• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitas model pembelajaran contextual teaching

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "efektivitas model pembelajaran contextual teaching"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)

i

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) BERBASIS BUDAYA SUKU OSING TERHADAP

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII MTS AL HUDA PADA MATERI SEGIEMPAT

SKRIPSI

Disusun Oleh : Ninit Dwi Noviastuti

NIM. T20197041

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

MEI 2023

(2)

ii

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) BERBASIS BUDAYA SUKU OSING TERHADAP

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII MTS AL HUDA PADA MATERI SEGIEMPAT

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan S.Pd Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Program Tadris Matematika

Oleh:

Ninit Dwi Noviastuti NIM. T20197041

Disetujui Pembimbing:

AFIFAH NUR AINI, M.Pd.

NIP. 198911272019032008

(3)

iii

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) BERBASIS BUDAYA SUKU OSING TERHADAP

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII MTS AL HUDA PADA MATERI SEGIEMPAT

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan S.Pd

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Sains Program Stidi Tadris Matematika

Hari: Selasa Tanggal: 16 Mei 2023

Tim Penguji

Ketua Sekertaris

Dr. Indah Wahyuni, M.Pd Mohammad Mukhlis, M. Pd NIP. 19800306201102009 NIDN. 2003019102

Anggota:

1. Dr. Arif Djunaidi, M.Pd ( )

2. Afifah Nur Aini, M.Pd ( )

Menyetujui

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

(4)

iv

Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I.

NIP.196405111999032001 MOTTO













Artinya: Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-

‗Alaq:5).1

1 Saudi Arabia Kementrian Agama, ‗Al-Qur‘an Al-Karim Dan Terjemahannya‘, Komplek Percetakan Al Qur’anul Karim Kepunyaan Raja Fahd, 1971, p. 1281.

(5)

v

PERSEMBAHAN

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat serta karunianya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini peneliti persembahkan kepada:

1. Ayah tercinta Marsono dan Bunda tercinta Siyami Tutik yang senantiasa memberikan dukungan kepada peneliti melalui kasih sayang dan doa sehingga mepermudah peneliti dalam menyelesaikan pendidikan S1 dalam bidang matematika yang peneliti mimpikan. Sebagai bentuk terimakasih peneliti kepada ayah dan bunda peneliti persembahkan sedikit kenangan dalam bentuk tulisan sehingga ilmu yang peneliti tuangkan dalam bentuk tulisan juga akan mengalir pahalanya bagi ayah dan bunda.

2. Keluarga besar kakek sarip yang telah memberikan semangat serta hiburan kepada peneliti.

3. Keluarga besar matematika 2 angkatan 2019 yang selalu mendukung penulis dalam setiap prosesnya.

4. Lembaga serta guru dari MTs Al Huda Sukorejo Banyuwangi yang telah memeberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian sehingga peneliti memperoleh data-data yang dibutuhkan.

5. Almamater UIN KHAS JEMBER yang telah memberikan wadah bagi peneliti dalam menimba ilmu.

6. Seluruh guru yang mengajar peneliti dari jenjang pendidikan TK, MI, MTs, SMA yang telah memberikan segenap ilmunya.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM. selaku Rektor UIN KHAS Jember.

2. Prof. Dr. Hj. Mukni‘ah, M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KHAS Jember.

3. Ibu Dr. Indah Wahyuni, M.Pd, selaku ketua jurusan Pendidikan Sains atas segala nasehat serta bimbingannya.

4. Bapak Fikri Apriyono, S.Pd, M.Pd, selaku Koordinator Program Studi Tadris Matematika UIN KHAS Jember

5. Dosen Pembimbing Ibu Afifah Nur Aini yang telah memberikan pengayoman kepada penulis sebagai mahasiswa Tadris Matematika dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran.

6. Segenap Dosen dan seluruh Civitas Akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KHAS Jember yang telah memberikan pelayanan dengan baik secara administrasi.

(7)

vii

7. Kepala MTs Al Huda Bapak Susanto, M.Pd, yang telah memberikan izin kepada penulis, sekaligus membantu kelancaran proses penyusunan skripsi ini.

8. Guru Matematika serta siswa-siswi MTs Al Huda yang telah banyak membantu kelancaran selama penelitian.

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan skripsi ini.

Namun kesempurnaan bukanlah milik manusia, melainkan milik Allah SWT.

semata. Apabila terdapat kesalahan dan kekurangan, penulis mengharap kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Semoga segala kebaikan Bapak/Ibu yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah SWT.

Jember, 16 Mei 2023

Penulis

(8)

viii ABSTRAK

Ninit Dwi Noviastuti, 2023. Efektivitas Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Budaya Suku Osing Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Al Huda Pada Materi Segiempat.

Kata kunci: Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Budaya Suku Osing, Kemampuan Berpikir Kritis Siswa.

Kajian penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa Mts Al Huda dalam menyelesaikan soal cerita pada materi segiempat.

Kemampuan berpikir kritis dapat didefinisikan sebagai kemampuan berpikir secara reflektif atau terus menerus serta memiliki penjelasan dalam pengambilan keputusan dengan memperhatikan indikator interpretasi, analisis, evaluasi dan inferensi. Model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah model pembelajan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dikaitkan dengan budaya Suku Osing.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing di kelas eksperimen. Mengetahui kemampuan berpikir ktitis siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol di Mts Al Huda pada materi segiempat.

Mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen dan kelas kontrol siswa pada materi segiempat. Selain itu untuk mengetahui model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing efektif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII MTs Al Huda pada materi segiempat.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Desain yang digunkan adalah Posttest Only Control Group Design.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTs Al Huda. Dalam Pengambilan sampel digunkan teknik purposive sample dengan VII A sebagai kelas kontrol dan VII C sebagai kelas eksperimen.

Dari hasil Uji Independent sample t test diperoleh nilai Sig.(2-tailed) bernilai 0,006. Dimana nilai 0,006 < 0,05 maka H0 ditolak Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol. Hasil posttest diperoleh rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen 73,4615 lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis kelas kontrol yaitu 68,4896. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil rata-rata nilai posttest kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen lebih baik dari rata-rata nilai posttest kemampuan berpikir kritis kelas kontrol. Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing efektif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII Mts Al Huda pada materi segiempat.

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………...i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING………..ii

LEMBAR PENGESAHAN………..iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 12

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 14

F. Definisi Operasional ... 15

G. Asumsi Penelitian... 17

H. Hipotesis ... 17

I. Sistematika Pembahasan ... 18

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 20

A. Penelitian Terdahulu ... 20

B. Kajian Teori ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 44

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 44

B. Populasi dan Sampel ... 47

C. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data... 48

D. Analisis Data ... 56

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 60

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 60

(10)

x

B. Penyajian Data ... 60

C. Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 68

D. Pembahasan ... 78

BAB V PENUTUP ... 82

A. Kesimpulan ... 82

B. Saran-saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 92

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Variabel dan Indikator Penelitian ... ……….15

Tabel 2.1 Tabulasi Penelitian Terdahulu ... 23

Tabel 2.2 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis ... ……….35

Tabel 2.3 Sifat-sifat Persegi dan Persegi Panjang ... ……….38

Tabel 3.1 Skema Posttest Only Control Group Design ... 45

Tabel 3.2 Data Jumlah Siswa Kelas VII MTs Al Huda ... ……….47

Tabel 3.3 Kriteria Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis ... ……….51

