PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat menuntut sekolah untuk mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan. Inovasi menjadi kunci utama di era ini dan menuntut sekolah membentuk murid memiliki kompetensi abad 21 yang mampu berfikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif.
Dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial dan virtual. Revolusi tahap ini berkembang dengan menciptakan sesuatu yang baru. Hal ini berdampak pada dunia pendidikan saat ini.
Pendidikan sebagai suatu bagian kehidupan masyarakat harus mampu mempersiapkan terjadinya berbagai perubahan. Hal ini agar dapat diantisipasi melalui upaya memperbaiki proses pendidikan dan pembelajaran untuk menghadapi terjadinya perubahan. Keberhasilan suatu negara dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas, tergantung pada kualitas penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di sekolah.
Permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia saat ini adalah masih rendahnya mutu pendidikan bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya.
Hal ini dibuktikan dengan hasil Survei dari Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap murid di beberapa negara termasuk Indonesia.
Hasil Survei dari program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menunjukan hal sebagai berikut.
1. Kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, berada di bawah Panama yang memiliki skor rata-rata 377.
2. Kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Indonesia berada di atas Arab Saudi yang memiliki skor rata-rata 373. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. (News.detik.com Selasa, 03 Des 2019 19:29 WIB)
Berdasarkan pada kondisi tersebut, terlihat mutu pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Hal ini
tentu akan berdampak pada kurang mampunya pendidikan kita menghasilkan sumber daya manusia yang mandiri dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.
Dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas Indonesia tahun 2045, diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan. Melalui pembangunan pendidikan kita akan dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas, maju, mandiri, modern, dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Keberhasilan dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan. Dalam konteks demikian, pembangunan pendidikan itu mencakup berbagai dimensi yang sangat luas yaitu dimensi sosial, budaya, ekonomi dan politik.
Dalam menyongsong Indonesia emas 2045, bonus demografi harus disikapi dengan baik. Pembangunan manusia Indonesia harus ditopang dengan kebijakan pengendalian populasi penduduk yang memadai. Hal ini bertujuan untuk memelihara keseimbangan antara pertumbuhan dan penyebaran penduduk di Indonesia.
Banyak hal yang harus diubah oleh negara jika ingin maju, terlebih saat ini Indonesia tengah menghadapi era
revolusi industri 4.0 dengan tingkat persaingan yang semakin ketat. Dari sejumlah perubahan yang harus dilakukan, perbaikan kualitas SDM adalah hal yang sangat penting dan harus sangat diperhatikan. Salah satu perbaikan yang harus dilakukan adalah perubahan kurikulum dan mengubah metode pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada saat ini.
Berdasarkan pengamatan setidaknya ada tiga hal yang perlu diubah Indonesia dari sisi pendidikan saat ini. Pertama , mengubah karakter dan pola pikir murid saat ini. Kedua, pentingnya peran sekolah dalam mengasah dan mengembangkan bakat generasi penerus bangsa saat ini. Dan ketiga pengembangan kemampuan institusi pendidikan tinggi untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini.
Menyikapi kondisi tersebut, peran pemerintah tentu saja memiliki peranan yang sangat penting dalam perubahan metode pembelajaran saat ini. Fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan murid merupakan hal yang penting untuk disediakan oleh pemerintah. Salah satunya adalah dengan menyediakan teknologi yang tepat untuk saat ini.
Di era disrupsi teknologi seperti sekarang ini, guru menghadapi tantangan yang sangat besar. Informasi dan
sumber belajar sangat mudah diperoleh. Meskipun demikian, peran guru tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi, karena secanggih apapun teknologi akan tetap tidak bisa diteladani oleh murid dalam proses pendidikannya.
Sentuhan sang guru kepada murid memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang apalagi digantikan oleh teknologi. Meskipun demikian, seorang guru harus tetap belajar dan belajar agar bisa mengikuti perkembangan teknologi dan jangan sampai tertinggal oleh muridnya sendiri. Hal ini penting, karena merdeka belajar di era digital memposisikan murid tidak hanya mendapatkan pendidikan di sekolah tetapi juga melalui berbagai situs di dunia maya.
Guru yang kreatif dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas secara efektif. Guru juga dituntut untuk mampu membangun hubungan yang efektif dengan murid dan komunitas sekolah tempatnya bertugas. Seorang guru dituntut mampu menggunakan teknologi untuk mendukung peningkatan mutu, dan melakukan refleksi serta perbaikan praktik pembelajaran secara terus-menerus.
Untuk menciptakan guru yang betul-betul siap melakukan transformasi Pendidikan dalam menyongsong era
emas Indonesia 2045, program Guru penggerak merdeka belajar sedang digaungkan sebagai sebuah solusi inovatif saat ini. Program ini bertujuan untuk mencetak guru yang kreatif, inovatif, terampil dalam pembelajaran dan energik dalam melayani murid serta menjadi pembelajar sekaligus agen penggerak perubahan di sekolah tempatnya mengajar.
Hal tersebut terkait dengan tujuan pendidikan nasional yang dimuat dalam pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dalam pasal tersebut, mendeskripsikan tentang pengembangan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, madiri menjadi warga yang demokratis serta bertanggungjawab.
Abdulah, (2015:1) menjelaskan bahwa pendidikan memberikan kemungkinan pada murid untuk memperoleh kesempatan, harapan dan pengetahuan agar dapat hidup lebih baik. Hal ini berarti bahwa pendidikan akan memberikan sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan agar sebuah kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pendidikan yang berkualitas tentunya akan melibatkan murid untuk aktif belajar dan mengarahkan terbentuknya nilai-nilai yang dibutuhkan oleh murid dalam menempuh kehidupan ke depannya.
Merdeka belajar mengedepankan proses belajar yang mampu menumbuhkan kreativitas murid. Melalui model pembelajaran, pendekatan dan metode yang tepat akan dapat melatih kemampuan berpikir murid tingkat tinggi. Untuk itu dalam rangka penyiapan generasi emas Indonesia maju, seorang guru harus pandai memilih model ataupun metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid. Model pembelajaran yang sangat relevan digunakan dalam kegiatan pembelajaran masa kini adalah model pembelajaran Discoveri, STEM, Problem Base Learning, Projeck Base Learning, Inquiry Learning, dan beberapa metode pembelajaran seperti observasi, tanya jawab hingga presentasi.
Efektivitas model pembelajaran, pendekatan dan metode pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. Keberadaan guru penggerak diharapkan mampu melakukan sebuah perubahan pada ekosistem di komunitasnya sehingga terjadi paraktik baik merdeka belajar. Guru penggerak merdeka belajar memiliki peran pada peningkatan ketrampilan, pembentukan sikap dan karakter murid ke depan.
Sebagai pendidik, guru perlu memiliki wawasan tentang pendidikan karakter agar dapat menumbuh-
kembangkan nilai-nilai karakter baik dikalangan murid.
Selain berperan sebagai pengajar dan pendidik, guru penggerak juga berperan sebagai fasilitator yang mampu merancang pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga para murid dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Merdeka belajar diartikan sebagai situasi belajar yang aktif dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga murid menjadi nyaman dan kegiatan pembelajaran menjadi penuh makna.
