• Tidak ada hasil yang ditemukan

CBR IPS tugas kkni unimed

N/A
N/A
yesi alsika

Academic year: 2025

Membagikan "CBR IPS tugas kkni unimed"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

CRITICAL BOOK REPORT

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

&

PENGAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SEKOLAH DASAR

DISUSUN OLEH:

NAMA : Yesi Alsika NIM : 1223111169

MATA KULIAH : Pendidikan IPS SD

DOSEN PENGAMPU : Rahmilawati Ritonga, S.Pd.,M.Pd.

PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Mahakuasa atas berkat, rahmat dan kekuatan yang telah diberikannya, sehingga saya dapat menyelesaikan Critical Book Report untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan IPS SD. Pada bagian- bagian dalam makalah ini terdapat rangkuman isi buku yang memuat beberapa aspek mengkritisi dan menemukan solusi pembelajaran dari buku-buku terkait.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan Critical book Report ini dapat terselesaikan karena berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang terkait.

Maka dari itu saya menyampaikan ucapan Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu Rahmilawati Ritonga, S.Pd.,M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan IPS SD yang telah memberikan bimbingan terkait materi perkuliahan kepada saya dan teman-teman.

Makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga saya dengan senang hati menerima saran dan kritik dari para pembaca untuk membantu menyempurnakannya. Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak pembaca dan dapat menambah ilmu pemahaman kita.

Ucapan terima kasih dan rasa penghargaan yang setingginya saya ucapkan juga bagi orang tua, teman-teman, serta semua pihak yang telah mendukung saya dalam penyelesaian makalah tersebut. Apabila ada kesahalan pengucapan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, terima kasih.

Medan, 1 September 2023

Yesi Alsika

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... 2

DAFTAR ISI...3

BAB 1... 5

PENDAHULUAN... 5

A. Rasionlisasi Pentingnya CBR...5

B. Tujuan Penulisan CBR...5

C. Manfaat CBR...6

D. Identitas buku utama & buku pembanding...6

BAB II...8

RINGKASAN ISI BUKU...8

A. BUKU UTAMA...8

BAB 1. PENDAHULUAN...8

BAB II. HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS...8

BAB III. SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPS...9

BAB IV. IPS DAN ILMU-ILMU SOSIAL...10

BAB V. HUBUNGAN ANTARA ILMU SOSIAL DAN IPS (SUMBER DAN MATERI IPS)...11

BAB VI. PARADIGMA PEMBELAJARAN IPS (SOCIAL STUDIES)...11

BAB VII. PENGEMBANGAN MATERI AJAR IPS...12

BAB VIII. DIMENSI DAN STRUKTUR IPS...13

BAB IX. KETERAMPILAN-KETERAMPILAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL...14

BAB X. PENDIDIKAN GLOBAL...15

BAB XI. PENDIDIKAN IPS DAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA ...15

BAB XII. METODE DAN MEDIA PEMBELAJARAN IPS...16

BAB XIII. PENDIDIKAN IPS DALAM KURIKULUM 2013...17

BAB XIV. PERMASALAHAN IPS DI SEKOLAH...18

B. BUKU PEMBANDING... 18

BAB I. KONSEP PENDIDIKAN IPS...18

BAB II. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPS...19

BAB III. IPS DAN ILMU-ILMU SOSIAL...20

(4)

BAB IV. HUBUNGAN ANTARA ILMU-ILMU SOSIAL DAN IPS (SUMBER

DAN MATERI IPS)...20

BAB V. PENGEMBANGAN MATERI AJAR IPS...21

BAB VI. DIMENSI DAN STRUKTUR IPS...21

BAB VII. LANDASAN DAN FALSAFAH PENDIDIKAN IPS...22

BAB VIII. TRADISI PEMBELAJARAN IPS...23

BAB IX. PEMBELAJARAN NILAI...23

BAB X. KETERAMPILAN SOSIAL...24

BAB XI. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL...25

BAB XII. PENDIDIKAN GLOBAL...26

BAB III... 27

KEUNGGULAN BUKU... 27

BAB IV... 29

KELEMAHAN BUKU... 29

BAB V...30

IMPLIKASI... 30

A. Implikasi Terhadap Teori...30

B. Implikasi Terhadap Program Pembangunan di Indonesia...30

C. Pembahasan dan Analisis Mahasiswa...30

BAB VI... 31

PENUTUP...31

Kesimpulan...31

Saran...31

DAFTAR PUSTAKA...32

(5)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Rasionlisasi Pentingnya CBR

Critical book report adalah mengkaji suatu buku yang memuat suatu materi terkait. Terkadang saat kita memilih buku tetapi buku tersebut kurang memuaskan bagi pembaca, misalnya terdapat kekurangan pada buku yaitu segi bahasa, dan materi yang dimuat. Pada CBR ini dibuat dengan tujuan agar pembaca dapat lebih mudah dalam memilih refrensi.

Fungsinya CBR untuk melihat sudut pandang secara objektif, termasuk juga kegiatan penganalisisan dan pengevaluasian suatu buku dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas pengetahuan, pengapresiasian, atau memberi saran maupun kritikan mengenai kelebihan dan kekurangan buku.

Kegiatan mengkaji sangat penting mengingat para pengkaji buku harus memahami isi buku secara menyeluruh, dan mengingat bahwa kurangnya budaya literasi di Indonesia saat ini, apabila kegiatan ini tidak dilakukan maka tidak akan terjadi penyelamatan literasi di Indonesia terutama dalam dunia pendidikan. Karena dari kegiatan ini kualitas buku yang baik akan terlihat secara mendetail dan mendalam.

B. Tujuan Penulisan CBR

1) Pemenuhan tugas mata kuliah Pembelajaran IPS SD, 2) Peningkatan budaya literasi,

3) Menambah pengetahuan tentang peranan ilmu sosial di pendidikan, 4) Melatih mahasiswa lebih berfikir kritis dalam setiap informasi dari

buku,

5) Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam meringkas, mengevaluasi, menganalisa isi buku,

6) Menguatkan pengetahuan tentang bagaimana bertindak, mempelajari, berpendapat terhadap peran guru dalam pelajaran IPS bagi Pendidikan.

(6)

C. Manfaat CBR

1) Untuk menambah wawasan tentang sistem pembelajaran di SD, 2) Menerapkan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari yang

termuat didalam buku,

3) Melatih diri untuk menghargai pendapat orang lain, aditif terhadap perubahan, komunikatif, bertanggung jawab.

