• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SWANGGI (PRIACANTHUS TAYENUS) YANG DIDARATKAN DIPELABUHAN

N/A
N/A
Hasya Setya Ningrum

Academic year: 2024

Membagikan "BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SWANGGI (PRIACANTHUS TAYENUS) YANG DIDARATKAN DIPELABUHAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

272

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SWANGGI (PRIACANTHUS TAYENUS) YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN

PERIKANAN NUSANTARA PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT

Irsa Sylviandari 1,4, Ahmad Mulyadi 2, Sri Rahayu 3

1,2,3Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak

4Email: [email protected]

ABSTRAK

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat di Kabupaten Sambas merupakan salah satu sentra kegiatan perikanan tangkap di Kalimantan Barat. PPN Pemangkat berperan dalam pengembangan usaha perikanan tangkap. Salah satu jenis ikan yang didaratkan di PPN Pemangkat yaitu ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan salah satu jenis ikan demersal dan biasanya terdapat di daerah karang atau terumbu karang dengan karakteristik khusus berwarna merah muda, memiliki mata besar dan pada sirip perutnya terdapat bintik berwarna ungu kehitam-hitaman. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui biologi reproduksi ikan swanggi meliputi rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, dan fekunditas. Penelitian dilakukan selama 2 bulan, Pengambilan sampel ikan dan penentuan kapal menggunakan purposive random sampling. Hasil tangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) yang diperoleh selama penelitian sebanyak 127 ekor, terdiri dari 66 ekor ikan jantan dan 61 ekor ikan betina.

Tingkat kematangan gonad ikan swanggi jantan dan betina di lokasi penelitian diperoleh TKG I-V. Nilai indeks kematangan gonad ikan jantan keseluruhan berkisar antara 0.15- 4.62% lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai keseluruhan indeks kematangan gonad ikan betina berkisar antara 0.23-8.20%. Hasil penelitian fekunditas total ikan swanggi secara keseluruhan berkisar antara 9780-23127 butir telur dengan rata-rata 14482.

Kata Kunci: biologi, ikan swanggi, ppn Pemangkat, reproduksi

ABSTRACT

Pemangkat Perikanan Nusantara Port (PPN) in Sambas Regency is one of the centers of capture fisheries activities in West Kalimantan. PPN Pemangkat plays a role in the development of capture fisheries. One type of fish landed in PPN Pemangkat is purple spotted bigeye (Priacanthus tayenus), which is one type of demersal fish and is usually found in coral areas or coral reefs with special characteristics of pink, has large eyes and on its pelvic fins there are spots of purple-black color. The purpose of this study was to determine the reproductive biology of swanggi fish including sex ratio, gonad maturity level, gonad maturity index, and fecundity. The research was conducted for 2 months, fish sampling and determination of vessels using purposive random sampling. The catch of purple spotted bigeye obtained during the study was 127 fish, consisting of 66 male fish and 61 female fish. The level of gonad maturity of male and female swanggi fish at the research site was obtained TKG I-V. The overall male fish gonad maturity index value ranged from 0.15-4.62% smaller when compared to the overall value of the female fish gonad maturity index ranging from 0.23-8.20%. The total fecundity of swanggi fish as a whole ranged from 9780-23127 eggs with an average of 14482.

(2)

273 Keywords: biology, reproductive, purple spotted bigeye, ppn Pemangkat

PENDAHULUAN

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat di Kabupaten Sambas merupakan salah satu sentra kegiatan perikanan tangkap di Kalimantan Barat. PPN Pemangkat berperan dalam pengembangan usaha perikanan tangkap. Mayoritas nelayan yang beroperasi di PPN Pemangkat merupakan nelayan tradisional. Jenis alat tangkap purse seine dan gillnet adalah alat tangkap ikan yang paling dominan digunakan oleh kapal alat tangkap, target ikan tangkapan nelayan jenis ikan pelagis dan demersal. Beberapa jenis ikan demersal yang didaratkan di PPN Pemangkat yaitu ikan kurisi, ikan biji nangka, ikan gulamah, ikan layur, ikan kakap merah, dan ikan swanggi.

Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan salah satu jenis ikan demersal dan biasanya terdapat di daerah karang atau terumbu karang dengan karakteristik khusus berwarna merah muda, memiliki mata besar dan pada sirip perutnya terdapat bintik berwarna ungu kehitam-hitaman (FAO 1999). Ikan ini merupakan hasil tangkapan sampingan kapal alat tangkap purse seine yang ada di PPN Pemangkat. Berdasarkan laporan statistik perikanan tangkap di PPN Pemangkat produksi ikan swanggi pada tahun 2018 berjumlah 60.025 kg, mengalami penurunan di tahun 2019 sebesar 43.342 kg, meningkat kembali pada tahun 2020 sebesar 63.226 kg, kemudian menurun sampai 40.898 kg di tahun 2021. Agar stok ikan swanggi tetap lestari maka diperlukan suatu informasi biologi. Salah satu informasi biologi yang penting dalam pengelolaan ikan swanggi adalah informasi reproduksi.

Reproduksi merupakan kemampuan suatu individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Kegiatan reproduksi pada setiap ikan berbeda-beda, tergantung pada kondisi lingkungan (Fujaya, 2004). Informasi mengenai reproduksi sangat diperlukan untuk melengkapi pemahaman mengenai aspek reproduksi spesies ikan dan mempermudah manusia membuat rencana pengelolaan perikanan. Salah satu aspek untuk mendukung upaya pengelolaan sumberdaya ikan swanggi adalah pengetahuan dasar mengenai aspek biologi reproduksi diantara-Nya adalah rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, dan fekunditas.

METODE PENELITIAN

Survei lokasi dilakukan untuk mengetahui keadaan lokasi penelitian dan jenis alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan sampel ikan swanggi. Berdasarkan hasil survei lokasi yang telah dilakukan di lokasi penelitian di PPN Pemangkat, jenis alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan ikan swanggi yaitu purse seine. Dari hasil survei jumlah kapal yang menggunakan alat tangkap purse seine yang ada di PPN Pemangkat yaitu 48 kapal. Pengambilan sampel ikan dan penentuan kapal menggunakan purposive random sampling dengan menentukan kriteria sampel yang diinginkan secara acak. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menentukan 2 buah kapal yang menggunakan alat tangkap purse seine dari 48 kapal yang dioperasikan. Sampel keranjang yang diambil setiap kapal masing-masing 1 buah. Pada setiap keranjang diambil sampel ikan sebanyak 1 pack yang bermuatan 5 kg dengan perkiraan 35 ekor. Jadi total ikan per sampling 70 ekor ikan setiap pendaratan kapal.

Survei lokasi dilakukan untuk mengetahui keadaan lokasi penelitian dan jenis alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan sampel ikan swanggi. Berdasarkan hasil survei lokasi yang telah dilakukan di lokasi penelitian di PPN Pemangkat, jenis alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan ikan swanggi yaitu purse seine. Dari hasil

(3)

274 survei jumlah kapal yang menggunakan alat tangkap purse seine yang ada di PPN Pemangkat yaitu 48 kapal. Pengambilan sampel ikan dan penentuan kapal menggunakan purposive random sampling dengan menentukan kriteria sampel yang diinginkan secara acak. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menentukan 2 buah kapal yang menggunakan alat tangkap purse seine dari 48 kapal yang dioperasikan. Sampel keranjang yang diambil setiap kapal masing-masing 1 buah. Pada setiap keranjang diambil sampel ikan sebanyak 1 pack yang bermuatan 5 kg dengan perkiraan 35 ekor. Jadi total ikan per sampling 70 ekor ikan setiap pendaratan kapal.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Rasio Kelamin

Hasil tangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) yang diperoleh selama penelitian sebanyak 127 ekor, terdiri dari 66 ekor ikan jantan dan 61 ekor ikan betina. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah ikan jantan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan ikan betina. Berdasarkan jenis kelamin, ikan jantan yang didapat mempunyai panjang berkisar 17-28 cm dan berat bobot 75-281 gram , sedangkan panjang ikan betina berkisar 19-29 cm dan berat bobot 109-343 gram.

Rasio kelamin jantan dan betina ikan swanggi 1,08 : 1 (Tabel 1 ). Perbandingan populasi antara ikan jantan dan ikan betina berdasarkan uji chi square menunjukkan hasil X2hitung (0,09) < X2tabel (7,81) yang berarti nilai hitung lebih kecil dari nilai tabel, maka H0 diterima, sehingga proporsi ikan swanggi jantan dan betina di PPN Pemangkat seimbang.