Merdeka belajar mengisyaratkan bahwa pendidikan bukan semata-mata tanggungjawab guru, tetapi merupakan tanggungjawab bersama antara guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, bahkan orang tua dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, pembinaan terhadap komponen- komponen tersebut merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam implementasi merdeka belajar.
Dari guru penggerak merdeka belajar diharapkan lahirlah sebanyak mungkin agen-agen transformasi dalam si stem pendidikan nasional. Mereka diharapkan mampu menciptakan murid yang memiliki kompetensi global, berkar akter, mampu mendorong transformasi pendidikan nasional, mendorong peningkatan potensi akedemik murid, aktif dan kreatif sehingga kedepannya lahirlah generasi emas yang ber
profil pancasila sesuai dengan visi dan misi bangsa Indonesia saat ini.
Guru merdeka belajar adalah guru yang mendedikasikan diri pada pembelajaran yang humanis. Hal ini sejalan dengan semangat memanusiakan hubungan. Misi yang diemban dalam mendidik adalah menghargai dan mengangkat harkat serta mertabat manusia seutuhnya, terutama harkat murid.
Setiap murid memiliki potensi yang tidak sama satu sama lainnya. Untuk itu guru harus dapat menganggap bahwa setiap murid memiliki potensi yang istimewa. Potensi yang dimiliki murid harus ditemukan dan tidak boleh dimatikan.
Ini sering berhubungan dengan tindakan-tindakan kontra produktif yang dilakukan oleh guru maupun para orang tua terhadap murid.
Ada beberapa keterampilan yang harus dikuasai oleh murid agar ia bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman yang sangat pesat. Ketrampilan-keterampilan yang dimaksud adalah berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi informasi, literasi media, literasi teknologi, keluwesan, kemampuan pemimpin, inisiatif, produktivitas dan keterampilan sosial. Ketrampilan-keterampilan dasar ini, bisa dikategorikan ke dalam tiga bidang yaitu
keterampilan belajar, keterampilan literasi, dan keterampilan hidup dan berkarir.
BAB I
REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN PENGARUHNYA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN
A. Sejarah Revolusi Industri 4.0
Revolusi industri 4.0 adalah sebuah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial dan virtual. Menurut Schwab, 2017 dalam Astrid Savitri (2019), revolusi Industri 4.0 dapat merubah gaya hidup dan kerja manusia secara mendasar.
Perkembangan Revolusi Industri 4.0 berbeda dengan revolusi-revolusi industri sebelumnya. Revolusi Industri 4.0 memiliki kemajuan teknologi baru yang menggabungkan antara dunia fisik, digital dan biologis yang dapat mempengaruhi semua ilmu, ekonomi, industrin pemerintah.
Salah satu dampak dari era 4.0 adalah dalam bidang pendidikan. Perubahan era ini tidak dapat dihindari oleh siapapun sehingga dibutuhkan penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang memadai agar siap menyesuaikan diri dan mampu bersaing dalam skala global di era 4.0 ini.
Dalam perkembangannya, sejarah revolusi industri dimulai dari revolusi industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga saat ini sudah memasuki revolusi industri 4.0. Fase perkembangan revolusi industri adalah sebagai berikut.
1. Fase Industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia.
2. Fase Industri 2.0 dicirikan oleh produksi massal dan standarisasi mutu.
3. Fase Industri 3.0 ditandai dengan penyesuaian massal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan robot.
4. Fase Industri 4.0 hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur (Herman et al, 2015; Irianto, 2017).
Selanjutnya Lee et al (2013) menjelaskan bahwa revolusi industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor yakni :
1. Peningkatan volume data, kekuatan komputerisasi, dan konektivitas
2. Munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis 3. Terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan
mesin
4. Perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing.
Perkembangan Revolusi Industri 4.0 yang terjadi saat ini, juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan nasional. Memasuki era revolusi industri 4.0 ini, pendidikan di Indonesia mengalami perubahan dalam semua faktor pembelajaran antara lain kurikulum, metode atau model pembelajaran, media pembelajaran, guru, murid dan fasilitas pembelajaran lainnya. Hampir semua faktor-faktor pembelajaran tersebut dituntut menuju pembelajaran berbasis internet dan teknologi digital, komputer super dan kecerdasan buatan.
Revolusi industri 4.0 adalah suatu era yang memandang bahwa teknologi informasi menjadi basis dalam kehidupan manusia. Era ini mendisrupsi (merubah) berbagai aktivitas manusia termasuk di dalamnya adalah bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan termasuk juga dalam bidang pendidikan. Pada Era perubahan ini pendidikan dituntut agar mampu membekali para murid dengan keterampilan abad 21.
Keterampilan abad 21 adalah keterampilan yang mampu membentuk murid untuk berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, kreatif, inovatif, memiliki
keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Keterampilan lain yang diperlukan pada era ini adalah keterampilan untuk mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta menggunakan teknologi dan informasi tersebut ke dalam aktivitas kehidupannya.
Era revolusi industri 4.0 juga mengubah konsep pekerjaan, struktur pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Sebuah survei perusahaan perekrutan internasional (Robert Walters), bertajuk Salary Survey 2018 menyebutkan bahwa fokus pada transformasi bisnis ke platform digital telah memicu permintaan terhadap sumber daya manusia profesional. Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri.
B. Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0
Pendidikan adalah bagian dari sebuah kehidupan, bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa kehidupan adalah pendidikan. Disadari atau tidak, sebuah kehidupan semuanya mengalami proses pendidikan. Demikian halnya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara semuanya melalui proses pendidikan. Membangun bangsa berarti membicarakan
bagaimana pendidikan mampu mengantarkan bangsa tersebut pada apa yang dicita-citakannya ke depan.
Belajar dari pengalaman negara Jepang ketika negara ini porak-poranda setelah kota Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan oleh dahsyatnya bom atom. Saat itu, kaisar Hirohito segera menanyakan berapa jumlah guru yang masih tersisa, bukan jumlah tentaranya. Kaisar Hirohito sangat paham bahwa Jepang sangat memerlukan peran guru untuk membuatnya bangkit kembali.
Kita menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu
‘tuntunan’ di dalam hidup dan tumbuhkembangnya murid.
Artinya, bahwa hidup dan tumbuhnya murid itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Mengacu pada Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara dijelaskan bahwa murid hidup dan tumbuh menurut kodratnya masing-masing. Kekuatan kodrat yang ada pada murid itu tiada lain ialah segala kekuatan yang ada dalam hidup batin dan hidup lahir dari murid itu sendiri karena kekuasaan kodratnya.
Hakekat sebuah pendidikan adalah menyiapkan murid agar mampu menghadapi tantangan kehidupan ke depannya.
Perkembangan masif di semua sektor harus diimbangi dengan kemampuan adaptasi yang cepat, fleksibel dalam berpikir dan
bersikap, serta kreatif dalam pemecahan suatu masalah. Dunia pendidikan diharapkan bisa memberikan bekal tersebut kepada murid.
