• Tidak ada hasil yang ditemukan

FullBookPerancanganPerkerasanJalan

N/A
N/A
obing suhaeri

Academic year: 2023

Membagikan "FullBookPerancanganPerkerasanJalan"

Copied!
240
0
0

Teks penuh

Sejarah Dan Jenis Konstruksi Perkerasan Jalan

Jenis Konstruksi Perkerasan Jalan

  • Konstruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
  • Komponen Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) Terdiri Atas: . 6

Konstruksi perkerasan lentur adalah perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan lapisan perkerasan tersebut memikul dan mendistribusikan beban lalu lintas ke tanah dasar. Lapisan aspal bawah pondasi beton (LOWER LASTON) pada umumnya merupakan lapisan perkerasan yang diletakkan diantara lapisan pondasi dan tanah dasar jalan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan pada suhu tertentu.

Gambar 1.2: Konstruksi perkerasan lentur (Flexible Pavement) (Dinaas  Pekerjaan umum dan penataan Ruang, 2014)
Gambar 1.2: Konstruksi perkerasan lentur (Flexible Pavement) (Dinaas Pekerjaan umum dan penataan Ruang, 2014)

Konstruksi Perkerasan Kaku (Rigit Pavement)

Saat ini, jenis perkerasan beton semen yang populer dan banyak digunakan di negara-negara maju adalah jenis perkerasan beton bertulang kontinu. Untuk menentukan beban lalu lintas rencana pada perkerasan beton semen dinyatakan dalam jumlah gandar kendaraan niaga menurut konfigurasi gandar pada jalur rencana selama umur rencana.

Konstruksi Perkerasan Komposit (Composite Pavement)

Lapisan perkerasan jalan berfungsi menyerap beban lalu lintas dan mendistribusikannya ke lapisan di bawahnya serta lapisan tanah di bawahnya. Berikut berbagai definisi lalu lintas harian (volume lalu lintas), dengan asumsi jalan fleksibel, berdasarkan metode analisis komponen Bina Marga (Departemen Pekerjaan Umum, 1989).

Gambar 1.5: Konstruksi Perkerasan Komposit (Perkerasan Komposit)  (KemenPUPR, 2017)
Gambar 1.5: Konstruksi Perkerasan Komposit (Perkerasan Komposit) (KemenPUPR, 2017)

Jenis Dan Fungsi Lapis Perkerasan

Jenis Lapis Perkerasan Lentur

Lapisan pondasi atas merupakan bagian tekanan yang terletak antara lapisan pondasi bawah dan lapisan permukaan. Lapisan dasar bawah adalah bagian perkerasan yang terletak di antara lapisan dasar atas dan alas.

Gambar 2.2: Gambar Struktur Lapisan Perkerasan
Gambar 2.2: Gambar Struktur Lapisan Perkerasan

Tanah Dasar (Subgrade)

Karakteristik Perkerasan Lentur

Stabilitas

Dalam kondisi seperti ini diperlukan struktur perkerasan jalan dengan stabilitas yang tinggi dibandingkan jalan yang hanya melayani kendaraan biasa.

Durabilitas

Kelenturan (Flexibility)

Tahanan Geser (Skid Resistance)

Kedap Air

Kemudahan Dalam Pekerjaan (Workability)

Ketahanan Leleh (Fatiquae Resistance)

Material Perkerasan

Jenis Lapis Perkerasan Kaku

  • Struktur Perkerasan Kaku
  • Kapasitas Konstruksi Perkerasan Kaku
  • Pengaruh Bahu Konstruksi Perkerasan Kaku

Paving kaku kontinu dengan perkuatan merupakan pelat dengan perkuatan yang banyak tanpa sambungan susut. Retakan garis rambut terjadi pada perkerasan kaku yang menerus dengan perkuatan, namun tidak menimbulkan masalah terhadap kinerjanya.