Tabel 3.4 Skala Likert Lembar Validasi Instrumen ... ……….54

Tabel 3.5 Kriteria Penilaian Validsi Ahli ... ……….55

Tabel 3.6 Kategorisasi Koefisien Alpha Cronbach... 55

Tabel 3.7 Kriteria Kemampuan Berpikir Kritis Siswa ... ……….57

Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Pembelajaran di Kelas Eksperimen...……….61

Tabel 4.2 Uji F Homogenitas ... 65

Tabel 4.3 Perhitungan Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Validator Ahli……… ... ……….66

Tabel 4.4 Perhitungan Validasi Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Validator Ahli………… ... ……….67

Tabel 4.5 Perhitungan Uji Reliabilitas ... ……….68

Tabel 4.6 Statistik Deskriptif Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Eksperimen…………. ... ……….69

Tabel 4.7 Statistik Deskriptif Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Kontrol 70 Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Posttest Kolmogorov Smirnov…….72

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Nilai Posttest .. ……….74

Tabel 4.10 Hasil Uji Independent Sample T Test Posttest Kelas Eksperimen dan Posttest Kelas Kontrol ... ……….77

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Hasil Observasi Awal Kemampuan Berpikir Kritis Siswa...………...6 Gambar 3.1 Bagan Alur Penelitian ... ……….46 Gambar 4.1 Diagram Batang Presentase Posttest Kemampuan Berpikir Kritis

Kelas Eksperimen ... 69 Gambar 4.2 Diagram Batang Presentase Posttest Kemampuan Berpikir Kritis

Kelas Kontrol ... ……….71

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Matriks Penelitian ... ……….92

Lampiran 2. Intrumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 94

Lampiran 3. Instrumen kisi-kisi dan Soal Posttest ... ……….117

Lampiran 4. Lembar Dari Gambar Budaya Suku Osing ... ……….126

Lampiran 5. Lembar Validasi Instrumen RPP Validator ahli I ... 128

Lampiran 6. Lembar Validasi Instrumen RPP Validator ahli II...………...129

Lampiran 7. Lembar Validasi Instrumen RPP Validator ahli III..………...130

Lampiran 8. Lembar Validasi Instrumen Soal Posttest Validator ahli I……...131

Lampiran 9. Lembar Validasi Instrumen Soal Posttest Validator ahli II..……...132

Lampiran 10. Lembar Validasi Instrumen Soal Posttest Validator ahli III…….133

Lampiran 11. Daftar Nama Siswa Kelas Kontrol ... ……….134

Lampiran 12. Daftar Nama Siswa Kelas Eksperimen ... 135

Lampiran 13. Nilai UAS Semester Ganjil Kelas VII A dan VII C ……….136

Lampiran 14. Nilai Uji Reliabelitas Kelas VII B ... ……….138

Lampiran 15. Nilai Posttest Siswa Kelas Kontrol ... 139

Lampiran 16. Nilai Posttest Siswa Kelas Eksperimen ... ……….140

Lampiran 17. Perhitungan Uji Aiken Validasi Instrumen RPP . ……….141

Lampiran 18. Perhitungan Uji Aiken Validasi Instrumen Soal Posttest ... 142

Lampiran 19. Penelitian Jawaban Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Siswa...143

Lampiran 20. Surat Izin Penelitian... ……….145

Lampiran 21. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 146

Lampiran 22. Jurnal Kegiatan ... ……….147

Lampiran 23. Dokumentasi Penelitian ... 148

Lampiran 24. Biodata Penulis ... ……….149

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan metode yang telah direncanakan agar dapat melahirkan kondisi belajar dan proses pembelajaran sehingga siswa aktif mengembangkan bakat dalam diri siswa dengan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan yang mampu menopang pembentukan dimasa depan yaitu mampu meningkatkan potensi dalam diri seseorang, sehingga seseorang dapat menghadapi serta menyelesaikan masalah yang dihadapinya.2 Setiap manusia memiliki kemampuan dan potensi dalam dirinya, hal ini sesuai dengan potongan firman Allah (QS. Ar-Ra‘d:11):





















Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar- Ra‘d:11)

Maksudnya setiap manusia diciptakan dengan memiliki kelebihan dan potensinya masing-masing. Namun pengembangan potensi diri belum tentu secara otomatis tampak. Dalam mengembangkan potensi diri siswa dibutuhkan suatu pembelajaran yang tepat agar siswa belajar berpikir dalam menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik. Belajar berpikir mengutamakan kepada proses mencari serta menemukan informasi yang

2 Agus Kistian, Febry Fahreza, and Mulyadi, ‗Perbedaan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (Ctl) Dan Ekspositori Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Di Kelas Iv Sdn Peunaga Cut Ujong‘, Jurnal Tunas Bangsa, 7.1 (2020), 50–59

<https://doi.org/10.46244/tunasbangsa.v7i1.975>.

(15)

diperlukan dengan melakukan komunikasi antara siswa dengan alam sekitar, oleh karena itu tidak hanya sebatas informasi yang terkumpul melalui buku, akan tetapi mengutamakan potensi siswa untuk mendapatkan pengetahuannya sendiri (Self Regulated).3 Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2016 tentang standar proses, bahwasannya kegiatan belajar mengajar pada jenjang SD, SMP, dan SMA diharuskan lebih aktif, kreatif, tidak membosankan, memberikan tantangan, serta dorongan kepada siswa untuk ikut serta secara aktif dan memberikan peluang untuk berinisiatif, kreatif, serta mandiri yang disesuaikan dengan bakat, keinginan, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Kemampuan berfikir kritis, logis, rasional dan lainnya dibutuhkan dalam mempelajari suatu ilmu terutama pada matematika.

Matematika adalah bagian ilmu pengetahuan yang memiliki peran penting dalam mengembangkan pendidikan, sehingga kegiatan mempelajari matematika merupakan kegiatan yang penting untuk diterapkan.4 Matematika menelaah berbagai macam obyek tak nampak atau abstrak, oleh karena itu banyak siswa yang menganggap pelajaran matematika sulit untuk dipelajari.

Sementara itu, pelajaran matematika penting dalam mengembangkan kemampuan bernalar siswa yang sering dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.5 Hal tersebut diharuskan karena mengingat pentingnya pemanfaatan penalaran

3 Saiful Bahri, ‗Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (Ctl) Tipe Inquiry Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis‘, Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 8.I (2017), 45–59.

4 Agus Kistian, Febry Fahreza, and Mulyadi.

5 Afifah Nur Aini, ‗PERAN ADVERSITY QUOTIENT DAN KETERAMPILAN BERPIKIR BERPIKIR KREATIF DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA‘, 2021.