Sebagai ujung tombak guru dapat menampilkan sosok inspiratif, sosok yang dapat memberdayakan. Dengan proses pendidikan yang benar guru mampu menghasilkan manusia yang dimanis dalam ide dan kritis dalam pemikiran. Sekolah merupakan tempat guru berdedikasi, mengantarkan murid menuju ke tahap perkembangan yang semestinya dan membantu murid mengembangkan potensinya. Belajar adalah proses menjadikan murid menjadi tahu, mengerti, memahami, dan mampu menginternalisasi pengetahuan. Dalam hal ini, tentu saja murid merupakan subjek sekaligus pusat kegiatan belajar.
Sebagai pusat pembelajaran kebutuhan murid harus terpenuhi. Murid perlu merasa aman, nyaman, dihargai, dicintai dan dipahami oleh gurunya. Ini adalah kebutuhan primer dan tidak bisa dihilangkan. Perasaan nyaman, perasaan dihargai, dicintai dan dipahami akan mendorong munculnya motivasi dan kesadaran murid untuk belajar.
Dewasa ini informasi dan teknologi mempengaruhi aktivitas sekolah dengan sangat masif. Informasi dan pengetahuan baru menyebar dengan mudah dan aksesibel
bagi siapa saja yang membutuhkannya. Pendidikan mengalami disrupsi (perubahan) yang sangat hebat sekali.
Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya.
Di masa mendatang peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi.
Era revolusi industri 4.0 akan berdampak pada peran pendidikan khususnya peran pendidiknya. Jika peran pendidik masih mempertahankan sebagai penyampai pengetahuan, maka mereka akan kehilangan peran seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya. Kondisi tersebut harus diatasi dengan menambah kompetensi guru sebagai pendidik yang mendukung pengetahuan untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran mandiri.
Abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Itu berarti dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas yang sesuai dengan tuntutan zaman. SDM itu dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil yang unggul.
Era revolusi 4.0 memiliki tuntutan-tuntutan serba baru.
Mulai dari berbagai terobosan dalam hal berfikir, penyusunan konsep dan tindakan-tindakan. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan- tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun. Menurut filsuf Khun apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha akan menemui kegagalan.
Terkait dengan hal tersebut, diperlukan sebuah inovasi dan kreativitas dalam mendesain sebuah pendidikan pada abad 21. Guru sebagai ujung tombak pelaksana kegiatan pembelajaran harus mampu merespon dan membekali murid dengan berbagai kompetensi yang dibutuhkan pada abad 21.
Konteks pembelajaran abad 21 yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter.
Pembelajaran era 4.0 fokus berpusat pada murid dimana pembelajaran dan semua yang menyertainya disesuaikan dengan gaya dan cara belajar, kebutuhan, kemampuan, kondisi mental, psikologis dan sosial murid. Hal ini berarti guru perlu mengenali muridnya, mengetahui hobi, makanan kesukaannya dan hal-hal kecil lainnya mutlak diperlukan.
Selanjutnya, guru mempersiapkan skenario pembelajaran berdiferensial dimana setiap murid mempunyai kesempatan berkembang secara optimal dengan semua latar belakang yang dimilikinya.
Pembelajaran yang berpusat pada murid membuatnya memahami pentingnya materi yang dipelajari murid. Guru membantu mereka mengidentifikasi manfaat bagi dirinya untuk kemudian dipancarkan sebagai kebermanfaatan bagi orang lain. Hal ini mensyaratkan bahwa adanya proses pemaknaan materi, bukan sekedar menguasainya saja.
Pemaknaan materi akan terjadi bila murid mengetahui manfaat bagi dirinya. Di sinilah muncul keragaman, murid bisa mengidentifikasi manfaat yang berbeda dengan temannya. Pada saat itulah guru mempunyai peran menguatkannya sehingga murid memperoleh pelecut semangat sekaligus melakukan aktivitas belajar dengan kesadaran diri.
Demikianlah pendidikan itu walaupun hanya dapat
“menuntun”, akan tetapi faedahnya besar bagi hidup dan tumbuhnya murid. Meskpun pendidikan itu hanya
“tuntunan” saja, tetapi perlu juga pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaannya setiap murid. Andai kata murid
tidak baik dasarnya, tentu murid tersebut perlu mendapatkan tuntunan agar semakin baik budi pekertinya.
Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 saat ini diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi yang kreatif, inovatif dan kompetitif. Hal tersebut dapat dicapai dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi dalam pendidikan. Teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Tanpa terkecuali, Indonesia perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital.
Pendidikan era 4.0 adalah respons terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0 dimana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif. Fisk (2017) menjelaskan “that the new vision of learning promotes learners to learn not only skills and knowledge that are needed but also to identify the source to learn these skills and knowledge.”
Terkait dengan hal itu, Fisk (2017) sebagaimana dikutip oleh Aziz Hussin, menyebutkan ada sembilan tren atau kecenderungan terkait dengan pendidikan 4.0, yakni sebagai berikut.
1. Belajar pada waktu dan tempat yang berbeda.
Murid akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. E- learning memfasilitasi kesempatan untuk belajar jarak jauh dan mandiri
2. Pembelajaran individual.
Murid akan belajar dengan peralatan belajar yang adaptif dengan kemampuannya. Ini menunjukkan bahwa murid pada level yang lebih tinggi ditantang dengan tugas dan pertanyaan yang lebih sulit ketika setelah melewati derajat kompetensi tertentu. Murid yang mengalami kesulitan dengan mata pelajaran akan mendapatkan kesempatan untuk berlatih lebih banyak sampai mereka mencapai tingkat yang diperlukan.
3. Murid memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar.
Meskipun setiap mata pelajaran yang diajarkan bertujuan untuk tujuan yang sama, cara menuju tujuan itu dapat bervariasi bagi setiap murid. Demikian pula dengan pengalaman belajar yang berorientasi individual, murid akan dapat memodifikasi proses belajar mereka dengan alat yang mereka rasa perlu bagi mereka. Murid akan belajar dengan perangkat,
program dan teknik yang berbeda berdasarkan preferensi mereka sendiri.
4. Pembelajaran berbasis proyek.
Murid saat ini harus sudah dapat beradaptasi dengan pembelajaran berbasis proyek, demikian juga dalam hal bekerja. Ini menunjukkan bahwa mereka harus belajar bagaimana menerapkan keterampilan mereka dalam jangka pendek ke berbagai situasi. Murid sudah harus berkenalan dengan pembelajaran berbasis proyek di sekolah menengah. Inilah saatnya keterampilan mengorganisasi, kolaborasi, dan manajemen waktu diajarkan kepada murid untuk kemudian dapat digunakan setiap murid dalam karir akademik mereka selanjutnya.
5. Pengalaman lapangan.
Kemajuan teknologi memungkinkan pembelajaran domain tertentu secara efektif, sehingga memberi lebih banyak ruang untuk memperoleh keterampilan yang melibatkan pengetahuan murid dan interaksi tatap muka. Dengan demikian, pengalaman lapangan akan diperdalam melalui kursus atau latihan-latihan.
Sekolah akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi murid untuk memperoleh keterampilan dunia
nyata yang mewakili pekerjaan mereka. Ini menunjukkan disain kurikulum perlu memberi lebih banyak ruang bagi murid untuk lebih banyak belajar secara langsung melalui pengalaman lapangan seperti magang, proyek dengan bimbingan dan proyek kolaborasi.