Gambar 2. 4: Ilustrasi ekivalensi struktur perkerasan kaku dan perkerasan  lentur
Gambar 2. 4: Ilustrasi ekivalensi struktur perkerasan kaku dan perkerasan lentur

Perkerasan Komposit

Pada tahun 2010, perkerasan kaku prefabrikasi pratekan dipasang di Jalan Tol Kanci-Pejagan (Provinsi Jawa Barat-Jawa Tengah) di Indonesia. Prefabrikasi dan pratekan yang dilakukan di sini serupa dengan jalan pratekan pracetak yang dilakukan pada ruas tol Kanci – Pejagan, dimana juga dilakukan pemasangan pelat di seberang jalan.

Fungsi Lapis Perkerasan

  • Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
  • Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
  • Lapisan Pondasi Atas (Base Course)
  • Lapisan Permukaan (Surface Course)
  • Lapisan Perkerasan Kaku

Beban lalu lintas pada lajur yang direncanakan dinyatakan dalam beban gandar standar kumulatif (ESA) dengan memperhatikan faktor distribusi arah (DD) dan faktor distribusi lajur kendaraan niaga (DL). Pada saat merancang perkerasan jalan untuk beban lalu lintas diubah menjadi beban standar (ESA) dengan menggunakan Faktor Beban Ekuivalen (Faktor Kerusakan Kendaraan).

Bahan-Bahan Pembentuk Perkerasan Jalan

Bahan Pembentuk Perkerasan Jalan

Perkerasan jalan fleksibel adalah perkerasan jalan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan lapisan perkerasan tersebut mampu memikul dan mendistribusikan beban lalu lintas ke lapisan tanah bawah. Perkerasan beton semen atau perkerasan padat, terdiri dari pelat beton semen, dengan atau tanpa tanah dasar, di atas tanah dasar.

Bahan Jalan

  • Klasifikasi Tanah
  • Agregat
  • Bitumen
  • Bahan Pengisi (Filler)
  • Bahan Tambah (Additive)

Kerikil diperoleh dari hasil erosi alami batuan, dengan dimensi lebih besar dari pasir, yang dianggap disimpan No. 4 atau ¼". Dari angka 8 sampai dengan angka 30 berada di tengah-tengah angka 16, sehingga pelaksanaan ketentuan tersebut di atas tetap penting karena dari angka 8 sampai dengan angka 16 adalah 10% dan dari angka 16 sampai dengan angka 30. adalah 10%, jika ditambah maka menjadi 20%. Aspal Cair Pengawetan Cepat Aspal cair jenis ini diperoleh dengan cara meleburkan aspal padat dengan bensin.

Tabel 3.2: Klasifikasi Tanah
Tabel 3.2: Klasifikasi Tanah

Bahan Pekerjaan Beton

  • Agregat
  • Semen Portland
  • Air
  • Baja Tulangan
  • Baja Struktur
  • Bahan Additive

Volume lalu lintas merupakan masukan penting untuk menghitung rencana beban lalu lintas yang ditanggung oleh lapisan perkerasan selama umur rencana. Beban lalu lintas merupakan nilai kumulatif beban gandar standar (ESA) yang melewati jalur rencana. Perancangan ini bertujuan untuk memperoleh ketebalan perkerasan yang mampu menerima beban lalu lintas di atasnya.

Tabel 3.3: Syarat-syarat baja struktur sangat tergantung jenis dan proses  pembuatannya:
Tabel 3.3: Syarat-syarat baja struktur sangat tergantung jenis dan proses pembuatannya:

Tahapan Pembangunan Jalan

Penggunaan Alat Light Weight Deflectometer (Lwd) Sebagai Alat Untuk

Dalam penelitian ini perlu dilakukan observasi visual kemudian dilakukan analisa indeks kondisi perkerasan yaitu tingkat kondisi permukaan perkerasan untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi pada lokasi penelitian diatas berdasarkan umur rencana. Analisis indeks kondisi perkerasan dilakukan dengan menggunakan alat Light Weight Deflectometer (LWD) untuk mengetahui lendutan yang terjadi pada bagian tersebut. Namun saat ini alat LWD (Light Weight Deflectometer) biasanya digunakan untuk mengetahui besarnya defleksi yang terjadi pada permukaan jalan.