(16)

dalam diri siswa pada saat mulai melaksanakan kegiatan pembelajaran, perubahan pendefinisian matematika diatas memiliki tujuan agar siswa mampu menemukan ide baru, dapat beradaptasi terhadap berbagai perubahan, menangani hal yang tidak pasti, menemukan keselarasan, dan menyelesaikan permasalahan yang tidak biasa.6 Mempelajari matematika salah satu kegiatan yang diwajibkan kepada siswa sejak duduk di bangku dasar. Pemberian pengetahuan ilmu matematika saat usia dini, diperlukan untuk membimbing siswa dalam berpikir, memberikan pendapat, melakukan negosiasi dan menyelesaikan masalah dalam kegiatan pembelajaran matematika ataupun dalam melakukan aktivitas di kehidupan sehari-hari.7 Ironisnya, seringkali siswa menganggap bahwa matematika merupakan ilmu yang menakutkan untuk dipelajari, dikarenakan dalam implementasinya terdapat kesulitan serta diperlukan proses dalam berpikir kritis dan dibutuhkan penalaran agar siswa dapat memahaminya.8 Dalam kegiatan pembelajaran dibutuhkan motivasi agar siswa dapat mendapatkan pengalaman baru dalam belajar.9 Maka dari itu diperlukannya inovasi pembelajaran matematika agar siswa dapat memahami ilmu matematika dengan baik.

6 Mohammaad Kholil and Fikri Apriyono, ‗Identifikasi Konsep Matematika Dalam Permainan Tradisional Di Kampung Belajar Tanoker Ledokombo Jember ‘, Indonesian Journal of Islamic Teaching, 1.1 (2018), 62–75.

7 Masrurotullaily, Hobri, and Suharto, ‗Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Keuangan Berdasarkan Model Polya Siswa SMK Negeri 6 Jember‘, Kadikma, 4.2 (2013), 129–38.

8 Indah Wahyuni and Endah Alfiana, ‗ANALISIS KEMAMPUAN EKSPLORASI MATEMATIS SISWA KELAS X PADA MATERI FUNGSI KOMPOSISI‘, Inspiramatika, 8.1 (2022).

9 Mohammad Kholil and Olvi Safianti, ‗Efektivitas Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Materi Barisan Dan Deret‘, Laplace : Jurnal Pendidikan Matematika, 2.2 (2019), 89–98 <https://doi.org/10.31537/laplace.v2i2.246>.

(17)

Pembelajaran matematika merupakan wadah yang dapat menghubungkan siswa dalam memahami disiplin ilmu lainnya.10 Hal ini memberikan motivasi untuk meningkatkan nilai hasil belajar siswa di sekolah.

Hal penting yang menjadi tujuan dari kegiatan pembelajaran pada materi matematika yaitu mengembangkan critical thinking sklills atau berpikir kritis.11 Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2016 tentang standar proses dan pentingnya pembelajaran matematika, maka meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah aspek penting yang perlu diimplementasikan kepada siswa.

Berpikir kritis merupakan proses berpikir secara terstruktur serta memberikan peran dalam pengambilan keputusan dalam memecahkan suatu permasalahan dengan menganalisis dan menginterprestasi data dalam aktivitas pemecahan masalah ilmiah.12 Kemampuan berpikir kritis diperlukan dalam membuat keputusan, menganalisis masalah, dan memecahkan sebuah permasalahan.13 Berpikir kritis juga dibutuhkan untuk membiasakan siswa berpikir secara kritis agar siswa selalu mengamati sebuah permasalahan dengan cermat.14 Berpikir kritis memiliki peran yang sangat penting dalam

10 J Sakdiah, R Salasi, and Y Yuhasriati, ‗Pembelajaran Geometri Melalui Contextual Teaching Learning (CTL) Berbasis Etnomatematika Di Kelas VII SMP N 1 Blangkejeren‘, Jurnal Ilmiah Mahasiswa , 4.20 (2019), 206–14 <http://www.jim.unsyiah.ac.id/pendidikan- matematika/article/view/10792>.

11 Muhammad Irfan Maulana, ‗EFEKTIVITAS MODEL CTL ( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ) BERBASIS ETNOMATEMATIKA TERHADAP‘, 2022.

12 A.B Susilo, ‗Pengembangan Model Pembelajaran Ipa Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Berpikir Kritis Siswa Smp‘, Journal of Primary Education, 1.1 (2012)

<https://doi.org/10.15294/jpe.v1i1.58>.

13 Novitasari Novitasari, Rahma Febriyanti, and Ika Aprillia Wulandari, ‗Efektivitas LKS Berbasis Etnomatematika Dengan Pendekatan STEM Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis‘, Vygotsky, 4.1 (2022), 57 <https://doi.org/10.30736/voj.v4i1.521>.

14 Maulana.

(18)

membangun peningkatan kemampuan siswa dalam menghadapi era globalisasi. Meskipun berpikir kritis sangat penting, pada kenyataannya siswa Indonesia belum mampu mengembangkan kemampuannya dengan baik.15 Oleh karena itu, siswa diharuskan berpikir kritis sejak usia dini, baik itu di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah, ataupun dalam lingkungan masyarakat.16 Adapun indikator dalam mengukur kemampuan berpikir kritis siswa diantaranya: interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi.17

Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan peneliti di MTs Al Huda, bahwasannya tidak semua proses pembelajaran yang telah dilakukan selalu berjalan mulus sehingga hasil dalam proses pembelajaran tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal tersebut dibuktikan dengan kemampuan berpikir kritis siswa MTs Al Huda yang tergolong rendah pada mata pelajaran matematika, salah satunya pada materi geometri segiempat dan segitiga.

Kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut meliputi: 1) siswa kurang mampu memahami permasalahan jika disajikan secara narasi, 2) siswa belum mampu menerapkan proses penyelesaian masalah dengan benar, 3) siswa kurang teliti dalam memeriksa ulang hasil. Hal ini berdasarkan kesalahan yang dilakukan dalam menyelesaikan soal cerita, sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan matematika

15 Mohammad Mukhlis, Dafik Dafik, and Hobri Hobri, ‗Student Critical Thinking in Solving Two Dimensional Armetics Problems Based on 21th Century Skills‘, International Journal of Advanced Engineering Research and Science, 5.4 (2018), 19–30

<https://doi.org/10.22161/ijaers.5.4.4>.

16 Ayu Chinintya Lestari and Anas Ma‘ruf Annizar, ‗Proses Berpikir Kritis Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah PISA Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Komputasi‘, Jurnal Kiprah, 8.1 (2020), 46–55 <https://doi.org/10.31629/kiprah.v8i1.2063>.

17 Zulfa Ulin Nuha, ‗Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Menyelesaikan Soal Matematika Pada Materi Garis Dan Sudut Kelas VII SMPN 1 Ngantru Kab. Tulungagung‘, 2017, 14–43.

(19)

tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukannya model pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa diantaranya yaitu dengan mengimplementasikan pembelajaran yang memiliki unsur kontekstual. Metode pembelajaran kontekstual yang dapat menyelesaikan permasalahan diatas adalah model pembelajaran CTL.

Gambar 1.1

Hasil Observasi Awal Kemampuan Berpikir Kritis Siswa CTL merupakan pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dengan cara menampilkan suatu keadaan atau kondisi nyata didalam kelas serta memberikan dorongan kepada siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kondisi nyata setelah dilakukan pengamatan di lingkungan sekitar.18 Pembelajaran ini penting, karena dengan menghubungkan materi pelajaran dengan kondisi yang ada di sekitar dapat memberikan makna yang berguna bagi siswa serta akan membekas erat pada ingatan siswa .19 Adapun tujuh komponen dari model pembelajaran CTL yaitu: konstruktivisme (contructivism), penemuan (inquiry), bertanya

18 Sakdiah, Salasi, and Yuhasriati.

19 Maulana.

(20)

(questioning), komunitas belajar (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian otentik (authentic assessment).20 Dengan menerapkan pembelajaran CTL dapat memberikan kemudahan guru dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran matematika. Melalui pembelajaran CTL mengkaitkan materi yang telah diajarkan oleh guru dengan situasi dalam dunia nyata dapat memberikan motivasi kepada siswa agar selalu berpikir kritis dalam menyelesaikan berbagai pengetahuan yang telah dimiliki kemudian diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.