6. Interpretasi data.
Perkembangan teknologi komputer pada akhirnya mengambil alih tugas-tugas analisis yang dilakukan secara manual (matematika), dan segera menangani setiap analisis statistik, mendeskripsikan dan menganalisis data serta memprediksi tren masa depan.
Oleh karena itu, interpretasi murid terhadap data ini akan menjadi bagian yang jauh lebih penting dari kurikulum masa depan.
7. Penilaian beragam.
Penilaian harus berubah, pengetahuan faktual murid dinilai selama proses pembelajaran, dan penerapan pengetahuan dapat diuji saat murid mengerjakan proyek mereka di lapangan.
8. Keterlibatan murid.
Keterlibatan murid dalam menentukan materi pembelajaran atau kurikulum menjadi sangat penting.
Pendapat murid dipertimbangkan dalam mendesain dan memperbarui kurikulum. Masukan mereka membantu perancang kurikulum menghasilkan kurikulum kontemporer, mutakhir dan bernilai guna tinggi.
9. Mentoring.
Pendampingan atau pemberian bimbingan kepada murid menjadi sangat penting untuk membangun kemandiran belajar murid.
Sembilan pergeseran tren pendidikan 4.0 di atas menjadi tanggung jawab utama guru kepada murid. Pendidik harus memainkan peran untuk mendukung transisi dan tidak menganggapnya sebagai ancaman bagi pengajaran konvensional. Ini adalah tantangan yang menggairahkan, merangsang untuk bertindak dan masif. Adaptasi terhadap tren pendidikan ini memberi garansi bagi individu dan masyarakat untuk mengembangkan serangkaian kompetensi, keterampilan dan pengetahuan yang lebih lengkap dan mengeluarkan seluruh potensi kreatif mereka.
C. Inovasi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0 Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip pendapat dari Jack Ma dalam
suatu pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, yang menyatakan bahwa “pendidikan adalah tantangan besar pada abad ini”. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar- mengajar, maka 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar”. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan dengan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terjadi, maka akan menghasilkan murid yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin.
Menyikapi pendapat tersebut, dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak generasi muda kita mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus mampu bersikap bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan. Perubahan terjadi dalam semua aspek kehidupan manusia dan akan terus terjadi secara lebih masif ke depannya.
Informasi akan lebih mudah diperoleh dan kemajuan teknologi akan lebih cepat terjadi. Hal tersebut akan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini tentu akan berpotensi menghasilkan masyarakat yang gagap dan gugup dalam menghadapi perubahan yang akan terjadi. Masyarakat yang
didera dengan ketakutan dan stres berkepanjangan, sehingga tidak bisa menikmati hidupnya dengan nyaman.
Melihat hasil sebuah penelitian dari McKinsey pada tahun 2016 yang menunjukan bahwa dampak dari teknologi digital menuju revolusi industri 4.0 dalam lima tahun kedepan akan ada 52,6 juta jenis pekerjaan mengalami pergeseran atau hilang dari muka bumi. Hal ini bisa sebagai ancaman bagi bangsa Indonesia sebagai negara yang memiliki angkatan kerja dan angka pengangguran yang cukup tinggi.
Dalam lima tahun ke depan, para murid harus siap-siap menghadapi perubahan yang terjadi secara masif. Di sini sangat dibutuhkan perubahan peran guru sebagai pendidik, untuk menciptakan murid yang siap menghadapi revolusi di lima tahun mendatang. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di sekolah sangat diperlukan seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan murid dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic.
Seperti hal yang disampaikan oleh bapak presiden Indonesia dalam pidatonya pada tanggal 24 Mei 2018 lalu, yang bertemakan “Murid-murid muda harus siap dengan
Revolusi Industri 4.0”. Pada waktu yang bersamaan beliau juga mengatakan bahwa “yang paling siap dengan revolusi Industri 4.0 tersebut adalah para generasi muda (generasi Milienial), terutama yang berasal dari komunitas digital”.
Beliau juga mengatakan dalam pidatonya sebelumnya pada tanggal 17 November 2017 yakni : “saya ingin menyadarkan kepada kita semuanya bahwa perubahan- perubahan besar telah terjadi di depan kita, perubahan dunia yang harus kita antisipasi secara cepat adalah revolusi industri 4.0 yang sudah datang begitu besar dan serentak di semua negara”.
Sementara itu Menristekdikti menjelaskan bahwa ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu sebagai berikut.
1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan murid dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi
yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa didik. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi mahasiswa bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.
3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan.
4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri dan Masyarakat.
5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.
Di sisi lain Sri Mulyani saat menjadi pembicara utama dalam sebuah acara penting mengatakan bahwa kemajuan suatu negara untuk mengejar ketertinggalan sangat tergantung pada tiga faktor utama yakni pendidikan, kualitas institusi dan kesediaan infrastruktur. “ Pertemuan ini sangat penting untuk membangun fondasi kemajuan bangsa Indonesia, karena di tangan bapak/ibu pimpinan perguruan tinggi sumber daya manusia, riset dan inovasi dikelola,” ujar menteri keuangan saat itu.
Pada kesempatan yang sama beliau juga mengatakan bahwa dunia pendidikan menjadi garis depan di era digital.
Perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mampu merespon kebutuhan masyarakat yang saat ini sudah banyak melakukan kegiatan pembelajaran secara online, sehingga perguruan tinggi tidak ditinggalkan atau harus tutup. “Dunia cepat berubah, kita harus mampu cepat adaptif dengan tetap menjaga karakter Indonesia,” ujar Sri Mulyani.
Terkait dengan paparan di atas, untuk mencapai ketrampilan abad 21, trend pembelajaran dan praktik baik
harus disesuikan, salah satunya adalah melalui pembelajaran terpadu atau secara campuran. Pembelajaran campuran merupakan suatu cara mengintegrasikan penggunaan teknologi dan informasi dalam kegiatan pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran yang sesuai bagi murid dalam kelas. Pembelajaran terintegrasi akan memungkinkan terjadinya refleksi terhadap pembelajaran.
Pembelajaran terintegrasi merupakan metode penggabungan antara pembelajaran tatap muka di kelas dengan pembelajaran daring. Pembelajaran terintegrasi merupakan perpaduan antara pembelajaran fisik di kelas dengan lingkungan virtual (maya). Pembelajaran berbasis pembelajaran terpadu atau campuran merupakan gabungan dari literasi lama dan literasi baru (literasi manusia, literasi teknologi dan data).
Pembelajaran inovatif di atas sesuai dengan tuntutan zaman kini dan yang akan datang. Pengertian inovasi diartikan sebagai suatu penemuan baru atau gagasan baru yang berbeda dari yang telah ada atau yang telah dikenal sebelumnya. Gagasan baru merupakan suatu olah pikir dalam mengamati suatu fenomena yang sedang terjadi. Gagasan baru ini dapat berupa penemuan dari yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru bagi guru. Inovasi yang
dilakukan merupakan penyempurnaan dan perbaikan yang terus-menerus dari yang sudah ada ke yang baru sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi murid.
