dalam hal ini Perwakilan Pemerintah Provinsi Papua di Jakarta.

3. METODA PELAKSANAAN

Metoda pelaksanaan kunjungan wisata Anjungan Papua – TMII : 1. Menentukan objek wisata yang akan dikunjungi,

2. Mengumpulkan informasi terkait kawasan/objeck wisata.

3. Pembagian Mahasiswa menjadi beberapa kelompok (pengelompokan) 4. Menentukan waktu yang tepat untuk berkunjung,

5. Mempersiapkan segala sesuatunya seperti transportasi dan akomodasi, serta memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

6. Menyiapkan kamera atau handphone terbaik untuk keperluan dokumentasi, perekaman data terkait kegiatan kunjungan wisata.

7. Melakukan wawancara dengan petugas anjungan dan mencatat berbagai hal terkait terkait Keberagaman Kebudayaan dalam hal ini “Keberagaman Kebudayaan Papua”

8. Dalam Kunjungan ini dilakukan siaran langsung (live streaming) diperuntuknan bagi rekan rekan mahasiswa yang berhalangan hadir dalam kegiatan kunjungan wisata ini karena bebagai kendala.

9. Pengarahan dari dosen pengampu mata kuliah Antropologi setelah mahasiswa usai melakukan kunjungan wisata ke masing masing anjungan – TMII.

10. Setiap kelompok membuat laporan (journal of review) hasil kunjungan wisata ke TMII.

(Bagi kelompok 3 mengunjungi Anjungan Papua – TMII)

(9)

9 II. HASIL KUNJUNGAN.

BERAGAM KEBUDAYAAN PULAU PAPUA

A. Daftar Suku di Papua.

Suku Papua – Sebagai provinsi paling luas di Indonesia, Papua menyimpan kekayaan yang luar biasa dari segi alam dan budaya. Kawasan hutan Papua sebagian besar masih perawan dan belum terjamah oleh manusia. Sedangkan kekayaan budaya Papua dapat dilihat dari suku asli yang mendiami provinsi ini. Suku-suku di Papua adalah suku-suku yang tinggal di dataran tinggi bagian selatan negara Papua Nugini.

Suku asli Papua berjumlah ratusan dan tiap-tiap suku memiliki adat istiadat dan tradisinya berbeda. Bahkan satu suku sama lain memiliki bahasa sendiri.

Diperkirakan manusia purba pertama kali bermigrasi ke Papua sekitar 45.000 tahun yang lalu.

Saat ini populasi Papua mencapai lebih dari 3 juta jiwa. Sebagian diantaranya tinggal di pedalaman hutan dan hidup dengan cara primitif. Namun tak sedikit pula yang tinggal di perkotaan dan menjalani kehidupan modern.

Beberapa suku yang paling dikenal dan memiliki populasi cukup besar Papua adalah suku Asmat, Dani, Amungme, Korowai, Muyu, Bauzi, Arfak, Lani, Matbat, Marind, Moni, Sawi, Wolani, Yali, Emari, dan Huli.

1. Suku Asmat.

Suku Asmat terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan yang tinggal di daerah pedalaman. Meski berasal dari suku yang sama, namun Suku Asmat yang tinggal di pesisir dan pedalaman sangat berbeda. Perbedaan mereka dapat dilihat dari cara hidup sehari-hari, dialek bahasa yang digunakan, ritual adat, dan struktur sosialnya.

Suku Asmat yang tinggal di daerah pesisir tersebar di sekitar pantai Laut Arafuru. Sedangkan Suku Asmat yang hidup di pedalaman berada di pegunungan Jayawijaya.

Suku Asmat yang tinggal di pedalaman hutan, mereka tinggal di sekitar rawa-rawa yang kondisi sekitarnya sangat terbatas. Batu yang biasa kita lihat di pinggir jalan bisa sangat berharga bagi mereka, bahkan dijadikan mas kawin. Hal ini dikarenakan di tempat mereka tinggal jarang terdapat batu. Padahal batu sangat penting dalam kehidupan mereka sehari-hari, seperti bahan membuat palu, kapak, dan peralatan lainnya.

Orang Asmat memiliki ciri-ciri fisik meliputi tinggi tubuh termasuk tinggi, bahkan untuk ukuran tubuh orang Indonesia pada umumnya. Para wanitanya memiliki tinggi rata-rata 162 cm, sementara para pria sekitar 172 cm.

Mereka tinggal di sebuah kampung yang biasanya terdiri dari 1 Rumah Bujang yang difungsikan sebagai tempat untuk upacara keagamaan dan upacara adat. Sementara itu rumah lainnya berupa rumah tinggal yang biasanya dihuni oleh 3 keluarga.

Mata pencaharian utama suku Asmat adalah bekerja di lingkungan sekitar, misalnya berkebun atau berburu. Cara berkebun dan berburu yang dilakukan juga masih sederhana dan tradisional.

Sehari-hari mereka makan ikan atau daging binatang hasil buruan. Sagu merupakan bahan makanan pokok yang kemudian diolah menjadi bulatan-bulatan kemudian dibakar. Makanan istimewabagi warga Asmat adalah ulat sagu. Sebelum dimakan, ulat sagu dibungkus dengan daun nipah lalu ditaburi sagu, kemudian dibakar.

2. Suku Dani.

Suku Dani adalah kelompok masyarakat yang mendiami Lembah Baliem. Suku ini telah tinggal di lembah selama sekitar ratusan tahun yang lalu. Secara umum, Suku Dani bermukim di wilayah pegunungan tengah Papua. Namun, orang-orang Dani bukan satu-satunya suku yang

(10)

10 bermukim di wilayah tersebut.Selain di tempat ini, Suku Dani juga bermukim di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Puncak Jaya.

Orang-orang Dani umumnya berkerja sebagai petani. Mereka dikenal sangat terampil dalam bertani dan telah menggunakan peralatan yang cukup maju di masa lalu. Contoh alat-alat pertanian yang digunakan adalah pisau dan kapak batu yang terbuat dari bambu ataupun tulang binatang. Suku Dani juga membuat tombak dari kayu galian yang dikenal sangat kuat dan berat.

Masyarakat Dani yang tinggal di Lembah Baliem lebih suka disebut sebagai Suku Parim atau Suku Baliem. Mereka memiliki kerpecayaan terhadap roh. Setidaknya ada 2 roh keparcayaan masyarakat Dani, yaitu Suangi Ayoka yang merupakan roh laki-laki, dan Suangi Hosile yang merupakan roh perempuan.

Mereka juga mempercayai kekuatan sakti dari nenek moyang yang disebut dengan Atou.

Kekuatan ini hanya diturunkan kepada anak laki-laki. Kekuatan tersebut meliputi 3 hal, yaitu kekuatan menyembuhkan penyakit, kekuatan menyuburkan tanah, dan kekuatan menjaga kebun.

Salah satu hal unik dari Suku Dani adalah cara mereka mengungkapkan kesedihan, terutama kesedihan karena rasa duka cita akibat ditinggal oleh anggota keluarga yang meninggal dunia.

Sama seperti kebanyakan manusia pada umumnya, Suku Dani juga mengungkapkan kesedihan dengan cara menangis. Namun tidak sebatas itu, mereka juga melakukan hal ekstrim dengan memotong jari sebagai lambang kesedihan mendalam.

Memotong jari dianggap sebagai simbol rasa pedih terhadap anggota keluarga yang pergi.

Selain itu, arti lain dari ritual ini adalah upaya untuk mencegah terulangnya kembali malapetaka yang telah merenggut anggota keluarga yang dicintai.

3. Suku Amungme.

Populasi Suku Amungme saat ini diperkirakan sekitar 17.700 jiwa. Suku Amungme juga dikenal sebagai Suku Amui, Amungm, Damal, Hamung, atau Amuy.

Suku Amungme mempunya bahasa sendiri yang disebut sebagai Dhamal. Sedangkan keyakinan yang dianut adalah animisme. Suku Amungme tidak mengenal konsep adanya dewa atau roh yang hidup di alam lain. Bagi mereka, alam hanyalah satu.