Perkerasan Lentur Jalan

Langkah awal yang harus diikuti dalam sistem manajemen mutu adalah memahami isi standar mutu (Singh & Shoura, 1999; Mc Cambridge & Tucker, 1998). Keandalan alat, buku petunjuk alat dan spesifikasi alat juga menjadi faktor yang mempengaruhi penerapan standar mutu (Kini, 1999). Beberapa penyimpangan yang sering terjadi dalam penerapan baku mutu jalan (Mulyono & Riyanto, 2005) adalah: (i) penyimpangan metode pelaksanaan; (ii) penyimpangan dari desain; (iii) penyimpangan dari spesifikasi teknis bahan;

Gambar 4.1: Struktur perkerasan lentur (Ali N. dkk., 2010)
Gambar 4.1: Struktur perkerasan lentur (Ali N. dkk., 2010)

Konstruksi Tanah Dasar

  • Modulus Reaksi Tanah
  • Tegangan Pada Subgrade

Daya dukung atau kapasitas dasar pada struktur perkerasan kaku yang umum digunakan adalah CBR yang nilainya dikorelasikan dengan modulus reaksi (k) tanah dasar. Modulus reaksi tanah dasar merupakan perkiraan kapasitas menahan beban lapisan di bawah pelat beton pada struktur perkerasan kaku. Modulus reaksi bawah permukaan pertama kali dikembangkan oleh Westergaard pada tahun 1920 dan menyatakan nilai k sebagai konstanta pegas pada model tumpuan atau tumpuan di bawah pelat beton, seperti terlihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.2: Hubungan antara CBR dengan modulus reaksi tanah dasar (Pd  T-14-2003)
Gambar 4.2: Hubungan antara CBR dengan modulus reaksi tanah dasar (Pd T-14-2003)

Dari hasil survei volume lalu lintas terlihat bahwa rata-rata lalu lintas harian (LHR) untuk setiap jenis kendaraan ditentukan pada awal umur rencana. Penentuan volume lalu lintas puncak dan lalu lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) mengacu pada Manual Kinerja Jalan Indonesia (MKJI). LR = faktor pengganda pertumbuhan lalu lintas kumulatif i = tingkat pertumbuhan lalu lintas tahunan (%) UR = umur rencana (tahun).

Parameter Perencanaan Tebal Lapisan Konstruksi Perkerasan

Parameter Kinerja Perkerasan

  • Umur Rencana
  • Tingkat Layanan (Serviceability)

Durasi atau umur rencana perkerasan dan tingkat pelayanan berkaitan erat dengan aspek ekonomi desain jalan. Dalam Manual Perancangan Perkerasan Jalan, umur rencana perkerasan baru dapat diringkas seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.1. Dalam menentukan indeks permukaan menurut umur rencana akhir atau indeks permukaan akhir (IPt), klasifikasi fungsional jalan juga diperhitungkan, sebagaimana ditunjukkan pada tabel 5.2 di bawah ini.

Tabel 5.1: Umur Rencana (UR) Beberapa Jenis Perkerasan Jalan Baru  Jenis
Tabel 5.1: Umur Rencana (UR) Beberapa Jenis Perkerasan Jalan Baru Jenis

Parameter Pembebanan Lalulintas

  • Ekuivalensi Pembebanan
  • Lalu Lintas Harian Rata-Rata (Lhr) Dan Lintas Ekuivalen
  • Distribusi Kendaraan Pada Jalur Rencana

Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah jumlah rata-rata kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tercatat selama 24 jam per hari untuk kedua arah. Lalu lintas harian rata-rata pada akhir umur rencana lalu lintas adalah jumlah waktu dalam tahun yang dihitung sejak jalan dibuka sampai diperlukan perbaikan besar atau diperlukan permukaan jalan baru. Lajur rencana merupakan salah satu lajur pada suatu ruas jalan raya yang menerima lalu lintas terbanyak.