Berdasarkan permasalahan diatas salah satu materi dalam ilmu matematika yang dapat mengaitkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan kehidupan sehari-hari adalah materi geometri. Geometri adalah kajian dari beberapa materi matematika di sekolah, beberapa materi SMP yang perlu dipahami oleh siswa sesuai dengan standart isi yang didalamnya tercantum kompetensi dasar berupa: hubungan antar garis, sudut, segitiga dan segiempat, Teorema Pythagoras, lingkaran, balok, kubus, limas, prisma dan jaring- jaringnya, kesebangunan dan kongruensi, bola, kerucut, dan tabung yang digunakan dalam menyelesaikan suatu permasalahan.21 Salah satu materi pelajaran yang dijadikan sebagai fokus penelitian ini adalah materi bangun datar segiempat. Segiempat adalah satu dari beberapa materi kajian geometri

20 Eka Sartika Pramono, ‗Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Dalam Upaya Meningkatkan Kreativitas Dan Berpikir Kritis Siswa Kelas X-9 Pokok Bahasan Bangun Ruang Di Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Padangsidimpuan‘, 2014.

21 Imam Sujadi, ‗Analisis Keterampilan Geometri Siswa Dalam Memecahkan Masalah Geometri Berdasarkan Tingkat Berpikir van Hiele‘, 2.1 (2014), 54–66.

(21)

pada mata pelajaran matematika.22 Didalamnya memuat bangun datar persegi, persegi panjang, layang-layang, belah ketupat, jajar genjang dan trapesium.

Manfaat mempelajari geometri yaitu dapat mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah, kemampuan menalar serta mempermudah mempelajari berbagai bermacam model matematika. Diantaranya mampu meningkakan potensi siswa dalam memecahkan masalah, menalar serta memahami bermacam-macam subjek matematika.23 Penerapan pembelajaran CTL yang dapat dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari menjadi jalan keluar yang tepat dalam meningkatkan kemampuuan berpikir kritis siswa pada materi geometri.

Materi Geometri adalah salah satu cabang dari ilmu matematika yang bertujuan untuk memberikan pengajaran kepada siswa agar dapat menguasai sifat dan hubungan dari unsur-unsur dalam geometri serta dapat menjadi penyelesaian pemecahan masalah dengan baik.24 Geometri memiliki peran penting dikarenakan beberapa alasan. Dimana hal ini memberikan cara untuk memrenungkan dan manafsirkan lingkungan nyata.25 Geometri sebagai cabang dari ilmu matematika yang telah dikenal manusia dari zaman nenek moyang.

Berkembangnya ilmu geometri tidak bisa lepas dari budaya dimana konsep

22 Nisa Sri Rahayu and Ekasatya Aldila Afriansyah, ‗Miskonsepsi Siswa SMP Pada Materi Bangun Datar Segiempat‘, Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika, 1.1 (2021), 17–32

<https://doi.org/10.31980/plusminus.v1i1.1023>.

23 M.T. Lipianto, D & Budiarto, ‗Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikaan Soal Yang Berhubungan Dengan Peersegi Dan Persegi Panang Berdasarkan Taksonomi Solo Plus Pada Kelas VIIj‘, Logaritma: Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Dan Sains, 7.01 (2019), 1.

24 Khusnul Safrina and Anizar Ahmad, ‗Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri Melalui Pembelajaran Kooperatif Berbasis Teori Van Hiele‘, 9–20.

25 A.N Aini and others, ‗Creative Thinking Level of Visual-Spatial Students on Geometry HOTS Problems Creative Thinking Level of Visual-Spatial Students on Geometry HOTS Problems‘, Journal of Physics: Conference Series, 2020 <https://doi.org/10.1088/1742-6596/1465/1/012054>.

(22)

tersebut berkembang.26 Agar suatu kebudayaan lokal tetap dapat dilestarikan maka diperlukan suatu ilmu yang dapat memuat konsep matematika dan kebudayaan daerah itu sendiri. Perpaduan antara ilmu matematika dan budaya lokal bisa disebut dengan ilmu etnomatematika.

Etnomatematika dapat diartikan sebagai ilmu matematika yang mempelajari penerapan matematika dan budaya dalam suatu kelompok tertentu.27 Melalui penerapan etnomatematika khususnya dalam bidang pendidikan matematika diharapakan dapat memberikan pemahaman lebih terkait materi matematika kepada siswa, serta pemahaman kebudayaan sekitar, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam budaya bangsa sudah ada dalam diri siswa sejak usia dini.28 Salah satu kebudayaan lokal yang dapat diterapkan dalam ilmu matematika adalah budaya suku osing. Suku osing merupakan salah satu suku yang berada di daerah Kabupaten Banyuwangi.29 Ada berbagai macam kebudayaan suku osing masih tetap dilestarikan oleh masyarakat banyuwangi diantaranya ada rumah adat suku osing, pakaian adat, busana tari, batik dan lain-lain. Konsep yang seperti ini disebut juga dengan pendekatan CTL berbasis etnomatematika terutama pada budaya suku osing.

26 Wilfridus Beda Nuba Dosinaeng and others, ‗Etnomatematika Untuk Siswa Sekolah Menengah:Eksplorasi Konsep-Konsep Geometri Pada Budaya Suku Boti‘, AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 9.3 (2020), 739

<https://doi.org/10.24127/ajpm.v9i3.2900>.

27 Astri Wahyuni and others, ‗Etnomatematika Dalam Ragam Hias Melayu‘, 3.2 (2017), 113–18.

28 Indah Wahyuni, ‗Eksplorasi Etnomatematika Masyarakat Pesisir Selatan Kecamatan Puger Kabupaten Jember‘, Fenomena, 15.2 (2016), 225–38.

29 Lita Khofifah, Titik Sugiarti, and Toto‘ Bara Setiawan, ‗Etnomatematika Karya Seni Batik Khas Suku Osing Banyuwangi Sebagai Bahan Lembar Kerja Siswa Materi Geometri Transformasi‘,

Kadikma, 9.3 (2018), 148–59

<https://jurnal.unej.ac.id/index.php/kadikma/article/view/11066/6702>.

(23)

Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis etnomatematika merupakan penerapan pembelajaran yang bersifat kontekstual yang dikaitkan dengan budaya lokal, bisa berupa permainan tradisional, rumah adat, kerajinan turun temurun maupun kebiasaan atau tingkah laku yang telah dilakukan berulang kali sampai saat ini. Manfaat dari etnomatematika dengan menerapkan pembelajaran pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah tercapainya hasil belajar secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran matematika.

Penelitian ini bukanlah penelitian yang pertama dilakukan, penelitian serupa dilakukan oleh Dita Agustya, dkk. dengan judul ―Efektivitas Pembelajaran Discovery Learning Berbasis Ethomathematics Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kritis Siswa‖.30 Penelitian lainnya oleh Arif Djunaidi, Fauzan, Saihan, Siti Dawiyah dengan judul ―Categorization Of Students Systematic Thinking In Solving A Decision Making Problem‖.31 Peneliti lainnya oleh Syahriani Sirait, dkk. dengan judul ―Pengaruh Model Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Etnomatematika Terhadap Kemampuan Literasi Numerasi Siswa‖.32

Berdasarkan permasalahan diatas, mengingat pentingnya pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat dan menarik bagi siswa, dimana kedua

30 dkk Agustya,Dita, ‗Efektivitas Pembelajaran Discovery Learning Berbasis Ethnomathematics Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kritis Siswa‘, 6 (2018), 140–52.