D. Identitas buku utama & buku pembanding

 BUKU UTAMA

Judul : PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

Pengarang : Dr. Ahmad Susanto, M.Pd.

Penerbit : Prenadamedia group Kota terbit : jakarta

Tahun terbit : 2018

ISBN : 978-602-7985-88-9

 BUKU PEMBANDING

Judul : Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Di Sekolah Dasar Pengarang : Candra Dewi, S.Pd.,M.Pd.

Penerbit : Unipma Press

(7)

Kota terbit : Madiun Tahun terbit : 2019

ISBN : 978-602-0725-39-0

(8)

BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

A. BUKU UTAMA

BAB 1. PENDAHULUAN

Mempelajari konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berisi tentang hakikat dan karakteristik konsep dasar IPS, sejarah perkembangan IPS, ruang lingkup dan cakupan konsep yang mendasar pada kajian konsep dasar IPS. Dengan mempelajari materi Pendidikan IPS SDini diharapkan mampu membantu memahami konsep-konsep yang mendasar pada kajian IPS yang berpengaruh terhadap kehidupan masa kini dan masa yang akan datang secara kritis dan kreatif.

Kajian materi pada buku ini menerapkan pendekatan pengintegrasian ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

BAB II. HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan terjemahan dari Sosial Studies. Bahwa Sosial Studies merupakan ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan meliputi aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu geografi dan filsafat yang dalam prakteknya dipilih untuk tujuan pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi.

Menurut Setiawan (2015, p. 6-7) dalam dunia pengajaran, ilmu-ilmu sosial telah mengalami perkembangan, sehingga timbullah sosial studies atau di Indonesia disebut Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). IPS (sosial studies) pertama kali dimasukkan dalam kurikulum sekolah di Rugby (Inggris) pada tahun 1827, atau setengah abad setelah terjadinya Revolusi Industri pada abad ke-18. Berbeda halnya dengan di Inggris, sosial studies dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah Amerika Serikat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsanya. Setelah berlangsungnya Perang Budak pada tahun 1861-1865, bangsa Amerika Serikat yang terdiri dari berbagai macam ras sulit untuk menjadi satu bangsa, hal ini juga disebabkan perbedaan sosial ekonomi yang sangat tajam. Salah satu cara untuk menjadikan penduduk Amerika Serikat merasa satu bangsa yaitu bangsa Amerika

(9)

dengan memasukkan sosial studies ke dalam kurikulum sekolah di negara bagian Wisconsin pada tahun 1892.

Menurut Ahmadi (1991, p. 2-3) IPS merupakan ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan disesuaikan bagi penggunaan program pendidikan di sekolah atau bagi kelompok belajar lainnya yang sederajat. Menurut Ali Imran Udin IPS ialah ilmu- ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah. Menurut Abu Ahmadi IPS ialah bidang studi yang merupakan paduan (fusi) dari sejumlah disiplin ilmu sosial. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa materi IPS diambil dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi sosial, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, dan ilmu-ilmu sosial lainnya yang dijadikan sebagai bahan baku bagi pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah.

BAB III. SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPS

Menurut Sapriya (2017, p. 34-39), perkembangan IPS dapat ditelusuri dari sebuah karya Saxe yang berjudul Sosial Studies in Schools: A History of the Early Years. Menurut Saxe, pada awal pertumbuhannya, IPS dapat diidentifikasi dari the National Herbart Society Papers of 1896-1897, yakni sebagai upaya membatasi ilmu-ilmu sosial untuk penggunaan secara pedagogik. IPS sebagai satu kesatuan sistem dalam kurikulum pendidikan sangat erat kaitannya dengan kurikulum ilmu sejarah, Geografi dan Civics. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,IPStelah dijadikan sebagai istilah resmi dalam kurikulum pendidikan, khususnya di Amerika Serikat.

Pada era tahun 1960-an bagi kalangan komunitas akademik Pendidikan IPS sering diklaim sebagai era The New Sosial Studies yaitu suatu gerakan pembaharuan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas program Pendidikan IPS, melalui penguasaan kemampuan intelektual tingkat tinggi, dengan menampatkan metode inkuiri dan pendekatan struktur disiplin ilmu sebagai substansi kajian kurikulum.

Menurut Sapriya (2017, p. 39-46), perkembangan IPS di dunia khususnya di Amerika Serikat telah banyak memenuhi pemikiran Pendidikan IPS di Indonesia.

(10)

Namun, untuk menelusuri perkembangan pemikiran atau konsep pendidikan IPS di Indonesia secara historis dirasakan sulit.

BAB IV. IPS DAN ILMU-ILMU SOSIAL

Menurut Sapriya (2017, p. 19-20), IPS merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah sosial studies dalam kurikulum persekolahan di negara lain seperti Amerika Serikat. Nama IPS merupakan istilah hasil kesepakatan dari para ahli atau pakar di Indonesia tahun 1972 di Tawangmangu, Solo. IPS sebagai mata pelajaran di persekolahan, pertama kali digunakan dalam kurikulum 1975.

Ada beberapa pengertian ilmu-ilmu sosial yang dikemukan oleh para ahli.

Istilah ilmu sosial menurut Ralf Dahrendorf dalam Supardan (2011, p. 30). Ilmu sosial ialah suatu konsep yang ambisius untuk mendefinisikan seperangkat disiplin akademik yang memberikan perhatian pada aspekaspek kemasyarakatan manusia.

Bentuk tunggal ilmu sosial menunjukkan sebuah komunitas dan pendekatan yang saat ini hanya diklaim oleh beberapa orang saja, sedangkan bentuk jamaknya. Ilmu- ilmu sosial mungkin istilah tersebut merupakan bentuk yang lebih tepat. Ilmu-ilmu sosial mencakup sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, geografi sosial, politik, bahkan sejarah walaupun di satu sisi ia termasuk ilmu hamaniora.

Menurut Astawa (2017, p. 23-25), ilmu sosial ialah bidang-bidang keilmuan yang mempelajari manusia di masyarakat dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Berikut akan dibahas beberapa Ilmu Sosial yang juga menjadi sumber IPS.