Tabel 5.4: Jumlah Jalur Berdasarkan Lebar Perkerasan  Lebar Perkerasan (L)  Jumlah Jalur (n)
Tabel 5.4: Jumlah Jalur Berdasarkan Lebar Perkerasan Lebar Perkerasan (L) Jumlah Jalur (n)

Parameter Sifat Bahan

  • Sifat Bahan Tanah Dasar
  • Sifat Bahan Pengikat

Pada analisis komponen tahun 1989, hasil penelitian CBR digunakan untuk menentukan daya dukung lapisan tanah bawah (DDT) berdasarkan grafik korelasi antara CBR lapisan tanah bawah dengan DDT atau melalui persamaan hubungan antara CBR dan DDT. Nilai DDT yang diperoleh melalui nomogram akan menentukan ketebalan tanah dasar di atas tanah dasar. Selain Mr, tanah dasar juga dapat diperkirakan dari hasil atau nilai uji CBR standar dan indeks tanah.

Parameter Lingkungan

R : pengganda pertumbuhan lalu lintas kumulatif, i1 : pertumbuhan lalu lintas tahunan periode 1 (%), i2 : pertumbuhan lalu lintas tahunan periode 2 (%), UR : umur rencana (tahun). Berdasarkan Pd T-14-2003 diketahui perencanaan perkerasan kaku menggunakan beban lalu lintas rencana dengan gandar kendaraan (kelompok gandar untuk kendaraan berat), sedangkan perkerasan lentur menggunakan gandar kendaraan ESA (gandar standar setara). Beban lalu lintas dapat dihitung dengan melakukan survei beban gandar kendaraan untuk mendapatkan nilai ESA yang akurat.

Tabel 5.8 Koefisien drainase (m) sebagai modifier untuk koefisien kekuatan  relatif material pondasi jalan pada perkerasan lentur (Departemen Permukiman
Tabel 5.8 Koefisien drainase (m) sebagai modifier untuk koefisien kekuatan relatif material pondasi jalan pada perkerasan lentur (Departemen Permukiman

Perencanaan Metoda Campuran

Pemeriksaan Karakteristik Agregat

Pengujian dan cara pengujian agregat kasar dan agregat halus yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6.1 yaitu analisis ayakan, berat jenis dan serapan air, kadar lumpur, keausan agregat kasar menggunakan mesin Los Angeles, indeks kerataan dan Pasir. Setara. Cara pengujian dan persyaratan pengujian karakteristik semen menggunakan standar SNI, dimana metode karakterisasi semen yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 6.2. Berdasarkan SNI, standar pengujian sifat fisik dan sifat mekanik semen terdiri dari berbagai pengujian yaitu kadar air, kehalusan, pengembangan, kuat tekan pada umur 3, 7 dan 28 hari, waktu pengerasan dengan menggunakan uji Vicat (pengerasan awal dan pengerasan akhir). ) dan waktu pengaturan yang salah.

Tabel 6.1: Metode pengujian karakteristik agregat
Tabel 6.1: Metode pengujian karakteristik agregat

Pengujian Karakteristik Material Campuran Aspal

Penentuan Proporsi Agregat

Pengujian Karakteristik Campuran Ac-Wc

Pengurangan biaya siklus hidup untuk tekanan kaku yang lebih rendah hanya dapat dilakukan dengan beban lalu lintas kendaraan > 30 juta ESA. Beban lalu lintas diubah menjadi nilai rata-rata kumulatif beban standar ESA (Equivalent Standard Axle) untuk setiap lintasan selama umur rencana. Ketebalan perkerasan jalan dua jalur, data lalu lintas tahun 2020 seperti dibawah ini, durasi rencana: a).