Masyarakat Suku Amungme umumnya berkerja sebagai petani nomaden atau berpindah- pindah. Selain itu, mereka juga melakukan kegiatan berburu dan meramu. Masyarakat Amungme sangat mensakralkan tanah leluhur merek, yaitu pegunungan sekitar. Karena hal inilah, maka seringkali terjadi gesekan konflik lahan dengan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kekayaan mineral di daerah mereka.

4. Suku Lani.

Suku Lani sering disebut juga sebagai Suku Loma. Lani berarti “kamu pergi”. Nama tersebut diambil dari cerita Suku Lani Barat. Misionaris asing di masa lalu juga menyebut suku ini sebagai Suku Dani Barat untuk membedakannya dengan Suku Dani.

Sementara itu, arti kata Loma adalah orang-orang yang tinggal di Kabupaten Puncak Jaya.

Bahasa yang digunakan Suku Lani adalah bahasa Moni dan bahasa Amung.

5. Suku Muyu.

Suku Muyu bermukim di sekitar Sungai Muyu yang terletak di Timur Laut Merauke. Diperkirakan nama Mutu berasal dari kata “ok Mui” sebagai cara penduduk setempat untuk mengucapkan Sungai Mui. Mereka biasa menyampaikan kata ini ke orang Belanda. Kemudian “ok Mui”

berubah pengucapannya menjadi Muyu.

Mata pencaharian Suku Muyu pada umumnya adalah berburu, menangkap ikan, mengolah sagu, dan beternak babi atau anjing. Sayangnya mereka tinggal di kawasan yang kurang subur,

(11)

11 sehingga mereka sering kekurangan bahan makanan dan menyebabkan tingkat kematian penduduk Suku Muyu cukup tinggi.

Suku ini memiliki pemimpin tinggi yang merupakan ketua dalam kehidupan dan kepercayaan religiusnya. Di bawahnya, ada orang-orang yang berwibawa dan biasanya disebut sebagai Tomkot, bigman, atau keyepak.

6. Suku Korowai.

Korowai adalah nama salah satu suku Papua yang menempati dataran redah sebelah selatan pegunungan Jayawijaya. Kelompok masyarakat Korowai tinggal disekitar rawa, hutan mangrove dan lahan basah.

Suku ini juga dikenal sebagai salah satu suku kanibal Papua. Orang-orang Korowai tidak mengenakan koteka seperti kebanyakan suku di Papua lain. Kehidupan mereke tercukupi oleh kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan. Keunikan Suku Korowai adalah tempat tinggalnya berada di rumah pohon.

7. Suku Bauzi.

Suku ini termasuk salah satu dari 14 suku terasing. Pernyataan ini dikeluarkan oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat. Dinyatakan demikian karena suku Bauzi menempati wilayah terisolir, pakaian lelaki hanya berupaca cawat dari selembar daun atau kulit pohon yang dikeringkan dan diikat pada ujung kelamin.

Untuk para wanita mengenakan selambar daun atau kulit kayu yang dikeringkan dan diikatkan pada pinggang mereka. Kehidupan orang Bauzi bisa dikatakan masih primitif karena masih mengandalkan kegiatan berburu dan nomaden. Saat menyambut tamu, para pria dewasa akan mengenakan hiasan kepala dari bulu kasuari dan melaburi tubuh dengan sagu.

8. Suku Huli.

Huli adalah salah satu suku dengan populasi terbesar di Papua. Suku Papua ini dapat dikenali dengan lukisan kuning, merah dan putih pada wajah mereka.

Suku Huli adalah masyarakat adat yang tinggal di dataran tinggi bagian selatan negara Papua Nugini yang meliputi beberapa wilayah seperti wilayah Tari, Koroba, Margaraima, dan Komo di Papua Nugini. Populasi suku ini berjumlah sekitar 250.000 orang. Mereka sudah mendiami wilayah dataran tinggi tersebut lebih dari 1000 tahun.

Selain itu, ada pula tradisi unik membuat wig dari rambut mereka sendiri. Untuk kegiatan sehari- hari, mereka menggunakan kapak dan cakar

9. Suku Arfak.

Suku Arfak merupakan suku asli yang mendiami wilayah pegunungan Arfak, Kabupaten Manokwari. Suku ini dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

Suku Arfak adalah suku di Papua yang tinggal di pegunungan Arfak sekitar kota Manokwari, provinsi Papua Barat. Suku ini memiliki beberapa anak suku diantaranya suku Hatam, suku Moilei, suku Meihag, dan suku Sohug. Suku Arfak memiliki kebudayaan khas seperti tari Tumbu Tanah yang juga dikenal dengan tarian ular atau tarian orang Arfak. Selain itu, penduduk suku Arfak juga memiliki rumah adat bernama rumah Kaki Seribu atau dikenal Mod Aki Aksa (Igkojei).

Suku Arfak terdiri dari 4 (empat) sub suku antara lain: Suku Hatam, Suku Moilei, Suku Meihag dan Suku Sohug.

10. Suku Lani.

Suku Lani adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pegunungan tengah Papua.Suku Lani mendiami wilayah pegunungan Jayawijaya dan Lanny Jaya. Mereka dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

(12)

12 Suku Lani adalah suku asli di Ilaga, Puncak, Papua Tengah hingga Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Suku Lani sering disebut Dani Barat oleh para misionaris asing untuk mengelompokan suku tersebut dengan suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem di sebelah timur. Suku Lani memiliki kebiasaan gemar bertani dan berburu.

11. Suku Matbat.

Suku Matbat adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pegunungan tengah Papua.

Suku Matbat mendiami wilayah sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Mereka dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

12. Suku Marind.

Suku Marind adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pantai selatan Papua.

Suku Marind mendiami wilayah selatan Papua Barat. Mereka dikenal sebagai nelayan dan petani yang terampil.

13. Suku Moi.

Suku Moi adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pantai selatan Papua.

Suku Moi adalah salah satu suku di Papua. Mereka mendiami Kota Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, dan Raja Ampat. Suku Moi terbagi menjadi beberapa sub-suku, yaitu Moi Legin, Moi Abun, Moi Karon, Moi Klabra, Moi Moraid, Moi Segin, dan Moi Maya. Mata pencarian utama suku ini adalah berkebun dan mengelola hutan. Dalam berkebun dan mengelola hutan, mereka memperhatikan yegek (larangan) mengonsumsi hasil tanah berlebihan sehingga terjadi konservasi tradisional. Pendidikan adat diajarkan kepada para pemuda di rumah adat bernama kambik.

14. Suku Sawi.

Suku Sawi adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pedalaman Papua. Suku Sawi mendiami wilayah sekitar Sungai Eilanden, Kabupaten Merauke. Mereka dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

15. Suku Wolani.

Suku Wolani adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pegunungan tengah Papua. Suku Wolani mendiami wilayah pegunungan Jayawijaya. Mereka dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

16. Suku Yali.

Suku Yali adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pegunungan tengah Papua. Suku Yali mendiami wilayah pegunungan Jayawijaya. Mereka dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

17. Suku Emari.

Suku Emari adalah suku bangsa yang berasal dari daerah pantai selatan Papua.

Suku Emari mendiami wilayah sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Mereka dikenal sebagai petani dan pemburu yang terampil.

Sumber :

https://www.sonora.id/read/423759175/daftar-suku-suku-di-pulau-papua-dengan-penjelasannya-lengkap https://www.sonora.id/read/423759175/daftar-suku-suku-di-pulau-papua-dengan-penjelasannya-lengkap https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_suku_bangsa_di_Papua

https://mamikos.com/info/suku-suku-di-pulau-papua-dan-penjelasannya-pljr/

(13)

13 B. Kebudayaan Papua dan Kesenian.

Papua adalah sebuah provinsi yang terletak di paling timur Indonesia. Provinsi ini merupakan provinsi yang masih kental dan kaya akan kesenian dan kebudayaan yang ada di provinsi tersebut, provinsi ini memiliki berbagai suku seperti suku asmat yang mendiamin provinsi tersebut, dengan masyarakat yang sangat menjunjung tinggi kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah mereka. Kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah ini sangat menarik, dan unik.