31 Arif Djunaidi and Siti Dawiyah Farichah, ‗Categorization Of Students‘ Systemic Thinking In Solving A Decision Making Problem‘, Journal of Positive School Psychology, 2022.8 (2022), 6497–6508 <http://journalppw.com>.

32 S Sirait and others, ‗Pengaruh Model Contextual Teaching and Learning (Ctl) Berbasis Etnomatematika Terhadap Kemampuan Literasi Numerasi Siswa‘, … Multi Disiplin Ilmu …, 2022, 1–8

<http://jurnal.una.ac.id/index.php/semnasmudi/article/view/2996%0Ahttp://jurnal.una.ac.id/index.

php/semnasmudi/article/download/2996/2255>.

(24)

hal tersebut dianggap akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, maka peneliti mengambil judul: ―Efektifitas Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Budaya Suku Osing Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Al Huda Pada Materi Segiempat‖.

B. Rumusan Masalah

Dibawah ini disajikan identifikasi rumusan masalah berdasarkan latar belakang dari permasalahan diatas:

1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing di kelas eksperimen?

2. Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol di MTs Al Huda pada materi segiempat?

3. Apakah ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol?

4. Apakah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing efektif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi segiempat?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran yang berkaitan dengan arah yang akan dijadikan sasaran dalam penelitian. Berikut penjelasan dari tujuan dilaksanakannya penelitian ini:

1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing di kelas eksperimen.

(25)

2. Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol di MTs Al Huda pada materi segiempat.

3. Untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen dan kelas kontrol siswa pada materi segiempat.

4. Untuk mengetahui model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing efektif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi segiempat.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian menjelaskan tentang peran serta peneliti setelah dilakukannya penelitian, dimana dalam hal ini manfaat dari penelitian dapat dibedakan menjadi manfaat praktis dan teoritis. Manfaat praktis berisi tentang peran serta peneliti yang dibagikan kepada siswa, guru, lembaga, penelitian, serta masyarakat umum. Sedangkan untuk manfaat teoritis berisi tentang peran serta peneliti yang digikan kepada pengembangan ilmu. Manfaat penelitian tersebut meliputi:

1. Manfaat Praktis a) Bagi siswa

Agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa lebih baik dengan diberikan perlakuan model pembelajaran CTL berbasis budaya suku osing khususnya pada materi segiempat. Selain itu dapat menambah pengalaman dalam kegiatan pembelajaran yang menarik dan bermakna untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis

(26)

siswa berdasarkan tujuan dari pembelajaran jenjang menengah pertama.

b) Bagi Guru

Dijadikan sebagai evaluasi bagi guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang menarik dan kreatif dalam pembelajaran matematika sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.

c) Bagi Sekolah

Menjadi nilai jual bagi lembaga karena dalam melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan metode yang menyenangkan yang akan membuat siswa lebih kreatif dan mandiri. Hal ini juga menjadikan lembaga pendidikan lebih maju dikarenakan tenaga pendidikan yang inovatif, sehingga secara tidak lagsung akan meningkatkan kualitas lembaga itu sendiri.

d) Bagi UIN KHAS Jember

Penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk akademik sebagai penambah serta pembangun wawasan bagi mahasiswa dalam mengerjakan pendidikan akhir atau skripsi.

e) Bagi Peneliti

Menambah wawasan serta pengalaman sebagai persiapan diri calon tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi, bertanggung jawab dalam menerapkan berbagai model pembelajaran yang efektif dan efisien untuk siswa.

(27)

2. Manfaat teoritis

a) Diharapkan dapat menambah karya dari hasil penelitian yang telah ada sebelumnya serta memberikan gambaran yang berkaitan dengan efektivitas model pembelajaran CTL berbasis budaya suku osing untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII MTs Al Huda pada materi segiempat sehingga Informasi ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam usaha meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar matematika siswa.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan objek penelitian yang menjadi acuan dalam melakukan penelitian dan dapat diobservasi atau diamati. Dalam hal ini terdapat satu variabel bebas dan satu varibel terikat.

a. Variabel bebas

Variabel bebas merupakan variabel berdiri sendiri (independent) atau dapat memberikan pengaruh terhadap variabel lain.33 Dalam hal ini meliputi model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing (X1).

b. Sedangkan variabel terikat adalah variabel dependen atau dapat diberikan pengaruh dari variabel bebas.34 Dalam hal ini meliputi kemampuan berpikir kritis siswa (Y1).

2. Indikator Variabel

33 Payadnya,dkk, ‗Panduan Penelitian Eksperimen beserta analisis statistik dengan SPSS‘,(2018).

34 Payadnya,dkk, ‗Panduan Penelitian Eksperimen beserta analisis statistik dengan SPSS‘,(2018).

(28)

Setelah terpenuhunya variabel dari penelitian maka selanjutnya adalah menjabarkan indikator-indikator dari setiap variabel penelitian Indikator tersebut digunakan sebagai dasar dalam membuat intrumen penelitian dan tes uraian.

Tabel 1.1

Variabel dan Indikator Penelitian

No. Variabel Indikator variabel

1. Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

(Sanjaya, 2010)

1. Kontruktivisme (constructivism) 2. Menemukan (inquiry)

3. Bertanya (question)

4. Masyarakat belajar (learning community)

5. Pemodelan (modelling) 6. Refleksi

7. Penilaian yang sebenarmya (aunthentic assessment)

2. Budaya suku osing 1. Rumah adat suku osing banyuwangi.

2. Busana tari gandrung suku osing banyuwangi

3. Batik khas suku osing banyuwangi

3. Kemampuan berpikir kritis (Facion,1994)

1. Interpretasi 2. Analisis 3. Evaluasi 4. Inferensi

3. Segiempat 1. Materi bangun datar persegi dan persegi panjang

F. Definisi Operasional

Untuk memberikan pemahaman pembaca terhadap definisi dari penelitian, maka diperlukan penjelasan terkait variabel dalam penelitian tersebut yang disajikan sebagai berikut:

(29)

1. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Model pembelajaran CTL adalah penerapan model pembelajaran di kelas yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa agar siswa lebih mudah memahami materi yang akan di capai dengan tujuh tahapan pembelajaran yaitu; Kontruktivisme (contruktivism), menemukan (inquiry), bertanya (question), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi, dan penilaian yang sebenarmya (aunthentic assessment).

2. Budaya Suku Osing

Budaya suku osing adalah suatu kebiasaan atau peninggalan yang tetap dilestarikan oleh masyarakat Suku Osing Banyuwangi. Fokus budaya suku osing pada penelitian ini adalah rumah adat, busana tari gandrung, dan batik.

3. Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir siswa secara reflektif atau terus menerus dan memiliki penjelasan dalam pengambilan keputusan dengan memperhatikan beberapa indikator yaitu interpretasi, analisis, evaluasi dan inferensi.