Gambar 6.1: Hubungan kadar aspal terhadap parameter Marshall
Gambar 6.1: Hubungan kadar aspal terhadap parameter Marshall

Perancangan Tebal Perkerasan

Metode Analisis Komponen

  • Perencanaan Jalan Baru
  • Pelapisan Tambahan
  • Konstruksi Bertahap

Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melewati satu titik pengamatan pada suatu jalur jalan dalam satu satuan waktu. Indeks permukaan (IP) ini menunjukkan nilai kerataan/kehalusan dan ketegasan permukaan yang berkaitan dengan tingkat pelayanan terhadap lalu lintas yang lewat. Kerusakan lokal (titik lemah) pada tahap pertama dapat diperbaiki dan direncanakan ulang berdasarkan data lalu lintas yang ada.

Tabel 7.1: Jumlah Lajur Berdasarkan Lebar Perkerasan  Lebar perkerasan (L), m  Jumlah Lajur
Tabel 7.1: Jumlah Lajur Berdasarkan Lebar Perkerasan Lebar perkerasan (L), m Jumlah Lajur

Metode Manual Desain Perkerasan 2017

  • Tentukan Umur Rencana
  • Tentukan Nilai Nilai Esa4 Dan Atau Esa5 Sesuai Umur Rencana
  • Tentukan Tipe Perkerasan
  • Tentukan Segmen Tanah Dasar Dengan Daya Dukung Seragam . 123
  • Tentukan Struktur Perkerasan Yang Memenuhi Syarat

Elemen penting dalam analisis struktur perkerasan adalah data lalu lintas yang diperlukan untuk menghitung beban lalu lintas rencana yang akan ditanggung oleh perkerasan selama umur rencana. Faktor penyebaran lajur (DL) merupakan perbandingan lalu lintas kendaraan niaga terhadap populasi kendaraan niaga pada setiap lajur. Struktur perkerasan dibuat untuk menahan beban lalu lintas selama masa pelayanan tanpa memerlukan lapisan tambahan di antaranya.

Tabel 7.11: Umur Rencana Perkerasan Jalan Baru (UR) (MDP 2017)  Jenis
Tabel 7.11: Umur Rencana Perkerasan Jalan Baru (UR) (MDP 2017) Jenis

Metoda Pelaksanaan Di Lapangan

Persiapan Sebelum Penghamparan

Misalnya, penghamparan campuran aspal di atas perkerasan yang mengalami retak aligator akan mengakibatkan munculnya retakan reflektif pada permukaannya. Penyebaran pada perkerasan yang belum dipadatkan dapat menyebabkan campuran aspal di atasnya menjadi tidak terpadatkan. Oleh karena itu, kesiapan permukaan perkerasan untuk dilapisi campuran aspal baru akan menentukan kinerja perkerasan tersebut.

Penghamparan Campuran Beraspal

  • Penerimaan Campuran Beraspal
  • Pelaksanaan Penghamparan

Asap biru yang keluar dari campuran aspal di atas truk atau terlihat saat dibuang ke finisher menandakan overheating. Campuran aspal yang terlalu banyak mengandung air akan tampak beruap (tidak berasap) saat truk membuangnya ke dalam finisher. Campuran aspal yang memperlihatkan agregat yang tidak tertutup aspal dengan baik menandakan adanya ketidakteraturan pada unit produksi.

Pemadatan Campuran Beraspal

  • Prinsip Pemadatan
  • Pelaksanaan Pemadatan

Sungkur merupakan perpindahan lapisan perkerasan pada suatu bagian tertentu yang disebabkan oleh beban lalu lintas yang akan mendorong perkerasan tersebut dan membentuk gelombang pada lapisan perkerasan tersebut. Namun jika perkerasan jalan tersebut akan mengalami penurunan kondisi seiring dengan berkurangnya umur pakai karena perkerasan tersebut terus-menerus mengalami tegangan akibat beban lalu lintas sehingga dapat mengakibatkan kerusakan ringan pada perkerasan tersebut. Selain beban lalu lintas dan dampak air, iklim, cuaca, kelembaban dan lingkungan dapat menurunkan kondisi pelayanan jalan.