1. Konsep Dasar Sosiologi 2. Konsep Dasar Antropologi 3. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi 4. Konsep Dasar Ilmu Geografi 5. Konsep Dasar Sejarah 6. Konsep Dasar Ilmu Politik 7. Konsep Dasar Psikologi Sosial

(11)

BAB V. HUBUNGAN ANTARA ILMU SOSIAL DAN IPS (SUMBER DAN MATERI IPS)

IPS ialah bidang studi yang merupakan paduan (fusi) dari sejumlah mata pelajaran sosial dan IPS juga dikatakan sebagai suatu sarana mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti:

1. Ilmu-ilmu sosial manakah yang dapat dipadukan, dan mempunyai keterkaitan dalam proses pembelajaran

2. Bagaimana cara memadukannya, sebab tidak semua materi ilmu sosial dapat dipadukan

3. Bagian-bagian apa sajakah yang perlu bagi pembelajaran IPS

Secara konseptual hubungan antara IPS dengan ilmu-ilmu sosial dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Disiplin ilmu-ilmu sosial dijadikan kerangka utama berfikir dalam mengembangkan kurikulum.

2. Bahan untuk IPS dikembangkan terlebih dahulu, serta memilih dan memilah disiplin-disiplin ilmu sosial kemudian diidentifikasikan konsep-konsep dasar yang perlu diketahui peserta didik. Konsep-konsep dasar ini dipilih dan disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam kurikulum IPS. Konsep dasar yang dipilih dijadikan pokok bahasan dalam kurikulum. Dengan kata lain, ilmu-ilmu sosial secaralangsung memberikan bahan pembelajaran untuk kurikulum IPS. Oleh karena itu, topik-topik yang akan diajarkan dalam kurikulum IPS ialah hasil dan inventarisasi konsep dasar dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Tidak salah jika dikatakan bahwa IPS ialah gabungan ilmu-ilmu sosial yang diajarkan di sekolah.

BAB VI. PARADIGMA PEMBELAJARAN IPS (SOCIAL STUDIES)

Dalam dunia akademis istilah paradigm atau paradigm di populerkan oleh Thomas Samuel Kuhn (1922-1996), filsuf Amerika yang pemikirannya berpengaruh luar biasa bagi perkembangan ilmu Pengetahuan kontemporer.

Gagasan paradigm itu di kemukakan melalui buku tipis berjudul “The Strukture of Scientific Revolutions” (1962). Cetakan kedua buku ini diterbitkan pada tahun 1970 dengan menambahkan postscript yang sangat penting. Buku keduanya adalah The

(12)

Essential Tension: Selected Studies in Scientific Tradition and Change (Chicago and London: University Of Chicago Press, 1977).

Menurut buku pengembangan pembelajaran guru di SD oleh Dr. Ahmad Susanto (2014, p. 10) Istilah paradigma pada awalnya berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan terutama dalam kaitannya dengan filsafat ilmu Pengetahuan.

Secara terminologis tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan adalah, Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul the structure of scienctific revolution, Jadi intisari pengertian paradigma adalah suatu asumsi- asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis yang umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode, serta penerapan ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa paradigma pembelajaran IPS adalah model atau kerangka berfikir pengembangan IPS yang diwacanakan dalam kurikulum pada sistem pendidikan Indonesia, dan IPS merupakan studi yang mempelajari tentang masyarakat atau manusia dan merupakan Ilmu Pengetahuan Sosial yang diambil dari Ilmu Sosial. Ada tiga istilah yang termasuk bidang pengetahuan sosial, yaitu: Ilmu Sosial (Sosial Science), Studi Sosial (Sosial Studies ), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

BAB VII. PENGEMBANGAN MATERI AJAR IPS

Materi pendidikan ialah apa yang dipelajari siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Materi IPS berasal dari disiplin ilmu-ilmu sosial (sejarah,geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya) dan berkaitan dengan materi pendidikan. Dalam materi ini terdapat substansi dan proses yangberasal dari ilmu- ilmu sosial. Materi pendidikan yang diajarkan kepada siswabertujuan untuk mengembangkan nilai, sikap dan moral siswa, oleh karena iturealitas kehidupan di masyarakat, bangsa dan negara hendaknya dijadikanmateri dasar dalam materi IPS dan dikembangkan untuk berbagai aspek.

Menurut Hamid Hasan materi proses dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan mencari informasi, merumuskan informasi, mengolah informasi, mengembangkan informasi baru berdasarkan apa yang sudah

(13)

dimilikinya, memecahkan berbagai masalah dan mengambilkeputusan. Dalam hal ini siswa harus terlibat aktif dalam proses yang dipelajarinya. Ini artinya siswa harus belajar mengenai cara dan startegidalam mengumpulkan informasi, sehingga siswa menjadi terampil dalam melakukannya. Hamid Hasan mengemukakan bahwa materi untuk proses belajarsebagian besar dikembangkan dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Materi proses yang dikembangkan meliputi berbagai keterampilan seperti keterampilanberkomunikasi baik lisan maupun tulisan atau melalui berbagai perantaraalat komunikasi yang tersedia di masyarakat.

Materi yang sesuai untuk mengembangkan sikap bahkan menjadi kannyasebagai nilai hidup seorang peserta didik untuk hal demikian adalahmateri disiplin sejarah. Untuk mengembangkan sikap, dan cinta tanah airguru dapat pula dengan melalui kajian mengenai pergerakan kebangsaanyang dialami bangsa Indonesia.

BAB VIII. DIMENSI DAN STRUKTUR IPS

Menurut Sapriya (2015, p. 48-56) program pendidikan IPS yang komprehensif adalah program yang mencakup empat dimensi, yaitu: dimensi pengetahuan, dimensi keterampilan, dimensi nilai dan sikap, dan dimensi tindakan.

Walaupun empat dimensi ini memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu sama lain, namun dalam proses pembelajaran empat dimensi ini saling tumpang tindih dan saling melengkapi. Untuk kepentingan analisis akademik, empat dimensi ini dibedakan agar guru dapat merancang pembelajaran IPS secara sistematis dan untuk meyakinkan bahwa semua kawasan sudah terliput.

Setiap orang memiliki wawasan tentang pengetahuan sosial yang berbeda- beda. Ada yang berpendapat bahwa pengetahuan sosial meliputi peristiwa yang terjadi di lingkungan masyarakat tertentu. Ada pula yang mengemukakan bahwa pengetahuan sosial mencakup keyakinan-keyakinan dan pengalaman belajar siswa.

Secara konseptual, pengetahuan hendaknya mencakup fakta, konsep, dan generalisasi yang dipahami oleh siswa.