Dalam konteks pendidikan seorang guru diharapkan dapat menginspirasi, memotivasi dan memfasilitasi melalui pembelajaran agar murid dapat belajar dan menguasai materi pembelajaran. Tujuan yang diharapkan mencakup aspek kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan) dan Afektif (sikap) seorang murid. Dengan pembelajaran inovatif dan ditunjang fasilitas yang memadai serta ditambah dengan kreativitas guru akan membuat murid lebih mudah mencapai target atau tujuan pembelajaran.
Menghadapi tantangan baru dalam memasuki era revolusi industri 4.0 kurikulum perlu dirancang ulang.
Kurikulum sebagai tonggak utama dalam menyampaikan ilmu di dalamnya terdapat bahan kajian yang disesuaikan dengan pengayaan dan perkembangan terbaru. Kurikulum yang disediakan hendaknya mengandung lima kompetensi yang sangat diperlukan untuk mampu bersaing dalam Era Revolusi Industri 4.0. Murid dibekali agar memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, kerja sama dan kepercayaan diri yang tinggi.
Murid dibekali untuk dapat berpikir kritis, artinya murid dibekali dan didorong untuk mampu membedah sampai ke akar permasalahan dengan alat analisis yang tepat.
Berpikir kreatif berarti kemampuan murid untuk menghadirkan suatu alternatif-alternatif. Berpikir inovatif berarti juga suatu kemampuan untuk menentukan pilihan yang paling tepat sesuai dengan konteksnya.
Dalam era revolusi industri 4.0, hal demikian dapat ditempuh dengan lebih cepat jika pendidikan mampu memaksimalkan dalam penggunaan atau pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk itu, internet menjadi suatu keharusan yang tidak dapat diabaikan.
Kurikulum pendidikan hendaknya memiliki karakteristik yang di dalamnya berorientasi pada kinerja individu dalam dunia kerja, justifikasi khusus pada kebutuhan di dunia industri, fokus perkembangan kurikulum yang di dalamnya terdapat aspek kognitif, fsikomotorik dan afektif.
Tolok ukur keberhasilan tidak terbatas pada akademisi, tetapi pengembangan kemampuan dan keterampilan, kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja, terutama yang berbasis teknologi, memerlukan fasilitas pendukung dan memadai serta adanya dukungan sumber daya manusia.
Peran guru dalam pembelajaran yang memusatkan pada konstruksi, pencarian dan penemuan. Dulu pendidikan diartikan sebagai sesuatu yang bersifat satu arah, yang menuntut penyampaian informasi oleh seorang ahli dan pemerolehan pengetahuan yang telah disiapkan, oleh murid.
Dalam hal ini, seorang guru dianggap sebagai ahli yang mempunyai jawaban untuk setiap pertanyaan, sehingga ia memiliki otoritas penuh.
D. Pendidikan Inovatif Sebagai Upaya Penyiapan Generasi Emas Indonesia
Pendidikan 4.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0.
Pada era ini manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia modern.
Terkait dengan hal itu, Dunwill (2016) mengatakan bahwa akan banyak perubahan di masa depan, dan memperkirakan bagaimana kecederungan kelas (classroom) akan terlihat dalam 5-7 tahun ke depan, yakni (a) perubahan besar dalam tata ruang kelas, (b) virtual dan augmented reality akan mengubah wajah pendidikan, (c) Tugas yang
fleksibel yang mengakomodasi banyak gaya (preferensi) belajar, (d) MOOC dan opsi pembelajaran online lainnya akan berdampak pada pendidikan menengah.
Kondisi seperti yang diuraikan di atas, tentu menuntut suatu perubahan yang sangat besar dalam pendidikan nasional. Seperti yang diketahui pendidikan kita adalah warisan dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna. Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah.
P21 (Partnership for 21st Century Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut murid untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21,2015). Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaannya.
Sejalan dengan hal itu, Kemendikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan murid dalam mencari tahu dari berbagai sumber,
merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Litbang Kemdikbud, 2013). Adapun penjelasan mengenai framework pembelajaran abad ke-21 menurut BSNP (2010) adalah sebagai berikut.
a. Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (Critical-Thinking and Problem-Solving Skills), mampu berfikir secara kritis, lateral dan sistemik terutama dalam konteks pemecahan masalah.
b. Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (Communication and Collaboration Skills), mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai pihak.
c. Kemampuan mencipta dan membaharui (Creativity and Innovation Skills), mampu mengembangkan kreativitas yang dimilikinya untuk menghasilkan berbagai terobosan yang inovatif.
d. Literasi teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communications Technology Literacy), mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan aktivitas sehari- hari.
e. Kemampuan belajar kontekstual (Contextual Learning Skills), mampu menjalani aktivitas pembelajaran mandiri yang kontekstual sebagai bagian dari pengembangan pribadi.
f. Kemampuan informasi dan literasi media, mampu memahami dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menyampaikan beragam gagasan dan melaksanakan aktivitas kolaborasi serta interaksi dengan beragam pihak.
Untuk menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (Frydenberg & Andone, 2011). Terkait dengan itu Abdullah, 2015;3) berpendapat bahwa peran guru dalam kegiatan pembelajaran harus bergeser menjadi 1) perancang pembelajaran agar murid menjadi aktif mencari pengetahuan baru dan 2) berperan sebagai fasilitator dan mediator untuk belajar.
Semenatara itu Trilling dan Fadel, (2009), menyebutkan ada tiga keterampilan abad 21 yang harus dimiliki oleh murid yaitu (1) life and career skills, (2) learning and innovation skills dan (3) Information media and
technology skills. Ketiga keterampilan tersebut dirangkum dalam sebuah skema yang disebut dengan pelangi keterampilan pengetahuan abad 21/21st century knowledge- skills rainbow.
Dalam rangka untuk mewujudkan keterampilan pengetahuan abad 21, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan Kurikulum 2013 Revisi 2017.
Kurikulum ini diharapkan mampu menjawab kritik dan masalah ketika Kurikulum 2013 (Kurtilas) diberlakukan.
Kurikulum 2013 dan juga Revisi 2017 tetap menegaskan mengenai pentingnya Ketrampilan Abad 21.
Ketrampilan Abad 21 yang dianggap bisa memperkuat modal sosial (social capital) dan modal intelektual (intellectual capital), adalah ketrampilan 4C yaitu communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation. Secara operasional, 4C ini dijabarkan dalam empat kategori langkah yakni:
1. Cara berpikir, termasuk berkreasi, berinovasi, bersikap kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan dan belajar proaktif.
2. Cara bekerja, termasuk berkomunikasi, berkolaborasi, bekerja dalam tim.
3. Cara hidup sebagai warga global sekaligus lokal
4. Alat untuk mengembangkan ketrampilan abad 21, yakni teknologi informasi, jaringan digital dan literasi.
Secara rinci kegiatan pembelajaran berbasis kecakapan abad 21 adalah sebagai berikut.
1. Communication (komunikasi)
Komunikasi adalah sebuah kegiatan mentransfer sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Namun, tidak semua orang mampu melakukan komunikasi dengan baik.
Terkadang ada orang yang mampu menyampaikan semua informasi secara lisan tetapi tidak secara tulisan ataupun sebaliknya. Tujuan utama komunikasi adalah upaya mengirimkan pesan melalui media yang dipilih agar dapat dimengerti oleh penerima pesan. Komunikasi efektif tejadi apabila sesuatu (pesan) yang diberitahukan komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah persepsi.