Papua memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya, kesenian dan kebudayaan tersebut sangat unik dan menarik. Berikut beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di Papua:

1. Bahasa

Terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada di Papua.

Aneka Berbagai bahasa ini menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia digunakan secara resmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman. Namun ada masyarakat yang tidak mengerti bahasa Indonesia karena minimnya pendidikan yang ada di Papua.

2. Pakaian Tradisional

Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat itu memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa bentuk burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Namun ada juga masyarakat suku pedalaman Papua yang hanya menggunakan koteka dalam membalut tubuhnya.

3. Rumah Adat

1. Rumah Honai

Rumah adat Papua yang paling terkenal adalah rumah Honai. Rumah ini merupakan rumah tradisional Suku Dani di Wamena. Rumah Honai juga dikenal dengan nama ‘Onai’, yang artinya rumah. Rumah Honai umumnya ditempati oleh para laki-laki dewasa 1.

Dinding bangunan ini membentuk lingkaran, yang terbuat dari kayu-kayu kuat dan tersusun sejajar. Biasanya, rumah Honai hanya dilengkapi oleh satu pintu tanpa jendela dengan ketinggian 2,5 meter dan lebar 5 meter.

Atap rumah Honai terbuat dari tumpukan daun sagu, jerami, dan ilalang yang uniknya membentuk kerucut tumpul. Hal ini bertujuan untuk membuat rumah tetap hangat, serta mencegah air hujan langsung turun masuk ke rumah.

(14)

14 Sesuai namanya, Honai memiliki arti khusus. ‘Hun’ berarti laki-laki, serta ‘ai’ berarti rumah.

Maka tidak heran bahwa rumah ini khusus untuk laki-laki, terutama yang sudah dewasa.

Rumah ini kosong tanpa perabotan. Jadi, saat tamu datang mereka akan duduk di lantai jerami bersama tuan rumah. Ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Papua.

Selain itu, rumah kecil ini bisa memuat 5-6 orang di dalamnya. Biasanya, rumah ini berada di pegunungan Papua yang berhawa dingin. Semakin sempit dan semakin banyak penghuni di dalam rumah, maka akan semakin baik dalam menangkal hawa dingin.

Untuk semakin menambah kehangatan, setiap rumah juga terdapat tempat pembakaran api unggun.

Sumber: Mongabay Indonesia

2. Rumah Kariwari

Sumber : Rumah Adat Papua ( Suku Toboti ) | S U P E R N O V A (alexnova-alex.blogspot.com)

Kariwari merupakan rumah adat Papua yang didiami oleh suku Tobati-Enggros. Rumah adat ini memiliki bentuk atap segi delapan, yang bertingkat tiga dan dipercaya mampu menjaga rumah dari cuaca dingin, terutama saat angin kencang.

Lantai pertama berfungsi sebagai tempat untuk melatih parah remaja laki-laki agar siap menjadi laki-laki dewasa, yang bertanggung jawab, terampil, dan kuat.

(15)

15 Lantai kedua berfungsi sebagai tempat pertemuan para kepala adat untuk membicarakan hal penting. Sedangkan lantai ketiga, khusus menjadi tempat sembahyang kepada Tuhan dan leluhur.

Selain itu, bentuk atap rumah Kariwari juga melambangkan kedekatan dengan sang pencipta atau dengan leluhur yang sudah mendahului mereka. Tidak heran bila rumah Kariwari sering menjadi tempat pendidikan dan ibadah.

Rumah adat ini terbuat dari kayu besi, daun sagu, bambu, dan pohon lainnya.

3. Rumah Jew.

Suku Asmat terkenal memiliki banyak anggota suku. Tidak heran bila rumah adat suku Asmat atau yang dikenal dengan sebutan Jew, memiliki bentuk yang besar dengan ukuran panjang 15 meter dan lebar 10 meter.

Biasanya, rumah adat ini memanfaatkan akar-akar rotan pilihan untuk menyatukan kayu pondasi rumah.

Rumah adat Jew juga sering disebut sebagai rumah bujang karena hanya boleh ditinggali laki- laki yang belum menikah. Anak laki-laki yang belum berumur 10 tahun dan wanita tidak boleh masuk ke dalamnya.

Nah, rumah adat Jew akan menjadi tempat bagi para bujang untuk belajar dari para senior atau lelaki yang sudah menikah. Mereka biasanya berlatih mengenai keterampilan dan Pendidikan, seperti menari, menari, dan memainkan musik.

Tidak hanya itu, rumah adat ini juga menjadi tempat musyawarah tentang kehidupan warga suku, upacara adat, perselisihan, dan masih banyak lagi.

Sumber: Mongabay Indonesia

4. Rumah Ebei

Rumah adat Ebei merupakan kebalikan dari rumah Honai karena dibuat khusus untuk wanita suku Dani. Anak laki-laki kecil boleh tinggal di sini, hany sampai mereka beranjak menjadi laki- laki dewasa, yang siap pindah ke rumah Honai.

Ebei berartikan tubuh perempuan, yang memiliki filosofi sebagai tubuh kehidupan bagi semua orang sebelum lahir ke dunia.

Makanya, rumah Ebei menjadi tempat belajar menjadi istri dan ibu yang baik bagi perempuan yang beranjak dewasa dan siap menikah. Di rumah ini, mereka belajar menjahit, memasak, membuat kerajinan tangan, dan lainnya.

(16)

16 Rumah Honai dan Ebei memiliki bentuk yang serupa, yaitu membentuk lingkaran. Makna dari kedua rumah ini adalah satu kesatuan dan sehati dalam pemikiran yang sama. Rumah adat ini juga menjadi simbol harkat dan martabat bagi suku Dani.

Sumber: Bing.com

5. Rumah Hunila

Rumah adat suku Dani lainnya adalah rumah Hunila. Bangunan rumah ini memiliki bentuk panjang dan lebih luas dari rumah adat lainnya. Rumah adat ini banyak digunakna untuk menyimpan berbagai peralatan masak dan bahan makanan.

Biasanya, rumah Hunila menjadi dapur umum bersama antara beberapa rumah Honai dan Ebei, untuk melakukan produksi makanan untuk seluruh rumah.

Bahan makanan yang sering mereka olah adalah sagu dan ubi. Setelah matang, mereka akan mengantarkannya kepada keluarga masing-masing dan Pilamo (laki-laki dewasa).

Sumber: unchartedbackpacker.com

6. Rumah Wamai

Suku Dani memang merupakan pembahasan yang tidak ada habisnya. Selain rumah khusus laki-laki dan perempuan, kali ini mereka memiliki rumah khusus hewan ternak bernama rumah Wamai.

(17)

17 Di dalam rumah ini, biasanya berisi hewan ternak, seperti, ayam, kambing, babi, dan anjing.

Namun, tidak seperti rumah tinggal lain yang selalu berbentuk lingkaran. Rumah Wamai berbentuk lebih fleksibel, mulai dari lingkaran atau persegi panjang. Hal ini menyesuaikan dengan jumlah hewan yang akan masuk ke dalamnya.

Sumber: Slide Share

7. Rumah Rumsram

Rumah adat Rumsram merupakan rumah adat yang berlokasi di wilayah pantai utara Papua milik suku Biak Numfor.

Sama seperti rumah Kariwari, rumah ini tidak bukan tempat tinggal melainkan tempat belajar khusus baik para laki-laki.

Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan atap membentuk perahu terbalik. Hal ini untuk melambangkan mata pencaharian masyarakat setempat, yang mayoritas merupakan seorang pelaut.

Rumah dengan tinggi hingga 6-8 meter ini terbuat dari bambu air, pelepah sagu, kulit kayu dan daun pohon sagu.

Sumber: Bing.com

(18)

18 8. Rumah Pohon.

Berbeda dari suku adat lainnya, suku pedalaman asli Papua, suku Korowai, memilih membuat rumah adat di atas sebuah pohon, yang lebih akrab disebut rumah pohon.

Terletak di ketinggian 15-50 meter, rumah ini bertujuan menghindari hewan buas dan gangguan roh jahat yang disebut ”Laleo”.Laleo merupakan makhluk jahat atau iblis kejam, yang menyerupai mayat yang berjalan di malam hari.