(14)

BAB IX. KETERAMPILAN-KETERAMPILAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Pengembangan keterampilan merupakan bagian yang cukup esensial dalam proses belajar mengajar IPS. Keterampilan-keterampilan yang dimaksud merupakan kebutuhan mendasar untuk kehidupan anak didik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Semua fakta barangkali bisa berubah, dilupakan atau tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman, namun keterampilan-keterampilan yang diperoleh melaui proses belajar biasanya akan berguna selama hidup.

Suatu keterampilan tidak akan bisa dipelajari secara cepat. Sebagian besar keterampilan dapat dikaji secara baik dengan jalan induktif. Setelah melalui beberapa penjelasan, anak didik dapat memahami tentang apa yang harus mereka kerjakan dan bagaimana cara kerja mereka. Cara ini hanya akan terwujud apabila mereka mampu meningkatkan tingkat kesadarannya terhadap permasalahan yang diberikan oleh gurunya.

Di samping itu keterampilan juga dapat dikaji dengan jalan deduktif.

Sebagai misal, guru menunjukkan bahwa air di dalam peta diberi warna biru. Pada kesempatan lain anak didik akan dapat melihatnya dengan benar sepanjang pemberian warna tersebut sesuai dengan apa yang telah diinformasikan kepadanya.

Menurut Cheppy (tt: 111-117), keterampilan membaca membuka kemungkinan yang lebih luas untuk memperluas ilmu daripada medium lainnya seperti film, radio dan lainnya. Buku dapat dibaca kapan saja dan secara berulan- ulang untuk lebih memahami isinya dan dapat dibawa kemana-mana. Keterampilan membaca dapat membawa murid ke dunia yang lebih luas. Oleh sebab itu, siswa harus menguasai keterampilan membaca dan kepadanya diberi motivasi agar kegemaran membaca dan cinta akan buku makin bertambah. Keterampilan ini akan memberikan kepuasan dan kegembiraan baginya dalam hidupnya.

Menurut Sapriya (2017, p. 175-183), pengembangan keterampilan partisipasi sosial sangat penting dalam pembelajaran IPS. Pengembangan partisipasi sosial merupakan pengembangan dari konsep-konsep kepekaan sosial yang lebih realistis. Hal ini sejalan dengan tujuan IPS bahwa aspek yang cukup penting dan perlu diterapkan kepada siswa adalah bagaimana agar mereka, para siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.

(15)

Menurut Cheppy (tt: 173-180) globe dan peta ialah alat yang cukup penting bagi setiap orang. Anak-anak mulai menggunakannya diawal hidupnya dan akan senantiasa menggunakannya sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, hendaknya mereka belajar cara menggunakannya semenjak di sekolah dasar. Meskipun demikian, belajar menggunakan globe dan peta bukanlah suatu proses yang mudah.

BAB X. PENDIDIKAN GLOBAL

Menurut Sapriya (2017, p. 120-138), bahwa pendidikan global merupakan upaya untuk menanamkan suatu pandangan tentang dunia kepada para siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat saling keterkaitan antar budaya, umat manusia, dan kondisi planet bumi. Pada umumnya, tujuan pendidikan setiap mata pelajaran untuk kondisi saat ini menekankan pada kemampuan siswa dalam berpikir kritis, namun ada hal yang unik dalam pendidikan global yakni fokus substansinya yang berasal dari hal-hal mendunia yang semakin bercirikan pluralisme, interdependensi, dan perubahan.

Tujuan pendidikan global ialah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap yang diperlukan untuk hidup secara efektif dalam dunia yang sumber daya alamnya semakin menipis dan ditandai oleh keragaman etnis, pluralisme budaya, dan semakin saling ketergantungan. Perlunya meningkatkan orientasi para siswa dalam wawasan internasional semakin disadari. Meskipun demikian, khusus di Indonesia upaya untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman global pada lembaga pendidikan dasar dan menengah masih perlu diberdayakan.

BAB XI. PENDIDIKAN IPS DAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

Menurut Setiawan (2015, p. 51-59) bahwa nilai, norma dan moral sangat penting dalam pembelajaran IPS. Pada dasarnya, Pendidikan Nilai dapat dirumuskan dari dua pengertian dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan nilai. Ketika dua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi Pendidikan Nilai. Namun, karena arti pendidikan dan arti nilai dimaksud dapat dimaknai berbeda, definisi Pendidikan Nilaipun dapat beragam bergantung pada

(16)

tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu.Sastrapratedja (Kaswardi, 1993) menyebutkan bahwa Pendidikan Nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang.

Mardiatmadja (1986) mendefinisikan Pendidikan Nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilainilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Pendidikan Nilai tidak hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mencakup keseluruhan program pendidikan.

Pendidikan nilai diibaratkan sebagai suatu pupuk, peserta didik diibaratkan tanah dan beberapa bidang studi diibaratakan sebagai bermacam tanaman. Setiap siswa menerima berbagai mata pelajaran di sekolah, jika setiap mata pelajaran tersebut tidak memiliki ruh. Pendidikan nilai dalam arti tidak diintegrasikan kepada pendidikan nilai, maka penyampaian mata pelajaran tersebut akan hampa dan tak berarti, demikian juga siswa yang menerima berbagai pelajaran tersebut tidak tumbuh menjadi siswa yang utuh (ada sesuatu yang hilang dalam diri siswa. Dalam proses pembelajaran siswa menerima berbagai mata pelajaran yang bermuatan pendidikan nilai, maka setiap ilmu yang telah mereka dapatkan melalui berbagai mata pelajaran ditambah pendidikan nilai akan mengokohkan akar-akar setiap siswa. Dari proses pendidikan nilai inilah lahir siswa-siswi yang berfikir sholeh dan beramal cerdas, cerdas intelektual, spritual, emosional dan sosial.

BAB XII. METODE DAN MEDIA PEMBELAJARAN IPS

Metode pembelajaran menurut Hamdani (Suid, Yusuf, & Nurhayati, 2016, p. 76)adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Sedangkan menurut Sagala metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru dalam mengorganisasikan kelas pada umumnya atau dalam menyajikan bahan pelajaran pada khususnya (Suwaji, 2014, p. 2). Sedangkan menurut Setiawan (2017, p. 161) metode pembelajaran merupakan bagian utuh (terpadu, integral) dari proses pengajaran, dalam upaya mencapai sasaran dan tujuan pengajaran (tujuan institusional, tujuan pembelajaran umum dan khusus).