4. Segiempat

Materi bangun datar matematika yang dipelajadi pada jenjang SMP dengan memiliki empat sisi. Bangun datar segiempat memiliki berbagai macam bentuk diantaranya yaitu persegi, persegi panjang, layang-layang, belah ketupat, trapesium dan jajar genjang. Materi yang digunkan dalam

(30)

penelitian adalah segiempat yang berfokus pada sub bab materi persegi dan persegi panjang.

G. Asumsi Penelitian

Asumsi penelitian dapat didefinisikan sebagai anggapan dasar dari peneliti atau pemikiran awal terkait kebenaran yang diterima oleh peneliti.35 Peneliti setelah memaparkan masalah-masalah dengan detail, kemudian akan di hadapkan pada suatu permasalahan yang memiliki relasi yang luas. Dengan demikian, peneliti akan menyatakan beberapa asumsi atau anggapan. Ada beberapa asumsi yang terdapat pada peneltian ini, yaitu;

1. Skor yang diperoleh siswa dalam menjawab soal tes kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII MTs Al Huda pada materi segiempat mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.

2. Adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol.

3. Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII MTs Al Huda pada materi segiempat.

H. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang ada.36 Berikut penjelasan terkait hipotesis dari penelitian ini yaitu:

35 Agustina Nurul Islamiyah, EFEKTIVITAS PENGGUNAAN UNIT KEGIATAN BELAJAR MANDIRI DALAM MENGEMBANGKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIKIH MTS NEGERI 2 JEMBER, Pendidkan, 2022.

36 Islamiyah.

(31)

1. H0 = Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing tidak efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII MTs Al Huda pada materi segiempat.

2. Ha = Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis budaya suku osing efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII MTs Al Huda pada materi segiempat.

I. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan memberikan penjelasan terkait alur dari penelitian dimulai dari bab pertama yaitu pendahuluan sampai dengan bab ke lima yaitu penutup.37 Sistematika penyusunan hasil penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu awal, inti dan akhir. Setiap pembahasan dikelompokkan menjadi lima bab dengan setiap babnnya berisikan sub bab yang berkaitan tujuannya agar memermudah peneliti dalam menulis.

Sistematika dari pembahasan tersebut dapat disajikan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, pendahuluan berisikan sembilan sub bab pembahasan yaitu: (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) manfaat penelitian, (e) ruang lingkup, (f) definisi operasional, (g) asumsi penelitian, (h) hipotesis dan (i) sistematika pembahasan.

Bab II Kajian Pustaka, kajian pustaka berisikan dua sub bab pembahasan yaitu; (a) penelitian terdahulu dan (b) kajian teori.

37 Islamiyah.

(32)

Bab III Metode Penelitian, metode penelitian berisikan empat sub bab pembahasan yaitu; (a) pendekatan dan jenis penelitian, (b) populasi dan sampel, (c) teknik dan instrument pengumpulan data, dan (d) analisis data.

Bab IV Penyajian Data dan Analisis, penyajian data dan analisis berisikan empat sub bab pembahasan yaitu; (a) gambaran obyek penelitian, (b) penyajian data, (c) analisis dan pengujian hipotesis, dan (d) pembahasan.

Bab V Penutup, penutup berisikan dua sub bab pembahasan yaitu; (a) simpulan dan (b) saran-saran.

(33)

20 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

Pada penelitian ini, peneliti mencantumkan hasil penelitian terdahulu terkait dengan penelitian yang akan dilakukan yang kemudian diringkas.

Dengan melakukan langkah ini maka dapat dilihat penelitian yang relevan dan perbedaan penelitian yang akan dilakukan tentang ―Efektivitas Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Budaya Suku Osing Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Al Huda Pada Materi Segiempat‖ yaitu:

1. Penelitian oleh Vivi Puspita dan Ika Parma Dewi dengan judul

―Efektivitas E-LKPD berbasis Pendekatan Investigasi terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar‖. Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui pengaruh pendekatan investigasi matematika terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen.

Hasil dalam penelitian ini menyatakan bahwa E-LKPD berbasis pendekatan investigasi matematis berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis siswa.38

2. Penelitian oleh Muhammad Asroful Arif dengan judul ―Efektivitas Model Pembelajaran Problem Posing Menggunakan Modul Etnomatemika Untuk Meningkatkan Berpikir Kritis dan Etika Siswa di MTS Hasan Kafrawi

38 Vivi Puspita and Ika Parma Dewi, ‗Efektifitas E-LKPD Berbasis Pendekatan Investigasi Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis Siswa Sekolah Dasar‘, Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 5.1 (2021), 86–96 <https://doi.org/10.31004/cendekia.v5i1.456>.

(34)

Jepara‖. Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui model pembelajaran Problem Posing menggunka modul Etnomatematika efektif untuk meningkatkan berpikir kritis dan etika siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Oleh karena itu model pembelajaran problem posing menggunkan modul etnomatemika efektif untuk meningkatkan berpikir kritis dan etika siswa di MTS Hasan Kafrawi Jepara.39

3. Penelitian oleh Novitasari Novitasari, Rahma Febriyanti, dan Ika Aprilia Wulandari dengan judul ―Efektivitas LKS Berbasis Etnomatematika dengan Pendekatan STEM terhadap Kemampuan Berpikir Kritis‖. Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui efektivitas LKS untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi- eksperimental. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan LKS berbasis etnomatematika dengan pendekatan STEM efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.40

4. Penelitian oleh Umul Farida, Ferina Agustina, dan Husni Wakhyudin dengan judul ―Efektivitas Model Pembelajaran Scramble berbasis Kontekstual terhadap Kemampuan Berpikir Kritis IPS Siswa Kelas III SD Negeri Kebondalem 01 Batang‖. Pada penelitian ini bertujuan agar

39 Asroful Arif, ‗EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PPROBLEM POSING MENGGUNAKAN MODUL ETNOMATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN BERFIKIR KRITIS DAN ETIKA SISWA DI MTS HASAN KAFRAWI JEPARA‘, 2019.

40 Novitasari Novitasari, Rahma Febriyanti, and Ika Aprillia Wulandari, ‗Efektivitas LKS Berbasis Etnomatematika Dengan Pendekatan STEM Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis‘, Jurnal Pendidikan Matematika Dan Matematika, 4.1 (2022), 57–66.

(35)

kemampuan berpikir kritis IPS siswa setelah diberi model pembelajaran Scramble berbasis kontekstual tuntas diatas KKM yaitu dan lebih baik dari sebelumnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunkan Pre-Eksperimental Design. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Scramble berbasis kontekstual efektif terhadap kemampuan berpikir kritis IPS siswa kelas III SDN Kebondalem 01 Batang.41

5. Penelitian oleh Almahida Aureola Dywan dan Gamaliel Septian Airlanda dengan judul ―Efektivitas Model Pembelajaran Project Based Learning berbasis STEM dan Tidak berbasis STEM terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa‖. Pada penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan penggunaan model pembelajaran PBJL (Project Based Learning) berbasis STEM (Science, Technolgy, Engineering, Mathemathic) dan tidak berbasis STEM terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan Quasi Eksperimental dengan desain penelitian Non-equivalen Control Group Desain. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran PBJL berbasis STEM lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis kelas IV muatan pembelajaran IPA.42

41 Umul Farida, Ferina Agustini, and Husni Wakhyudin, ‗Efektivitas Model Pembelajaran Scramble Berbasis Kontekstual Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Ips Siswa Kelas Iii Sd Negeri Kebondalem 01 Batang‘, Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 1.3 (2017), 192

<https://doi.org/10.23887/jisd.v1i3.11840>.