Sumber: My Modern Met

9. Rumah Kaki Seribu.

Rumah kaki seribu atau juga dikenal sebagai Mod Aki Aksa merupakan rumah adat milik suku Arfak yang berada di Papua Barat.

Bangunan ini memiliki tiang pondasi yang sangat banyak sehingga terlihat mirip dengan hewan kaki seribu. Sekilas terlihat seperti rumah panggung, tetapi rumah adat ini tidak memiliki ruang memadai di bagian bawahnya.

Rumah adat Kaki Seribu terbuat dari kayu, yang saling menyilang secara vertikal. Sedangkan secara horizontal, kayu tersebut akan saling mengikat. Atap bangunan terbuat dari rumput ilalang dan lantai rumah terbuat dari anyaman rotan.

Sumber: asiatrip.erose.ch

(19)

19 Selain itu, rumah adat Papua lainnya antara lain, rumah adat Suku Asmat yang disebut dengan Yapen

Sumber : 9 Macam Rumah Adat Papua dan Keunikannya - Blog ruparupa

4. Tarian Tradisional Papua

Tarian Papua – Papua merupakan Provinsi sekaligus pulau yang dikenal juga dengan sebutan Irian Jaya yang kemudian dimekarkan menjadi dua provinsi. Bagian timur menjadi Provinsi Papua dan bagian barat menjadi Papua Barat. Ada begitu banyak kebudayaan yang bisa diangkat dari Papua seperti salah satunya tarian Papua yang ternyata juga sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bagi anda yang sedang mencari referensi atau sedang ingin menambah pengetahuan tarian tradisional Indonesia, berikut akan kami ulas tentang beberapa tarian Papua yang sangat indah, penuh makna dan juga menarik untuk dilihat.

Daftar Nama Tarian Adat Papua 1. Tari Perang

Tari perang merupakan tarian Papua Barat yang melambangkan kegagahan dan kepahlawanan rakyat Papua. Tarian ini biasanya akan disuguhkan masyarakat pegunungan

(20)

20 ketika kepala suku memberi perintah untuk perang sebab bisa mengobarkan semangat untuk berperang.

Tarian daerah Papua ini merupakan tarian kelompok yang juga bisa dijadikan tarian kolosal sebab penari tidak terbatas. Tarian perang biasanya akan diiringi dengan tifa dan beberapa alat musik lain namun diiringi dengan lagu perang pembangkit semangat sehingga berbeda dengan tari Papua lainnya.

Tari perang akan dilakukan dengan kostum tradisional berupa rok yang terbuat dari akar, penghias dada berupa manik manik dan daun yang akan disisipkan pada bagian tubuh untuk menunjukkan kecintaan masyarakat Papua.

2. Tari Sajojo.

Tari sajojo merupakan tari pergaulan khas Papua dimana liriknya bercerita tentang gadis cantik yang diidamkan para pemuda di kampungnya. Tarian tradisional Papua ini sangat terkenal yang bahkan sudah sering kita dengar dimana pun tanpa meninggalkan unsur asli dari tarian ini.

Tarian Papua ini bisa dilakukan tanpa batasan jumlah penari yang diiringi dengan musik dinamis dan gembira. Ini menjadi salah satu karya seni masyarakat Papua daerah pantai yang sangat terkenal dan berkarakter.

3. Tari Magasa

(21)

21 Tari dari Papua bernama magasa merupakan tradisi Suku Arfak Papua Barat yang umumnya ditarikan beramai ramai baik penari pria atau wanita. Mereka akan menari sambil bergandengan tangan dan membentuk barisan seperti ular sehingga juga sering disebut dengan tari ular.

Tarian Papua ini sudah ada sejak dulu yang dilakukan untuk merayakan kemenangan ketika melakukan sesuatu. Tarian ini juga sering dipertunjukkan ketika menyambut tamu kehormatan yang bertandang. Tarian ini juga menjadi bentuk rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat dengan apa yang sudah didapatkan. Sampai sekarang, tari magasa ini tetap dilestarikan dan menjadi simbol persatuan serta kebersamaan tanpa memandang gender, umur serta status sosial.

4. Tari Suanggi.

Tari suanggi adalah tari adat Papua Barat yang menceritakan tentang seorang suami yang ditinggal mati istrinya akibat menjadi korban angi angi atau jejadian. Tarian Papua ini menjadi bentuk ekspresi masyarakat Papua Barat mengenai nuansa magis yang ada di daerah Papua Barat.

Tari suanggi ini biasanya akan diawali dengan ritual seperti tarian dukun untuk penyembuhan, tari perang atau untuk menjauhkan penyakit yang juga menggambarkan gerakan ritual dan juga upacara keagamaan dalam setiap gerakan tari suanggi tersebut.

5. Tari Wutukala.

(22)

22 Tari wutukala merupakan tari adat Papua yakni dari masyarakat Suku Moy di Papua Barat. Tari ini merupakan salah satu tari tradisional yang memperlihatkan aktivitas masyarakat Suku Moy ketika sedang berburu ikan sebab memang tinggal di wilayah pesisir Sorong, Papua Barat yang berprofesi sebagai nelayan.

Dari sejarah, pada zaman tersebut Suku Moy hanya memakai alat tradisional berupa tombak untuk mencari ikan. Akan tetapi ketika mencari ikan dengan tombak semakin sulit dilakukan, maka mereka kemudian memakai bubuk akar tuba untuk mencari ikan dengan lebih mudah.

Bubuk akar tuba ini dipakai karena mengandung racun ringan yang bisa membuat ikan lebih mudah ditangkap dan cara menangkap ikan tersebut kemudian dijadikan inspirasi tarian Papua.

Tari Wutukala bertujuan untuk memberi apresiasi atas inovasi serta perkembangan yang sudah dilakukan masyarakat untuk mata pencaharian sebagai seorang nelayan mengikuti perkembangan waktu. Tari wutukala ini juga merupakan bentuk ungkapan syukur atas berkat yang melimpah karena sudah mendapat ide untuk mata pencaharian masyarakat tersebut.

6. Tari Yospan.

Tari tradisional Papua bernama tari yospan masuk dalam jenis tari pergaulan atau tari persahabatan antara pemuda dan pemudi masyarakat Papua. Yospan yang merupakan singkatan dari Yosim Pancar ini adalah gabungan dari dua tarian rakyat Papua yakni Yosim dan juga Pancar.

Yosim merupakan tarian Papua tua yang berasal dari Sami sebuah Kabupaten pesisir Utara Papua, dekat dengan Sungai Mamberamo. Akan tetapi menurut sumber yang berbeda, Yosim berasal dari wilayah teluk Saireri. Sedangkan Pancar merupakan tarian yang berkembang di Biak Numfor serta Manokwari di awal tahun 1960-an yaitu masa kolonial Belanda di Papua.

Pada awalnya, gerakan tari yospan ini dilakukan dengan meniru gerakan akrobatik di udara yang disebut dengan Pancar Gas dan disingkat menjadi pancar. Pancar memperkaya gerakan dari banyak sumber seperti gerakan alam. Karena sangat populer, tarian ini sering dilakukan dalam acara adat, kegiatan penyambutan dan juga festival budaya seni yang bahkan menjadi tarian wajib setiap bulan Agustus.

7. Tari Selamat Datang.

Tari selamat datang Papua merupakan tari penyambutan yang biasanya dilakukan penari pria serta wanita ketika menyambut tamu penting yang sedang berkunjung. Tarian ini bermakna sebagai ungkapan rasa hormat masyarakat Papua dan sebagai tanda jika tambu sangat disambut di daerah tersebut sehingga tarian akan dibawakan dengan penuh rasa bahagia sekaligus ceria.

(23)

23 Dari berbagai sumber, tarian Papua ini sudah ada sejak dulu yang memang dilakukan masyarakat Papua ketika menyambut tamu. Kecintaan masyarakat terhadap budaya Papua membuat para seniman yang ada di daerah tersebut juga mengembangkan tari tradisional tersebut. Dengan ciri khas masyarakat Papua yang kaya ini, maka akhirnya tari selamat datang terbentuk hingga sekarang.