Macam-macam metode pembelajaran IPS menurut Sutikno (2009, p. 94- 101), yaitu: Metode Ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode

(17)

Demonstrasi, Metode Kisah/ Cerita, Metode Simulasi, Metode Karyawisata, Metode Tutorial, Metode Suri teladan, Metode Team teaching, Metode Praktik, Metode Kerja Kelompok, Metode Penugasan.

BAB XIII. PENDIDIKAN IPS DALAM KURIKULUM 2013

Kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Kurikulum 2013 dikembangkan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrument untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah, (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan (3) warga Negara yang demokratis, bertanggung jawab.

Ilmu Pengetahuan Sosial menurut Trianto (2012, p. 171) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu- ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktural, sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran,

(18)

kelompok, institusi, proses interaksi dan control sosial. Secara intensif konsep- konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial (Setiawan, 2017, p. 133-134).

BAB XIV. PERMASALAHAN IPS DI SEKOLAH

Kurikulum berbasis kompetensi telah menyusun mata pelajaran IPS SMP dalam satu bidang studi. Namun demikian,masih terdapat beberapa permasalahan berkaitan dengan konsep dan implementasi kurikulumIPS untuk SMP, yaitu:

1. Bahwa walaupun kurikulumIPS tersusun secara integral, tetapi belum menonjolkan sebagai sebuah pendekatan inter dan transdisiplin. Fenomena ini kadang terjadi penerjemahan yang berbeda antar guru.

2. Sulitnya membuat kelas berkolaborasi, terutama koordinasi waktu dan tenaga, sehingga guru akan memilih pembelajaran saparated, sesuai denganbidang studinya sendiri-sendiri.

3. Bahwa pendekatan trans-interdisiplin pendidikan IPS di SMP dikhawatirkan hanya sebagai formalitas kurikulum, yang hanya terlihat dalam pelaporan dan penilaian akhir yang menggabungkan tiga bidang studi.

4. Rendahnya motivasi guru untuk melakukan perubahan dan pembaharuan dalam pengajaran, sehingga mereka cenderung monoton melakukan yang biasanya mereka lakukan. Implikasinya bahwa IPS menjadi mata pelajaran yang kurang diminati, atau disukai karena terkesan sebagai mata pelajaran hapalan.

B. BUKU PEMBANDING

BAB I. KONSEP PENDIDIKAN IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan baik pada tingkat SD, SMP maupun SMA. IPS bukan ilmu mandiri seperti halnya Ilmu-ilmu sosial lainnya, namun materi IPS menggunakan bahan ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan disesuaikan dengan tujuan pengajaran dan pendidikan. Salah satu penyebab lahirnya IPS (social studies) disebabkan adanya keinginan dari ahli- ahli ilmu sosial dan pendidikan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Misalnya di Amerika Serikat, IPS dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah agar

(19)

masyarakat Amerika Serikat yang multi ras merasa satu bangsa yaitu bangsa Amerika. Di Indonesia IPS dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah tidak terlepas dari situasi kacau akibat G30S/PKI. Dengan demikian salah satu tujuan IPS ialah untuk menjadikan siswa menjadi warga negara yang baik. Berikur dikemukakan beberapa definisi dari IPS.

IPS dirumuskan berlandaskan pada realitas dan fenomena sosial yang diwujudkan dengan pendekatan interdisipliner dari cabang ilmu-ilmu sosial.

Hakikat IPS adalah untuk mengembangkan konsep pemikiran yang berdasarkan realitas kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa, sehingga dengan memberikan pendidikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya.

BAB II. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPS

Perkembangan IPS dapat ditelusuri dari sebuah karya Saxe yang berjudul Social Studies in Schools: A History of the Early Years. Menurut Saxe, pada awal pertumbuhannya, IPS dapat diidentifikasi dari the National Herbart Society Papers of 1896-1897, yakni sebagai upaya membatasi ilmu-ilmu sosial untuk penggunaan secara pedagogik. IPS sebagai satu kesatuan sistem dalam kurikulum pendidikan sangat erat kaitannya dengan kurikulum Ilmu Sejarah, Geografi dan Civics. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, IPS telah dijadikan sebagai istilah resmi dalam kurikulum pendidikan, khususnya di Amerika Serikat.

Konsep tersebut kemudian dijadikan sebagai dasar pemikiran perlunya Social Studies seperti terdapat di dalam dokumen Statementof the Chairmant of Committee on Social Studies. Thomas Jesse Jones yang dikeluarkan oleh Committee on Social Studies (CSS) tahun 1913. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa PIPS sebagai a specific field to utilization of social sciencies data as a force in the improvement of human welfare, yang memiliki kesamaan konseptual dengan definisi social studies dari Heber Newton, bahwa social studies sebagai specially selected from the social sciences for the purpose of improving the lot orthe poor and suffering urban worker.

(20)

BAB III. IPS DAN ILMU-ILMU SOSIAL

Ilmu-ilmu sosial merupakan dasar dari IPS. Akan tetapi, tidak semua ilmu- ilmu sosial secara otomatis dapat menjadi bahan atau pokok bahasan dalam IPS.

Tingkat usia, jenjang pendidikan, dan perkembangan pengetahuan siswa sangat menentukan materi-materi ilmu-ilmu sosial mana yang tepat menjadi bahan atau pokok bahasan dalam IPS. Di Indonesia IPS menjadi salah satu mata pelajaran dalam pembaharuan kurikulum SD, SMP, SMA sejak 1975 dan masih berlangsung hingga sekarang.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ini sangat penting diajarkan kepada peserta didik, sebab setiap individu ialah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Agar setiap individu menjadi warga negara yang baik maka ia perlu mendapatkan pengetahuan yang benar tentang konsep dan kaidah-kaidah sosial, menentukan sikap sesuai dengan pengetahuan tersebut dan memiliki keterampilan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Disiplin ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan dalam social studies di Indonesia meliputi ilmu ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, politik, hukum dan pendidikan kewarganegaraan. Disiplin ilmu sosial yang dikembangkan dalam social studies di Amerika Serikat lebih beragam bila dibandingkan dengan tradisi pengembangan IPS di Indonesia. Disiplin ilmu sosial yang dikembangkan dalam social studies di Amerika Serikat meliputi antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, psikologi, religi dan sosiologi

BAB IV. HUBUNGAN ANTARA ILMU-ILMU SOSIAL DAN IPS (SUMBER DAN MATERI IPS)

Materi IPS yang dapat dipelajari dan menjadi bahan pelajaran, tidak hanya kehidupan nyata seharihari tetapi juga meliputi cerita-cerita novel, kisah tokoh- tokoh terkenal yang dapat dibaca oleh peserta didik, di samping itu bahan bacaan seperti koran, majalah, jurnal, makalah merupakan sumber materi IPS sekaligus sumber pelajaran IPS yang berharga serta bernilai dalam membina kepribadian peserta didik.