42 Meliyana Aini, Dwi Swastanti Ridianingsih, and Indah Yunitasari, ‗Efektivitas Model Pembelajaran Project Based Learning (Pjbl) Berbasis Stemterhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa‘, Jurnal Kiprah Pendidikan, 1.4 (2022), 247–53 <https://doi.org/10.33578/kpd.v1i4.118>.

(36)

Tabel 2.1

Tabulasi Penelitian Terdahulu

No Penulis Judul Persamaan Perbedaan 1. Vivi Puspita

dan Ika Parma Dewi (2021)

Efektivitas E- LKPD berbasis Pendekatan Investigasi terdapat Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar

 Jenis penelitian quasi eksperimen .

 Materi Aljabar

 Subjek

penelitian 68 siswa Kelas V menggunakan teknik

purposive sampling.

2. Muhammad Asroful Arif (2019)

Efektivitas Model

Pembelajaran Problem Posing Menggunakan Modul

Etnomatemika Untuk

Meningkatkan Berpikir Kritis dan Etika Siswa di MTS Hasan Kafrawi Jepara

 Jenis penelitian eksperimen .

 Materi Bangun datar.

 Subjek

penelitian 90 siswa kelas VIII

menggunakan teknik Cluster Random

Sampling.

3. Novitasari Novitasari, Rahma Febriyanti, Ika Aprilia Wulandari (2022)

Efektivitas LKS berbasis

Etnomatematika dengan

Pendekatan STEM terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

 Materi Bangun datar

 Jenis penelitaian quasi- eksperimen tal

 Subjek

penelitian 60 siswa kelas IX.

 Materi bangun ruan sisi datar dan bangun ruang sisi lengkung 4. Umul

Farida, Ferina Agustini, dan Husni Wakhyudin (2017)

Efektivitas Model

Pembelajaran Scramble berbasis Kontekstual terhadap Kemampuan Berpikir Kritis IPS Siswa Kelas III SD Negeri

 Jenis penelitian eksperimen

 Subjek

penelitian 24 siswa

menggunkan teknik

sampling jenuh atau sensus.

 Materi IPS

(37)

No Penulis Judul Persamaan Perbedaan Kebondalem 01

Batang 5. Almahida

Aureola Dywan dan Gamaliel Septian Airlanda (2020)

Efektivitas Model

Pembelajaran Project Based Learning

berbasis STEM

dan tidak

berbasis STEM terhadap

Keterampilan Berpikir Kritis Siswa

 Jenis penelitian eksperimen tal

 Subjek

penelitian 32 siswa kelas eksperimen SD Negeri Dukuh 01 Salatiga dan 33 siswa kelas kontrol SD Negeri

Kecandran

 Materi IPA

B. Kajian Teori

Kajian teori berisikan teori-teori yang akan dicantumkan sebagai penambah informasi terkait tentang ―Efektifitas Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Budaya Suku Osing Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Al Huda Pada Materi Segiempat‖ yaitu:

1. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

a. Pengertian Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Syaiful Sagala (2005:87) didefinisikan sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang ditekankan untuk melibatkan siswa dalam proses menemukan makna dari suatu materi yang sedang dipelajari serta mampu menghubungkan materi akademik dengan lingkungan sekitar yang bertujuan untuk merasakan manfaat dari materi yang telah

(38)

dipelajari serta menerapkannya dalam melakukan aktivitas sehari- hari.43

b. Prinsip-prinsip Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Model pembelajaran kontekstual memiliki beberapa prinsip dasar. Menurut Johnson (2002:26) prinsip dari model pembelajaran CTL dibagi atas tiga bagian yang disajikan sebagai berikut:44

a) Prinsip Ketergantungan (Interdepedence), yang artinya bahwa segala komponen pembelajaran dengan komponan yang lainnay memiliki pengaruh fungsional satu sama lain.

b) Prinsip diferensiasi (Differentiation), yaitu berbagai macam realitas kehidupan memberikan motivasi siswa untuk bepikir kritis menemukan keterkaitan diantara etnis-etnis yang beranekaragam.

c) Prinsip pengaturan diri (Self-Organization), artinya suatu prinsip yang memberikan motivasi kepada siswa agar mengelarkan potensi yang ada pada diri sendiri.

c. Karakteristik Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Adapun beberapa karakteristik dari model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Blanchard (2001:2-8) disajikan sebagai berikut:45

43 Mahsudi and Fatimah Azzahro, Contextual Teaching and Leraning, ed. by Mukni;ah, 01 edn (Lumajang: LK3DI Press, 2020).

44 Mahsudi and Azzahro.

45 Mahsudi and Azzahro.

(39)

a) Relies on spatial memory artinya bersandar pada memori mengenai ruang

b) Typically integrated multiple subjects atinya mengintegrasi berbagai subjek materi atau disiplin

c) Value of information is based on individual need artinya nilai informasi berdasarkan kebutuhan siswa

d) Relates information with prior knowledge artinya menghubungkan informasi dengan pengetahuan awal siswa

e) Authentic assessment throught practical application or solving of realistic problem artinya penelilaian sebenarnya melalui pemecahan masalah nyata.

d. Komponen Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Tujuh komponen dari model Contextual Teaching and Learing (CTL) menurut Sanjaya (2010: 260) yaitu kontruktivisme (conotructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).46

a. Kontruktivisme (Constructivism)

Kontruktivisme dapat didefinisikan suatu pengembangan pola pikir siswa yang akan melakukan pembelajaran lebih

46 Mahsudi and Azzahro.

(40)

memiliki makna dengan cara bekerja secara individu, mencari serta mengkontruksikan informasi dan keahlian yang baru dipelajarinya sendiri.

b. Menemukan (Inquiry)

Penemuan merupakan suatu proses pembelajaran dilandasi oleh kegiatan berpikir untuk menemukan sesuatu hal dengan pola pikir sistematis dari kegiatan mengamati menadi informasi yang dapat dipahami siswa sehingga secara tidak langsung siswa belajar untuk berfikir secara lebih kritis.

c. Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan pengembangan sifat keingintahuan yang dimiliki siswa dengan penyampaian melalui interaksi aktif pada kegiatan tanya jawab dari semua unsur yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran. Penerapan kegiatan tanya jawab di kelas membuat suasana lebih hidup dan memberikan proses serta hasil pembelajaran luas dan mendalam.

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar merupakan kegiatan bekerja sama dengan siswa lain yang bertujuan untuk memperoleh hasil dari permasalahan yang telah ditentukan. Kegiatan pembelajaran kontekstual dalam pelaksanaannya melakukan kegiatan pembelajaran berkelompok dengan anggotanya dipilih oleh guru secara heterogen. Siswa yang memiliki nilai diatas rata-rata

(41)

mengajari siswa yang memiliki rata-rata rendah, yang sudah tahu memberitahu yang belum tahu, dan seterusnya.

e. Pemodelan (Modelling)

Pemodelan merupakan kegiatan yang dilakukan guru sebagai model memberikan contoh yang benar untuk ditiru siswa.