Gambar 8.1: Rentang waktu pemadatan (The Asphalt Institute, 1993)  Pada umumnya rentang waktu untuk pemadatan awal adalah 0 – 10 menit, untuk  pemadatan antara sekitar 5 menit sampai 15 menit dan untuk pemadatan akhir  tidak lebih dari 45 menit setelah pen
Gambar 8.1: Rentang waktu pemadatan (The Asphalt Institute, 1993) Pada umumnya rentang waktu untuk pemadatan awal adalah 0 – 10 menit, untuk pemadatan antara sekitar 5 menit sampai 15 menit dan untuk pemadatan akhir tidak lebih dari 45 menit setelah pen

Kerusakan Dan Pemeliharaan Perkerasan Jalan

Kerusakan Jalan

  • Jenis Kerusakan Jalan
  • Penyebab Kerusakan Jalan

Namun terkadang perencanaan tersebut tidak sesuai dengan proses pelaksanaan atau kenyataan yang terjadi, sehingga rancangan perencanaan struktur perkerasan jalan yang dibuat tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Namun terkadang perencanaan tersebut tidak sesuai dengan proses pelaksanaan atau kenyataan yang terjadi, sehingga rancangan perencanaan struktur perkerasan jalan yang dibuat tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Kurangnya perawatan atau pengawasan terhadap perkerasan jalan sejak awal, misalnya bila terjadi kerusakan ringan dibiarkan terus menerus, dapat mengakibatkan munculnya retakan dan lubang, hal ini dapat menimbulkan kecelakaan lalu lintas bagi pengendara dan pengguna jalan yang melintasinya.

Gambar 9.2: Retak Kulit Buaya, Kegemukan dan Retak Kotak-Kotak
Gambar 9.2: Retak Kulit Buaya, Kegemukan dan Retak Kotak-Kotak

Penanganan Dan Pemeliharaan Kerusakan Perkerasan Jalan

Memelihara kondisi jalan agar tetap berfungsi melayani lalu lintas sehingga terjamin keselamatan lalu lintas dan meningkatkan tingkat pelayanan jalan. Kegiatan pemeliharaan hanya dilakukan pada interval waktu tertentu karena kondisi jalan sudah mulai menurun. Penanganan dan pemeliharaan jalan adalah kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan dan perbaikan jalan yang diperlukan dan direncanakan untuk memelihara kondisi jalan agar tetap berfungsi secara optimal untuk melayani lalu lintas selama umur rencana jalan yang ditentukan.

Perancangan Tebal Perkerasan Kaku Dan Pelaksanaannya Di

Perencanaan Tebal Perkerasan Kaku

Umur perencanaan merupakan perencanaan jangka waktu penggunaan jalan yang dimulai sejak penggunaan jalan sampai dilakukan perbaikan. Umur rencana perkerasan lentur yang menggunakan aspal dan lapisan pecah adalah 20 tahun, perkerasan kaku 40 tahun, dan jalan tidak dilapisi 10 tahun. Hal penting dalam pemilihan jenis perkerasan jalan adalah jumlah kendaraan yang melintas, umur rencana jalan dan kondisi tanah dasar.