IPS ialah bidang studi yang merupakan paduan (fusi) dari sejumlah mata pelajaran sosial dan IPS juga dikatakan sebagai suatu sarana mata pelajaran yang

(21)

menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial. mu Sosial sebagai Sumber IPS Mata pelajaran yang dapat dijadikan sumber pada pengajaran IPS yaitu geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, politik dan sosiologi. Guru pengajar IPS harus dapat memanfaatkan materi-materi pada pelajaran tadi. Guru harus menaruh perhatian yang penuh kepada apa yang diuraikan dan disajikan pada mata pelajaran yang termasuk ilmu sosial.

Mempelajari dan mengkaji gejala serta masalah kehidupan berdasarkan proses sejarahnya merupakan suatu penelaahan yang dinamis. Melalui penelahaan proses sejarah ini kita tidak hanya dapat mengerti peristiwa-peristiwa kehidupan masa lampau dan masa kini yang sedang kita alami, melainkan kita akan mampu juga memperhitungkan kejadian-kejadian masa yang akan datang. Kita akan mampu melakukan prediksi sesuatu gejala dan masalah kehidupan masa yang akan datang. Jika masalah itu merupakan bahaya yang akan mengancam kehidupan, kita dapat melakukan usaha untuk mencegahnya, atau sekurang-kurangnya melakukan usaha mengurangi bahaya tersebut.

BAB V. PENGEMBANGAN MATERI AJAR IPS

Materi pendidikan ialah apa yang dipelajari siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Materi IPS berasal dari disiplin ilmu-ilmu sosial (sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya) dan berkaitan dengan materi pendidikan. Dalam materi ini terdapat substansi dan proses yang berasal dari ilmu- Ilmu sosial. Materi pendidikan yang diajarkan kepada siswa bertujuan untuk mengembangkan nilai, sikap dan moral siswa, oleh karena itu realitas kehidupan di masyarakat, bangsa dan negara hendaknya dijadikan materi dasar dalam materi IPS dan dikembangkan untuk berbagai aspek.

BAB VI. DIMENSI DAN STRUKTUR IPS

Program pendidikan IPS yang komprehensif adalah program yang mencakup empat dimensi, yaitu: dimensi pengetahuan, dimensi keterampilan, dimensi nilai dan sikap, dan dimensi tindakan. Walaupun empat dimensi ini memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu sama lain, namun dalam proses pembelajaran empat dimensi ini saling tumpang tindih dan saling melengkapi.

(22)

Untuk kepentingan analisis akademik, empat dimensi ini dibedakan agar guru dapat merancang pembelajaran IPS secara sistematis dan untuk meyakinkan bahwa semua kawasan sudah terliput.

BAB VII. LANDASAN DAN FALSAFAH PENDIDIKAN IPS

Memasuki abad 21 yang ditandai oleh perubahan mendasar dalam segala aspek kehidupan khususnya dalam bidang politik, hukum, dan kondisi ekonomi telah menimbulkan perubahan yang sangat signifikan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Setelah perubahan kurikulum 1994 secara tambal sulam yakni melalui perubahan dengan diberlakukannya Kurikulum Suplemen ternyata dirasakan masih belum memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, para ahli pengembang kurikulum yang difasilitasi oleh pusat pengembangan kurikulum Depdiknas mengadakan berbagai uji coba model kurikulum. Pada saat itu digulirkan pula gagasan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sempat mendapat tanggapan pro kontra tetapi nama KBK menjadi sangat populer karena gemanya bukan hanya terjadi di jenjang sekolah melainkan hingga ke berbagai jenjang dan jenis pendidikan bahkan tingkat perguruan tinggi.

Pada saat itu, yakni sebelum lahirnya UU Nomor 20 Tahun 2003 muncul sejumlah gagasan yang dilontarkan tentang perlunya perubahan nama sejumlah mata pelajaran sekolah dengan alasan jumlah mata pelajaran sekolah agar lebih ramping. Salah satu target perubahan tersebut ialah mata pelajaran IPS dan PPKn terutama di jenjang SD dan SMP. Nama yang ditawarkan antara lain mata pelajaran Pengetahuan Sosial (PS) yang isi didalamnya memuat materi pendidikan kewarganegaraan dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, sementara mata pelajaran Pendidikan dan Kewarganegaraan (PPKn) dihilangkan.

Namun, setelah disahkan UU No. 20/2003 yang diakui oleh adanya Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang mengamanatkan perlu adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maka pengembangan kurikulum mata pelajaran sekolah umumnya dan khususnya untuk mata pelajaran IPS mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 tentang Standar Isi dan Nomor 23 tentang Standar

(23)

Kompetensi Lulusan (SKL) dengan panduan KTSP yang dikeluarkan oeh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

BAB VIII. TRADISI PEMBELAJARAN IPS

Istilah Citizenship Transmission menunjukkan kepada model mengajar di mana guru-guru ingin agar tingkah laku, pengetahuan, pandangan, dan nilai-nilai tertentu akan dipelajari oleh murid-murid. Tingkah laku, pengetahuan, dan sebagainya, sudah merupakan tradisi dalam kebudayaan, di mana baik guru maupun murid turut berpartisipasi. Guru secara literal telah begitu saja memindahkan pola- pola kebudayaan yang sangat penting itu yang percaya bahwa masyarakat mengharapkan demikian.

Tujuan dan cita-cita tradisi ini sesuai namanya yaitu kewarganegaraan.

Tetapi istilah warga negara haruslah diberi batasan yang tepat seperti yang diartikan dalam citizenship transmision. Seorang warga negara yang baik itu ialah seseorang yang menyesuaikan diri dengan lingkungan, menganut keyakinan tertentu, loyal pada peraturan-peraturan, berpartisipasi dalam kegiatan tertentu, dan menyesuaikan diri pada norma-norma yang seringkali merupakan karakteristik lokal.

Warga negara yang baik ialah warga negara yang telah melakukan kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga negara. Secara ringkas guru mengartikan warga negara yang baik ialah orang yang memegang teguh nilai dan sikap, menerima dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB IX. PEMBELAJARAN NILAI

Nilai berasal dari bahasa latin vale're, yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang.

Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, dikejar, dihargai, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi bermartabat.

Pendidikan nilai yaitu pengembangan pribadi siswa tentang pola keyakinan yang terdapat dalam sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal baik yang harus dilakukan dan hal-hal buruk yang harus dihindari. Dalam nilai-nilai ini terdapat

(24)

pembakuan tentang hal baik dan hal buruk serta pengaturan perilaku. Nilai-nilai hidup dalam masyarakat sangat banyak jumlahnya sehingga pendidikan berusaha membantu untuk mengenali, memilih dan menetapkan nilai-nilai tertentu sehingga dapat digunakan sebagai landasan. Pengambilan keputusan untuk berperilaku secara konsisten dan menjadi kebiasaan dalam hidup bermasyarakat.

Peradaban suatu bangsa yang ditentukan oleh manusia-manusia pada bangsa itu. Maju mundurnya peradaban bangsa sangat erat kaitannya dengan akhlak atau moral bangsa itu, dan baik buruknya moral suatu bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan. Melalui pendidikan nilai, pendidikan menjadi lebih benilai tidak hambar dan tidak hampa.

Pendidikan nilai bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur ke dalam peserta didik. Salah satu bentuk nilai-nilai luhur tersebut ialah sebagaimana terdapat dalam Undang-undang dalam Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan pancasila bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

BAB X. KETERAMPILAN SOSIAL

Komunikasi adalah usaha menyampaikan suatu gagasan untuk menerima umpan balik dari gagasan yang kita sampaikan. Secara definitif komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi yang menggunakan kata-kata baik lisan maupun tulisan.

Bahasa adalah bagian terpenting dalam komunikasi verbal. Melalui simbol dan kode-kode tertentu seseorang bisa mengirimkan pesan kepada orang lain secara lebih jelas. Saat seseorang mengatakan bola, dalam benak orang yang menerima membayangkan sebuah benda yang bentuknya bulat.

Bahasa adalah kesepakatan komunitas tertentu. Jika kita mengatakan bola di Indonesia orang akan mudah memahaminya karena kesamaan bahasa. Namun demikian kita harus menyebut ball saat berada dalam lingkungan orang yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Bola atau ball adalah kesepakatan kata dan bahasa pada suatu kelompok tertentu.

(25)

Pendidikan IPS penuh dengan tujuan yang termasuk pengetahuan dan pemahaman. Dalam belajar ilmu-ilmu sosial seorang siswa diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai konsep dalam suatu disiplin ilmu.

Dalam proses memahami IPS dan juga ilmu lainnya termasuk proses berpikir.

Menurut Beyer bahwa berpikir adalah suatu proses penemuan makna dari apa yang didengar, dilihat, dibaca atau dari apa yang sudah menjadi ingatan dengan pemahaman seseorang.

BAB XI. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Perkembangan multikulturalisme terutama di Amerika Serikat, dimana kebudayaannya didominasi oleh kaum imigran putih dengan budaya WASP (kebudayaan putih) dari bangsa Anglo Saxon (yang berbahasa Inggris), beragama Protestan. Nilai-nilai WASP inilah yang menguasai mainstream kebudayaan di Amerika Serikat. Dengan demikian, terjadilah segresi dan diskriminasi, bukan hanya di dalam bidang las tetapi juga di dalam bidang agama, budaya dan gaya hidup. Yang paling didiskriminasikan adalah kelompok Afrika Amerika, yang menuntut sejarahnya dibawa ke benua baru tersebut sebagai budak belian untuk dipekerjakan di perkebunan perkebunan atau membangun prasarana industri yang berkembang pesat pada abad 19.

Berbagai upaya dari program pendidikan interkultural ternyata dipusatkan kepada mengubah tingkah laku individu dan bukan mempelajari konflik antar kelompok. Padahal, yang sering terjadi dalam kehidupan bersama multirasial konflik kelompok. Oleh sebab itu, yang penting di dalam program pendidikan interkultural adalah sebenarnya Bagaimana mengatasi konflik kelompok. Hal ini memang masih diabaikan di dalam program pendidikan interkultural. Pendidikan di dalam pendekatan interkultural berarti membina hubungan baik antar manusia yang demokratis. Masyarakat Amerika dalam masyarakat demokratis yang memberikan nilai penting terhadap pluralitas dengan hak-haknya termasuk hak-hak minoritas sebagai warga negara. Tujuan kehidupan adalah kehidupan bersama yang harmonis.

Perkembangan program pendidikan interkultural berkembang dengan sangat pesat dan dilaksanakan dari jenjang pendidikan dasar termasuk di dalam program pendidikan guru. Selain itu, program pendidikan interkultural dianggap

(26)

dapat memperkuat ketahanan bangsa. Di negara Amerika Serikat, terutama pada masa perang dingin, hal ini dirasakan perlu untuk tetap mempertahankan Amerika sebagai super power. Pendekatan ketahanan bangsa ini sama dengan apa yang dilaksanakan dalam masyarakat Indonesia dengan pendidikan P-4.

Pada dasarnya program pendidikan multikultural tidak lagi memfokuskan kepada kelompok-kelompok agama atau mainstream budaya, tetapi kepada pengembangan nilai-nilai demokratis. Apabila dalam program interkultural terutama ditekankan kepada nilai-nilai budaya barat atau budaya ras putih, maka program pendidikan multikultural melihat masalah-masalah masyarakat secara lebih luas. Bukan hanya memasukkan masalah masalah struktural ras, tetapi juga mempersoalkan masalah-masalah kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam ilmu pengetahuan.

BAB XII. PENDIDIKAN GLOBAL

Bahwa pendidikan global merupakan upaya untuk menanamkan suatu pandangan tentang dunia kepada para siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat saling keterkaitan antar budaya, umat manusia, dan kondisi planet bumi. Pada umumnya, tujuan pendidikan setiap mata pelajaran untuk kondisi saat ini menekankan pada kemampuan siswa dalam berpikir kritis, namun ada hal yang unik dalam pendidikan global yakni focus substansinya yang berasal dari hal-hal mendunia yang semakin bercirikan pluralisme, interdependensi dan perubahan.

Tujuan pendidikan global ialah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap yang diperlukan untuk hidup secara efektif dalam dunia yang sumber daya alamnya semakin menipis dan ditandai oleh keragaman etnis, pluralisme budaya, dan semakin saling ketergantungan. Perlunya meningkatkan orientasi para siswa dalam wawasan internasional semakin disadari. Meskipun demikian, khusus di Indonesia upaya untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman global pada lembaga pendidikan dasar dan menengah masih perlu diberdayakan. Berikut penjelasan lebih mendalam tentang pendidikan global.

(27)

BAB III

KEUNGGULAN BUKU

a) Keterkaitan antar Bab

...Keterkaitan materi antar bab satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Penyusunan materi yang rapi dan saling terkait misalnya, pada pembahasan sub judul akan dijabarkan lagi mengenai pengertian,komponen,dan unsur- unsur juga dijelaskan secara jelas. Penjelasan sub-judul tersebut dijelaskan secara sistematis dan logis.

b) Kemuktahiran Buku

Untuk kemutakhiran buku ini sebenarnya masih berlaku sampai sekarang tetapi hanya saja masih sangat sederhana dimana belum menganalisis pada bagian yang lebih kompleks lagi. Sebagai ilmu pengetahuan yang baik dan bagus seharusnya ilmu pengetahuan tersebut harus berkembang seiringdengan perkembangan zaman dan manusianya sehingga menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi para pengguna termasuk guru dalam membantu kegiatan guru sebagai pengolah dan pelaksana pembelajaran disekolah.

c) Keunggulan Buku utama

1. Didalam isi buku sudah menjelaskan secara luas mengenai isi materinya.

2. Format penulisan sudah jelas dan mudah dipahami.

3. Sudah menjelaskan keseluruhan isi buku sesuai dengan judul buku dan membuat para pembaca merasa senang atas apa yang sudah dibaca.

d) Keunggulan Buku Pendamping

1. Didalam isi buku sudah ditampilkan gambar yang merupakan daya tarik bagi pembaca.

2. Font dalam penulisan juga sudah beraturan dan dapat dipahami.

(28)

3. Setiap pembahasan sudah dijelaskan berdasarkan sub judul yang telah ditentukan.

(29)

BAB IV

KELEMAHAN BUKU

a) Keterkaitan antar Bab

Keterkaitan materi antar bab satu dengan bab lainnya yaitu sama sama kurang dalam menampilkan sebuah gambar, yang mana gambar adalah daya tarik bagi pembaca yang dapat membuat para pembaca merasa terhibur.

b) Kemutakhiran Buku

Buku ini memiliki sampul yang kurang menarik, sehingga kurang menarik minat pembaca. Buku ini menggunakan kalimat yang bertele-tele,tidak to the point, sehingga menyulitkan para pembaca untuk memahami kalimat-kalimat dalam buku.

c) Kelemahan Buku Utama

Didalam buku belum menampilkan beberapa ilustrasi-ilustrasi yang menjadi daya tarik pembaca,yang akan membuat para pembaca merasa senang.

d) Kelemahan Buku Pendamping

Didalam buku masih terdapat beberapa kalimat yang masih susah untuk dipahami,dan belum menampilkan gambar yang menjadi daya tarik bagi pembaca.

(30)

BAB V IMPLIKASI

A. Implikasi Terhadap Teori

Buku ini sangat memiliki fungsi yang baik terhadap teori-teori pada mata kuliah Pendidikan IPS SD dan bisa menjadi salah satu sumber belajar yang mendukung dalam setiap pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan dalam buku ini.

B. Implikasi Terhadap Program Pembangunan di Indonesia

Buku ini berguna untuk program pembangunan Indonesia dalam menyiapkan generasi-generasi yang akan datang dengan memahami apa yang ada di buku ini.

C. Pembahasan dan Analisis Mahasiswa

Menurut saya, buku ini sudah baik dan bagus, karena banyak menjelaskan mengenai pembahasan yang menjadikan para pembaca bertambah wawasan.

Dan buku ini juga memuat materi yang sesuai dengan pembelajaran mata kuliah Pendidikan IPS SD di perkuliahan.

(31)

BAB VI PENUTUP

Kesimpulan

Mempelajari Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SD berisi tentang hakikat dan karakteristik IPS, sejarah perkembangan IPS, ruang lingkup dan cakupan konsep yang mendasar pada kajian konsep dasar IPS. Dengan mempelajari materi Pendidikan IPS sejak dini diharapkan mampu membantu memahami konsep- konsep yang mendasar pada kajian IPS yang berpengaruh terhadap kehidupan masa kini dan masa yang akan datang secara kritis dan kreatif. Kajian materi pada buku ini menerapkan pendekatan pengintegrasian ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Saran

Tugas Critical Book Report ini belumlah sempurna atau masih jauh dari kata sempurna, baik dari isi, bentuk, dan juga segi penggunaan bahasa yang disebabkan pengalaman penulis yang masih terbatas, namun penulis membutuhkan kritikan dan saran dari Bapak/Ibu dosen dan juga dari para pembaca yang bersifat membangun, yang nantinya akan berguna juga untuk saya dan juga bagi para pembaca.

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, C. (2019). Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Di Sekolah Dasar. Madiun:

Unipma Press.

Susanto, A. (2018). PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR. Jakarta: Prenadamedia group.

Referensi

Dokumen terkait

Mata Pelajaran: Matematika Satuan Pendidikan: MA Kelas/Semester: XI IPS / 2 Nama Guru: MOZANNI,

Ilmu Pengetahuan Sosila (IPS) merupakan mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI sampai perguruan tinggi. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan

2 Selanjutnya, proses kegiatan pembelajaran implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran IPS di MTsN Malang 3 menunjukan bahwa proses kegiatan pembelajaran dengan

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) KELAS VII SMP.. (SEKOLAH

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya partisipasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPS di kelas VII D SMP Negeri 19 Bandung. Indikator permasalahan

Pengaruh Penggunaan Variasi Model Pembelajaran Kurikulum 2013 Terhadap Ketercapaian Kompetensi Inti Pada Mata Pelajaran IPS Di SMP Negeri Kota

Melalui kegiatan ini telah dapat meningkatkan kemampuan guru IPS SMP se-Kota Bengkulu untuk (1) mengintegrasikan mata pelajaran IPS dengan TIK untuk implementasi Kurikulum 2013;

Melalui kegiatan ini telah dapat meningkatkan kemampuan guru IPS SMP se-Kota Bengkulu untuk (1) mengintegrasikan mata pelajaran IPS dengan TIK untuk implementasi Kurikulum 2013;