Tabel 1. Rasio Kelamin Ikan Swanggi yang Didapat di PPN Pemangkat Kabupaten Sambas Dalam Periode Penelitian

Waktu Jantan Betina Jumlah Rasio Kelamin

10 April 2023 18 16 34 1,12 : 1

12 April 2023 18 18 36 1 ; 1

30 April 2023 16 14 31 1,06 : 1

01 Mei 2023 14 13 27 1,07 : 1

Total 66 61 127 1,08 : 1

Keterangan: X2 hitung= 0,09; X2 tabel= 7,81 Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad merupakan tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Tingkat kematangan gonad ikan swanggi diklasifikasikan menjadi 5 tahapan yaitu tahap I (dara), II (berkembang), III (perkembangan), IV (reproduksi), V (mijah/salin) (Djumanto et al.,2012). Tingkat kematangan gonad ikan swanggi jantan dan betina di lokasi penelitian diperoleh TKG I-V. Perbandingan ciri morfologi gonad ikan swanggi jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.

(a) (b)

Gambar 2. Posisi Gonad Ikan Swanggi Jantan (a) dan Betina (b)

(4)

275

TKG I TKG II

TKG III TKG IV

TKG V (a) Betina

TKG 1 TKG II

TKG III TKG IV

TKG V (b) Jantan

Gambar 1. Struktur Morfologi Gonad Ikan Swanggi Betina Dan Jantan

Tabel 2. Jumlah Ikan Jantan dan Betina yang Tertangkap Berdasarkan TKG.

WAKTU TKG JANTAN TKG BETINA

I II III IV V Total I II III IV V Total

10 April 2023 3 7 5 2 1 18 1 5 3 3 4 16

12 April 2023 1 9 6 0 2 18 4 4 2 5 3 18

30 April 2023 5 3 6 2 0 16 2 3 4 3 2 15

01 Mei 2023 7 4 1 1 1 14 0 1 3 7 2 13

Total 16 23 18 5 4 66 7 13 12 18 11 61

Indeks kematangan gonad

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks kematangan gonad betina lebih besar dibandingkan dengan indeks kematangan gonad jantan. Nilai rata-rata IKG tertinggi ikan swanggi jantan ditemukan pada tanggal 10 April sebesar 1,14 dengan kisaran 0,33- 2,12 dan nilai IKG ikan swanggi jantan terendah pada tanggal 30 April sebesar 0,82 dengan kisaran 0,22-1,70. Sedangkan untuk nilai rata-rata IKG ikan swanggi betina tertinggi pada tanggal 1 Mei sebesar 4,25 dengan kisaran 1,42-8,20 dan nilai IKG terendah pada tanggal 30 April sebesar 2,85 dengan kisaran 0,42-8,20.

(5)

276 Tabel 3. Indeks Kematangan Gonad Ikan Swanggi

WAKTU IKG JANTAN IKG BETINA

RATA-RATA KISARAN RATA-RATA KISARAN

10 April 2023 1,14 0.33-2.12 4,12 1.01-7.48

12 April 2023 1,20 0.15-2.24 3,30 0.23-6.40

30 April 2023 0,82 0.22-1.70 2,85 0.48-6.28

01 Mei 2023 0,84 0.26-4.62 4,25 1.42-8.20

Rata-rata 1,00 0.15-4.62 3,63 0.23-8.20

Fekunditas

Hasil pengamatan fekunditas ikan swanggi yang diperoleh selama penelitian pada tingkat kematangan gonad III-IV sebanyak 30 ekor. Hasil penelitian fekunditas total ikan swanggi secara keseluruhan berkisar antara 9780-23127 butir telur dengan rata-rata 14482. Fekunditas relatif terhadap panjang total ikan berkisar antara 489.01-925.07 butir telur dengan rata-rata 614,92 butir telur panjang ikan. Sedangkan fekunditas relatif terhadap berat total ikan berkisar antara 47.64-128.57 butir telur dengan rata-rata 73,28 butir telur gonad ikan.

Pembahasan

Rasio kelamin ikan swanggi merupakan perbandingan antara jumlah jantan dan betina dalam satu populasi. Berdasarkan hasil penelitian dengan total 127 sampel ikan swanggi, 66 individu berjenis kelamin jantan dan 61 individu berjenis kelamin betina menunjukkan bahwa rasio kelamin ikan swanggi jantan lebih besar dibandingkan dengan ikan swanggi betina yaitu sebesar 1,08 : 1, namun berdasarkan uji chi square menunjukkan hasil X2hitung (0,09) < X2tabel(7,81) yang berarti rasio kelamin ikan swanggi jantan dan betina tidak menunjukkan perbedaan signifikan atau populasi dalam keadaan seimbang. Menurut Effendi, (2002) perbandingan rasio kelamin ikan tidaklah mutlak seimbang (1:1), karena dapat dipengaruhi oleh tipe pemijahan antara ikan swanggi jantan dan betina yang berbeda pula.

Hasil ini diperlihatkan pada penelitian Ballerina (2012), Pramadika (2014), Firmansyah (2016), dan Sadewi (2018) 1:1,05; 1:1,3; 1:1,6; dan 1:1 (jantan: betina) bahwa perbandingan rasio kelamin jantan dan betina di PPN Pemangkat berbeda dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh beberapa penelitian di Selat Sunda. Hal ini sesuai dengan Nikolsky (1969) dalam Azizah, Muchisin dan Musman (2010) yang menunjukkan bahwa rasio kelamin dari satu spesies ikan dapat bervariasi dari tahun ke tahun dalam populasi yang sama dan dalam suatu perairan terdapat perbedaan ukuran, perbedaan jumlah dari salah satu jenis kelamin hal ini disebabkan oleh perbedaan pola pertumbuhan dari ikan itu sendiri dan perbedaan umur ikan kematangan gonad ikan pertama kalinya. Perbandingan rasio kelamin dapat berubah menjelang dan selama pemijahan berlangsung. Pada waktu melakukan ruaya pemijahan, populasi ikan didominasi oleh ikan jantan, kemudian menjelang pemijahan populasi ikan jantan dan betina dalam kondisi yang seimbang, lalu didominasi oleh ikan betina. Jumlah ikan jantan dan betina yang tertangkap tidak seimbang diduga karena perbedaan tingkah laku serta faktor penangkapan. Faktor tingkah laku yang mempengaruhi ikan adalah pemijahan.

Pada pengamatan tingkat kematangan gonad (TKG) ikan swanggi ditentukan melalui pengamatan secara morfologi. Berdasarkan gambar 4, pengamatan morfologi TKG ikan swanggi jantan menunjukkan gonad berukuran kecil, penampang gonad pipih, berwarna keputihan dan berpasangan. Sedangkan pada ikan swanggi betina menunjukkan gonad berukuran agak besar, berwarna jingga kekuningan dan

(6)

277 berpasangan. Hasil penelitian TKG ikan swanggi jantan dan betina diperoleh TKG I,II,III,IV, dan V. Hasil tingkat kematangan gonad ikan swanggi (Tabel 3) menunjukkan bahwa selama penelitian ikan swanggi betina pada TKG III dan IV ditemukan di setiap pengambilan sampel. Ikan jantan TKG II mendominasi sedangkan ikan betina TKG IV mendominasi selama penelitian. Namun yang membedakan terhadap TKG ikan swanggi jika dibandingkan penelitian Pramadika (2014) adalah TKG V dan warna gonad, ikan swanggi jantan dan betina pada TKG V selama penelitian tidak ditemukan dan gonad ikan betina berwarna bening keputihan, putih susu, dan kelabu.

Hasil analisis Indeks Kematangan Gonad (IKG) menunjukkan kematangan gonad ikan swanggi bervariasi. Nilai indeks kematangan gonad ikan jantan keseluruhan berkisar antara 0.15-4.62% lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai keseluruhan indeks kematangan gonad ikan betina berkisar antara 0.23-8.20% hal ini dikarenakan indeks kematangan gonad ikan dipengaruhi oleh berat tubuh dan berat gonad. Jika gonad semakin berkembang maka berat gonad akan bertambah dan kenaikan berat tubuh juga bertambah sehingga menyebabkan nilai IKG meningkat. Nilai rata-rata IKG tertinggi ikan swanggi jantan ditemukan pada tanggal 10 April sebesar 1,14% dengan kisaran 0,33- 2,12% dan nilai IKG ikan swanggi jantan terendah pada tanggal 30 April sebesar 0,82%

dengan kisaran 0,22-1,70%. Sedangkan untuk nilai rata-rata IKG ikan swanggi betina tertinggi pada tanggal 1 Mei sebesar 4,25% dengan kisaran 1,42-8,20% dan nilai IKG terendah pada tanggal 30 April sebesar 2,85% dengan kisaran 0,42-8,20%. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendie (1979) yang menyatakan bahwa biasanya ovarium pada ikan betina akan berat dibandingkan testis pada ikan jantan. Pada penelitian ikan swanggi di Perairan Selat Sunda menunjukkan nilai IKG betina lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan. Nilai IKG ikan betina dan jantan berfluktuatif setiap bulannya. Indeks kematangan gonad ikan swanggi betina dan jantan tertinggi pada bulan Mei dan Juli (Firmansyah 2015).

Perhitungan fekunditas dilakukan pada ikan betina yang sudah matang gonad (TKG III dan IV). Perhitungan fekunditas terdapat 2 jenis yaitu fekunditas total dan fekunditas relatif. Hasil perhitungan fekunditas pada 30 individu ikan swanggi dengan kisaran panjang tubuh 19-28,5 cm dan kisaran berat 109-343 gr menunjukkan kisaran 9780- 23127 butir dengan rata-rata 14482 butir. Fekunditas relatif terhadap panjang total berkisar antara 489,01-925,07 butir/cm rata-rata 614,92 dengan kisaran panjang antara 19-28,5 cm. Sedangkan fekunditas relatif terhadap berat total berkisar antara 47.64- 128.57 butir/g rata-rata 73,28 dengan kisaran berat antara 109-343 gram.

Perhitungan fekunditas menunjukkan jumlah telur yang bervariasi. Tinggi rendahnya fekunditas disebabkan oleh perbedaan frekuensi pemijahan pada ikan, berat gonad dan besar kecilnya telur. Fekunditas pada setiap ukuran panjang dan berat tidak selamanya berbanding lurus dengan ukuran tubuh (Alamsyah et al., 2013). Berdasarkan hasil penelitian fekunditas ikan swanggi. Variasi jumlah telur ikan dapat disebabkan karena adanya variasi ukuran ikan. Pada beberapa spesies tertentu pada umur yang berbeda-beda memperlihatkan fekunditas yang bervariasi sehubungan dengan suplai makanan dari habitatnya (Effendi, 2002). Berdasarkan hasil penelitian fekunditas ikan swanggi di Perairan Pelabuhan Ratu, Sukabumi menunjukkan hasil fekunditas berkisar 2.183-47.874 butir telur dengan rata-rata sebesar 9.692 butir telur (Sadewi et al., 2018).

Hasil penelitian ikan swanggi di PPP Tawang Kabupaten Kendal fekunditas tertinggi adalah 245.303 butir pada panjang 198 mm dan berat tubuh 125,7 gram. dan terendah sebanyak 123.500 butir dengan ukuran 190 mm dan berat tubuh 86,5 gram (Agustiari et al., 2017).

Upaya penangkapan perlu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya ikan swanggi agar tetap lestari. Pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keberlanjutan populasi ikan swanggi dengan melakukan peningkatan sosialisasi dengan

(7)

278 memberikan pemahaman terhadap masyarakat nelayan mengenai musim pemijahan pada ikan agar mengurangi intensitas penangkapan, dan memberi penjelasan mengenai penangkapan ikan yang dilakukan secara berkelanjutan, atau dalam kata lain populasi ikan tidak akan menurun akibat praktik penangkapan ikan yang berlebihan.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Biologi Reproduksi Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat”, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Rasio kelamin ikan swanggi jantan dan betina yaitu 1,08 : 1 yang menunjukkan seimbang.

2. Tingkat kematangan gonad ikan untuk ikan swanggi Jantan dan betina diperoleh I-V.

TKG II ikan jantan lebih mendominasi sedangkan TKG IV ikan betina lebih mendominasi.

3. Nilai indeks kematangan gonad ikan jantan keseluruhan berkisar antara 0.15-4.62% lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai keseluruhan indeks kematangan gonad ikan betina berkisar antara 0.23-8.20%

4. Fekunditas berkisar antara 9780-23127 butir telur dengan rata-rata 14482. Fekunditas relatif panjang total ikan dengan rata-rata 614,92 butir telur/cm Panjang ikan. Sedangkan fekunditas relatif berat total ikan dengan rata-rata 73,28 butir telur/gr berat ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Agustiari, A. M., Saputra, S. ., dan Solichin, A. 2018. Beberapa Aspek Biologi Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) Yang Didaratkan di Ppp Tawang Kabupaten Kendal. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 6(1), 33- 42.

Alamsyah, R. 2016. Rasio kelamin dan tingkat kematangan gonad ikan cakalang yang tertangkap di Perairan Teluk Bone. Jurnal Agrominansia, 1 (2): 176-184.

Azizah. S, Muchlisin dan Musman. M. 2010. Musim pemijahan ikan depik (Ikan;

Cyprinidae) di Danau Laut Tawar, Provinsi Aceh, Indonesia, Biologi Reproduksi Endokrinologi. 8: 49.

Ballerena C. P. 2012. Pola reproduksi ikan swanggi (Priacanthus tayenus, Richardson 1846) yang didaratkan di PPP Labuan Banten

Dahlan MA, Omar SBA, Tresnati J, Umar MT, Nur M. 2015. Nisbah kelamin dan ukuran pertama kali matang gonad ikan layang deles (Decapterus macrosoma Bleeker, 1841) di Perairan Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Kelautan Dan Perikanan.

25(1): 25-29

Djumanto, Setyobudi, E., dan Rudiansyah. 2012. Fekunditas Ikan Gelodok, Boleophthalmus boddarti (Pallas 1770) di Pantai Brebes. Jurnal Ikhtiologi Indonesia, 12 (1): 59-71.

Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan Yogyakarta. Yayasan Pustaka Nusantara.

Yogyakarta.

Firmansyah, Nana, dan Sulistiono Yonvitner. 2015. "Biologi reproduksi ikan swanggi Priacanthus tayenus Richardson 1846 di perairan Selat Sunda."

Food Agricultural Organization, 1999. Sumberdaya laut yang hidup di Pusat Barat Pasifik.

Pedoman identifikasi spesies untuk tujuan perikanan. Departemen Ilmu Biologi.

Universitas Norfolk, Virginia

(8)

279 Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Cetakan Pertama. Rineka Putra. JakartaEffendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Makmur S, Prasetyo D. 2006. Kebiasaan makan, tingkat kematangan gonad, fekunditas ikan haruan di Suaka Perikanan Sungai Sambujur DAS Baritoo, Kalimantan Selatan. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 13(1): 27-1.

Mariskha PR, Abdulgani N. 2012. Aspek reproduksi ikan kerapu macan (Epinephelus sexfasciatus) di Perairan Glondonggede Tuban. Jurnal Sains dan Seni ITS. 1(1):

27-31.

Pramadika, I. C. 2014. Kajian Biologi Reproduksi Ikan Swanggi (Priacanthus Tayenus Richardson, 1846) di Perairan Selat Sunda Yang Didaratkan Di Ppp Labuan, Banten.

Pulungan CP. 2015. Nisbah kelamin dan nilai kemontokan ikan tabingal (Puntioplites bulu Blkr) dari Sungai Siak, Riau. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 20(1): 11- 16.

Sadewi, S. P., Mashar, A., & Boer, M. 2018. Kematangan Gonad dan Potensi Produksi Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di Perairan Palabuhanratu, Sukabumi. Journal of Tropical Fisheries Management, 2(2), 45-45.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil yang didapatkan melalui analisis TKG, hubugan panjang bobot, dan faktor kondisi dapat diduga bahwa ikan swanggi memijah pada bulan Februari, Maret,

Kelompok umur didapatkan sebanyak 3 kelompok, sementara penelitian yang dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari, ikan swanggi memiliki sebaran frekuensi

Sementara alat tangkap jaring rampus melakukan penangkapan pada lokasi tersebut hanya pada musim peralihan I, musim timur, dan akhir dari musim barat. Ukuran ikan swanggi

Aspek reproduksi yang dimaksud pada penelitian ini terbatas pada pola reproduksi yang mencakup penentuan ukuran pertama kali matang gonad, musim pemijahan, pola

Keseimbangan jumlah ikan jantan dan betina mengindikasikan bahwa satu ikan bentong jantan akan membuahi satu ikan bentong betina (Senen et al, 2011) Rasio kelamin ini tidak berbeda

Spesies ikan layang menunjukan bahwa ikan yang dalam kondisi matang (mature) lebih banyak ditemukan pada ikan yang berjenis kelamin betina, sedangkan spesies ikan banyar yang

Pengukuran data primer tersebut digunakan untuk menentukan hubungan panjang bobot ikan, rasio kelamin, frekuensi tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali

Tabel 2 memperlihatkan selama 4 bulan penelitian rasio kelamin ikan jantan lebih besar dibandingkan ikan betina, yaitu sebesar 1,8: 1.Hasil penelitian selama empat