2. Collaborative (kolaborasi)
Adalah kemampuan berkolaborasi atau bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda.
3. Critical thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan pemecahan masalah).
Adalah kemampuan untuk memahami sebuah masalah yang rumit, mengkoneksikan informasi satu dengan informasi lain, sehingga akhirnya muncul berbagai perspektif dan menemukan solusi dari suatu permasalahan. Berpikir kritis dimaknai juga kemampuan menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis dan menyelesaikan masalah.
4. Creativity and Innovation (Kreativitas dan inovasi) Adalah kemampuan mengembangkan, melaksanakan dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru.
Kreativitas juga didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan penggabungan baru.
Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, yakni proses akal budi seseorang dalam menciptakan gagasan baru. Kreativitas yang bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru (dan biasanya bernilai secara ekonomis) sering disebut sebagai inovasi.
Peran guru profesional dalam pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar murid dan mengahasilkan lulusan yang berkualitas. Guru profesional adalah guru yang kompeten dalam membangun dan mengembangkan proses pembelajaran yang baik dan efektif sehingga dapat menghasilkan murid yang pintar dan pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan kualitas pembelajaran sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan terutama menyangkut kualitas lulusan murid.
Pengembangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) dikembangkan sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan dan mengembangkan penguatan pendidikan karakter dan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) dalam menghadapi era revolusi industry 4.0 (abad 21).
Upaya peningkatan kualitas murid dapat dilakukan oleh guru dengan berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas yang berorientasi pada keterampilan
berpikir tingkat tinggi. Desain peningkatan kualitas pembelajaran ini merupakan upaya peningkatan kualitas murid yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, maka diperlukan sebuah buku pegangan guru yang memberikan keterampilan mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas lulusan murid.
Memecahkan suatu masalah merupakan aktivitas dasar kehidupan manusia, karena melibatkan proses berpikir agar dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menegaskan bahwa berpikir kritis bukan hanya sebatas teori, namun sudah menjadi kebutuhan hidup.
Oleh karena itu pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan murid agar mampu berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini dukungan dari berbagai pihak terkait sangatlah diperlukan agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mampu berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi tantangan era global (era revolusi industry 4.0).
BAB II.
GENERASI EMAS INDONESIA MAJU A. Visi Negara Indonesia 2045
Visi pendidikan Indonesia adalah “mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, bergoton-groyong dan berkebinekaan global”.Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya.
Dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas Indonesia, diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan. Pembangunan yang dimaksud adalah yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas, maju, mandiri dan modern serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Keberhasilan dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan.
Pada tahun 2045 mendatang, kemerdekaan negara Republik Indonesia genap mencapai usia 100 tahun. Pada
masa inilah Indonesia ditargetkan memiliki generasi emas yang mampu membawa kebangkitan dan kemajuan negara.
Dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas Indonesia tahun 2045, diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas, maju, mandiri dan modern serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa (Kemendikbud, 2017).
Keberhasilan dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan. Dalam konteks demikian, pembangunan pendidikan itu mencakup berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu mencakup dimensi sosial, budaya, ekonomi dan politik. Bersamaan dengan tahun tersebut Indonesia diproyeksikan akan mengalami bonus demografi. Mereka yang berusia kerja lebih banyak dibandingkan dengan yang bukan usia kerja.
Kondisi tersebut tentu menjadi sebuah tantangan bagi Indonesia ke depannya. Jika berhasil mengelola SDM yang ada, maka akan membawa efek positif bagi kemajuan negara, tetapi jika tidak, maka ledakan pengangguran akan terjadi.
Terkait dengan hal itu, dunia pendidikan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam upaya mewujudkan generasi emas
di tahun 2045. Salah satunya adalah lembaga pendidikan sekolah yang menjadi akar rumput pendidikan formal bagi generasi muda saat ini.
Terkait upaya mewujudkan generasi emas di tahun 2045, presiden Joko Widodo menuliskan tujuh butir impiannya untuk Indonesia pada 2085. Impian itu beliau ditulis langsung pada secarik kertas pada saat mengunjungi Merauke, pada tanggal 30 Desember 2015 lalu. Adapun ketujuh impian Indonesia di tahun 2085 menurut beliau adalah sebagai berikut.
1. Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia.
2. Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika.
3. Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi dan peradaban dunia.
4. Masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari perilaku korupsi.
5. Terbangunnya infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia.
6. Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik.
7. Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia
Namun demikian, ketujuh impian Indonesia tersebut harus selalu berdasarkan butir-butir sila dalam pancasila agar visi Indonesia tercapai, yakni berdaulat, maju, adil dan makmur.
Untuk mecapai impian Indonesia tersebut, visi Indonesia 2045 perlu didukung oleh 4 pilar utama, yaitu sebagai berikut.
1. Pilar pertama, pembangunan SDM dan penguasaan IPTEK di tahun 2030 hingga 2035 nanti jika pembangunan SDM bisa dikerjakan, itu akan menjadi sebuah kekuatan besar bangsa Indonesia. Tetapi jika gagal melaksanakan pembangunan SDM, ini akan menjadi beban negara yang sangat besar. Oleh sebab itu, pembangunan SDM menjadi kunci dalam rangka menghantarkan bangsa Indonesia kepada Indonesia emas di 2045.
2. Pilar kedua, perkembangan ekonomi berkelanjutan.
Saat ini pertumbuhan ekonomi mencapai 6,2%, diharapkan pada dekade antara 2035-2045 bisa naik dua digit hingga 10%. Hal ini akan tercapai bila ada kebijakan pengelolaan ekonomi yang tidak terlalu konservatif disamping pembangunan ekonomi yang
lebih agresif. Diantaranya dengan membangun infrastruktur yang mendorong pembangunan ekonomi yang lebih maju.
3. Pilar ketiga, pemerataan pembangunan
Perspektif yang diorientasikan untuk mengatasi segala bentuk kesenjangan. Karenanya, pembangunan harus mengembangkan mekanisme dan strategi yang menjamin pemerataan antarwilayah, antardaerah, antarsektor, antarkota dan desa, maupun antarpusat dan daerah. Aktivitas ekonomi dan sumber daya pembangunan harus disebar merata di wilayah Jawa dan luar Jawa, di kawasan timur dan barat Indonesia, di daerah yang kaya maupun miskin sumber daya, di sektor produktif maupun tidak, di desa dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Rote.
4. Pilar ke empat, stabilitas adalah perspektif pembangunan nasional yang berorientasi pada terciptanya sistem politik nasional yang efektif, demokratis, stabil, berlandaskan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sukses stabilitas juga berarti kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa, tegaknya kedaulatan negara dan integrasi nasional, terwujudnya pertahanan dan keamanan nasional sebagai landasan yang kokoh
bagi peningkatan kesanggupan negara dalam melindungi segenap bangsa (Kemendikbud, 2017).