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh guru di dalam kelas, siswa akan memandang guru sebagai modelnya. Ketika guru mempu menyelesaikan sesuatu, maka siswa berfikir juga mampu menyelsaikannya.

f. Refleksi (Refleksion)

Refleksi adalah usaha guru untuk untuk melihat, mengkoordinir, analisis, klarifikasi serta evaluasi yang telah dilakukan siswa dalam kegiatan belajar. Penerapannya dilakukan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran dengan cara siswa melakukan refleksi berupa kegiatan: pernyataan secara langsung berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh siswa dalam kegiatan belajar, dapat berupa catatan serta jurnal yang ditulis siswa, serta kesan ataupun kesan dari kegiatan belajar, diskusi dan karya siswa.

g. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)

Penilaian otentik yaitu kegiatan mengumpukan data dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan untuk melihat perkembangan belajar siswa. Hasil dari kegiatan pembelajaran

(42)

dapat diperoleh dari data hasil tes tulis tulis, catatan praktikum, karya siswa, hasil presentasi dalam kertas jawaban siswa.

2. Budaya Suku Osing

a. Asal Usul Budaya Suku Osing

Dalam tulisannya Lekkerkerker (1923:1031) kepribadian, bahasa, serta adat dari orang osing berbeda dari orang jawa lainnya.

Orang-orang ini beranggapan bahwa dirinya merupakan orang Jawa pedesaan tahun 1970. Orang-orang jawa ini disebut dengan wong Jawa Using artinya orang jawa yang menggunkan bahasa Using untuk berkomunikasi.47 Suku osing merupakan suku asli banyuwangi yang banyak mendiami dibeberapa daerah Kabupaten Banyuwangi diantaranya Kecamatan Kabat, Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Licin dan Kecamatan Glagah. Mayoritas mata pencarian dari masyarakat osing yaitu petani hal ini dikarenakan melimpahnya sumber mata airnya. Salah satu yang dipegang teguh sampai sekarang oleh masyarkat osing yaitu adat serta tradisi dari nenek moyang.48 b. Rumah Adat Suku Osing

Rumah Adat Suku Osing memiliki konsep bangunan yang dilandasi dari tradisi, potensi budaya serta aktivitas masyarakatnya, oleh karena itu rumah adat suku osing harmonis dengan alam disekitarnya. Atap rumah adat Suku Osing terbagi menjadi tiga

47 Andhika Wahyudiono, ‗Kajian Bahasa Osing Dalam Moderenitas‘, 2018, 71–86.

48 Jurusan Sejarah and others, ‗E-Journal Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Ganesha KEMIREN SEBAGAI MEDIA PEBELAJARAN SOSIOLOGI e-Journal Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Ganesha‘, 2 (2020), 180–89.

(43)

bentuk dyaitu Baresan, Tikel dan Corocogan. Bentuk dari atap ini dahulu memiliki makna kesetaraan social masyarakat osing. Bahan untuk kerangka utama dan dinding pada rumah adat suku osing bebahan kayu bendo. Penutup dinding menggunkan anyaman bambu dengan mengikatkannya menggunkan tampar dari pohon sabut agar tidak mudah lepas.49

c. Busana Tari Gandrung

Tari Gandrung merupakan salah satu seni tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi. Unsur yang mendukung dalam pertunjukkan seni tari gandrung diantaranya musik, penari, nyanyian, alat musik, gerakan tari, panggung dan busana tari gandrung.50

Salah satu unsur yang menjadi pusat perhatian adalah dari busana yang digunkan oleh penari gandrung. Busana tari gandrun memiliki keindahan jika dibandingkan dengan busana tari seblang. Hal tersebut dikarenakan sifat yang dari tarian tersebut memiliki tujuan untuk menghibur dan pergaulan. Busana tari gandrung terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian kepala, bagian badan, dan bagian kaki. Hal lain yang menjadi pelengkap dari busana tari gandrung yaitu kipas, gelang, kelat bahu, omprok, dan oncer.

Omprok digunakan oleh penari pada bagian kepala dibuat dari kulit sapi ataupun kulit kerbau yang kemudian diukir dan diberi

49 Pricillia Yolanda Wijaya and others, ‗D164 - STUDI RUMAH ADAT SUKU OSING BANYUWANGI JAWA TIMUR‘, 2017, 117–23.

50 Siti Munawaroh, ‗Gandrung Seni Pertunjukan Di Banyuwangi‘, Jantra: Jurnal Sejarah Dan Budaya, II.4 (2007), 253–60 <https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbyogyakarta/wp- content/uploads/sites/24/2014/06/Jantra_Vol._II_No._4_Desember_2007.pdf#page=46>.

(44)

pewarna yang menarik serta mencolok ditambahkan dengan permata buatan. Pada bagian badan menggukan kain batik dengan motif gajah uling berlatar putih. Penggunaan kain batik dengan cara menutupkan bagian perut sampai dengan bagian kaki secara ketat pada bagian pinggul. Gunakan sabuk dari logam keemasan atau disebut dengan pendhing untuk mengikat. Kemudian pada bagian dada ditutupi dengan pakain hitam berbentuk menyerupai kutang yang disebut dengan uthuk. Uthuk berbentuk segitiga dengan bagian leher ditutupi dengan kaian berbentuk segiempat atau ilat-ilat dari bahan beludru bersulam manik-manik. Penari juga menggunkan selendang yang menutupi bagian bahu menjuntai kebawah sampai dengan mata kaki.

Bagian kaki para penari gandrung menggunkan kaos kaki dengan warna putih dengan panjang sampai lutut. Selanjutnya untuk kelat digunkan pada pangkal lengan kedua tangan terbuat dari bahan kulit sapi dengan ukiran atau bisa menggunkan bahan dari kain beluduru.

Gelang digunkan pada tangan terbuat dari bahan kain beludru. Oncer digunkan dengan mengikatkannya pada pinggang terbuat dari berwarna putih, hijau, dan merah. Sembong digunkan dengan mengikat pada pinggang sampai dengan pinggul terbuat dari kain beludru. Kipas digunkan pada saat tarian adeganjejer.51

51 Santhet and Nomor.

Gambar

Gambar 1.1 Hasil Observasi Awal Kemampuan Berpikir Kritis Siswa...………...6  Gambar 3.1 Bagan Alur Penelitian .........................................
Gambar 3.1  Bagan Alur Penelitian Iya
Tabel 4.2  Uji F Homogenitas  Independent Samples Test
Gambar  diatas  merupakan  gambar  dari  dinding  Rumah  Adat  Suku  Osing  Banyuwangi  yang  terkenal  dengan  kebudayaanya  yang  tetap  dilestarikan  oleh  masyarakat  suku  osing,  maka  dari  itu  rumah  tersebut  diberi  nama  rumah  adat  suku  osin
+2

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Hal serupa juga didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran CTL berbantuan media lingkungan sekitar ternyata

Manfaat Teoritis dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dari segi informasi dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya

Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi yang dapat dijadikan rujukan bagi upaya pengembangan ilmu yang berkaitan, dan juga dapat

Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Koneksi

Hasil penelitian eksperimen yang telah dilaksanakan pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbantuan

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, belum ada penelitian yang dilakukan untuk model pembelajaran CTL terhadap konsep Energi dan Perubahannya, sehingga peneliti melakukan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Contextual Teaching and Learning CTL dan kemampuan awal terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik

Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan tentang efektivitas Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan