Nama : Berliana Geovanie NIM : 2310943027
Mata kuliah : Pengelolaan Kualitas Lingkungan.
RESUME MENGENAI OBJEK DAN ASPEK-ASPEK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP MENGANI BAKU MUTU UDARA AMBIEN DALAM PERATURAN PEMERINTAH (PP) NOMOR 22 TAHUN 2021 TENTANG PENYELENGGARAAN
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP.
Upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang di susun oleh pemerintah dalam undang- undang nomor 22 tahun 2021. Dalam undang-undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di bahas upaya atau panduan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan pengawasan san penegakan hukum. Pada pasal 1 angka 48 sumber pencemar udara adalah dari setiap kegiatan manusia yang mengeluarkan pencemar udara ke dalam udara ambien. Dalam pasal 1 angka 49 pencemaran udara adalah masuk atau dimasukannya zat, energi, dan atau komponen lainnya ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu udara ambien yang telah di tetapkan. Pada Pasal 1 Angka 42 di jelaskan bahwa udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada pada di dalam wilayah yuridiksi RI yang di butuhkan dan berpengaruh terhadap Kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsur lingkungan hidup lainnya. Baku mutu udara ambien adalah nilai pencemar udara yang di tanggung keberadaannya dalam udara ambien. Berbagai polutan yang dapat memengaruhi kualitas udara ambien meliputi partikel halus, seperti debu dan asap, oksida nitrogen, sulfur dioksida, karbon monoksida, ozon troposferik, dan polutan organik lainnya.
Melampaui baku mutu udara ambien dapat dianggap sebagai kejahatan lingkungan.
Pasal 1 angka 45 Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara yang selanjutnya disingkat RPPMU adalah perencanaan yang memuat potensi, masalah, dan upaya Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara dalam kurun waktu tertentu. Pada bagian Perencanaan Perlindungan Dan Pengelolaan Mutu Udara yang terdapat dalam pasal 174 yang di tuliskan Baku Mutu Udara Ambien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 huruf b disusun dan ditetapkan dengan mempertimbangkan: hasil inventarisasi udara dan aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hasil inventarisasi sangat penting untuk langkah lanjutan dari pengendalian pencemaran udara. Dalam hasil inventarisasi terdapat identifikasi sumber emisi dan mutu udara ambien, serta analisa potensi emisi setiap sumber dan informasi lingkungan.
a. Identifikasi sumber emisi mengarah pada proses mengenali sumber-sumber yang menghasilkan polutan udara lalu digunakan sebagai dasar untuk menganalisis potensi emisi dan evaluasi strategi pengendalian pencemaran udara. Contoh sumber emisi yang biasanya adalah industri yaitu gas buangan dari proses produksi, asap dari kendaraan atau alat transportasi yang biasanya digunakan sehari-hari, serta limbah dari hasil pembakaran sampah. Untuk mengidentifikasi sumber emisi dengan akurat dan tepat dapat dilakukan, memasang alat pembantu kualitas udara, mengumpul sample udara, merencanakan dan menerapkan studi universal emisi, serta mengklasifikasi data potensi sumber pencemar udara dari emisi sesuai degan proses produksi.
b. Analisa potensi emisi setip sumber adalah proses untuk mengevaluasi kemungkinan jumlah polutan yang dilepaskan ke udara dari berbagai sumber emisi. Contoh Analisa potensi emisi sumber emisi dari transportasi dapat dianalisa untuk memperkirakan jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar tidak sempurna.
Pada Pasal 174 ayat 1 point b terdapat baku mutu udara ambien sebagaimana dimaksud dalam pasal 164 huruf b disusun dan di tetapkan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sedangkan pada pasal 174 ayat 2 di tuliskan bahwa baku mutu udara ambien sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi jenis dan nilai parameter parameter yang dicantumkan dalam standar bau mutu udara ambien menurut PP Nomor 22 Tahun 2021 adalah:
a. Partikel halus (PM 2,5): 5 µg/m³ rata-rata 8 jam b. Karbon monoksida (CO): ≤ 1 mg/m³ (rata-rata 8 jam) c. Oksigen (O₂): ≥ 15% vol
d. Nitrogen (N₂): ≥ 75% vol e. Uap air (H₂O): ≤ 100% vol
Pasal 184 ayat 5 dalam hal WPPMU (Wilayah Pengelolaan Pencemar Udara) sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (status mutu udara ambien ditentukan dengan cara membandingkan hasil pemantauan udara ambien dengan nilai mutu udara WPPMU yang telah di tetapkan oleh Menteri) belum di tetapkan status mutu ambien ditentukan dengan cara membandingkan hasil pemantauan udara ambien dengan baku mutu udara ambien.
Pemantauan udara ambien dapat dilakukan dengan baku mutu udara ambien berlaku untuk menilai apakah kualitas udara tersebut memenuhi standar yang telah di tetapkan.
Dalam Pasal 188 pengendalian pencemaran udara dilaksanakan sesuai dengan RPPMU sebagaimana meliputi:
a. Pencegahan pencemaran udara dilakukan dengan mengurangi atau mencegah emisi polutan dari sumber tertentu seperti industri, transportasi, dan rumah tangga. Lalu, gunakan teknologi ramah lingkungan, bijak dalam pengelolaan limbah dan pengaturan kebijakan yang mengurangi emisi polutan.
b. Penanggulangan pencemaran udara melibatkan penggunaan filtrasi udara, penegakan peraturan lingkungan dan monitoring kualitas udara secara rutin.
c. Dan pemulihan dampak pencemaran udara yaitu mengembalikan kualitas udara menjadi lebih baik melalui rehabilitas, restorisasi ekosistem, dan program pemulihan kualitas udara serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kualitas lingkungan.
SUMBER:
1. Wantania, C. (2019). Analisis Udara Ambien dengan Parameter PM10.
https://osf.io/pmy3n/download
2. Hidup, K. L. (2013). Pedoman teknis penyusunan inventarisasi emisi pencemar udara di perkotaan. Jakarta Asdep Pengendali. Pencemaran Udar. Sumber Berger.
Deputi Bid. Pengendali. Pencemaran Lingkung. Kementeri. Lingkung. Hidup
Pencemaran Udar. di Daerah. Jakarta.
https://ppkl.menlhk.go.id/website/filebox/609/190710181542PEDOMAN
%20TEKNIS%20PENYUSUNAN%20INVENTARISASI%20EMISI.pdf
3. Martono, M. (2016). IDENTIFIKASI SUMBER EMISI DAN PERHITUNGAN BEBAN EMISI. Swara Patra: Majalah Ilmiah PPSDM Migas, 6(2).
http://ejurnal.ppsdmmigas.esdm.go.id/sp/index.php/swarapatra/article/view/126 4. Nasution, Susilawati. (2014). Analisis Potensi Emisi Gas Metana dari Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah (Studi Kasus di TPA Namo Bintang, Medan, Sumatera Utara). https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/43316