Tabel 10.1: Umur Rencana Perkerasan Jalan Baru (UR) Manual Perkerasan  2017
Tabel 10.1: Umur Rencana Perkerasan Jalan Baru (UR) Manual Perkerasan 2017

Cbr (California Bearing Ratio)

  • Kuat Beton
  • Volume Lalu Lintas
  • Lajur Rencana
  • Faktor Ekuivalen Beban (Vahicle Damage Factor)
  • Pondasi Perkerasan Kaku
  • Lapis Perkerasan

Dari data volume lalu lintas kendaraan tersebut, dapat dihitung dan diproyeksikan jumlah muatan kendaraan untuk beberapa tahun ke depan. Survei lalu lintas dilaksanakan dalam jangka waktu minimal 7 x 24 jam atau mengacu pada pedoman survei Survei Lalu Lintas (Pd T-19-2004-B); Perkerasan jenis ini tidak menggunakan tiang pancang dan LMC (beton tipis), jarak sambungan melintang 4 m dan tebal pelat 135 – 200 mm, tergantung jenis perencanaan beban lalu lintas kendaraan.

Tabel 10.3: laju pertumbuhan lalu lintas (i)  Pulau
Tabel 10.3: laju pertumbuhan lalu lintas (i) Pulau

Tinggi Drainase Perkerasan

Penutup drainase (arah melintang) pada titik terendah dalam arah memanjang per 10 m dianggap mampu mengalirkan air ke lapisan pondasi bawah; Hindari kondisi lapisan pondasi dibawah tanah sekitar, namun bila tidak memungkinkan, maka pasanglah underdrain; Lokasi subdrain terletak di dekat saluran U atau bangunan yang berpotensi menghalangi air mencapai lapisan pondasi bawah;

Tebal Perkerasan Lentur Metode Analisa Komponen Untuk

Perencanaan Tebal Perkerasan Jalan Baru

Konstruksi Langsung

Desain Lapis Tambahan (Overlay)

Jenis Kerusakan Lapisan Tambah (Overlay) Pada Perkerasan

Evaluasi Perkerasan

Jenis-Jenis Kerusakan Perkerasan

  • Jenis Kerusakan Pada Struktur Perkerasan
  • Jenis Kerusakan Pada Pendukung Struktur Perkerasan

Metode Perbaikan Kerusakan Perkerasan

  • Pemeliharaan Rutin
  • Pemeliharaan Berkala

Gambar

Gambar 1.1: Kontruksi perkerasan romawi, (Hartanti Atmadjaja, 2018)
Gambar 1.2: Konstruksi perkerasan lentur (Flexible Pavement) (Dinaas  Pekerjaan umum dan penataan Ruang, 2014)
Gambar 2.3: Ilustrasi distribusi beban pada perkerasan kaku dan perkerasan  lentur
Tabel 3.3: Syarat-syarat baja struktur sangat tergantung jenis dan proses  pembuatannya:
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitaian ini merupakan penelitian kelanjutan dari penelitian Setiyawan (2014), yang betujuan mengetahui lendutan dan model retak pada lapis perkerasan AC-WC daur ulang yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lendutan dan model retak pada struktur perkerasan daur ulang tanpa geogrid dan yang diperkut dengan geogrid pra-tagang.Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lendutan dan model retak pada struktur perkerasan daur ulang tanpa geogrid dan yang diperkut dengan geogrid pra-tagang.Penelitian

Simpulan dari penelitian ini yaitu: (1) setiap tipe cangkang pracetak bambu komposit, memiliki nilai hubungan beban dan lendutan yang sama, yaitu setelah retak

Rigid Pavement atau Perkerasan Kaku adalah suatu susunan konstruksi perkerasan di mana sebagai lapisan atas digunakan pelat beton yang terletak di atas pondasi atau di atas tanah

Hasil dari tiga metode analisis menunjukan perilaku yang sama, yaitu penambahan ketebalan lapisan pondasi batu kapur ( limestone ) dapat mengurangi nilai lendutan pada perkerasan

Perkerasan kaku (rigid pavement) terdiri dari pelat beton, lapis pondasi dan tanah dasar.Kebijakan untuk memperkecil pelanggaran muatan berlebih dengan tujuan agar

Cement Treated Base CTB adalah lapis pondasi base course pada perkerasan lentur flexible pavement dan merupakan pengembangan dari pondasi soil cement.. Walaupun cara pembuatan dan hasil