8. Tari Musyoh.

Tari musyoh merupakan tarian khas Papua yang merupakan tarian sakral dan sering dipertunjukkan ketika ada saudara atau warga setempat yang terkena musibah maut dan arwahnya dianggap belum tenang. Tarian Papua ini memiliki gerak lincah dan energi seperti pribadi masyarakat Papua.

Tari musyoh biasanya dilakukan sekelompok penari pria dan menurut kebudayaan, tari ini berguna untuk mengusir arwah gentayangan. Sedangkan untuk kostumnya menggunakan pakaian adat Papua yakni rok rumbai, koteka dan juga alat perang seperti tameng dan tombak yang diiringi dengan alat musik tradisional tifa.

9. Tari Awaijale Rilejale.

Tari Awaijale Rilejale adalah tari daerah Papua lebih tepatnya daerah Sentani, Kabupaten Jayapura yang dihuni Suku Sentani. Tarian ini menceritakan tentang keindahan alam danau Senatni di kala senja yakni saat warga pulang dari bekerja dengan cara naik perahu. Para petani tersebut terdiri dari kelompok pria dan wanita yang memakai pakaian bernama pea malo

(24)

24 terbuat dari serat pohon genemo, kulit kayu dan juga daun sagu lengkap dengan perhiasan hamboni atau kalung manik manik.

10. Tari Afaitaneng.

Tari afaitaneng merupakan tarian dari Papua lebih tepatnya daerah Ambai, Pulau Yapen, Serui bagian Selatan. Afaitaneng ini menjadi tari tradisional yang berkaitan dengan kepahlawanan dimana afaitaneng sendiri memiliki arti “panah milik kami”. Kata Afaitaneng berasal dari kata afai yang berarti panah dan taneng yang berarti milik.

Tarian ini akan dipertunjukkan selama satu malam suntuk mulai sore atau malam sesudah berperang. Tarian ini menggambarkan tentang kekuatan, kehebatan dan juga kemenangan kumpulan orang yang berperang melawan musuh dengan senjata panah. Tari afaitaneng ini memiliki tiga urutan tari, yakni:

Bagian 1: Kelompok wanita akan menatap mayat budak.

Bagian 2: Kelompok pria akan memperagakan gerakan memanah.

Bagian 3: Kegembiraan yang terjadi karena sudah menang dalam perang.

Tari ini dilakukan kelompok pria dan wanita yang membentuk barisan atau lingkaran. Penari umumnya memakai kuwai atau cawat, manik manik serta perhiasan berupa gelang tangan.

Ketika menari, mereka akan membawa perlengkapan seperti afai atau panah dan juga umbee atau parang yang diiringi dengan lagu Nimasae serta alat musik fikainotu atau tiba dan tibura.

(25)

25 5. Senjata Tradisional

Papua memiliki senjata tradisional yang digunakan untuk melawan musuh. Seperti pisau belati papua yang terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulu burung tersebut yang menghiasi pinggiran belati tersebut. Namun ada senjata lain yang biasanya di gunakan yaitu busur dan panah serta lembing yang digunakan untuk berburu.

Macam-Macam Senjata Tradisional Papua

Papua dikenal dengan pakaian adat yang unik dan senjata tradisional yang dibuat dengan bahan yang berasal dari lingkungan di sekitar mereka.

Senjata tradisional tersebut dapat digunakan untuk melindungi diri dari serangan binatang buas dan juga dibuat untuk memburu binatang yang ada di hutan.

Gambar dan Penjelasan 8 Senjata Tradisional Papua, tersebut dibawah ini : 1. Alat Tusuk dari Tulang Kuskus Papua

Alat tusuk dari ulang kuskus merupakan senjata tradisional Papua yang digunakan oleh salah satu kelompok asli di wilayah Papua, yakni suku Bauzi. Suku Bauzi merupakan suku yang semi nomaden, hal ini dikarenakan suku tersebut tidak mempunyai wilayah tinggal yang jelas.

Suku Bauzi hidup di dalam rumah-rumah yang terbuat dari dedaunan dan juga ranting-

ranting, bahan tersebut diperoleh dari hutan. Mereka biasanya memilih pinggiran sungai untuk ditempati.

Hal tersebut dimaksudkan agar memudahkan mobilisasi ketika sumber pangan yang ada di tempat tersebut minim. Sehingga suku tersebut membuat rumah yang sederhana dan mudah dihancurkan, karena mereka akan sering berpindah tempat tinggal

Tradisi yang masih dipertahankan adalah dengan berburu dan juga meramum. Kedua tradisi tersebut dijalankan secara selang- seling, hal tersebut dimaksudkan agar tetap mempertahankan ekosistem dari tanah Papua.

Suku Bauzi juga biasanya akan

mengumpulkan makanan dengan cara menanam tumbuh-tumbuhan

Senjata Tradisional Alat Tusuk dari Tulang Kuskus

@https://restuemak.com/

seperti pisang, ubi, atau singkong, tumbuh-tumbuhan tersebut akan ditanam di hutan. Jika musim panen belum tiba, maka mereka akan berburu binatang-binatang liar, menangkap ikan dan juga memasang perangkat untuk babi hutan.

Alat Tusuk yang dibuat dari tulang Kuskus itulah yang digunakan sebagai alat untuk berburu binatang sembari menunggu musim panen tiba. Tulang kuskus tersebut dikenal sebagai senjata tradisional yang sangat ramah terhadap lingkungan.

Hal tersebut dikarenakan pada proses pembuatannya, sama sekali tidak memerlukan bantuan dari alat-alat industri yang dapat mencemari lingkungan.

Senjata Tradisional Papua tersebut dibuat dari tulang kuskus yang sudah dibersihkan, kemudian diruncingkan dengan cara digosok dengan menggunakan batu asahan, dan juga dilakukan secara berulang hingga membentuk senjata yang runcing.

(26)

26 2. Pisau Belati Papua.

Pisau Belati Papua merupakan senjata tradisional Papua memiliki ukuran yang kecil. Bentuk dari pisau tersebut sangat unik, yakni dengan adanya rumbai-rumbai pada gagang senjatanya.

Senjata ini biasanya digunakan untuk menyayat atau memotong pada saat melakukan perburuan binatang yang ada di hutan. Sehingga, meskipun binatang yang dihadapi adalah binatang buas seperti buat, maka masyarakat tidak akan takut.

Karena mereka selalu berpegang teguh terhadap adat istiadat yang telah berlaku.

Adapun adat istiadat tersebut adalah tidak diperbolehkannya menggunakan senjata api jenis apapun jika sedang berburu

Senjata Tradisional Pisau Belati Papua

@https://asset.kompas.com

Pisau belati tersebut dibuat dari bahan yang unik dan sulit ditemukan di daerah lain, bahan tersebut yakni tulang hewan endemik Papua dari burung kasuari.

Tulang burung kasuari akan dimanfaatkan oleh budaya setempat untuk menjadi alat yang memiliki nilai manfaat bagi kehidupan. Selain itu, buku yang melekat pada bagian dari gagang pisau juga merupakan bulu dari burung kasuari.

Masyarakat Papua tersebut memang dikenal luas karena kearifannya dalam berteman dengan ekosistem alam. Interaksi pertemanan yang terjalin antara manusia dan juga makhluk hidup itulah yang dapat menghasilkan sebuah kreasi akan budaya.

3. Tombak Tradisional Papua

Tombak Tradisional Papua merupakan senjata yang dapat digunakan untuk pertempuran atau perguruan. Biasanya tombak juga sering digunakan oleh masyarakat Papua sebagai properti dalam tarian

Tombak biasanya terbuat dari bahan dasar yang mudah dijumpai di alam, yakni Kayu yang digunakan untuk membuat gagang, sedangkan batu kali yang akan dipertajam dan digunakan sebagai mata ombak.

Tombak Tradisional Papua

@https://asyraafahmadi.com

Hal tersebutlah yang menjadikan tombak dapat bertahan sebagai senjata wajib yang ada dalam kegiatan berburu maupun berperang.

Yang membuat senjata tersebut spesial adalah adanya aturan yakni, tidak diperbolehkan untuk menggunakan tombak selain digunakan untuk keperluan berburu atau berperang.