B. Pembangunan Pendidikan Sebagai Jembatan Untuk Mewujudkan Indonesia Emas
Peran pendidikan dalam mempersiapkan generasi emas 2045 sangatlah penting. Target yang dicanangkan oleh pemerintah adalah lahirya generasi emas Indonesia dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Menurut Presiden Joko Widodo, upaya tersebut dapat dilakukan dengan meluaskan kesempatan akses pendidikan lebih tinggi. Selain itu, dapat diupayakan dengan meningkatkan kualitas pendidikan sejalan dengan upaya meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Terkait dengan hal tersebut, Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) perlu meningkatkan kualitas tenaga pendidik untuk menyiapkan generasi 2045 itu dan manajemen ketenagaan pendidik yang profesional. Dalam konteks penyiapan generasi 2045, peran guru sangatlah penting karena masa depan bangsa ada di pundak guru.
Pendidikan merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam upaya mencapai generasi emas Indonesia di tahun 2045 mendatang. Komponen-komponen seperti pemerintah, guru dan siswa yang ada di dalam pendidikan harus saling
mendukung satu sama lain. Hal ini karena merekalah yang paling menentukan pendidikan seperti apa yang harus kita terapkan di Indonesia untuk mencapai generasi emas tersebut.
Menyiapkan generasi 2045 sebagai generasi emas, pemerintah dan perangkat pelaksana pendidikan tetap menjadikan proses pendidikan sebagai jalan utama dan menjadikan pekerjaan yang perlu dituntaskan.
Mulai dari gerakan pendidikan murid usia dini, penuntasan dan peningkatan kualitas pendidikan dasar, penyiapan pendidikan menengah dan perluasan akses ke perguruan tinggi juga disiapkan melalui pendirian perguruan tinggi negeri di berbagai daerah. Hal lain yang perlu dilakukan adalah memberikan akses secara khusus kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi untuk tetap mendapatkan layanan pendidikan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dalam perguruan tinggi ada dua hal utama yang perlu mendapat prioritas penganggaran. Pertama, peningkatan mutu, aksesibilitas, relevansi, dan kesetaraan gender pada program S1, termasuk juga politeknik. Kedua, penambahan jumlah doktor. Ini penting karena lulusan pendidikan tinggi adalah tenaga ahli dan profesional yang siap memasuki dunia
kerja (usaha dan industri) ataupun membuka lapangan kerja baru.
Apapun persoalan bangsa yang dihadapi, komitmen kita untuk melaksanakan pembangunan pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi dan berbagai peraturan perundangan-undangan yang berlaku tetap harus kita dipegang. Komitmen ini direalisasikan dalam berbagai kebijakan dan program yang diarahkan untuk mencapai tujuan meningkatnya kualitas sumber daya manusia demi tercapainya kemajuan bangsa dan negara di masa depan sebagaimana yang kita cita-citakan bersama.
Pada periode tahun 2012 sampai 2035 bangsa kita dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa potensi sumber daya manusia berupa populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Pada periode tersebut generasi penerus bangsa berada pada titik yang sangat produktif, sangat berharga dan sangat bernilai. Potensi itu perlu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik agar berkualitas menjadi insan yang berkarakter, insan yang cerdas, dan insan yang kompetitif, serta menjadi bonus demografi yang sangat berharga.
Untuk mewujudkan cita-cita bangkitnya generasi emas pada tahun 2045, arah kebijakan pendidikan diprioritaskan pada pendidikan usia dini yang digencarkan sampai ke
pelosok desa-desa, pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Rehabilitasi gedung-gedung sekolah yang sudah tak layak pakai dan pembangunan gedung-gedung sekolah baru secara besar-besaran harus dilakukan segera dilakukan untuk menjamin pemerataan kesempatan belajar. Intervensi peningkatan angka partisipasi kasar (APK) untuk SMA dan atau sederajat dengan target sebesar 97% tahun 2020.
Peningkatan APK perguruan tinggi dengan meningkatkan akses, keterjangkauan dan ketesediaan juga harus dilakukan.
Dari berbagai program di atas diharapkan akan terbentuknya lulusan yang berupa generasi cerdas komperhensif, yaitu produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya serta berperadaban unggul. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pendidikan dalam era Generasi Emas 2045, ditetapkan sasaran pendidikan dalam tiga tahapan sebagai berikut.
1. Tahap pertama (2016-2025), pembangunan pendidikan difokuskan pada peningkatan kapasitas satuan pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan dalam memperluas layanan dan meningkatkan modernisasi penyelenggaraan proses pembelajaran serta mendorong
penguatan layanan sehingga pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
2. Tahap kedua (2026-2035), pembangunan pendidikan direncanakan sebagai tahap mewujudkan manusia Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di segala bidang dengan struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif. Untuk mencapai tujuan pendidikan tahap kedua ini pemerintah memprioritaskan Penguatan Pendidikan Karekter.
3. Tahap ketiga (2036-2045) pembangunan pendidikan diarahkan pada meningkatnya taraf pendidikan rakyat Indonesia yang mampu menciptakan SDM unggul dan berdaya saing internasional ( Kemdikbud, 2017:18).
Strategi pembangunan pendidikan untuk mewujudkan generasi emas 2045 dilaksanakan berdasarkan tujuan-tujuan strategis pendidikan yang ditetapkan berdasarkan Document Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan ke 4 SDGs adalah menjamin kualitas pendidikan yang adil dan inklusif serta meningkatkan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua. Untuk mencapai SDG’s 4 tentang pendidikan dan target pendidikan yang termasuk dalam SDG’s lainnya, perlu
memobilisasi upaya nasional, regional dan global yang bertujuan untuk hal sebagai berikut.
1. Mencapai kemitraan yang efektif dan inklusif
2. Memperbaiki kebijakan pendidikan dan cara bekerja sama
3. Memastikan sistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas untuk semua
4. Memobilisasi sumber daya untuk pembiayaan pendidikan yang memadai
5. Memastikan pemantauan, tindak lanjut dan tinjauan terhadap semua target.
Setting pendekatan strategis direkomendasikan untuk mencapai tujuan dan agenda SDG4-Education 2030 secara universal yang jauh lebih ambisius, serta untuk memantau kemajuan. Dengan mengikuti murid tentang Education for All dan MDGs, Indonesia harus berinvestasi dan meningkatkan pendekatan inovatif, eviden dan pendekatan hemat biaya yang memungkinkan semua murid memperoleh akses, berpartisipasi, belajar dan menyelesaikan pendidikan yang berkualitas, dengan fokus khusus pada mereka yang paling sulit dijangkau dalam semua konteks.
Peningkatan akses harus disertai dengan langkah- langkah untuk meningkatkan kualitas dan relevansi
pendidikan dan pembelajaran. Institusi dan program pendidikan harus memiliki sumber daya yang memadai dan adil dengan fasilitas yang aman, ramah lingkungan dan mudah diakses. Jumlah guru dan tenaga kependidikan berkualitas dengan menggunakan pendekatan pedagogis yang berpusat pada murid, aktif dan kolaboratif, sumber daya pendidikan terbuka dan teknologi yang tidak diskriminatif, belajar kondusif, konteks spesifik dan hemat biaya.
Kebijakan dan peraturan guru harus ada untuk memastikan bahwa guru diberi wewenang, direkrut dan digaji secara memadai, terdidik, terlatih secara profesional, termotivasi, dipekerjakan secara adil dan efisien di seluruh sistem Pendidikan. Sistem dan praktik untuk penilaian pembelajaran berkualitas yang mencakup evaluasi masukan, lingkungan, proses dan hasil harus dilembagakan atau diperbaiki. Hasil belajar yang relevan harus didefinisikan dengan baik dalam domain kognitif dan nonkognitif,
Pemerintah diharapkan dapat menerjemahkan target global ke dalam target nasional yang dapat dicapai berdasarkan prioritas pendidikan, strategi dan rencana pembangunan nasional. Ini memerlukan penetapan tolok ukur yang tepat (misalnya untuk tahun 2020 dan 2025) melalui proses inklusif dan lengkap. Berdasarkan strategi
universal dari SDGs tersebut, Kemendikbud, (2017) menetapkan strategi pencapaian sebagai berikut.
1. Melaksanakan wajib belajar 12 tahun
Setelah wajib belajar 6 tahun dan 9 tahun, kini ada program wajib belajar 12 tahun untuk mendukung penerapan Wajib Belajar (Wajar) 12 tahun. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan empat strategi atau Langkah dengan mengajak peran serta pemerintah daerah. Adapun langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Langkah pertama, mengajak peran serta pemerintah daerah dalam mewujudkan pendirian sekolah menengah di setiap kecamatan yang belum memiliki SMA atau SMK. ini akan mengajak kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah dalam penyedian lahan untuk pembangunan SMA atau SMK di kecamatan yang masih belum memiliki fasilitas pendidikan menengah. “Untuk membangun gedung baru SMA atau SMK masih membutuhkan lahan sekitar 12 juta meter persegi.
b. Langkah kedua, Kemendikbud menjadikan SMA atau SMK sebagai program pendidikan wajib diambil bagi murid setelah lulus dari jenjang pendidikan SMP.
c. Langkah ketiga. Pada strategi ini para murid diberikan pandangan bahwa melanjutkan jenjang pendidikan akan menjadi pengalaman yang menarik.
Sekolah akan diminta mengadakan acara khusus merayakan kelulusan murid.
d. Langkah keempat sebagai upaya mendukung para murid meneruskan pendidikannya sampai tamat pendidikan 12 tahun, pemerintah memberikan bantuan biaya operasional seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Bagi murid-murid yang berasal dari keluarga tidak mampu, pemerintah menyediakan Kartu Indonesia Pintar (KIP). KIP ini bisa membantu murid dalam perjalanan mereka dari rumah menuju sekolah atau membantu kelengkapan murid selama sekolah.
2. Meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan dan pelatihan keterampilan melalui peningkatan kualitas lembaga pendidikan formal. Meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan dan pelatihan keterampilan, dilaksanakan melalui (a) penyediaan insentif bagi dunia usaha/dunia industri untuk memberikan pelatihan bagi karyawannya, dan (b) penyediaan insentif bagi masyarakat untuk mendirikan
lembaga pelatihan berkualitas sesuai dengan kebutuhan sektor-sektor strategis.
3. Memperkuat jaminan kualitas (quality assurance) pelayanan pendidikan
Melakukan penguatan jaminan kualitas pelayanan pendidikan melalui cara (a) pemantapan penerapan SPM untuk jenjang pendidikan dasar, (b) peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten dan kota dan satuan pendidikan untuk mempercepat pemenuhan SPM Pendidikan dasar, (c) penerapan SPM jenjang pendidikan menengah sebagai upaya untuk mempersempit kesenjangan kualitas pelayanan pendidikan antar satuan pendidikan dan antar daerah, (d) pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) secara bertahap jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah dan (e) penguatan proses akreditasi untuk satuan pendidikan negeri dan swasta.
4. Memperkuat kurikulum dan pelaksanaannya termasuk pendidikan karakter
Melaksanakan penataan kembali kurikulum dengan strategi berupa :
a. Penguatan kurikulum yang memberikan keterampilan abad ke-21
b. Diversifikasi kurikulum agar murid dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi, minat, kecerdasan individu, dan keunggulan serta karakteristik lokal.
c. Evaluasi pelaksanaan kurikulum secara ketat, komprehensif dan berkelanjutan
d. Penguatan kerja sama antara guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk mendukung efektivitas pembelajaran
e. Peningkatan peran serta guru dan pemangku kepentingan lain untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan umpan balik pelaksanaan kurikulum termasuk hasil penilaian di kelas
f. Pengembangan profesi berkelanjutan tentang praktek pembelajaran di kelas untuk guru dan kepala sekolah
g. Penyediaan dukungan materi pelatihan secara daring (online) untuk membangun jaringan pertukaran materi pembelajaran dan penilaian antar guru
h. Peningkatan kompetensi kognitif murid di bidang matematika, sains dan literasi baik dalam penilaian
berstandar nasional maupun penilaian berstandar internasional
i. Peningkatan kualitas pembelajaran matematika, sains dan literasi sebagai kemampuan dasar yang sangat dibutuhkan murid dalam kehidupan keseharian untuk dapat berpartisipasi dalam bermasyarakat dengan mempertimbangkan kesetaraan hasil belajar antar jenis kelamin.
Peningkatan kualias pembelajaran murid sekolah dasar (hingga kelas 3 SD) pada daerah 3T dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang minim dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Ibu sebagai pengantar pendidikan.
j. Peningkatan kompetensi murid sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya di bidang sains, olahraga dan seni serta sikap (misalnya: kepemimpinan, toleransi dan kewirausahaan).
k. Penyiapan guru dan tenaga kependidikan untuk mampu melaksanakan kurikulum secara baik.
l. Penguatan kurikulum tentang ketahanan diri seperti perilaku hidup bersih dan sehat, kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan reproduksi, pengetahuan gizi seimbang dan pendidikan jasmani
dengan tetap mengedepankan norma yang dianut masyarakat Indonesia serta penguatan kurikulum tentang kewirausahaan.
m. Peningkatan kompetensi kognitif murid bagi pelajaran budi pekerti untuk membina karakter dan memupuk kepribadian murid yang sesuai dengan nilai-nilai moralitas dan etika sosial.
5. Memperkuat sistem penilaian pendidikan yang komprehensif dan kredibel
Memperkuat sistem penilaian pendidikan yang komprehensif melalui upaya sebagai berikut.
a. Peningkatan sistem penilaian pendidikan yang komprehensif diantaranya dengan memperbaiki keandalan dan kesahihan sistem ujian nasional b. Peningkatan mutu, validitas, dan kredibilitas
penilaian hasil belajar murid
c. Pemantauan, pengendalian dan peningkatan kualitas pembelajaran secara berkesinambungan melalui pemanfaatan hasil ujian nasional
d. Penguatan lembaga penilaian pendidikan yang independen dan kredibel
e. Meninjau kembali peran, struktur dan sumber daya pusat penilaian pendidikan
f. Pengembangan sumber daya lembaga penilaian pendidikan di daerah
g. Pemantauan capaian hasil belajar murid sebagai informasi peningkatan kualitas pembelajaran secara berkesinambungan.
h. Penguatan mutu penilaian diagnostik dan peningkatan kompetensi guru dalam memberikan penilaian formatif
6. Meningkatkan pengelolaan dan penempatan guru Meningkatkan pe