Contohnya adalah tidak diperbolehkan memotong tunas pohon muda dengan menggunakan tombak, atau menggunakan tombak untuk membawa hasil dari kebun. Jika aturan tersebut di karang, maka akan mendapatkan kesialan.

(27)

27 Sedangkan proses pembuatannya yakni, satu rangka tombak akan memakan waktu yang cukup lama. Dimulai dari pengambilan kayu yang langsung diambil dari pohonnya, kemudian dipotong dengan ukuran 3 m dalam keadaan yang sudah dijemur.

Jika sudah dijemur, kayu yang digunakan untuk gagang akan dibentuk sedemikian rupa, digosok dengan menggunakan serbuk keong laut hingga menjadi runcing yang akan memerlukan waktu kurangebih dari 1 Minggu.

Dalam adat tradisional Papua tombak dapat diartikan sebagai lambang dari kegagahan seorang laki-laki. Sehingga tombak tersebut harus selalu disimpan dengan baik. Biasanya senjata tersebut digantungkan pada langit-langit atau diletakkan pada sebuah penyangga yang ada di tembok rumah.

Kegunaan Tombak yaitu untuk berburu dan berperang. Tombak Papua terbuat dari bahan alam seperti kayu, batu tajam dan tulang sebagai mata.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman bahan untuk membuat Tombak pun sudah berevolusi yang awalnya dari kayu sekarang dibuat menggunakan logam.

Terdapat 2 jenis tombak, diantaranya:

Tombak yang memiliki 1 mata.

Tombak yang memiliki 2 mata.

Tombak ini mempunyai jarak lempar sekitar 50 meter. Jadi tidak mengherankan bahwa banyak orang Papua yang berhasil menjadi atlet lempar lembing profesional.

4. Parang Papua

Parang Papua merupakan senjata tradisional yang berasal dari Papua Barat.

Parang Papua tersebut merupakan lambang dari kuat dan ulatnya seorang laki- laki dalam berumah tangga. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama

“jalowy”.

Pada saat proses pembuatannya, parah Papua akan memakan waktu yang tidak sedikit. Parang tersebut berasal dari batu yang dibelah, kemudian harus diasah

Senjata Tradisional Parang Papua hingga akan terbentuklah sebuah parang

@https://www.papuaerfgoed.org yang akan memiliki ketajaman.

Kemudian pengrajin akan menambahkan minyak babi dan juga darah babi sebelum diasah menjadi licin dan juga tajam. Hak tersebut dimaksudkan untuk menambah tingkat kekerasan dan juga tingkat keawetannya.

Senjata ini pada dasarnya memiliki banyak kegunaan. Yakni digunakan untuk keperluan rumah tangga, memasak, memotong daging dan juga menebang sagu. Bukan hanya itu, parang juga dapat digunakan dalam industri seperti pertanian atau bahkan bisa juga digunakan sebagai alat untuk melamar calon pasangan.

Parang juga bisa digunakan sebagai koleksi, baik itu kepada turis asing maupun wisatawan lokal yang membutuhkan senjata tersebut sebagai bahan hiasan pada dinding rumah.

(28)

28 5. Kapak Batu Khas Papua

Kapak merupakan senjata tradisional yang menjadi ikon dari wilayah Irian Jaya. Senjata ini masih bisa kita temui, karena masih banyak masyarakat yang menggunakan alat tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Cara merakit kapak juga tergolong mudah yakni dengan mengikat satu potong dari batu-batuan kepada kayu yang nanti akan dijadikan sebagai alas untuk pegangan.

Pada zaman dahulu, masyarakat Papua menggunakan kapak batu sebagai alat untuk menebang pohon dan juga membuat sagu.

Fungsi dari senjata tradisional Papua ini adalah digunakan sebagai alat pertahanan diri ketika terjadinya pertempuran. Tetapi seiring dengan berubahnya zaman, orang-

Senjata Tradisional Kapak Batu orang akan lebih banyak menggunakan

@https://www.suaraserui.com/ kapak sebagai alat untuk menggosok senjata, memotong dan membelah kayu.

Selain itu, bentuk dari kapak yang pipih dan ramping akan memudahkan pekerjaan dari pengrajin rumah ketika akan melakukan pekerjaannya. Yakni dengan menjadikan kapak tersebut sebagai alat untuk mengupas kulit kayu yang akan dijadikan sebagai bahan untuk membangun rumah

6. Pahat Khas Papua

Pahat merupakan senjata tradisional yang mempunyai beragam kegunaan, yakni untuk memotong rotan yang nantinya akan dianyam.

Alat yang digunakan untuk melubangi kayu, dan juga alat darurat yang digunakan untuk menusuk musuh apabila terjadi

peperangan. Tetapi sekarang fungsi dari pahat sudah beralih menjadi perkakas yang akan digunakan pada bidang pertukangan.

Menurut sejarahnya, kapak meeupakan alat yang digunakan untuk memangkas jari- jari tangan jenazah dari anggota keluarga

Senjata Tradisional Pahat

@https://cdn-asset.jawapos.com/

yang mengalami kematian. Tetapi budaya tersebut telah mendapatkan larangan dari pemerintah dan hanya boleh digunakan untuk alat dalam industri.

Proses pembuatan dari senjata ini juga tidaklah rumit. Yang dibutuhkan hanya pada kejelian agar tidak menggosok bagian dari ujungnya terlalu tipis. Sedangkan untuk menambahkan kenyamanan pada saat memakainya, pengrajin biasanya akan menambahkan lilitan dari kayu yang tipis.

7. Badik.

Badik adalah senjata tradisional yang berasal dari Bugis, Makassar. Tetapi senjata tersebut menjadi senjata tradisional Papua setelah masyarakat Papua mulai mengenal dunia luar.

(29)

29 Senjata Badung mempunyai bentuk yang pendek seperti pisau, tetapi ada mitos yang mengatakan bahwa senjata tersebut dipercaya telah memiliki kegunaan atau keampuhan yang dikenal dari gaya pada badik.

Pamoro Leko Ase merupakan sebuah dari masyarakat Papua yang menggunakan senjata badik dan memiliki goresan seperti daun padi. Pamoro Leko Ase juga diyakini telah mempunyai properti pemupukan tanaman jika petani membawa badik pada saat menyambut benih atau menanam tanaman.

Sementara Pamoro Ase diyakini dapat mengubah sikap agar pemiliknya menjadi pejuang roh tetapi ringan dalam keberuntungan dan juga jodoh.

Senjata Tradisional Badik

@https://milenialjoss.com/

Masyarakat Papua juga meyakini bahwa senjata badik mempunyai nilai dan juga makna tertentu. Dimana pada wilayah Papua sendiri senjata tersebut selalu menjadi senjata tradisional yang bisa dipakai untuk bertempur dan juga berkelahi.

8. Busur dan Panah Papua

Busur dan Panah merupakan senjata tradisional Papua yang biasanya digunakan untuk berburu babi hutan dan juga binatang lainnya. Bukan hanya itu, busur dan panah juga merupakan alat yang selalu dibawa dan berdampingan dengan rombak.

Busur dan panah juga bisa digunakan untuk berperang, tetapi ada perbedaan bahan yang digunakan pada mata panah

Jika tujuannya digunakan untuk melakukan perburuan binatang, maka mata panah

Senjata Tradisional Busur dan Panah

@https://milenialjoss.com

yang akan digunakan adalah terbuat dari bambu. Apabila digunakan untuk berperang, maka akan menggubakan mata tombak yang terbuat dari tulang binatang.

Panah juga dapat berfungsi sebagai properti yang digunakan sebagai dekorasi rumah pada sebagian wilayah yang ada di Papua. Antara lain ialah Irian Jaya, Wamena dan juga Kurulu.

Pada daerah tersebut, panah hanya digunakan untuk koleksi rumah saja.

Pengoleksian panah dan busur sudah membudaya pada kalangan masyarakat. Sehingga tidak susah untuk mencari tempat yang menjual panah. Karena pada umumnya panah-panah tersebut ditujukan untuk koleksi dan dijual belikan di pasar atau juga bisa dengan langsung memesannya kepada pengrajin panah.

Tetapi, pada zaman sekarang senjata tradisional Papua tersebut sudah banyak mengalami perkembangan dan juga perubahan yang terjadi akibat efek dari modernisasi.

(30)

30 Sehingga muncullah olahraga panahan yang mempunyai kesamaan dari segi teknik dan juga alatnya. Yang membedakannya hanya pada tujuan kegiatannya. Yakni panahan digunakan sebagai rekreasi, sedangkan busur dan panah tradisional Papua digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup.

Sumber : 8+ Senjata Tradisional Papua : Nama, Gambar dan Penjelasan (romadecade.org)

6. Makanan Khas 1. Papeda.

Makanan khas papua yaitu sagu yang di buat jadi bubur atau yang dikenal dengan nama papeda. Masyarakat papua biasanya menyantap papeda bersama kuah kuning, yang terbuat dari ikan tongkol atau ikan mubara dan di bumbui kunyit dan jeruk nipis.

Papeda adalah makanan berupa bubur sag u khas Maluku dan Papua yang biasanya disajikan dengan ikan tongkol atau mubara yang dibumbui dengan kunyit.[1] Papeda berwarna putih dan bertekstur lengket menyerupai lem dengan rasa yang tawar.[1] Papeda merupakan makanan yang kaya serat, rendah kolesterol, dan cukup bernutrisi.[2]

Sumber : Papeda - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 2. Sate Ulat Sagu.

Salah satu makanan khas Papua lainnya adalah Sate Ulat Sagu. Jenis makanan ini bagi kita mungkin akan membuat mual bahkan muntah. Ulat Sagu ini didapatkan dari batang pohon sagu yang sudah tua.

Masyrakat asli papua yang telah terbiasa hidup di alamseringkali mwngkonsumsi ulat sagu diolah terlebih dahulu. Namun sekarang ulat sagu ini sudah diolah dengan cara dibakar hingga hampir mirip dengan sate. Lebih tepatnya sate ulat sagu ini adalah makanan khas Raja Ampat.

Sate ulat sagu adalah makanan khas Papua yang berasal dari ulat sagu. Ulat sagu didapatkan dari pohon sagu yang dipotong dan dibiarkan membusuk.[1]

Meskipun terlihat menjijikkan, tapi makanan ini kaya akan protein yang cukup tinggi dan cocok dimakan oleh penderita diabetes. Makanan ini rendah serat, bisa dimakan secara langsung maupun dengan cara digoreng atau dijadikan sate.[3]

Dalam budaya Papua, ulat sagu menjadi unsur penting dalam ritual perayaan oleh Suku Asmat.

Sebuah ritual makanan disiapkan oleh Suku Kamoro dalam pemberian nama anak laki-laki mereka.

Ritual makanan ini terdiri dari campuran tepung sagu dengan siput atau kerang jenis tertentu, dan ulat sagu yang dibungkus dalam kemasan daun sagu berukuran panjang.[4]

Sumber : Sate ulat sagu - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

(31)

31 3. Ikan Bungkus.

Ikan bungkus khas papua ini dibuat dari dua bahan yaitu ikan laut dan daun talas sebagai bahan untuk membungkusnya. Bumbu khasnya rempah yang digunakan pun hanya garam untuk memberikan rasa asin dan untuk menghilangkan getah pada daun talas yang digunakan. Bahan dan bumbunya sedikit dan cara membuatnya pun sangat sederhana dan mudah. Dalam pembuatanya pertama bersihkan ikan kemudian dimasukkan kedalam daun talas dan ditutup.

terakhir dibakar diatas api kecil hingga masak. Kalau sudah masak ya diangkat dan langsung disajikan saat hangat.

Sumber : BERAGAM KEBUDAYAAN PULAU PAPUA | Suara News Papua

7. Alat Musik Tradisional Papua

Papua memiliki banyak alat musik tradisional.

Pada umumnya masyarakat Papua masih menggunakan alat musik sebagai pengiring bagi suatu acara atau peristiwa yang spesial pada kehidupan mereka selain untuk sarana hiburan.

Setidaknya ada 11 alat musik tradisional yang terdapat di daerah Papua: Pikon, (2) Triton, (3) Yi, (4) Kecapi Mulut, (5) Fuu, (6) Tifa (tifa memiliki ragam jenis, diantaranya; Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong, Tifa Bas) (7) Paar & Kee, (8) Krombi, (9) Butshake, (10) Atowo, (11) Amyen.

1. Pikon.

Pikon adalah alat musik yang berasal dari kata pikonane yang berarti bunyi pada Bahasa Baliem. Pikon pada umumnya hanya digunakan atau dimainkan oleh kaum laki-laki, khususnya pada daerah pedalaman Suku Dani.

Pikon mempunyai bunyi yang sedikit mengganggu jika tidak terbiasa mendengarkannya (sumbang). Pikon digunakan pada waktu senggang atau sekedar mengisi waktu atau sarana hiburan para kaum laki- laki setelah

melakukan berburu atau bekerja seharian dan dilakukan bersama-sama di rumah adat Honai.

2. Triton.

Triton dimainkan dengan cara ditiup langsung oleh mulut dan ditemukan di daerah pesisir pantai Papua.

Triton pada zaman dahulu digunakan sebagai alat untuk sarana komunikasi dan memanggil bantuan. Namun pada masa sekarang triton digunakan hanya untuk sarana hiburan semata.

(32)

32 3. Yi.

Yi adalah instrumen musik yang memiliki bentuk seperti suling yang terbuat dari kayu dan bambu yang memiliki warna coklat gelap. Yi digunakan sebagai pengiring tarian adat dan suara yang dihasilkan nya pun cukup unik.

Namun sangat disayangkan Yi pada masa

sekarang sangat susah sekali ditemukan dan terbilang langka. Walaupun Anda mencari di perpustakaan digital pun informasi dan asal-usul Yi sangat susah ditemukan

4. Kecapi Mulut.

Berbeda dengan kebanyakan alat musik lain, sebut saja alat musik khas tiup khas Jawa Barat seperti suling dan lainnya.

Alat musik dari Papua satu ini begitu unik, terbuat dari bahan bambu wulu. Untuk ukurannya pun tidak terlalu besar dan terlihat sangat sederhana. Kendati demikian kecapi mulut memiliki teknik dalam memainkannya.

Beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam memainkan kecapi mulut di antaranya sebagai berikut;

1. Jepitlah alat musik ini di antara bibir.

2. Kemudian tiup sambil menarik talinya.

3. Mainkan sesuai dengan irama.

Dari beberapa informasi, kecapi mulut berasal dari Lembah Baliem, Papua yang dihuni oleh Suku Dani.

Apabila ingin melihat dan mendengar secara langsung alat musik tradisional Papua, kalian bisa menyambangi Museum Loka Budaya di Universitas Cenderawasih.

5. Fuu.

Fuu adalah alat musik tiup yang terbuat dari bahan bambu dan kayu. Alat ini digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil penduduk dan juga digunakan sebagai pengiring tari-tarian tradisional suku Asmat.

Fuu memiliki bentuk perpaduan antara bentuk suling dan tabung karena bentuknya yang gempal dan terdapat lubang di ujung alat ini. Fuu seringkali dimainkan dengan alat musik Papua yang lain seperti tifa atau kelambut.

(33)

33 6. Tifa

Tifa adalah alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul, alat musik satu ini sedikit mirip dengan gendang dan alat musik yang digunakan dalam marawis.

Pembuatan tifa sendiri menggunakan kayu besar yang diambil isinya (dikosongkan), kemudian selanjutnya diberika kulit rusa pada bagian sisi.

Kulit rusa yang digunakan adalah kulit rusa yang sebelumnya telah dikeringkan.

Kulit rusa sendiri memiliki peranan yang sangat penting, yaitu sebagai penghasil suara yang dipukul.

Kulit rusa sendiri bukan satu satunya pilihan yang digunakan oleh masyarakat Papua untuk membuat tifa, pada kenyataannya banyak kulit hewan lain yang digunakan, seperti kulit babi ataupun kulit kambing.

Hampir semua alat musik tradisional yang ada di Bumi Cendrawasih memiliki cerita mitos atau legenda, termasuk tifa ini yang menceritakan “Biwar sang penakluk naga”.

Selain itu, tifa ternyata memiliki ragam jenis, diantaranya;

- Tifa Jekir - Tifa Dasar - Tifa Potong - Tifa Jekir Potong - Tifa Bas

Selain digunakan untuk mengiringi upacara adat, tifa digunakan juga sebagai pengiring lagu, dansa, api unggun dan lain sebagainya.

Namun apabila kita merujuk pada sejarah tifa, dahulu digunakan masyarakat Papua sebagai pengiring dalam peperangan (penyemangat).

7. Paar & Kee

Paar dan kee adalah dua alat musik yang saling melengkapi, dapat kita analogikan seperti halnya surat dengan perangko, atau laki laki dan perempuan.

Paar sendiri merupakan alat musik yang terbuat dari labu, sedangkan kee terbuat dari burung kasuari.

Selain sebagai alat musik, paar dan kee biasa digunakan sebagai penutup kemaluan laki-laki.

Lalu bagaimana alat musik ini dimainkan?

Jika kita perhatikan, sekilas alat musik ini memang tampak aneh, sebab lebih menyerupai kalung dibandingkan dengan alat musik.

Usut punya usut ternyata memainkan pare dan kee dengan cara digunakan oleh penari, dilingkarkan dipinggang mereka. Ketika para penari bergoyang, paar dan kee akan menimbulkan alunan suara.

Perlu kalian ketahui juga, alat musik paar dan kee ini berasal dari Suku Waris yang berada di Kabupaten Kerom.

8. Krombi

Krombi atau disebut juga kerombi merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu.

Alat musik ini pada umumnya digunakan dalam perayaan upacara adat atau pesta adat.

(34)

34 Cara memainkan krombi yaitu dengan cara dipukul menggunakan kayu kecil, sehingga mengeluarkan suara yang begitu khas.

Selain dimaikan sendiri, krombi dapat juga dipadukan atau dikolabrasikan dengan beberapa alat musik lain, seperti;

- Piko – Nailavos – Fuakuika - Karapra. dll Tidak jarang juga dalam beberapa kesempatan, krombi dimainkan dengan alat musik tradisional Papua Nugini. Saat ini kita dapat menemukan krombi di daerah Kampung Seremuk, Sorong Selatan, provinsi Papua.

9. Butshake

Buthshake adalah alat musik tradisional yang sangat unik, memadukan antara bambu dan bauh kenari.

Jika dimainkan alat musik ini akan menghasilkan suara mirip dengan gemercik. Untuk memainkannya sendiri yaitu dengan cara dikocok ataupun diayunkan menggunakan tangan.

Pada umumnya alat musik buthshake ini digunakan untuk mengiringi tarian tradisonal, atau upacara-upacara tertentu.

Alat musik satu ini memiliki sedikit kemiripan dengan alat musik modern, yaitu marakas. Pada dasarnya suara yang dihasilkan oleh bitshake merupakan hasil tabrakan antara biji kenari.

Butshake diperkirakan berasal dari daerah Muyu Kabupaten Merauke, hingga saat ini masyarakat setempat masih menggunakannya.

10. Atowo.

Atowo merupakan alat musik tradisional yang sudah sangat jarang, bahkan cendrung sulit untuk menemukan alat musik yang satu ini.

Atowo merupakan alat musik tradisional Papua yang memiliki bentuk seperti tabung dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Atowo terbuat dari kayu dan biasanya pada sisi bagian luar dihiasi dengan ukiran.

Atowo adalah alat musik pukul yang saat ini cukup sulit untuk ditemukan keberadaannya.

Hampir semua suku di papua mengenal alat musik tradisional Papua satu ini, memiliki bentuk bulat lonjong dan dimensi yang tidak terlalu besar menjadikannya sebagai alat musik yang relatif ringan.

Atowo dimaikan dengan cara dipukul menggunakan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya memegang badan atowo.

Alat musik tradisional ini memliki irama dan suara yang khas, sehingga tidak jarang masyarakat setempat menjadikan atowo sebagai hiburan.

11. Amyen

Amyen adalah alat musik tradisional dengan jenis tiup, alat musik ini akan menghasilkan bunyi khas ketika ditiup.

(35)

35 Sekilas bentuknya memiliki kemiripan dengan

seruling, hanya saja terlihat lebih gemuk, dimana pada ujung yang ditiup lebih kecil dibandingkan dengan ujung lainnya.

Amyen digunakan oleh masyarakat setempat sebagai pengiring upacara atau tarian-tarian tradisonal.

Sedangkan pada zaman dahulu, amyen digunakan untuk memberikan tanda bahaya kepada penduduk.

Dari beberapa keterangan, amyen berasal dari Suku Weeb, Kabupaten Keerom, Papua.

Sumber : 11 Alat Musik Papua - Lengkap Beserta Penjelasan, Gambar, dan Mitos (pinhome.id) 8. Mitos Alat Musik Papua

Dalam kehidupan masyarakat Papua, alat musik tidak digunakan sebagai untuk hiburan, tetapi terdapat latar belakang sejarah yang istimewa dan melekat pada hati masyarakat Papua.

Meskipun ada banyak alat musik modern yang merajai pasar bagi generasi muda kita yang semakin hari semakin melupakan kebudayaannya. Terdapat mitos-mitos pada beberapa alat musik Papua yang masih dipercayai oleh masyarakat sekitar.

4. Mitos Dua Orang Saudara.

Mitos dua orang bersaudara adalah mitos untuk alat musik tifa, dimana mitos ini masih diercayai oleh orang pedalaman.

pada masa lalu hiduplah dua orang bersaudara di daerah Biak, yang bernama Fraimun dan Sarenbeyar. Kedua nama ini memiliki arti yang saling berdekatan satu sama lainnya, Fraimun memiliki arti berarti alat perang yang gagangnya bisa membunuh, kemudian Seren memiliki arti busur, dan beyer tali busur.

Pada suatu ketika kedua saudara ini memutuskan untuk pergi meninggalkan desa mereka, dan setelah itu menemukan desa baru, yaitu Wampemyer dan menetap di sana.

Suatu malam mereka berdua pergi ke luar untuk berburu, dan pada malam itu mereka menemukan pohon opsur.

Tidak lama setelah itu, tepat keesokan harinya mereka berdua memutuskan untuk menebang pohon opsur tersebut, kemudian dilubangi dan ditambahkan kulit ular pada bagian sisinya.

5. Mitos Orang Pegunungan Tengah

Mitos ini berasal dari alat musik pikon, dimana masyarakat Papua percaya dahulu ada seorang bapak membunuh panglima perang, yang merupakan temannya sendiri.

Akibat dari pembunuhan tersebut, pada akhirnya bapak tersebut diusir oleh saudaranya. Kemudian ia lari ke hutan, di sana ia memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan hewan, namun sayangnya tidak ada satupun hewan yang bisa berkomunikasi dengannya.

Gambar

Foto by. Arnolde Dj
Gambar dan Penjelasan 8 Senjata Tradisional Papua, tersebut dibawah ini :  1.  Alat Tusuk dari Tulang Kuskus Papua

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi integrasi ilmu hadis dan antropologi pada perguruan tinggi agama Islam (PTAI) ditunjukkan melalui dimasukannya mata kuliah antropologi dalam struktur kurikulum

Makalah Komunikasi Kantor Kelompok 5 untuk memenuhi tugas mata kuliah Administrasi Rumah

Tugas kelompok mata kuliah Teori Ekonomi Mikro II tentang permasalahan ekonomi dalam

Tugas besar mata kuliah Studio Perancangan 1 yang disusun oleh Kelompok

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sistem Hukum

Dokumen tersebut berisi tugas kelompok yang menanyakan perasaan mahasiswa terhadap mata kuliah Logika &

Dokumen ini membahas tentang manajemen perubahan dan merupakan tugas kelompok mata kuliah Manajemen

Tugas kelompok mata kuliah Teori Akuntansi mengenai isu-isu terkini dalam Akuntansi dan